“Sepertinya perjalanan kita sudah cukup jauh dari pemondokan Kiai, tapi kenapa belum ada 1 desa pun yang kita jumpai? Bukankah kamu tadi bilang pernah mengitari seluruh kawasan pulau ini, Mantili?”“Benar Mas, di sebelah selatan dan utara sana banyak desa-desa yang memang dekat dengan pemondokan Eyang. Para santri yang ada di pemondokan berasal dari desa-desa itu, akan tetapi bukankah Mas Arya berkata tujuan utama kita menemui para pengungsi Desa Sampang, jadi kita harus menuju desa-desa yang terdekat dengan Desa Sampang itu di arah barat sana,” tutur Mantili.“Hemmm, benar juga apa yang kamu katakan. Para pengungsi dari Desa Sampang tidak akan jauh mengungsi dari desa itu, mereka tentunya lebih memilih mengungsi ke desa-desa terdekat. Ayo sekarang kita lanjutkan perjalanan,” ujar Arya mengajak Mantili meneruskan perjalanan mereka.*****Seekor kuda yang ditunggangi sosok pria berpakaian serba merah terlihat tengah menaiki lereng bukit yang tidak begitu curam dan tinggi setelah keluar
“Ya, nanti juga aku akan ke selatan dengan Sima. Oh ya Padepokan Neraka sekarang diserahkan pada siapa? Karena Sobat Pangeran musti keluar beberapa hari menemui para sahabat kita,” ujar Lenggo Lumut sembari bertanya.“Dipo Geni yang aku amanahkan untuk menjaga padepokan, karena semuanya sudah jelas sekarang juga aku mohon diri ke arah utara.”“Baik Sobat Pangeran, jika ada berita terbaru dengan pemuda itu mohon sekiranya sobat berkenan mengirim utusan untuk memberi kabar ke padepokan kami nantinya.”“Tentu saja Lenggo, aku pamit sekarang,” Lenggo Lumut dan Ratu Lentik mengangguk dan mengantar Pangeran Durjana hingga halaman padepokan itu.Sepeninggalnya Pangeran Durjana yang mengarah ke kawasan utara Pulau Jawa, Lenggo Lumut dan Sima Ratu Lentik duduk kembali di ruang depan padepokan, di sana juga terlihat beberapa orang berpakaian hijau anggota Padepokan Lumut.“Ini berita buruk bagi kita semua tokoh golongan hitam, Arya ternyata masih hidup dan berada di Pulau Dewata. Sebentar lagi
“Kenapa kalian tidak mengungsi ke desa-desa terdekat saja dan memilih tinggal di hutan ini?” tanya Arya.“Kami takut akan terjadi kembali penyerangan gerombolan itu ke desa-desa yang lain, makanya kami memilih hutan ini untuk tempat berlindung,” jawab Kamra.“Apa di sini kalian bisa bertahan hidup untuk sementara waktu?” kembali Arya bertanya.“Di kawasan hutan ini banyak bahan makanan seperti hewan buruan dan buah-buahan hutan yang dapat kami makan, begitu pula sumber air dari anak-anak sungai yang jernih dapat kami pakai untuk minum dan mandi.”“Hemmm, jika menurut kalian lebih nyaman untuk tinggal di hutan ini untuk sementara waktu bertahanlah di sini. Mudah-mudahan tak beberapa lama lagi kalian akan dapat kembali ke Desa Sampang, mohon do’a kalian semua yang ada di sini agar Aku dan Mantili dapat memberantas para gerombolan pengacau di desa itu,” tutur Arya.“Tentu saja Mas Arya kami akan bantu dengan do’a demi kami dapat kembali ke Desa Sampang, tapi maaf sebelumnya Mas Arya dan
