Home / Romansa / Kekasihku Seorang Don Juan / Bab 5. SISI GELAP SEORANG ALFA

Share

Bab 5. SISI GELAP SEORANG ALFA

Author: Ningty
last update Last Updated: 2021-05-09 22:15:42

     “Ada apa ini!” bentak Alfa dengan suara menggelegar. Para pelayan segera berbaris rapi saat melihat majikannya sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam dan netra yang berkilat-kilat. Mereka semua hanya menundukkan kepala. Tak terkecuali Gladys yang tak kalah terkejut. Netra Alfa menatap tajam ke arah Gladys yang sedang dipegangi oleh Devan.

     “Devan!” seru Alfa. Devan segera melepaskan pegangannya pada Gladys. Begitu Devan melepaskannya, Gladys langsung mengambil kesempatan itu untuk kabur. Namun sayang, Alfa dengan sigap menangkap gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya.

     “Kau mau kemana, Sayang?! Sebentar lagi Tante Sherly datang lho!” ucap Alfa dengan nada dingin.

     “Alf ...  tolong lepasin aku. Aku harus ke rumah sakit,” mohon Gladys dengan suara memelas.

     “Tidak sekarang, Sayang. Kita harus fitting baju pengantin dan mempersiapkan pernikahan kita,” bisik Alfa. Membuat tubuh gadis itu meremang.

     “Bi Sani, antar Gladys ke kamar!” titah Alfa.

     “Mari Nona,” Bi Sani merangkul Gladys dan mengajaknya ke kamar. Lagi-lagi Gladys mencoba kabur hingga membuat Alfa benar-benar murka karena ulah gadis itu.

     “Sudah cukup GLADYS NATHANIA MAHESTRI!” seru Alfa dengan gigi bergemeletuk. Rahang pria itu mengetat. Tatapannya tajam dan dingin. Bi Sani yang menyadari kemurkaan majikannya tak bisa berbuat apa-apa selain merasa iba pada gadis itu.

     “Devan!” seru Alfa. Devan mengerti apa arti seruan majikannya. Dia segera menyerahkan benda yang diinginkan oleh Alfa.

     “Kamu yang memaksaku berbuat ini. Begitu susahkah untuk menuruti perintahku! Apa yang ada dalam pikiranmu sebenarnya, hah! Aku ingin bertanggung jawab atas apa yang kulakukan padamu. Tapi kamu ... kamu berkeras ingin pergi dariku. Sekarang ... rasakan akibatnya,” bisik Alfa dengan suara dingin setelah dia berhasil memeluk gadis itu dari belakang.

     “Argh!” jerit Gladys merasakan seperti ada sesuatu yang menyengat lehernya. Tak lama kemudian, tubuh Gladys pun terkulai dalam pelukan Alfa.

     “Devan! Batalkan janji dengan Tante Sherly hari ini. Katakan jika Gladys tidak enak badan. Katakan juga, aku yang akan datang ke butiknya saat Gladys sudah membaik!” ucap Alfa dingin dan datar.

     “Baik Tuan,” jawab Devan patuh dan segera menjalankan perintah dari majikannya.

     Sementara itu, Alfa segera menggendong tubuh Gladys yang sudah tak sadarkan diri karena obat yang disuntikkan oleh Alfa. Pria muda itu membaringkan tubuh kekasihnya di atas ranjang.

     “Aku sangat menyayangimu. Tapi kenapa ... kenapa kamu sangat berkeras ingin lari dariku. Aku sampai melanggar janjiku untuk menjagamu hingga kita menikah nanti. Semua itu aku lakukan karena aku tak ingin kehilanganmu,” Alfa bermonolog sambil terus memandangi wajah kekasihnya.

     “Maafkan aku, Sayang. Aku terpaksa melakukan ini padamu,” ucap Alfa. Dia mencium kening Gladys dan bergegas keluar dari kamar itu. Tak lupa dia mengunci kamar itu dari luar.

