Beranda / Romansa / Jodoh Dadakan Dirgantara / Masak dengan ibu mertua

Share

Masak dengan ibu mertua

Penulis: Adilia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-08 15:25:29

Dirgantara mendapatkan tugas mengawasi pendidikan yang tengah ditempuh oleh para prajurit. Dia tidak akan bertemu dengan Alina selama seminggu ke depan. Untunglah ada sang ibu yang akan menemani istri manjanya itu.

"Alina, tolong kamu siapkan semua pakaian tugas milik suamimu. Mari ibu bantu kamu untuk menyiapkannya. Biar kamu terbiasa dan tahu mana-mana saja seragam yang harus dibawa," lirih ibu sambil merangkul lengan menantunya itu.

"Baiklah, Bu," jawab Alina yang ditanggapi senyuman oleh nyonya Suyarso.

Kini kedua wanita itu tengah sibuk menata dan menyiapkan pakaian milik Dirgantara. "Lin, apakah kamu bahagia hidup bersama, Dirga?" tanya sang ibu mertua, membuat Alina kaget. "Ehm ... kan baru dua hari, Bu. Mana bisa Alina menilai," jawaban dari Alina tersebut membuat nyonya Suyarso mengernyit. "Kok baru dua hari? Bukannya kamu juga sangat menginginkan pernikahan ini? Nyatanya kamu ikut daftar calon menantu keluarga Suyarso." Seketika Alina terdiam dan menunduk. "Jangan bilang kamu menyesal menikahi Dirgantara ya, Alina. Tapi ... jangan khawatir, dengan beriringnya waktu, pasti kamu akan terbiasa dan bisa menerima Dirgantara dengan sepenuh hati. Ibu dan ayah mertuamu sangat sayang loh sama kamu. Jadi, jangan buat kami kecewa, ya. Oh ya, jangan lupa, segera beri kita berdua cucu," celotehan dari nyonya Suyarso, membuat Alina bingung.

"Iya, Bu. Nanti akan Alina coba."

"Jangan nanti, tapi harus! Harus kamu lakukan! Sekarang ayo kita antarkan tas ransel ini pada suamimu," wanita paruh baya itu sudah menenteng tas ransel milik Dirgantara, untuk dibawa ke ruang tamu.

"Dirgantara nitip Alina ya, Bu." ucap Dirgantara yang membuat sang ibu tersipu. "Ih, yang pengantin baru. Tenang saja, Alina akan ibu jaga sebaik mungkin, melebihi diri ibu sendiri." jawab wanita paruh baya itu dengan senyuman ramahnya.

Kini pemuda tampan itu pergi meninggalkan asrama, sampai seminggu kedepan. Sesekali dia menoleh ke arah istri dan ibunya yang saat ini masih berdiri di depan pintu. "Hati-hati!" teriak sang ibu menyemangati dan mendoakan putra sulungnya itu.

"Ayo masuk, Alina" ajak ibu dan diikuti oleh wanita cantik itu.

"Ayo kita belajar masak dulu."

"Tidak, Bu. Nanti saja. Alina capek, Alina pengen istirahat," ucapnya terlihat malas dan tak bertenaga. "Bukannya kamu baru saja bangun tidur, kok sudah mau ke kamar lagi, Nak? Nggak baik loh, kalau seorang istri kembali tidur di jam segini. Setidaknya, lakukanlah aktivitas yang bermanfaat, agar tubuhmu nggak loyo. Jadi istri prajurit itu harus kuat, sabar dan tabah. Nggak boleh ngeluh apalagi malas."

"Bu, yang bertugas itu mas Dirga. Bukan Alina. Kenapa Alina juga harus ikut militer? Alina ini istri, Bu." sahut wanita cantik itu dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Seketika nyonya Suyarso terdiam dan mematung. Dia tidak menyangka kalau ucapannya bisa melukai hati Alina yang cantik itu. "Ya Tuhan, kenapa begini? Kenapa aku malah membuat menantuku sedih? Bisa gawat kalau ketahuan Dirgantara. Aku harus ke dalam kamarnya dan membuat hatinya kembali tenang.

