“Kalau gitu ….”Sonia mengerlingkan matanya dan berkata dengan serius, “Aku masakin mie sebagai bentuk terima kasih. Kebetulan masih ada sisa sup tadi siang setengah.”Lelaki itu menundukkan kepalanya dan menempel di kepala belakang perempuan itu sambil tertawa pelan dan berkata, “Sonia, kamu sengaja?”Sengaja bersikap begitu menggemaskan dan lucu! Sonia mengangkat alisnya naik turun dan bergumam, “Aku sudah bisa masak mie. Kalau nggak percaya, sekarang juga aku-“Sebelum dia selesai menyelesaikan ucapannya, lelaki itu mendadak mendorongnya dan mendaratkan kecupan pada perempuan itu.***Keesokan paginya, Reza membawa Sonia pulang ke kediaman Herdian bersama dengannya. Ketika dia masuk ke dalam kamar Tandy, bocah lelaki itu sedang bermain permainan. Dia meletakkan ponselnya dengan cepat saat melihat Sonia masuk dan berjalan ke arah meja belajar.“Aku lihat kamu datang bersama dengan om aku. Kenapa kalian bisa bersama?” tanya Tandy.Sonia menunduk dan membaca buku di tangannya dengan ek
Sonia mendorong pintu hingga terbuka dan masuk. Ruang baca tersebut cukup luas dengan sisi jendela yang begitu besar hingga menyentuh lantai. Dari sana dapat terlihat pemandangan halaman rumput yang ada di luar rumah. Meja baca lelaki itu terletak di salah satu sisi jendela besar tersebut yang langsung berhadapan dengan barisan rak buku kayu.Saat ini Reza sedang duduk di mejanya sambil membaca dokumen. Dia menoleh dan melihat ke arah Sonia dengan sorot sedikit terkejut. Lelaki itu seakan tidak menyangka bahwa Sonia akan datang ke sini untuk mencarinya.Reza mengenakan kemeja hitam yang sama dengan yang tadi pagi dengan dua buah kancing kerah yang telah terbuka. Kesan dingin di dirinya terlihat sedikit lebih santai.“Pak Reza,” sapa Sonia sambil menutup pintu. Dia maju dua langkah dan meletakkan lembaran soal tes tadi di atas meja.“Ini hasil tes Tandy bulan ini. Silakan dilihat,” ujar Sonia.Reza mengambilnya dan melihat sekilas kemudian mengangguk sambil berkata, “Bagus, hasil belaja
Seluruh tubuh Sonia mendadak menjadi kaku ketika melihat lelaki itu berdiri di sana. Tiba-tiba dia lupa untuk menghindar dan kepalanya mengenai bantal yang dilemparkan oleh Tandy.“Jangan berisik!” ujar Reza dengan nada penuh peringatan pada Tandy.Tandy tidak menyangka kalau bantal tersebut tepat mengenai kepala Sonia. Dengan cepat dia melompat dari sofa dan berkata, “Kenapa kamu nggak menghindar?!”“Nggak apa-apa, nggak sakit,” jawab Sonia sambil mengelus kepalanya.“Om, kata Bu Sonia dia suka dengan Om!” kata Tandy sambil menatap Reza. Sonia terdiam dan dalam hati mulai memikirkan apakah dirinya harus mengundurkan diri atau tidak. Lelaki itu menoleh ke arah Sonia sambil menahan tawanya dan bertanya, “Benarkah?”Perempuan itu hanya tersenyum tipis dan dengan tenang menjawab, “Benar! Aku juga suka dengan Tandy dan Tasya. Terima kasih sekali karena sudah memberikan aku pekerjaan ini, kalian semua orang yang baik.”Tandy mengedikkan bahunya dan berkata, “Aku merinding!”Sonia hanya ters
