Share

Bab 80. Desa Karapan

Author: Andy Lorenza
last update Last Updated: 2024-12-04 02:45:58

Wanita cantik berpakaian ungu dan pria tampan berpakaian putih tampak menuruni lereng perbukitan di kawasan selatan Pulau Madura, seperti sebelumnya setelah melewati perbukitan selalu di temui anak sungai yang jernih berbatu-batu.

Tak jauh setelah menyeberangi anak sungai itu terdapat hamparan persawahan yang sangat luas, mungkin karena hari sudah sore tidak ada seorang petani pun yang terlihat di kawasan persawahan itu.

Wanita berpakaian ungu dan pria berpakaian putih terus berlari menelusuri pematang sawah, mereka terkejut setelah tiba di pinggiran sawah beberapa orang menghadang langkah mereka.

“Berhenti..!” seru beberapa orang yang menghadang itu.

“Maaf Kisanak, kenapa kalian menghadang kami?” tanya pria berpakaian putih.

“Harusnya kami yang bertanya kalian dari mana dan hendak ke mana?” salah seorang dari penghadang itu balik bertanya.

“Oh, kami baru saja datang dari kawasan paling ujung pulau ini.”

“Kalian jangan berbohong, kalian pasti datang dari kawasan barat sana kan?!” tepi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 81. Ditawari Bermalam

    “Lalu mereka bicara apa pada Mas Arya?” tanya Mahfud memulai percakapan kembali.“Setelah aku membantu mereka menepi dan membawa mereka ke tempat para penumpang kapal menunggu waktu keberangkatan, aku bertanya kenapa mereka nekad menaiki perahu-perahu itu dengan penumpang penuh dan juga membawa para wanita dan anak-anak. Mereka menjawab desa mereka diserang segerombolan orang yang tak mereka kenal,” tutur Arya.“Hanya itu saja jawab mereka?”“Iya Mas Mahfud, kebetulan waktu itu aku di pelabuhan bersama Ratu Kerajaan Dharma melihat mereka yang telah berhari-hari tidak makan dengan baik dan kondisi lemas, kami tidak banyak bertanya dan segera memberi mereka makanan,” tambah Arya.“Terima kasih aku ucapkan sebagai kepala Desa Sampang, karena Mas Arya serta Ratu Kerajaan Dharma di Pulau Dewata itu telah menolong sebagian warga kami yang mengungsi ke sana.”“Sama-sama Mas Mahfud, kami senang dapat membantu mereka. Dan bersyukur seluruh penumpang di tiga perahu itu selamat,” ujar Arya diiri

    Last Updated : 2024-12-05
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 82. Dibuntuti Dewa Pengemis

    “Apa yang dikatakan Mas Arya benar adanya, sebagai seorang pendekar yang selalu mengembara aku pun tak jarang tidur di pinggiran hutan bahkan di atas pohon,” tambah Mantili, Mahfud dan Samin saling pandang agaknya mereka percaya dengan semua yang dikatakan Arya bukan bagian dari gurauannya.Malam di Desa Karapan hawa di sana memang dingin di tambah saat itu gerimis turun karena sedari tadi sore sudah mulai mendung, selepas makan malam bersama di ruangan tengah rumah kepala Desa Karapan itu, Arya duduk di pendopo dengan Mahfud dan Samin sementara beberapa pria yang biasa ikut bergabung di sana memilih pergi ke tempat para warga desa yang mendapat tugas ronda.Samin dan Mahfud membuat perapian di samping pendopo itu agar dapat meredam hawa dingin yang hadir, Arya hanya memperhatikan saja kedua kepala desa itu sembari tersenyum.Tak berselang lama istri Samin dan Mahfud datang ke pendopo membawa 3 cangkir kopi dan 2 piring singkong rebus, setelah menaruhnya di pendopo di hadapan Arya mer

    Last Updated : 2024-12-05
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 83. Mencari Keberadaan Arya

    Serta merta Ratu Lentik rebahkan tubuhnya menelungkup di tanah menghindari tadah butut yang melesat cepat berputar-putar seperti gasing itu hendak menghantam dirinya, sementara Lenggo Lumut salto kebelakang beberapa tombak menghindari serangan balik Dewa Pengemis itu.“Hiyaaaaaaaat..! Deeeeeeees..! Ziiiiiiiiiing...! Taaaaaaaaap..!” sebuah tendangan keras dilesatkan Lenggo Lumut menghajar tadah butut yang masing berputar-putar di udara itu, hingga berbalik kembali ke arah pemiliknya dan dengan santai pula Dewa Pengemis menangkap tadah butut itu.“Ha.. ha.. ha..! Baru dengan tadah butut ini saja kalian sudah kalang-kabut..!” Dewa Pengemis tertawa melihat Lenggo Lumut dan Ratu Lentik pontang-panting menghindar salah satu senjata miliknya itu.“Jangan banyak bacot kau pria dekil..! Terima ini...! Hiyaaaaaat..! Wuuuuuuuuus..! Wuuuuuuuuuus..! Huuuup..! Duaaaaaaaaar..! Duaaaaaaar..!” dua bilah pisau kecil berasal dari Ratu Lentik melesat cepat ke arah Dewa Pengemis, pria berpakaian compang-c

