Share

Sedih Dan Cemburu

last update Last Updated: 2025-02-14 18:57:36
Rajendra baru saja keluar dari ruangan meeting ketika ponselnya bergetar di dalam sakunya. Ia mengabaikannya sejenak lantaran masih berbicara dengan beberapa rekanan. Tapi panggilan tersebut terus berlanjut. Dengan sedikit kesal ia merogoh saku guna mengambil benda itu.

Ada nomor tidak dikenal tertera di layar. Dahi Rajendra berkerut. Daripada nomor tersebut terus meneleponnya lebih baik ia menerimanya.

"Halo," sapa Rajendra datar.

"Halo. Betul ini dengan suami Ibu Livia?" tanya suara di sebarang sana.

Mendengar nama istrinya disebut membuat debar dada Rajendra mengencang.

"Iya. Saya sendiri. Saya suaminya. Ada apa?"

"Kami dari Rumah Sakit Selalu Sehat ingin mengabarkan bahwa istri dan ibu Bapak mengalami kecelakaan lalu lintas. Saat ini keduanya sedang berada dalam penanganan medis."

Badan Rajendra mendadak lemas. Sendi-sendi penyangganya seakan ingin lepas dari tempatnya. Ia hampir saja tidak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.

"Bagaimana kondisi istri dan ibu sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (26)
goodnovel comment avatar
Mbok'e Kinthul
kok aku kecewa ya... muter lagi ke massa lalu...
goodnovel comment avatar
Saulina Simbolon
Randu anak siapa sebenarnya sih? jd ceritanya balik ke kisah cinta livia dan evan ya? krn emang gak diceritakan sih kisah mereka dlm cerita ini. lanjut aja thor kayaknya makin menaril deh.
goodnovel comment avatar
Queen Sukabumi
tidak up bingung kan ngelanjutin ceritanya salah sih gerr di bikin kusut lagi
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Bitter Truth

    Cuaca saat itu lebih terik dari biasanya. Para siswa berhamburan keluar dari sekolah. Sebagian dijemput orang tua mereka, sebagian lagi menuju mobil jemputan.Sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang sekolah. Geri turun dari dalamnya. Tasia yang juga ikut serta juga turun. Mereka disuruh Rajendra untuk menjemput anak-anak."Tante Tasia kok ikut jemput juga?" tanya Gadis keheranan. Biasanya kalau bukan Rajendra yang menjemput, pasti Geri atau Livia. "Bunda mana, Tante?"Geri dan Tasia saling pandang. "Naik dulu ya, nanti kita ngobrol di mobil." Tasia yang menjawab.Ketiga anak itu masuk ke mobil. Gadis duduk di tengah, diapit oleh Randu dan Lunetta di kanan dan kirinya."Bunda mana, Tante? Kenapa bukan Bunda yang jemput Adis?" Gadis mengulangi lagi pertanyaannya yang belum terjawab begitu mobil mulai melaju membelah jalan raya. Gadis sudah tidak sabar untuk menceritakan hal-hal yang ia alami di sekolah, sama seperti hari-hari sebelumnya.Tasia menoleh ke belakang, menatap mata Gadi

    Last Updated : 2025-02-16
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Tidak Pernah Sesakit Ini

    Di dalam ruangan rumah sakit yang serba putih suara detak mesin monitor terdengar pelan. Livia berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Selang infus masih terpasang ke tangannya. Sedangkan oximeter menjepit jari telunjuknya.Pintu kamar terbuka dengan perlahan. Rajendra muncul menggandeng Gadis, disusul oleh Randu dan Lunetta.Gadis memekik pelan. "Bundaaa!!!" Ia melepaskan gandengan tangan dari Rajendra lalu berlari menuju bed tempat Livia berbaring.Livia menoleh. Matanya bertemu dengan sepasang mata bulat yang basah. Gadis langsung memeluk pinggang Livia erat-erat. Tubuhnya bergetar oleh tangis yang kembali menjadi."Bundaaa, Adis sayang Bunda. Bunda nggak boleh lupa sama Adis."Livia tidak membalas pelukan tersebut. Tangannya tetap diam di sisi tubuh. Ada rasa asing di sorot matanya.Kemudian Livia bertanya yang seketika menghancurkan hati Gadis. "Maaf, kamu siapa?"Gadis tersentak. Ia melepaskan pelukan dari pinggang Livia lalu menatapnya. "Bunda, ini Adi

    Last Updated : 2025-02-16
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Mau Saya Pijitin?