Wanita cantik berpakaian ungu dan pria tampan berpakaian putih tampak menuruni lereng perbukitan di kawasan selatan Pulau Madura, seperti sebelumnya setelah melewati perbukitan selalu di temui anak sungai yang jernih berbatu-batu.Tak jauh setelah menyeberangi anak sungai itu terdapat hamparan persawahan yang sangat luas, mungkin karena hari sudah sore tidak ada seorang petani pun yang terlihat di kawasan persawahan itu.Wanita berpakaian ungu dan pria berpakaian putih terus berlari menelusuri pematang sawah, mereka terkejut setelah tiba di pinggiran sawah beberapa orang menghadang langkah mereka.“Berhenti..!” seru beberapa orang yang menghadang itu.“Maaf Kisanak, kenapa kalian menghadang kami?” tanya pria berpakaian putih.“Harusnya kami yang bertanya kalian dari mana dan hendak ke mana?” salah seorang dari penghadang itu balik bertanya.“Oh, kami baru saja datang dari kawasan paling ujung pulau ini.”“Kalian jangan berbohong, kalian pasti datang dari kawasan barat sana kan?!” tepi
“Lalu mereka bicara apa pada Mas Arya?” tanya Mahfud memulai percakapan kembali.“Setelah aku membantu mereka menepi dan membawa mereka ke tempat para penumpang kapal menunggu waktu keberangkatan, aku bertanya kenapa mereka nekad menaiki perahu-perahu itu dengan penumpang penuh dan juga membawa para wanita dan anak-anak. Mereka menjawab desa mereka diserang segerombolan orang yang tak mereka kenal,” tutur Arya.“Hanya itu saja jawab mereka?”“Iya Mas Mahfud, kebetulan waktu itu aku di pelabuhan bersama Ratu Kerajaan Dharma melihat mereka yang telah berhari-hari tidak makan dengan baik dan kondisi lemas, kami tidak banyak bertanya dan segera memberi mereka makanan,” tambah Arya.“Terima kasih aku ucapkan sebagai kepala Desa Sampang, karena Mas Arya serta Ratu Kerajaan Dharma di Pulau Dewata itu telah menolong sebagian warga kami yang mengungsi ke sana.”“Sama-sama Mas Mahfud, kami senang dapat membantu mereka. Dan bersyukur seluruh penumpang di tiga perahu itu selamat,” ujar Arya diiri
“Apa yang dikatakan Mas Arya benar adanya, sebagai seorang pendekar yang selalu mengembara aku pun tak jarang tidur di pinggiran hutan bahkan di atas pohon,” tambah Mantili, Mahfud dan Samin saling pandang agaknya mereka percaya dengan semua yang dikatakan Arya bukan bagian dari gurauannya.Malam di Desa Karapan hawa di sana memang dingin di tambah saat itu gerimis turun karena sedari tadi sore sudah mulai mendung, selepas makan malam bersama di ruangan tengah rumah kepala Desa Karapan itu, Arya duduk di pendopo dengan Mahfud dan Samin sementara beberapa pria yang biasa ikut bergabung di sana memilih pergi ke tempat para warga desa yang mendapat tugas ronda.Samin dan Mahfud membuat perapian di samping pendopo itu agar dapat meredam hawa dingin yang hadir, Arya hanya memperhatikan saja kedua kepala desa itu sembari tersenyum.Tak berselang lama istri Samin dan Mahfud datang ke pendopo membawa 3 cangkir kopi dan 2 piring singkong rebus, setelah menaruhnya di pendopo di hadapan Arya mer
Serta merta Ratu Lentik rebahkan tubuhnya menelungkup di tanah menghindari tadah butut yang melesat cepat berputar-putar seperti gasing itu hendak menghantam dirinya, sementara Lenggo Lumut salto kebelakang beberapa tombak menghindari serangan balik Dewa Pengemis itu.“Hiyaaaaaaaat..! Deeeeeeees..! Ziiiiiiiiiing...! Taaaaaaaaap..!” sebuah tendangan keras dilesatkan Lenggo Lumut menghajar tadah butut yang masing berputar-putar di udara itu, hingga berbalik kembali ke arah pemiliknya dan dengan santai pula Dewa Pengemis menangkap tadah butut itu.“Ha.. ha.. ha..! Baru dengan tadah butut ini saja kalian sudah kalang-kabut..!” Dewa Pengemis tertawa melihat Lenggo Lumut dan Ratu Lentik pontang-panting menghindar salah satu senjata miliknya itu.“Jangan banyak bacot kau pria dekil..! Terima ini...! Hiyaaaaaat..! Wuuuuuuuuus..! Wuuuuuuuuuus..! Huuuup..! Duaaaaaaaaar..! Duaaaaaaar..!” dua bilah pisau kecil berasal dari Ratu Lentik melesat cepat ke arah Dewa Pengemis, pria berpakaian compang-c