Setelah menghela nafas dalam-dalam, nyonya Suyarso pun melangkah menuju kamar menantunya. Dia mengetuk pintu, berharap mendapatkan respon dari Alina. "Alina" panggil wanita paruh baya itu dari luar kamar. "Nak" sapanya lagi, yang akhirnya ditanggapi oleh sang menantu. "Maafin Ibu, ya. Bukan maksud ibu mau menekan kamu, Nak. Ibu hanya ingin kamu menjadi wanita yang paling sempurna di mata Dirgantara. Selama ini putraku itu sangat acuh pada semua wanita. Beberapa kali ibu dan Ayah mengenalkan dia dengan wanita berkelas dan berpendidikan. Tapi dia menolak dan malah memarahiku. Sehingga kita diam dan berserah. Untung kali ini dia mau mengikuti saran dariku, untuk mencari teman hidup. Saat pilihan ibu jatuh pada kamu, tiba-tiba dia langsung mengiyakan. Ini merupakan anugerah dari yang diatas untuk kami dan Dirgantara. Jadi ... maafkanlah ibu, Nak Alina. Ini semua demi kebaikan kalian berdua. Tugas Dirgantara memang seperti ini, dan sebagai istri, kamu juga akan menjadi peran utama, Alina," jelas nyonya Suyarso panjang kali lebar pada menantu cantiknya itu.

Mendengar semua penjelasan dari sang ibu mertua, membuat Alina akhirnya bangkit dan memeluk erat tubuh mertuanya. "Alina juga minta maaf, Bu. Alina sangat egois." jawab Alina yang saat ini sesenggukan di bahu ibu mertuanya.

"Sudah ... sudah ... sekarang ayo kita masak," ucap sang ibu yang langsung diangguki oleh Alina.

Kini keduanya nampak ceria dan menikmati aktivitas masak di dapur. Sedikit berbincang, sang ibu menceritakan tentang masa kecil Dirgantara yang begitu cengeng dan sering sakit. Mendengar sepenggal masa lalu suaminya itu, membuat Alina tersenyum sinis. Seakan dia punya senjata untuk mengancam sang suami yang sering berbuat usil padanya. Setelah selesai mengerjakan dua resep masakan, ibu dan menantu itu pun beristirahat sejenak di meja makan. "Apakah kamu sudah bisa mempraktekkan masakan ibu tadi, Alina?" tanya nyonya Suyarso yang diangguki oleh Alisa. Wanita paruh baya itu pun tersenyum manis, akhirnya usahanya untuk mendapatkan hati Alina, berhasil.

Sore berganti malam, Alina bersama sang mertua tidur bersama dalam satu ranjang. Tiba-tiba Alina terbangun karena barusan mimpi buruk. Hatinya berdegup kencang, seakan ada sesuatu firasat yang menyayat hatinya. "Ada apa ini? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada mas Dirga?" gumam Alina dalam hati. Wanita cantik itu langsung meraih syal yang ada di samping tempat tidur dan pergi keluar kamar untuk melihat keadaan di luar.

"Kenapa ini? Kenapa hatiku berdebar tidak karuan? Apakah ada sesuatu?" di tengah gelapnya malam yang dingin, tiba-tiba datang sepeda motor parkir di halaman asrama. Seorang pria berseragam berjalan menghampiri Alina yang saat ini berdiri cemas.

"Mbak Alina?"

"Benar. Ada apa ya, Pak?" tanya wanita cantik itu semakin khawatir.

"Hmmm, apa kita bisa bicara di teras? Ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan pada mbak Alina?"

"Oh, silahkan, Pak!"

Suasana malam semakin mencekam, rasa takut dan cemas bercampur jadi satu dalam hari wanita bernama lengkap Alina Anastasia itu.

