Yang paling berpotensi menyakiti, ternyata adalah yang paling dicinta. Seseorang yang biasa menjadi tempat berbagi kisah, kini berubah menjadi tempat yang memberi luka.
Semenyedihkan itu jika jatuh cinta pada seseorang yang tidak tepat. Tapi, bagaimana kita bisa tahu bahwa orang itu tepat atau tidak. Jika diawal ia selalu bersikap manis dan perhatian. Menjadikanmu ratu diatas ratu. Menyanjung dengan segala pujian hingga terbang. Lalu kini, ia berbelok dari kesetiaan. Haruskah kita melakukan tes seperti masuk ke perguruan tinggi atau seperti tes menjadi pegawai negeri agar mengetahui kelayakannya.
Bergulat dengan pemikiran tentang Bian dan perceraian. Tak terasa, Byanca sudah berada di depan rumah. Ia telah menempuh jalan panjang dari kantor dengan basah berlinang air mata dan dimandikan hujan. Sebelum memasuki rumah, sekali lagi Byanca menenangkan suasana hatinya. Ia ingin mendapatkan kedamaian di rumah ini. Bagaimana pun ia dan Bian selalu menerapkan itu. Urusan luar akan berlaku sampai depan gerbang, begitupun urusan rumah. Mereka sepakat tak mau mencampur adukkan kedua urusan tersebut. Karena rumah ini diciptakan untuk kebahagiaan mereka.
“Loh.. Ibu kok basah-basah begini?” teriakan Pak Madi—penjaga rumah ketika Byanca membuka gerbang. Ia menoleh ke belakang dan tak mendapatkan mobil bosnya.
“Saya masuk dulu, ya, Pak.” Byanca tak ingin menerangkan apapun. Suaranya memelan seiring tangisan yang coba ditahan. Sedikit saja ada yang mengingatkannya pada Bian, maka sakit itu otomatis akan menganga.
Byanca berjalan menunduk dan ketika berada di depan garasi, ia tak melihat ada mobil Bian—yang dipakai pagi tadi. Ia pun menoleh pada halaman, sama; tak menemukan mobil tersebut.
“Oh, anu, Bu. Bapak belum pulang.” Pak Madi ternyata mengikuti langkah Byanca dan dia bisa melihat kegelisahan di mata Byanca.
Apa ia tak mau bertemu dengan ku?
Apa dia sudah tak ingin pulang lagi?
Apa wanita itu mengancam Bian untuk kembali pada Byanca?
Apa Bian tak ingin bertemu dengan anaknya?
Byanca tak mampu menahan emosinya, ia berlari dalam keadaan menangis. Membiarkan lantai basah, ia segera memasuki kamar. Tangisnya pecah, Byanca memukul-mukul dinding. Melampiaskan segala kekesalan. Kemana perginya Bian yang selalu menantinya pulang? Sesak itu kian menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merosot ke lantai dan melihat sehelai pakaian tergeletak.
Byanca mengikuti instingnya. Berjalan ke arah walk-in closet. Hatinya memberi insting bahwa Bian tadi pulang untuk pergi kembali. Benar saja, semua pakaian Bian tak ada, bahkan lemarinya dibiarkan terbuka. Byanca memeriksa koper-koper mereka dan menemukan tiga koper yang hilang. Ternyata Bian memang akan meninggalkannya. Bian sudah merencanakan perpisahan mereka, tanpa ada pertemuan sebelumnya.
Byanca mengacak-acak ruangan itu, melemparkan barang-barang; melampiaskan kekesalannya. Ia meraung sendirian. Hatinya begitu pedih.
Bian pernah berjanji tak akan meninggalkannya meski Byanca mendahului. Bian juga berjanji akan jujur atas apapun permasalahan yang ia hadapi kepada Byanca. Sekarang, semua itu hanya omong kosong yang direka ulang oleh pemikiran Byanca.
“Aku membenci mu, Bian,” teriak Byanca dengan suara tangisnya. Siapapun yang mendengar itu, akan merasakan kasihan.