“Kami juga awalnya tidak percaya saat Pangeran Durjana memberitahu itu kepada kami di padepokan, akan tetapi setelah ia bercerita jika 5 orang yang dia utus ke Pulau Dewata itu untuk melakukan tugas telah tewas dan 2 di antaranya adalah Gento dan Lakas Geni oleh Arya kami langsung percaya,” tutur Lenggo Lumut.“Ini memang berita buruk bagi kita tokoh golongan hitam yang telah berhasil menguasai sebagian besar kawasan Pulau Jawa.”“Benar sobatku Welung Pati, sejauh ini gangguan dari para pendekar golongan putih selalu berhasil kita atasi. Yang kita kuatirkan bagaimana cara meredam Pendekar Rajawali Dari Andalas itu jika dia kembali ke Pulau Jawa ini,” Lenggo Lumut tak kalah gentarnya seperti yang dirasakan Welung Pati saat ini.“Apa para sobat kita yang lainnya telah kalian kabarkan mengenai berita ini?”“Bagian selatan Pulau Jawa baru Padepokan Gagak Selatan ini yang kami datangi, sementara di bagian utara sekarang tengah di datangi Pangeran Durjana,” jawab Lenggo Lumut.“Nanti aku ak
Sembari menunggu matahari agak condong ke barat, tengah hari itu mereka manfaatkan untuk beristirahat dan makan siang bersama. Dari arah barat tampak pula 3 orang yang tengah berjalan santai meniti pematang sawah menuju dangau tempat beberapa petani sedang makan siang bersama itu, mereka terdiri dari satu orang wanita dan dua orang pria.Para petani di dangau sempat arahkan pandangan ke arah ketiga orang yang tengah meniti pematang itu, mereka saling pandang seperti bertanya apakah ada di antara mereka yang mengenal tiga orang yang berjalan di pematang sawah menuju ke arah dangau mereka itu.Keseluruh para petani itu menampakan raut wajah yang bingung pertanda tak ada satupun di antara mereka yang mengenali tiga orang yang saat itu telah dekat dengan dangau tempat mereka duduk makan siang bersama, dua orang di antara petani itu hentikan makan lalu berdiri dari duduknya berjalan menghampiri ketiga orang yang telah tiba di depan dangau itu.“Maaf, jika kehadiran kami telah mengganggu is
Bayangan hitam yang sangat besar tiba-tiba saja muncul tepat di depan Setan Tanduk Neraka duduk bersila melakukan semedi, saking besarnya puncak kepalanya menyentuh langit-langit goa padahal dia juga memposisikan tubuhnya duduk di atas batu besar di depan Guru Pangeran Durjana itu.Makin lama bayangan itu semakin jelas wujudnya yang tak kalah menyeramkan dengan wujud Setan Tanduk Neraka, kehadirannya di sana membuat dinding-dinding goa bergetar hebat seakan mau runtuh.“Ha.. ha.. ha..! Ada gerangan apa kau memanggilku ke sini, Setan Tanduk Neraka..?!” kembali dinding-dinding goa itu bergetar hebat, Setan Tanduk Neraka membuka matanya.“Terimalah sembahku yang mulia Raja Setan Sejagad,” ucap Setan Tanduk Neraka memberi sembah, sosok raksasa di depannya itu hanya anggukan kepala.“Maafkan saya yang mulia jika saya lancang memanggil yang mulia Raja datang ke sini, adapun tujuannya hendak meminta bantuan menyempurnakan ilmu tanduk neraka yang mulia sematkan di kepala saya. Yang mulia berk
