Share

Mendebat Ibu

Author: Betti Cahaya
last update Last Updated: 2025-03-27 13:51:56

"Oh kamu, Ji? Kenapa? Pasti Sekar mengadu?" sambut ibu sinis.

Belum juga kami masuk ibu sudah mencecar kami. Ibu kembali terang-terangan bersikap kasar seperti dulu, biasanya ibu akan bersikap baik jika ada Mas Pamuji dan bersikap sinis bila Mas Pamuji tidak ada.

"Aku mau bicara sama Ibu," ucap Mas Pamuji, nada bicaranya masih terkontrol nampaknya nada sambutan ibu barusan tidak menjadi masalah bagi Mas Pamuji.

"Sekar pasti mengadu yang jelek tentang ibu, pasti dia ngelarang-ngelarang kamu ngasih uang ke ibu, ya sudah mulai sekarang jangan kasih-kasih uang ke ibu, biar istrimu tahu rasa nanti, karena mengambil yang bukan haknya, makanlah semua harta anakku sampai kau puas," ucap ibu, kedua tangannya terlipat di depan dada.

Hatiku memanas mendengar setiap kalimat-kalimatnya, ingin sekali kukembalikan semua kata-kata itu padanya.

"Bu, Sekar nggak kaya gitu, memang kami hidup kekurangan selama ini, semua karena aku ingin membahagiakan Ibu, membayar 5 tahun sebelumnya dimana aku nggak mampu ngasih Ibu sepeserpun," bantah Mas Pamuji membelaku.

"Sekar banyak berkorban biar aku bisa berbakti sama Ibu, tapi kenapa Ibu nggak bisa menghargai apa yang sudah Sekar lakukan?" lanjut Mas Pamuji.

"Berbakti? Lalu kenapa dia ngadu dan melebih-lebihkan keadaan pada Bude Rum?" ucap ibu mendebat Mas Pamuji.

"Sekar udah bikin ibu malu, kalau memang dia kelaperan kan bisa ngomong langsung ke ibu, bukannya ngadu ke orang lain, apa itu namanya kalau bukan menjebak ibu, istrimu itu ingin orang menilai ibu jahat, Ji," lanjut ibu dan sukses membuat mataku membelalak tidak percaya, pandai sekali ibu mertuaku ini bermain kata.

"Harusnya kamu sadar, kamu berubah sejak nikah sama dia, dia pasti mempengaruhi kamu untuk pelit sama ibu, dia pasti sudah memprofokasi kamu biar ibu ini kelihatan jahat, iya kan?!" ucap ibu dengan nada suara yang tinggi.

"Cukup, Bu!" ucap Mas Pamuji, dadanya terlihat naik turun menahan emosi.

"Bukan Sekar yang mengadu ke Bude Rum, tapi Bude Rum yang bertanya terlebih dahulu, dan bukan sama Sekar aja, tapi kami berdua yang ditanya oleh Bude.“

“Kami cuma menjawab apa adanya, apapun yang Bude Rum katakan ke ibu itu murni sudut pandang beliau setelah mendengar jawaban-jawaban kami," ucap Mas Pamuji menjawab tuduhan ibu.

"Dan Sekar nggak pernah memprofokasi apapun, justru Sekar lebih banyak mengalah dan memahami apa yang Ibu minta, hanya saja semakin kesini Ibu meminta lebih dari yang bisa aku berikan, aku bukannya pelit tapi kemampuan finansialku ada batasnya," lanjut Mas Pamuji, sejenak hatiku menghangat, aku merasa terlindungi oleh pembelaan Mas Pamuji.

"Dan satu lagi, Ibu sudah sangat keterlaluan karena membuat beras dan telur yang kami punya berserakan sia-sia, mungkin bagi Ibu bahan makanan tersebut nggak terlalu berharga tapi bagi kami beras tersebut sangat berarti untuk menyambung hidup, aku kecewa sama Ibu," pungkas Mas Pamuji.

Ibu beralih menatapku penuh benci, kalau saja tidak ada Mas Pamuji mungkin saja ibu sudah menerkamku.