Byanca tak menyangka Bian kalah dengan pesona wanita lain dan menjatuhkan Byanca ke jurang kehancuran. Wanita itu adalah orang yang tega merusak rumah tangga bahagia Byanca dan Bian. Ia adalah satu-satunya orang yang pantas disalahkan.
“Mami…”
Tapi, satu yang tidak boleh direbut oleh wanita itu lagi adalah Ken, putra semata wayangnya dan Bian.
“Are you okey?” Ken duduk di pangkuan Byanca, ia menghapus bulir air mata di wajah ibunya.
Byanca memeluk Ken dan menangis begitu pilu seakan Ken dapat menerjemahkan tangisnya. Ken membiarkan maminya menangis karena ia ingat, sewaktu ia menangis mami adalah satu-satunya orang yang membawanya ke dalam pelukan hangat dan membiarkannya menangis. Tapi, Ken hanya anak kecil. Ia merasa tak nyaman karena pakaian maminya basah.
“Baju mami basah.”
Byanca segera melepaskan pelukan mereka dan menurunkan Ken. Ia menjepit pipi tembem itu, “Ayo! Mami temani ganti baju.”
“No!” Ken segera bangkit, ia berkacak pinggang. Ken punya kebiasaan malu jika ditemani maminya mandi atau berganti baju. Karena ia mengingat perkataan Daddy, jika beberapa bagian tubuh kita hanya boleh dilihat oleh diri kita sendiri ataupun orang yang sejenis kelamin sama. Ken selalu menerapkan itu.
Byanca sengaja menggoda Ken. Ia berlari mengikuti bocah empat tahun itu ke kamarnya. Hanya dengan melihat Ken, kesedihan berganti tawa bagi Byanca. Ia terus menggelitik perut Ken hingga bocah itu berguling-guling di kasur.
“Mam- hahaha…. Am-puuuuuuun.” Ken tak henti tertawa.
Kini ia tak sengaja menarik tangan Byanca hingga kepala mereka saling terbentur. “Aduh…” Byanca mengusap dahinya.
Ken terduduk dan memelaskan wajahnya, “Mami… maaf.”
Byanca melupakan sakitnya dan terharu dengan sikap Ken. Anak ini sangat dewasa. Ia tulus meminta maaf padahal kepalanya juga sakit. Tak terasa, air mata Byanca menetes. Entah sejak kapan ia menjadi cengeng.
Suatu hari nanti Bian akan menyesal karena pernah meninggalkan seorang putra manis seperti Ken. Tapi, bagaimana jika Bian menuntut hak asuh Ken? Tidak, itu tak boleh terjadi. Maka, Byanca akan egois jika menyangkut Ken. Ia adalah ibunya. Seseorang yang paling berhak atas Ken. Atau setidaknya, biarlah Ken yang menentukan pada siapa ia tinggal.
Ken membesarkan suara tangisnya ketika mendengar Byanca menangis. Tak berkata apapun, Byanca memeluk Ken (lagi).
Satu-satunya harta terbesar yang ia miliki saat ini adalah ken. Tuhan telah banyak menganugerahkan Ken kecerdasan. Byanca beruntung menjadi ibunya Ken.
“Terima kasih, Ken.”
“Maaf, Mami.”
Rumah ini sudah kehilangan kepala keluarganya. Sosok yang selalu dirindukan oleh kedua orang yang sedang berpelukan itu. Padahal dulu ia berjanji menjadikan rumah ini sebagai tempat pulang, dalam arti kata pulang dari segala rasa dari luar, baik suka maupun duka. Tempat yang menerimanya apa ada, yang siap mendengarkan seluruh kesah.
Di rumah ini pula, Bian menyematkan Byanca sebagai ratu satu-satunya. Namun sekarang gelar itu akan berganti dengan wanita lain—yang Byanca bahkan tidak kenal. Akankah istana ini ikut runtuh seiring rumah tangga yang tak lagi utuh? Atau hanya ratunya saja yang berganti dan istana dibiarkan beralih tangan? Entahlah, membayangkannya saja Byanca tak mampu bahkan tak mau.
