Kecuali Benn punya tujuan lain atau dia memang serius. Javier memainkan rambut Claire seraya berucap, "Kebetulan aku mau pergi ke Negara Hyugana untuk mencari Andreas satu minggu lagi. Kamu mau pergi, tidak?"Claire merapikan dasi Javier sembari menyahut, "Mau. Bagaimanapun, dulu Chelsea pernah menjadi model Soul dan membuat merek Soul menjadi populer. Mana mungkin aku nggak pergi?"Javier tersenyum kepada Claire.....Setelah Chelsea mengeringkan rambutnya, ponselnya yang diletakkan di atas tempat tidur berdering. Melihat pesan dari Claire, Chelsea baru merasa lega. Saat mendengar suara langkah kaki, Chelsea segera menyimpan ponselnya di bawah bantal.Benn membuka pintu dan berjalan masuk. Melihat Chelsea yang duduk di depan meja rias sedang mengoles vitamin rambut, Benn menyipitkan matanya dan bertanya, "Hari ini kamu tidak sarapan?""Aku nggak lapar," jawab Chelsea. Dia menyisir rambutnya sambil memandang Benn dari cermin, lalu melanjutkan, "Sebagai artis, aku harus memperhatikan be
Chelsea menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya, "Kamu nggak senang, ya?"Benn tertawa dan menyahut, "Tentu saja aku senang. Kamu ini terlalu pintar atau terlalu bodoh?"Chelsea menelan ludah, lalu tertawa dan berkomentar, "Pria memang susah dibujuk."Benn mengambil jubah mandi di lantai dan memakaikannya ke tubuh Chelsea. Dia menimpali, "Bukan susah dibujuk, kamu yang tidak mau membujukku."Chelsea tidak berbicara. Dia yang lemas memegang ujung meja rias sembari bertanya, "Jadi, aku boleh keluar, nggak?"Benn merapikan jasnya, lalu memandang Chelsea. Untung saja, Benn membawa Chelsea keluar. Mereka pergi menonton drama musikal. Benn menyewa seluruh teater. Di dalam aula yang besar, hanya ada mereka berdua dan pengawal.Chelsea tidak terlalu tertarik dengan drama musikal ini. Saat menonton, Chelsea sudah menguap beberapa kali."Kalau kamu mengantuk, kita pulang saja," ujar Benn yang masih memandang ke arah panggung.Chelsea merasa Benn sengaja membawanya ke tempat ini. Dia berusaha un
Jemima tersentak. Dia tersenyum canggung sambil berkata, "Aku hanya penasaran dengan rupamu."Benn menepis tangan Jemima, lalu menatapnya dengan tajam sembari berujar, "Aku tahu apa yang ingin kamu lakukan pada ibuku."Raut wajah Jemima sontak berubah. Dia segera mengalihkan pandangannya karena tidak ingin Benn menyadari sesuatu. "Benn, kamu sudah salah paham," ucap Jemima. Ketika melihat seseorang datang, Jemima tampak sangat senang. Dia melambaikan tangannya seraya memanggil, "Alisa."Benn menoleh ke arah orang itu. Tubuhnya seolah-olah membeku saat melihat wanita cantik itu berjalan kemari. Dia melepaskan rangkulannya dari Chelsea, lalu bergumam, "Priscila ...."Chelsea menoleh memandang Benn, lalu menatap wanita yang wajahnya sangat cantik dan sempurna itu. Sepertinya wajah wanita itu hasil operasi plastik. Kecantikannya sangat tidak realistis dan semua fitur wajahnya begitu ideal.Ekspresi Jemima sontak muram saat melihat reaksi Benn. Wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Prisc