Aku hanya diam dan membiarkan Mas Pamuji bicara, aku malas karena aku hafal mendebat ibu adalah hal yang sia-sia, bukannya meluruskan masalah tapi yang ada hati semakin jengkel dan marah.

"Kamu ... kamu sudah berani sama ibu, Ji. Wanita ini benar-benar berpengaruh buruk, karna dia kamu sudah durhaka sama ibu, apa kamu nggak ingat?“

“Karena wanita inilah kamu pernah hidup di titik rendah, menanggung utang, dan hidup miskin, jangan sampai karena menuruti wanita ini lagi, kamu kembali hidup susah dan menderita," ucap ibu kembali mengeluarkan jurus andalannya dengan nada yang membuatku gemas.

"Lalu apa ibu lebih senang melihat aku berdosa karena mengabaikan tanggung jawabku sebagai seorang suami dan ayah?“

“Bagas dan Tika butuh biaya untuk masa depan mereka, Bu.“

“Dan itu tanggung jawabku. Demi memenuhi standar berbakti yang ibu terapkan, haruskah aku jadi ayah yang menelantarkan anak-anaknya? Apa itu yang ibu inginkan?" Mas Pamuji mencoba mendebat ibu.

"Aku malu, Bu. Kenapa Ibu bersikap seperti ini? Kenapa Ibu tega sama Bagas dan Tika, mereka cucu Ibu, darah kita sama," pungkas Mas Pamuji, nada bicaranya mulai sedikit menurun menandakan kesungguhan pada kalimatnya.

Ibu tidak menjawab dan cenderung salah tingkah. Detik berikutnya ibu menangis, aku dan mas Pamuji saling pandang, selanjutnya ibu meraung-raung meningkatkan volume suaranya.

Dalam hati terbesit keraguan, apa ibu mertuaku sudah pandai berakting juga?

"Pergi kalian, kamu memang tega sama ibu, Ji, sana bawa istrimu pulang!" usir ibu.

Mas Pamuji langsung meraih tanganku.

"Baik, kami pamit, Bu. Assalamualaikum!"

Mas Pamuji menarik tanganku mengikutinya, meninggalkan ibu yang menangis begitu saja. Sikap Mas Pamuji membuatku terkejut, keputusanku untuk pisah perlahan memudar, Mas Pamuji telah membuktikan dirinya mampu melindungiku dan anak-anak.

Ibu tidak menjawab salam kami dia terus menangis, entahlah aku ragu pada tangisannya. Mungkin saja Mas Pamuji merasakan hal yang sama, makanya dia memilih pergi dan tidak terjebak pada drama yang ibu mainkan lagi.

"Maaf ya, Mas. Dan ... makasih juga," ucapku pada mas Pamuji.

"Sudah tugasku, Kar," jawab Mas Pamuji singkat.

"Apa Mas baik-baik aja, bersikap seperti itu pada ibu?"

"Aku hanya memberi teguran, semoga ibu mengerti, besok-besok juga ibu lupa dan kita bisa bersikap seperti biasa lagi, dan semoga sifat ibu sedikit berubah."

Aku tersenyum mendengar penuturan mas Pamuji, sepertinya Mas Pamuji benar-benar tidak ingin berpisah dariku dan anak-anak.

"Oh iya, Kar. Aku dapat pinjaman 1 juta dari Kang Heri, kamu pakai dulu uang itu untuk hidup kita sampai gajian nanti."

"Terimakasih, Mas," ucapku gembira, setelah tragedi beras tumpah tadi, hatiku masih sedih.

"Nih, uangnya."

Mas Pamuji menyerahkan segulung uang dari saku celananya, lembaran berwarna merah kuterima dengan suka cita.

"Alhamdulillah, terimakasih, Mas."

"Sama-sama, aku akan tetap membagi sedikit rezeki kita untuk ibu, tapi setelah kupastikan kamu dan anak-anak cukup.“

“Ibuku janda, nggak mungkin kalau aku nggak ngasih sepeserpun, aku harap kamu nggak keberatan, Sekar," ucap Mas Pamuji memberiku pengertian.

