Share

Bab 620

Penulis: Imgnmln
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-27 22:39:57

Kota Vale, di villa Ascalon.

Sarah menatap obat evoring yang diberikan Nathan kepadanya dan berkata dengan jijik. “Apa ini? Bau sekali, kelihatannya sangat menjijikan!”

Nathan ingin Sarah memakan obat evoring itu, tapi saat melihat sikap Sarah seperti itu dia sedikit pasrah.

“Eve, kamu makan dulu, ini adalah obat spiritual, setelah kamu memakannya, aku jamin tubuhmu akan terlahir kembali dan kekuatanmu akan meningkat banyak!” Nathan berkata kepada Beverly.

Namun Beverly memegang obat evoring itu dan terlihat sulit menelannya, karena obat evoring ini memiliki aroma yang tidak terlalu enak. Melihat dua orang itu tidak mau memakannya, Nathan terdiam beberapa saat lalu sekali lagi membujuk mereka dengan tidak berdaya.

“Obat ini adalah obat regenerasi dan dapay meningkatkan kekuatan kalian, banyak orang yang ingin memakannya dan tidak bisa mendapatkannya. Aku sudah menghabiskan begitu banyak tenaga untuk mendapatkannya, bukankah kalian ingin berkultivasi? Kalian harus memakan obat ini dan
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 621

    Setengah jam berlalu, Sarah keluar dari toilet dengan wajah memerah.“Sarah, kamu—” Melihat Sarah keluar dari toilet, Nathan bergegas menghampirinya.Namun belum sempat menyelesaikan perkataannya, Nathan berdiri membeku di sana. Karena dia melihat kulit Sarah yang lebih putih dari sebelumnya dan pipinya yang berwarna merah muda walau tanpa riasan, dan dia terlihat seperti dewi yang turun dari langit, sangat cantik. Mata Beverly juga melebar, dan menatap Sarah dengan tidak percaya dan membuat Sarah yang ditatap seketika tercengang.“Ada apa? Apakah ada sesuatu di wajahku?” Sarah memegangi wajahnya dan merasa gelisah.Dia lalu bergegas menghirup bau di toilet, dan baunya sudah hilang, dia sebenarnya sudah selesai sejak tadi. Tapi, Sarah sengaja menunggu setengah jam di dalam toilet karena khawatir baunya terlalu kuat, dan kalau sampai Nathan mencium bau itu, maka itu akan menghancurkan bayangan di hatinya. Melihat Nathan dan Beverly yang tercengang seperti itu Sarah juga tertegun.“T-ti

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-28
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 622

    Sarah menatap Nathan dengan dingin. “Aku tanya padamu, apa maksudmu barusan?! Apakah kamu akan melakukannya dengan Beverly kalau aku tidak ada disini?”“Melakukan apa? Apa yang kamu bicarakan? Kenapa aku tidak mengerti sedikitpun, jangan memutar perkataanku!” Nathan menghindari pandangannya dan tidak berani menatap Sarah lalu bergegas pergi ke ruang tamu dan duduk di sofa.“Hmm …. tidak ada laki-laki yang tidak mata keranjang!” Melihat Nathan seperti itu Sarah cemberut tapi dia tidak benar-benar marah.Meskipun Nathan melakukan sesuatu dengan Beverly, Sarah juga bisa menerimanya, asalkan di dalam hati Nathan hanya ada dirinya seorang. Terlebih lagi, Sarah juga berharap bisa menjaga Nathan bersama dengan Beverly, karena keduanya sudah menjadi akrab dan bisa menjadi pendampingnya saat Nathan tidak ada.Beverly berada di toilet selama satu jam penuh sebelum akhirnya keluar, dan setelah melihat Beverly yang keluar, Sarah membuka mulutnya dengan lebar karena terkejut. “Eve! A-apa itu dirim

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-28
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 623

    “Karena tahu sudah tidak muda lagi, cepatlah membuat seorang anak, setidaknya kamu memiliki keturunan. Karena, bagi seorang ahli bela diri, memiliki anak di usia sekitar 40 tahun tidaklah terlalu tua,” ujar Nathan.Nathan tahu, setelah mencapai ranah grand master, usia mereka akan sepuluh tahun lebih tua dibandingkan orang biasa. Karena itu, banyak grand master yang bisa hidup hingga 100 tahun, dan itu sangat wajar, karena ahli bela diri memiliki kebugaran fisik yang lebih kuat dibandingkan orang biasa.“A-aku …. tidak pernah berpikir untuk memiliki anak, terlalu merepotkan!” Ryzen terkekeh, dia sudah menjadi Ketua Mafia di Kota Vale selama setengah hidupnya, dan Ryzen tidak pernah berpikiran untuk mempunyai anak.Nathan yang melihatnya hanya bisa tersenyum, karena mau memiliki anak atau tidak adalah pilihan orang lain, Nathan tidak boleh memaksa.​Nathan sedang minum dengan Ryzen, musik di bar diputar, melihat orang-orang yang tidak berhenti menari dengan gila Nathan merasa sedikit s

