Share

Bab 608

Penulis: Imgnmln
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-22 23:16:26

Karena, dia tahu dengan kekuatan Nathan, cahaya pedang itu akan segera menghilang dan tidak akan bertahan lama. Lagipula, pedang itu terbentuk dari energi, saat energi di dalam tubuhnya habis maka cahaya pedang itu akan menghilang secara alami.

Donovan berniat untuk menguras energi Nathan, dan Nathan yang melihat Donovan memiliki pemikiran seperti itu merasa senang. Meskipun kekuatan Donovan memang lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan Nathan, tapi kalau ingin melihat siapa yang bisa bertahan lebih lama, maka Nathan jauh lebih kuat dibandingkan dengan Donovan.

Di dalam tubuh Nathan tersimpan kekuatan spiritual dalam jumlah besar, kalau terus seperti ini maka dia bisa menguras tenaga Donovan sampai mati. Cahaya pedang Nathan terus menebas dinding pertahanan Donovan dan seiring berjalannya waktu, cahaya pedang itu tidak menunjukkan tanda-tanda melemah, malah semakin kuat. Dan Donovan terlihat mulai mencucurkan keringat dingin dari keningnya, dan matanya menatap Nathan dengan tidak per
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Dedi Panca
kenapa iklan tidak bisa di buka
goodnovel comment avatar
Dedi Panca
sudah 3 hari lebih
goodnovel comment avatar
Azka Aghazzi
harusnya sehari 6 bab
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 609

    Saat ini tubuh Donovan sudah mencapai tepi arena dan hampir tidak mungkin untuk menghindari cahaya pedang Nathan lagi.Melihat Donovan yang tertekan, Nathan menyipitkan matanya. “Kalau tanganku memegang sebuah pedang pusaka, kamu pasti sudah berubah menjadi roh dari pedangku sejak awal!”Donovan menatap Nathan dan tidak membantahnya, karena perkataan Nathan memang benar, kalau yang Nathan gunakan bukanlah pedang yang dipadatkan dari energinya, tetapi pedang pusaka sungguhan, maka Donovan pasti akan sulit menghindar.“Bocah, jangan senang dulu, aku sudah mengurung diri selama beberapa tahun, dan mengabdikan diriku untuk latihan dan mencapai tahap penguasa Ingras sedang susah payah, hanya seorang bocah ingusan sepertimu bisa kukalahkan dengan mudah!” Setelah selesai bicara, aura mengerikan tiba-tiba menguar dari tubuh Donovan, dan seluruh stadion mulai diterpa oleh hembusan angin yang kuat.Rambut Donovan berdiri dan kedua tangannya seperti sedang menari, dan mencengkram dengan erat di

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-23
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 610

    Kraaak!BRAK!Selain gelombang panas, yang lebih serius adalah tekanannya yang sangat besar, dan membuat Nathan merasa seperti ada gunung yang menekan tubuhnya. Arena di bawah kaki Nathan mulai retak dan arena itu mendadak runtuh, Nathan juga terjatuh dengan cepat ke bawah arena. Dan cahaya itu sudah mencapai tempat Nathan berdiri dengan cepat, melalui celah di arena dan langsung mengenai tubuh Nathan. Semua orang hanya melihat cahaya itu menghilang di bawah arena, tapi mereka tidak dapat melihat situasi Nathan yang jatuh ke bawah arena.“Sudah berakhir, jelas kali ini sudah berakhir!”“Seorang grand master ingin menang melawan penguasa Ingras? Benar-benar penuh dengan mimpi!”“Nathan ini walau termasuk berbakat dan memiliki tubuh yang kekuatannya menakutkan, tapi sepertinya dia tidak tahu bagaimana cara menahannya dan menyia-nyiakan tubuhnya yang bagus itu!”Semua orang menghela nafas dan mulai ada orang yang bangun perlahan dan bersiap untuk pergi.“Tetua, apakah semuanya sudah bera

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-23
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 611

