Share

Bab 73. Pergi.

Author: Tifa Nurfa
last update Last Updated: 2024-10-29 19:42:56

"Mas Iqbal!"

"Apa.maksud kamu ngomong seperti itu? Kamu mau pergi?!" cecarku.

Amanda tercekat, wajahnya menegang, pucat.

"Ehm, bu–bukan itu, itu cuma temen aku, biasa, ngajak jalan-jalan aja kok!"

Aku menatap lekat wajahnya.

"Lalu apa maksud kamu muak? Kamu muak hidup sama aku? Gitu?!" Amanda terperangah menatapku.

"Kamu apaan sih! Nuduh aku sembarangan gitu, aku cuma muak dengan suasana di rumah sakit ini, aku udah nggak betah pengin pulang, Mas! Plus kamu jangan mikir macam-macam dong Mas!"

Aku menghela napas. Ya memang sih, siapapun itu pasti nggak akan betah lama-lama di rumah sakit, jangankan yang sakit, yang sehat yang berjaga saja nggak betah lama-lama di rumah sakit.

"Oh, kamu sabar ya, kata dokter 3-4 hari lagi kamu sudah boleh pulang," ucapku melembut. Aku jadi merasa bersalah sudah suudzon sama Amanda. Padahal dia baru saja bertaruh nyawa melahirkan anak kami.

Aku melangkah mendekatinya. Kuusap lembut rambutnya.

"Maafin aku ya, aku sudah menuduh macam-macam. Kamu makan ya,
Locked Chapter
Continue to read this book on the APP

Related chapters

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 74. di tangkap.

    "Mas Iqbal, kenapa?" Suara seorang perempuan sontak membuatku terkejut. Aku menoleh, ternyata ada Hasna sudah berdiri diambang pintu kamar.Ah ya, sekarang kan hari Sabtu. Lama menjadi pengangguran, menjadikan aku jadi sering lupa hari."Hasna!" "Tadi aku beberapa kali ngucap salam di depan, tapi sepi. Ternyata Mas di kamar. Mas kenapa?" Hasna menatapku dan Rayyan bergantian. Mungkin ia heran melihatku sedih, dan mata memerah."Kak Manda mana? Kok sepi," tanyanya lagi karena aku tak kunjung menjawabnya."Dia pergi, dan dia meninggalkan surat itu." Aku menunjuk pada kertas yang sudah kuremas-remas membentuk bulatan yang tergeletak di lantai.Hasna langsung jongkok kemungut kertas itu dan membukanya.Hasna pun sama terkejutnya, seketika ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya sambil menggeleng."Astaga, gil4, dia benar-benar gila4, tega meninggalkan anaknya sendiri!" ucap Hasna lagi.Tiba-tiba saja Rayyan menangis dan aku bangkit untuk menimangnya.Hasna menatap nanar bayi kecil

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 75. Hasna POV

    Hasna POV."Hasna, Mas titip Rayyan ya!" Hatiku teriris nyeri melihat Mas Iqbal di giring memasuki mobil polisi, belum lagi tatapan para tetangga yang melihat keadaan ini, semakin membuatku tak berdaya. Ya Tuhan, kenapa semua jadi seperti ini? Keluargaku berantakan, Ibu yang masih dalam perawatan di rumah sakit jiwa, Bapak yang kini sudah punya kehidupan baru dengan istri mudanya. Dan sekarang? Mas Iqbal justru harus masuk bui, atas kasus penggelapan dana, yang membuatku sangat terkejut. Kenapa bisa dia berbuat senekat itu? Padahal selama ini dia punya pekerjaan yang mapan, semuanya terlihat berkecukupan dan semuanya baik-baik saja ketika masih bersama-sama dengan Mbak Tyas.Ya, semuanya baik-baik saja sebelum dia mengenal Kak Manda, tanganku terkepal erat mengingat wanita itu. Sekarang ia justru pergi entah kemana meninggalkan bayi yang tak berdosa ini.Aku menangis tergugu, mendekap erat tubuh mungil Rayyan. Tak mungkin aku meninggalkan dia sendirian, hanya ada aku sekarang, Ibu ma

