Saat ini Rajendra sedang berada di dalam ruangan dokter. Di hadapannya, dokter Jaka yang menangani Livia sedang memeriksa hasil pemindaian otak terbaru."Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Rajendra dengan sedikit tegang dan tidak sabar. Sudah sejak tadi ia menantikannya.Dokter Jaka melepas kacamatanya lalu menjelaskan. "Seperti yang kita bahas sebelumnya ibu Livia mengalami amnesia anterograde. Cedera otaknya memengaruhinya membentuk ingatan baru. Karena itu dia hanya bisa mengingat hal-hal tertentu sebelum kecelakaan termasuk perasaannya pada Evan."Rajendra mengepalkan tangan di atas pangkuan. Sakit mendengarnya."Apa istri saya bisa sembuh, Dok?" pintanya begitu penuh harap.Dokter Jaka mengangguk pelan. "Bisa. Tapi butuh waktu dan usaha. Untuk kasus seperti ini kunci utamanya adalah terapi rutin, stimulasi ingatan, dan lingkungan yang mendukung. Untuk terapi memorinya Ibu Livia harus dilatih dengan mengingat kejadian sehari-hari. Anda bisa membantunya dengan foto atau vid
Setelah melihat-lihat foto yang terpajang di dinding Rajendra mengajak Livia menuju kamar pribadi mereka.Begitu pintu terbuka aroma lavender yang berasal dari diffuser ruangan menyambut mereka.Kamar itu luas dan tertata rapi. Dindingnya dihiasi wallpaper bunga sakura yang memberi kesan lembut. Sebuah tempat tidur king size terdapat di tengah ruangan.Rajendra membuka lemari dan mengambil sesuatu dari sana kemudian memperlihatkan pada Livia."Liv, kalau kamu masih nggak percaya kita sudah menikah, lihat ini." Livia menerima buku nikah dari Rajendra. Ia membukanya dengan perlahan. Jari-jemarinya menyusuri halaman demi halaman. Hingga akhirnya berhenti pada lembar yang berisi foto mereka. Livia menatap lama foto dirinya yang berdampingan dengan foto Rajendra. Matanya beralih ke bagian lainnya. Stempel resmi serta tanda tangan mereka berdua. Semua terlihat nyata. Tapi kenapa ia merasa ini adalah seperti kehidupan orang lain?Rajendra memerhatikan ekspresi Livia dengan teliti. "Gimana?
Tasia mengulas senyum tipis sebelum melangkah pergi. Namun sebelum pintu tertutup sepenuhnya ia menambahkan. "Selamat istirahat, Bu, nggak usah terlalu dipikirkan."Livia menghela napas berat sebelum pintu benar-benar tertutup. Ia tidak tahu entah kenapa ucapan Tasia sangat mengusiknya. Tapi bayangan tentang Rajendra mencari teman tidur malah membuat pikirannya terganggu. Dan ia terus memikirkannya.Ia merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar. Di satu sisi ia tidak merasakan ada keterikatan dengan Rajendra. Namun di sisi lain ada ketidaknyamanan yang tumbuh setelah ia mendengar ucapan Tasia tadi.'Kenapa aku harus peduli?' Ia menggumam pelan.Jika Rajendra memang suaminya apa dia pria yang setia?*Livia terbangun dari tidurnya. Ia terkejut ketika mendapati Rajendra berada di dekatnya ketika ia membuka mata."Sudah bangun?" ucap laki-laki itu."Jam berapa sekarang?" Livia melihat sekelilingnya dan mendapati lampu yang menyala."Jam tujuh malam."Livia terdiam. Ternyata cu