Rumah ini ia desain dengan penuh suka cita bersama Bian. Setiap ruangannya berisi filosofi yang mereka berdua ketahui. Setiap pajangan yang tertata menyimpan cerita. Setiap warna yang menghiasi dinding penuh dengan arti kehidupan sesuai perjalanan cinta mereka. Semoga saja suatu hari nanti Bian berubah pikiran dan kembali pulang. Semoga saja dan semoga saja ia pulang sendiri tanpa menggandeng wanita lain. Seperti semula saja, intinya. Semoga Tuhan mengabulkan.
Byanca gelisah. Dahinya basah. Matanya terbuka lebar. Ini sudah tengah malam tapi wanita itu tak bisa tidur.Kemana kamu, Bi? Kenapa belum pulang juga?Byanca melepaskan Ken yang memeluknya dengan erat. Wanita itu menggeser pelan tubuh Ken agar tak terjaga. Setelah berhasil, ia bergegas menelepon Bian. Ia khawatir pada Bian. Apakah pria itu tidur nyaman? Apa ia sudah makan?Biasanya Bian selalu merengek jika tidur tak dipeluk Byanca. Bian juga tak nyaman bila tidur tanpa Byanca. Pernah sewaktu Bian dalam perjalanan bisnis ke Belanda. Ia tak tahan walau hanya 2 hari saja. Bian buru-buru menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang dan menemui Byanca. Byanca tak bisa ikut seperti biasa karena ia sedang hamil besar dan dokter melarangnya. Jadilah, Bian dilanda frustrasi dan pulang-pulang dengan kantong mata seperti panda.Lantas bagaimana dengan hari ini? Akankah Bian juga tak
“Kenapa antara kamu dan Bian?”Byanca hanya diam. Dia sudah bisa menebak akan pertanyaan ini yang dilontarkan Clara—sahabatnya. Pertanyaan itu mengundang memori-memori kejahatan Bian. Byanca sendiri tak sanggup untuk membagikannya.“Kalau mau nangis, nangis aja! Jangan ditahan.” Clara memeluk Byanca dan menepuk pundak sahabatnya itu. Saat ini mereka sedang berada dalam mobil Clara. Tadi, ia sempat bertengkar pada ibu-ibu yang bergosip di belakang Byanca.“By… jangan ngerasa sendiri. Ada aku yang siap menerima ceritamu. Kapan pun itu dan apapun itu. Berbagilah!”Byanca membanjiri kemeja Clara dengan air mata. Meski ia tak meraung, tapi tangisnya pecah tanpa bisa dicegah. Clara memang bisa menyimpan rahasia tapi Byanca tetap merasa ini bukan konsumsi Clara jika tentang masalah rumah tangganya. Baginya, hanya dia dan Bian lah yang
Sang mentari dengan gagahnya menyinari bumi. Tak ada keraguan teriknya menyengat setiap jiwa, namun tak membuat Byanca, Clara, Ken dan Rayya patah semangat untuk menunggangi kuda. Lorenzo dan Gypsy—sang kuda sudah siap menunggu mereka.“Mi, kita naik Lorenzo saja!” Ken menarik tangan Byanca. “Hai, Lorenzo,” sapanya begitu manis.Sementara Clara dan Rayya mulai mendekati Gypsy. “Ayo kita kalahkan Ken, Tante…” Rayya mengulurkan lidahnya ke arah Ken.Pelatih—yang sengaja dipanggil Byanca memberi instruksi kemudian mengajak mereka beserta Lorenzo dan Gypsy untuk mengelilingi lapangan terlebih dahulu. Setelah itu barulah mereka menunggangi kuda.Sepanjang permainan yang ada dalam bayangan Byanca adalah kenangan ia bersama Bian. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana Bian begitu antusias mengajarinya menunggangi kuda. Sebenarnya Byanca sudah pernah
