“Kalian sudah menemukan siapa dalang di balik mereka?” tanya Jay ke Baskara dan Erlangga.Pagi ini dia sudah bersantai bermandi matahari di taman samping sembari menikmati hamparan hijau nan mahal di sekitarnya.“Sudah, Bos.” Baskara sebagai kepala divisi intelijen mengangguk. “Mereka bawahan Viktor Raditya.”Jay tersenyum sinis ketika mendengarnya.“Sesuai dugaanku,” ucap Jay sambil mendongakkan kepala dan memejamkan mata, menerima sinar hangat mentari menerpa wajahnya.Dia sedang mandi cahaya matahari sembari melakukan ‘senam kebugaran’. Hanya memakai celana pendek ketat, membiarkan otot-ototnya terlihat sambil dia menggerakkan tangan dan kaki ke kanan juga kiri secara perlahan.“Lalu … apa kalian menemukan alasan Viktor menyerangku?” tanya Jay tanpa menghentikan gerakan slow motion-nya. “Ah, biar aku tebak, itu karena Viktor marah komposisi rompi NanoCorium yang dikasi Kalista masih belum sempurna, makanya melampiaskan kekesalannya ke aku karena nggak menemukan Kalista.”Baskara da
“Hm? Menyatukannya bersama Carbophene?” Kening Jay berkerut ketika mendengar solusi yang diberikan Haydan.Haydan dan dua lainnya mengangguk.“Kami sudah menelitinya bersama tim Arimbi, dan setuju bahwa komposisi Carbophene sangat tepat untuk dilekatkan ke rompi NanoCorium.” Ghea ikut bicara.Hal tersebut sungguh di luar perkiraan Jay. NanoCorium bersatu dengan Carbophene!“Bagaimana menurutmu, Eldric?” tanya Jay ke Direktur Teknologinya.Sebagai orang yang bertanggung jawab atas pengembangan dan penerapan teknologi perusahaan, Eldric tentu menuangkan opininya.“Saya sudah melihat komposisi kedua bahan itu dan ternyata memang cocok, sangat sesuai untuk diintegrasikan menjadi sebuah produk yang kuat dan jauh lebih baik dari sebelumnya.” Eldric memaparkan pendapat profesionalnya.Karena sudah seperti itu, Jay semakin puas dan mempercayakannya pada mereka.“Lakukan yang terbaik dan berikan hasilnya dalam minggu ini. Aku percaya kalian bisa.” Setelah mengucapkan itu, Jay meminta mereka ke
“Di mana titik bertemunya?” tanya Jay pada Erlangga ketika mereka memasuki mobil.Saat ini mereka akan menemui kelompok mafia benua Timur.“Mereka meminta di kapal mereka, tapi saya dan Baskara teguh menginginkan tempat netral. Maka, pelabuhan menjadi pilihannya, Bos.” Erlangga menjawab.Di sebelah Erlangga, ada Atin yang ikut menyertai pertemuan Jay seperti biasa.Mereka datang sebagai PhantomClaw. Dan Jay tentu saja menjadi Jek Jon, lengkap dengan penyamarannya sebagai pria usia paruh baya.“Baiklah.” Jay memejamkan mata sambil merebahkan kepala di sandaran.Di tangannya ada gelas anggur yang dia goyang-goyangkan. Terlihat santai, padahal otaknya terus bekerja keras untuk berpikir akan banyak hal.Jay tiba di sebuah bangunan rumah besar di dekat pelabuhan. Dengan penuh percaya diri, dia memasuki bangunan itu.“Hmh!” Satu anggota dari mafia Timur itu menangkupkan dua tangan pada Jay, memberikan salam soja. Sebuah penyambutan yang cukup sopan.Jay, Erlangga, dan Atin melangkah memasuk
Jay terkekeh ringan sebelum berkata, “Sayangnya, aku bukan orang yang murah hati. Aku egois dan suka memonopoli.”Tatapannya mengerling tajam namun salah satu sudut bibirnya melengkung sedikit ke atas, menunjukkan senyum diagonalnya.“Wah, sepertinya kita berjodoh, karena aku juga egois dan suka memonopoli,” tukas Rabbit dengan wajah antusias.Jelas terlihat bahwa Rabbit tidak ingin menyerah.“Sayang sekali aku nggak tertarik menjadi jodohmu. Kalau rompi itu yang kamu mau, maka aku hanya bisa menyarankan kamu kembali ke kapalmu dan katakan ke kakakmu, bahwa aku orang yang sulit jika itu mengenai produk terbaikku,” tegas Jay.Rasanya sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan jika itu mengenai rompi NanoCorium-Carbophene dia. Baginya, itu adalah salah satu dari masterpiece miliknya.Kalau satu saja rompi itu jatuh ke tangan Rabbit, pasti kelompok mereka akan segera mengurai semua komponennya dan membuat tiruannya yang nyaris sama. Bahkan melebihi rompi milik Viktor.Rabbit juga menyerin
