"Val... Valerie, tunggu!"Langkah Valerie terhenti di depan koridor menuju toilet ketika mendengar suara yang sudah lama tak ingin ia dengar dengan nada penuh harap. Ia mendesah pelan, merapikan gaunnya yang elegan sebelum berbalik dengan ekspresi malas.Charlos sudah berdiri di hadapannya, wajahnya dipenuhi kecemasan dan rasa bersalah yang terlambat. Pria itu mengulurkan tangan, berusaha menggenggam pergelangan Valerie, namun dengan sigap wanita itu menepisnya."Apa!" sentak Valerie dengan nada tajam.Charlos menatap Valerie dengan sorot mata terluka, seolah ia adalah korban di sini."Maafkan aku," ujarnya dengan suara rendah, penuh kepura-puraan. "Kita kembali seperti dulu lagi, ya? Aku masih mencintaimu."Jika kata-kata itu diucapkan Charlos dulu, mungkin Valerie akan luluh. Mungkin ia akan menangis, mempertimbangkan untuk memaafkan. Namun, sekarang?Perasaan itu sudah lama mati.Valerie menyeringai kecil, memandang Charlos dengan tatapan penuh ejekan."Lucu sekali," katanya pelan,
“Kenapa lama sekali?”Aldrich bersandar di meja bar, tatapannya tajam saat melihat Valerie berjalan dengan ekspresi kesal.Tanpa menjawab, Valerie langsung meraih gelas koktail dingin dan meneguknya habis dalam sekali tegukan. Gelas berkaki itu diletakkannya kembali dengan sedikit hentakan, seolah ingin melampiaskan kekesalannya.“Charlos mencegatku!” desisnya, nafasnya sedikit naik turun.Alis Aldrich terangkat. Tatapan matanya berubah dingin, rahangnya mengeras.“Dia bilang masih mencintaiku. Cih, siapa yang sedang dia bohongi?” Valerie tertawa sinis, menggeleng tak percaya.Aldrich tetap diam. Namun sorot matanya semakin tajam, seolah menilai sesuatu yang tak diungkapkan Valerie.“Jadi, apa kau masih mencintainya?” tanyanya datar.Valerie yang baru saja meneguk minuman keduanya nyaris tersedak. Matanya melebar, menatap Aldrich dengan tak percaya.“Serius kau bertanya begitu?” Valerie menghela nafas, lalu mendekat, tatapannya penuh ketidakpercayaan.“Kalau aku masih mencintainya, ak
Valerie terperangah, napasnya tercekat. Tatapan Aldrich begitu dalam, begitu membara, seolah pria itu benar-benar akan melakukannya.Musik masih mengalun, tetapi bagi mereka, dunia terasa berhenti. Hanya ada Aldrich. Hanya ada ketegangan di antara mereka yang kian menyala.Valerie tahu seharusnya dia menjauh, menghindar, tetapi tubuhnya terasa terpaku di tempat. Kenapa godaan pria ini begitu kuat, begitu menggoda?Aldrich semakin mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Valerie. Napas hangatnya menyapu kulitnya, menciptakan sensasi aneh yang membuat jantung Valerie berdebar tak karuan.Matanya menatap bibir Valerie, lalu kembali menatap mata wanita itu, seolah memberi kesempatan untuk menolak. Namun, Valerie tetap diam, tidak mundur, tidak menghindar.Saat itulah Aldrich kehilangan kendali.Tangannya melingkar di pinggang Valerie, menarik tubuh wanita itu lebih dekat. Lalu, tanpa peringatan, bibirnya menyapu bibir Valerie—lembut, namun mendalam.Valerie terkejut, tapi buka
"Dalam mimpimu!" Valerie mendesis sebelum menginjak kaki Aldrich dengan cukup kuat.Aldrich meringis, tapi senyumnya tetap terpatri di wajah. Valerie juga tersenyum, meski giginya rapat menahan gemas."Lihat betapa mesranya mereka." Dylan tertawa kecil, melirik ke arah Bastian. "Sepertinya kita harus memberikan waktu untuk sepasang kekasih yang sedang kasmaran ini."Bastian dan yang lainnya mengangguk setuju. Sebelum pergi, Bastian menepuk bahu Aldrich dengan santai, seakan memberi restu yang tak perlu.Begitu orang tua mereka menghilang dari pandangan, Valerie langsung melepaskan dirinya dari Aldrich. Ia menatap pria itu dengan tajam."Dasar tidak tahu tempat!" gerutunya, meninju dada Aldrich dengan gemas.Aldrich hanya terkekeh, tangannya terangkat menahan serangan kecil Valerie. "Tapi kau menikmatinya, kan, babe?" godanya, matanya berkilat nakal.Valerie mendelik tajam. “Berhenti memanggil aku ‘babe’!” katanya, tapi pipinya masih bersemu merah.Aldrich terkekeh. “Baiklah, sayang?”