    Last Updated : 2024-12-06
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 84. Arya Dan Mantili Dihadang

    “Kami juga awalnya tidak percaya saat Pangeran Durjana memberitahu itu kepada kami di padepokan, akan tetapi setelah ia bercerita jika 5 orang yang dia utus ke Pulau Dewata itu untuk melakukan tugas telah tewas dan 2 di antaranya adalah Gento dan Lakas Geni oleh Arya kami langsung percaya,” tutur Lenggo Lumut.“Ini memang berita buruk bagi kita tokoh golongan hitam yang telah berhasil menguasai sebagian besar kawasan Pulau Jawa.”“Benar sobatku Welung Pati, sejauh ini gangguan dari para pendekar golongan putih selalu berhasil kita atasi. Yang kita kuatirkan bagaimana cara meredam Pendekar Rajawali Dari Andalas itu jika dia kembali ke Pulau Jawa ini,” Lenggo Lumut tak kalah gentarnya seperti yang dirasakan Welung Pati saat ini.“Apa para sobat kita yang lainnya telah kalian kabarkan mengenai berita ini?”“Bagian selatan Pulau Jawa baru Padepokan Gagak Selatan ini yang kami datangi, sementara di bagian utara sekarang tengah di datangi Pangeran Durjana,” jawab Lenggo Lumut.“Nanti aku ak

    Last Updated : 2024-12-06
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 85. Diterima Kepala Desa Kidung

    Arya kemudian melayangkan pandangannya ke sekeliling kawasan dari tempat ia dan Mantili berdiri dihadang beberapa pemuda Desa Kidung itu, hari sudah mulai gelap dan tak mungkin rasanya melanjutkan perjalanan.Sebenarnya bagi Arya bukan karena hari telah gelap dan di larang masuk ke pemukiman desa oleh beberapa pemuda itu yang menjadi pikirannya, melainkan Arya merasa aneh saja karena tak biasanya para warga sebuah desa termasuk pemuda di sana bersikap seperti itu.“Kenapa para pemuda ini melarang kami masuk ke pemukiman desa mereka? Ada rahasia apa yang mereka sembunyikan di dalam desa itu hingga orang dari luar desa ini tak di izinkan masuk?” pikir Arya rasa penasarannya pun semakin besar.Arya kembali berfikir bagaimana caranya melunakan hati para pemuda di depan mereka itu, agar berkenan mempersilahkan mereka masuk ke pemukiman warga serta di izinkan menginap di sana.“Sebenarnya jika aku sendiri saja tidak akan jadi masalah bagiku jika kalian memang tidak mengizinkan masuk ke pemu

    Last Updated : 2024-12-08
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 86. Tak Mudah Dipengaruhi

    Pagi itu cuaca agak mendung, di beberapa kawasan terlihat awan hitam menyelimuti langit. Karena tak setetespun gerimis turun, Arya dan Mantili memutuskan untuk berpamitan pada Suryo dan keluarganya meninggalkan Desa Kidung.“Terima kasih Paman Suryo dan keluarga telah mengizinkan kami bermalam di sini, sekarang kami mohon diri untuk melanjutkan perjalanan kami,” ucap Arya.“Apa tidak sebaiknya nanti saja Arya, hari tampaknya mendung dan dikuatirkan akan turun hujan sebentar lagi.”“Tidak apa-apa Paman, mumpung hujan belum turun sebaiknya kami berangkat sekarang biar nanti dapat mencari tempat berteduh jika memang di perjalanan hujan turun.”“Baiklah jika memang begitu keinginan kalian kami pun tak dapat mencegah lagi, hati-hati di jalan.”“Baik Paman, Assalamu alaikum,” ucap Arya.“Waalaikum salam,” balas Suryo, Arya dan Mantili berjalan ke arah timur sesuai dengan yang mereka katakan pada kepala Desa Kidung itu.Setelah cukup jauh meninggalkan Desa Kidung itu, Arya mengajak Mantili u

    Last Updated : 2024-12-08
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 87. Ke Sebelah Utara