Pengawal mengangguk seraya membalas, "Nona Priscila meninggal karena kecelakaan mobil. Sejak Nona Priscila pergi, Tuan Benn pun ...." Dia tidak menyelesaikan ucapannya. Namun, Chelsea sudah mengerti apa yang ingin dikatakan pengawal. Benn merasa sangat terpuruk karena cinta pertamanya meninggal. Pantas saja ....Benn begitu terkejut saat melihat wanita yang begitu mirip dengan Priscila. Namun, menurut Chelsea hal ini ada bagusnya. Jika Benn jatuh cinta kepada wanita yang mirip dengan Priscila, Benn pasti bisa melupakan Alisa. Itu berarti Chelsea juga bisa pergi dari sisi Benn, 'kan? Chelsea menunduk. Aneh sekali, kenapa dia tidak merasa bahagia?Ketika pengawal memutar setir, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menabrak mereka.Di sisi lain, Benn yang sedang berada di restoran tidak menyentuh makanannya. Sementara itu, Jemima dan Alisa mengobrol dengan gembira. Jemima sesekali memperhatikan Benn dan menyadari bahwa Benn sepertinya sedang tidak fokus. Tubuhnya memang berada di sini, tetapi
"Masih ada 2 beling. Nona, tahan sedikit ya," tutur dokter. Dia meletakkan beling yang berlumuran darah ke atas nampan, lalu terus mencabut beling yang tersisa.Suster yang berdiri di samping menahan Chelsea. Wajah Chelsea tampak pucat, bibirnya bergetar, dan dahinya sudah dibasahi keringat. Setelah beling terakhir dicabut, suster membersihkan lukanya. Kemudian, suster mengoleskan obat bius lagi dan menjahit lukanya.Chelsea memalingkan wajahnya. Rasa sakit saat dijahit memang tidak senyeri saat pencabutan beling. Namun, dia tetap meringis karena merasakan sakit seperti disengat semut merah.Benn masuk ke kamar rawat Chelsea dengan tergesa-gesa. Dia bahkan tidak sempat mengenakan jasnya. Dasinya juga miring. Kemeja putih yang dia kenakan sudah bermandikan keringat dan menjiplak otot-ototnya sampai terlihat jelas.Benn menutupi wajahnya sembari menarik napas dalam-dalam, seolah-olah sedang mengendalikan emosinya. Setelah merasa tenang, dia berjalan ke samping tempat tidur.Ketika suster
Pengawal itu berujar dengan canggung, "Nona Chelsea tidak perlu berterima kasih, sebenarnya ...." Ucapannya terhenti saat melihat sosok Benn di depan pintu. "Tuan Benn?" ujar si pengawal.Chelsea menoleh ke pintu dan berkata, "Eh, kamu sudah bangun?"Benn mengernyit dan membalasnya, "Kamu seharusnya istirahat dengan baik, kenapa malah kelayapan?"Chelsea mengusap bahunya dan berkata, "Lukaku nggak serius, terus kakiku juga nggak apa-apa. Kenapa aku nggak boleh jalan-jalan? Lagian, luka pengawalmu lebih serius, seharusnya dia yang harus banyak istirahat."Benn menarik napas dalam-dalam sebelum berujar lagi, "Terus kenapa kamu datang mengganggunya?"Ucapan Benn membuat Chelsea tertegun sejenak. Kemudian, dia berkata, "Aku cuma ... datang buat mengucapkan terima kasih. Kalau bukan karena keterampilan mengemudinya yang baik, kami berdua mungkin sudah mati.""Tuan Benn," ujar si pengawal sambil melirik Benn. Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi sepertinya pembicaraan itu hanya bisa
Yuna menatap Chelsea penuh selidik, seolah-olah ingin melihat apakah Chelsea menyimpan suatu rencana licik.Saat itu, Benn mendorong pintu dan masuk bersama pengawal. Begitu melihat Yuna di sana, dia sontak bertanya dengan ekspresi masam, "Apa yang Ibu lakukan di sini?"Yuna menoleh pada Benn dan menjawab, "Kamu tahu sendiri jawabannya, Benn."Benn berujar sinis, "Jadi, Ibu mengaku kalau ini ulah Ibu?"Yuna membalas dengan nada kesal, "Ibu cuma membantu meratakan jalan untukmu. Kalau kamu tidak mau melepasnya, Ibu akan membuatnya lebih menderita."Chelsea tercengang. Apa maksud ucapan Benn? Apa kejadian kemarin malam bukan hanya kecelakaan? Dia melihat Benn tengah menatapnya tanpa ekspresi. Beberapa saat kemudian, pria itu menghampirinya, lalu membawanya pergi sambil merangkul bahunya."Benn, Ibu akan memberimu satu kesempatan terakhir!" seru Yuna.Langkah Benn terhenti dan cengkeramannya di bahu Chelsea mengencang. Dia menoleh pada ibunya, lalu berkata dengan ekspresi marah, "Ibu coba