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 76. Bertemu ibu

    Hasna Pov. "Assalamualaikum!" Suara salam dari pintu depan terdengar. Aku langsung bergegas keluar, itu pasti Bapak datang. Rayyan baru saja tertidur, aku bisa meninggalkannya sebentar ke depan untuk melihat siapa yang datang. "Wa'alaikumussalam, Bapak!" sambutku hangat. Aku meraih punggung tangannya, dan menciumnya takzim, di sebelahnya berdiri anggun seorang wanita mengenakan hijab berwarna hitam. Dan gamis hitam. Aku pun meraih punggung tangan wanita itu. Sakit sebenarnya, karena wanita ini, hati Bapak jadi terbagi, karena dia Bapak jadi meninggalkan kami. Tapi sekarang bukan saatnya menjadikan rasa sakit hati ini sebagai alasan untuk membenci seseorang. Nyatanya Bapak terlihat lebih gemukan, terlihat lebih terurus dengan baik olehnya. "Iqbal mana?" tanya Bapak seraya menoleh ke arah dalam rumah. Bu Maryam terlihat gugup, ia menggandeng lengan Bapak. "Mas Iqbal nggak ada di rumah Pak, ayo masuk dulu," ajakku. Mereka pun mengikutiku masuk ke dalam rumah. Bapak terlihat

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 77. Penyesalan

    Bapak mengusap lembut punggung ibu. Tanpa terasa air mataku menetes menyaksikan pemandangan di depanku. "Maafkan Ibu Pak! Maaf!" ucap Ibu dengan derai air mata. "Sudah sudah, Bapak juga minta maaf." Netra Bapak.memerah. Meski Bapak sudah menikah lagi dengan wanita lain, tapi mereka masih sah berstatus suami istri. "Aku yang sudah keterlaluan sama Bapak selama ini, aku yang salah Pak!" ucap Ibu tergugu pilu. Aku mengusap pelan air mata yang kini sudah menganak sungai di pipi. "Ibu sehat?" tanya Bapak. Ibu mengangguk. "Maaf Bapak baru bisa datang sekarang. Maaf Bapak jarang mengunjungimu." "Sudah Pak, sekarang kita masuk ke dalam dulu yuk," ajakku pada dua orang yang sangat kucintai ini. Aku menggandeng tangan mereka berdua memasuki rumah kontrakan yang tak seberapa luas itu. "Semua yang sudah berlalu biarlah berlalu, kita hanya perlu belajar Ikhlas, karena segala sesuatunya itu hanya titipan, dan Allah berhak mengambilnya kapan saja dari kita, termasuk harta yang k

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 78. Menemui Iqbal.

    Hasna Pov. Pagi-pagi aku sudah berangkat ke kantor. Sekarang aku sudah berada di kota kembang Bandung. Walau di kantor ini aku hanya sebagai staf, tapi aku bersyukur sekali, karena di luar sana ada banyak sekali orang-orang yang sedang berjuang mencari pekerjaan. Hidup semakin sulit, mencari kerja semakin susah. Baru saja aku duduk di meja staff, ponselku bergetar tanda ada pesan masuk. Aku langsung membukanya. [Hasna, bagaimana kabar kamu? Apa kamu betah kerja di sana?] Sebuah pesan dari Mbak Tyas. Aku menarik napas dalam-dalam. Pikiranku melayang jauh. Mas Iqbal masuk penjara juga pasti karena Mbak Tyas yang melaporkan. Mas Iqbal sampai di pecat dari kantor juga pasti karena Mbak Tyas. Sepertinya rasa sakit hati Mbak Tyas membuatnya gelap mata dan ingin membalas semua perlakuan kakakku padanya. Mbak Tyas benar-benar membuktikan kata-katanya, kalau Mas Iqbal benar-benar tak bisa berbuat apa-apa ketika ia sudah bertindak. Ya Tuhan, ini juga semua salahmu Mas, kamu