    “Donovan, kalau hanya itu kemampuan yang kamu punya, maka akhiri saja!” Setelah selesai bicara, tubuh Nathan tiba-tiba meledak dan langsung melesat ke arah Donovan, tinjunya yang kuat itu langsung mengenai wajah Donovan.Bugh!Kali ini, Nathan tidak lagi menggunakan gerakan yang macam-macam, hanya mengandalkan satu pukulan sederhana yang menyebabkan angin kencang, dan karena kecepatannya yang terlalu cepat udara yang ada disekelilingnya seolah ditarik habis dalam sekejap.​Hwooosssshhh!Donovan bergegas berbalik dan mengangkat tangannya lalu melontarkan pukulannya dan siap menghadang serangan Nathan. Ini adalah benturan fisik pertama antara kedua orang ini sejak mereka naik ke atas arena, jadi semua orang melebarkan matanya dan berharap bisa melihat keajaiban lainnya.Penguasa Ingras sedang bertarung dengan seorang grand master, jika seorang grand master menang, maka akan memberikan banyak kepercayaan diri kepada para ahli bela diri, dan membuktikan kalau perbedaan tingkatan yang terl

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-23
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 612

    Wajah Donovan dipenuhi dengan amarah, tapi dia tidak naik lagi ke atas arena, sekarang pergelangan tangannya sudah patah dan dia sudah tidak bisa melawan Nathan lagi. “Baik, hari ini aku kalah darimu, aku mengakuinya, tunggu dan lihat saja nanti!” Donovan tidak memiliki muka untuk tinggal lebih lama lagi, setelah selesai bicara dia berbalik dan hendak membawa orang-orangnya pergi.“Siapa yang memperbolehkanmu pergi dari sini?” suara Nathan terdengar sangat dingin, disusul dengan bayangan hitam yang melintas di atas kepalanya, Nathan langsung melompat dari arena dan menghadang di depan Donovan.Donovan mengernyitkan keningnya. “Nathan, aku sudah mengaku kalah, apalagi yang kamu inginkan?”“Mengaku kalah?” Nathan menyeringai. “Sejak awal aku sudah memintamu untuk bersujud dan mengakui kesalahanmu, dan aku akan membiarkanmu tetap hidup. Akan tetapi, kamu tidak setuju, jadi, hari ini jangan harap kamu bisa pergi!”“Kamu benar-benar ingin bertarung hingga mati?” Donovan tidak menyangka, ka

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-24
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 613

    Raut wajah Milan dan yang lainnya menjadi sangat jelek, yang dikatakan Harris tidak salah, meskipun mereka menang jumlah, tapi yang benar-benar sudah berada di tingkat master hanya beberapa orang, dan sisanya adalah orang-orang yang bahkan belum melatih kekuatannya. Kalau mereka hanya mengandalkan jumlah, dan bertarung dengan para master, maka orang-orang ini tidak akan punya kesempatan untuk menyerang. Untuk sementara, semua orang di lokasi membeku, tidak ada yang menyerang dan tidak ada yang pergi, ini membuat suasana sangat tertekan.“Biarkan aku berbicara dengan adil,” Saat ini Witan tiba-tiba angkat bicara dan perlahan berjalan ke dalam kerumunan.Witan berjalan ke depan sementara kerumunan di depannya tanpa sadar disingkirkan oleh kekuatan yang sangat besar. Guyton mengikuti Witan dari belakang dan langsung berjalan ke tengah. Saat semua orang melihat Witan, banyak yang menunjukkan keraguannya, karena mereka tidak mengenal Witan, tapi Donovan dan Justin, serta Milan seketika kag

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-24
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 614

    “Benar, dengan kekuatan Tetua Witan yang sudah lama mencapai ranah penguasa Ingras, aku saja harus memanggil Tetua Witan dengan sebutan senior, kamu malah ingin menjadi lawan dari Tetua Witan? Apalagi Desa Saibu terkenal dengan teknik alkimia nya, kamu punya ramuan seperti apa yang harus direbut oleh Tetua Witan? Jangan berbicara omong kosong!” Donovan juga menjadi heboh dan langsung membentak Nathan dengan wajah datar.Saat ini, kalau dia bisa menarik Witan ke sisinya, walau Nathan memiliki kekuatan yang hebat dia tidak akan bisa menyentuhnya sama sekali, kalau Nathan sampai memiliki dendam dengan Desa Saibu maka dia pasti akan mati. Harris juga menatap Nathan saat ini, dia tidak tahu apakah Nathan ini benar-benar bodoh atau pura-pura bodoh, dia berani sekali menyinggung orang dari Desa Saibu.“Tuan Nathan, pasti ada salah paham, Tetua Witan tidak mungkin melakukan hal seperti itu, pasti ada kesalahpahaman di sini?” Justin menatap Nathan dan berusaha keras mengedipkan matanya pada Na

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-24
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 615