Rayya kecil melambaikan tangan. Mobil jemputannya sudah tiba. Mungkin Mama Rayya sudah merindukan sang putri. Langit pun sudah merindukan mentari, kini ia ingin membawa mentari pulang dan berganti dengan rembulan.“Ada yang sedih ni.”“Siapa yang sedih?”Clara hanya mengangkat bahunya kemudian ia merosotkan tubuh ke atas sofa. “Rayya pulang, sepi pun datang.”Ken mencebikkan bibirnya. Dia tak setuju jika Rayya tiada maka rumah akan sepi. Memang gadis itu bisa apa selain menangis. Bahkan Ken masih mengingat, Rayya yang tiba-tiba menangis usai makan siang tadi. Ia terus memanggil mamanya. Untung saja Tante Clara menyimpan nomor telepon Tante Amira—Mama Rayya, jika tidak, bisa dipastikan rumah Ken banjir air mata.“Mikirin apa, Nak?” Byanca mengelus surai hitam Ken. Ia mengangkat tubuh Ken ke atas pangkuannya. Byanca sangat suka
“Daddy tadi Tante Cla menunggangi Gypsy. Tidak apa ‘kan, Dad?” Ken meletakkan ponselnya bersandar di punggung ranjang, sementara ia sedang tengkurap dengan menopang kedua tangan di dagu.Clara melirik pada Ken. Penasaran apa kiranya aduan bocah kecil ini pada ayahnya. Ia juga memerhatikan wajah Byanca yang terlihat sendu sebelum masuk ke kamar mandi. Pasti ia merindukan Bian.“Tante Cla?”Ken dengan cepat mengangguk. Ia menatap Tante Cla—meminta persetujuan agar kamera ponselnya mengarah pada Clara. Tapi, Clara menolak. Yang benar saja, ia ingin melihat wajah Bian. Memikirkannya saja Clara jadi kesal.“Oh, tidak apa dong,” segera Bian berkata karena melihat wajah putranya sendu. “Pasti seru banget main kudanya. Gypsy atau Lorenzo tidak ada yang nakal kan?”Ken menggeleng lemah. “Tidak, Dad. Hanya saja…&rdquo
“By…tepungnya yang mana?” Clara mengangkat dua buah stoples berisi tepung. Dari warnanya yang putih, Clara sangat susah membedakan antara tepung tapioka dan tepung terigu.Sejak subuh tadi, keduanya memutuskan berkolaborasi di dapur. Membuat sesuatu yang baru untuk menu sarapan. Setelah percakapan pada pukul dua dini hari, Byanca memutuskan untuk bercerita semuanya kepada Clara. Ia merincikan setiap kejadian antara dia dan Bian. Byanca juga mengaku bahwa saat ini ia sedang tidak baik-baik saja. Ada rasa sedih, kesal dan amarah yang tak tersalurkan, namun harus Byanca biarkan mengendap dalam hati saja. Kini, tak ada lagi rahasia, Byanca yakin jika Clara mampu menjaga ceritanya. Alhasil, mereka tak tidur lagi dan berakhir dengan aksi memasak.Clara bukanlah seorang wanita yang akrab dengan segala tetek bengek penghuni dapur, hanya saja ketika bersama Byanca entah mengapa ia sangat antusias memasak. Ia sangat suka melihat tan
Byanca tak berselera untuk bekerja. Ia menitipkan segala urusan perusahaan pada Nirina, asistennya. Ini baru kali pertama ia lakukan, biasanya sesibuk apapun atau secapek apapun Byanca tetap profesional. Berdiri dan menaungi perusahaan yang ia rintis sejak usia 20 tahun itu dengan senang hati. Namun, tidak dengan sekarang. Semangatnya hilang bersama angan. Ombak menenggelamkannya ke dasar laut.Menemani Ken seperti candu baginya. Berapa waktu yang ia gunakan untuk bekerja hingga tidak memperhatikan perkembangan putra semata wayangnya. Lihatlah, sekarang Ken sudah pandai berenang. Ia tak takut lagi dan terlihat lihai. Entah sejak kapan itu terjadi, Byanca tak tahu dan ia menyesal membiarkan waktu berjalan sesuka hatinya.“Ken pintar banget. Masih umur empat tahun udah jago ini itu.” Clara datang dengan membawa dua minuman kaleng untuk mereka.Clara pun sama dengan Byanca—tak berselera kerja. Clara memang