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-28
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 624

    “Rebecca?” Gadis itu tampak bingung dan kembali berkata. “Siapa dia?”Nathan tercengang, dia berbalik dan menatap gadis itu. “Kamu? Kenapa berpura-pura padaku? Jangan bilang kamu amnesia, aku tidak percaya pada omong kosongmu!”Nathan melirik malas gadis itu dan merasa gadis-gadis ini sangat pintar berpura-pura, sepertinya mereka sudah bisa menjadi artis. Tapi saat Nathan sedang merasa emosional, sosok gadis itu melintas dan cahaya dingin keluar dari tangannya dan terbang ke arah Nathan.Di saat bersamaan, sosok gadis itu bergerak dengan cepat dan menusukkan belati ke wajah Nathan dengan kecepatan kilat. Gadis itu sama sekali tidak berbelas kasihan.“Matilah!” Tatapan gadis itu sedingin es, dan hampir bisa ditebak darah Nathan akan berceceran di tempat.Nathan yang melihat adegan ini, tiba-tiba rahangnya menganga. "Apa kamu sudah gila?"Setelah berkata, tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan kekuatan spiritual dengan gila-gilaan dan auranya tiba-tiba meledak. Dengan sedikit gerakan di tangan

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-29
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 625

    Baru saja Nathan merasakan dengan jelas kekuatan gadis itu yang sebenarnya, dia hanya seorang ahli bela diri yang melangkah masuk ke tahap grand master, bagaimana mungkin dia bisa menangkapnya?“Kamu terlalu arogan!” Gadis itu tampak muram dan dia sama sekali tidak menghiraukan perkataan Nathan, dan tiba-tiba melompat, tubuhnya tampak aneh di langit malam, dan cahaya dingin yang tidak terhitung jumlahnya terbang ke arah Nathan.“Teknik bilah cahaya!” Gadis itu berteriak dengan marah dan cahaya yang tidak terhitung jumlahnya jatuh dari udara dan menutupi tubuh Nathan dan membuat Nathan tidak bisa menghindar.Melihat pemandangan ini, Nathan mengernyitkan keningnya dan menggelengkan kepalanya sambil mencibir. “Jurus ini tidak ada gunanya.”Kalau lawan gadis ini memiliki tingkat yang lebih rendah di bawahnya maka jurus ini pasti akan berguna. Tapi, dia menghadapi Nathan yang baru membunuh seorang penguasa Ingras, jadi jurus seperti ini terlalu lemah dan tidak ada gunanya. Nathan memejamka

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-29
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 626

    Karena ada beberapa celah pada pakaian gadis itu dan kulitnya yang seputih salju terlihat, semua kancing bajunya hilang dan kalau dia tidak memegangi bajunya dengan tangannya, Nathan pasti sudah melihat semuanya.“Bunuh saja aku, tapi jangan coba mengambil kesempatan dariku! Aku lebih memilih menggigit lidahku dan bunuh diri daripada membiarkanmu berhasil!” Gadis itu tampak bertekad, jika Nathan benar-benar menyentuhnya maka dia akan bunuh diri.“Kalau begitu gigit saja lidahmu dan mati! Lagipula, yang aku inginkan memang tubuhmu, walau kamu menggigit lidahmu dan bunuh diri, aku masih bisa mendapatkan kesenangan dari tubuhmu!” Nathan berbalik dan menatap gadis itu dengan penuh nafsu seperti orang cabul.“K-kamu tidak tahu malu! Dasar cabul!” Gadis itu tidak menyangka Nathan berani mengatakan hal yang menjijikan seperti itu.Gadis itu seketika merinding saat membayangkan bagaimana tubuhnya akan dimainkan oleh Nathan setelah dia menggigit lidahnya dan bunuh diri.“Karena kamu bilang aku

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-29
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 627

