Badai akhirnya benar-benar menerjang sakura milik Damar dan menguasai anak cantik kesayangan itu seutuhnya. Di depan sang panglima tentara dan dua orang saksi, Badai mengucap ikrar pada Tuhan untuk melindungi dan mencintai Sasa sampai ajal menjemput. Tak terkira bahagia dan lega memenuhi hati masing-masing orang tua kedua mempelai. Termasuk Sasa yang mendengar Badai mengucap namanya dengan fasih dalam akadnya."Saya terima nikah dan kawinnya Sakura Kadita Rumi Binti Damar Elang Satria Wiwasata dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar sembilan puluh empat juta, dua ratus dua puluh dua rupiah dibayar tunai!" sebut Badai lantang."SAHHH!"Para saksi dan tamu undangan berseru hampir bersamaan saat penghulu meminta pendapat. Doa dan pujian dipanjatkan kepada Tuhan, air mata Sasa dan Ran jatuh bersamaan. Kini, Sasa akan menyandang status baru, yakni sebagai Nyonya Lettu Akai Badai Bagaspati. Kendati masalah yang sempat terjadi kemarin belum terselesaikan secara baik-ba
"Aku bahagia kok!" sambar Sasa termakan pancingan Badai yang sangat lihai itu, "sialan!" sungutnya begitu tersadar."Makan ya," bujuk Badai menahan senyum tampannya. "Mau disuapin?" tawarnya."Aku bisa makan sendiri," ujar Sasa langsung merebut piring di tangan Badai cepat."Iya," kata Badai sabar. Meluluhkan hati Sasa atas kesalahannya yang fatal tentu saja tidak akan mudah, tapi ia tidak akan menyerah atas rasa cinta istrinya. "Aku nanti ambil baju ganti dulu ke rumah, baru jemput kamu dan kita jalan ke kampus. Berangkat jam 5 sore kan?""Iya," balas Sasa. "Kamu ikut kunjungan ke Jogja ini?" tanyanya tertarik."Aku ada janjian sama Ernest di sana. Lagian ada Diaz dan banyak orang BEM fakultas yang dilibatin, kami nggak boleh lengah," tutur Badai."Oh," Sasa manggut-manggut, berusaha tampak tak terlalu peduli."Kamu jadi mesen kamar hotel yang satu ruangan buat sendiri?""Jadi, tapi kayaknya Nana mau jadi satu sama aku, dia males sekamar bareng Dira," jawab Sasa.Badai berdecak kece
"Kerasa pengin muntah enggak?" tegur Badai perhatian saat Sasa terlihat menggeliat dan bangun dari tidur panjangnya.Sasa menggeleng, "Sampe mana?" tanyanya."Sebentar lagi sampe penginapan," balas Badai. "Tidur lagi aja, nanti kalau udah sampe kubangunin," ucapnya."Masih subuh," gumam Sasa meneliti kondisi di sekitar, "Jogja kalau subuh pasti syahdu.""Cocok," celetuk Badai iseng."Cocok apanya?""Nggak ada," bantah Badai, ia tersenyum penuh arti. "Hari ini hari bebas, kunjungan baru mulai besok, mau jalan-jalan nggak?" tawarnya."Liat ntar aja," desis Sasa masih sesekali ketus. "Itupun kalau nggak males," tambahnya.Badai mengangguk ringan. Ia tahu bahwa Sasa masih terluka karena Arleta yang berbuat seenaknya. Sebenarnya, waktu bebas seharian nanti yang ia rencanakan ingin mengajak sang istri keluar sekadar jalan-jalan juga ingin ia pakai untuk sedikit memberi Sasa penjelasan. Namun, belum apa-apa, Sasa sudah menolaknya mentah-mentah."Aku pengin ngobrol lebih banyak soal masalah k
Meninggalkan Nana, Badai bergegas menuju kamar pesanannya. Seperti Sasa, meski ia dijatah satu kamar dengan Gilang dan Arman dari publikasi dan kemahasiswaan, ia harus memberi ruang untuk tim Raider. Benar, di dalam kamar dengan view langsung menghadap ke seluruh pintu kamar penginapan, Badai dan anggota tim lain lebih mudah melakukan pengawasan. Posisi pengawasan di dalam kampus diambil alih oleh tim Raider 2 dan 5 sementara tim Raider 1 mengawal rombongan. Ada setidaknya 6 target operasi yang ada di daftar rombongan kunjungan ke Jogja ini."Kamar 204," ujar Badai begitu masuk ke dalam kamar dan Fadil menolehnya."Aman. Abang bisa langsung ambil rute lewat balkon Bang," kata Fadil fasih. "Lokasi keliling persegi panjang, 204 di seberang kanan, 8 kamar dari kita, dua lantai di bawah," sebutnya."Sorry," Badai menyeringai, "aku pengamanan pribadi dulu ya," cengirnya kemudian keluar ke balkon dengan tatapan kesal dari Lion dan Anung.Sementara di kamarnya, Sasa langsung merebahkan diri.