"Bunda, malam ini boleh Adis tidur sama Bunda?" pinta Gadis pada Livia setelah mereka makan malam bersama.Livia menoleh ke arah Gadis, menatap wajah polos itu tanpa tahu harus menjawab apa. Permintaan Gadis begitu sederhana. Tapi bagi Livia yang masih merasa asing dengan semuanya, itu justru terasa sulit."Adis kangen sama Bunda," lirih Gadis dengan perasaan sedih.Rajendra yang masih duduk di kursinya ikut memerhatikan. Ia berharap Livia akan mengiakan namun Livia tetap diam, seakan sedang mempertimbangkan.Livia ingin mengatakan tidak. Tapi melihat sorot mata penuh harapan dari Gadis membuatnya ragu. Ia belum bisa menerima anak itu sebagai anaknya. Tapi menolak mentah-mentah juga terasa kejam."Menurut saya Bu Livia masih butuh waktu untuk sendiri. Jadi nanti biar Gadis tidur sama Tante Tasia aja ya?" sela Tasia sambil melihat ke arah Gadis."Nggak apa-apa kalau begitu. Biar Adis tidur di kamar aja." Gadis beranjak pergi membawa kesedihannya.Rajendra menghela napas lalu ikut menyu
Hari-hari terus berlalu. Keadaan fisik Livia sudah berangsur pulih. Hari ini Livia bertekad akan mendatangi rumah Evan. Ia butuh penjelasan atas semuanya. Kenapa mereka tidak menikah namun justru ia menikah dengan Rajendra. Dengan sisa-sisa ingatannya Livia memetakan alamat rumah Evan di kepalanya. Ia tidak butuh Rajendra. Ia akan pergi sendiri. Namun niatnya terhalang. Ketika ia sudah siap untuk pergi, Rajendra sudah berdiri di hadapannya."Kamu mau ke mana, Liv?" tanya laki-laki itu."Keluar." Livia menjawab singkat."Keluar ke mana? Kamu butuh sesuatu? Biar aku yang antar."Livia terdiam sejenak sebelum berkata, "Aku mau ke rumah Evan."Rajendra sempat terkejut namun menutupi dengan ekspresinya."Aku akan temani kamu ke sana. Kamu ingat alamatnya?""Semua aku ingat, kecuali kamu!" jawab Livia ketus. Setelah mendengar cerita Tasia tentang Rajendra, perlahan-lahan Livia mulai membenci lelaki itu."Oke. Kita ke rumah Evan sekarang," putus Rajendra. Karena sampai kapan pun ia menunda L
Evan tidak menyangka Livia akan mengatakan hal seperti itu di depan suaminya sendiri.Sementara itu Rajendra mengepalkan tangan, mencoba menahan gejolak di dalam dada. Kata cerai yang diucapkan Livia menusuk hatinya begitu dalam."Jangan diam aja, Van, ngomong dong!" Livia terus mendesak dengan mengguncang-guncang badan Evan.Evan mengalihkan pandangannya pada Rajendra. Saat tatapan mereka bertemu Rajendra memberi isyarat dengan matanya."Karena kita udah nggak cocok lagi, Liv, makanya kita putus.""Kita nggak cocok? Kita nggak cocok kenapa?" Livia semakin mendesak ingin tahu. "Bukankah kita saling mencintai? Hubungan kita sangat kuat. Kita nggak mungkin putus gitu aja," isak Livia lalu kembali memeluk Evan dan membasahi kemeja pria itu dengan air matanya.Evan mengatupkan rahangnya. Membiarkan Livia menangis dalam pelukannya. Di satu sisi ia ingin mengakui bahwa ia adalah pria brengsek yang dulu meninggalkan Livia akibat kecelakaan itu. Namun di sisi lain ada tatapan Rajendra yang m
'Aku harus berbuat baik pada Rajendra agar dia bisa percaya padaku. Aku nggak boleh lagi bersikap denial padanya agar bisa mengungkap semuanya.' Itu yang dipatrikan Livia di dalam hatinya sebelum ia tidur malam.Keesokan paginya saat terbangun Livia melaksanakan niatnya. Ia harus bersikap baik dan lembut pada Rajendra agar bisa lebih dalam menggali rahasia yang dipendam lelaki itu. Saat muncul di ruang makan ia melihat Rajendra sudah berada di sana dengan secangkir kopi di hadapannya. Biasanya Livia akan menghindari sarapan bersama Rajendra, tapi kali ini berbeda.Livia mengumpulkan napas serta menguatkan hatinya sebelum berjalan mendekat. "Pagi," sapanya dengan lembut.Rajendra menoleh dan agak terkejut lantaran Livia menyapanya lebih dulu, sesuatu yang tidak pernah perempuan itu lakukan selama ia sakit.Livia duduk di kursi seberang Rajendra. "Kopinya enak?" tanyanya yang lagi-lagi membuat Rajendra terkejut.Rajendra tentu curiga dengan perubahan istrinya. "Kenapa tiba-tiba perhati