     “Bi ... tolong jaga Gladys. Aku akan kembali ke perusahaan. Ingat ya Bi! Hanya Bibi yang boleh masuk ke kamar itu dan mengurus Gladys. Aku juga nggak ingin kejadian siang ini terulang lagi!” ujar Alfa.

     “Baik Tuan!” jawab Bi Sani sambil menerima kunci dari Alfa.

     ***

     Alfa melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Gladys praktek sebagai calon dokter. Dia mencari dokter yang selama ini menjadi pembimbing dari Gladys.

     “Selamat siang dokter!” sapa Alfa seramah mungkin.

     “Anda ... kekasih Gladys bukan?” tanya dokter itu sambil mengernyitkan dahi.

     “Anda benar dokter,” sahut Alfa sambil mengulas senyum.

     “Apa Anda tahu kemana dia? Sudah dua hari ini dia tidak datang ke rumah sakit. Padahal nilainya sudah keluar dan dia bisa mengikuti wisuda periode ini,” tutur dokter itu.

     “Itu juga tujuan saya menemui dokter. Karena saat ini dia sedang sakit. Jadi saya memintanya untuk beristirahat.

     Setelah menyampaikan apa yang ingin dia sampaikan, Alfa segera berpamitan dan melajukan mobilnya menuju ke Apartement yang ditempati oleh Gladys. Karena Apartement itu juga miliknya, maka dia pun sudah hapal dengan kata sandi masuk ke Apartement itu.

     Dihempaskannya tubuhnya ke sofa yang ada di ruang tengah. Pemuda itu mengaca-acak rambutnya dengan frustasi. ‘Maafkan aku Sayang ... maafkan aku’ gumam pemuda itu.

     Drrrt! Drrrt! Drrrt!

     Tiba-tiba dia merasakan ponselnya bergetar. Ada nama Devan yang tertera di layar ponselnya.

     “Ya Halo!” jawabnya dingin. Tampak seringai mengerikan di wajahnya. Entah kabar apa yang disampaikan oleh asisten pribadinya itu, yang pasti begitu sambungan telepon itu terputus dia bergegas pergi dari Apartement yang selama ini ditempati oleh kekasihnya.

     Alfa melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Beruntung karena siang itu jalanan tampak lengang. Dia terus melajukan mobilnya bahkan ketika dia susah melewati mansionnya

. Pemuda itu membelokkan mobilnya ke halaman gedung yang sudah tampak tua. Ada banyak penjaga di gedung itu. Mereka langsung menundukkan badan begitu melihat Alfa turun dari mobil. Dengan langkah lebar pemuda itu bergegas memasuki gedung.

     Braak!

     Alfa membuka dengan keras pintu sebuah ruangan. Tampak seorang pria yang terikat pada sebuah tiang. Wajahnya babak belur dengan noda darah yang hampir mengering.

     “Jadi kau orangnya?! Yang sudah berani bermain-main dengan Alfa Shaquille Bimantara!” bentak Alfa. Alih-alih menjawab pertanyaan Alfa, tanpa rasa takut pemuda itu justeru tertawa mengejek pada Alfa, membuat Alfa semakin naik pitam dan melayangkan pukulan pada pria itu.

     “Alfa ... Alfa! Kasihan sekali kau! Bagaimana hem ... Apa Gladys sudah meninggalkanmu?! Aku dengar dia meminta putus denganmu!” cibir pemuda itu.

     “Kurang ajar! Apa sebenarnya maumu?! Kenapa kau mengganggu hubunganku dengan Gladys?!” bentak Alfa.

     “Aku mau Gladys,” ujar pemuda itu sambil berbisik namun masih jelas terdengar di telinga Alfa. Kemudian terdengar suara tawa mengejek dari pemuda itu. Alfa yang mendengar itu menjadi semakin geram. Namun, tiba-tiba Alfa menyeringai. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya kemudian terlihat sedang mengutak-atik ponselnya.