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 79. Di pantai

    Tyas Pov. Aku tak mungkin membiarkan yang bersalah melenggang bebas. Yang salah tetap harus di hukum termasuk Mas Iqbal. Aku menyerahkan semuanya pada Abian dia yang mengurusnya bersama kepolisian. Tak berapa lama, panggilan telepon dari Abian masuk. "Ya, Hallo Pak Abi." "Semuanya sudah beres, polisi sudah turun tangan." Telepon dari Abian pagi ini. "Iya, Pak, terimakasih informasinya." "Sama-sama. Kamu udah makan belum?" tanyanya kemudian "Belum." "Mau aku pesankan makanan?" tanyanya. "Terimakasih Pak Abi, atas tawarannya, tapi nggak usah, saya masih kenyang," jawabku. "Masih kenyang atau memikirkan nasib seseorang yang sebentar lagi akan di tangkap polisi?" tanyanya, yang sebenarnya membuatku muak. "Ih Pak Abian apaan sih maksudnya? Enggak lah?" sanggahku. "Oh, kalau enggak ya syukurlah! Saya pesankan makanan ya!" "Ya sudah Terimakasih Pak Abi, seharusnya nggak perlu repot-repot gini." "Enggak repot kok, sayanya masih di sini. Ehm lama nggak jumpa Bu Tyas

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 80. Pengakuan Rasa

    "Pak Abian kenapa sih! Ngeselin banget! Kelamaan jomblo nih pasti, makanya jd gini," sungutku.Kembali ia tertawa, padahal nggak ada yang lucu."Heh, aku jomblo juga karena ada alasannya!" "Pasti karena mantan!" tebakku. Tapi dia menggeleng."Nggak ada di kamusku, masih terpaut dengan mantan.""Ya bagus lah kalau gitu. Mantan memang harusnya buang ke laut aja!" Aku melempar batu kecil ke lautan.Baru kali ini aku duduk santai layaknya seorang teman dengan Abian, biasanya kami selalu bersikap formal dan berusaha selalu profesional, karena memang kami adalah satu tim di kantor."Ada seorang wanita yang membuatku tak bisa beranjak untuk mencari yang lain," ucapnya tiba-tiba."Oh ya! Itu artinya Bapak belum move on. Makanya Pak, Move on! Move on!" ledekku."Sampai kapanpun tak bisa. Karena perempuan itu ...."Aku menoleh padanya, netra kami beradu."Kamu."Jantungku seakan berhenti berdetak. Abian masih menatapku lekat, membuatku jadi salah tingkah sendiri di tatap begitu dalam olehnya.

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 81. Keluarga Abian.

    "Dia calon menantu Mama." Ucapan Abian membuat Wanita itu menatapku lekat. Namun beberapa saat kemudian, ia tersenyum hangat."Sini, Sayang!" Beliau menggerakkan tangannya memintaku untuk mendekat.Aku menoleh ke arah Abian, ia mengangguk. Aku pun melangkah pelan mendekati ranjang."Cantik sekali, siapa nama kamu Sayang?""Saya Tyas Tante," jawabku gugup.Bagaimana tidak tiba-tiba Abian mengatakan aku calon mantu pada mamanya. Awas aja ya kamu Abian!"Tyas, nama yang sangat bagus, secantik orangnya. Abi, kamu memang pandai pilih calon istri. Dia sangat cantik dan baik," ucapnya lagi."Tante, gimana keadaannya?" Wajahnya masih terlihat pucat, tapi ia terlihat begitu ceria begitu melihat Abian datang."Mama. Panggil Mama saja, ya! Keadaan Mama sudah lebih baik, bahkan sekarang Mama merasa sudah sehat sebab Abian sudah datang, dan bonusnya Mama sebentar lagi mau punya menantu," ucapnya terkekeh.Aku tersenyum kaku sambil sesekali melirik Abian. Dia hanya menunduk salah tingkah, lalu me

Latest chapter

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 148. Ending.

