Beranda / Romansa / Jebakan Cinta Sang Pewaris / Chapter 096 [BERTEMU SI ULAR]

Share

Chapter 096 [BERTEMU SI ULAR]

last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-17 12:07:44

Saat Valerie sedang menikmati croissant-nya, ponsel di dalam tasnya bergetar. Dia meletakkan roti di atas tisu sementara tangannya meraih ponsel. Membuka pesan yang masuk, matanya membulat saat membaca isi pesan tersebut:

[Datang ke rumah nanti malam dengan Aldrich. Ada sesuatu yang ingin Ayah sampaikan.]

Valerie mendengus pelan, dahinya langsung berkerut. Dia memandangi layar ponsel selama beberapa detik, lalu menoleh ke Aldrich yang sedang fokus mengemudi.

“Aldrich...” panggilnya pelan.

“Hm?” Aldrich menjawab tanpa menoleh, tapi sudut bibirnya naik sedikit, menunjukkan dia masih memperhatikan Valerie meski matanya tertuju pada jalan.

“Ayahku...” Valerie berhenti sejenak, seolah ragu melanjutkan, tapi akhirnya dia melanjutkan juga. “Dia ingin kita datang ke rumahnya nanti malam. Katanya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.”

Aldrich melirik Valerie sekilas dengan alis terangkat. “Kedengarannya serius. Apakah ini tentang rencana perjodohan kita?”

Valerie mendengus, meletakkan ponselny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 097 [CHARLOS TIDAK PENTING]

    “Hah, dasar ular!” Valerie menggerutu sambil meninju udara kosong di depannya. Wajahnya memerah, bukan hanya karena marah, tapi juga karena rasa jijik yang mendidih di dalam dirinya.“Dia pikir aku akan iri dan menangis hanya karena tahu tentang kehamilannya?” Valerie mendesis pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Charlos tidak sepenting itu."Dia menggertakkan giginya, menahan diri agar tidak melampiaskan kemarahan dengan cara yang buruk. Valerie punya seribu alasan untuk membalas Jennifer. Apalagi menjambak rambut wanita itu di tempat. Tapi, Valerie memilih menahan diri. Dia tahu, menghadapi Jennifer dengan cara seperti itu hanya akan menurunkan martabatnya.“Sabar, Val. Kau harus tenang," katanya pada dirinya sendiri sambil mengatur napas. "Tarik napas, tahan. Hembuskan perlahan.”Valerie menutup matanya sebentar, mencoba menenangkan amarah yang membara di dadanya. Setelah beberapa detik, dia membuka matanya lagi dengan sorot yang lebih tenang, meskipun masih ada s

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-17
  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 098 [PEMBELAAN KECIL ALDRICH]

    “Cih, bisa-bisanya dia tidak tergoda dengan tubuhku!” gerutu Jennifer dalam hati, frustrasi.Tatapan matanya melirik Valerie yang terlihat tenang sambil menggoyangkan pena di tangannya. Tapi saat Jennifer memperhatikan lebih saksama, dia menangkap senyum kecil yang seolah menantangnya. Itu membuat darah Jennifer mendidih. “Wanita sialan!” umpatnya dalam hati.Sejak dulu, Jennifer selalu berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, tanpa pengecualian. Charlos, kekasih Valerie, adalah salah satu contohnya. Dia tidak perlu usaha ekstra untuk menaklukkan pria itu, hanya sedikit godaan dan sikap manis palsu, Charlos sudah ada dalam genggamannya. Dan itulah yang membuat Jennifer merasa superior atas Valerie.Sebenarnya, Jennifer tidak pernah benar-benar menyukai Valerie. Persahabatan mereka dulu hanyalah kamuflase. Jennifer mendekati Valerie karena wanita itu selalu dikelilingi banyak orang, baik pria maupun wanita. Valerie populer, berbakat, dan karismatik—semua hal yang tidak dimiliki

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-17
  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 099 [PERASAAN HANGAT]