     “Jadi ... kau menginginkan Gladys?!” tanya Alfa sinis.

     “Iya! Kenapa? Kau mau menyerahkannya padaku?!” ujar pemuda itu masih dengan tawa mengejek.

     “Oke! Aku akan turuti mau kamu tapi ... coba lihat ini!” ujar pemuda itu sambil menunjukkan rekaman sebuah kamar di mana Gladys sedang terbaring karena tak sadarkan diri. Seketika tawa pemuda itu terhenti. Wajahnya berubah pias.

     “K-Kau ... Apa yang kau lakukan pada Gladys!” seru pemuda itu.

     “Ha ha ha! Apalagi yang di lakukan sepasang kekasih saat berduaan di dalam kamar. Apa perlu aku jelaskan detailnya!” sahut Alfa sinis sambil terkekeh.

     “Oh ya, satu lagi! Minggu depan kami akan menikah jadi ... jangan pernah ganggu hubungan kami atau aku akan habisi kamu!” bisik Alfa ke telinga pemuda itu.

     “Aku akan ampuni kau kali ini. Tapi ... kalo aku tahu kamu mengusik hubunganku dengan Gladys lagi, jangan harap aku akan mengampunimu lagi!” sambung Alfa lagi dengan suara tegas.

     “Devan ... Lepaskan dia! Dan ya ... lakukan seperti biasa, lalu kembalilah ke mansion!” titah Alfa kemudian berlalu dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari Devan.

     Sementara itu diwaktu bersamaan, Gladys yang sudah sadar sedang menangis tanpa henti. Sedangkan Bi Sani, berusaha untuk membujuk calon nyonya rumahnya agar tak menangis lagi.

     “Non ... sudah, jangan menangis lagi. Tuan sangat sayang kok, sama Nona,” bujuk wanita paruh baya itu. Alih-alih mendengarkan Bi Sani, Gladys justeru makin kencang tangisnya bahkan saat ini, dia sedang memukuli dadanya sendiri.

     “Bibi mohon, jangan seperti ini, Non. Tuan akan makin murka jika Nona seperti ini,” kembali wanita itu membujuk gadis di hadapannya.

     “Aku harus apa, Bi?! Aku harus bagaimana?! Aku nggak mau hidup di sangkar emas ini. Aku ingin melakukan pekerjaanku, mengabdikan hidupku untuk menolong masyarakat,” lirih Gladys.

     “Bibi tahu, Non. Bibi juga mengerti. Percaya sama Bibi, jika Non Gladys menuruti perintah Tuan dan tidak berusaha kabur darinya, Tuan akan penuhi keinginan Nona. Tuan hanya tidak ingin kehilangan, Nona,” terang Bi Sani.

     Tiba-tiba Gladys tertawa meski terdengar sumbang. “Jika dia tak ingin kehilangan aku, kenapa dia masih bersama perempuan-perempuan itu!” sarkas gadis itu. Bi Sani menghela napas panjang. Wanita paruh baya itu sadar benar jika apa yang diucapkan oleh gadis itu memang benar adanya.

     “Mungkin Nona memang benar tapi ada hal yang Nona tidak tahu. Hanya Nona gadis yang Tuan inginkan untuk mendampinginya.

     “Bagaimana Bibi bisa seyakin itu,” lirih Gladys sambil tersenyum kecut.

     “Bibi sudah mengenal Tuan sejak Tuan dan Nyonya Besar masih ada. Dia anak yang baik. Semuanya berubah sejak Tuan dan Nyonya Besar meninggal. Dan sejak ...” Bi Sani menggantung kalimatnya.

     “ ... Sejak apa, Bi?!” tanya Gladys penasaran.

     “Ah maaf ... sebaiknya Nona sekarang makan, sebentar lagi Tuan pulang. Jangan sampai Tuan murka lagi, Nona,” ujar Bi Sani mengalihkan pembicaraan.