‘Abian, anak pasangan musisi David Backson dan Rentina Sarasti mengaku sudah bercerai dengan istrinya, Byanca’‘Tak ada angin, tak ada hujan. Tiba-tiba saja Bian mengumumkan sudah bercerai dengan istrinya dan akan segera melangsungkan pernikahan dengan Indira Baskoro’Tepat pada pukul sepuluh pagi, Bian menghadiri sebuah konferensi pers. Dimana ia mengakui bahwa sedang berkencan dengan Indira dan juga mengakui telah resmi menyandang status duda. Sekitar tiga bulan mendatang, mereka akan menggelar sebuah resepsi pernikahan.Tak ada raut sendu di wajah Bian, justru ia terlihat santai dan tenang. Seakan yang diaktakannya adalah sebuah kenyataan. Tidak, itu sama sekali tidak benar. Ia dan Byanca belum resmi bercerai. Bian hanya melayangkan talak lewat telepon. Byanca ingin memaki di depan Bian, setengah mati ia menahan rasa yang seenaknya dihancurkan begitu saja tanpa sisa. Bian jahat, Bian bukan Bian
Tidak ada yang bisa menerima sebuah perpisahan. Baik pisah hidup maupun mati. Semua yang pernah bersama ingin selalu bersama hingga akhir hayat bahkan di kehidupan selanjutnya. Dunia fana ini selalu diimingi dengan kebahagiaan semata. Nyatanya kebahagiaan itu semu.Renata melakukan aksinya untuk memisahkan Dewo dan Rina karena kebenciannya pada ayah Dewo, Pramasta yang telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Tidak hanya itu, menurut Rentina sejak sahabatnya itu—Dewo—mengenal Rina waktunya sangat sedikit untuk Rentina. Hal itu semakin memupuk rasa kebenciaannya.Strategi demi strategi untuk balas dendam telah direncanakan. Salah satu yang direalisasikannya adalah masuknya orang ketiga dalam rumah tangga Dewo. Sebenarnya itu tidak murni rencananya. Rams berselingkuh dengan seorang wanita bernama Mellisa. Suatu hari, Rams mengatakan bahwa Mellisa tengah mengandung anak mereka. Rentina tidak dapat menerima itu, dia pun kesal pada Rams dan mengancam Rams atas
Rentina tersadar dari hanyutan masa lalunya. Matanya memerah menatap Dewo. Aura kebencian terpancar dari lensa hitam tersebut. Aliran darahnya seakan membuncah untuk membalaskan dendam kepada Dewo. Sialnya, rantai yang kuat ini menjeratnya.“Pramasta apa kabar?”Ini adalah kali pertama ia menyebut nama ayah Dewo tanpa menggunakan embel-embel panggilan ‘om’ untuk kesopanan. Sejak ia menyelidiki lebih lanjut ucapan mantan supirnya, Rentina tidak menelan informasi itu mentah-mentah melainkan ia menyelidiki lebih lanjut. Masih ada harapan Rentina bahwa ayah temannya itu tidak bersalah. Satu demi satu bukti dan saksi Rentina kumpulkan selama bertahun-tahun hingga akhirnya bahwa kecurigaan itu adalah benar.Lalu apa yang dilakukan Rentina?Apakah ia langsung membalaskan dendamnya pada Pramasta?Tidak!!Ya, jawabannya tidak. Rentina tidak melakukan apapun kepada Pramasta karena ketika ia telah berhasil mengumpulkan semua buk