    Di luar rumah sakit Rajendra berhenti. Ia bersandar ke dinding. Sementara Gadis masih terisak di dalam dekapannya. Randu berdiri mematung, begitu pun dengan Lunetta."Papa ... kenapa Bunda nggak ingat Adis? Bunda jahat sama Adis ..."Rajendra memejamkan mata menahan sesak yang menekan dada. Ia mengusap kepala Gadis, mencoba menenangkan walau hatinya sendiri begitu kalut. "Bunda nggak jahat, Nak, Bunda cuma lagi sakit.""Dulu Bunda juga pernah sakit tapi nggak pernah lupa sama Adis. Bunda tetap sayang sama Adis. Tapi sekarang kenapa Bunda begitu?" Gadis terlihat begitu sedih dengan tangisannya yang tersedu-sedu. Membuat hati Rajendra begitu perih.Rajendra mengecup kepala Gadis dengan lembut lalu berucap dengan suara bergetar. "Karena sekarang sakit Bunda beda, Sayang. Sakit di kepala Bunda bikin ingatan Bunda jadi kacau. Tapi Papa yakin, hati Bunda nggak pernah lupa sayang sama Adis.""Tapi tadiiii ..." Gadis tersedu-sedu. "Bunda bilang Adis bukan anaknya ..."Randu yang sejak tadi me

    Last Updated : 2025-02-17
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Godaan Lingerie Coklat

    Di kamar rumah sakit tempat Livia dirawat suasana begitu tenang. Livia tidur dengan lelap. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa dalam hidupnya. Rajendra duduk di kursi sambil menggenggam tangan Livia yang dingin. Tadi Rajendra sempat bertemu dengan perawat yang menjaga Livia. Katanya Livia menangis dan terus mencari Evan. Livia begitu ingin bertemu dengan pria itu. Perawat juga mengatakan bahwa besok dokter ingin bicara dengan Rajendra.Di dalam diamnya Rajendra merenung. Apa semua ini adalah karma atas perbuatannya dulu yang menyakiti Livia? Jika iya Rajendra rela menjalaninya. Anggap saja semua ini sebagai penebusan atas perbuatannya dulu.Tiba-tiba jemari Livia bergerak di dalam genggamannya. Dan beberapa detik setelah itu kelopak matanya terbuka dengan perlahan. Livia terkejut ketika tahu Rajendralah yang menggenggam tangannya. Dengan cepat Livia menarik tangannya."Kenapa kamu masih di sini? Bukankah aku sudah menyuruhmu pergi?" Livia begitu marah melihat keberadaan Rajendra. Ap

    Last Updated : 2025-02-17
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Hampir Gila

    Rajendra melangkah menuju kamar Gadis. Ia ingin tahu apa anak gadisnya itu sudah tidur atau belum.Setibanya di kamar tersebut ia mendapati lampu sudah berganti dengan lampu tidur. Rajendra pikir Gadis sudah tidur. Maka ia melangkah mendekati tempat tidur anaknya. Di saat itulah ia mendengar isak kecil anak itu."Sayang, kenapa nangis, Nak?" tanya Rajendra yang duduk di pinggir ranjang."Adis kangen Bunda, Pa. Adis mau Bunda ada di rumah. Adis mau tidur sama Bunda. Adis mau peluk dan cium Bunda. Semuanya, Pa ..."Permintaan yang dilafalkan dengan isak dan air mata itu membuat Rajendra begitu sedih. Ia tidak tega melihat anaknya tersiksa seperti ini. Gadis masih kecil dan sangat dekat dengan Livia. Sejak anak itu lahir ia belum pernah berpisah dengan ibunya."Sabar ya, Sayang. Nanti kalau Bunda sudah sehat Bunda akan pulang ke rumah. Kita bisa sama-sama Bunda lagi.""Tapi kapan Bunda sehat, Pa? Berapa lama lagi?""Nggak lama kok. Besok Papa akan bicara sama dokter. Papa akan minta Bund