Livia melangkah masuk ke dalam gedung perkantoran dengan jantung berdebar kencang. Ia bahkan tidak tahu bagaimana bisa sampai di sini. Ia hanya mengikuti dorongan kuat dalam hatinya. Sesuatu di tempat itu terasa familier dengannya walaupun ingatannya tetap kabur.Saat ia tiba di depan resepsionis ia bertanya, "Pagi, Mbak, Evan Satria ada di sini?"Resepsionis menatapnya dengan ragu sejenak lalu menjawab, "Anda sudah anda janji dengan Pak Evan?"Livia menggeleng. "Nggak ada. Tapi tolong kasih tahu dia bahwa Livia ada di sini."Resepsionis tampak ragu tapi tak urung menghubungi seseorang. Tidak butuh waktu lama seorang lelaki berkemeja biru muncul."Livia!" Walau tadi sudah disampaikan resepsionis bahwa Livia yang menunggunya namun Evan tetap tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.Livia tersenyum tipis lalu memeluk Evan penuh kerinduan. "Kangen banget sama kamu, Van."Evan yang merasa tidak enak melepaskan pelukan itu pelan-pelan."Ayo kita ke ruanganku, Liv," ajaknya.Livia menurut
Rumah besar Livia dan Rajendra kini terasa sunyi. Anak-anak sudah besar dan berkeluarga. Tapi di setiap akhir pekan rumah mereka selalu ramai oleh tawa canda cucu dan cicit mereka. Anak-anak selalu menawarkan Rajendra dan Livia untuk tinggal bersama mereka tapi keduanya menolak. Mereka lebih memilih untuk tinggal berdua saja dan menghabiskan masa tua bersama.Rajendra dan Livia saat ini sedang berada di kamar mereka. Rajendra sudah berumur 90 tahun sedangkan Livia 3 tahun di bawahnya. Keduanya berbaring di tempat tidur."Hujannya lama ya, Ndra, dari tadi nggak berhenti-henti," kata Livia sembari memandang ke luar jendela, pada titik-titik hujan yang terus berjatuhan."Iya, Sayang. Sekarang kan lagi musim hujan.""Dingin ..." Rajendra merengkuh Livia, memberi lengannya untuk istrinya itu berbaring sedangkan satu tangannya lagi memeluk tubuh Livia. Meski rambut mereka sudah sepenuhnya memutih dan wajah mereka sudah keriput tapi cinta mereka begitu kuat.Livia tersenyum. "Berada di peluk
Hari-hari setelah kehamilannya terasa berat bagi Gadis. Setiap hari ia mengalami morning sickness yang menyebabkan susah makan.Randu yang biasanya pagi-pagi berangkat ke kedutaan kini harus mengurus Gadis lebih dulu sebelum pergi ke kantornya."Makan dikit ya, Abang bikinin sup hangat atau maunya roti coklat aja?" kata Randu sambil mengelus pundak Gadis yang terduduk lemas di sofa.Gadis menggelengkan kepalanya. "Adis nggak mau apa-apa, Bang. Adis nggak selera makan apa pun.""Tapi setidaknya Adis harus makan sedikit biar ada isi perutnya. Ingat, Dis, anak kita juga butuh asupan."Gadis tersenyum melihat perhatian Randu dan kepanikannya di waktu yang sama. "Ya udah, Adis mau minum teh hangat aja sama roti coklat," putusnya walau kemudian kembali berakhir dengan muntah.Malam harinya saat video call dan mengetahui keadaan Gadis, Livia langsung mengambil keputusan."Ndra, aku harus berangkat.""Ke mana?" tanya Rajendra."Ke Turki. Aku harus nemenin Gadis. Dia butuh aku saat ini. Ini ke