"Mas ...," Sasa mendorong pelan dada telanjang Badai, ciuman mereka terlepas. Ia berpaling cepat, berbalik membelakangi Badai, menguatkan hatinya."Nduk," panggil Badai lirih. "Kalau kamu nggak mau aku di sini, aku pergi. Tapi ijinin aku cek kondisi, aku amanin dulu posisimu," katanya pilu.Sasa mengangguk lemah, "Maaf, aku masih nggak bisa ngilangin bayangan gila itu. Tiap kamu nyentuh aku, aku ngeliat bayangan Arleta di matamu," desisnya tertahan.Badai meraup wajahnya frustasi. Bagaimana lagi caranya agar ia bisa meluluhkan hati sang istri, meyakinkan Sasa agar tak lagi menolaknya."Apa aku perlu ngomong sama Arleta soal ini?" tanya Badai gegabah."Biar kalian bisa ketemu lagi dan ngulang kisah cinta kalian?" tuduh Sasa menohok."I love you, Sakura Kadita Rumi!" sengal Badai benar-benar habis kata.Tak ada yang bicara setelahnya. Sasa memilih untuk berjalan menuju jendela, melihat kondisi sekitar penginapan yang sudah mulai terang oleh cahaya matahari, menyusup di sela-sela tirainy
Tiba di kolam renang milik penginapan itu, mood Sasa yang hampir saja membaik, kembali memburuk. Bagaimana tidak? Badai yang tadi ia lihat pergi seperti laba-laba bergelantungan entah ke mana, ternyata sudah berendam nyaman di kolam renang, memamerkan tubuh seksinya pada semua orang."Mas Pacar udah di sini tuh?" gumam Nana menyenggol siku Sasa."Tau deh. Sibuk tebar pesona dia," desis Sasa melengos saja saat Badai menyadari kedatangannya."Bagi-bagi kali Sa," goda Dira yang melewati Sasa sambil berbinar menatap ke arah Badai."Liat aja sepuasnya, nggak buta juga mata lo!" ujar Sasa kasar."Santai Bos!" Dira menyeringai, "nggak berkurang juga kalau gue liat doang, pelit amat jadi orang," sungutnya."Tau pelit kenapa nanya lo? Ngajak gulat?" Sasa menantang."Udah, udah," Nana melerai, "laki lo udah naek," bisiknya menenangkan Sasa.Menuruti ucapan Nana, Sasa meninggalkan Dira yang siap meladeni ucapan sengaknya. Ia datangi Badai dengan tatapan siap membunuh, kesal sekali hatinya."Jadi
"Aku nggak akan maksa kalau kamu nggak siap," kata Badai."Arleta nggak akan ganggu kita kan?" tanya Sasa yang kini tinggal mengenakan setelan bra dan celana dalam warna hitamnya."Nggak akan," ungkap Badai sambil sesekali mengecupi leher istrinya, menghirup aroma cherry blossom yang memabukkan.Sasa menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan dirinya. Ia tatap lagi mata Badai yang juga sibuk mengamati pahatan Tuhan dan wajah cantik nan menggemaskannya. Merasa malu, Sasa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Apalagi saat kedua tangan Badai bergerak untuk melepas kaitan bra miliknya."Kenapa?" tanya Badai sejenak menghentikan gerakannya. "Ada yang sakit?"Sasa menggeleng."Kenap bibirnya digigit begitu? Gemes Nduk akunya. Takut nggak bisa maen pelan ntar karena saking geregetannya," ujar Badai sangat jujur."Aku malu," ungkap Sasa mengitarkan pandangannya, sengaja menghindar dari tatapan sendu Badai padanya."Kenapa malu? Suami kamu ini,""Ini kali pertamanya aku lepas baju di depan cowok l