Napas Chelsea tersendat saat mendengar suara langkah kaki di luar pintu. Dia menoleh dan melihat beberapa orang membuka pintu. Wanita yang berjalan masuk ternyata adalah Jemima, tunangan Benn.Jemima tersenyum tipis dan berkata, "Maaf, ya. Aku mengundangmu dengan cara ini.""Mengundangku? Ini lebih tepat kalau disebut penculikan," balas Chelsea.Jemima berkata dengan abai, "Memangnya kenapa kalau ini penculikan? Di Negara Hyugana, polisi pun nggak berani macam-macam pada Keluarga Yamin. Kamu pikir polisi bisa membantumu?"Chelsea menarik napas dalam-dalam, lalu bertanya dengan raut muram, "Apa maumu?"Jemima menghampiri Chelsea dengan tangan disilangkan di dada. Katanya, "Benn itu pria yang kusukai. Aku sudah menyukainya saat dia ... bersama dengan Priscila."Jemima berhenti di samping Chelsea dan melanjutkan, "Aku nggak masalah biarpun Benn nggak mencintaiku karena aku ditakdirkan untuk menikah dengannya. Setelah Priscila mati, hati Benn juga ikut tertutup. Kalaupun dia nggak bisa men
“Oh, ya, di mana Kak Ariel?” tanya Bastian.Jodhiva membalas, “Dia lagi temani ayahnya untuk jalan-jalan. Sekarang aku juga mau nyusul ke sana. Aku permisi dulu.”Usai berbicara, Jodhiva meninggalkan tempat.Bastia berdecak sembari menggeleng. “Orang yang sudah punya istri memang berbeda.”“Kamu ngomongnya seolah-olah kamu nggak sama dengan dia.” Yura juga meninggalkan tempat.Bastian meletakkan gelasnya, lalu mengikuti langkah Yura. “Hei, kenapa kamu malah meninggalkanku. Tunggu aku.”Claire berhenti di hadapan Javier. Javier menggandeng tangannya. “Sudah selesai mengenang masa lalu?”“Menurutmu? Bukannya sore nanti, kamu dan Ayah akan pergi ke Kediaman Keluarga Tanaka?”Javier tersenyum. “Aku lagi menunggumu untuk makan di sana.”Roger berjalan di sisi Izza, lalu menatap mereka. “Tuan Javier, Nyonya Claire. Kalau begitu, kamu pergi cari Ayah Angkat dulu.”Javier mengangguk. Dia merangkul pundak Claire, lalu berjalan ke koridor. Cahaya matahari dipantulkan ke sisi jendela. Bayangan d
Jessie tersenyum lebar. “Kalau begitu, aku akan mengenakan mahkota ini saat pernikahanku nanti. Anggap saja sebagai iklan desain ibuku.”Jules memeluk Jessie dari belakang. “Yang penting kamu suka.”…Anggota Keluarga Fernando baru tiba di Negara Hyugana dua hari sebelum resepsi pernikahan. Mereka tinggal di hotel yang dipesan Jules. Seluruh hotel ini telah dipesan oleh anggota keluarga kerajaan untuk menjamu para hadirin.Keluarga Chaniago dan Keluarga Kenata juga telah datang. Tobias juga tidak absen. Bahkan Shinta, Erin, Levin, dan Samuel yang berasal dari dunia hiburan juga telah datang. Tentu saja, Yura dan Bastian juga masuk dalam daftar undangan.Claire tiba di restoran. Pelayan membawanya ke dalam ruangan VIP. Ketika melihat pria yang duduk di dalam sana, dia pun tersenyum. “Ayah Angkat.”Owl memutar tubuhnya dengan perlahan. Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Owl masih seperti dulu saja, tapi tubuhnya kelihatan lebih kurus dari sebelumnya. Claire langsung maju untuk m