    Nathan seketika tertegun, dia lupa bahwa Sarah dan Beverly pernah bertemu dengan Rebecca, tapi gadis dipeluknya bukanlah Rebecca, dia hanya mirip Rebecca, Nathan benar-benar melupakan hal ini.“Nathan kamu benar-benar hebat ya, berani berkata memungut gadis yang mabuk di jalanan? Kamu kira aku bodoh?” Sarah menatap Nathan dengan marah.“T-tidak, dengarkan dulu penjelasanku, gadis ini bukan Rebecca, dia hanya sangat mirip dengan Rebecca!” Nathan bergegas menjelaskan pada Sarah.Tapi Sarah sama sekali tidak percaya, jangankan Sarah, bahkan Nathan yang mengalami hal seperti ini pun tidak percaya dan sejak awal dia mengira gadis itu adalah Rebecca.“Nathan, tetaplah bersama dengan wanita ini di rumah dan bersenang-senanglah, aku akan pergi!” Sarah bergegas keluar dengan marah.Beverly juga memelototi Nathan lalu mengejarnya.“Sarah, Beverly!” Nathan yang menggendong gadis itu menatap Sarah dan Beverly yang menghilang, dia merasakan ketidakberdayaan, dan dia hanya bisa menjelaskannya kepad

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-30
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 628

    “Aku sudah bilang kalau kamu dan temanku itu sangat mirip, sekarang sudah percaya kan?” Nathan bertanya pada gadis yang terkejut itu.Gadis itu tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap Rebecca dengan erat dan Rebecca juga menatap lurus ke arah gadis itu, keduanya memang tidak saling kenal tapi perlahan-lahan saling mendekat. Ketika jarak antara kedua orang itu hanya sekitar satu meter, kedua orang itu secara tak terduga memancarkan cahaya redup pada saat yang sama, dan kemudian kedua sinar cahaya itu saling terkait dan bergabung satu sama lain.Rebecca merasakan perasaan pembuluh darah yang terhubung dengan gadis itu dan pembuluh darah yang berdenyut membuat kedua gadis itu langsung meneteskan air matanya.“Kakak!” Rebecca menatap gadis itu dan air mata mengalir di matanya dan tanpa sadar memanggilnya kakak.“Adikku?” Gadis itu juga menangis dan memanggilnya adik.Meski tidak saling kenal satu sama lain, dan tidak tahu siapa yang lebih tua atau muda, tapi mereka tidak dapat menahan

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-30

Bab terbaru

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 961

    “Tutup mulutmu!” Ging menoleh, tatapannya membuat Russel terkejut dan segera diam. Kemudian Ging kembali berkata. “Nathan, kamu mempermalukanku di makam kuno. Hari ini, aku datang untuk membalaskan dendam itu!” Pakaian Ging bergerak meski tak ada angin, lalu tiba-tiba, sosoknya menghilang. Detik berikutnya, Ging muncul di atas kepala Nathan, tubuhnya bercahaya seperti meteor yang melesat. Tanah di bawah kaki Nathan retak, tekanan yang dihasilkan Ging semakin besar, memaksa kaki Nathan terbenam ke dalam tanah. “Pukulan Meteor!” teriak Ging, cahaya keemasan di tubuhnya semakin terang. Russel, yang menyaksikan pemandangan itu, tersenyum lebar. Kemenangan sepertinya sudah di depan mata. “Hahaha …. Nathan, kali ini kamu pasti mati! Ini adalah jurus mematikan milik Ketua Ging, Pukulan Meteor! Tak ada orang yang bisa menahan pukulan ini. Aku akan melihatmu hancur berkeping-keping!” Russel tertawa terbahak-bahak, kegirangannya tak terbendung. Nathan mengabaikannya. Dia menyimpan ped

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 960

    “Nathan, aku salah. Aku tahu aku salah. Ke depannya, keluarga Ransom bersedia mendengarkan perintahmu dan mematuhi perkataanmu!” Russel menundukkan kepalanya, kepala yang terhormat itu kini tunduk pada seorang pemuda berusia dua puluh tahunan. Saat ini, kehormatan dan reputasi tak lagi penting. Yang tersisa hanyalah satu kesempatan untuk bertahan hidup. Selama dia masih hidup, masih ada harapan untuk bangkit kembali. “Jika aku membunuhmu sekarang, seluruh kekuatan Ransom akan berada di bawah kendaliku,” ucap Nathan, suaranya dingin seperti es. Tatapan matanya menusuk, tak ada belas kasihan. Saat Nathan selesai berbicara, dia mengangkat pedang Arunanya tinggi-tinggi, bilahnya memancarkan cahaya keemasan yang memancarkan aura kematian. Russel menatap pedang itu, matanya dipenuhi ketakutan. Tapi dia tak bergerak. Kepercayaan dirinya sudah hancur. Dia tahu, bahkan jika dia mencoba menghindar, hasilnya akan tetap sama. “Hentikan!” Tiba-tiba, suara teriakan yang menggema memecah