"Valerie!"Suara klakson mobil membelah pagi yang tenang, disusul oleh panggilan seseorang yang sangat dikenalnya.Valerie yang baru saja keluar dari gedung apartemennya sontak terlonjak. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena terkejut dengan kehadiran seseorang yang tak diundangnya, tetapi karena rasa muak yang langsung menjalar dalam dirinya.Di seberang jalan, Charlos bersandar santai di bodi mobil sport hitamnya, satu tangan menyelip di saku celana, sementara tangan lainnya memegang rokok yang belum dinyalakan. Kemeja putihnya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat di lengannya yang tegang. Rambutnya yang selalu tertata rapi kini sedikit berantakan, menambah kesan kasual yang sengaja dibuat.Matanya menyipit di bawah sinar matahari pagi, menatap Valerie dengan senyum yang tak bisa dijabarkan—entah itu senyum menggoda, mengejek, atau mungkin penuh kepemilikan. Sesekali, bibirnya bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia menahan diri.Sepatu kulitnya yang mengila
"Kau pikir kau siapa? Aku lebih dulu mengenal Valerie! Kau hanya pria yang kebetulan beruntung!" Charlos menatap Aldrich dengan penuh kebencian. Aldrich tersenyum miring, tetapi ada nada dingin dalam suaranya. "Beruntung? Oh, aku tidak percaya pada keberuntungan, Charlos. Aku percaya pada kepemilikan. Dan Valerie adalah milikku."Charlos tertawa sinis. "Milik? Hah! Dia hanya menggunakanmu sebagai pelampiasan! Dia tidak benar-benar mencintaimu, Aldrich. Pertunangan ini hanyalah caranya untuk membalas dendam padaku."Valerie menegang. Ia ingin menampar Charlos atas tuduhan tak masuk akal itu, tetapi Aldrich lebih cepat.Bug!Tinju Aldrich menghantam rahang Charlos begitu keras hingga pria itu terhuyung ke belakang, hampir jatuh ke aspal. Valerie terkejut, tetapi diam-diam merasa puas melihat Charlos mendapatkan balasannya.Aldrich mendekat, menatap Charlos yang kini memegangi rahangnya dengan mata membelalak. "Sekali lagi kau mengatakan omong kosong seperti itu atau menyentuh Valerie
"Apa kau juga lupa? Kita ini hanya berpura-pura," balas Valerie acuh setelah berhasil meredam jantungnya yang berisik. Bibirnya tersenyum, tetapi entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya saat mengucapkan itu. Aldrich menarik napas panjang, rahangnya sedikit mengeras. Namun, bukannya membalas, ia hanya mengangguk singkat, lalu meneguk sisa espresso miliknya dalam satu tegukan. Keheningan menyelimuti mereka sejenak, hanya suara gesekan sendok di cangkir dan obrolan samar dari meja lain yang terdengar. Valerie merasa sedikit tidak nyaman. Ia tidak tahu kenapa, tetapi ekspresi Aldrich yang tiba-tiba datar membuatnya gelisah. Setelah beberapa detik, Aldrich melirik cangkir cokelat panas Valerie yang masih terisi setengah. "Ayo habiskan minumanmu," suaranya terdengar lebih tenang dari sebelumnya, meski ada sedikit nada mendesak. "Kita bisa terlambat." Valerie mengangguk pelan, lalu menyesap minumannya dalam diam. Namun, di dalam hatinya, ada pertanyaan yang terus berp