Orang lainnya juga ikut tersenyum.Menjelang malam, seluruh kota diselimuti dengan cahaya lampu neon. Setelah Jessie dan Jules menyelesaikan makan malam, mereka pun kembali ke Kompleks Amara.Jessie baru selesai mandi. Rambutnya pun masih basah. Jules mengambil handuk dari tangan Jessie, lalu membantunya untuk mengeringkan rambut.Saat ini, Jessie duduk di depan meja rias sembari menatap orang di dalam cermin. Senyuman merekah di atas wajahnya. “Kak Jules, aku sangat menantikan resepsi pernikahan kita.”“Oh, ya?” Jules mengusap rambut lembut Jessie. “Aku juga menantikannya.”“Aku merasa hidupku sangat sempurna karena bisa menikah dengan orang yang paling aku cintai, apalagi bisa bersama orang yang aku cintai berjalan ke jenjang berikutnya.”Jules pun tertawa, lalu membungkukkan tubuhnya untuk berbisik di samping telinga Jessie. “Apa kamu tahu, keinginan dalam hidupku juga sudah terwujud.”Jessie menoleh untuk menatapnya. “Keinginan apa?”Jules berbisik di samping telinga Jessie, “Menik
Hiro mengiakan.“Setelah di luar beberapa saat, kamu menjadi semakin dewasa saja.” Naomi menepuk-nepuk pundaknya. “Semoga kamu bisa semakin baik lagi.”Hiro hanya tersenyum dan tidak berbicara.…Dalam sekejap mata, akhirnya telah sampai ke akhir bulan. Liburan Jessie dan yang lain sudah berakhir. Mereka pun kembali ke ibu kota.Claire dan Javier berdiri di depan halaman untuk menunggu mereka. Setelah mereka menuruni mobil, Jessie langsung berlari ke sisi mereka. “Ayah, Ibu!” Dia langsung memeluk kedua orang tuanya.Javier mengusap kepala Jessie dengan tidak berdaya. “Padahal kamu sudah dewasa, masih saja minta dipeluk.”Senyuman di wajah Jessie semakin lebar lagi. “Tapi, di mata kalian, selamanya aku itu anak kecil!”Claire tersenyum tipis. Dia menatap beberapa orang yang berjalan kemari. “Baguslah kalau kalian bermain dengan gembira. Ayo, kita ke dalam dulu. Nanti malam kita makan bersama.”Setelah Dacia dan Ariel memasuki rumah, mereka duluan naik ke lantai atas untuk melihat anak.
Jules menatap mereka. “Kebetulan sekali kalian juga ada di sini.”Yura membalas, “Aku dan Bastian memang ada di sini. Setelah lihat unggahan Jessie, aku baru tahu ternyata kalian juga di sini.”Jessie membawanya ke tempat duduk. “Kalau begitu, kita tinggal beberapa hari bersama.”Setelah Bastian duduk, Jodhiva memperkenalkannya kepada Dacia dan Jessie. “Ini adik iparku, Dacia, dan adikku, Jessie.”“Aku pernah bertemu mereka di pernikahanmu.” Bastian masih mengingatnya. Dia pun berkata, “Adikmu itu satu sekolah dengan istriku. Istriku sering mengungkitnya.”Yura menatapnya. “Istrimu? Belum pasti aku akan menjadi istrimu.”Kening Bastian berkerut. “Kita saja sudah tunangan. Apa kamu masih bisa menikah sama orang lain?”Semua orang pun tertawa. Hanya Jessie saja yang terbengong. “Tunangan apaan? Yura, kamu sudah tunangan?”Yura berdeham ringan. “Aku lupa beri tahu kamu.”“Kamu nggak setia kawan banget, sih. Malah nggak beri tahu aku. “Jessie mencemberutkan bibirnya. Dia benar-benar tidak
Bos pemilik permainan berkata, “Dua puluh ribu diberi tiga kesempatan.”“Mahal sekali? Dua puluh ribu hanya diberi tiga kali kesempatan saja?” Dacia merasa sangat tidak menguntungkan.Bos mengangkat kepalanya. “Ini sudah paling murah. Tempat lain malah tiga puluh ribu.”Jessie menarik Dacia. “Dua puluh ribu juga nggak masalah. Nggak gampang bagi mereka untuk berbisnis. Kita juga cuma main-main saja.”Seusai berbicara, Jessie mengeluarkan uang tunai sebesar empat puluh ribu kepada bos. “Berarti enam kali kesempatan, ya.”Bos menyerahkan enam gelang kepada Jessie. Jessie menyukai sebuah gelang. Dia tahu gelang itu hanya barang KW, tapi kelihatannya sangat cantik. Jessie melempar ke sana, tetapi dia tidak berhasil mendapatkannya.Setelah melempar dua kali lagi, Jessie masih saja tidak berhasil mendapatkan targetnya. Sekarang hanya tersisa tiga kali kesempatan.Ketika melihat Jessie putus asa, Ariel pun mengambil sisa gelang dari tangan Jessie. “Coba lihat aku.”Ariel melirik tepat ke sisi