Sedangkan Hana, perasaannya tidak pernah terbalaskan. Dengan suara dingin perempuan itu berkata lagi, “Sebagai seorang guru les, seharusnya kamu bersikap sebagaimana mestinya! Kamu harus menjaga jarak dengan majikanmu dan jangan bermimpi pada sesuatu yang nggak pasti! Reza nggak akan menyukaimu!”“Memangnya dia menyukaimu?” tanya Sonia.Sebersit sorot sedih melintas di kedua matanya sekilas, dengan tenang dia berkata, “Dia nggak suka denganku.”Sonia mengangkat kedua alisnya dan berbisik pada dirinya sendiri bahwa ternyata Hana menyadari hal itu. Hana kembali melanjutkan ucapannya, “Dia nggak suka denganku dan dia juga nggak akan suka denganmu. Orang yang ada di hatinya adalah-““Bu Sonia.”Seorang pelayan tiba-tiba memotong ucapan Hana dan dengan sopan berkata, “Kata Den Tandy Ibu suka makan makanan manis. Koki ada membuat kue, Ibu mau rasa apa?”Wajah Hana kembali menggelap. Dengan senyum lebar Sonia menjawab, “Cokelat, terima kasih.”“Baik,” jawab pelayan dengan sikap yang tetap sop
Sonia sudah melangkah hingga pintu keluar dan sedang mengenakan sepatunya. Setelah selesai, perempuan itu menoleh ke belakang dan pamit pulang. “Pak Reza, Tandy, sampai jumpa.”Tandy melihat Sonia yang sudah keluar langsung menoleh ke arah Reza sambil berkata, “Om, papaku sudah mau ulang tahun dan aku sudah memilih kado buat dia. Aku mau nunjukin ke Om Reza.”“Kamu naik dulu, nanti Om cari kamu ke atas,” sahut Reza sambil mengangguk.“Cepat ya!” ujar Tandy lagi sambil melirik ke arah Hana. Setelah itu dia melangkah menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.“Sebenarnya masalah apa?” tanya Reza sambil berjalan ke arah ruang tamu.“Reza, kamu nggak merasa hubungan Sonia dan Tandy terlalu dekat?” tanya Hana dengan kening berkerut.Lelaki itu duduk di sofa dan memandangi Hana dengan dingin sambil bertanya, “Memangnya ada masalah apa?”“Tentu saja ada masalahnya!” sahut Hana. Perempuan itu duduk di hadapan lelaki itu dengan raut wajah serius.“Guru les om aku dulu sengaja menghasut anaknya bia
“Iya, Tasya cantik dan sifatnya juga baik. Kalau kamu mau rebutan pacar dengan dia, sudah pasti sangat sulit!” kata Yeni.Sonia meliriknya sekilas dan berkata, “Kepala kamu ini mikirin apa saja sih?!”Tawa Yeni menyembur dan berkata, “Mikirin kamu!”“Aku nggak tertarik denganmu,” sahut Sonia sambil berjalan keluar dengan tenang.“Kamu tertarik dengan siapa? Yoko?” goda Yeni lagi sambil mengejar perempuan itu.“Kalau kamu beneran suka dengan dia, aku bantuin kamu cari tahu tentang lelaki itu,” lanjut Yeni lagi.“Ok!” jawab Sonia yang mengangguk dengan cepat.“Kamu beneran suka dia?” tanya Yeni lagi dengan terkejut.“Tunggu kamu sudah dapat info tentang dia baru aku kasih tahu,” jawab Sonia sambil tertawa kecil.Alis Yeni terangkat ke atas ketika melihat temannya ini tengah sengaja mempermainkannya.Malamnya Reza kembali ke Imperial Garden pada saat jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Awalnya dia pikir Sonia sudah terlelap, tetapi dia justru menemukan televisi di ruang tamu masih
Sonia memejamkan matanya tanpa sadar. Bulu mata perempuan itu bergetar. Reza mendaratkan kecupan demi kecupan dari sudut mata hingga ke bibir perempuan itu. Dia menguasai seluruh bibir milik Sonia dan kemudian menggendongnya ke dalam pangkuan lelaki itu untuk semakin memperdalam ciumannya.Reza merasakan rasa stroberi di dalam mulut Sonia, begitupun sebaliknya Sonia dapat merasakan aroma alkohol di diri lelaki itu yang membuatnya semakin mabuk. Saat kesadarannya nyaris menghilang, tiba-tiba Sonia teringat akan ucapan Hana yang belum selesai tadi siang. Siapa yang sebenarnya orang yang ada di hati lelaki itu?Orang seperti Reza memangnya juga ada orang yang tidak bisa dia dapatkan?Mendadak lidahnya terasa sedikit perih. Reza sengaja menggigitnya sebagai bentuk hukuman karena dia tidak fokus. Sonia memeluk leher lelaki itu dan memberi tahu bahwa dia akan fokus sepenuhnya pada sosok Reza.Malam ini, Reza terasa luar biasa lembut dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Meski dia sedik