    Last Updated : 2025-02-17
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Kesepakatan Livia Dan Rajendra

    Pagi-pagi sekali Tasia sudah bangun. Ia menyiapkan sarapan untuk Rajendra dan anak-anak. Randu dan Lunetta makan dengan lahap, sedangkan Gadis hanya menatap piring tanpa minat. Matanya masih sembab akibat menangis semalam."Adis, kenapa cuma diliatin nasi gorengnya?" tanya Tasia lantaran Gadis hanya memandangi nasi goreng di piring."Adis pengen makan nasi goreng seafood buatan Bunda," jawab anak itu lirih.Tasia mengambil napas lalu tersenyum pada Gadis. "Oke, Tante akan buat nasi goreng kayak buatan Bunda tapi sekarang Adis makan dulu ya. Kalau nggak makan nanti Adis nggak ada energi."Gadis menggeleng. Ia hanya mau buatan Livia. Ketiadaan Livia juga membuatnya kehilangan selera makan."Adis kenapa?" tanya Rajendra yang baru muncul di ruang makan."Nggak apa-apa, Pak. Adis hanya ingat bundanya." Lalu Tasia cepat-cepat mengalihkan. "Pak, ini kopi untuk Bapak masih hangat. Silakan diminum, Pak.""Saya buru-buru mau ke rumah sakit," jawab Rajendra setelah menoleh sekilas ke arah cang

    Last Updated : 2025-02-18
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Keanehan Yang Hangat

    Saat ini Rajendra sedang berada di dalam ruangan dokter. Di hadapannya, dokter Jaka yang menangani Livia sedang memeriksa hasil pemindaian otak terbaru."Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Rajendra dengan sedikit tegang dan tidak sabar. Sudah sejak tadi ia menantikannya.Dokter Jaka melepas kacamatanya lalu menjelaskan. "Seperti yang kita bahas sebelumnya ibu Livia mengalami amnesia anterograde. Cedera otaknya memengaruhinya membentuk ingatan baru. Karena itu dia hanya bisa mengingat hal-hal tertentu sebelum kecelakaan termasuk perasaannya pada Evan."Rajendra mengepalkan tangan di atas pangkuan. Sakit mendengarnya."Apa istri saya bisa sembuh, Dok?" pintanya begitu penuh harap.Dokter Jaka mengangguk pelan. "Bisa. Tapi butuh waktu dan usaha. Untuk kasus seperti ini kunci utamanya adalah terapi rutin, stimulasi ingatan, dan lingkungan yang mendukung. Untuk terapi memorinya Ibu Livia harus dilatih dengan mengingat kejadian sehari-hari. Anda bisa membantunya dengan foto atau vid

    Last Updated : 2025-02-18
  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Membangkitkan Ingatan

    Setelah melihat-lihat foto yang terpajang di dinding Rajendra mengajak Livia menuju kamar pribadi mereka.Begitu pintu terbuka aroma lavender yang berasal dari diffuser ruangan menyambut mereka.Kamar itu luas dan tertata rapi. Dindingnya dihiasi wallpaper bunga sakura yang memberi kesan lembut. Sebuah tempat tidur king size terdapat di tengah ruangan.Rajendra membuka lemari dan mengambil sesuatu dari sana kemudian memperlihatkan pada Livia."Liv, kalau kamu masih nggak percaya kita sudah menikah, lihat ini." Livia menerima buku nikah dari Rajendra. Ia membukanya dengan perlahan. Jari-jemarinya menyusuri halaman demi halaman. Hingga akhirnya berhenti pada lembar yang berisi foto mereka. Livia menatap lama foto dirinya yang berdampingan dengan foto Rajendra. Matanya beralih ke bagian lainnya. Stempel resmi serta tanda tangan mereka berdua. Semua terlihat nyata. Tapi kenapa ia merasa ini adalah seperti kehidupan orang lain?Rajendra memerhatikan ekspresi Livia dengan teliti. "Gimana?