Setelah pintu tertutup, suasana dalam ruangan terasa lebih tenang. Valerie masih diam di tempatnya, menatap tempat sampah di mana buket bunga itu kini teronggok tanpa arti. Ia menghela napas pelan."Terima kasih," ucapnya tanpa menoleh pada Aldrich.Aldrich tidak segera menjawab. Ia mendekati meja Valerie, bersandar di tepiannya sambil menyilangkan tangan di dada. "Kau bisa saja memberitahuku jika bajingan itu masih mengganggumu."Valerie mendesah, akhirnya menatap Aldrich. "Aku tidak mau membuat masalah ini jadi lebih besar. Lagi pula, aku bisa menanganinya sendiri."Aldrich menyipitkan mata, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit. "Begitu? Karena dari yang kulihat, kau tampak terganggu."Menggigit bibirnya, Valerie tidak ingin mengakui hal itu. Namun, Aldrich selalu bisa membaca dirinya lebih baik daripada yang ia harapkan."Aku hanya tidak suka melihat Charlos masih berusaha kembali dalam hidupku. Itu menjijikkan," akhirnya ia mengaku.Aldrich mengangguk kecil, lalu mengangkat daguny
Sepanjang perjalanan pulang, Aldrich mengemudi dengan satu tangan di kemudi, sementara tangan satunya tetap menggenggam tangan Valerie, seolah tak ingin melepaskannya. Wajah Aldrich masih menyiratkan kebahagiaan yang tak terbendung. Senyumnya tak pernah benar-benar hilang sejak mereka keluar dari ruang dokter. Fakta bahwa anak mereka sehat sudah cukup membuatnya merasa lega, tetapi ada satu hal lagi yang diam-diam membuatnya lebih bersemangat—dokter memastikan bahwa mereka masih bisa melakukan hubungan suami istri, asal dilakukan dengan hati-hati.Dari tempat duduknya, Valerie menoleh dan menatap pria di sampingnya dengan penuh rasa ingin tahu. Ia menahan senyum melihat ekspresi Aldrich yang masih begitu berbinar, nyaris seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah impian.“Kau sesenang itu?” tanya Valerie dengan nada geli.Aldrich menoleh sekilas sebelum kembali fokus pada jalan, bibirnya melengkung dalam senyum penuh makna.“Tentu saja,” jawabnya tanpa ragu. Suaranya dalam,
Aldrich menepati janjinya. Pagi-pagi sekali, ia sudah membawa Valerie ke rumah sakit.Di dalam ruang dokter, Aldrich duduk di sebelah Valerie dengan ekspresi serius. Matanya tajam memperhatikan setiap detail yang dokter katakan, sementara tangannya menggenggam jemari Valerie seolah tak ingin melepaskannya.Sementara itu, Valerie terlihat anggun dalam balutan dress longgar berwarna pastel. Rambut panjangnya tergerai indah, dan meskipun ia hanya mengenakan riasan tipis, wajahnya tetap memancarkan pesona alami. Namun, perhatian Valerie justru tertuju pada Aldrich—pria yang biasanya tenang itu kini tampak tegang. Rahangnya mengeras, matanya nyaris tak berkedip, seakan takut melewatkan satu informasi pun.Dokter yang menangani mereka, seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah, tersenyum melihat ekspresi Aldrich. "Tuan Aldrich, Anda tampak lebih gugup daripada pasien saya," ujarnya santai.Aldrich berdehem, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Saya hanya ingin memastikan semuanya ba