"Katakanlah, Pak!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Orang asing

    "Begini, katanya pak Dirgantara nitip minta dibawain selimut warna coklat yang ada di dalam lemari. Katanya di sana udaranya sangat dingin. Kebetulan saya mau pergi ke asrama satu, jadi sekalian saya bawain, Mbak," jawab pria paruh baya berseragam itu dengan wajah tenang. Seketika Alina menghela nafas kasar. Dia tidak menyangka, pria paruh baya itu benar-benar membuatnya jantungan. "Ya ampun, Pak. Saya kira ada kabar apa, ternyata hanya sebuah selimu. Kalau begitu bapak tunggu sebentar di sini. Saya akan ke dalam mengambilkan selimut pesanan mas Dirga," sahut Alina yang pergi meninggalkan pria berseragam itu menuju kamar. Dengan hati-hati, wanita cantik itu membuka lemari pakaian agar tidak membangunkan ibu mertuanya. Dengan seksama, Alina melihat-lihat lipatan selimut yang ada di depannya. "Apa yang ini?" batinnya sambil mengambil selimut tipis berwarna coklat dan membawanya ke depan. "Ini, Pak. Terima kasih ya Pak, sebelumnya sudah mau di repotkan." Pria itu pun berdiri dan meneri

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-08
  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Mertuaku

    Wanita paruh baya itupun akhirnya beranjak dari ruang tamu menuju kamar menantunya. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya nyonya Suyarso memberanikan diri untuk mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu. "Alina, apakah ibu boleh masuk?" tanya sang mertua sedikit sungkan. "Masuk, Bu," jawab Alina yang yang berbaring dengan posisi membelakangi pintu. "Nak Alina, apakah ibu boleh ngomong sebentar," lirih nyonya Suyarso yang kini sudah duduk di tepi ranjang. "Silahkan, Bu," jawab Alina masih dengan posisi yang sama. Setelah cukup lama terdiam, nyonya Suyarso akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan pada Alina, perihal sikapnya barusan yang tidak menghargai orang lain. "Jadi ... menurut Ibu, sikap Alina kurang baik?" lirih Alina yang kini sudah bangkit dan menatap ibu mertuanya itu. "Bukan begitu, Alina. Ibu hanya ingin memberi pengertian kepadamu. Barusan sikapmu yang main nyelonong itu salah, Nak. Seharusnya salam dulu dan menebar senyum. Walau tidak menyapa, setidaknya tersenyumlah

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-28
  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Tak terduga

    "Loh ... Dirgantara!" ucap sang ibu dengan senyum mengembang di wajahnya. Wanita paruh baya itu membuka lebar kedua tangannya, menyambut kedatangan putra sulungnya itu. Dirgantara langsung memeluk hangat sang ibu penuh kasih dan rindu. Abimanyu pun ikut berdiri dan menepuk lembut pundak sang kakak. Mereka nampak begitu bersemangat dan senang melihat kedatangan Dirgantara. Sejenak mereka terdiam dan menoleh ke arah Alina. "Na, sambut suamimu" ucap ibu yang mengagetkan Alina. "Hah," Segera wanita cantik itu menjabat tangan suaminya dengan senyum di wajah cantiknya. "Alina, ini bukan lebaran. Tapi dia suamimu yang baru pulang dari tugasnya. Disambut dong," titah sang ibu mertua yang membuat Alina mengerutkan keningnya. "Lah ... baru juga dua hari, Bu. Tidak sampai setahun, ngapain harus histeris begitu?" Jawaban dari Alina tersebut membuat Abimanyu tergelak. "Kamu istri yang hebat! Mantu pilihan ibu, memang keren. Aku suka!" sahut Abimanyu sambil merangkul pundak Alina. "Kamu ini ap

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-03
  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Tinggal sekamar

    AKU MENOLAK UNTUK DIJODOHKAN, TAPI AYAH DAN IBU MEMAKSAKU, HINGGA AKHIRNYA MENERIMA DAN …Batin Dirgantara sambil terus menatap lekat wajah cantik sang istri yang mulai mengoleskan krim di wajahnya. "Kenapa kamu melihatku seperti itu? Apakah ada yang salah dari wajahku?" tanya Alina terlihat sangat panik. Dia sangat perfect dalam berpenampilan, sehingga dia sangat takut, jika ada satupun yang kurang dari dirinya. Dirgantara menggeleng sambil berucap, "cantik, sangat cantik." Sontak jawaban dari Dirgantara itu membuat Alina salah tingkah. "Oh, begitu ya," lirih Alina yang kembali fokus pada kaca cermin yang ada di hadapannya. Sementara Dirgantara hanya terkekeh dan menggeleng. Dia benar-benar dibuat tergila-gila oleh wanita yang sekarang sangat manja dan keras kepala itu. Setelah selesai menggunakan krim di wajahnya, Alina bergegas merapikan tempat tidur dan bersiap untuk beristirahat. "Seharian tadi, ngapain aja dengan ibu?" tanya Dirgantara penuh rasa penasaran. Alina pun kembali t