"Mas—" ucapan Sasa menggantung. Ia lebih sibuk menahan dirinya agar tidak berteriak saat milik Badai mulai mengoyak pertahanannya. Panas di tubuhnya semakin terasa menyiksa, tapi ia tidak bisa berteriak dan mengerang sebebasnya. Tubuhnya melengkung ke atas, perih itu menjalari pangkal paha hingga ke punggungnya."Tahan bentar ya Nduk," ucap Badai seolah sadar bahwa Sasa benar-benar hampir hilang kendali.Kedua jemari Sasa spontan beralih mencengkeram pundak Badai, bibirnya masih aktif meracau nama serta panggilan Badai dalam mode timbul tenggelam. Sementara, Badai sudah mulai perlahan bergerak memompa, ia sendiri bahkan hampir tak kuasa menahan gelenyar nikmat yang diberi Sasa atas miliknya.Peluh membanjir di sekujur tubuh Badai, pun tubuh Sasa yang tidak berganti posisi. Ketika Badai menawarinya untuk berganti di atas, Sasa menolak, ia masih malu melakukannya. Justru, Sasa beberapa kali membawa wajah Badai ke ceruk lehernya agar ia tidak malu ditatap secara intens dan tanpa jeda ole
"Gimana?" Sasa mengulum bibirnya dengan tatapan yang tak lepas dari sang suami, ia bahkan menahan napas."Enak," ucap Badai sambil manggut-manggut. "Rada asin," tambahnya membuat ekspresi Sasa berubah."Maaf, Mas tau aku nggak bisa masak," cengir Sasa merasa bersalah. Ia tarik mangkok sop ayam yang tengah dinikmati suaminya. "Jajan di luar aja yok Mas, ini nggak layak makan," katanya."Siapa bilang? Enak kok," kata Badai tulus. "Apapun itu kalau dari tangan kamu, pasti kumakan," ujarnya begitu manis, ia ambil lagi mangkok sopnya dari sang istri, ia lahap isinya rakus."Jangan gitu," hidung Sasa kembang kempis, pertanda ia tengah berusaha untuk tidak bersedih. "Harusnya aku masak yang enak biar Mas seneng, kan tiga hari lagi Mas berangkat," katanya.Surat perintah agar Badai dan timnya segera berangkat ke Papua terbit kemarin sore. Setelah dua minggu melakukan peran sebenar-benarnya sebagai suami-istri di rumah mereka sendiri, kabar yang paling tidak ingin didengar Sasa itu akhirnya da
"Ganteng kan kalau udah pake baju, gemes, pengin di atas," bisik Sasa penuh godaan."Yok, ke sebelah," ajak Badai langsung sigap."Kok jadi serius," Sasa menutup mulutnya spontan. "Mas nggak capek? Abis maen bola juga ih," desisnya."Sekalian capeknya. Lagian kalau kamu yang di atas, aku nggak capek, Nduk.""Kok vulgar gini jadinya kita ngobrolnya ya Mas?"Lalu, tawa mereka berderai ceria. Badai melakukan kebiasaan wajibnya, mengacak rambut Sasa, membuat beberapa mahasiswi lain dari universitas tuan rumah yang ikut dikarantina memekik iri, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sasa sengaja pamer kemesraan di depan mereka, juga di depan Dira yang sudah pasti sedang tak aman posisinya."Ayok sarapan!" ajak Badai menunjuk gedung induk di paling depan, semua aktivitas dari makan termasuk hiburan diadakan di ruangan itu."Emang yang laen udah?""Tuh, Ramdan udah ngusap sekitar bibirnya. Udah selesai dia," jawab Badai."Mas udah laper? Aku kok belom. Pengin sarapan yang lain," pancing Sasa imut."