"Aku nggak keberatan selama pembagiannya masuk akal, dan bukan untuk memenuhi gaya hidup ibumu yang tinggi," jawabku.

Ditemani Mas Pamuji aku mampir ke warung mbak Yuyun untuk membeli sembako. Sekarung beras dengan berat 10kg, minyak, gula, telur, dan kebutuhan lainnya.

"Wah, Mbak Sekar belanjanya banyak, tumben," ucap Mbak Yuyun sambil menghitung belanjaanku.

"Iya Mbak, biar nggak bolak balik," jawabku.

"Semua jadi 245 ribu, Mbak Sekar." Kuserahkan 3 lembar uang pada Mbak Yuyun, dan Mbak Yuyun pun segera memberikan kembaliannya.

"Ini kembaliannya Mbak Sekar, makasih udah belanja di warungku lho, Mbak. Alhamdulillah bisa buat muter dagangan lagi besok, terimakasih Mbak, semoga Mbak Sekar sekeluarga diberi kesehatan dan dilancarkan rezekinya, Aamiin," ucap Mbak Yuyun.

"Aamiin," jawabku membarenginya, hatiku benar-benar mengamini semua doa Mbak Yuyun.

Kutatap barang belanjaanku yang dibawa oleh Mas Pamuji, kubayangkan wajah Bagas dan Tika yang bahagia karena besok masing-masing dari mereka akan kuberi sebutir telur.

Ada rasa mengganjal yang kurasakan, setelah ini apa ibu akan membaik atau justru semakin bersikap buruk padaku?

.

.

.

.

.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Kenyataan Yang Lucu

    Keesokan paginya kami sarapan dengan masing-masing satu telur mata sapi, biasanya satu telur dibagi dua untuk Bagas dan Tika, atau kutambah dengan tepung biar jadi besar dan cukup untuk kami berempat. Aku ingin sedikit menghibur diri perihal telur dan beras kemarin.Ditemani secangkir kopi lengkap dengan gula untuk Mas Pamuji yang hendak berangkat kerja, serta segelas teh manis, tentunya untukku.Apa ini sudah bisa disebut hidup layak?Aku sangat senang dan mulai bersemangat kembali untuk meneruskan hidup sebagai istri Mas Pamuji.Suara derap kaki terdengar mendekati pintu depan rumah kami, benar saja suara ketukan mengikutinya kemudian. Aku bergegas membuka pintu, penasaran siapa yang bertamu sepagi ini dan mengetuk tanpa salam."Ibu?"Ibu berdiri di depan pintu dengan kepayahan membawa dua kardus dan sebuah kantong plastik besar."Apa ini, Bu?""Ibu mau balikin barang-barang yang ibu beli pake uang Pamuji," jawab ibu dengan nafas sedikit ngos-ngosan."Tapi kenapa, Bu? Buat apa?" tan

    Last Updated : 2025-03-27
  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Nasehat Bude Rum

    Setelah Bagas masuk ke kelas, kuajak Tika ke rumah Bude Rum. Kutenteng sebungkus kue serabi hangat yang kubeli di jalan menuju ke sekolah Bagas tadi.Sesekali kugendong Tika agar kita lebih cepat sampai, karena nanti aku harus kembali menjemput Bagas pulang sekolah.Sebuah rumah besar bercat putih dengan dua lantai, halaman yang luas ditanami pohon mangga dan rambutan membuat suasana menjadi asri dan teduh. Juga berbagai bunga yang mempercantik suasana.Di garasi terparkir mobil keluaran lama, meski Bude dan Pakde orang berada namun mereka tidak serta merta hidup boros. Mereka akan merawat barang yang mereka punya dan baru akan membeli lagi ketika barang tersebut sudah tidak bisa digunakan.Bude memiliki dua orang putra dan satu orang putri, namun sayang putra pertamanya sudah meninggal saat remaja karena sebuah kecelakaan.Bude Rum dulunya seorang bidan, beliau berhenti ketika pakde sukses dengan bisnisnya dan fokus mengurus keluarga. Sebenarnya keluarga Bude Rum, ibu mertuaku, dan L