    Last Updated : 2025-02-19

Latest chapter

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   TAMAT

    Rumah besar Livia dan Rajendra kini terasa sunyi. Anak-anak sudah besar dan berkeluarga. Tapi di setiap akhir pekan rumah mereka selalu ramai oleh tawa canda cucu dan cicit mereka. Anak-anak selalu menawarkan Rajendra dan Livia untuk tinggal bersama mereka tapi keduanya menolak. Mereka lebih memilih untuk tinggal berdua saja dan menghabiskan masa tua bersama.Rajendra dan Livia saat ini sedang berada di kamar mereka. Rajendra sudah berumur 90 tahun sedangkan Livia 3 tahun di bawahnya. Keduanya berbaring di tempat tidur."Hujannya lama ya, Ndra, dari tadi nggak berhenti-henti," kata Livia sembari memandang ke luar jendela, pada titik-titik hujan yang terus berjatuhan."Iya, Sayang. Sekarang kan lagi musim hujan.""Dingin ..." Rajendra merengkuh Livia, memberi lengannya untuk istrinya itu berbaring sedangkan satu tangannya lagi memeluk tubuh Livia. Meski rambut mereka sudah sepenuhnya memutih dan wajah mereka sudah keriput tapi cinta mereka begitu kuat.Livia tersenyum. "Berada di peluk

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Extra Part 8

    Hari-hari setelah kehamilannya terasa berat bagi Gadis. Setiap hari ia mengalami morning sickness yang menyebabkan susah makan.Randu yang biasanya pagi-pagi berangkat ke kedutaan kini harus mengurus Gadis lebih dulu sebelum pergi ke kantornya."Makan dikit ya, Abang bikinin sup hangat atau maunya roti coklat aja?" kata Randu sambil mengelus pundak Gadis yang terduduk lemas di sofa.Gadis menggelengkan kepalanya. "Adis nggak mau apa-apa, Bang. Adis nggak selera makan apa pun.""Tapi setidaknya Adis harus makan sedikit biar ada isi perutnya. Ingat, Dis, anak kita juga butuh asupan."Gadis tersenyum melihat perhatian Randu dan kepanikannya di waktu yang sama. "Ya udah, Adis mau minum teh hangat aja sama roti coklat," putusnya walau kemudian kembali berakhir dengan muntah.Malam harinya saat video call dan mengetahui keadaan Gadis, Livia langsung mengambil keputusan."Ndra, aku harus berangkat.""Ke mana?" tanya Rajendra."Ke Turki. Aku harus nemenin Gadis. Dia butuh aku saat ini. Ini ke

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Extra Part 7

    Gadis dan Randu memulai kehidupan mereka sebagai suami istri begitu tiba di Ankara, ibukota Turki. Kota itu terasa begitu berbeda dengan suasana di Indonesia. Udara dingin menusuk di musim gugur. Arsitektur Eropa bercampur dengan sentuhan Ottoman serta hiruk pikuk kehidupan yang begitu asing bagi Gadis.Randu sebagai diplomat muda langsung disibukkan dengan pekerjaannya di kedutaan besar Indonesia. Seringkali ia harus menghadiri rapat dengan pejabat Turki, menerima delegasi dari Indonesia, atau menghadiri acara-acara diplomatik. Sementara itu gadis masih beradaptasi dengan kehidupan barunya. Awalnya ia merasa canggung tinggal di negeri orang. Namun Randu selalu berusaha membuatnya nyaman. Mereka tinggal di sebuah apartemen yang luas dengan pemandangan kota Ankara yang indah.Setiap pagi Randu berangkat ke kedutaan, sementara gadis mulai membangun rutinitasnya sendiri. Ia mengambil kursus bahasa Turki agar bisa lebih mudah berkomunikasi dengan orang-orang sekitar. Selain itu ia juga se

