“Ah …. Memang wanita,” helaan nafas terdengar. Nathan tahu kalau dia tidak akan bisa tidur, jadi dia membuat segelas kopi dan duduk di sofa menunggu Sarah datang dengan tenang. Krek! Segera, suara pintu terbuka terdengar, dan Sarah masuk bersama dengan Beverly. Nathan bangkit berdiri, awalnya dia ingin memeluk Sarah sebagai permintaan maaf. Buk! Namun baru sampai di hadapan Sarah, Sarah langsung meninju Nathan. Nathan tercengang, dan dia tidak sempat mengelak untuk menghindar. “Ugh!” Lalu Sarah tidak melepaskannya dan kembali melayangkan tinjunya dan membuat Nathan terpaksa melangkah mundur. “Sarah, apa yang kamu lakukan?” Nathan kebingungan dan tidak mengerti kenapa Sarah langsung memukulnya begitu mereka bertemu. Setelah melakukan beberapa pukulan berturut-turut, pukulan Sarah tidak mengenai Nathan dan ini membuat Sarah sangat marah. Setelah menghentikan pukulannya, dia menatap Beverly dan berkata. “Eve! Apa yang kamu ajarkan semuanya tidak berguna, aku bahkan hanya bisa m
Bagaimanapun, Nathan adalah seorang pria, memiliki pemikiran seperti ini adalah hal yang normal. Ditambah lagi, dengan Sarah yang selalu bercanda dan mengatakan mereka berdua akan menjaga Nathan, membuat Nathan tiba-tiba memiliki pemikiran gila di otaknya itu. Hanya saja, pikiran itu berlalu dengan cepat dan Nathan bergegas duduk kembali ke sofa dan menyembunyikan rasa canggungnya. “Nathan, Jane si artis itu mengirimkan batu-batu yang kamu butuhkan lagi, semuanya ditaruh di halaman, apakah kamu sudah melihatnya?” Pada saat ini, Sarah bertanya pada Nathan. “Ya, sudah,” Nathan mengangguk. “Artis besar seperti Jane memiliki status yang begitu hebat, tapi malah mengantar batu ini secara langsung untukmu? Dia benar-benar sangat memperhatikanmu, kalau aku tidak menghentikannya, sepertinya dia akan mengantarkan batu ini ke Kota Moniyan untukmu!” Saat Sarah mengatakan kalimat ini, dia sangat cemburu. “Uhuk!” Nathan terbatuk lalu terdiam beberapa saat. Nathan tidak menyangka, Jane bahkan
Sekarang Donovan mengeluarkan surat tantangan, walau Hartley merupakan pemimpin dari kepolisian, dia juga tidak bisa mengatakan apapun lagi. Karena, ini adalah aturan di dunia seni bela diri, menyelesaikan masalah di atas arena tidak termasuk dendam pribadi, dan Hartley tidak bisa ikut campur. Tetapi saat ini, Nathan masih tenggelam dalam kultivasinya dan dia tidak tahu tentang surat tantangan itu, dan tidak tahu kalau dunia seni bela diri sedang memperhatikan dirinya. Saat ini, di luar area Villa Ascalon, banyak anggota seni bela diri yang datang, Ryzen dan Nicole juga bergegas kembali dari Kota Boulmer dan membawa tim yang terdiri dari ratusan orang. Nereka tidak peduli betapa mengerikannya kekuatan Keluarga Holcy, tidak peduli sekuat apa Donovan. Karena di mata mereka, Nathan adalah pemimpin mereka, dan mereka hanya akan setia pada Nathan. Bahkan, walau mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka, mereka tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Nathan. Di saat bersamaan, Zayn, Kev