Perusahaan warisan ayah Rentina telah dikelola oleh adik kandung ayahnya sendiri yang mana nantinya akan diserahkan kepadanya. Rentina tidak terlalu mengambil berat hal itu karena ia menganggap dirinya masih belum mampu untuk mengelola perusahaan tersebut. Rentina hanya menerima hasil setiap bulan dan dimanfaatkan untuk biaya sekolahnya. Rentina sering berkunjung hanya untuk mendapatkan teka-teki atas kematian orang tuanya. Dia mulai melibatkan diri dalam pekerjaan di perusahaan. Mulanya hanya untuk memecahkan teka-teki, lama kelamaan menjadi ketertarikan untuk bekerja di sana. Rentina meminta kepada omnya untuk diajak bekerja, ia pun ingin mengambil peran dari mulai yang terendah dahulu. Rentina mempelajari setiap liku pekerjaan tersebut. Perusahaan ayah mengalami gejolak hingga hampir gulung tikar. Om Irwan, omnya mengaku sudah melakukan banyak cara untuk menstabilkan permasalahan tersebut. Permasalahan ini dipicu karena mereka salah memilih distributor. Uang yang
Flashback on“Rentina, ikhlaskan kepergian mereka!” ucap tantenya sambil memeluk tubuh remaja Rentina.Rentina mengatupkan mulutnya. Membungkam kesedihan yang membendung. Hari itu adalah hari yang sangat buruk bagi Rentina. Tak pernah ia bayangkan bahwa hari itu datang, hari dimana ia kehilangan dua orang yang disayanginya yaitu papa dan mamanya.“Tante, kata ikhlas memang mudah diucapkan tetapi, sangat sulit untuk diimplementasikan. Bagaimana aku akan menjalani hariku tanpa mereka? Aku hanya anak tunggal. Aku tak memiliki apapun dan siapapun lagi.”Rentina tahu bahwa ini kehendak Tuhan akan tetapi ia belum siap. Hati dan kepalanya terus berbicara akan sendiri yang akan dihadapinya. Rentina menekuk lututnya kemudian memeluk lutut itu, menggambarkan bahwa ia hanya bisa bertahan dengan dirinya sendiri. Hartanya adalah dirinya sendiri. Ia menangkup dan menangis sekencang-kencangnya. Para pelayat yang mengirimkan doa kepada orangtuanya
“Apa sebenarnya penyebab kalian merusak rumah tangga ku?”Rina tak mampu menahan seluruh gejolak pertanyaan yang telah dari Singapore ia pendam. Rina tak mementingkan waktu jika saat ini antara Rentina dan Dewo sedang bersitegang. Ia hanya ingin tahu agar dadanya tak sesak menahan.Mata Rentina beralih pada Rina. Alih-alih menjawab, ia justru menyunggingkan senyuman seakan mengejek Rina. Senyuman yang dulunya hangat kini menjadi tajam yang mampu menyabik hati Rina.“Karena kamu terlalu sombong, Rina.”Rina terpancing untuk menghampiri Rentina. Entah hanya sekedar mendekatkan telinganya agar memastikan bahwa ia tak salah dengar. Namun, Dewo segera mencegahnya. Dewo menarik tangan Rina dan membisikkan kata-kata penenang.Rina memejamkan mata kemudian mengatur emosinya. Ia tak boleh terpancing demi permasalahan ini cepat diselesaikan. Melihat wajah Rentina terlalu lama akan mempengaruhi kesehatan jantungnya.“Kamu
Rina menyunggingkan senyuman kepada Bian setelah mendengar teriakan Indira. Wanita itu sangat kacau dan berantakan. Rina mengira bahwa mentalnya telah terguncang. Ia mendekati Dewo dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Indira. Dewo hanya menjawab dengan mengangkat bahunya membuat Rina menghela napas malas. Sudah dalam keadaan seperti ini pun Dewo masih sempat untuk bermain rahasia. Di hadapan Rams dan Rentina terbentang sebuah sofa panjang dengan sebuah meja di hadapannya yang berisi banyak makanan dan juga minuman. Dewo mengajak mereka semua untuk duduk. “Rentina, Rams dan Indira kehadiranku membawa mereka semua ke sini bukan untuk menghukum kalian. Aku tahu semua orang pasti pernah melakukan kesalahan tidak terkecuali diriku sendiri. Aku ingin kita menyelesaikan dengan damai dan secara kekeluargaan. Tolong akui semua kesalahan kalian!” Tak munafik bahwa kekesalan Dewo kepada tiga manusia di hadapannya sudah mengubun-ubun tetapi ia masih memiliki h