    “Kau merasa menang karena berpikir bisa mendapatkan Pak Aldrich, bukan? Ketahuilah, pria seperti Aldrich itu tidak menyukai wanita kampung sepertimu!” sindir Jennifer dengan nada tajam.Keduanya sedang berada di toilet. Valerie berdiri di depan wastafel, mencuci tangannya dengan tenang, sementara Jennifer sibuk memperbarui lipstiknya di depan cermin. Ada senyum sinis di wajah Jennifer, penuh kepuasan karena merasa lebih unggul.Namun, Jennifer tidak tahu bahwa Valerie adalah anak Bastian, pemilik EliteCrop. Sama seperti Charlos, Jennifer pun tidak pernah menyadari identitas asli Valerie, karena Valerie memang sengaja menyembunyikannya selama ini.Valerie tidak menggubris hinaan itu. Dia mengeringkan tangannya dengan santai dan bersiap untuk keluar. Tetapi tiba-tiba, Jennifer menarik bahunya dengan kasar. Tarikan itu membuat Valerie terhuyung ke belakang, hampir kehilangan keseimbangan.“Hei!” Valerie menatap Jennifer dengan pandangan tajam. Jennifer hanya memasang wajah pura-pura tak

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-18
  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 100 [PEMBAHASAN PERTUNANGAN]

    “Tunggu aku,” kata Aldrich singkat sebelum membuka pintu mobil.Valerie hanya mengangguk, mengatur gaunnya yang sedikit naik. Mereka berada di mansion besar milik Bastian, ayah Valerie. Bangunan itu berdiri megah di atas lahan yang luas, bergaya klasik Eropa dengan dinding marmer putih dan pilar-pilar besar yang menjulang di bagian depan. Halamannya dihiasi taman rapi dengan air mancur kecil di tengahnya, memberikan kesan elegan namun tetap hangat.Suasana mansion tidak terlalu sepi seperti biasanya. Ada beberapa staf mondar-mandir dengan kesibukan masing-masing, membuat Valerie sedikit bingung. Saat turun setelah Aldrich membukakan pintu untuknya, kepala pelayan langsung menyambutnya.“Selamat datang kembali di rumah, Nona Muda,” sapa pria tua itu dengan suara yang ramah, sedikit serak namun penuh wibawa. Rambutnya sudah sepenuhnya memutih, disisir rapi ke belakang, dan ia mengenakan jas hitam klasik dengan kacamata persegi yang mempertegas matanya yang tajam namun hangat.Valerie

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-18
  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 101 [SEPIHAK]

    “Ayah,” panggil Valerie dengan suara lembut namun cukup tegas untuk menarik perhatian semua orang di aula. Seketika semua mata tertuju padanya, termasuk tatapan penuh harap dari sang ayah, Bastian.Valerie meneguk ludah gugup, lalu terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. Dengan gerakan pelan, dia menyenggol lengan Aldrich yang berdiri di sebelahnya. “Katakan sesuatu,” bisiknya pelan di telinga pria itu, berharap Aldrich bisa mengambil alih situasi seperti biasanya.Namun, Aldrich tidak langsung merespons. Dia hanya menatap Valerie dengan senyum tipis yang menambah gugup wanita itu.“Ada apa, Nak?” tanya Bastian akhirnya, menatap Valerie dengan dahi sedikit berkerut.“Ah, begini…” Valerie memulai, mencoba mencari kata-kata yang tepat. Dia menarik napas dalam, lalu menatap Aldrich lagi, memberikan kode dengan matanya untuk segera membantu.Setelah beberapa detik yang terasa seperti seabad bagi Valerie, Aldrich akhirnya angkat bicara. “Kami ingin mengucapkan terima kasih, Ayah, at

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-19
  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 102 [SEMACAM LELUCON?]

    Valerie memegangi kepalanya. Akhir-akhir ini begitu banyak kejadian yang terjadi sampai-sampai dia melupakan hari lahirnya sendiri.“Ah, Ayah benar-benar!” keluh Valerie sambil memijat pelipisnya.Tak terbayangkan jika kurang dari 48 jam, semua orang sudah mengetahui statusnya dengan Aldrich. Rencana pura-pura mereka akan menjadi drama besar jika salah satu pihak salah langkah.“Kau di sini?”Valerie tak perlu repot-repot menoleh saat mendengar suara Aldrich. Dia mendengus, dan detik berikutnya, Aldrich sudah duduk di sebelahnya, membawa sepotong cake dari bufet yang sudah tertata rapi di aula.“Selamat ulang tahun,” katanya ringan, menyodorkan cake stroberi dengan whipped cream di atas piring kecil.Valerie mendengus lagi, tetapi tetap mengambil cake itu dengan malas. “Kau tidak memberitahuku kalau hari ini ulang tahunmu,” kata Aldrich sambil menatap Valerie.“Bahkan aku sendiri pun tak ingat soal itu,” jawab Valerie acuh, menyendokkan cake ke mulutnya. Lembutnya sponge cake berpadu