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-04
  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Malam Pertama

    Dirgantara menatap Alina. Dia ingin mendengarkan perkataan Alina yang sempat terputus. "Liburan minggu depan, bolehkan aku pulang ke rumah ibu. Aku sudah rindu pada Ayah dan Ibu," lirih Alina yang langsung diangguki oleh suaminya itu. "Terima kasih ya, Mas," imbuh Alina nampak begitu bahagia dan girang. Melihat istrinya begitu bersemangat, membuat Dirgantara senang. "Baiklah, berangkatlah dengan hati-hati. Ingat, pulang tepat waktu, aku akan buatkan makanan untukmu," ucap Alina sambil memperbaiki pakaian suaminya. "Aku tidak bisa menentukan kapan waktu pulang, Alina. Nanti, aku akan kabari lagi," ucap Dirgantara yang kemudian pergi meninggalkan kediamannya yang nyaman itu menuju tempat tugas. Di sana sudah berbaris para prajurit melakukan pelatihan-pelatihan yang biasa di lakukan untuk persiapan diri. Dirgantara masuk ke dalam sebuah gedung dan melakukan pertemuan dengan atasannya. Mereka merencanakan sesuatu untuk pengiriman para prajurit ke daerah rawan konflik. Dirgantara nampa

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-05
  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Dunia kita Indah

    "Maafkan aku yang belum bisa membuatmu senang," lirih Alina yang membuat sang suami terkekeh. Kedua mata pasangan itu kini saling beradu. Ada tekanan dalam dada Dirgantara yang ingin keluar dari tempatnya. "Alina, bolehkah aku mencium keningmu? Sekali saja?" lirih sang Letnan berpamitan pada istrinya. Tanpa banyak berpikir, Alina akhirnya tersenyum dan mengangguk, yang membuat hati Dirgantara seketika menjadi lega. Dengan lembut, pemuda berwajah sempurna itu mengecup hangat kening Alina. Tanpa di sadari, Dirgantara lanjut mencium kedua pipi dan hidung Alina yang mancung. "Mas""Aku tahu, kamu belum siap," jawab Dirgantara yang masih terus mengamati wajah cantik istrinya. Alina kemudian mengatakan pada Dirgantara untuk tidak memberitahu ibu mertuanya, masalah masakannya hari ini. Seketika Dirgantara terkekeh tiada henti. "Alina ... Alina ... ya tidak mungkinlah. Apalagi, masakanmu tadi begitu enak," sahut Dirgantara yang membuat Alina gemas dan memukul kesal pada suaminya. "Jahat

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-06
  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Cemburu

    "Ngapain menjelaskan padaku, Mas. Nggak penting," ketus Alina yang membuat Dirgantara tercengang. Bagaimana bisa istrinya itu terlihat santai, saat suaminya di rangkul wanita lain. Karena kesal dengan ulah istrinya, Dirgantara akhirnya berjalan pergi menuju tempat yang sudah di siapkan untuk dirinya dan Alina. "Dia siapa, Mas Dirga?" tanya Saras pada bawahan ayahnya itu. "Istri," jawab Dirgantara dengan nada dingin. Seketika Saras membulatkan kedua matanya. Dia tidak habis pikir kalau si tampan yang selama ini menjadi incarannya sudah menikah. "Kapan?" tanya Saras dengan nada serius. "Dua minggu lalu," jawab Dirgantara masih dengan wajah yang sama. Sesekali dia menoleh ke belakang mencari keberadaan istrinya yang tak kunjung datang ke tempatnya. "Saras, tolong jangan begini. Nggak enak di lihat yang lain. Apalagi aku sudah punya istri." tegas Dirgantara pada Saras sedikit berbisik. Terlihat putri dari atasannya itu terus menempel padanya. Hingga acara pun di mulai, Alina tidak kunjun