"Aku juga baru tau kalau tim penyelamat kita itu semua hobi pamer," desis Sasa geleng-geleng kepala. Bagaimana Nyonya Badai ini tidak merasa heran dan kesal saat mendapati sang suami bersama anggota timnya bertelanjang dada. Benar, Badai hanya mengenakan celana pendek olahraga dengan running shoes bermotif hitam putih saat bermain sepakbola. Sebagai istri sah, Sasa tentu measa tidak rela Badai mengumbar daya tarik seperti itu."Dari semua sesi karantina buat penyembuhan trauma, ini sih sesi healing yang paling manjur menurutku," cengir Nana puas sekali."Kebanyakan dari mereka emang bertato ya Dek," kata Wulan ikut menatap takjub. "Tadi gue liat ada juga yang telinganya bertindik," tambah Karin tak kalah terpesonanya. "Sasa beruntung dapet yang paling ganteng, damage-nya nggak ada obat pula," katanya kagum."Kalau dia begitu keselku muncul lagi," gumam Sasa lagi-lagi keceplosan. "Kesel kenapa? Bukannya kalian bulan madu?" bisik Nana yang akhirnya benar-benar diberi pengertian ke ma
"Aku minta maaf, nggak akan keulang yang begini lagi, janji!" ikrar Badai serius sekali. "Janji, janji, kebanyakan janji nanti nggak bisa nepatin, sekalinya mau nepatin malah nyakitin," sindir Sasa telak. "Salah lagi akunya." "Lha Mas ngerasa salah nggak?" suara Sasa meninggi lagi. "Iya ngerasa, aku tau aku salah makanya aku minta maaf." "Kalau ngerasa gitu, cancel semua bantuan yang udah Mas atur buat Arleta. Berani?" dagu Sasa terangkat, menantang. "Nduk, kamu boleh marah tapi jangan sampe hilang empatimu buat sesama perempuan," pinta Badai kalut. "Aku ngetes Mas tau nggak!" sengal Sasa tak tahan. "Aku nyoba liat reaksi Mas kayak gimana, ternyata Mas masih belom bisa misahin antara peduli sama Arleta dan ngejaga perasaanku!" sergahnya siap menangis lagi. "Mas harusnya kenal siapa istri Mas! Nggak mungkin aku serius nyuruh Mas ngebatalin itu semua!" Hening. Badai meraup wajahnya frustasi. Ia berdiri dari ranjang tanpa bicara lagi, serasa yang ia ucapkan pada sang istri
Kediaman panjang pasangan baru ini masih berlangsung hingga lewat tengah malam. Badai takut untuk memulai pembicaraan lagi, pun dengan Sasa yang enggan bertanya atau tangisnya akan pecah lagi-lagi. "Nduk," Badai memberanikan diri memanggil Sasa. "Kamu udah tidur?" tanyanya. "Belom, masih sedih dan pengin nangis," jawab Sasa terdengar sangat imut. Badai tersenyum simpul, semarah apapun Sasa, celetukannya benar-benar membuat Badai selalu merasa dimabuk cinta. Namun Badai harus serius jika itu mengenai Arleta dan perasaan istrinya. "Aku bodoh ya Nduk?" gumam Badai. "Sebenernya aku males kita berdebat kayak gini Mas. Ngabisin energi, saling nyakitin," ujar Sasa. Tampak bahunya sedikit bergetar, tanda ia masih sedikit emosi. "Aku nggak pengin mendebat kamu Nduk," sangkal Badai polos sekali. "Iya Mas bilang gitu, tapi nggak sadar kalau sikap Mas udah nyakitin aku. Sadar nggak kalau kita lagi dalam kondisi begini itu pertahanan kita sama-sama aktif? Kita sama-sama merasa b
Sementara, Sasa yang akhirnya merubah posisi berbaringnya menjadi setengah duduk dengan bersandar di leher ranjang, menatap suaminya penasaran. Seandainya Badai tahu bahwa Sasa ingin Badai menyalakan pengeras suaranya jadi Sasa bisa ikut mendengar isi percakapan itu. Begitu mematikan sambungan, Badai beranjak dari ranjang. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas lagi, tapi ia berjalan menuju gantungan baju, memakai kemeja dan jaketnya. "Aku keluar bentar ya Nduk, ada urusan dikit, nggak lama kok," pamit Badai seraya menyambar ponselnya dan berjalan keluar kamar tanpa memberi penjelasan apapun pada sang istri. Hanya anggukan lemah yang Sasa berikan. Sasa sendiri tak tahu harus bersikap seperti apa menanggapi tingkah laku absurd Badai kali ini. Tidakkah Sasa baru saja diabaikan karena sebuah telepon dari sang mantan? Padahal, sebelum ada panggilan dari Arleta, keduanya tengah mengobrol mesra."Mungkin emang penting Sa, jangan emosi, dengerin penjelasannya dulu ya," kata Sasa berusaha m