     “Bi, tolong ceritakan apa sebenarnya yang membuat Alfa berubah?” rengek Gladys.

     “Maaf Nona, Bibi hanya salah bicara. Apapun yang ingin Nona ketahui tentang Tuan Alfa, bisa Nona tanyakan sendiri kepada Tuan. Sekarang ... Nona makan dulu ya?!” bujuk Bi Sani.

     Gladys yang tak tega melihat wanita parush baya itu, akhirnya mengambil nampan makanan yang di bawa wanita paruh baya itu. Sambil sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya, otaknya berpikir keras mencari cara agar dia bisa terlepas dari cengkeraman Alfa. Bukan untuk meninggalkan kekasihnya. Dia hanya ingin mengikuti wisuda dan menjalankan tugasnya sebagai dokter. Gadis itu sadar benar setelah apa yang terjadi, dia tak mungkin lagi bisa lari dari pemuda itu. Tak hanya itu, dia juga berpikir akan mencari tahu apa sebenarnya yang pernah dialami oleh kekasihnya itu. Ya, dia harus memikirkan caranya. Gadis itu teringat ucapan Bi Sani. ‘Mungkin aku harus menuruti saran Bi Sani’ batin gadis itu.

    

    

    

Bersambung

Related chapters

  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 6. TAKTIK GLADYS

    Tak seperti sebelum-sebelumnya, hari ini Gladys tampak begitu segar. Dia baru saja selesai mandi. Dia memilih mengenakan gaun dengan warna kesukaan Alfa. Gadis itu telah memutuskan untuk mengikuti nasehat Bi Sani. Dia akan berusaha untuk kembali melunakkan hati kekasihnya. Tentu agar dia bisa bebas dari sangkar emas kekasihnya. Selain itu, dia ingin agar Alfa kembali mengijinkannya untuk mengabdikan ilmunya untuk menolong banyak orang. Sudah dua hari Alfa tidak datang ke mansion. Tepatnya sejak hari dimana dia mencoba untuk kabur. Bi Sani juga tidak berani membiarkannya keluar kamar karena selama dua hari itu dia tidak bisa dihubungi. Gadis itu sedang berada di balkon kamar yang ditempatinya sambil menikmati udara pagi ketika tiba-tiba dia merasakan tangan kekar melingkari pinggang hingga perutnya. “Pagi sayang,” bisik suara yang dikenalnya. Meski sepa

    Last Updated : 2021-05-11
  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 7. THE WEDDING PARTY

    Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba. Alfa sengaja mendatangkan seorang MUA terkenal untuk merias Gladys. Dan keputusan Alfa memang benar. Gladys saat ini terlihat begitu cantik meski dengan riasan yang natural. Apalagi dengan gaun pengantin pilihannya yang kini sudah melekat di tubuhnya. Alfa merasa takjub saat melihat Gladys yang sedang memasuki ruangan untuk akad nikah dengan dibimbing oleh Bi Sani. Tak hanya Alfa, para tamu yang diundang pun tak kalah takjub. Wanita paruh baya itu mendudukan Gladys di samping Alfa yang sudah lebih dulu duduk di hadapan penghulu. “Cantik,” puji Alfa dengan berbisik ke telinga Gladys. Gladys merasakan tubuhnya meremang mendengar bisikan itu. “Sudah bisa dimulai?” tanya penghulu. “Sudah Pak!” jawab Alfa tegas. Sedangkan Gladys hanya menundukkan kepalanya.