    Sementara beberapa warga yang tadi dibawa dari desa-desa yang setuju bergabung dengan padepokan itu, sama sekali tidak mengetahui jika para anggota Padepokan Gagak Hitam yang membawa mereka ke padepokan itu akan menyerang desa mereka saat itu juga.Kedatangan Arya dan Mantili kembali ke Desa Karapan tentu memunculkan rasa penasaran pada Mahfud dan Samin, kedua kepala desa itu membawa Arya dan Mantili ke dalam rumah tepatnya di ruangan depan karena sebelumnya sang pendekar memberitahu jika ada hal yang sangat rahasia sifatnya yang akan disampaikan.“Hal apa yang hendak Mas Arya sampaikan hingga harus dirahasiakan?” tanya Samin.“Begini, di antara Mas berdua siapa yang kenal dengan Suryo kepala Desa Kidung?” Arya balik bertanya.“Paman Suryo? Aku kenal dengan beliau, dan sering berkunjung ke Desa Kidung itu,” jawab Samin.“Aku juga Mas Arya,” tambah Mahfud.“Memangnya ada apa dengan Paman Suryo itu?” sambung Samin penasaran.“Setelah kami berdua menyelidiki, ternyata gerombolan orang ya

    Last Updated : 2024-12-10
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 88. Penyerangan Desa Tengger

    “Treeeeeeek... Teeekteeeeek! Tolooooooooooong...!” beberapa atap rumah mulai terbakar akibat lesatan obor-obor yang dilempar anggota Padepokan Gagak Hitam beriringan dengar pekikan para wanita warga desa itu.Bayangan putih dan ungu tiba-tiba bersamaan berkelebat cepat di udara, membuat para anggota Padepokan Gagak Hitam terkejut.“Blaaaaar..! Bruuuuuuuuuuuk..!” sebuah kilatan putih yang berasal dari telapak tangan salah satu sosok bayangan yang masih berkelebat di udara itu, menghantam para anggota Padepokan Gagak Hitam hingga belasan orang di barisan depan terpental dari tertelentang di tanah.Ternyata sosok bayangan yang melesatkan pukulan sewaktu masih berkelebat di udara itu adalah Arya, sementara Mantili saat ini tengah menghadang para anggota Padepokan Gagak Hitam yang lainnya.“Hiyaaaaaat..! Deeeeeees..! Deeeeeeees..! Bruuuuuuuk..!” tendangan memutar cepat dihantamkan wanita cantik berpakaian ungu itu pada beberapa anggota Padepokan Gagak Hitam yang hendak melakukan serangan b

    Last Updated : 2024-12-12

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 182. Menuju Kerajaan Mandalu

    Sembari menunggu matahari agak condong ke barat, tengah hari itu mereka manfaatkan untuk beristirahat dan makan siang bersama. Dari arah barat tampak pula 3 orang yang tengah berjalan santai meniti pematang sawah menuju dangau tempat beberapa petani sedang makan siang bersama itu, mereka terdiri dari satu orang wanita dan dua orang pria.Para petani di dangau sempat arahkan pandangan ke arah ketiga orang yang tengah meniti pematang itu, mereka saling pandang seperti bertanya apakah ada di antara mereka yang mengenal tiga orang yang berjalan di pematang sawah menuju ke arah dangau mereka itu.Keseluruh para petani itu menampakan raut wajah yang bingung pertanda tak ada satupun di antara mereka yang mengenali tiga orang yang saat itu telah dekat dengan dangau tempat mereka duduk makan siang bersama, dua orang di antara petani itu hentikan makan lalu berdiri dari duduknya berjalan menghampiri ketiga orang yang telah tiba di depan dangau itu.“Maaf, jika kehadiran kami telah mengganggu is

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 181. Raja Setan Segajad

    Bayangan hitam yang sangat besar tiba-tiba saja muncul tepat di depan Setan Tanduk Neraka duduk bersila melakukan semedi, saking besarnya puncak kepalanya menyentuh langit-langit goa padahal dia juga memposisikan tubuhnya duduk di atas batu besar di depan Guru Pangeran Durjana itu.Makin lama bayangan itu semakin jelas wujudnya yang tak kalah menyeramkan dengan wujud Setan Tanduk Neraka, kehadirannya di sana membuat dinding-dinding goa bergetar hebat seakan mau runtuh.“Ha.. ha.. ha..! Ada gerangan apa kau memanggilku ke sini, Setan Tanduk Neraka..?!” kembali dinding-dinding goa itu bergetar hebat, Setan Tanduk Neraka membuka matanya.“Terimalah sembahku yang mulia Raja Setan Sejagad,” ucap Setan Tanduk Neraka memberi sembah, sosok raksasa di depannya itu hanya anggukan kepala.“Maafkan saya yang mulia jika saya lancang memanggil yang mulia Raja datang ke sini, adapun tujuannya hendak meminta bantuan menyempurnakan ilmu tanduk neraka yang mulia sematkan di kepala saya. Yang mulia berk