    "Pergi dari sini aku bilang! Pergi!" Sentak Iqbal dengan suara menggelegar."Oke, oke, aku tak akan mengambil Rayyan darimu. Tapi satu hal yang ingin aku sampaikan. Bagaimanapun aku ini adalah ayahnya. Jadi aku bisa sewaktu-waktu kemari untuk menengoknya. Kau tak bisa melarangku, kalau itu terjadi maka aku akan membawanya pergi jauh darimu."Ucapan Juna terdengar seperti ancaman bagi Iqbal."Oke! Tapi jangan pernah kau katakan kau adalah ayahnya. Tunggu sampai saatnya tiba. Saat dia bisa mengerti semua keadaan ini."Juna mengangguk kemudian pergi.Dalam keheningan malam, Iqbal duduk sendiri di kamar Rayyan, memandangi anak itu yang tertidur pulas. Sekarang Rayyan mulai mau menginap di rumah itu dan tidur bersama Iqbal. Tentu saja itu sesuatu yang sangat membahagiakan bagi Iqbal."Aku telah mencintaimu sejak hari pertama aku melihatmu di dunia ini," bisiknya lirih. "Sekarang dan sampai kapanpun ... tidak ada yang bisa mengubah itu." Iqbal mengelus pelan rambut lebat bocah yang tengah

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 157. Kenyataan Menyakitkan.

    Iqbal menunggu dengan penuh rasa penasaran. Jantungnya berdegup kencang.Dan Hasilnya ... TIDAK COCOK. Rayyan bukan darah dagingnya.Iqbal tercengang. Dunia seakan runtuh seketika. Hatinya hancur. Ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Semua yang selama ini ia kira adalah kenyataan hidupnya, ternyata hanyalah ilusi. Amanda–wanita yang ia nikahi, ternyata telah menipunya. Namun yang lebih menyakitkan lagi, Rayyan anak yang selama ini ia anggap sebagai bagian dari dirinya, anak itu ternyata bukan anak kandungnya.Wajah Iqbal mendadak pucat. Ia masih seperti mimpi. Mimpi buruk yang membuatnya seperti kehilangan sebagian dari hidupnya.Meski ia berpisah lama dengan Rayyan karena dia di penjara, tapi dalam hatinya selalu menyakini bahwa Rayyan adalah permata hatinya. Dan sampai kapanpun dia tak merasa sendiri sebab ia punya anak. Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Iqbal menggeleng, beberapa kali ia mengusap kasar wajahnya. Masih tak bisa terima dengan apa yang dikatakan dokter, tapi

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 156. Tes DNA.

    Setelah menjalani masa hukuman di penjara selama beberapa tahun, Iqbal kembali ke dunia luar dengan segunung tantangan yang menantinya. Fauzan yang telah menjamin kebebasan untuk Iqbal. Iqbal tak pernah menyangka, orang yang dulu ia tolong, kini telah sukses dan bahkan bisa menolongnya keluar dari penjara. Iqbal sangat berterimakasih pada Fauzan.Bayangan suram masa lalunya membayang-bayangi langkahnya, tapi ia mencoba menghapus semuanya, memulai lembaran baru. Fauzan menjemput Iqbal dengan mobil miliknya. Begitu sampai di halaman rumah Iqbal terkejut Hasna tengah sibuk melayani beberapa pembeli."Hasna," ucap Iqbal dengan senyum tersungging di bibirnya.Bergegas ia turun dari mobil untuk menemui ibunya. Beberapa langkah sebelum sampai di teras toko, ia melirik ke arah pintu rumahnya. Harusnya ada ibunya yang menyambut kepulangannya di sana. Mendadak hatinya gerimis, mengingat kini ibunya sudah tidak ada lagi.Dulu ibunya adalah satu-satunya orang yang selalu ada mendukungnya. Wala