“Nggak! Aku nggak mau putus!” seru Yerin dengan wajah berlinangan air mata. Lelaki yang tadi bersikap lembut mendadak berubah menjadi begitu tega dengan memintanya mengakhiri hubungan mereka.Yerin tidak bisa menerima perubahan secepat itu. Dia membuang harga dirinya dan memohon pada Jason. “Kak, aku cinta dengan Kak Jason. Aku benar-benar mencintaimu! Aku mohon kasih aku satu kesempatan lagi! Aku janji akan menurut!”Jason tertawa dingin dan berkata, “Kamu suka aku atau uangku?”“Tentu saja aku suka kamu!” jawab Yerin dengan cepat.Suara lelaki itu terdengar dingin dan berkata lagi, “Karena kamu nggak suka uang, kenapa kamu harus menerima giok dari Bobby? Jangan bilang kalau kamu hanya merasa bagus!”“Aku nggak akan mengulanginya lagi! Kak, aku nggak akan mengulanginya lagi,” ujar Yerin dengan wajah penuh penyesalan.Jason terlihat sedikit tidak sabar dan berkata lagi, “Setidaknya kita masih punya kenang-kenangan masa lalu untuk diingat. Jangan membuatku membencimu! Lain kali jangan p
Saat menjelang pagi, Theresia pergi ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Setelah selesai mandi, dia masih mengenakan pakaian yang telah dikoyak dengan perlahan, seolah-olah sedang mengenakan gaun termewah saja, bersiap-siap untuk menghadiri acara mewah.Yandi bersandar di atas ranjang, lalu menatap Theresia dengan datar. “Apa kamu yang bikin Theresia?”“Iya!” Theresia memalingkan kepalanya sembari tersenyum datar. “Apa enak untuk didengar?”“Kenapa mesti bermarga Bina?”“Aku dibesarkan olehmu. Tentu saja aku mesti mengikuti margamu!” balas Theresia dengan terus terang.Tatapan Yandi menjadi muram. Dia tidak berbicara lagi, lalu memejamkan matanya dengan perlahan.Setelah merapikan diri, Theresia membalikkan tubuhnya untuk melihat langit yang mulai terang. Kemudian, dia berkata dengan nada rendah, “Aku akan pergi setelah langit terang nanti! Nyawaku dibeli oleh Tuan Morgan. Kemudian, aku juga sudah mengabdi beberapa tahun kepadamu. Masalah kali ini ditambah lagi dengan masalah semala
Istri?Rina yang baru saja dipapah untuk berdiri itu semakin kaget lagi. “Kalian sudah menikah?”Sonia mengangguk dengan tersenyum tipis. “Iya, biar kuperkenalkan kepada Nona Rina, dia itu suamiku, namanya Reza Herdian!”Rina melirik Kase sekilas dengan sedikit canggung dan sedikit gembira. Dia pun tersenyum. “Ternyata begitu!”Kase menurunkan kelopak matanya sembari berkata dengan datar, “Semuanya sudah tiba. Ayo, kita mulai acaranya!”Kase tidak ingin Sonia berdiri terus.Setelah semua orang duduk di tempat, pelayan pun datang dengan menyajikan alkohol dan juga berbagai jenis sayuran.Rina membuka acara. Tadinya dia ingin memamerkan identitasnya untuk mengalahkan Sonia. Namun, ketika melihat pria beraura dingin di samping Sonia, ditambah lagi setelah mengetahui ternyata pria itu adalah suaminya Sonia, pemikiran untuk memamerkan identitasnya menjadi sirna.Theresia merasa gembira dengan Rina yang canggung itu, lalu semakin gembira lagi ketika melihat sosok muram Kase.Dia menurunkan n