    Last Updated : 2021-05-17
  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 8. GAGAL HONEYMOON

    Gladys dengan dibantu oleh Bi Sani tengah mempersiapkan segala keperluannya untuk berbulan madu atas perintah Alfa. Sebenarnya Gladys merasa sangat malas untuk pergi. Tapi apalah dayanya jika Alfa telah memiliki keinginan. “Sudah siap, Sayang?” tanya Alfa saat dia masuk ke dalam kamarnya. “Sudah,” jawab Gladys singkat. “Oke! Kita berangkat sekarang!” ajak Alfa setelah memerintahkan pelayan membawa barang bawaannya. “Tuan, Nyonya, selamat jalan!” ucap Bi Sani. “Makasih Bi. Kami hanya beberapa hari saja kok perginya. Minggu depan isteriku ini akan menjalani wisuda dan mendapatkan gelar dokter secara resmi,” ujar Alfa sambil membelai rambut Gladys. Gadis itu hanya mengulas senyuman tipis di bibirnya. “Kami p

    Last Updated : 2021-05-17
  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 9. MENEMUI AMALIA

    Beberapa hari kemudian, Gladys telah kembali sehat. Saat ini dia sedang menatap bayangannya di cermin dengan bangga. Ya, hari ini adalah hari wisudanya. Hari di mana dia akan mendapat gelar dokter secara resmi. Sebuah cita-cita yang telah lama diimpikannya. Namun, beberapa detik kemudian senyum itu hilang dari bibirnya saat dia menyadari sesuatu. Dia terduduk di tepi ranjang. ‘Tak ada gunanya aku wisuda. Tak ada artinya aku mendapat gelar dokter. Semua sia-sia dan sama saja. Aku akan tetap tak akan bisa lepas dari rantai yang dipasang pria itu’ gumam gadis itu. “Sayang, sudah siap?” Alfa tertegun saat melihat istrinya sedang menangis. “Hei! Kenapa?” tanya Alfa sambil menghapus air mata sang isteri. “Aku tidak akan wisuda, Alf. Semuanya percuma saja,” lirih Gladys. “Kenapa bilang

    Last Updated : 2021-05-25
  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 10. SEPENGGAL KISAH TENTANG ALFA DAN AMALIA

    Amalia menatap langit-langit kamar yang di tempatinya. Kamar itu kini sudah kembali rapi karena Alfa sudah menyuruh orang untuk merapikannya. Pikirannya menerawang ke masa beberapa tahun yang lalu. Masa di mana dia bahagia dengan Alfa. Sebelum semuanya hancur karena bujuk rayu seseorang yang kini sangat di bencinya. Seseorang yang telah tega menghancurkan hidupnya. Setelah puas menikmati tubuhnya, dia tega menjualnya ke tempat hiburan malam di luar negeri. Bahkan saat ini dia tengah mengandung entah janin laki-laki yang mana. Beruntung dia memiliki sahabat yang bersedia membantunya melarikan diri. Dan di sinilah dia sekarang. Tak beda jauh dengan Amalia, Alfa pun mengalamai hal yang sama. Pria itu menghentikan laju mobilnya. Dia merasakan jantungnya seperti diremas saat pikirannya melayang pada masa. Masa di mana dia merasakan sakit karena penghianatan Amalia. BEBERAPA TAHUN YANG LALU&nb

    Last Updated : 2021-05-29
  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab. 11 PREGNANCY ( KEHAMILAN )

    “Nyonya hamil, Tuan,” berita yang di sampaikan oleh dokter itu masih terngiang di telinga Alfa. Senyum bahagia terlukir di bibirnya. SATU JAM YANG LALU “Dokter, apa maksudnya isteri saya tidak sakit? Menurut Bi Sani, isteri saya tadi pingsan. Bagaimana mungkin dia tidak sakit?” cecar Alfa. “Itu hal yang wajar karena saat ini, Nyonya sedang hamil muda,” jawab dokter itu santai. “A-apa dok?! Ha-hamil ... maksud dokter istri saya sekarang sedang hamil?” tanya Alfa tak percaya. “Benar Tuan. Sebaiknya, Tuan segera membawa Nyonya ke dokter kandungan agar lebih jelas lagi,” saran dokter itu lagi. Tak lama kemudian terdengar tawa bahagia dari Alfa. Tak hanya Alfa, Bi Sani pun turut bahagia mendengar kabar baik itu.&nbs