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-19
  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 103 [KEJUTAN]

    "Hah, padahal kau bilang akan mengantarku pulang," gumam Valerie sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil, matanya memandang ke luar dengan tatapan kesal.Aldrich, yang mendengar gumaman itu, hanya terkekeh kecil tanpa memberikan respons. Tak berapa lama, mobilnya mulai melambat saat memasuki kawasan mansion mewah miliknya. Kali ini, tidak seperti sebelumnya, suasana di sana terasa lebih sunyi. Lampu-lampu taman menyala lembut, memberikan kesan elegan, tetapi tetap misterius."Kita sudah sampai. Ayo turun," kata Aldrich sambil membuka pintu mobilnya sendiri dan keluar.Valerie melirik Aldrich, mengerutkan dahi saat melihat pria itu tidak seperti biasanya yang akan membukakan pintu untuknya. Aldrich terlihat santai, menyelipkan kedua tangannya di saku celana sambil menunggu di sisi mobilnya."Ayo," panggil Aldrich lagi, nadanya sedikit memerintah.Dengan mendengus, Valerie membuka pintunya sendiri, menghampiri Aldrich dengan langkah berat. "Kenapa kau membawaku ke sini?" ta

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-20
  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 104 [PERNYATAAN ALDRICH]

    “Luar biasa, indah sekali!" kata Valerie dengan mata berbinar, tak mampu menyembunyikan kekagumannya pada dekorasi balkon yang memukau.Aldrich tersenyum kecil, lalu mendekat dan melingkarkan lengannya di pinggang Valerie dari belakang. Dia mengecup lembut pundaknya, membuat Valerie sedikit terpaku. Aldrich kemudian menyandarkan dagunya di bahu Valerie, menatap ke arah dekorasi yang telah ia siapkan."Kau suka?" tanyanya dengan nada lembut.Valerie mengangguk cepat, ekspresinya menunjukkan kejujuran. "Suka sekali! Aku tak menyangka akan diberi kejutan seperti ini olehmu," katanya. Suaranya terdengar tulus, meski ada sedikit nada terkejut.Pikiran Valerie melayang ke masa lalu. Saat masih menjalin hubungan dengan Charlos, dia selalu menjadi pihak yang berinisiatif. Mengingatkan hari jadi mereka, merencanakan makan malam romantis, bahkan memberikan kejutan-kejutan kecil. Charlos memang terlihat mencintainya, tetapi lelaki itu seringkali melupakan hari-hari penting mereka.Namun, Aldric

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-20

Bab terbaru

  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 193

    Sepanjang perjalanan pulang, Aldrich mengemudi dengan satu tangan di kemudi, sementara tangan satunya tetap menggenggam tangan Valerie, seolah tak ingin melepaskannya. Wajah Aldrich masih menyiratkan kebahagiaan yang tak terbendung. Senyumnya tak pernah benar-benar hilang sejak mereka keluar dari ruang dokter. Fakta bahwa anak mereka sehat sudah cukup membuatnya merasa lega, tetapi ada satu hal lagi yang diam-diam membuatnya lebih bersemangat—dokter memastikan bahwa mereka masih bisa melakukan hubungan suami istri, asal dilakukan dengan hati-hati.Dari tempat duduknya, Valerie menoleh dan menatap pria di sampingnya dengan penuh rasa ingin tahu. Ia menahan senyum melihat ekspresi Aldrich yang masih begitu berbinar, nyaris seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah impian.“Kau sesenang itu?” tanya Valerie dengan nada geli.Aldrich menoleh sekilas sebelum kembali fokus pada jalan, bibirnya melengkung dalam senyum penuh makna.“Tentu saja,” jawabnya tanpa ragu. Suaranya dalam,

  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 192

    Aldrich menepati janjinya. Pagi-pagi sekali, ia sudah membawa Valerie ke rumah sakit.Di dalam ruang dokter, Aldrich duduk di sebelah Valerie dengan ekspresi serius. Matanya tajam memperhatikan setiap detail yang dokter katakan, sementara tangannya menggenggam jemari Valerie seolah tak ingin melepaskannya.Sementara itu, Valerie terlihat anggun dalam balutan dress longgar berwarna pastel. Rambut panjangnya tergerai indah, dan meskipun ia hanya mengenakan riasan tipis, wajahnya tetap memancarkan pesona alami. Namun, perhatian Valerie justru tertuju pada Aldrich—pria yang biasanya tenang itu kini tampak tegang. Rahangnya mengeras, matanya nyaris tak berkedip, seakan takut melewatkan satu informasi pun.Dokter yang menangani mereka, seorang wanita paruh baya dengan senyum ramah, tersenyum melihat ekspresi Aldrich. "Tuan Aldrich, Anda tampak lebih gugup daripada pasien saya," ujarnya santai.Aldrich berdehem, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Saya hanya ingin memastikan semuanya ba