Semua orang melihat sekeliling dan menemukan seorang gadis yang sangat cantik berjalan dari luar, gadis itu menguncir rambutnya dan terlihat seperti seorang siswa. “Siapa kamu?” Ryzen menatap gadis itu dan bertanya dengan wajah dingin. Kalau gadis biasa pasti sudah ketakutan saat melihat penampilan Ryzen, tapi gadis ini sama sekali tidak menganggapnya serius dan berkata. “Aku datang dari Kota Moniyan untuk mencari seseorang bernama Nathan.” Perkataan gadis itu membuat semua orang saling bertukar pandang dengan cemas, dan kemudian menatap Sarah. Mereka semua tahu kalau Nathan sudah menetap selama beberapa hari di Kota Moniyan, dan belum lama dia kembali sudah ada seorang gadis dari Kota Moniyan yang mengejarnya hingga ke rumah. “Kamu siapanya Nathan? Untuk apa mencari Nathan?” Sarah menatap gadis itu dengan tatapan permusuhan dan bertanya padanya. Gadis itu menatap Sarah sekilas lalu tersenyum jijik. “Kamu …. Pasti Sarah? Penampilanmu sebenarnya cantik juga, tapi sayangnya ka
Barusan Ryzen mengatakan mereka memiliki ribuan orang, dan dia tidak takut sama sekali. Sekarang, ucapan itu rasanya seperti lelucon, jangankan ribuan orang, walau ada lebih banyak orang lagi, di depan penguasa Ingras, itu semua hanyalah semut. Lambaian tangannya saja sudah bisa menghabisi mereka semua. Sedangkan Nathan menatap Rebecca yang pergi dan sangat ingin mengejarnya untuk bertanya, bertanya siapa Zephir sebenarnya? Kenapa dia terus membantu dirinya? Hanya saja, Nathan tidak bergerak, dia tahu Rebecca tidak akan mengatakannya. Sedangkan Sarah menatap Rebecca yang pergi dengan wajah yang canggung, ternyata dia datang untuk mengantarkan barang pada Nathan, dia sedang membantu Nathan tapi dirinya malah cemburu terhadapnya. Mengingat perkataan Rebecca, Sarah merasa apa yang dikatakan oleh Rebecca sangat benar. Selain penampilannya yang cantik, Sarah tidak memiliki keterampilan lain, dia seperti sebuah vas bunga dan kemungkinan besar dia adalah vas bunga yang akan menjadi beban b
“Itu tidak ada hubungannya denganmu, Aston pantas mati, kamu juga tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, aku akan baik-baik saja!” Nathan menghibur Beverly dan menyuruhnya untuk tidak menyalahkan dirinya. “Nathan, kamu ajari aku berkultivasi ya!” pada saat ini, Sarah tiba-tiba menatap Nathan dan berkata. “Aku tidak ingin menjadi vas bunga, aku ingin menjadi seorang wanita yang bisa membantumu!” Nathan menatap Sarah dengan heran, dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Sarah mengatakan hal seperti itu, pasti ada seseorang yang mengatakan sesuatu pada Sarah. “Bukankah aku sudah bilang, berkultivasi itu sangat sulit, lagipula …. kamu cukup belajar dari Beverly beberapa jurus dan membuat tubuhmu tetap bugar saja sudah cukup. Siapa yang mengatakan kamu vas bunga? Di hatiku, kamu adalah wanita paling sempurna!” Nathan berkata dan membelai kepala Sarah dengan penuh kasih akung. “Tidak, aku mau berkultivasi! Aku mau menjadi lebih kuat dibandingkan dirimu! Dengan begitu, kedepannya aku bisa m
“Kenapa? Kamu tidak suka makan masakanku, dan mau makan di luar?” Sarah bertanya pada Nathan. “B-bukan, aku takut kamu lelah,” Nathan bergegas menjelaskan, sebenarnya Nathan memang tidak suka, tapi dia tidak berani mengatakannya. “Hah? Aku tidak lelah! Ada Beverly yang membantuku, kami berdua akan memasak, kamu duduk saja di sofa!” Sarah menarik Beverly memasuki dapur. Nathan yang melihat itu hanya bisa duduk dengan pasrah di sofa, dan berdoa semoga kali ini masakan Sarah akan terasa lebih enak. Kring~~~ Saat Nathan sedang duduk dan menunggu untuk makan, ponselnya tiba-tiba berdering. Saat melihat nomor di teleponnya, ternyata itu adalah panggilan dari Gilfred dan membuat Nathan sangat terkejut. Belakangan ini, Unique Care telah menyita hampir seluruh bahan obat berusia ratusan tahun ke atas, dan hanya sedikit yang masuk ke Kota Takari. Oleh karena itu, Gottfried Care milik Gilfred sama sekali tidak memiliki bahan obat ratusan tahun dan tidak mengirimkannya pada Nathan. H