    Last Updated : 2021-05-30
  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 12. AKU BUKAN SUAMIMU

    “Sayang, aku ke ruang kerja sebentar. Ada yang harus aku selesaikan,” ujar Alfa lembut sambil mengusap puncak kepala Gladys yang terbaring lemah. Gladys hanya mengangguk lemah karena kepalanya memang terasa pusing. Setelah menerima panggilan dari Amalia, Alfa memutuskan untuk pergi ke bungalownya. Disepanjang perjalanan menuju bungalownya, Alfa terus menggerutu untuk meluapkan rasa kesalnya pada mantan kekasihnya itu. Dia juga kesal karena antara hati dan apa yang terucap dari bibirnya tak pernah bisa sejalan. Dia selalu saja mengatakan jika dia tak ingin lagi berhubungan dengan gadis itu. Namun, hatinya selalu membawanya ke hadapan wanita itu. Bahkan saat di ingatannya hanya ada Gladys isteri sahnya sekalipun. ‘Ada apa sebenarnya denganku’ batin pria itu. “Tuan,” sapa Devan saat melihat tuannya yang baru saja menginjakkan kaki di teras bungalow.

    Last Updated : 2021-06-05
  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 13. APAKAH KAU MARAH PADAKU?

    Gladys memilih bungkam dan tidak mengatakan apapun ketika mereka sedang sarapan bersama. Dia tahu semalam suaminya pulang saat malam telah begitu larut. “Sayang ... kenapa kau diam saja? Apa kau marah?” tanya Alfa hati-hati. Gladys menghentikan suapan untuknya dan memilih meletakkan kembali sendok yang dipegangnya ke atas piring. Kemudian menatap ke arah suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apakah aku punya hak untuk marah?” sarkas wanita itu. Kemudian dia melanjutkan sarapannya. Alfa hanya terdiam, berusaha untuk mencerna ucapan Gladys. “Maaf Nyonya, silakan ini susunya,” ucap Bi Sani yang sudah meletakkan segelas susu hamil di depan Gladys. “Terima kasih, Bi. Oh ya, Bi ... bisa aku minta tolong, ambilkan vitaminku di kamar?” pinta Gladys.&nb

    Last Updated : 2021-06-06

Latest chapter

  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 15. SIAPA KAU SEBENARNYA?

    Braakk! Terdengar suara pntu yang didobrak dari luar dan tiba-tiba masuklah seorang pria berbadan tegap dan berpakaian serba hitam. Bruukk! Terdengar suara tubuh Randy yang membentur dinding setelah ditarik dengan kasar oleh pria berbadan tegap itu. “Nona, keluarlah dari sini. Di depan ada mobil putih yang sedang menunggu. Anda naiklah ke mobil itu!” ujar pria itu sambil meringkus Randy. Tak menunggu lama Amalia pun berlari keluar menuruti ucapan pria itu. Dia tak perduli meski tak mengenal pria itu. Saat ini dia hanya ingin sembunyi dari Randy. Benar apa yang dikatakan oleh pria itu jika saat ini di halaman bungalow ada sebuah mobil putih yang terparkir. Dia bergegas masuk ke mobil itu. Di sana sudah ada pria lain yang menunggu. Tak lama kemudian, pria yang tadi menolong Amalia terl

  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 14. AKU INGIN PULANG SAJA

    “Aku mau pulang. Aku nggak mau di sini,” ujar Gladys setelah Alfa berdiri tepat di samping tempat tidurnya. “Kenapa, Sayang? Kau masih memerlukan perawatan jadi untuk sementara kau di sini dulu ya,” bujuk Alfa. “Aku nggak mau, Alf. Aku mau pulang. Di sini ... aku merasa tidak nyaman,” rengek Gladys. Alfa menghembuskan napas kasar. “Baiklah. Kau tunggu di sini. Biar aku temui dokter dulu.” Alfa memilih mengalah karena tak ingin Gladys merasa tertekan. Kemudian pria itu meninggalkan kamar rawat isterinya untuk menemui dokter. Tiga puluh menit kemudian, Alfa kembali masuk ke kamar dengan mengulas senyuman. Dia mengecup lembut kening Gladys. “Dokter mengijinkan kamu pulang, Sayang,” bisik Alfa. “Benarkah?!&rd

  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 13. APAKAH KAU MARAH PADAKU?