    Last Updated : 2025-03-27
  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Drama Ibu

    "Dimana kamu, Sekar? Aku harus bikin perhitungan sama kamu!" teriak Nurma dari seberang sana tanpa peduli salamku."Di sekolah Bagas," jawabku singkat."Aku tunggu kamu di rumah Ibu, aku mau ngomong penting!" ucapnya lagi kasar."Aku sibuk Nur, aku belum nyuci sama beres-beres rumah," tolakku."Oh kamu takut ya ketemu Ibu?" tebaknya salah."Sejak kapan Ibu jadi menakutkan?" tanyaku sekenanya."Oh, berani kamu ya, Sekar!""Sudahlah Nur, aku bilang cucianku banyak di rumah, aku sibuk, aku nyuci sambil jongkok kucek-kucek di kamar mandi, nggak kaya kamu atau Ibu yang tinggal muterin mesin cuci, jadi nggak bisa ditinggal-tinggal."Tanpa menunggu jawaban kutekan tombol matikan, malas sekali meladeni Nurma. Sudah kuduga Ibu akan mengadu pada anak-anak perempuannya. Walau umurku dan Nurma sama tapi aku adalah istri kakaknya, seharusnya dia memanggilku mbak, tapi dia selalu bersikap seenaknya.Nurma dan Rima bersikap hampir sama dengan ibu mertuaku, mungkin itu yang dinamakan buah jatuh tidak

    Last Updated : 2025-03-27
  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Jatah Ibu Mertuaku

    Aku ingat seminggu setelah menikah Mas Pamuji memboyongku ke rumahnya, rumah ibu mertuaku. Saat itu Nurma terus saja mencari masalah hingga kami sering bertengkar, dan dulu ibu mertuaku masih baik, atau mungkin tepatnya masih pura-pura baik. Karena pada akhirnya aku memergoki mereka sedang menggunjingku.Mas Pamuji yang kasian padaku akhirnya nekat mengambil pinjaman ke bank untuk membeli rumah. Kebetulan ada rumah yang sedang di jual tidak jauh dari rumah ibu.Keputusan Mas Pamuji waktu itu ditentang oleh ibunya mengingat selama ini Mas Pamuji yang menanggung kebutuhan rumah ini. Ibu terus menggunjingku karena masalah rumah, tapi sepertinya beliau belum berani berterus terang mengucapkan kalimat-kalimat sadisnya di depanku.Awal-awal kami memiliki cicilan bank ibu masih menuntut jatahnya, lama kelamaan Mas Pamuji berterus terang kalau dia tidak bisa lagi memberi pada ibu.Sejak saat itu ibu yang selalu bersikap manis pada Mas Pamuji mulai berkata kasar dan mengucap kata durhaka denga

    Last Updated : 2025-03-27
  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Rumah Sakit

    Baru kali ini aku diam saja ketika Nurma membentakku, keadaan membuatku menahan diri untuk tidak membalas. Mobil melaju meninggalkanku bersama kerumunan tetangga yang berkumpul dan ingin tahu.Mereka bertanya, aku saja tidak tahu, lebih baik aku pulang. Mas Pamuji pergi tanpa membawa ponsel atau pun dompetnya.Aku pun menemani Bagas dan Tika tidur dengan hati yang resah. Aku mengkhawatirkan Mas Pamuji yang baru pulang kerja dan belum sempat makan.Malam pun berlalu, saat subuh Bude Rum menelpon mengabariku tentang keadaan ibu. Ibu mengalami gejala stroke, kaki kanannya mati rasa sampai ke pinggang. Ibu dirawat di rumah sakit kota, dan Bude Rum mengajakku untuk kesana.Aku lemas dan tertunduk lesu, baru saja rumah tanggaku akan bahagia, tapi cobaan baru datang menyapa.Ibu sehat saja, gaji Mas Pamuji lebih banyak kesana, apa lagi nanti jika ibu stroke. Pembagian gaji yang Mas Pamuji katakan semalam sepertinya akan kembali gagal.Aku sedih ibu sakit, tapi aku merasa lebih sedih karena b