Para anggota atau anak buah Pangeran Durjana yang mendiami padepokan itu telah mencapai 2.000 orang, itu semua karena Padepokan Neraka memang memiliki daya tarik kuat untuk bergabung menjadi anggota sebab merasa terjamin kehidupan mereka di sana dengan berlimpah ruahnya upeti yang mereka terima dari berbagai Kerajaan dan padepokan yang telah mereka taklukan.Namun begitu Pangeran Durjana yang serakah itu masih belum puas dengan menguasai kawasan timur Pulau Jawa itu saja, ia ingin dapat menguasai seluruh Pulau Jawa dari timur hingga kawasan barat seperti yang dikehendaki Gurunya Si Setan Tanduk Neraka itu.Kedatangan Pangeran Durjana di halaman padepokan di sambut oleh Dipo Geni sebagai tangan kanannya atau di Kerajaan sebagai Panglima, melihat raut wajah junjungannya tidak terlihat gembira Dipo Geni tak berani bertanya selain mengiringi junjungannya itu hingga ke dalam ruangan kebesaran Padepokan Neraka itu.“Dipo Geni, selama saya pergi meninggalkan padepokan ini apakah ada Kerajaan
Tanpa menunggu waktu lama lagi Pangeran Durjana segera meninggalkan goa itu, ia menuju ke arah timur itu artinya di akan kembali ke padepokannya di Lembah Neraka di kawasan Gunung Merapi.Setan Tanduk Neraka sebenarnya sosok mahkluk astral sejenis jin yang sebelum dimasuki roh Sura Brambang sosok bertubuh empat kali lipat manusia biasa itu tidak pernah bisa dilihat dan dia pun tak bisa juga menunjukan dirinya setiap saat kepada manusia.Roh Sura Brambang yang selalu gentayangan berupa arwah penasaran itu, takan pernah merasa senang jika Tanah Jawa belum mengalami kehancuran karena memang semasa hidupnya dulu merupakan dedengkot tokoh golongan hitam. Melalui raga halus mahkluk astral yang mengerikan itulah, ia dapat berkomunikasi dan bisa dilihat oleh Pangeran Durjana sebagai murid sekaligus jalan mewujudkan keinginan jahatnya itu yang ingin melihat kehancuran di muka bumi terutama Pulau Jawa.Sosok Setan Tanduk Neraka bukan saja berwujud mengerikan tapi juga memiliki ilmu yang luar bia
Dari sisi kiri depan mulut goa tampak berkelebat sebuah bayangan merah, sosok itu seperti berlari-lari meniti dinding goa lalu salto di udara beberapa kali sebelum akhirnya ia duduk bersila pula di atas batu besar berhadap-hadapan dengan mahkluk aneh dan menyeramkan itu.“Ha.. ha.. ha..! Sudah lama kau tak datang mengunjungiku di sini bocah bejad..!” terdengar suara dan tawa dari makhluk mengerikan itu menggelegar memekakan telinga.“Maafkan saya Guru, saya baru sempat datang saat ini karena sebelumnya sibuk dengan rencana yang pernah saya sampaikan membuat sebuah padepokan dan sekarang semua itu telah terwujud. Bukan hanya itu saja Guru, saya juga telah berhasil menguasai kawasan timur Pulau Jawa ini,” tutur sosok yang baru masuk ke dalam goa itu, seorang pria berbadan kekar mengenakan pakaian serba merah.“Ha.. ha.. ha..! Ternyata selama ini kau hanya dapat menguasai kawasan timur saja, murid bodoh kenapa tidak seluruh Pulau Jawa ini?!” seru mahkluk aneh yang di panggil dengan sebut
“Dia merasa sangat tertekan dan merasa terhina sekali di bawah kendali Pangeran Durjana, sebagai seorang raja dia tak memiliki harga diri lagi. Dia mengajak kerja sama untuk melawan Pangeran Durjana itu, sebagai imbalannya Satrio Mandalu bersedia menyerahkan beberapa daerah kekuasaannya pada kami di perbatasan utara sana. Saya sebenarnya sangat kasihan dan sama sekali tak menginginkan daerah itu kalaupun kami bersedia membantunya, hanya saja sampai saat ini saya belum memberi keputusan karena saya masih disibukan untuk mengurus Kesultanan dan daerah-daerah kekuasan di Demak ini,” jelas Sultan Demak.“Mungkin ada baiknya kami nanti akan ke Kerajaan Mandalu itu bertemu dengannya, tentu dia tahu persis kediaman Pangeran Durjana dan para anak buahnya itu.”“Benar Dezo, saya juga hendak mengusulkan itu padamu. Pangeran Durjana memang telah keterlaluan beberapa tahun ini terkesan memperbudak Kerajaan-kerajaan dan padepokan di kawasan timur itu,” ujar raja Kesultanan Demak itu.“Saya juga pe