    Gladys memilih bungkam dan tidak mengatakan apapun ketika mereka sedang sarapan bersama. Dia tahu semalam suaminya pulang saat malam telah begitu larut. “Sayang ... kenapa kau diam saja? Apa kau marah?” tanya Alfa hati-hati. Gladys menghentikan suapan untuknya dan memilih meletakkan kembali sendok yang dipegangnya ke atas piring. Kemudian menatap ke arah suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apakah aku punya hak untuk marah?” sarkas wanita itu. Kemudian dia melanjutkan sarapannya. Alfa hanya terdiam, berusaha untuk mencerna ucapan Gladys. “Maaf Nyonya, silakan ini susunya,” ucap Bi Sani yang sudah meletakkan segelas susu hamil di depan Gladys. “Terima kasih, Bi. Oh ya, Bi ... bisa aku minta tolong, ambilkan vitaminku di kamar?” pinta Gladys.&nb

  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 12. AKU BUKAN SUAMIMU

    “Sayang, aku ke ruang kerja sebentar. Ada yang harus aku selesaikan,” ujar Alfa lembut sambil mengusap puncak kepala Gladys yang terbaring lemah. Gladys hanya mengangguk lemah karena kepalanya memang terasa pusing. Setelah menerima panggilan dari Amalia, Alfa memutuskan untuk pergi ke bungalownya. Disepanjang perjalanan menuju bungalownya, Alfa terus menggerutu untuk meluapkan rasa kesalnya pada mantan kekasihnya itu. Dia juga kesal karena antara hati dan apa yang terucap dari bibirnya tak pernah bisa sejalan. Dia selalu saja mengatakan jika dia tak ingin lagi berhubungan dengan gadis itu. Namun, hatinya selalu membawanya ke hadapan wanita itu. Bahkan saat di ingatannya hanya ada Gladys isteri sahnya sekalipun. ‘Ada apa sebenarnya denganku’ batin pria itu. “Tuan,” sapa Devan saat melihat tuannya yang baru saja menginjakkan kaki di teras bungalow.

  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab. 11 PREGNANCY ( KEHAMILAN )

    “Nyonya hamil, Tuan,” berita yang di sampaikan oleh dokter itu masih terngiang di telinga Alfa. Senyum bahagia terlukir di bibirnya. SATU JAM YANG LALU “Dokter, apa maksudnya isteri saya tidak sakit? Menurut Bi Sani, isteri saya tadi pingsan. Bagaimana mungkin dia tidak sakit?” cecar Alfa. “Itu hal yang wajar karena saat ini, Nyonya sedang hamil muda,” jawab dokter itu santai. “A-apa dok?! Ha-hamil ... maksud dokter istri saya sekarang sedang hamil?” tanya Alfa tak percaya. “Benar Tuan. Sebaiknya, Tuan segera membawa Nyonya ke dokter kandungan agar lebih jelas lagi,” saran dokter itu lagi. Tak lama kemudian terdengar tawa bahagia dari Alfa. Tak hanya Alfa, Bi Sani pun turut bahagia mendengar kabar baik itu.&nbs

  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 10. SEPENGGAL KISAH TENTANG ALFA DAN AMALIA