Jay mengerutkan kening dengan pandangan semakin menajam ke Rabbit. “Baguslah! Dengan begitu, aku nggak dikatakan menindas wanita.”Dia juga mulai mengerahkan energi kanuragannya sembari berdiri tak jauh dari Rabbit.“Bukankah tadi kamu ngomong kalau gender sudah hilang kalau di medan pertarungan, Jek? Jadi sekarang kamu memandang aku sebagai wanita?” Lalu Rabbit terkekeh.Hingga telapak tangan Rabbit didorong maju ke Jay dan energi angin yang tajam terarah ke Jay.“Hmph!” Jay bergegas menahan dengan perisai kanuragannya sehingga bisa meminimalkan kerusakan yang diakibatkan energi angin tadi.Namun, Rabbit belum berhenti menggempur Jay menggunakan ilmu tenaga dalamnya.“Coba ini, Jek!” Rabbit berseru.Kali ini dia mendorongkan kedua tangannya ke depan, dan Jay bisa melihat dengan mata kanuragannya bahwa ada puluhan bilah tajam dari angin energi yang ditembakkan Rabbit.“Sial!” geram Jay sambil menggerakkan tangannya membentuk lingkaran untuk menghalau.Sementara itu, di luar ruangan, s
“Jarum … penghilang energi tenaga dalam ….” Suara Jay berubah lemah ketika tubuhnya juga ikut melemah.Tidak, ini bukan sekedar penghilang energi tenaga dalam, tapi juga pelemah otot. Jay bisa merasakan itu.Dia menjadi semakin lemah dan tak bertenaga.* * *“Urgh ….” Jay menggumam pelan sambil mencoba menggerakkan tubuhnya.Dia membuka mata dengan pandangan buram. Lalu merasakan getaran lembut di bawah tubuhnya, dengan cepat menyadari bahwa dia terbaring di kasur beralaskan dipan kayu yang kokoh dan seolah bergerak bagaikan diayun-ayun sangat lembut.“Ini … laut?!” bisiknya pelan dengan mata terbelalak kaget.Saat kesadarannya perlahan pulih, Jay bisa mengenali bau asin khas laut. Suara ombak beradu dengan lambung kapal menguatkan kesadarannya, bahwa dia memang berada di sebuah kapal. “Ah, akhirnya kamu bangun juga!” Suara lembut namun penuh ironi itu menyapa dari dekat.Jay mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa sangat lemah. Dia memandang ke asal suara dan menemukan Rabbit berdiri
“Hentikan ….” Jay berbisik lirih.Kewarasannya mulai goyah akibat aroma aneh yang masuk ke hidungnya. Dia berjuang untuk tetap berpegang pada akal sehatnya.“Tidak mau ….” Rabbit balas berbisik tanpa mengurangi jarak antara mereka.Dia semakin mendekatkan wajahnya ke Jay, memanggil namanya dengan nada lembut, namun penuh kepemilikan. “Jek…” bisiknya di dekat telinganya, sengaja menggunakan nama panggilan akrab seolah keduanya telah memiliki hubungan yang intim.Jay merasakan napas Rabbit di kulitnya, aroma yang memabukkan dan lembut, seperti parfum yang mahal namun menyimpan ancaman tersembunyi.“Huummchh ….”Tanpa peringatan, Rabbit menyatukan bibirnya ke bibir Jay, mencium dengan lembut, penuh kepastian dan sedikit ketenangan.Namun, perlahan, kecupan itu berubah menjadi agresif, mendominasi, seolah mencerminkan niat Rabbit yang menginginkan penaklukan sepenuhnya atas pria di hadapannya.“Anhh … Jek … urrmmfsshh!”Tangan Rabbit mulai bergerak, membelai leher Jay, merasakan denyut nad
“Kamu … bajingan!” maki Jay ketika dia kesulitan menghalau kepala Rabbit di pangkal pahanya.Rabbit tidak menggubris makian Jay. Mulutnya terus mengisap-isap di selatan sana seraya lidahnya sesekali akan bergulir nakal di puncak pusaka itu.“Hrrkkhh ….” Jay berjuang sekuat tenaga melawan gejolak yang bangkit.Dia tak berdaya, sadar bahwa makanan yang disantap satu jam lalu dibubuhi sesuatu sehingga dia kembali lemah tanpa tenaga. Padahal, tadi sore dia mulai mendapatkan tenaganya meski 40 persen.Kini dia seakan kembali ke titik nol. Benaknya terus memaki Rabbit dengan berbagai kata-kata kotor.“Anghh … Jek … sepertinya milikmu jauh lebih jujur ketimbang mulutmu.” Rabbit menengadah dan tertawa nakal. “Mungkin mulutmu harus kuberi pelajaran biar lebih disiplin. Hi hi!”Usai mengatakan itu, Rabbit mendorong Jay sehingga rebah di kasur tanpa daya. Dengan telentangnya Jay, itu semakin memudahkan Rabbit untuk lebih menggila.“Wanita brengsek!” maki Jay tanpa ditahan.Sorot matanya menampil