    Last Updated : 2025-03-27
  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Luka Hati Mas Pamuji

    "Ibu mau makan dan minum obat tapi ada syaratnya," ucap ibu, dan perasaanku mulai tidak enak."Apa, Bu?" tanya Mas Pamuji dengan sabar."Ibu mau kamu ceraiin Sekar!" ucap ibu.Aku dan Mas Pamuji terdiam seketika, kami saling pandang, sementara Nurma tersenyum sinis ke arahku."Ibu ... jangan aneh-aneh," ucap Mas Pamuji."Ibu serius, semua terserah kamu mau pilih ibu atau wanita itu!" ucap ibu lagi dengan tegas.Kedua alis Mas Pamuji bertaut, aku pun sama, kelakuan ibu semakin tidak masuk akal."Ibu ini yang melahirkan kamu, sudah seharusnya kamu berbakti dan nurut sama ibu, tapi wanita itu orang lain.""Gara-gara dia kamu udah nggak takut lagi jadi anak durhaka, kamu terus ngelawan sama ibu.""Keputusan ibu udah bulat, kalau kamu masih mau sama dia, nggak usah peduli lagi sama ibu," ucap ibu penuh ancaman klasik."Ibu memang ngelahirin aku, tapi Sekar juga udah ngelahirin anak-anakku.""Aku milih kalian berdua, aku akan adil, Bu. Selama ini aku sudah banyak dzolim ke Sekar dan anak-an

    Last Updated : 2025-03-27
  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Masa Lalu Yang Kelam

    "Tentang Bapak, tentang perlakuan Ibu yang amoral, apa aku boleh tahu?" tanyaku mencoba memberanikan diri untuk tahu.Mas Pamuji menunduk, membuang napas untuk mengosongkan dadanya yang berat."Nggak mau juga nggak papa, Mas. Tapi kalo Mas butuh temen cerita, jangan sungkan, ya. Aku baru tahu ternyata Mas banyak mendem masalah sendiri," ucapku mencoba membuat Mas Pamuji nyaman."Bapakku seorang pekerja kasar, dia ikut proyek jalan tol yang terkadang harus berpindah-pindah pulau," ucap Mas Pamuji mulai bercerita, diiringi deru suara bus dan klakson kendaraan yang saling melaju."Sebenernya uang yang bapak kirim waktu itu lebih dari cukup untuk kehidupan kami, tapi gaya hidup ibuku membuat semua terasa kurang dan kurang.""Ada aja barang yang ibu ambil dengan cara kredit, hingga lama kelamaan penghasilan Bapak nggak cukup untuk bayar semua tagihan-tagihan Ibu, sementara barang yang nggak berguna banyak teronggok di rumah.""Bukan satu dua orang yang udah negur Ibu waktu itu, tapi ... Ib

    Last Updated : 2025-03-27
  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Kamar Ibu

    "Ada apa, Mas?" tanyaku penasaran."Ibu pengen ketemu, katanya mau minta maaf, mintanya sekarang tapi aku bilang besok aja jadi sekalian pulang," cerita Mas Pamuji singkat.Minta maaf? Mudah-mudahan ibu sadar."Ibu udah boleh pulang?" tanyaku."Udah," jawab mas Pamuji singkat."Oh ... sukurlah kalo begitu.""Biaya rumah sakitnya gimana, Mas? Apa SPP Bagas nggak usah dibayar dulu?" tanyaku lagi."Kamu nggak usah khawatir Sekar, mulai sekarang aku nggak akan mengorbankan kehidupan kalian lagi, sementara kita bayar dulu pakai uang kemarin ya, tapi SPP Bagas kamu bayar dulu, nanti biar kuitansinya aku masukin ke perusahaan biar di rembesin," jawab Mas Pamuji."Jadi maksudnya nanti uangnya diganti gitu?""Iya," jawab Mas Pamuji."Kenapa dulu waktu Bagas sakit enggak begitu sistemnya?""Ini kebijakan baru, Sekar. Hasil dari rapat serikat pekerja sama managemen setahun lalu.""Alhamdulillah, seenggaknya kita punya jaminan kesehatan.""Iya, tapi semoga kita sehat-sehat terus."Aku senang mend