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Extra Part 6

    Hari keberangkatan Gadis dan Randu ke Turki semakin dekat. Di rumah keluarga Rajendra suasana haru kian terasa.Livia sibuk memastikan semua keperluan Gadis sudah siap. Ia berulang kali memeriksa koper putrinya hanya demi memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal."Adis, kamu yakin semuanya udah lengkap? Paspor, obat-obatan, udah?" tanya Livia dengan suara bergetar.Gadis tersenyum tipis, ia mencoba menenangkan perasaan ibunya. "Udah, Bunda. Tenang aja, Adis udah cek berkali-kali, sama kayak Bunda."Namun, Livia tetap terlihat cemas. Tangannya gemetar saat merapikan baju-baju Gadis di koper."Nda, udah. Jangan kayak gini. Nanti Adis bakal sering nelepon dan video call sama Bunda kok," kata Gadis menenangkan sang bunda.Livia mengangguk tapi matanya mulai berkaca-kaca. Ia belum siap berpisah dengan Gadis, namun juga tidak mungkin menahan Gadis agar tetap bersamanya karena Gadis sudah menikah.Rajendra juga mencoba untuk tegar. Ia diam saja, memerhatikan semua persiapan denga

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Extra Part 5

    Akad nikah Gadis dan Randu sudah selesai dilaksanakan. Acara disambung dengan resepsi pernikahan.Acara tersebut tampak meriah. Para tamu yang datang terlihat puas. Baik oleh penyelenggaraan acaranya maupun dari hidangan yang disajikan. Wedding singer yang berada di atas panggung yang berada tidak jauh dari pelaminan tidak ada hentinya menyanyikan lagu romantis, membuat atmosfer penuh cinta semakin terasa."Liv, aku mau nyanyi boleh nggak?" kata Rajendra tiba-tiba."Hah?" Mata Livia melebar mendengarnya. "Emang kamu bisa nyanyi?""Bisa dong walau suara aku pas-pasan," kekeh Rajendra.Livia ikut tertawa. "Ya udah gih, nyanyi sana biar anak-anak tahu kalau papanya ada bakat terpendam.""Kamu mau ikutan nyanyi sama aku?""Aku ngeliat dari sini aja."Rajendra berjalan ke belakang panggung, berbicara dengan seseorang lalu naik ke atas panggung. Mikrofon yang tadinya ada di tangan wedding singer berpindah ke tangan Rajendra."Bang, itu Papa mau ngapain?" tanya Gadis yang duduk di pelaminan

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Extra Part 4

    Begitu mendapatkan restu dari Erwin, persiapan pernikahan Gadis dan Randu segera disiapkan.Livia yang paling sibuk. Ia memastikan bahwa semua berjalan lancar dan sempurna untuk anak perempuannya. Begitu pula dengan Rajendra. Ia lebih disibukkan dengan urusan administratif.Gadis menginginkan pernikahan yang sederhana tapi tetap elegan. Setelah berdiskusi panjang akhirnya mereka memutuskan menyewa gedung yang memiliki nuansa taman di dalamnya dengan lampu-lampu gantung. Sementara untuk dekorasinya sendiri dihiasi nuansa putih dan hijau yang menyimbolkan kesan alami dan damai.Untuk pakaian pengantin Randu mengenakan beskap putih klasik. Sedangkan Gadis memilih gaun putih gading dengan detail bordir yang lembut. Saat pertama kali mencobanya ia termenung di depan cermin, menyadari bahwa sebentar lagi hidupnya akan berubah.Mengenai undangan mereka mencetak undangan simpel dengan desain minimalis. Gadis dan Randu memutuskan hanya mengundang orang-orang terdekat. Meskipun begitu Rajendra