“Jangan panggil saya dengan sebutan seperti itu Mas Tapa, panggil saja saya Arya,” ujar murid Nyi Konde Perak itu yang merasa risih dipanggil Tuan Pendekar.“Baik Arya apakah benar pria pengacau itu tidak akan datang kembali ke desa kami ini?” tanya Tapa Diwo.“Saya kenal dengan pria itu, dia adalah Pangeran Durjana musuh bebuyutan saya dan kami pernah bertarung dulunya sebelum saya dikabarkan tewas,” jelas Arya memastikan.“Oh, kalau begitu kami ucapkan terima kasih dan kami sudah tak merasa kuatir lagi akan kemunculannya di kawasan desa kami ini,” ucap Tapa Diwo.“Sama-sama Mas Tapa, sekarang kami mohon diri untuk kembali ke istana Kesultanan Demak, jika ada hal-hal yang mencurigakan atau apa saja itu yang menguatirkan warga di sini segera laporkan pada pihak istana,” tutur Arya sembari berpamitan.“Baik Arya,” Tapa Diwo dan para warga Desa Damai yang berada di sana lambaikan tangan saat Arya dan rombongan kembali ke istana Kesultanan Demak.Memang tidak ada luka dalam yang di derit
“Jahanam..! Saya yang akan bertarung denganmu..!”Panglima Kerajaan Demak maju menerjang, pria bertopeng hanya mengelak beberapa langkah ke samping lalu dengan santai ia memasukan pedang di tangannya ke dalam sarung yang ia sandang dipunggungnya.“Hemmm, ternyata kau punya nyali juga Panglima. Baik saya akan melayanimu dengan tangan kosong pula,” ujar pria bertopeng.Terjadilah pertarungan yang cukup seru dan menegangkan, jual beli pukulan tangan kosong pun terlihat.“Buuuuuuuuk..!”Sebuah tendangan keras tak terduga bersarang di dada Panglima hingga membuatnya terguling-guling beberapa kali di tanah, pria bertopeng sepertinya hendak menghabisi Panglima Kerajaan Demak itu terlihat dirinya melesat ke udara lalu menghujamkan kepalan tinjunya ke arah perut Panglima.Angin pukulan bertenaga dalam tinggi menderu hebat mengarah tubuh Panglima yang tergeletak mendekap dadanya yang nyeri, beberapa jangkauan lagi kepalan tangan itu akan menghantam dan bisa saja membuat perut Panglima itu meled
“Mari kita masuk dan berbincang-bincang di dalam,” sambung Sultan Demak, mereka bertiga mengangguk dan tersenyum ramah.Arya, Dewa Pengemis dan Bidadari Selendang Biru memang diperlakukan sangat berbeda oleh Sultan Demak. Itu terlihat saat mereka diajak masuk ke ruangan kebesaran istana itu, dalam waktu yang tak lama bermacam-macam jenis jamuan disediakan oleh Arya yang sangat mengejutkan karena dikabarkan menghilang bahkan tewas beberapa tahun yang lalu di lembah Gunung Kerinci,” tutur Sultan Demak memulai percakapan mereka di ruangan itu.“Maafkan saya Kanjeng Sultan, semua yang terjadi memang di luar dugaan. Namun semua itu nyata terjadi terhadap diri saya, puji syukur pada Gusti Allah karena kehendak-Nya pulalah saya dapat kembali ke Negeri Nusantara ini dan bertemu dengan Kanjeng Sultan,” ujar Arya.“Ya, Alhamdulillah. Saya pun sangat senang dapat bertemu kembali denganmu Arya, dan memang saya tak pernah yakin jika kamu itu telah tewas meskipun tak ada kabarnya bertahun-tahun,” u