  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 191

    "Kau sudah tidur?" suara Valerie terdengar pelan dalam keheningan kamar.Ia memiringkan tubuhnya, berbaring menghadap Aldrich. Matanya menatap pria itu dari samping, mengamati garis rahangnya yang tegas dalam cahaya redup kamar. Tangan Valerie bertaut di depan dadanya, jemarinya sesekali bergerak, seolah ragu untuk menyentuh pria di hadapannya.Aldrich, yang sejak tadi berusaha memejamkan mata, berdehem pelan. Ia tidak benar-benar tidur, hanya mencoba menahan diri. Tubuh mereka berbagi ranjang yang sama, namun Aldrich menjaga jarak, seolah batas tak kasatmata tetap ada di antara mereka."Hm.""Aku tidak bisa tidur," gumam Valerie, suaranya terdengar seperti keluhan kecil.Mata Aldrich perlahan terbuka. Ia menyerah. Dengan gerakan tenang, ia ikut memiringkan tubuhnya hingga mereka saling berhadapan."Ada apa?" tanyanya, suaranya lembut, penuh kesabaran.Valerie mendesah pelan, lalu menggeleng. Namun, meski bibirnya tak mengungkapkan apa pun, tangannya secara refleks terangkat, menarik

  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 190

    "Kenapa kau membawaku ke sini? Ini bukan apartemenku," tanya Valerie dengan suara serak. Ia mengucek matanya, mencoba mengusir kantuk yang masih tersisa.Perlahan, pandangannya mulai fokus, dan ia baru menyadari bahwa mereka berada di depan sebuah mansion megah. Bangunan itu menjulang tinggi dengan arsitektur klasik yang elegan, diterangi cahaya lampu temaram yang memberi kesan hangat sekaligus misterius.Di kursi kemudi, Aldrich duduk santai. Satu tangannya bertumpu pada kemudi, sementara yang lain menopang dagunya. Matanya mengamati Valerie dengan sabar. Ia tidak membangunkannya tadi, hanya menunggu hingga wanita itu terjaga sendiri."Kau tertidur di mobil, jadi kupikir lebih baik langsung membawamu ke sini," ujar Aldrich akhirnya. Suaranya tenang, seolah keputusan itu adalah hal yang paling wajar di dunia.Valerie mengernyit, masih mencoba mencerna keadaan. "Tapi... kenapa di sini?"Aldrich menoleh, menatapnya dalam-dalam sebelum tersenyum tipis. "Kau mengandung anakku. Akan lebih

  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 189

    “Bunda!”Valerie langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sang bunda saat ibunya baru saja membuka pintu.“Val, bagaimana keadaan ayahmu?” tanya bundanya panik.Segera, ia mendekat ke ranjang Bastian, menatap wajah suaminya yang tertidur damai.Valerie mendesah, ikut menatap ayahnya. “Sudah lebih baik, Bun. Ayah hanya perlu beristirahat.”Bunda Valerie menghela napas lega. “Syukurlah.” Saat itulah, ia menyadari kehadiran Aldrich yang berdiri tak jauh dari Valerie.“Oh, Aldrich, kau di sini?” tanyanya dengan senyum tipis.Aldrich mengusap tengkuknya singkat sebelum mengangguk. “Ya, Bun. Aku merindukan Valerie,” jawabnya dengan nada santai, tetapi penuh makna.Bunda Valerie terkekeh pelan. “Apa sebaiknya pernikahan kalian dimajukan saja?” godanya dengan nada riang.Wajah Valerie seketika memanas. Ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi godaan ibunya. Di satu sisi, pertunangan mereka hanyalah pura-pura. Namun, di sisi lain, Valerie kini mengandung anak Aldrich. Ia mulai ragu apaka