"Aku diminta sama tim buat ikut nanyain Dira and the gang," lapor Badai pada sang istri tepat saat Sasa menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ijin untuk menginap di hotel di sebelah gedung karantina sudah didapat, Damar memperbolehkan selama aktivitas di siang hari, Sasa dan Badai tetap mengikuti jadwal. Oleh karena itu, Badai baru bisa mengajak sang istri beristirahat di hotel yang sudah dipesannya di atas pukul 8 malam. "Terus Mas jawab mau?" gumam Sasa langsung meminta bantal pada lengan Badai dan menyusup nyaman di celah ketiak sang suami. Mereka berbaring berdampingan kini. "Aku harus mau. Karena kita kan pernah satu kelas sama Dira dan tim menganggap kalau seenggaknya aku cukup paham karakternya. Di samping itu, kalau aku yang coba nanyain, kecil kemungkinan Dira bakal berkilah," sebut Badai. "Aku sih ngedukung kalau Mas yang nanyain Dira, biar dia tau siapa Mas dan kayak apa pengaruh Mas. Kadang kesel juga kalau ngeliat cara dia mandang Mas, ngeremehin gitu. Mungkin dia mas
"Idih," Sasa berjenggit, "makanya aku minta banget buat nyelidikan dia, bisa aja dia dimanfaatin sama Diaz buat gimana-gimana kan?" "Iya, masuk akal kalau itu sih," Badai manggut-manggut setuju."Mas, kalau boleh tau, jenazah Diaz sama teroris yang laen dibawa ke mana?" tanya Sasa mengubah topik. Meski yang ia tanyakan nampak serius, pandangannya tak lepas dari permainan bola voli receh para mahasiswa yang tengah berlangsung. "Untuk saat ini masih ditahan pihak intelejen buat kepentingan laporan. Nanti bakalan dikirim ke keluarga masing-masing, yang jelas meskipun nama asli mereka dirilis, kita udah minta ke pihak warga sekitar buat tetep menerima jenazahnya dan memperlakukan keluarga mereka sama kayak yang laennya," sebut Badai rinci. "Keluarganya nggak salah sih, menurutku mereka gampang terpengaruh sama ideologi yang menuntut makar begitu karena mereka jauh dari keluarga. Kebanyakan kan mereka anak-anak rantau semuanya," kata Sasa terdengar miris. "Ironis ya Nduk," Badai tersen
Sasa menggaruk bagian belakang kepalanya untuk menghindar dari Dira. Namun, seakan tak terima dengan pengakuan Sasa, Dira menarik lengan Sasa kasar."Kalian baru pacaran, nggak usah ngaku-ngaku sok jadi istrinya, belom tentu nikah juga!" kata Dira geram. "Dia emang istri gue," sambar Badai yang entah sejak kapan mendatangi tempat istrinya diserang oleh Dira dan geng. Lokasi yang seharusnya dijadikan tempat untuk senam pagi justru diubah Dira menjadi spot menggosip ria. Mendengar ucapan Badai, tentu saja Dira and the geng tidak langsung percaya. Apalagi ekspresi kesal Dira makin menjadi saat Badai memeluk pundak Sasa protektif. "Mas, jangan ladenin mereka," pinta Sasa pada suaminya."Harus diladenin yang begini. Sampe kamu todong senjata aja dia nggak kapok. Hatinya udah penuh iri sama dengki," ujar Badai. "Kami udah nikah, sah secara agama dan negara, kalau lo perlu bukti, nanti gue buktiin. Berhenti menekan istri gue dan berusaha mem-bully-nya. Lo nggak akan pernah tau akibat apa