Keluarga Loren memiliki garis keturunan yang sangat bagus. Rina sendiri sudah memiliki penampilan seperti tuan putri kecil yang anggun dan menawan. Dengan mengenakan gaun seperti itu, dia tampak semakin bersinar saja.Hallie berkata dengan takjub, “Cantik sekali!”Frida menatap Hallie yang polos. Dia lalu melihat ke luar jendela dengan ujung bibirnya melengkung ke atas.Rina mengangkat rok gaunnya berjalan kemari. Dia kelihatan arogan bagai seekor burung merak saja. “Selamat datang ke acara malamku!”Theresia tersenyum tipis. “Terima kasih atas jamuan hangat Nona Rina!”Rina mengangkat sedikit dagunya. “Di mana si Sonia? Apa dia masih belum datang? Apa dia lagi pilih gaun? Kalau nggak ada yang cocok, aku bisa kasih gaunku kepadanya!”Frida melirik Rina sekilas dengan tatapan tajam.Senyuman di wajah Theresia tidak berubah. Suaranya juga semakin lembut lagi. “Terima kasih atas niat baikmu, tapi nggak usah. Sonia nggak bisa pakai gaunmu. Dia nggak begitu pendek!”“Pftz!” Hallie yang bera
Sebelum Rina kemari, Sonia sudah memastikan identitasnya. Saat ini, Sonia berkata dengan suara datar, “Mengenai masalah ini, seharusnya kamu tanya dia saja!”“Sekarang aku lagi tanya kamu, kenapa kamu nggak mau hadiri acara malam?” Si wanita berkata dengan arogan, “Apa karena nggak berani?”Ekspresi Sonia masih kelihatan tenang. Dia berkata dengan lembut, “Aku lagi terluka, nggak boleh minum alkohol. Kalian main sendiri saja!”“Terluka apaan?” Rina kembali mengamati Sonia, lalu berkata dengan tersenyum dingin, “Kamu itu manja, berlagak lemah lembut. Kamu ingin Kase kasihan sama kamu, kemudian kamu bisa terus tinggal di kastil? Wanita Negara Cendania memang licik sekali, ya!”Kening Sonia berkerut ketika melihat Rina. Apa dia sendiri tidak sadar betapa konyol dirinya saat cemburu gara-gara Kase?Sonia berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Oke, aku akan ikut!”Kedua mata Rina langsung berkilauan. “Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam. Aku akan menunggumu di acara malam nanti!”“Emm.” Son
Sonia berkata dengan syok, “Calon istrinya Kase?”“Iya!” Reza tersenyum tipis. “Aku sudah menolaknya!”Wanitanya Kase ingin mengadakan jamuan makan malam. Sepertinya dia telah mengetahui keberadaan Sonia. Jadi, dia ingin menunjukkan kekuasaannya dan memamerkan kepemilikannya!Menyuruh wanita itu bersaing memperebutkan perhatian dengan Sonia? Dia sama sekali tidak berkualifikasi!Sonia tidak tertarik terhadap calon istrinya Kase. Tentu saja bagus untuk menolak ajakan itu. Dia menatap langit malam indah di luar jendela, lalu memalingkan kepala untuk berdiskusi kepada Reza. “Aku ingin pergi melihat matahari terbenam. Sebentar saja!”“Apa lukamu masih sakit?” tanya Reza.“Nggak sakit lagi!” Sonia sama sekali tidak menganggap cedera itu.Reza mengambil pakaian untuk membungkus tubuh Sonia, kemudian menggendongnya ke luar balkon.Kemudian, Reza menurunkan Sonia di atas sofa. Reza duduk di sampingnya, lalu merangkulnya. “Lihatlah, setelah lihat, kamu kembali untuk rebahan!”Sonia memalingkan
Mata biru tua Rina terus menatap Kase. “Dengar-dengar kamu bawa seorang wanita ke istana? Kita akan bertunangan. Aku sangat nggak senang ketika mendengar kabar itu!”Rina tahu Kase memiliki banyak wanita di luar sana. Namun, tidak masalah jika mereka di luar, jika dibawa pulang, itu sama saja dengan memprovokasi Rina.Rina menyukai istana ini. Dia bahkan berencana untuk mengadakan pernikahan mereka di sini. Sebelum Rina tinggal di sini, dia tidak akan mengizinkan ada wanita lain yang tinggal di sini.“Akan bertunangan, itu berarti belum bertunangan!” Kase tersenyum sinis. “Kamu masih tidak berhak untuk bertanya soal urusanku!”Terlihat ekspresi iri di wajah Rina. “Apa kamu sangat menyukai wanita itu?”Kase mengangguk. “Iya, sangat menyukainya!”Saking marahnya, Rina kelihatan terengah-engah. “Apa dia cantik sekali? Aku mau pergi menemuinya!”“Jangan ganggu dia!” Nada bicara Kase sangat dingin. “Aku akan bicara dengan ayahku untuk membatalkan pernikahan. Wanita model apa di sisiku juga