    Last Updated : 2025-03-28

Latest chapter

  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Anak Hasil Mel*nte 😭

    "Tapi ... mantannya Mas Pamuji cantik, kan?!" seru Nurma padaku."Cantik sih, tapi dia cantik dan sukses buat balas dendam! Apa kamu nggak sadar?!" ucapku marah.Nurma terlihat semakin kesal padaku, ibu pun sama tapi sepertinya dia mencoba menahannya."Sudah, Kar, ayo kita pulang!" ajak Mas Pamuji.Aku menuruti ajakan Mas Pamuji, meladeni Nurma bisa-bisa membuatku ikut kehilangan akal sehat. Terlihat Nurma kembali sibuk mengagumi uang di depannya sementara ibu menatap tidak rela."Kamu kenapa diem aja, Kar?" tanya Mas Pamuji setibanya di rumah."Aku kesel, Mas! Mala emang cantik, kan?" tanyaku memojokkan Mas Pamuji."Eh, enggak ... cantikan kamu Sekar," jawab Mas Pamuji tergagap, sepertinya Mas Pamuji tahu pertanyaan seperti ini akan salah apapun jawabannya."Mas ... jangan bohong, siapapun juga tahu kalo Mala itu cantik, aku mah apa atuh, bedak aja barengan sama Tika sama Bagas, lipstik harga 15 ribu belinya bisa dua tahun sekali, sabun mu--""Hust, sudahlah, Kar, nanti kalo kita pun

  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Balas Dendam Mala

    "Coba dulu Mbak Mala jadi iparku!" ucap Nurma.Seketika darahku mendidih, Nurma benar-benar menguji kesabaranku. Mungkin saja saat ini wajahku semerah tomat."Heh, nggak boleh gitu kamu, Nur!" tegur ibu pada Nurma.Aku terkejut, jelas sangat terkejut.Apa ibu sedang membelaku? Nampaknya ibu benar-benar mengibarkan bendera putih sekarang."Bercanda, Bu!" kilah Nurma."Pamali ngomong gitu, Nur, lagian kalo aku dulu jadi sama masmu, mungkin aku nggak di titik ini sekarang," ucap Mala sambil tersenyum."Jadi Mbak Mala ini mantannya Mas Pamuji?" tanyaku pura-pura tidak tahu."Bisa dibilang begitu, Mbak Sekar, tapi dulu kami nggak direstui," jawab Mala tanpa ragu.Aku melirik pada Mas Pamuji dan ibu."Tapi jangan salah paham, aku nggak maksud apa-apa, aku emang pengen beli sesuatu buat si mbokku, kebetulan liat postingannya Nurma jadi aku beli," lanjut Mala, dan aku meragukannya."Oh ... kenapa nggak direstui?" tanyaku penasaran, susah sekali menyembunyikan rasa cemburu, apalagi Mala sangat

  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Pembeli Ruko Yang ....

    Pada akhirnya ibu setuju menjual ruko warisan dari mbah kakung dan mbah putri, alias orang tua ibu mertuaku. Sayangnya tidak mudah menjual properti dengan cepat, semua yang menawar memberikan harga yang tidak wajar.Jika ruko itu terjual pun uang yang Nurma butuhkan masih kurang, semua teman-temannya tidak ada yang peduli. Terakhir ibu dan Nurma mendatangi Bude Rum dan Bulek Tri, ibu menawarkan ruko tapi keduanya menolak, akhirnya keduanya kompak menyumbang masing-masing 25 juta."Assalamualaikum." Terdengar suara Mas Pamuji pulang kerja."Waalaikumsalam," jawabku seraya membukakan pintu untuknya.Mas Pamuji kembali menggunakan motor legend kami untuk berangkat kerja."Kenapa kok Mas lesu?" tanyaku melihat gestur suamiku."Aku punya kabar buruk, Kar! Maafin aku!" jawab amas Pamuji menunduk, dia meletakan bobot tubuhnya di sofa."Ada apa, Mas?" tanyaku antusias, batinku menerka-nerka cobaan apa lagi yang menghampiri kami."Aku dimutasi, gara-gara mobil kemarin aku dianggap nggak bisa m