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Pendakian yang sukses

    Alina memejamkan kedua matanya dengan kedua tangan mencengkeram rambut suaminya kuat-kuat. "Alina" panggil Dirgantara yang kini kembali saling memandang, "apakah kamu benar-benar sudah siap untuk melakukan ini denganku?" tanya Dirgantara yang sudah tak mampu di jawab oleh wanita cantik itu. "Setelah kamu mendaki terlalu jauh, kenapa masih bertanya lagi?" ketus Alina mulai kesal. Melihat merah merona pipi sang istri, Dirgantara langsung melayangkan ciuman hangatnya. Kali ini, dia tidak akan membuat marah si cantik lagi. "Alina kamu benar-benar memikatku," bisik Dirgantara dengan kedua tangannya yang sudah mere mas lem but dua pegunungan yang menantang itu. "Tunggu, Mas," lirih Alina meraih wajah Dirgantara yang sudah hilang kendali. Nafasnya terengah-engah menahan gejolak di dalam dirinya. "Apakah aku terlalu kasar dan menyakitimu," bisik pemuda itu lagi begitu berhati-hati bermain dengan istrinya. "Tidak mas, tapi aku malu," lirih Alina yang membuat Dirgantara terkekeh, yang kemudian

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-10

Bab terbaru

  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Wanita Hamil

    Dengan tertatih-tatih wanita itu menghampiri seseorang yang nampak lemah penuh luka. "Ya ampun, Mas. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya wanita hamil itu mencoba membantu pria itu dari semak belukar. "Saya ada di mana ini?" tanya lemuda itu lagi dengan darah yang mengucur di seluruh tubuhnya. Wanita manis berkulit sawo matang itu menggelengkan kepalanya, dia tidak mau menanggapi pertanyaan dari pria itu. Sang wanita memilih menyelamatkannya terlebih dahulu. Tidak jauh dari tempatnya berjalan, terlihat camp-camp kecil pemukiman milik warga sekitar. "Masuk dan duduklah, aku akan merebus air untuk membersihkan luka-lukamu, Mas. Disini jauh dari tempat kesehatan. Jadi, tolong bersabar ya," ucap wanita hamil itu dengan nada lembut. Segera wanita bernama Ana itu merebus air yang akan dia gunakan untuk membersihkan luka-luka di tubuh pemuda itu. "Siapa dia, Ana?" tanya wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Ana. Dia melihat bingung pada pemuda berseragam loreng yang penuh dengan noda da

  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Firasat

    "Ayo istirahat, Na" ajak sang ibu dengan wajah tenang dan ramah. Alina pun mengangguk dan mulai terpejam, dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan sang suami yang baru saja berangkat. Dia terus meminta tolong pada Alina yang tak bisa menggapai tangannya. mimpi buruk itu, membuat Alina kembali terbangun. Nafasnya ngos-ngosan tidak karuan. Dia tidak tahu apa arti dari mimpinya tersebut. Tiba-tiba, ponselnya berdering, sebuah panggilan darurat dari tempat bertugas Dirgantara, memberitahukan kalau pesawat militer yang di tumpangi puluhan prajurit dan letnan itu jatuh dan hilang dari radar. Sejenak Alina tidak bisa berkata-kata. Dia terdiam tanpa kata dan bengong menatap jam dinding yang tengah berputar."Apakah aku bermimpi? Apakah aku masih di alam mimpi? Ibu! Ibu!" teriakan dari Alina membuat sang ibu kaget dan bergegas pergi ke kamar putrinya untuk melihat keadaan Alina. Wanita paruh baya itu memeluk Alina dan menenangkannya. Perlahan-lahan dia mulai bertanya pada Alina tentang kepa

  • Jodoh Dadakan Dirgantara   pilihan

    Diam-diam, Alina mendengar perbincangan suaminya dengan sang atasan. Sejenak Alina terdiam dan menghela nafas dalam-dalam. "Apakah benar, kamu akan pergi selama setahun? Bukannya pangkatmu itu sudah tidak harus pergi-pergi ke luar daerah, Mas?" ketus Alina saat sang suami mengakhiri panggilannya. "Bukan begitu, Na. Ini darurat, harus ada yang membimbing dan mengarahkan para prajurit. Aku tidak bisa memilih, Na. Ini adalah pekerjaanku dan aku harus siap menanggung konsekuensinya.""Sekalipun harus meninggalkan istrinya yang tengah hamil?" sahut Alina yang membuat Dirgantara terdiam sejenak. "Hah, maafkan aku, Na. Aku akan meminta tolong pada ayah dan ibu, untuk menjagamu," lirih Dirgantara yang membuat Alina berkaca-kaca. "Terserah kamu, Mas. Intinya aku kecewa," timpal Alina dan membelakangi suaminya. "Na ....""Udahlah, Mas. Aku nggak bisa berkata-kata lagi selain mengikhlaskan kamu," tegas Alina yang membuat Dirgantara meneteskan air matanya. Hari yang seharusnya membuat kelua