"Kau sudah tidur?" suara Valerie terdengar pelan dalam keheningan kamar.Ia memiringkan tubuhnya, berbaring menghadap Aldrich. Matanya menatap pria itu dari samping, mengamati garis rahangnya yang tegas dalam cahaya redup kamar. Tangan Valerie bertaut di depan dadanya, jemarinya sesekali bergerak, seolah ragu untuk menyentuh pria di hadapannya.Aldrich, yang sejak tadi berusaha memejamkan mata, berdehem pelan. Ia tidak benar-benar tidur, hanya mencoba menahan diri. Tubuh mereka berbagi ranjang yang sama, namun Aldrich menjaga jarak, seolah batas tak kasatmata tetap ada di antara mereka."Hm.""Aku tidak bisa tidur," gumam Valerie, suaranya terdengar seperti keluhan kecil.Mata Aldrich perlahan terbuka. Ia menyerah. Dengan gerakan tenang, ia ikut memiringkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan."Ada apa?" tanyanya, suaranya lembut, penuh kesabaran.Valerie mendesah pelan, lalu menggeleng. Namun, meski bibirnya tak mengungkapkan apa pun, tangannya secara refleks terangkat, menarik
"Kenapa kau membawaku ke sini? Ini bukan apartemenku," tanya Valerie dengan suara serak. Ia mengucek matanya, mencoba mengusir kantuk yang masih tersisa.Perlahan, pandangannya mulai fokus, dan ia baru menyadari bahwa mereka berada di depan sebuah mansion megah. Bangunan itu menjulang tinggi dengan arsitektur klasik yang elegan, diterangi cahaya lampu temaram yang memberi kesan hangat sekaligus misterius.Di kursi kemudi, Aldrich duduk santai. Satu tangannya bertumpu pada kemudi, sementara yang lain menopang dagunya. Matanya mengamati Valerie dengan sabar. Ia tidak membangunkannya tadi, hanya menunggu hingga wanita itu terjaga sendiri."Kau tertidur di mobil, jadi kupikir lebih baik langsung membawamu ke sini," ujar Aldrich akhirnya. Suaranya tenang, seolah keputusan itu adalah hal yang paling wajar di dunia.Valerie mengernyit, masih mencoba mencerna keadaan. "Tapi... kenapa di sini?"Aldrich menoleh, menatapnya dalam-dalam sebelum tersenyum tipis. "Kau mengandung anakku. Akan lebih
“Bunda!”Valerie langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sang bunda saat ibunya baru saja membuka pintu.“Val, bagaimana keadaan ayahmu?” tanya bundanya panik.Segera, ia mendekat ke ranjang Bastian, menatap wajah suaminya yang tertidur damai.Valerie mendesah, ikut menatap ayahnya. “Sudah lebih baik, Bun. Ayah hanya perlu beristirahat.”Bunda Valerie menghela napas lega. “Syukurlah.” Saat itulah, ia menyadari kehadiran Aldrich yang berdiri tak jauh dari Valerie.“Oh, Aldrich, kau di sini?” tanyanya dengan senyum tipis.Aldrich mengusap tengkuknya singkat sebelum mengangguk. “Ya, Bun. Aku merindukan Valerie,” jawabnya dengan nada santai, tetapi penuh makna.Bunda Valerie terkekeh pelan. “Apa sebaiknya pernikahan kalian dimajukan saja?” godanya dengan nada riang.Wajah Valerie seketika memanas. Ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi godaan ibunya. Di satu sisi, pertunangan mereka hanyalah pura-pura. Namun, di sisi lain, Valerie kini mengandung anak Aldrich. Ia mulai ragu apaka
Aldrich dengan santai menambahkan beberapa potong ikan salmon panggang ke piring Valerie. “Tambah ini, kudengar ini bagus untuk ibu hamil,” katanya ringan. Tak lupa, ia juga menaruh sepotong alpukat dan segelas susu hangat di hadapan Valerie.Valerie mendesah, menatap Aldrich dengan ekspresi tak habis pikir. Piringnya sudah penuh sesak dengan berbagai macam makanan—nasi merah, sayur bayam, potongan daging tanpa lemak, telur rebus, hingga buah-buahan yang dipotong rapi. Makanan itu hampir menggunung, seolah cukup untuk di makan oleh dua orang… Oh, tunggu, memang begitu kenyataannya.“Cukup, Aldrich! Aku tidak bisa menghabiskan semuanya,” protes Valerie, tangannya refleks menahan tangan Aldrich yang hendak menambahkan lagi sesuatu ke piringnya.Aldrich berkedip, pura-pura tak mengerti. “Kenapa? Ini semua bergizi. Kamu harus makan dengan baik, sayang.”Valerie mengerang pelan, meletakkan sendoknya. “Aku ini manusia, bukan tempat sampah.”Aldrich tertawa, akhirnya mengalah. “Baiklah, ba