Larut malam, kota kuno ini terasa sunyi dan hening, hanya suara serangga yang bergema di antara rerumputan.Sebuah lampu menerangi rerumputan di luar tenda, menambah suasana menjadi semakin hening dan tenang.Jessie membalikkan tubuhnya masih belum tertidur. Saat sebuah tangan panjang merangkul pinggangnya, lalu memasukkan Jessie ke dalam pelukannya. “Tidak bisa tidur?”“Emm.” Jessie bersandar di dalam pelukannya. “Kak Jules, aku ingin ke toilet, tapi aku nggak berani.”Jules mencium kening Jessie. “Biar aku temani.”Mereka berdua berjalan keluar tenda. Jules mengeluarkan senter, lalu berjalan bersama Jessie. Saat mereka tiba di depan pepohonan, Jessie membalikkan tubuhnya untuk menatap Jules. “Tunggu aku di sini.”Jules mengangguk. “Panggil aku kalau ada apa-apa.”Jessie berjalan ke dalam pepohonan, tetapi dia juga tidak berani berjalan terlalu jauh.Setelah buang air, Jessie segera keluar dan memeluk lengannya. “Selesai.”Jules mengulurkan tangan untuk merangkul Jessie.Setelah kemba
Jodhiva juga tersenyum. “Cepat juga, tapi masih tergolong pagi.”Jessie menyandarkan kepalanya di atas paha Jules sembari memandang langit. Beberapa saat kemudian, dia bertanya, “Kenapa rasanya bakal turun hujan?”Orang-orang langsung melihat ke sisi Jessie.Jerremy menarik napas dalam-dalam. “Kamu jangan sembarangan bicara.”Dacia memandang ke atas langit. Langit memang kelihatan cerah, tetapi malah kelihatan mendung di bagian atas gunung. “Mungkin cuma mendung saja?”Sudah jam segini, tapi matahari masih belum menampakkan diri. Seharusnya hanya mendung, tidak sampai tahap turun hujan.Ariel berkata, “Ramalan cuaca hari ini tidak mengatakan akan turun hujan hari ini. Aku merasa seharusnya tidak akan turun hujan.”Kecuali, ramalan cuaca tidak akurat!Beberapa orang tinggal sejenak. Jules merasa ada tetesan air di wajahnya. Dia mengusap sejenak. “Eh, turun hujan, deh.”Ariel duduk di tempat. “Apa?”Jessie menunjukkan senyuman canggung di wajahnya. “Firasatku mengatakan bakal turun hujan
Yang lain juga sudah setuju.Setelah masakan disajikan, Jessie melihat makanan berwarna putih dengan berbentuk seperti kipas. Dia bertanya pada bos, “Apa ini?”Bos memperkenalkan dengan tersenyum, “Ini namanya ‘milk fan’, terbuat dari susu. Karena warnanya putih dan agak transparan, ditambah bentuknya seperti kipas, makanan ini pun diberi nama ‘milk fan’.”Ariel mencicipinya. “Emm, rasanya enak juga.”Dacia dan Jerremy juga telah mencicipinya. Rasanya memang cukup enak.Setelah masakan selesai dimasak, Bos pun menyajikan ke atas meja. “Ini adalah mie beras dengan ditaburi ayam dingin dan berbagai bahan tambahan. Ayam dimasak dengan bumbu khas, lalu disiram dengan saus buatan sendiri, minyak cabai, minyak lada hitam, dan ditambahkan kenari panggang. Ini adalah salah satu makanan khas daerah kami. Biasanya para wisatawan juga sangat menyukainya.”Jessie mencicipi sesuap. Ariel pun bertanya, “Gimana rasanya?”Jessie mengangguk, lalu menyantapnya dengan suapan besar.Yang lain juga ikut me