Pesawat yang ditumpangi mendarat indah di Bandar udara Soekarno Hatta. Dewo beserta rombongan segera menaiki mobil yang telah disediakan. Perjalanan selanjtunya adalah menuju tempat penyekapan Rams dan Rentina. Sepanjang perjalanan, semua tampak tak banyak bicara. Hanya diam dan menerka-nerka akan bagaimana kelanjutan cerita ini.Begitu sampai tempat penyekapan, Salim telah menunggu mereka. Ia segera mendekat dan menyapa satu-persatu. Dewo tersenyum ramah dan juga berjalan di samping Salim.“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” Siapapun pasti akan sangat penasaran. Begitu pula dengan Salim. Sudah lama ia menanti hari ini. Ia juga sudah lelah menebak konspirasi di antara semuanya.“Dimana Bema dan Brian?” Dewo berhenti dan memperhatikan sekitar. Hal tersebut juga membuat semuanya berhenti dan mengikuti arah pandang Dewo.“Aku sudah meminta mereka datang tetapi tidak tahu kemana dua anak itu.” Tak ingin membuat suasana hati
Langit cerah menutupi raut kemarahan dari dua anak manusia yang saling berhadapan dengan kondisi tubuh terikat tali. Mereka adalah Rentina dan Rams. Rentina menggerakkan tubuhnya; menggapai-gapai tangan Rams. Ia tak bisa dengan lantang menyuarakan isi kepalanya sebab mulutnya ditutupi lakban hitam yang menyebalkan.Rentina berusaha berbicara lewat mata. Sayangnya Rams nampak tak tertarik, ia memutar lehernya dan lebih memilih menatap dinding yang dipenuhi sarang laba-laba tersebut. Lebih baik melihat itu dari pada menatap Rentina dengan segala gejolak emosinya.“Apa kau tak ingin mengalahkan Dewo di dunia bisnis?” Rams mengingat dengan jelas kata-kata yang diucapkan Rentina dahulu. Kata yang menjadi mantra untuknya melakukan segala cara agar mengalahkan Dewo. Meski Dewo bukan tandingannya di dunia bisnis tetapi Rams mengal
Berdamai dengan keadaan adalah jalan yang dipilih Rina meski hati masih berbentur dengan luka masa lalu, tetapi ia begitu sadar bahwa semua karena jebakan. Rina memang mencoba untuk memaafkan Mellisa. Melihat Archi yang sedikit trauma membuat Rina merasa iba. Ia pernah melihat jiwa Byanca terguncang. Oleh sebab itu, ia tak ingin Archi juga nekat melakukan apa yang Byanca lakukan dahulu.Mellisa merasa terharu atas sikap Rina. Ia berulang mengucapkan terima kasih bahkan ia secara refelks memeluk Rina. Semua ini di luar ekspektasinya. Mellisa iri dengan Rina yang memiliki hati begitu lembut. Ia berjanji akan menjadikan dirinya lebih baik lagi untuk membalas kebaikan Rina. Untuk Dewo, ia tak akan mengejarnya lagi. Terserah pada Dewo untuk hidup seperti apa, lagi pula mereka telah berpisah sejak beberapa bulan yang lalu.Usai melepaskan pelukan Mellisa, Rina menatap Dewo dengan ekspresi tak terbaca. Dewo menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti arti tatapan itu. Rina t