Sebelum itu, Boris sudah berkata lebih dulu, “Kakek, aku dan Zola belum bercerai. Tapi Kakek mau jodohkan dia dengan pria lain. Kalau hal ini sampai tersebar, bukan hanya akan buat aku kehilangan muka. Tapi seluruh keluarga Morrison akan kehilangan muka.”“Huh, kamu sedang ancam aku?” tukas Hartono.“Aku hanya katakan faktanya.”Boris berkata dengan nada bersungguh-sungguh. Alisnya sedikit berkerut, dengan sedikit ketidakberdayaan.“Nggak usah ancam aku dengan ini. Keluarga Morrison nggak akan mudah kehilangan muka.”“Kakek benar. Tapi kalau terlalu banyak rumor juga akan mengacaukan pikiran orang. Apalagi sekarang proyek baru Morrison Group sudah resmi dimulai. Banyak orang yang perhatikan proyek ini. Di atas ada, di bawah juga banyak yang ingin menjatuhkan kita. Di saat seperti ini kita harus hati-hati dalam bertindak. Bagaimana menurut Kakek?”Wajah dan sorot mata Boris terlihat sangat serius. Dia mengatakan hal itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Morrison Group.Boris
Kebetulan Zola juga bisa memanfaatkan waktu ini untuk menyelesaikan proyek yang ada di tangannya. Zola tidak menunggu Boris datang untuk menjemputnya. Dia meminta sopir di rumahnya untuk datang dan membawanya pulang ke Bansan Mansion.Hartono bahkan mengantar Zola sampai ke mobil. Sebelum pergi, Hartono berbisik padanya, “Zola, kalau perasaanmu terhadap Boris berubah selama perceraian kalian ditunda, kalian berdua juga sepakat untuk melanjutkan pernikahan kalian, berilah dia satu kesempatan lagi. Juga berikan satu kesempatan pada keluarga Morrison. Kita berikan keluarga yang lengkap untuk anakmu tanpa membuat dirimu sendiri menderita, oke?”Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telinga Zola. Terus berlanjut sampai dia tiba di Bansan Mansion. Zola berulang kali bertanya pada dirinya sendiri. Jika hari itu benar-benar tiba, apakah dia akan setuju? Akankah Boris bersedia?Karena dirawat selama dua hari di rumah sakit, wajah Zola masih terlihat sangat pucat. Namun, itu tidak mengurangi k
“Boris, aku hanya punya kamu. Kalau kamu nggak inginkan aku lagi, lebih baik aku mati saja.”Semakin lama suara Tyara semakin pelan. Pada akhirnya, dia langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban Boris. Setelah itu, dia membawa mobil dan meninggalkan Bansan Mansion. Dia ingin pergi ke rumah keluarga Morrison untuk bertanya mengapa mereka memperlakukannya seperti ini.Boris hanya berpikir kalau Tyara belum bisa menerima hal ini. Jadi dia berencana untuk menjelaskan alasannya nanti setelah dia pulang ke Bansan Mansion. Hanya saja, Tyara tak kunjung kembali. Boris meneleponnya, tapi tidak ada yang angkat. Boris juga menghubungi manajer Tyara, tapi si manajer mengatakan kalau dia tidak bertemu Tyara.Tyara tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Ditambah lagi, cuaca di Kota Binru tidak begitu bagus akhir-akhir ini. Saat ini di luar sudah hujan deras.Sudah pukul sepuluh malam. Boris mengerutkan keningnya, aura dingin terpancar dari kedua matanya. Pada akhirnya, dia mengambil ponsel dan menghub
Zola mengerutkan bibirnya. Ada rasa gelisah di hatinya, yang membuatnya tidak nyaman. Entah berapa lama kemudian, dia yang baru saja tidur terbangun oleh dering ponselnya.Panggilan dari nomor tidak dikenal. Zola langsung menjawab, hatinya tiba-tiba menjadi tegang saat dia berkata, “Halo?”“Bu Zola, ini saya. Bu Zola bisa datang ke rumah sakit sekarang? Pak Boris mengalami kecelakaan. Sekarang Pak Boris sedang di ruang operasi ....”Itu telepon dari Jesse. Otak Zola seketika menjadi kosong. Dia sudah tidak mendengar apa pun yang Jesse ucapkan. Seluruh tubuhnya jadi dingin dan membeku.“Apa yang terjadi padanya?” tanya Zola dengan suara bergetar.“Pak Boris mengalami kecelakaan di jalan ....”Tangan Zola yang memegang ponsel tiba-tiba menjadi lemas. Ponselnya jatuh, dia pun segera duduk. Kedua matanya bergetar. Dia mengambil ponselnya dan berkata dengan suara yang jelas bergetar, “Oke, aku akan segera ke sana ....”Zola mengganti pakaiannya secepat mungkin dan turun ke bawah. Sekarang s