    Sekarang satu tangannya sudah patah, dan kekuatan dalam tubuhnya sudah hampir habis, kalau dia bertarung lagi dengan Nathan, maka dirinya pasti akan mati.“Kami akan mendengarkan perkataan Tetua Witan,” Justin angkat bicara lalu mengedipkan matanya pada Ryzen dan Nicole.Dua orang itu mengangguk dan melambaikan tangannya agar anggota Klan Kaiju dan Nocturnal mundur. Jelas saat ini Nathan lebih unggul, dan mereka tidak perlu ikut campur.Sedangkan Harris dan bawahan Keluarga Holcy mengawal Donovan dengan ketat dan tidak berniat pergi, karena Harris tahu kalau mereka pergi maka Nathan pasti akan mencabut nyawa Donovan.“Kalian tidak mendengar perkataanku?” Witan menatap Harris dengan dingin.“Tetua Witan, Keluarga Holcy tidak memiliki dendam denganmu, kalau Tetua Witan membantu kami kali ini, maka Keluarga Holcy akan sangat berterima kasih!” Harris menatap Witan dengan tatapan memohon.“Apa maksudmu? Kamu mau menyogokku di depan umum?” Witan menyipitkan matanya. “Saibu Care adalah sebua

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-25
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 616

    Donovan berjuang untuk bangkit, dan memelototi Nathan dengan kedua matanya, dia membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu. Tapi sayangnya, wajahnya yang bengkak dan giginya yang tanggal membuat dia tidak bisa mengatakan apapun.“Kamu masih tidak puas?” Nathan langsung menamparnya lagi.Kali ini, wajah Donovan sudah membengkak, dan juga hidungnya terus mengeluarkan darah.“Haaa!” Tiba-tiba sepasang mata Donovan memerah dan meraung dengan keras.Segera setelah itu, tubuh Donovan mulai mengeluarkan kabut berwarna merah, dan kabut berwarna merah ini memiliki bau darah yang kuat seperti darah segar yang mendidih dan menguap. Banyak orang yang tersentak saat melihat adegan ini.“Gawat, Donovan berencana meledakkan diri dan mati bersama Tuan Nathan!” Melihat hal ini, Milan berkata dengan kaget.Saat ini, banyak orang yang berkeringat dingin, Donovan yang merupakan seorang penguasa Ingras kalau meledakkan dirinya? Maka akan membuat ledakan yang sekuat bom dan mungkin akan berdampak pada s

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-25

Bab terbaru

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 961

    “Tutup mulutmu!” Ging menoleh, tatapannya membuat Russel terkejut dan segera diam. Kemudian Ging kembali berkata. “Nathan, kamu mempermalukanku di makam kuno. Hari ini, aku datang untuk membalaskan dendam itu!” Pakaian Ging bergerak meski tak ada angin, lalu tiba-tiba, sosoknya menghilang. Detik berikutnya, Ging muncul di atas kepala Nathan, tubuhnya bercahaya seperti meteor yang melesat. Tanah di bawah kaki Nathan retak, tekanan yang dihasilkan Ging semakin besar, memaksa kaki Nathan terbenam ke dalam tanah. “Pukulan Meteor!” teriak Ging, cahaya keemasan di tubuhnya semakin terang. Russel, yang menyaksikan pemandangan itu, tersenyum lebar. Kemenangan sepertinya sudah di depan mata. “Hahaha …. Nathan, kali ini kamu pasti mati! Ini adalah jurus mematikan milik Ketua Ging, Pukulan Meteor! Tak ada orang yang bisa menahan pukulan ini. Aku akan melihatmu hancur berkeping-keping!” Russel tertawa terbahak-bahak, kegirangannya tak terbendung. Nathan mengabaikannya. Dia menyimpan ped

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 960

    “Nathan, aku salah. Aku tahu aku salah. Ke depannya, keluarga Ransom bersedia mendengarkan perintahmu dan mematuhi perkataanmu!” Russel menundukkan kepalanya, kepala yang terhormat itu kini tunduk pada seorang pemuda berusia dua puluh tahunan. Saat ini, kehormatan dan reputasi tak lagi penting. Yang tersisa hanyalah satu kesempatan untuk bertahan hidup. Selama dia masih hidup, masih ada harapan untuk bangkit kembali. “Jika aku membunuhmu sekarang, seluruh kekuatan Ransom akan berada di bawah kendaliku,” ucap Nathan, suaranya dingin seperti es. Tatapan matanya menusuk, tak ada belas kasihan. Saat Nathan selesai berbicara, dia mengangkat pedang Arunanya tinggi-tinggi, bilahnya memancarkan cahaya keemasan yang memancarkan aura kematian. Russel menatap pedang itu, matanya dipenuhi ketakutan. Tapi dia tak bergerak. Kepercayaan dirinya sudah hancur. Dia tahu, bahkan jika dia mencoba menghindar, hasilnya akan tetap sama. “Hentikan!” Tiba-tiba, suara teriakan yang menggema memecah