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 180. Pangeran Durjana Cemas

    Para anggota atau anak buah Pangeran Durjana yang mendiami padepokan itu telah mencapai 2.000 orang, itu semua karena Padepokan Neraka memang memiliki daya tarik kuat untuk bergabung menjadi anggota sebab merasa terjamin kehidupan mereka di sana dengan berlimpah ruahnya upeti yang mereka terima dari berbagai Kerajaan dan padepokan yang telah mereka taklukan.Namun begitu Pangeran Durjana yang serakah itu masih belum puas dengan menguasai kawasan timur Pulau Jawa itu saja, ia ingin dapat menguasai seluruh Pulau Jawa dari timur hingga kawasan barat seperti yang dikehendaki Gurunya Si Setan Tanduk Neraka itu.Kedatangan Pangeran Durjana di halaman padepokan di sambut oleh Dipo Geni sebagai tangan kanannya atau di Kerajaan sebagai Panglima, melihat raut wajah junjungannya tidak terlihat gembira Dipo Geni tak berani bertanya selain mengiringi junjungannya itu hingga ke dalam ruangan kebesaran Padepokan Neraka itu.“Dipo Geni, selama saya pergi meninggalkan padepokan ini apakah ada Kerajaan

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 179. Roh Sura Brambang

    Tanpa menunggu waktu lama lagi Pangeran Durjana segera meninggalkan goa itu, ia menuju ke arah timur itu artinya di akan kembali ke padepokannya di Lembah Neraka di kawasan Gunung Merapi.Setan Tanduk Neraka sebenarnya sosok mahkluk astral sejenis jin yang sebelum dimasuki roh Sura Brambang sosok bertubuh empat kali lipat manusia biasa itu tidak pernah bisa dilihat dan dia pun tak bisa juga menunjukan dirinya setiap saat kepada manusia.Roh Sura Brambang yang selalu gentayangan berupa arwah penasaran itu, takan pernah merasa senang jika Tanah Jawa belum mengalami kehancuran karena memang semasa hidupnya dulu merupakan dedengkot tokoh golongan hitam. Melalui raga halus mahkluk astral yang mengerikan itulah, ia dapat berkomunikasi dan bisa dilihat oleh Pangeran Durjana sebagai murid sekaligus jalan mewujudkan keinginan jahatnya itu yang ingin melihat kehancuran di muka bumi terutama Pulau Jawa.Sosok Setan Tanduk Neraka bukan saja berwujud mengerikan tapi juga memiliki ilmu yang luar bia

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 178. Setan Tanduk Neraka

    Dari sisi kiri depan mulut goa tampak berkelebat sebuah bayangan merah, sosok itu seperti berlari-lari meniti dinding goa lalu salto di udara beberapa kali sebelum akhirnya ia duduk bersila pula di atas batu besar berhadap-hadapan dengan mahkluk aneh dan menyeramkan itu.“Ha.. ha.. ha..! Sudah lama kau tak datang mengunjungiku di sini bocah bejad..!” terdengar suara dan tawa dari makhluk mengerikan itu menggelegar memekakan telinga.“Maafkan saya Guru, saya baru sempat datang saat ini karena sebelumnya sibuk dengan rencana yang pernah saya sampaikan membuat sebuah padepokan dan sekarang semua itu telah terwujud. Bukan hanya itu saja Guru, saya juga telah berhasil menguasai kawasan timur Pulau Jawa ini,” tutur sosok yang baru masuk ke dalam goa itu, seorang pria berbadan kekar mengenakan pakaian serba merah.“Ha.. ha.. ha..! Ternyata selama ini kau hanya dapat menguasai kawasan timur saja, murid bodoh kenapa tidak seluruh Pulau Jawa ini?!” seru mahkluk aneh yang di panggil dengan sebut