“Bu Tyara sudah ditemukan, tapi dia masuk angin dan demam tinggi. Sekarang masih diinfus,” jawab Jesse.“Oke, aku mengerti. Kalau begitu, kamu bantu jaga di sini saja. Untuk masalah lainnya, tunggu sampai dia sadar baru bicarakan lagi.”Setelah mengatur semuanya, Zola meninggalkan bangsal. Sebenarnya dia ingin langsung pergi menemui Tyara dan bertanya padanya, tapi Zola cepat-cepat mengurungkan niatnya tersebut. Boris menerobos hujan lebat di tengah malam untuk mencari Tyara. Bukan Tyara yang paksa Boris dengan menaruh pisau di lehernya. Jadi atas dasar apa Zola mencarinya?Zola langsung kembali ke Bansan Mansion dengan mobilnya. Selesai cuci muka, dia sarapan dulu. Kemudian, dia mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah itu, dia baru kembali ke kamarnya untuk tidur.***Di rumah sakit.Boris sadar sekitar pukul delapan pagi. Saat itu, Zola sudah lebih dari satu jam meninggalkan rumah sakit. Begitu membuka matanya, Boris melihat seorang perempuan duduk di sampingnya dengan tangan menopan
“Nggak usah, biarkan dia istirahat.”Nada bicara serta sorot mata Boris begitu dingin. Sekali lihat semua orang tahu kalau dia sedang tidak senang. Jesse jadi lebih berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan apa pun, takut dirinya akan menginjak ladang ranjau si bos dan terluka.Zola tidur lama sekali. Dia tidur sampai sore baru bangun. Ada beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya. Semuanya telepon dari Mahendra. Zola segera menghubunginya kembali.“Ada apa, Dra? Aku baru bangun.”“Nggak apa-apa. Aku lihat kamu nggak datang ke kantor, jadi khawatir. Suaramu agak serak, La. Ada apa?” tanya Mahendra dengan perhatian.“Mungkin aku kurang istirahat. Hari ini aku nggak ke kantor dulu. Aku sudah revisi sketsa yang dikirimkan pihak Stonerise. Kalau ada bagian yang kurang memuaskan, kamu coba komunikasi dengan mereka, lihat apakah mereka bersedia untuk direvisi. Kalau mereka nggak mau, kita hanya bisa tingkatkan dari dasar awal.”Zola bangun dan mencuci wajahnya. Setelah itu, dia turun un
“Tyara, kamu terlalu banyak memikirkannya. Kamu nggak perlu jaga aku terus. Bukankah kamu masih sedang mempersiapkan comeback?”“Urusan comeback nggak lebih penting dari kamu. Kamu jadi seperti ini karena aku, jadi sudah pasti aku harus menjagamu.”Semua pandangan Tyara hanya ada lelaki itu. Setiap memikirkan bahwa Boris kecelakaan demi mencari dirinya. Perasaannya dipenuhi ketakutan dan juga perasaan senang. Senang karena di hati lelaki itu masih ada dirinya dan takut jika terjadi sesuatu pada Boris.Namun entah mengapa lelaki itu tidak bisa merasa bahagia.“Boris, Zola nggak datang ke rumah sakit. Dia marah, ya? Kalau marah, aku bisa minta maaf sama dia. Aku takut Kakek tahu kalau dia nggak datang dan akan menyalahkanmu yang melukai ego Zola demi aku. Aku nggak mau kamu disalahkan. Aku bisa menjelaskan pada Zola.”“Nggak perlu. Kakek nggak akan tahu aku terluka. Sudah, aku sedikit lelah. Kamu pulang saja, nggak bagus juga kalau kamu seharian di rumah sakit terus,” kata Boris dengan w
Tedy menatap lelaki itu sambil berkata, “Atau kamu berharap Tyara yang bantu kamu bersih-bersih? Kalau iya, kamu bilang saja, aku bisa bantu kamu.”“Pergi!” Boris mendelik sinis pada Tedy.Lelaki yang dilirik hanya tersenyum miring. Dia meletakkan keranjang buahnya dan mendadak ekspresi tawanya berubah serius. Dengan suara rendah dia berkata, “Boris, masalah kali ini kecelakaan atau kecelakaan?”Hanya mereka berdua yang bisa membedakan dua kata “Kecelakaan” yang memiliki arti berbeda. Kedua bola mata Boris menyipit dan berkata, “Nggak penting ini kecelakaan atau bukan. Hujan malam itu terlalu deras, nggak kelihatan jejak apa pun sama sekali.”Ditambah lagi ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan dengan terang-terangan saat ini. Tedy tidak melanjutkan ucapannya lagi ketika mendengar kalimat Boris.Di waktu yang sama, dari arah luar terdengar sebuah suara yang berkata, “Bu Tyara, kenapa kamu ada di sini?”Suara itu adalah milik Jesse. Meski dibatasi oleh tembok, Tedy dan Boris bisa m