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 959

    Russel berdiri dengan angkuh, matanya menyala dengan kemenangan. “Aku sudah bilang, di dalam formasi ini, aku adalah sang penguasa.” Tapi tiba-tiba, Nathan perlahan bangkit. Sisik-sisik yang rontok mulai tumbuh kembali, cahaya keemasan di tubuhnya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Russel tertegun, matanya membelalak. “Kamu .… Bagaimana kamu masih bisa berdiri?” Nathan menatapnya, senyumnya penuh keyakinan. “Kamu pikir formasi kecilmu bisa menghentikanku? Aku bukan sekadar musuh yang bisa kau remehkan, Russel.” Raut wajah Russel berubah drastis, pukulannya tadi sudah menggunakan energi dari lima orang puncak penguasa Ingras, tapi masih tidak bisa membunuh Nathan.“Aku akan menunjukkan padamu, siapa penguasa sebenarnya!” Nathan mengangkat pedang Arunanya tinggi-tinggi, nyala api menyembur dari bilahnya, mendesis seperti ular naga yang bangkit dari abu. Suaranya menggema ratusan meter, menghanguskan udara di sekelilingnya. Russel menatap Nathan, matanya membelalak. Aura ya

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 958

    Russel menatap Nathan dengan kaget, merasakan aura yang mengerikan. Dalam benaknya, kekuatan Nathan sudah hampir mencapai tahap Villain. Namun, sosok Nathan hanya tampak seperti puncak penguasa Ingras yang baru saja menerobos tahap, dan Russel tidak bisa memahami bagaimana dia bisa meledakkan kekuatan yang begitu luar biasa.Russel bukanlah orang yang asing dengan pembunuh berbakat. Banyak ahli bela diri jenius yang pernah menantang lawan dengan kekuatan satu atau dua tingkat di atas mereka. Namun, sosok seperti Nathan—yang mampu menerobos sebuah tahap besar dengan begitu mudah—benar-benar langka. Russel tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.“Kamu tidak perlu tahu tentang diriku,” Nathan berkata, suaranya dingin seperti es. “Yang perlu kamu tahu adalah, kamu akan segera bertemu lagi dengan putramu!”“Hmm, kamu tidak perlu sesombong itu. Kamu kira aku hanya memiliki kekuatan seperti ini?” Russel mendengus dingin, berusaha menegaskan keberaniannya. “Kalau kamu punya kemampua

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 957

    "Kabur?" Bisiknya menggelitik tengkuk para anggota Keluaraga Yaju yang sedang memanjat tebing. "Kalian pikir neraka punya pintu keluar?"Swooossshhhh!Tubuhnya melesat melebihi kecepatan kilat. Setiap kali kilatan pedangnya berkelebat, sepasang matanya membeku, tubuh tanpa kepala masih berlari-lari sebelum akhirnya roboh. Darah menyembur dengan ngeri membentuk hujan di atas rerumputan. Di lereng bukit keluarga Calderon, mayat-mayat bergelimpangan membentuk spiral mistis—mulut terbuka dalam koor bisu, tangan terkunci dalam posisi memohon."Ka-kakak! Dia …. dia di belakangmu!" Ferdi menjerit sambil menunjuk ke bayangan yang sedang berjalan di dinding tebing. Kakinya basah—tidak tahu apakah itu keringat atau air seni—tapi yang pasti, bau amonia menusuk hidungnya. Setiap kali kelopak matanya berkedip, dia melihat kepala James bergulir pelan, lalu berubah menjadi wajahnya sendiri yang mungkin akan menjadi giliranya."Na-Nathan—" Russel terisak sambil memanjat dengan kuku yang berdarah-dara