  • Jodoh Dadakan Dirgantara   positif

    "Mau paha kirinya, Pak," sahut Dirgantara terlihat frustasi. Tidak lama, penjual memberikan dua paha goreng lagi pada Dirgantara. "Ini asli kiri ya, Pak?" "Hmmm, kayaknya iya. Menurut mata batin saya, Mas," jawab sang penjual yang diangguki oleh Dirgantara. Setelah membayar, Dirgantara kembali pulang menemui istrinya yang saat ini sudah muntah-muntah di kamar mandi. "Alina, jangan-jangan kamu hamil?" tanya Dirgantara yang menatap panik pada istrinya. "Entahlah, Mas. Rasanya aku malas ngapa-ngapain. Kamu bikin makanan sendiri aja. Aku mau istirahat. Kalau ibumu tiba-tiba datang lagi, bilang jangan buat keributan dulu." ucap Alina sambil berjalan melewati suaminya yang masih membawa bungkusan ayam goreng. "Na, terus paha kirinya gimana?" tanya Dirgantara bengong menatap sang istri."Udah nggak nafsu," ketusnya yang langsung masuk ke dalam kamar. Dirgantara hanya bisa menghela nafas dalam-dalam dan menaruh paham ayam goreng di atas meja makan. "Mas!" panggil Alina lagi yang membuat D

  • Jodoh Dadakan Dirgantara   paha ayam kanan

    "Na!!" sapa Dirgantara yang berlari mengikuti langkah sang istri. "Jangann, Na!" teriak Dirgantara membuat tetangga sebelah keluar. Mereka bertanya pada Dirgantara dan juga Alina, tentang keributan yang terjadi. Alina pun menjawab, kalau dirinya ingin suaminya mencurikan mangga milik tetangganya itu. Sejenak sang tetangga terdiam dan saling memandang. Sepertinya mereka paham dengan apa yang barusan di katakan oleh Alina. "Oh, istrinya ngidam maling mangga ya, Pak?" "Hah ... anu ... iya!" jawab Dirgantara asal, dia tidak mau menambah masalah lagi. "Oalah, ya udah, Pak. Silahkan di curi mangganya. Kita nggak lihat kok, iyakan Pah," ucap sang istri yang diangguki suaminya. "Iya, nggak apa-apa, Pak. Curi saja setiap kepingin." sahut sang suami dari tetangga sebelah dan kembali masuk. Dirgantara dan Alina celingukan saling pandang. "Loh, mau kemana, Mas?" tanya Alina yang melihat suaminya itu mendekati buah mangga. "Katanya suruh nyuri, mumpung harga diriku masih setengah tiang ni

  • Jodoh Dadakan Dirgantara   pingsan

    Alina terkapar tak sadarkan diri, tidak ada pergerakan dari tubuh mungilnya yang mulai berisi itu. Dirgantara yang baru saja berangkat, tiba-tiba merasa cemas dan khawatir dengan keadaan Alina yang dia tinggal begitu saja. "Hah, astaga. Saking banyaknya pekerjaan dan masalah tentang ibu, membuat aku dan Alina semakin jauh dan asing. Aku sudah jarang menyentuh dan memperhatikannya." gumamnya di sepanjang perjalanan. Karena hatinya terus gusar dan gelisah, Dirgantara akhirnya berbalik arah menuju rumahnya lagi. Dia ingin meminta maaf pada istrinya, tentang sikapnya yang kurang baik akhir-akhir ini. Sesampainya di rumah, pria gagah dan berseragam itu mencari-cari keberadaan istrinya yang tak ada di manapun. "Alina!" panggilnya lagi, tapi tidak ada tanggapan dari wanita manja yang biasanya banyak tanya itu. Langkahnya terhenti, saat melihat sang istri jatuh pingsan diantara meja makan. Segera dia menghampiri Alina dan mengangkat tubuh wanita cantik itu menuju sofa. "Alina! Bangun, Na. Sa