“Tuan Nathan?!” Melihat Nathan berjalan keluar, Ryzen dan Nicole bergegas maju. “Ryzen, menyetirlah, kita akan pergi ke Kota Takari!” Nathan berkata pada Ryzen. Melihat Nathan yang begitu terburu-buru, Ryzen dan Nicole tidak berani bertanya. Segera, Ryzen mengemudikan mobilnya dan tiga orang itu melaju menuju Kota Takari. Dalam perjalanan atas desakan Nathan, Ryzen mengemudi dengan sangat cepat dan tiba di Kota Takari hanya dalam waktu satu jam. Setelah menemui Gilfred, Nathan bergegas berkata. “Gilfred, ayo kita temui Tuan Shari sekarang!” “Nathan, kenapa terburu-buru? Kalian belum makan siang, kan? Bagaimana kalau makan dulu?” Gilfred tidak menyangka Nathan akan begitu terburu-buru, dan bergegas kemari sebelum makan. “Tidak ada waktu lagi, ayo berangkat sekarang!” Nathan menarik Gilfred dan pergi. Baru saja mereka keluar, mereka bertemu dengan Sherly dan Shilpy, kakak beradik itu terkejut saat mereka melihat NNathan Dalam sekejap mata, karena sudah lama tidak bertemu de
“Tutup mulutmu!” Ging menoleh, tatapannya membuat Russel terkejut dan segera diam. Kemudian Ging kembali berkata. “Nathan, kamu mempermalukanku di makam kuno. Hari ini, aku datang untuk membalaskan dendam itu!” Pakaian Ging bergerak meski tak ada angin, lalu tiba-tiba, sosoknya menghilang. Detik berikutnya, Ging muncul di atas kepala Nathan, tubuhnya bercahaya seperti meteor yang melesat. Tanah di bawah kaki Nathan retak, tekanan yang dihasilkan Ging semakin besar, memaksa kaki Nathan terbenam ke dalam tanah. “Pukulan Meteor!” teriak Ging, cahaya keemasan di tubuhnya semakin terang. Russel, yang menyaksikan pemandangan itu, tersenyum lebar. Kemenangan sepertinya sudah di depan mata. “Hahaha …. Nathan, kali ini kamu pasti mati! Ini adalah jurus mematikan milik Ketua Ging, Pukulan Meteor! Tak ada orang yang bisa menahan pukulan ini. Aku akan melihatmu hancur berkeping-keping!” Russel tertawa terbahak-bahak, kegirangannya tak terbendung. Nathan mengabaikannya. Dia menyimpan ped
“Nathan, aku salah. Aku tahu aku salah. Ke depannya, keluarga Ransom bersedia mendengarkan perintahmu dan mematuhi perkataanmu!” Russel menundukkan kepalanya, kepala yang terhormat itu kini tunduk pada seorang pemuda berusia dua puluh tahunan. Saat ini, kehormatan dan reputasi tak lagi penting. Yang tersisa hanyalah satu kesempatan untuk bertahan hidup. Selama dia masih hidup, masih ada harapan untuk bangkit kembali. “Jika aku membunuhmu sekarang, seluruh kekuatan Ransom akan berada di bawah kendaliku,” ucap Nathan, suaranya dingin seperti es. Tatapan matanya menusuk, tak ada belas kasihan. Saat Nathan selesai berbicara, dia mengangkat pedang Arunanya tinggi-tinggi, bilahnya memancarkan cahaya keemasan yang memancarkan aura kematian. Russel menatap pedang itu, matanya dipenuhi ketakutan. Tapi dia tak bergerak. Kepercayaan dirinya sudah hancur. Dia tahu, bahkan jika dia mencoba menghindar, hasilnya akan tetap sama. “Hentikan!” Tiba-tiba, suara teriakan yang menggema memecah