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 956

    “Maaf aku datang terlambat,” Nathan menatap Nelson dan Abel yang berlumuran darah, niat membunuh di dalam dirinya semakin membara, seolah-olah darah mereka adalah bahan bakar untuk amarahnya.“Tuan Nathan, bisa melakukan sesuatu untukmu adalah kehormatan dalam hidupku, namun sayangnya—” mata Nelson memerah, air mata menetes di pipinya. “Keluarga Calderon sudah lenyap. Sepertinya ke depannya aku tidak akan bisa melakukan apapun lagi untuk Tuan Nathan!”“Keluar dari kegelapan, keluarga Calderon tidak akan lenyap selamanya. Kita bisa membangunnya kembali,” Nathan menjawab dengan tegas, suaranya penuh keyakinan. “Mulai hari ini, seluruh aset milik Yaju dan organisasi lainnya akan menjadi milik keluarga Calderon. Aku akan menunjukkan kepada komunitas bela diri di Kota Moniyan bahwa keluarga Calderon adalah milikku, dan tidak akan ada yang berani menyentuhnya!”Setelah Nathan selesai berbicara, dia perlahan berbalik. Cahaya bersinar di tangan kanannya, dan pedang Aruna muncul dengan kilauan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 955

    Kekuatan Nelson seharusnya jauh lebih besar dibandingkan James, namun saat ini, dia terkulai lemah, energinya hampir habis terkuras. Tak ada cara baginya untuk menahan serangan mematikan dari James yang kini mengamuk.“Ayah!” teriak Abel, bergegas maju untuk memapah Nelson, matanya menyala dengan kemarahan yang membara, menatap James seolah ingin membalas setiap tetes darah yang telah tumpah.Tatapan mata Abel dipenuhi kebencian yang membara. Dia membenci dirinya sendiri yang merasa tak berguna, membenci masa lalunya yang hanya tahu minum-minum tanpa berlatih, dan membenci ketidakmampuannya untuk berkontribusi pada keluarga Calderon. Rasa frustrasi itu menggerogoti jiwanya, mengubahnya menjadi bara yang siap membara.“Aku akan mengantar kalian menuju kematian, lalu membunuh Nathan!” ancam James, suaranya penuh kebencian saat dia melayangkan pukulannya lagi.Namun, sebelum tangannya meluncur, Russel segera menghentikannya, menggelengkan kepala dengan tegas. “Kita harus menunggu Nathan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 954

    Keluarga Calderon.Udara dipenuhi bau besi menyengat dari darah yang menggenang, menyelimuti tanah bak kabut merah. Mayat-mayat berserakan seperti daun kering di musim gugur, wajah mereka membeku dalam ekspresi teror terakhir. Denting pedang dan jerit kematian masih bergema, sisa-sisa pertempuran yang mengubah kediaman megah Calderon menjadi neraka berdarah. Dua pasukan—Ransom dan Yaju—mengurung sisa keluarga Calderon dalam lingkaran besi. Nelson dan Abel, dengan luka menganga di tubuh, berdiri membelakangi satu sama lain. Dari ratusan anggota keluarga, hanya belasan yang tersisa. Napas mereka berat, mata berkaca-kaca, tapi tangan masih mencengkeram senjata dengan getaran kemarahan yang tak padam. Russel, pemimpin keluarga Ransom, melangkah maju. Pedangnya berkilat di bawah sinar bulan yang pucat, bayangannya seperti siluet maut. "Nelson!" suaranya menggelegar. "Kita pernah bertarung bahu-membahu di Perang Disaster! Tapi kau memilih jadi anjing peliharaan Nathan—bocah yang membant

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 953

    “Ketua Sancho, kalau ada masalah bisa dibicarakan baik-baik. Kamu datang ke kepolisian dan menyerang Tuan Nathan. Kalau aku melaporkannya kepada Tuan Ryujin, apa kamu bisa menjelaskannya?” Milan melihat Nathan yang sudah tidak tahan dan segera mengancam Sancho.Mendengar Milan berkata seperti itu, Sancho menarik kembali auranya dan menatap Nathan dengan dingin. “Nathan, karena aku masih menghargai Tuan Ryujin, aku bisa mengampunimu kali ini. Tapi kamu harus menyerahkan lukisan yang kamu temukan di makam kuno itu kepadaku!”“Aku yang menemukannya. Atas dasar apa aku harus menyerahkannya kepadamu? Jika kamu punya kemampuan, bunuh saja aku hari ini. Aku tidak akan mungkin menyerahkan lukisan itu padamu,” Nathan menjawab tegas, menyadari betapa berharganya lukisan itu. Mana mungkin dia menyerahkannya kepada Sancho.“Hmm, orang sepertimu merasa layak memiliki lukisan itu? Barang itu di tanganmu sama saja dengan menyia-nyiakan benda pusaka!” Sancho berteriak marah. “Serahkan lukisan itu sek

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status