  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Pilih Ibu atau Aku

    Wanita paruh baya itu spontan menampar pipi mulus milik Alina. Selama ini, wanita cantik itu tidak pernah mendapatkan kata-kata kasar apalagi tamparan. Tanpa banyak bicara lagi, Alina langsung pergi meninggalkan sang ibu mertua menuju kamar. "Alina! Na ...! Aduh, gimana ini. Kenapa aku kebablasan mukul anak orang sih. Apalagi dia juga menantu pilihanku. Kenapa akhir-akhir ini aku banyak bicara, apa karena aku sedang banyak pikiran, karena Abimanyu ingin menikahi janda," gerutu wanita paruh baya itu penuh kebingungan. "Alina ... apakah ibu boleh masuk?" tanya sang ibu sambil mengetuk pintu kamar. "Nggak perlu, Bu. Palingan ibu akan buat masalah lagi. Mendingan ibu pulang. Alina pengen sendiri!" teriak wanita cantik itu dari dalam kamar. Sang ibu mertua hanya bisa menghela nafas panjang dan kembali ke ruang tamu. Kebetulan ada abang tukang sayur lewat, yang langsung dipanggil oleh ibu dari Dirgantara itu. Dia memilih beberapa sayuran dan lauk pauk untuk dimasak nanti sore. Setel

  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Minta kepastian

    Seketika Dirgantara terkejut saat Alina mendengar perbincangannya dengan sang ibu. "Sekarang tanya pada ibumu itu mas, maunya apa? Kemarin dia memuja-muja aku. Sekarang ganti wanita lain yang dipuja. Nggak masuk akal tahu! Kalau aku belum kamu sentuh, aku sudah minta cerai, Mas!" celoteh Alina dengan kedua mata yang berkaca-kaca. "Alina ... Alina tolong tenangkan dirimu!" tegas Dirgantara mencoba menenangkan istrinya lagi. "Kamu selalu begitu, Mas. Selalu mencoba menenangkan aku, tapi tidak bisa mencari solusi. Sejak awal aku sudah lelah dengan semua aturan yang ibumu itu buat! Aku malas!" Alina pergi berlalu menuju kamarnya lagi. "Alina! Alina ..." panggil Dirgantara kembali mengikuti istrinya. Dirgantara berusaha membujuk dan mencari jalan keluar dari semua masalahnya ini. "Kita nggak usah mikirin omongan ibu. Kita juga nggak usah sering-sering ke tempatnya. Udah, ayo sekarang kita istirahat. Yang menjalani itu aku dan kamu, bukan ibu. Apakah kamu tidak mengingat, bagaimana ka

  • Jodoh Dadakan Dirgantara   Pindah Posisi

    Ibu memberitahukan lagi, kalau tadi Alina menunggu dirinya di mobil. "Kok tiba-tiba Alina pergi ke mobil? Memangnya ibu barusan ngomong apa padanya? Pasti ibu aneh-aneh lagi, deh" Ibu hanya menggeleng dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Terlihat Dirgantara tengah sibuk menghubungi seseorang. "Maafin ibu ya, Nak. Bukan maksud ibu melukai hati Alina. Tapi, ibu hanya ingin yang terbaik untuknya. Ibu juga tidak mau kamu terlalu sibuk, karena ulahnya." sahut sang ibu menambah ke dalam Dirgantara. Segera Dirgantara meminjam motor ayahnya dan pergi mencari istrinya. Di sepanjang perjalanan, hatinya sangat kacau. Dirgantara tidak bisa berpikir apa-apa, selain mengkhawatirkan Alina. Terlihat mobil miliknya tengah melaju kencang menuju daerah asrama. Seketika, hati Dirgantara merasa lega, karena akhirnya Alina pulang ke asrama dengan selamat. Tidak jauh, terlihat mobil itu berbelok ke halaman. "Alina!" panggil sang suami yang melihat istrinya itu buru-buru berjalan memasuki kediamannya. "A

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status