    Amalia menatap langit-langit kamar yang di tempatinya. Kamar itu kini sudah kembali rapi karena Alfa sudah menyuruh orang untuk merapikannya. Pikirannya menerawang ke masa beberapa tahun yang lalu. Masa di mana dia bahagia dengan Alfa. Sebelum semuanya hancur karena bujuk rayu seseorang yang kini sangat di bencinya. Seseorang yang telah tega menghancurkan hidupnya. Setelah puas menikmati tubuhnya, dia tega menjualnya ke tempat hiburan malam di luar negeri. Bahkan saat ini dia tengah mengandung entah janin laki-laki yang mana. Beruntung dia memiliki sahabat yang bersedia membantunya melarikan diri. Dan di sinilah dia sekarang. Tak beda jauh dengan Amalia, Alfa pun mengalamai hal yang sama. Pria itu menghentikan laju mobilnya. Dia merasakan jantungnya seperti diremas saat pikirannya melayang pada masa. Masa di mana dia merasakan sakit karena penghianatan Amalia. BEBERAPA TAHUN YANG LALU&nb

  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 9. MENEMUI AMALIA

    Beberapa hari kemudian, Gladys telah kembali sehat. Saat ini dia sedang menatap bayangannya di cermin dengan bangga. Ya, hari ini adalah hari wisudanya. Hari di mana dia akan mendapat gelar dokter secara resmi. Sebuah cita-cita yang telah lama diimpikannya. Namun, beberapa detik kemudian senyum itu hilang dari bibirnya saat dia menyadari sesuatu. Dia terduduk di tepi ranjang. ‘Tak ada gunanya aku wisuda. Tak ada artinya aku mendapat gelar dokter. Semua sia-sia dan sama saja. Aku akan tetap tak akan bisa lepas dari rantai yang dipasang pria itu’ gumam gadis itu. “Sayang, sudah siap?” Alfa tertegun saat melihat istrinya sedang menangis. “Hei! Kenapa?” tanya Alfa sambil menghapus air mata sang isteri. “Aku tidak akan wisuda, Alf. Semuanya percuma saja,” lirih Gladys. “Kenapa bilang

  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 8. GAGAL HONEYMOON

    Gladys dengan dibantu oleh Bi Sani tengah mempersiapkan segala keperluannya untuk berbulan madu atas perintah Alfa. Sebenarnya Gladys merasa sangat malas untuk pergi. Tapi apalah dayanya jika Alfa telah memiliki keinginan. “Sudah siap, Sayang?” tanya Alfa saat dia masuk ke dalam kamarnya. “Sudah,” jawab Gladys singkat. “Oke! Kita berangkat sekarang!” ajak Alfa setelah memerintahkan pelayan membawa barang bawaannya. “Tuan, Nyonya, selamat jalan!” ucap Bi Sani. “Makasih Bi. Kami hanya beberapa hari saja kok perginya. Minggu depan isteriku ini akan menjalani wisuda dan mendapatkan gelar dokter secara resmi,” ujar Alfa sambil membelai rambut Gladys. Gadis itu hanya mengulas senyuman tipis di bibirnya. “Kami p

  • Kekasihku Seorang Don Juan   Bab 7. THE WEDDING PARTY

    Hari yang ditunggu pun akhirnya tiba. Alfa sengaja mendatangkan seorang MUA terkenal untuk merias Gladys. Dan keputusan Alfa memang benar. Gladys saat ini terlihat begitu cantik meski dengan riasan yang natural. Apalagi dengan gaun pengantin pilihannya yang kini sudah melekat di tubuhnya. Alfa merasa takjub saat melihat Gladys yang sedang memasuki ruangan untuk akad nikah dengan dibimbing oleh Bi Sani. Tak hanya Alfa, para tamu yang diundang pun tak kalah takjub. Wanita paruh baya itu mendudukan Gladys di samping Alfa yang sudah lebih dulu duduk di hadapan penghulu. “Cantik,” puji Alfa dengan berbisik ke telinga Gladys. Gladys merasakan tubuhnya meremang mendengar bisikan itu. “Sudah bisa dimulai?” tanya penghulu. “Sudah Pak!” jawab Alfa tegas. Sedangkan Gladys hanya menundukkan kepalanya.

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status