Saat itulah, ekspresi Kinan semakin kelihatan menggelap. Bening jadi merasa bersalah karena ia pikir, mungkin pertanyaannya sensitif atau bagaimana. “Mas Damar kerja, Mbak.” “Oh…” Bening tidak bertanya lebih lanjut. Ia takut menyenggol masalah yang seharusnya tidak boleh ia ikut campur di rumah
“H-hah?” Rekan Wildan semakin menaruh curiga. Sebenarnya, rekan Wildan ini sudah beberapa kali melihat gerak-gerik aneh Wildan. Namun, berhubung tugas mereka di sini juga semakin sibuk karena terbagi dua antara tugas satgas dan juga mencari Kalingga, jadi rekan Wildan ini kadang juga lupa mau berta
Susan menggedor-gedor pintu rumah dinas itu dengan tidak sabaran. Kebetulan, baru lima belas menit lalu Bening pulang kuliah tatap muka dan ia juga sedang beristirahat karena capek. Mendengar gedoran pintu itu Bening langsung keluar. “Susan?” Susan menggenggam telapak tangan Bening secara tiba-ti
Kinan yang sudah menangkap basah Damar ternyata berselingkuh dengan Maya langsung bergerak untuk melabrak mereka. Kinan menghampiri apartemen Maya kemudian menggedor-gedor pintunya sambil berteriak keras. “Keluar! Mas Damar! Maya! Keluar kalian!” seru Kinan penuh amarah. Damar dan Maya yang ada di
“Benar, Bu Lingga. Jelas itu milik Kapten Kalingga karena ada bordir namanya di seragam. Pakaiannya sudah kusut dan juga kumal penuh debu. Kemungkinan sudah berada di sana dalam waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.” Bening mengembuskan napas kasar. “Lalu bagaimana dengan Mas Lingganya?”
“Ngomong apa kamu Kinan?” Kinan menatap tajam kepada Damar. “Aku serius. Kalau Mas Damar tetap ngeyel mau ketemu Maya terus, aku singkirin beneran anak itu. Lagian itu juga anak haram!” “Kinan!” bentak Damar. “Jangan ngomong sembarangan kamu.” “Kenapa?! Oh, sekarang lebih suka belain selingkuhan
* Sorenya, Bening datang ke rumah Bu Rita sesuai janji. Ibunya Bening tidak ikut karena beliau mau jaga rumah saja sekalian bersih-bersih. Ia juga sungkan kalau harus datang ke rumah besannya apalagi dalam situasi begini. Benar saja, Bu Rita kelihatan lemas dan sakit. Di kamar, ia ditemani oleh K
Kinan kepikiran dengan apa yang sudah ia lakukan di masa lalu. Selama beberapa saat, ia bad mood berat dan diam saja di ruang televisi. Sampai kemudian ia mengembuskan napas panjang. Kinan beranjak dari sofa dan mengintip ke kamar Bu Rita. Beliau masih tertidur. Kinan baru saja hendak ke dapur menga
Selesai membaca isinya, Langit langsung membanting pintu lemari itu dan membawa dairy Dahayu bersamanya. Ia turun dengan tergesa-gesa menuruni tangga, meraih kunci mobil, bahkan menabrak Bi Ikah yang baru kembali dari minimarket. Langit membuka mobilnya dan melompat ke bangku sopir. Tanpa repot-rep
“Ibu, jangan ngomong kayak gitu. Kalau sampai Langit denger, Langit bakal sedih, Bu,” kata Dahayu sambil menggenggam tangan pucat ibu Langit dengan erat. Ada banyak emosi yang saat ini melanda hati Dahayu. Namun, Dahayu tahu dirinya tidak boleh menangis. Ibu Langit terlihat lemah dan sakit-sakitan
Dahayu membuang muka dari Kapten Arjuna karena ia tahu ekspresi laki-laki itu akan melemahkan hatinya. Berulang kali Dahayu mengingatkan dirinya bahwa ia sudah menikah dan tak seharusnya ia memiliki percakapan ini dengan sang kapten. “Maaf, Kapten. Tapi, Kapten tahu ‘kan kalau aku sudah menikah,” j
“Dengan keluarga pasien, silakan masuk.” Begitu mendengar suara dokter, Langit langsung beranjak memasuki kamar rawat ibunya. Sementara itu Dahayu tetap berada di luar untuk berbicara dengan sang dokter. Hati Langit seperti diremat-remat ketika melihat penampilan ibunya saat ini. Lemas dan pucat. N
Dahayu melihat Kapten Arjuna menghampiri mereka. Kemunculannya di rumah sakit masih membuatnya kaget. Dahayu mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Langit, tapi sepertinya laki-laki itu menolak. Dahayu menghela napas berat. Ia harus bersikap netral di depan sang kapten. “Kapten Arjuna ada kepe
“LANGIT! STOP!” Dahayu berteriak nyaring ketika Langit berjalan memangkas jarak mereka. Mendengar teriakan Dahayu, Langit tidak bisa menahan diri untuk meledakkan tawanya. Langit tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi perutnya. Dahayu menurunkan tangannya dengan ekspresi cengo. Kemudian ia s
Resepsi selesai dua jam kemudian, tapi selama itu pula Dahayu sama sekali tidak bersuara hingga semua acara berakhir. Saat ini Dahayu sedang duduk sendirian di kamarnya. Perias telah meninggalkan rumah setelah menghapus make up dan mengucapkan selamat atas pernikahannya. Dahayu mengembuskan napas.
Satu minggu kemudian, akhirnya Langit dan Dahayu sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Setelah akad, resepsi digelar di sebuah gedung secara besar-besaran dan meriah seperti permintaan Dahayu. Saat ini Dahayu dan Langit tengah duduk di atas pelaminan, memperhatikan suasana resepsi pernikahan m
“Daripada aku nggak bisa jawab? Entar malah ketahuan kalau hubungan kita palsu dan cuma pura-pura. Percuma dong aku ke sini buat ngeyakinin orang tua Dokter,” tutur Langit kemudian memasang helm full-facenya. Ia menaikkan kaca helmnya untuk menatap Dahayu. “Dokter nggak protes pas aku panggil ‘Saya