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 155. Akhir kisah sang Pelakor

    Amanda duduk duduk di tepi ranjang kecil yang suram, memandangi jendela yang menghadap ke gang sempit di sudut kota Semarang.Diluar kehidupan kota samar-samar terdengar, namun jiwa wanita itu terasa hampa. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat dengan tatapan matanya kosong. Sisa kehidupan yang dulu penuh hingar bingar kini hanya menyisakan sebuah penyesalan yang tak tertahankan."Aku muak dengan semua kelakuanmu! Kamu hadapi semua ini sendiri! Aku nggak mau tahu! Ini kan buah dari semua perbuatanmu!" sentak Yusuf sore itu sebelum memutuskan untuk pergi ke Jakarta.Yusuf yang menjadi kakak tiri Amanda, merasa sudah capek menghadapi berbagai model orang yang datang menagih hutang pada Amanda.Yusuf seolah menjadi ATM bagi Amanda, seenaknya dia meminta kakaknya untuk membayar hutang-hutangnya.Yusuf pun merasa capek. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan berusaha bersikap masa bodoh dengan Amanda. Karena semakin di turuti keinginannya, Amanda semakin menjadi. Seolah makin banyak saja orang

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 154. Iqbal Bebas

    Salah satu perawat yang tinggal tak begitu njauh dari rumah Hasna datang tergopoh, ia langsung mengecek kondisi tubuh Bu Wina yang dingin."Maaf, Ibu Wina sudah tidak ada," ucap perempuan itu lirih."Innalilahi wa Inna ilaihi Roji'un." Beberapa orang tetangga yang sudah datang turut berduka.Sedangkan Hasna masih tak sadarkan diri."Panggilkan Bapakya Hasna, cepat!" seru salah satu tetangga memberi titah pada tetangga lainnya. Laki-laki yang diberi perintah itu pun bergegas lari ke rumah Bapaknya Hasna, yang tinggal tak jauh dari rumah itu bersama Bu Maryam."Astaghfirullah, ada apa, Hasna! Hasna!" Laki-laki paruh baya itu datang, ia syok melihat Wina istri pertamanya telah berpulang. Dan Hasna masih terbaring pingsan.Dalam hati kecilnya ia sangat sedih, meski semasa hidup dan tinggal bersama Wina ia kerap kali berbeda pendapat, kerap kali bertengkar, tapi perjalanan waktu yang di lalui bersama, tentu menyimpan sejuta kenangan bersama juga bersama anak-anak mereka."Yang sabar Pak! I

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 153. Kepergian Bu Wina.

    Pagi-pagi sekali Hasna sudah bersiap untuk pergi menemui Iqbal."Mbak Santi, tolong titip Ibu sebentar ya. Akan saya usahakan cepat pulang." Hasna meminta bantuan tetangga untuk menjaga ibunya sebentar, selama dia pergi."Iya Hasna, tenang aja. Saya akan di sini sampai kamu pulang.""Terimakasih banyak Mbak Santi.Hasna pun berangkat dengan memakai motor matic second yang dibelinya, untuk di pakai setiap kali berbelanja mengisi tokonya.Saat tiba di Lapas, seketika Hasna merasakan atmosfer yang berat. Rasa rindu, marah, kecewa, dan kesedihan bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. Saat Iqbal muncul di ruang kunjungan, Hasna melihat perubahan besar dalam diri kakaknya. Wajahnya tirus, tubuhnya semakin kurus, rambutnya sedikit berantakan, dan ada bayangan kelam di matanya."Hasna ..." Iqbal memanggil namanya dengan suara serak, seakan-akan ia tak percaya adiknya benar-benar datang.Hasna duduk di depannya, diam sejenak. Suasana canggung terasa di antara mereka. "Aku datang karen

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 152. Tawaran Bantuan.