  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 188

    Aldrich dengan santai menambahkan beberapa potong ikan salmon panggang ke piring Valerie. “Tambah ini, kudengar ini bagus untuk ibu hamil,” katanya ringan. Tak lupa, ia juga menaruh sepotong alpukat dan segelas susu hangat di hadapan Valerie.Valerie mendesah, menatap Aldrich dengan ekspresi tak habis pikir. Piringnya sudah penuh sesak dengan berbagai macam makanan—nasi merah, sayur bayam, potongan daging tanpa lemak, telur rebus, hingga buah-buahan yang dipotong rapi. Makanan itu hampir menggunung, seolah cukup untuk di makan oleh dua orang… Oh, tunggu, memang begitu kenyataannya.“Cukup, Aldrich! Aku tidak bisa menghabiskan semuanya,” protes Valerie, tangannya refleks menahan tangan Aldrich yang hendak menambahkan lagi sesuatu ke piringnya.Aldrich berkedip, pura-pura tak mengerti. “Kenapa? Ini semua bergizi. Kamu harus makan dengan baik, sayang.”Valerie mengerang pelan, meletakkan sendoknya. “Aku ini manusia, bukan tempat sampah.”Aldrich tertawa, akhirnya mengalah. “Baiklah, ba

  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 187

    "Kupikir kau tidak menginginkan anak ini," isak Valerie di sela tangisnya.Aldrich sedikit melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata Valerie dengan lembut. Senyum tipis terukir di wajahnya. "Kenapa kau berpikir seperti itu, sayang?" tanyanya dengan suara penuh kasih.Valerie menggeleng, matanya masih basah. "Bukankah hubungan kita hanya pura-pura? Dalam perjanjian, tidak ada satu pun pembahasan tentang anak. Kupikir kau pasti akan membenci kehamilan ini."Aldrich terdiam, membiarkan kata-kata Valerie mengendap dalam pikirannya. Sekejap kemudian, ia menarik wanita itu kembali ke dalam pelukannya, lebih erat dari sebelumnya. Aldrich mengecup puncak kepala Valerie, lalu turun ke kelopak matanya yang masih basah. Ia melanjutkan ke pipinya, menenangkan setiap jejak air mata dengan sentuhan bibirnya yang lembut."Aku memang tidak pernah berpikir kau akan hamil, babe. Tapi kehamilanmu adalah kejutan paling berharga dalam hidupku." Suaranya terdengar penuh kebahagiaan, disertai tawa ke

  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 186

    Aldrich melajukan mobilnya kembali ke rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Dia tidak peduli dengan klakson dari kendaraan lain.Satu-satunya yang ada di pikirannya adalah Valerie. Dia harus melihatnya, memastikan bahwa dia baik-baik saja.Setibanya di rumah sakit, Aldrich memarkir mobilnya dengan kasar dan segera bergegas masuk. Langkahnya panjang dan cepat, penuh urgensi. Di depan kamar rawat Bastian, beberapa bodyguardnya berjaga ketat. Mereka berdiri dengan sikap waspada, seolah siap menghadapi ancaman kapan saja.Saat melihat Aldrich, salah satu bodyguard langsung menyapa dengan sopan, lalu memberi jalan untuknya. Aldrich hanya mengangguk singkat sebelum mendorong pintu dan masuk.Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Valerie, tertidur di tepi ranjang ayahnya. Tubuhnya sedikit membungkuk, kepalanya bertumpu pada lengan, sementara jemarinya masih menggenggam tangan Bastian. Wajahnya tampak lelah, seakan sudah terlalu banyak melalui hari yang berat.Aldrich mendekat dengan h

  • Jebakan Cinta Sang Pewaris    Chapter 185

    Berhasil. Henry berhasil menangkap sebelah tangan Jennifer di detik terakhir.Tubuh Jennifer sudah setengah tergantung di udara, kakinya tak lagi berpijak di balkon. Angin malam menusuk kulitnya, membuat tubuhnya semakin gemetar. Matanya melebar, napasnya tersengal saat menyadari hanya tangan Henry yang menjadi satu-satunya penyelamatnya dari kematian."Pegang aku!" suara Henry terdengar tegas, tapi ada nada panik di dalamnya.Jennifer menatapnya dengan campuran keterkejutan dan ketakutan. Tangannya yang lain mencakar-cakar udara, mencari sesuatu untuk dipegang, tapi tidak ada yang bisa dia raih selain genggaman Henry yang semakin erat."Aku tidak bisa—" suara Jennifer bergetar, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan."Kau bisa!" Henry menggertakkan giginya, otot-otot lengannya menegang saat dia menarik tubuh Jennifer perlahan.Namun, Jennifer terus meronta. Dia menggeliat, seolah ingin tetap jatuh. "Lepaskan aku! Aku tidak mau ditangkap!""Diam, sialan!" Henry berteriak, menarik Jen

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status