Russel berdiri dengan angkuh, matanya menyala dengan kemenangan. “Aku sudah bilang, di dalam formasi ini, aku adalah sang penguasa.” Tapi tiba-tiba, Nathan perlahan bangkit. Sisik-sisik yang rontok mulai tumbuh kembali, cahaya keemasan di tubuhnya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Russel tertegun, matanya membelalak. “Kamu .… Bagaimana kamu masih bisa berdiri?” Nathan menatapnya, senyumnya penuh keyakinan. “Kamu pikir formasi kecilmu bisa menghentikanku? Aku bukan sekadar musuh yang bisa kau remehkan, Russel.” Raut wajah Russel berubah drastis, pukulannya tadi sudah menggunakan energi dari lima orang puncak penguasa Ingras, tapi masih tidak bisa membunuh Nathan.“Aku akan menunjukkan padamu, siapa penguasa sebenarnya!” Nathan mengangkat pedang Arunanya tinggi-tinggi, nyala api menyembur dari bilahnya, mendesis seperti ular naga yang bangkit dari abu. Suaranya menggema ratusan meter, menghanguskan udara di sekelilingnya. Russel menatap Nathan, matanya membelalak. Aura ya
Russel menatap Nathan dengan kaget, merasakan aura yang mengerikan. Dalam benaknya, kekuatan Nathan sudah hampir mencapai tahap Villain. Namun, sosok Nathan hanya tampak seperti puncak penguasa Ingras yang baru saja menerobos tahap, dan Russel tidak bisa memahami bagaimana dia bisa meledakkan kekuatan yang begitu luar biasa.Russel bukanlah orang yang asing dengan pembunuh berbakat. Banyak ahli bela diri jenius yang pernah menantang lawan dengan kekuatan satu atau dua tingkat di atas mereka. Namun, sosok seperti Nathan—yang mampu menerobos sebuah tahap besar dengan begitu mudah—benar-benar langka. Russel tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.“Kamu tidak perlu tahu tentang diriku,” Nathan berkata, suaranya dingin seperti es. “Yang perlu kamu tahu adalah, kamu akan segera bertemu lagi dengan putramu!”“Hmm, kamu tidak perlu sesombong itu. Kamu kira aku hanya memiliki kekuatan seperti ini?” Russel mendengus dingin, berusaha menegaskan keberaniannya. “Kalau kamu punya kemampua
"Kabur?" Bisiknya menggelitik tengkuk para anggota Keluaraga Yaju yang sedang memanjat tebing. "Kalian pikir neraka punya pintu keluar?"Swooossshhhh!Tubuhnya melesat melebihi kecepatan kilat. Setiap kali kilatan pedangnya berkelebat, sepasang matanya membeku, tubuh tanpa kepala masih berlari-lari sebelum akhirnya roboh. Darah menyembur dengan ngeri membentuk hujan di atas rerumputan. Di lereng bukit keluarga Calderon, mayat-mayat bergelimpangan membentuk spiral mistis—mulut terbuka dalam koor bisu, tangan terkunci dalam posisi memohon."Ka-kakak! Dia …. dia di belakangmu!" Ferdi menjerit sambil menunjuk ke bayangan yang sedang berjalan di dinding tebing. Kakinya basah—tidak tahu apakah itu keringat atau air seni—tapi yang pasti, bau amonia menusuk hidungnya. Setiap kali kelopak matanya berkedip, dia melihat kepala James bergulir pelan, lalu berubah menjadi wajahnya sendiri yang mungkin akan menjadi giliranya."Na-Nathan—" Russel terisak sambil memanjat dengan kuku yang berdarah-dara
“Maaf aku datang terlambat,” Nathan menatap Nelson dan Abel yang berlumuran darah, niat membunuh di dalam dirinya semakin membara, seolah-olah darah mereka adalah bahan bakar untuk amarahnya.“Tuan Nathan, bisa melakukan sesuatu untukmu adalah kehormatan dalam hidupku, namun sayangnya—” mata Nelson memerah, air mata menetes di pipinya. “Keluarga Calderon sudah lenyap. Sepertinya ke depannya aku tidak akan bisa melakukan apapun lagi untuk Tuan Nathan!”“Keluar dari kegelapan, keluarga Calderon tidak akan lenyap selamanya. Kita bisa membangunnya kembali,” Nathan menjawab dengan tegas, suaranya penuh keyakinan. “Mulai hari ini, seluruh aset milik Yaju dan organisasi lainnya akan menjadi milik keluarga Calderon. Aku akan menunjukkan kepada komunitas bela diri di Kota Moniyan bahwa keluarga Calderon adalah milikku, dan tidak akan ada yang berani menyentuhnya!”Setelah Nathan selesai berbicara, dia perlahan berbalik. Cahaya bersinar di tangan kanannya, dan pedang Aruna muncul dengan kilauan