Kase tersenyum dingin. “Apa kamu ingin aku mencabut semua bulunya?”Pengurus rumah tertegun sejenak, lalu berkata dengan tenang, “Kalau kamu tidak suka makan ayam gosong, aku sarankan kamu jangan berbuat seperti itu!”Kase berkata, “Baiklah, sekarang aku akan pergi menemuinya!”“Baik!” Pengurus rumah mengakhiri panggilan dengan sopan dan hormat.Kase melepaskan ponselnya, lalu memalingkan kepalanya melihat ke sisi Sonia. “Kamu istirahat dulu. Aku pergi urus sedikit urusan. Nanti kita bicarakan lagi percakapan sebelumnya.”Sonia tidak mengira ada yang perlu dibicarakan lagi di antara mereka. Dia hanya sedikit mengangguk saja. “Kamu sibuk sana!”Kase berjalan pergi, kemudian dia segera membalikkan tubuhnya, lalu meletakkan sekotak permen susu untuk Sonia. Kemudian, dia berkata dengan nada menggoda, “Kalau kamu tinggal bersamaku, aku jamin tidak akan membatasi konsumsi permenmu. Aku akan membelikan perusahaan permen terbesar di seluruh dunia untukmu!”“Sepertinya dia tidak butuh!” Suara d
Sonia menggeleng. “Nggak bisa!”Kase berkata dengan nada terburu-buru, “Waktu itu pengutaraan perasaanku terlalu buru-buru, juga tidak tulus. Izinkan aku untuk mengulanginya sekali lagi. Aku menyukaimu. Dari identitasmu sebagai Suki dan juga Sonia, ternyata hanya kamu yang aku sukai. Aku akan suruh ayahku untuk membatalkan pernikahan bisnisku. Aku hanya menginginkanmu untuk menjadi istriku!”Kemudian, Kase melanjutkan ucapannya seperti sedang bersumpah, “Dulu aku melewati hidupku dengan sangat konyol. Kamu malah memergokiku yang begitu konyol. Aku merasa sangat bersalah dan kesal, tapi aku jamin kelak aku juga nggak akan melakukannya lagi. Aku akan setia terhadapmu, akan memberikan semuanya kepadamu. Aku berharap kamu bisa tinggal di sini, bersamaku untuk selamanya.”Kening Sonia berkerut. “Aku sudah punya orang yang aku cintai. Aku rasa aku sudah ngomong dengan sangat jelas!”“Apa Raja Bondala?”“Iya!”Seandainya orang yang disukai Sonia adalah orang lain, Kase masih ingin berusaha la
Morgan melihat langit biru di luar jendela. Kedua matanya kelihatan menyipit. “Bukannya aku tidak pernah memikirkannya, tapi aku merasa aku memang terlahir untuk berada di sini. Aku sudah melupakan bagaimana kehidupan yang normal, sepertinya aku juga tidak akan terbiasa!”Sonia berkata, “Bukannya kamu bilang kamu akan tinggal dua bulan kali ini. Kamu bisa mulai membiasakan diri!”Morgan membalas, “Aku sudah mendidik orang yang bisa mengambil alih pekerjaanku. Sekarang Tritop sudah meninggal, Hondura akan segera mengalami perombakan besar-besaran. Dulu aku dan Raja Bondala tidak ingin terlibat dalam permasalahan Hondura. Sekarang meski kami tidak ingin terlibat, kami juga sudah terlibat. Aku dan Reza sudah memiliki gambaran umum tentang bagaimana mengelola Hondura di kemudian hari ….”Morgan tertegun sejenak, lalu berkata dengan tersenyum, “Sebelum misi kali ini, aku benar-benar tidak tahu Reza adalah Raja Bondala! Jejak Raja Bondala sangat misterius, juga tidak ikut campur dalam pertik