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Extra Part 3

    "Yang benar aja kamu, Ndra. Nggak mungkin Gadis nikah sama Randu!" Begitu kata Erwin di saat Rajendra mengatakan tentang rencana menikahkan kedua anaknya."Aku dan Livia juga kaget, Pi. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka berdua saling mencintai," ujar Rajendra pada Erwin."Kayak nggak ada orang lain aja." Erwin terlihat tidak setuju atas rencana pernikahan keduanya."Ya mau gimana lagi, Pi. Namanya juga cinta."Erwin terdiam. Ia kehilangan kata untuk menjawab kata-kata Rajendra."Pi, kita restui saja mereka. Jangan dipersulit," pinta Rajendra." Aku nggak ingin melihat anakku menderita apalagi kalau mereka sampai kawin lari."Erwin menghela napasnya lalu bertanya, "Sejak kapan mereka pacaran?""Sudah cukup lama, Pi. Livia yang punya firasat itu tapi aku nggak percaya. Sampai akhirnya keduanya mengaku."Erwin terdiam lagi seolah sedang memikirkan perkataan Rajendra. "Kamu nggak lupa siapa orang tua Randu kan, Ndra? Jangan lupa dia anak Utary dan nggak tahu siapa bapaknya.""Aku udah lupakan

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Extra Part 2

    "Liv love, kamu ngeliat Gadis nggak?" tanya Rajendra setelah masuk ke ruangan Livia. Setelah semua yang terjadi Livia juga bekerja di kantor menjadi asisten pribadi Rajendra. Lagi pula anak-anak sudah besar."Paling pergi makan siang bareng Randu," jawab Livia sambil merapikan ikatan rambutnya."Makin hari mereka semakin dekat," komentar Rajendra."Iya. Aku pun ngeliatnya begitu." Livia menimpali. "Kamu ngerasa nggak sih, kalau hubungan mereka kayak udah nggak wajar?""Nggak wajar gimana?" Rajendra mengerutkan dahinya.Livia tampak ragu namun tak urung mengatakan. "Aku ngeliat mereka kayak orang lagi pacaran. Benar nggak?"Rajendra tertawa mendengarnya. "Kamu ada-ada aja, Sayang. Randu dan Gadis kan dari kecil sudah tumbuh bersama. Mereka itu kakak adik. Nggak mungkin mereka seperti yang kamu bilang."Livia terdiam. Yang dikatakan Rajendra ada benarnya. Tapi firasatnya berkata lain. Sebagai seorang ibu ia tahu persis ada yang berbeda dalam hubungan Randu dan Gadis. Cara Randu menatap

  • Istri Yang Tidak Pernah Diharapkan   Extra Part 1

    Waktu terus berlalu tanpa bisa dihentikan. Setiap detik yang terlewati bagaikan anak panah yang melesat dengan cepat.Anak-anak sekarang sudah dewasa. Randu sudah bekerja sebagai salah satu staff di Kemenlu. Sedangkan Gadis melanjutkan kerajaan bisnis Rajendra bersama dengan Livia. Hubungan Gadis dengan Randu sangat dekat. Bahkan tidak bisa lagi dibilang sebagai kakak adik biasa. Tumbuh bersama sejak kecil dan melewatkan berbagai hal berdua membuat mereka saling terikat satu sama lain. Meski tidak ada pernyataan cinta yang terucap namun keduanya menyadari bahwa mereka berdua saling mencintai. Hanya saja mereka tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Rajendra dan Livia menganggap keduanya saling menyayangi sebagai kakak dan adik. Tidak sedikit pun terbersit di pikiran mereka bahwa keduanya akan melewati batas itu."Dis, Abang pengen ngomong. Bisa nggak kita ketemuan makan siang nanti?" Itu pesan yang diterima Gadis dari Randu ketika ia sedang sibuk-sibuknya bekerja di kantor."Ha

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status