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 959

    Russel berdiri dengan angkuh, matanya menyala dengan kemenangan. “Aku sudah bilang, di dalam formasi ini, aku adalah sang penguasa.” Tapi tiba-tiba, Nathan perlahan bangkit. Sisik-sisik yang rontok mulai tumbuh kembali, cahaya keemasan di tubuhnya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Russel tertegun, matanya membelalak. “Kamu .… Bagaimana kamu masih bisa berdiri?” Nathan menatapnya, senyumnya penuh keyakinan. “Kamu pikir formasi kecilmu bisa menghentikanku? Aku bukan sekadar musuh yang bisa kau remehkan, Russel.” Raut wajah Russel berubah drastis, pukulannya tadi sudah menggunakan energi dari lima orang puncak penguasa Ingras, tapi masih tidak bisa membunuh Nathan.“Aku akan menunjukkan padamu, siapa penguasa sebenarnya!” Nathan mengangkat pedang Arunanya tinggi-tinggi, nyala api menyembur dari bilahnya, mendesis seperti ular naga yang bangkit dari abu. Suaranya menggema ratusan meter, menghanguskan udara di sekelilingnya. Russel menatap Nathan, matanya membelalak. Aura ya

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 958

    Russel menatap Nathan dengan kaget, merasakan aura yang mengerikan. Dalam benaknya, kekuatan Nathan sudah hampir mencapai tahap Villain. Namun, sosok Nathan hanya tampak seperti puncak penguasa Ingras yang baru saja menerobos tahap, dan Russel tidak bisa memahami bagaimana dia bisa meledakkan kekuatan yang begitu luar biasa.Russel bukanlah orang yang asing dengan pembunuh berbakat. Banyak ahli bela diri jenius yang pernah menantang lawan dengan kekuatan satu atau dua tingkat di atas mereka. Namun, sosok seperti Nathan—yang mampu menerobos sebuah tahap besar dengan begitu mudah—benar-benar langka. Russel tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.“Kamu tidak perlu tahu tentang diriku,” Nathan berkata, suaranya dingin seperti es. “Yang perlu kamu tahu adalah, kamu akan segera bertemu lagi dengan putramu!”“Hmm, kamu tidak perlu sesombong itu. Kamu kira aku hanya memiliki kekuatan seperti ini?” Russel mendengus dingin, berusaha menegaskan keberaniannya. “Kalau kamu punya kemampua

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 957

    "Kabur?" Bisiknya menggelitik tengkuk para anggota Keluaraga Yaju yang sedang memanjat tebing. "Kalian pikir neraka punya pintu keluar?"Swooossshhhh!Tubuhnya melesat melebihi kecepatan kilat. Setiap kali kilatan pedangnya berkelebat, sepasang matanya membeku, tubuh tanpa kepala masih berlari-lari sebelum akhirnya roboh. Darah menyembur dengan ngeri membentuk hujan di atas rerumputan. Di lereng bukit keluarga Calderon, mayat-mayat bergelimpangan membentuk spiral mistis—mulut terbuka dalam koor bisu, tangan terkunci dalam posisi memohon."Ka-kakak! Dia …. dia di belakangmu!" Ferdi menjerit sambil menunjuk ke bayangan yang sedang berjalan di dinding tebing. Kakinya basah—tidak tahu apakah itu keringat atau air seni—tapi yang pasti, bau amonia menusuk hidungnya. Setiap kali kelopak matanya berkedip, dia melihat kepala James bergulir pelan, lalu berubah menjadi wajahnya sendiri yang mungkin akan menjadi giliranya."Na-Nathan—" Russel terisak sambil memanjat dengan kuku yang berdarah-dara