  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Mencari Uang Damai

    Masalah yang kami hadapi cukup pelik, hingga akhirnya mereka pulang dan hanya meninggalkan Dani di penjara, untuk sementara Nurma dan Rima tetap tinggal di rumah ibu.Mas Pamuji mendapat surat peringatan dari perusahaan karena masalah ini, untung saja biaya kerusakan mobil ditanggung oleh asuransi. Namun tetap saja aku was-was karena mobil ini sudah pernah membunuh orang, aku takut sial.Belakangan diketahui bahwa Nurma dan Dani memang bertamasya, bukannya kondangan seperti yang mereka katakan. Mereka menabrak sebuah warung kecil dipinggir jalan ketika jalanan menurun dan Dani gagal mengendalikan mobilnya. Gadis yang meninggal sedang menunggu dagangan orang tuanya di warung tersebut.Semua terbongkar karena keluarga Dani datang dan semua terkejut atas musibah itu, tidak ada yang sedang hajatan di antara mereka. Nurma tidak bisa lagi mengelak.Kini semua sedang mengusahakan kebebasan Dani dengan meminta damai pada keluarga korban. Terakhir korban meminta uang duka 500 juta untuk berda

  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Menunggu Kabar

    "Nurma sama Dani kecelakaan, katanya nelpon ke hape Ibu sama Rima nggak diangkat dari tadi, sekarang di rumah sakit," jawab Mas Pamuji panik."Innalilahi!" seru semua hampir berbarengan."Dimana?" tanya ibu panik."Keadaannya gimana?" tanyaku, padahal aku khawatir pada mobil yang dipakai Nurma."Ehm, kita harus ke sana, tapi naik apa? Minimal 2 jam dari sini," ucap Mas Pamuji.Kami kompak melirik ke arah Irfan, dia datang kemari membawa mobil. Irfan yang tahu arah pikiran kami mendengkus kesal, disaat musawarah tentangnya dan Rima belum menemukan jalan keluar justru Nurma memberikan masalah baru."Pake mobilku, tapi nggak bisa ikut semua, mobilku kecil!" ucap Irfan setengah hati, tapi mau bagaimana lagi tidak ada pilihan lain.Akhirnya diputuskan bahwa yang berangkat Mas Pamuji, Irfan, dan juga ibu. Tentu saja aku tidak bisa karena harus menjaga Bagas dan juga Tika. Sementara Rima masih belum mau banyak berinteraksi dengan Irfan sehingga lebih memilih tinggal."Rim ... Irfan kok kaya

  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Bertubi-tubi

    "Sepeda Bagas bagaimana, Mas?" tanyaku."Kita beli pake motor?" usul Mas Pamuji ragu."Ishk!"Kutinggalkan Mas Pamuji yang sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal."Kemarin udah terlanjur bilang iya sama Nurma kan?" ucap Mas Pamuji sambil mendekatiku yang kesal."Iya, sih," gumamku pelan, kembali kuhela napas.Aku pikir sikap Nurma yang arogan mengisyaratkan kalau dia tidak jadi meminjam mobil hari ini. Ternyata dia tetap memakainya meskipun sudah membuat keributan kemarin.Ternyata gengsinya tidak setinggi gaya bicaranya. Apalagi kata-kata suaminya tentang kepemilikan mobil itu, semakin membuatku geram."Lihat, Mas! Nurma yang serumah sama ibu, juga nggak simpati-simpati amat sama masalah Rima, ketelen aja tuh dia jalan-jalan sama keluarganya," ucapku pada Mas Pamuji."Itu kan kondangan, Kar, mungkin nggak enak sama keluarga Dani," jawab Mas Pamuji."Aku nggak yakin Dani punya sodara di kota itu, tempat wisata mah ada, pemandian air panas, mungkin aja Nurma ke sana, alesannya kon

