“Tenang aja, Om ‘kan juga sebelumnya nggak pernah kerja sama Pak Harjo, tapi tetap dibantu. Pak Harjo itu murah hati, dia minta imbalan bukannya pamrih, tapi mau lihat tanggung jawab orang yang dibantunya saja supaya tidak seenaknya menyalahgunakan bantuan. Jadi, Pak Harjo pasti minta imbalan yang s
Niat hati, Vina tidak mau mengabari Yudha dahulu sebelum ia memastikan sudah ada biaya untuk operasi bapaknya. Kalau sampai Yudha tahu bahwa bapaknya harus operasi tulang dan butuh biaya banyak, Yudha pasti akan berusaha membantu. Vina tidak ingin merepotkan Yudha lagi. Ia sudah cukup banyak menerim
“Oh iya, kenapa orang tuanya Wulan ada di rumah sakit? Bukannya hubungan kalian kurang baik?” tanya Yudha. Vina mengangguk. “Tadi bapaknya Mbak Wulan yang kasih kabar kalau Bapak kecelakaan. Terus beliau juga yang bawa aku sama Ibu ke rumah sakit.” Yudha mengernyit. Orang tuanya Wulan membantu di
Bersama orang tua Wulan, Vina akhirnya sampai di kediaman mewah Pak Harjo. Vina sendiri tahu tentang Pak Harjo, tetapi ia tidak kenal secara personal. Vina hanya tahu sebatas dari kata tetangga-tetangga saja kalau sudah membicarakan mengenai harta Pak Harjo yang tidak ada habisnya dari keturunan-ket
“Kami sudah bawa anaknya, Pak Harjo,” kata bapaknya Wulan. Pak Harjo menatap Vina. Pria tua itu mengelus dagunya, memperhatikan Vina dari atas ke bawah dengan cara yang tidak sopan. “Hm… jadi ini anaknya.” “Benar, Pak. Sesuai yang kami katakan, Bapak pasti nggak akan kecewa.” Vina menatap omnya
“Ke mana kalian membawa Vina pergi?” Orang tua Wulan seketika menoleh dengan ekspresi kesal. “Mau apa kamu ke sini?” tanya bapaknya Wulan. “Kalian bawa pergi ke mana Vina?!” “Apa sih kamu? Nyari Vina ya sana ke rumahnya, kok malah ke sini,” sahut ibunya Wulan. Yudha menggeram marah. “Nggak usah
Yudha tidak langsung datang ke alamat Pak Harjo. Meskipun ia khawatir dengan Vina dan ingin secepatnya mengambil gadis itu kembali, bukan berarti ia akan bertindak gegabah. Yudha jelas tahu Pak Harjo yang dimaksud oleh bapaknya Vina bukan orang biasa. Ia butuh persiapan untuk bisa menyelamatkan Vina
Pak Harjo menerima panggilan itu. “Ada apa?” “Pak, gawat! Ada yang mau mengambil Vina Pak. Dia sedang menuju ke rumah Bapak sekarang.” Suara bapaknya Wulan tampak panik di sebrang telfon. Pak Harjo mengernyit. “Hah? Siapa dia?” “Dia seorang tentara Pak.” Kata bapaknya Wulan. Pak Harjo mengepal
“Kamu... hamil?” Dahayu mengangguk pelan. Tanpa sadar tangannya berdiam di perutnya sendiri. “Iya, aku hamil. Karena itu, aku mutusin kasih kamu kesempatan. Aku nggak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah,” ujarnya lirih. Langit menelan ludah, masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Akhirnya, Dahayu berbicara dengan Langit di ruang tunggu rumah sakit. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di sekitar sana sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih leluasa. Akan tetapi, kehadiran Sagara di antara pasangan suami-istri itu membuat suasana menjadi tegang. Sagara terus memperhatika
Setelah mengetahui dirinya hamil, Dahayu tidak bisa berhenti menangis. Tangannya gemetaran memegangi testpack yang memperlihatkan dua garis biru. Dahayu bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Haruskan Dahayu menyimpan semua ini sendirian ataukah memberiahukannya pada Langit? “Assalamualaik
Begitu tahu ibunya tak sadarkan diri, Langit langsung melarikan ibunya ke rumah sakit. Langit meminta tolong Bi Ikah untuk memegangi ibunya di bangku penumpang belakang. Kepalanya sedang berkecamuk, tetapi Langit harus bisa fokus pada jalanan di depannya demi menghindari kecelakaan. Mobil mewah Lan
Pandangan Sagara langsung tertuju kepada Langit. Kedua alisnya bertaut marah. Sagara bisa melihat Dahayu gemetaran di belakang Langit, tapi saat ini Sagara ingin membuat perhitungan kepada adik iparnya itu. Berani-beraninya Langit membentak Dahayu seperti itu. Selain itu, ada yang mengganggu pendeng
Langit masuk dengan tampang lesu. Wajahnya pucat dan dia tampak lebih kurus. Selain itu, sepertinya Langit tidak tidur selama beberapa hari hingga kantung matanya menebal. Langit langsung duduk di depan Dahayu tanpa dipersilakan. Dia bersilang tangan dan menatap Dahayu dengan tajam. “Akhirnya, kita
“Nak Langit? Kenapa nggak dijawab? Dahayu kemana? Apa dia pergi dari rumah nggak bilang-bilang?” tanya Bening sekali lagi, mulai khawatir karena Langit tak kunjung menjawab. Langit mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak boleh mengatakan yang sebenarnya kepada mertanya. Cukup hanya orang-orang rum
“Serius banget.” Langit mencebik remeh. “Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, Yu. Kalau emang habis ketemun sama bajingan itu, ngaku ajalah.” “Atau sebaiknya sekarang giliran kamu yang mengaku, Langit?” balas Dahayu dengan ekspresi serius. Langit mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan tangan D
“Harus kuapain foto ini?” Arjuna benar-benar bingung sekarang. Ia tidak berhenti memandangi foto yang ia tangkap di ponselnya beberapa hari lalu. Arjuna yakin sekali jika pria yang ia lihat di restoran bersama seorang wanita adalah Langit, suami Dahayu. Namun, bagaimana bisa Langit bertemu dengan s