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 177. Di Sebuah Goa Besar

    “Dia merasa sangat tertekan dan merasa terhina sekali di bawah kendali Pangeran Durjana, sebagai seorang raja dia tak memiliki harga diri lagi. Dia mengajak kerja sama untuk melawan Pangeran Durjana itu, sebagai imbalannya Satrio Mandalu bersedia menyerahkan beberapa daerah kekuasaannya pada kami di perbatasan utara sana. Saya sebenarnya sangat kasihan dan sama sekali tak menginginkan daerah itu kalaupun kami bersedia membantunya, hanya saja sampai saat ini saya belum memberi keputusan karena saya masih disibukan untuk mengurus Kesultanan dan daerah-daerah kekuasan di Demak ini,” jelas Sultan Demak.“Mungkin ada baiknya kami nanti akan ke Kerajaan Mandalu itu bertemu dengannya, tentu dia tahu persis kediaman Pangeran Durjana dan para anak buahnya itu.”“Benar Dezo, saya juga hendak mengusulkan itu padamu. Pangeran Durjana memang telah keterlaluan beberapa tahun ini terkesan memperbudak Kerajaan-kerajaan dan padepokan di kawasan timur itu,” ujar raja Kesultanan Demak itu.“Saya juga pe

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 176. Pernah Dikalahkan Arya

    “Jangan panggil saya dengan sebutan seperti itu Mas Tapa, panggil saja saya Arya,” ujar murid Nyi Konde Perak itu yang merasa risih dipanggil Tuan Pendekar.“Baik Arya apakah benar pria pengacau itu tidak akan datang kembali ke desa kami ini?” tanya Tapa Diwo.“Saya kenal dengan pria itu, dia adalah Pangeran Durjana musuh bebuyutan saya dan kami pernah bertarung dulunya sebelum saya dikabarkan tewas,” jelas Arya memastikan.“Oh, kalau begitu kami ucapkan terima kasih dan kami sudah tak merasa kuatir lagi akan kemunculannya di kawasan desa kami ini,” ucap Tapa Diwo.“Sama-sama Mas Tapa, sekarang kami mohon diri untuk kembali ke istana Kesultanan Demak, jika ada hal-hal yang mencurigakan atau apa saja itu yang menguatirkan warga di sini segera laporkan pada pihak istana,” tutur Arya sembari berpamitan.“Baik Arya,” Tapa Diwo dan para warga Desa Damai yang berada di sana lambaikan tangan saat Arya dan rombongan kembali ke istana Kesultanan Demak.Memang tidak ada luka dalam yang di derit

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 175. Penyamaran Terbongkar

    “Jahanam..! Saya yang akan bertarung denganmu..!”Panglima Kerajaan Demak maju menerjang, pria bertopeng hanya mengelak beberapa langkah ke samping lalu dengan santai ia memasukan pedang di tangannya ke dalam sarung yang ia sandang dipunggungnya.“Hemmm, ternyata kau punya nyali juga Panglima. Baik saya akan melayanimu dengan tangan kosong pula,” ujar pria bertopeng.Terjadilah pertarungan yang cukup seru dan menegangkan, jual beli pukulan tangan kosong pun terlihat.“Buuuuuuuuk..!”Sebuah tendangan keras tak terduga bersarang di dada Panglima hingga membuatnya terguling-guling beberapa kali di tanah, pria bertopeng sepertinya hendak menghabisi Panglima Kerajaan Demak itu terlihat dirinya melesat ke udara lalu menghujamkan kepalan tinjunya ke arah perut Panglima.Angin pukulan bertenaga dalam tinggi menderu hebat mengarah tubuh Panglima yang tergeletak mendekap dadanya yang nyeri, beberapa jangkauan lagi kepalan tangan itu akan menghantam dan bisa saja membuat perut Panglima itu meled

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 174. Menjebak Pria Bertopeng

    “Mari kita masuk dan berbincang-bincang di dalam,” sambung Sultan Demak, mereka bertiga mengangguk dan tersenyum ramah.Arya, Dewa Pengemis dan Bidadari Selendang Biru memang diperlakukan sangat berbeda oleh Sultan Demak. Itu terlihat saat mereka diajak masuk ke ruangan kebesaran istana itu, dalam waktu yang tak lama bermacam-macam jenis jamuan disediakan oleh Arya yang sangat mengejutkan karena dikabarkan menghilang bahkan tewas beberapa tahun yang lalu di lembah Gunung Kerinci,” tutur Sultan Demak memulai percakapan mereka di ruangan itu.“Maafkan saya Kanjeng Sultan, semua yang terjadi memang di luar dugaan. Namun semua itu nyata terjadi terhadap diri saya, puji syukur pada Gusti Allah karena kehendak-Nya pulalah saya dapat kembali ke Negeri Nusantara ini dan bertemu dengan Kanjeng Sultan,” ujar Arya.“Ya, Alhamdulillah. Saya pun sangat senang dapat bertemu kembali denganmu Arya, dan memang saya tak pernah yakin jika kamu itu telah tewas meskipun tak ada kabarnya bertahun-tahun,” u

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status