Gadis dan Randu memulai kehidupan mereka sebagai suami istri begitu tiba di Ankara, ibukota Turki. Kota itu terasa begitu berbeda dengan suasana di Indonesia. Udara dingin menusuk di musim gugur. Arsitektur Eropa bercampur dengan sentuhan Ottoman serta hiruk pikuk kehidupan yang begitu asing bagi Gadis.Randu sebagai diplomat muda langsung disibukkan dengan pekerjaannya di kedutaan besar Indonesia. Seringkali ia harus menghadiri rapat dengan pejabat Turki, menerima delegasi dari Indonesia, atau menghadiri acara-acara diplomatik. Sementara itu gadis masih beradaptasi dengan kehidupan barunya. Awalnya ia merasa canggung tinggal di negeri orang. Namun Randu selalu berusaha membuatnya nyaman. Mereka tinggal di sebuah apartemen yang luas dengan pemandangan kota Ankara yang indah.Setiap pagi Randu berangkat ke kedutaan, sementara gadis mulai membangun rutinitasnya sendiri. Ia mengambil kursus bahasa Turki agar bisa lebih mudah berkomunikasi dengan orang-orang sekitar. Selain itu ia juga se
Hari keberangkatan Gadis dan Randu ke Turki semakin dekat. Di rumah keluarga Rajendra suasana haru kian terasa.Livia sibuk memastikan semua keperluan Gadis sudah siap. Ia berulang kali memeriksa koper putrinya hanya demi memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal."Adis, kamu yakin semuanya udah lengkap? Paspor, obat-obatan, udah?" tanya Livia dengan suara bergetar.Gadis tersenyum tipis, ia mencoba menenangkan perasaan ibunya. "Udah, Bunda. Tenang aja, Adis udah cek berkali-kali, sama kayak Bunda."Namun, Livia tetap terlihat cemas. Tangannya gemetar saat merapikan baju-baju Gadis di koper."Nda, udah. Jangan kayak gini. Nanti Adis bakal sering nelepon dan video call sama Bunda kok," kata Gadis menenangkan sang bunda.Livia mengangguk tapi matanya mulai berkaca-kaca. Ia belum siap berpisah dengan Gadis, namun juga tidak mungkin menahan Gadis agar tetap bersamanya karena Gadis sudah menikah.Rajendra juga mencoba untuk tegar. Ia diam saja, memerhatikan semua persiapan denga
Akad nikah Gadis dan Randu sudah selesai dilaksanakan. Acara disambung dengan resepsi pernikahan.Acara tersebut tampak meriah. Para tamu yang datang terlihat puas. Baik oleh penyelenggaraan acaranya maupun dari hidangan yang disajikan. Wedding singer yang berada di atas panggung yang berada tidak jauh dari pelaminan tidak ada hentinya menyanyikan lagu romantis, membuat atmosfer penuh cinta semakin terasa."Liv, aku mau nyanyi boleh nggak?" kata Rajendra tiba-tiba."Hah?" Mata Livia melebar mendengarnya. "Emang kamu bisa nyanyi?""Bisa dong walau suara aku pas-pasan," kekeh Rajendra.Livia ikut tertawa. "Ya udah gih, nyanyi sana biar anak-anak tahu kalau papanya ada bakat terpendam.""Kamu mau ikutan nyanyi sama aku?""Aku ngeliat dari sini aja."Rajendra berjalan ke belakang panggung, berbicara dengan seseorang lalu naik ke atas panggung. Mikrofon yang tadinya ada di tangan wedding singer berpindah ke tangan Rajendra."Bang, itu Papa mau ngapain?" tanya Gadis yang duduk di pelaminan
Begitu mendapatkan restu dari Erwin, persiapan pernikahan Gadis dan Randu segera disiapkan.Livia yang paling sibuk. Ia memastikan bahwa semua berjalan lancar dan sempurna untuk anak perempuannya. Begitu pula dengan Rajendra. Ia lebih disibukkan dengan urusan administratif.Gadis menginginkan pernikahan yang sederhana tapi tetap elegan. Setelah berdiskusi panjang akhirnya mereka memutuskan menyewa gedung yang memiliki nuansa taman di dalamnya dengan lampu-lampu gantung. Sementara untuk dekorasinya sendiri dihiasi nuansa putih dan hijau yang menyimbolkan kesan alami dan damai.Untuk pakaian pengantin Randu mengenakan beskap putih klasik. Sedangkan Gadis memilih gaun putih gading dengan detail bordir yang lembut. Saat pertama kali mencobanya ia termenung di depan cermin, menyadari bahwa sebentar lagi hidupnya akan berubah.Mengenai undangan mereka mencetak undangan simpel dengan desain minimalis. Gadis dan Randu memutuskan hanya mengundang orang-orang terdekat. Meskipun begitu Rajendra