    "Selamat sore, Mbak Hasna," sapa pria itu.Hasna sedikit terkejut. Ke apa laki-laki itu bisa tahu namanya. Dari gelagatnya dia seperti tidak berniat untuk membeli sesuatu di toko."Sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu?""Saya teman lama Iqbal. Namaku Fauzan. Saya baru dengar tentang kejadian yang menimpa keluargamu."Hasna terdiam sejenak. Ada rasa kekhawatiran, jangan-jangan kakaknya punya hutang pada temannya ini dan sekarang dia datang untuk menagih hutang. Begitu pikir Hasna."Oh, begitu. Ada yang bisa saya bantu? Maaf Mas Iqbal tidak ada di rumah."Fauzan mengangguk pelan. "Aku hanya ingin tahu bagaimana kabar ibumu. Aku tahu bahwa apa yang terjadi dengan Iqbal pasti bagi kalian."Hasna memandang pria itu dengan sedikit rasa waspada. Ia memang pernah mendengar nama Fauzan dari Iqbal, tapi mereka tak pernah bertemu sebelumnya. Tentu saja, setelah semua yang terjadi dengan kakaknya, ia sulit untuk langsung mempercayai siapa pun, terutama orang yang datang tiba-tiba tanpa diduga.H

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 151. Jalan terjal kehidupan Keluarga Iqbal.

    POV Author. Jalan Terjal Kehidupan keluarga Iqbal."Makan dulu Bu." Hasna menyuapi ibunya–Wina dengan telaten.Nasi putih dengan tekstur sedikit lembek dan sayur Sop ayam. Biasanya ibunya akan sangat suka dengan menu satu ini. Tapi hari ini Bu Wina seperti tak ada nafsu makan."Bu, lagi ya." Bu Wina menggeleng. Hasna menghela napas."Ya sudah sekarang minum obatnya, ya." Hasna bergegas menuju ke kamar ibunya, membuka laci nakas tempat ia menyimpan obat.Setelah kejadian Bu Wina jatuh stroke, Hasna memilih resign dari kantor dan fokus di rumah mengurus ibunya.Ia membawa Wina kembali ke rumah lamanya. Sedangkan Bu Maryam dan Bapaknya pindah dari rumah itu, tinggal tak begitu jauh dari rumah Bu Wina."Ini Bu obatnya." Setelah selesai mengurusi ibunya, Hasna membawa ibunya ke depan teras rumah, udara pagi yang sejuk, juga sinar matahari pagi bagus untuk kesehatan ibunya."Hasna buka warung dulu ya." Bu Wina hanya mengangguk. Sebenarnya Bu Wina masih bisa bicara walau ada sedikit terb

  • Istri yang Kau Sakiti Ternyata Punya Perusahaan Sendiri    Bab 150. Jebakan untuk Om Martin.

    "Halo Sayang, aku sekarang bagi diperjalanan pulang ke Jakarta." Aku mengabari Tyas melalui sambungan telepon."Iya Mas hati-hati. Gimana tadi ketemu sama Pak Bambang?""Ketemu Sayang.""Terus?""Nanti aku ceritakan di rumah ya. Assalamualaikum."Panggilan selesai. Aku fokus mengemudi dengan karena jalan berbelok-belok dan berbatu.Aku kembali ke Jakarta dengan menggenggam luka. Kesaksian Pak Bambang, tentu memberi titik terang sekaligus memberikan luka. Betapa Martin sangat jahat. Padahal Papa sudah sangat percaya padanya.Ternyata dia tega mengkhianati kepercayaan Papa. Sungguh ini sakit sekali."Ya Allah Pa. Lihat kan Pa, orang yang selalu Papa bela mati-matian, orang selalu menjadi diri diantara hubungan kita. Ternyata dia adalah orang yang sangat busuk! Brengsek! Awas saja Kau Martino, aku pastikan kau akan mendekam di balik jeruji besi untuk waktu yang sangat lama," geramku, sambil memukul stir mobil beberapa kali.Aku berhasil keluar dari jalan desa, kini melewati jalanan yang

DMCA.com Protection Status