  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Karma

    "Apa?!" pekik ibu.Ibu berlari pulang di susul Nurma di belakangnya, aku yang penasaran pun ikut berlari.Ibu mendekap Rima yang menangis, Nurma duduk di sampingnya dan mengusap lembut punggung Rima. Kuberanikan diri mendekat, aku juga ingin tahu apa yang menimpanya.Tampak sebuah tas besar di sisi lain kursi, nampaknya milik Rima. Ada Dani dan Adeva juga, suami dan anak Nurma, ternyata mereka juga ada di sini."Aku nggak mau pulang ke sana lagi, Bu, aku nggak mau!" raung Rima dalam tangisnya."Iya ... iya," sahut ibu."Tapi Rafa gimana? Ibu harus ambil Rafa dari keluarga mas Irfan!" raung Rima lagi."Sudah kamu tenang dulu, Rim, kalo udah tenang baru bisa nyari solusi," ucap Nurma.Cukup lama akhirnya sampai Rima tenang, aku berinisiatif membuatkan teh manis untuknya. Sependek ini aku hanya tahu Rima pergi dari rumahnya karena suaminya ketahuan berselingkuh. Awalnya Rima akan membawa Rafa, anaknya, tapi dihalangi oleh ibu mertuanya.Ibu tampak kalut dengan masalah rumah tangga anakn

  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Permintaan Maaf Dari Ibu

    Kudekatkan mulutku ke telinga Ibu, kubisikan kalimat yang sudah kutahan-tahan."Mulai sekarang aku akan ngelindungin Mas Pamuji dari orang yang suka manfaatin dia, terutama dari orang yang udah mencoba membunuh Mas Pamuji sebelum dia lahir!"Mata ibu membelalak, dan aku puas.Sikap ibu yang terlihat sangat terkejut dan panik, menunjukan bahwa dia benar-benar pernah melakukan usaha aborsi itu. Rasa kecewaku semakin memuncak. Sebutan ibu hampir tidak pantas disandangnya.Nurma terlihat bingung menyaksikan ekspresi ibunya yang terkejut. Dadaku naik turun menahan emosi, keberanian yang kukumpulkan untuk melawan mereka sudah mulai berbaur dengan amarah."K-kamu?" ucap ibu tergagap."Iya, aku tahu semua!" tegasku."Ada apa, Bu?" tanya Nurma panik, dia yang datang dengan percaya diri sekarang terintimidasi."Dari mana kamu tahu?" tanya ibu sedikit berbisik, berusaha agar Nurma tidak tahu."Udah waktunya aja rahasia Ibu kebongkar," jawabku sengaja membuat ibu bingung."Jangan sok tahu kamu!"

  • Jatah Bulanan Ibu Mertuaku   Aku Akan Melindungi Suamiku

    "Mau kondangan kemana Nur?" tanya Mas Pamuji."Ke luar kota Mas, sodaranya Mas Dani hajatan," jawab Nurma."Nggak usah dikasih, Mas! Giliran kita ada mobil tiba-tiba suaminya punya sodara di luar kota yang hajatan, gitu?" bisikku di telinga Mas Pamuji."Besok aku lembur, Nur, mobilnya kepake," tutur Mas Pamuji."Mas pake motor aja, dulu juga Mas pake motor terus," rajuk Nurma."Wong lemburnya juga keluar kota, kunjungan industri, mau ngeliat vendor baru," ucap Mas Pamuji."Dulu kerjaan Mas cuma di pabrik, sekarang kan harus sering ke luar kota, banyak mobilitasnya, makanya dikasih inventaris mobil, kalo enggak ya nggak dikasih sama kantor," lanjut Mas Pamuji menjelaskan.Nurma terlihat kesal, aku tidak peduli benar atau tidak alasan lemburnya Mas Pamuji, aku merasa puas. Kemana mereka saat kami susah?Saat kami punya mereka datang bagaikan lalat. Aku tidak akan membiarkan suamiku mengemis kasih sayang lagi pada mereka."Ya udah aku pinjemnya hari minggu aja," pinta Nurma pantang menye

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status