"Yang benar aja kamu, Ndra. Nggak mungkin Gadis nikah sama Randu!" Begitu kata Erwin di saat Rajendra mengatakan tentang rencana menikahkan kedua anaknya."Aku dan Livia juga kaget, Pi. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka berdua saling mencintai," ujar Rajendra pada Erwin."Kayak nggak ada orang lain aja." Erwin terlihat tidak setuju atas rencana pernikahan keduanya."Ya mau gimana lagi, Pi. Namanya juga cinta."Erwin terdiam. Ia kehilangan kata untuk menjawab kata-kata Rajendra."Pi, kita restui saja mereka. Jangan dipersulit," pinta Rajendra." Aku nggak ingin melihat anakku menderita apalagi kalau mereka sampai kawin lari."Erwin menghela napasnya lalu bertanya, "Sejak kapan mereka pacaran?""Sudah cukup lama, Pi. Livia yang punya firasat itu tapi aku nggak percaya. Sampai akhirnya keduanya mengaku."Erwin terdiam lagi seolah sedang memikirkan perkataan Rajendra. "Kamu nggak lupa siapa orang tua Randu kan, Ndra? Jangan lupa dia anak Utary dan nggak tahu siapa bapaknya.""Aku udah lupakan
"Liv love, kamu ngeliat Gadis nggak?" tanya Rajendra setelah masuk ke ruangan Livia. Setelah semua yang terjadi Livia juga bekerja di kantor menjadi asisten pribadi Rajendra. Lagi pula anak-anak sudah besar."Paling pergi makan siang bareng Randu," jawab Livia sambil merapikan ikatan rambutnya."Makin hari mereka semakin dekat," komentar Rajendra."Iya. Aku pun ngeliatnya begitu." Livia menimpali. "Kamu ngerasa nggak sih, kalau hubungan mereka kayak udah nggak wajar?""Nggak wajar gimana?" Rajendra mengerutkan dahinya.Livia tampak ragu namun tak urung mengatakan. "Aku ngeliat mereka kayak orang lagi pacaran. Benar nggak?"Rajendra tertawa mendengarnya. "Kamu ada-ada aja, Sayang. Randu dan Gadis kan dari kecil sudah tumbuh bersama. Mereka itu kakak adik. Nggak mungkin mereka seperti yang kamu bilang."Livia terdiam. Yang dikatakan Rajendra ada benarnya. Tapi firasatnya berkata lain. Sebagai seorang ibu ia tahu persis ada yang berbeda dalam hubungan Randu dan Gadis. Cara Randu menatap
Waktu terus berlalu tanpa bisa dihentikan. Setiap detik yang terlewati bagaikan anak panah yang melesat dengan cepat.Anak-anak sekarang sudah dewasa. Randu sudah bekerja sebagai salah satu staff di Kemenlu. Sedangkan Gadis melanjutkan kerajaan bisnis Rajendra bersama dengan Livia. Hubungan Gadis dengan Randu sangat dekat. Bahkan tidak bisa lagi dibilang sebagai kakak adik biasa. Tumbuh bersama sejak kecil dan melewatkan berbagai hal berdua membuat mereka saling terikat satu sama lain. Meski tidak ada pernyataan cinta yang terucap namun keduanya menyadari bahwa mereka berdua saling mencintai. Hanya saja mereka tidak menunjukkannya secara terang-terangan. Rajendra dan Livia menganggap keduanya saling menyayangi sebagai kakak dan adik. Tidak sedikit pun terbersit di pikiran mereka bahwa keduanya akan melewati batas itu."Dis, Abang pengen ngomong. Bisa nggak kita ketemuan makan siang nanti?" Itu pesan yang diterima Gadis dari Randu ketika ia sedang sibuk-sibuknya bekerja di kantor."Ha