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 956

    “Maaf aku datang terlambat,” Nathan menatap Nelson dan Abel yang berlumuran darah, niat membunuh di dalam dirinya semakin membara, seolah-olah darah mereka adalah bahan bakar untuk amarahnya.“Tuan Nathan, bisa melakukan sesuatu untukmu adalah kehormatan dalam hidupku, namun sayangnya—” mata Nelson memerah, air mata menetes di pipinya. “Keluarga Calderon sudah lenyap. Sepertinya ke depannya aku tidak akan bisa melakukan apapun lagi untuk Tuan Nathan!”“Keluar dari kegelapan, keluarga Calderon tidak akan lenyap selamanya. Kita bisa membangunnya kembali,” Nathan menjawab dengan tegas, suaranya penuh keyakinan. “Mulai hari ini, seluruh aset milik Yaju dan organisasi lainnya akan menjadi milik keluarga Calderon. Aku akan menunjukkan kepada komunitas bela diri di Kota Moniyan bahwa keluarga Calderon adalah milikku, dan tidak akan ada yang berani menyentuhnya!”Setelah Nathan selesai berbicara, dia perlahan berbalik. Cahaya bersinar di tangan kanannya, dan pedang Aruna muncul dengan kilauan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 955

    Kekuatan Nelson seharusnya jauh lebih besar dibandingkan James, namun saat ini, dia terkulai lemah, energinya hampir habis terkuras. Tak ada cara baginya untuk menahan serangan mematikan dari James yang kini mengamuk.“Ayah!” teriak Abel, bergegas maju untuk memapah Nelson, matanya menyala dengan kemarahan yang membara, menatap James seolah ingin membalas setiap tetes darah yang telah tumpah.Tatapan mata Abel dipenuhi kebencian yang membara. Dia membenci dirinya sendiri yang merasa tak berguna, membenci masa lalunya yang hanya tahu minum-minum tanpa berlatih, dan membenci ketidakmampuannya untuk berkontribusi pada keluarga Calderon. Rasa frustrasi itu menggerogoti jiwanya, mengubahnya menjadi bara yang siap membara.“Aku akan mengantar kalian menuju kematian, lalu membunuh Nathan!” ancam James, suaranya penuh kebencian saat dia melayangkan pukulannya lagi.Namun, sebelum tangannya meluncur, Russel segera menghentikannya, menggelengkan kepala dengan tegas. “Kita harus menunggu Nathan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 954

    Keluarga Calderon.Udara dipenuhi bau besi menyengat dari darah yang menggenang, menyelimuti tanah bak kabut merah. Mayat-mayat berserakan seperti daun kering di musim gugur, wajah mereka membeku dalam ekspresi teror terakhir. Denting pedang dan jerit kematian masih bergema, sisa-sisa pertempuran yang mengubah kediaman megah Calderon menjadi neraka berdarah. Dua pasukan—Ransom dan Yaju—mengurung sisa keluarga Calderon dalam lingkaran besi. Nelson dan Abel, dengan luka menganga di tubuh, berdiri membelakangi satu sama lain. Dari ratusan anggota keluarga, hanya belasan yang tersisa. Napas mereka berat, mata berkaca-kaca, tapi tangan masih mencengkeram senjata dengan getaran kemarahan yang tak padam. Russel, pemimpin keluarga Ransom, melangkah maju. Pedangnya berkilat di bawah sinar bulan yang pucat, bayangannya seperti siluet maut. "Nelson!" suaranya menggelegar. "Kita pernah bertarung bahu-membahu di Perang Disaster! Tapi kau memilih jadi anjing peliharaan Nathan—bocah yang membant

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 953

    “Ketua Sancho, kalau ada masalah bisa dibicarakan baik-baik. Kamu datang ke kepolisian dan menyerang Tuan Nathan. Kalau aku melaporkannya kepada Tuan Ryujin, apa kamu bisa menjelaskannya?” Milan melihat Nathan yang sudah tidak tahan dan segera mengancam Sancho.Mendengar Milan berkata seperti itu, Sancho menarik kembali auranya dan menatap Nathan dengan dingin. “Nathan, karena aku masih menghargai Tuan Ryujin, aku bisa mengampunimu kali ini. Tapi kamu harus menyerahkan lukisan yang kamu temukan di makam kuno itu kepadaku!”“Aku yang menemukannya. Atas dasar apa aku harus menyerahkannya kepadamu? Jika kamu punya kemampuan, bunuh saja aku hari ini. Aku tidak akan mungkin menyerahkan lukisan itu padamu,” Nathan menjawab tegas, menyadari betapa berharganya lukisan itu. Mana mungkin dia menyerahkannya kepada Sancho.“Hmm, orang sepertimu merasa layak memiliki lukisan itu? Barang itu di tanganmu sama saja dengan menyia-nyiakan benda pusaka!” Sancho berteriak marah. “Serahkan lukisan itu sek

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status