"Kupikir kau tidak menginginkan anak ini," isak Valerie di sela tangisnya.Aldrich sedikit melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Valerie dengan lembut. Senyum tipis terukir di wajahnya. "Kenapa kau berpikir seperti itu, sayang?" tanyanya dengan suara penuh kasih.Valerie menggeleng, matanya masih basah. "Bukankah hubungan kita hanya pura-pura? Dalam perjanjian, tidak ada satu pun pembahasan tentang anak. Kupikir kau pasti akan membenci kehamilan ini."Aldrich terdiam, membiarkan kata-kata Valerie mengendap dalam pikirannya. Sekejap kemudian, ia menarik wanita itu kembali ke dalam pelukannya, lebih erat dari sebelumnya. Aldrich mengecup puncak kepala Valerie, lalu turun ke kelopak matanya yang masih basah. Ia melanjutkan ke pipinya, menenangkan setiap jejak air mata dengan sentuhan bibirnya yang lembut."Aku memang tidak pernah berpikir kau akan hamil, babe. Tapi kehamilanmu adalah kejutan paling berharga dalam hidupku." Suaranya terdengar penuh kebahagiaan, disertai tawa ke
Aldrich melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Dia tidak peduli dengan klakson dari kendaraan lain.Satu-satunya yang ada di pikirannya adalah Valerie. Dia harus melihatnya, memastikan bahwa dia baik-baik saja.Setibanya di rumah sakit, Aldrich memarkir mobilnya dengan kasar dan segera bergegas masuk. Langkahnya panjang dan cepat, penuh urgensi. Di depan kamar rawat Bastian, beberapa bodyguardnya berjaga ketat. Mereka berdiri dengan sikap waspada, seolah siap menghadapi ancaman kapan saja.Saat melihat Aldrich, salah satu bodyguard langsung menyapa dengan sopan, lalu memberi jalan untuknya. Aldrich hanya mengangguk singkat sebelum mendorong pintu dan masuk.Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Valerie, tertidur di tepi ranjang ayahnya. Tubuhnya sedikit membungkuk, kepalanya bertumpu pada lengan, sementara jemarinya masih menggenggam tangan Bastian. Wajahnya tampak lelah, seakan sudah terlalu banyak melalui hari yang berat.Aldrich mendekat dengan h
Berhasil. Henry berhasil menangkap sebelah tangan Jennifer di detik terakhir.Tubuh Jennifer sudah setengah tergantung di udara, kakinya tak lagi berpijak di balkon. Angin malam menusuk kulitnya, membuat tubuhnya semakin gemetar. Matanya melebar, napasnya tersengal saat menyadari hanya tangan Henry yang menjadi satu-satunya penyelamatnya dari kematian."Pegang aku!" suara Henry terdengar tegas, tapi ada nada panik di dalamnya.Jennifer menatapnya dengan campuran keterkejutan dan ketakutan. Tangannya yang lain mencakar-cakar udara, mencari sesuatu untuk dipegang, tapi tidak ada yang bisa dia raih selain genggaman Henry yang semakin erat."Aku tidak bisa—" suara Jennifer bergetar, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan."Kau bisa!" Henry menggertakkan giginya, otot-otot lengannya menegang saat dia menarik tubuh Jennifer perlahan.Namun, Jennifer terus meronta. Dia menggeliat, seolah ingin tetap jatuh. "Lepaskan aku! Aku tidak mau ditangkap!""Diam, sialan!" Henry berteriak, menarik Jen