Kekuatan Nelson seharusnya jauh lebih besar dibandingkan James, namun saat ini, dia terkulai lemah, energinya hampir habis terkuras. Tak ada cara baginya untuk menahan serangan mematikan dari James yang kini mengamuk.“Ayah!” teriak Abel, bergegas maju untuk memapah Nelson, matanya menyala dengan kemarahan yang membara, menatap James seolah ingin membalas setiap tetes darah yang telah tumpah.Tatapan mata Abel dipenuhi kebencian yang membara. Dia membenci dirinya sendiri yang merasa tak berguna, membenci masa lalunya yang hanya tahu minum-minum tanpa berlatih, dan membenci ketidakmampuannya untuk berkontribusi pada keluarga Calderon. Rasa frustrasi itu menggerogoti jiwanya, mengubahnya menjadi bara yang siap membara.“Aku akan mengantar kalian menuju kematian, lalu membunuh Nathan!” ancam James, suaranya penuh kebencian saat dia melayangkan pukulannya lagi.Namun, sebelum tangannya meluncur, Russel segera menghentikannya, menggelengkan kepala dengan tegas. “Kita harus menunggu Nathan
Keluarga Calderon.Udara dipenuhi bau besi menyengat dari darah yang menggenang, menyelimuti tanah bak kabut merah. Mayat-mayat berserakan seperti daun kering di musim gugur, wajah mereka membeku dalam ekspresi teror terakhir. Denting pedang dan jerit kematian masih bergema, sisa-sisa pertempuran yang mengubah kediaman megah Calderon menjadi neraka berdarah. Dua pasukan—Ransom dan Yaju—mengurung sisa keluarga Calderon dalam lingkaran besi. Nelson dan Abel, dengan luka menganga di tubuh, berdiri membelakangi satu sama lain. Dari ratusan anggota keluarga, hanya belasan yang tersisa. Napas mereka berat, mata berkaca-kaca, tapi tangan masih mencengkeram senjata dengan getaran kemarahan yang tak padam. Russel, pemimpin keluarga Ransom, melangkah maju. Pedangnya berkilat di bawah sinar bulan yang pucat, bayangannya seperti siluet maut. "Nelson!" suaranya menggelegar. "Kita pernah bertarung bahu-membahu di Perang Disaster! Tapi kau memilih jadi anjing peliharaan Nathan—bocah yang membant
“Ketua Sancho, kalau ada masalah bisa dibicarakan baik-baik. Kamu datang ke kepolisian dan menyerang Tuan Nathan. Kalau aku melaporkannya kepada Tuan Ryujin, apa kamu bisa menjelaskannya?” Milan melihat Nathan yang sudah tidak tahan dan segera mengancam Sancho.Mendengar Milan berkata seperti itu, Sancho menarik kembali auranya dan menatap Nathan dengan dingin. “Nathan, karena aku masih menghargai Tuan Ryujin, aku bisa mengampunimu kali ini. Tapi kamu harus menyerahkan lukisan yang kamu temukan di makam kuno itu kepadaku!”“Aku yang menemukannya. Atas dasar apa aku harus menyerahkannya kepadamu? Jika kamu punya kemampuan, bunuh saja aku hari ini. Aku tidak akan mungkin menyerahkan lukisan itu padamu,” Nathan menjawab tegas, menyadari betapa berharganya lukisan itu. Mana mungkin dia menyerahkannya kepada Sancho.“Hmm, orang sepertimu merasa layak memiliki lukisan itu? Barang itu di tanganmu sama saja dengan menyia-nyiakan benda pusaka!” Sancho berteriak marah. “Serahkan lukisan itu sek