Home / Pernikahan / Istri Serakah / Mak Lampir Ngamuk

Share

Mak Lampir Ngamuk

Author: Muzdalifah Muthohar
last update Last Updated: 2024-10-29 19:42:56

Pov Frida 

"Kalau sudah dingin langsung dibungkus aja, Mbak! Hati-hati ya, jangan sampai mesesnya berantakan," titahku pada kedua putrimu Firni dan Ferina, yang sedang membungkus donat orderan pelanggan. 

Beginilah kegiatan kami sehari-hari, membuat aneka kue dan cake, pesanan tetangga sekitar. Selain membuka toko, aku juga membuka usaha katering, walau kecil-kecilan. 

Kalau ada pesanan banyak, aku panggil tetangga sebelah untuk bantu-bantu. Kalau sedikit seperti sekarang, cukuplah kedua putriku yang membantu. 

Aku bersyukur, kedua anakku ini menurut, dan tak banyak menuntut. Mengerti kesulitan orang tua, mau membantuku mengerjakan semuanya, termasuk beres-beres rumah dan jualan. 

Tak mudah menjadi single parent, berperan sebagai ayah dan ibu sekaligus. Tapi Allah maha baik, aku dikaruniai dua putri sholehah. 

Meski awalnya kami mengalami kesulitan ekonomi, karena Bang Farhan tak ambil peduli dengan anak-anaknya, akhirnya kami bisa bangkit, meski pelan-pelan. 

Aku jual semua perhiasanku untuk modal jualan, dan membeli peralatan membuat kue. Alhamdulillah ... hasil tak menghianati usaha. Meski tidak langsung kaya, setidaknya semua kebutuhan kami tercukupi. 

Meski kadang aku menangis dalam hati, Anak-anak dipaksa keadaan untuk menjadi dewasa. Semua ini ulah ayahnya yang main gila sama janda. 

Semoga kelak hidupmu beruntung, Nak. Mendapat suami yang baik, mencintaimu apanya, dan punya iman yang kuat, tidak mudah tergoda. Cukup ibumu saja yang menderita. Doaku dalam hati. 

"Permisi! Permisi!" 

Sedang asik-asiknya membuat kue, tiba-tiba  ada yang datang. Mungkin pembeli, begitu pikirku. 

"Ada yang beli tuh, Mbak. Kamu layani, gih!" titahku pada Firni, anak sulung ku. Dia sudah terbiasa melayani pembeli. 

Tanpa bicara Firni segera beranjak ke depan, untuk menemui pembeli, tapi tak lama kemudian dia kembali dengan wajah cemberut. 

"Bu, dicari Barbie hidup, tuh," ucap Firni kesal. 

"Barbie hidup?" tanyaku bingung. 

"Iya, istri barunya, Ayah." ketus Firni. 

Usia Firni sudah tiga belas tahun, dia cukup mengerti yang terjadi antara aku dan ayahnya. Dia juga paling sakit hati atas penghianatan ayahnya padaku, makanya dia benci banget sama Freya, wanita yang sudah merenggut Ayah dan kebahagiaannya. 

Aku pun menemui Barbie hidup itu. Rambut panjang bergelombang,  tergerai indah dicat warna pirang. Wajah full make up, mengenakan dress selutut berbahan kaos, hingga mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. 

Kondisi hamil besar gitu, dia masih berpenampilan seksi, apa dia nggak risi ya? Sampai udelnya yang bodong itu terlihat menonjol. 

Freaya memang terlihat cantik, tapi menurutku dia lebih mirip banci, karena terlalu over dalam berdandan. Padahal dia aslinya sudah cantik, dengan make up minimalis pasti dia terlihat lebih anggun dan elegan. Eh, kenapa aku jadi mengomentari penampilan Freya? Kayak aku sudah cantik saja. 

"Ada apa mencariku?" tanyaku tanpa basa-basi. 

Tak perlu bermanis muka, pada wanita serakah seperti dia. Aku tahu, dia ke sini pasti mau bikin gara-gara, bisa dilihat dari roman mukanya yang tidak bersahabat. Eh, dia mana pernah bersikap ramah padaku. 

"Kamu frontal sekali, ya? Oke, aku nggak akan basa-basi, to the point aja. Kamu kenapa menolak menyerahkan sertifikat tanah pada, Bang Farhan?" ucapnya dengan tatapan tajam. 

"Oh ... jadi kedatangan kamu ke sini ada hubungannya dengan gagalnya usaha suamimu kemarin?" ejekku. 

"Tentu saja, Bang Farhan itu terlalu baik jadi orang, nggak tegaan. Makanya aku turun tangan."

"Cih! Nggak tegaan katanya? Tega berhianat, tega menelantarkan anaknya, dibilang nggak tegaan? Itu namanya raja tega, Markonah!" umpatku dalam hati. 

"Lalu maumu apa?" tantangku.

"Serahkan sertifikat rumah ini, biar kami menjualnya," tegas Freya. 

"Sebelum kesini kamu minum miras dulu, ya? Kok mabok gitu?" Freya mencebikkan bibirnya, menatapku dengan tatapan sinis. "Rumah ini dibelikan bapakku, belinya pun pakai uang bapakku. Jadi Bang Farhan, apalagi kamu, nggak punya hak sama sekali?" salakku galak. Biarpun aku ini aslinya pemalu dan pendiam, kalau diinjak begini aku juga bisa melawan. 

"Kamu nggak usah bohong, nggak mungkin bapakmu membelikan rumah, dia hanya petani, duit dari mana?" ucapnya merendahkan. 

Freya berasal dari kampung yang sama denganku, jadi dia tahu siapa bapakku, apa pekerjaannya dan bagaimana kondisi keuangannya. 

"Bapakku memang hanya petani, tapi dia punya sawah. Dan sawah itu dia jual untuk membeli rumah ini dan memberi modal suamimu," ucapku penuh penekanan. 

"Ha ... ha ... aku jadi ngakak dengar bualanmu, bapakmu membeli rumah ini dan memberi Bang Farhan modal usaha? Ha ... ha ... ha ... bangun woi! Mimpimu ketinggian!" ucap Freya dengan nada menghina. 

"Terserah, kamu mau percaya atau tidak, itu bukan urusanku. Yang jelas, sertifikat tanah ini atas namaku, ada bukti dan saksinya. 

Dengar Nyonya Farhan, saat transaksi jual beli, antara Bapak dan Pemilik tanah ini sebelumnya, disaksikan notaris. Apa itu bukan saksi? Dokumennya pun ada," jelasku.

"Sayangnya aku tidak percaya," ucapnya meremehkanku. 

"Baiklah, kita buktikan semuanya di pengadilan. Sekalian aku akan menuntut harta bersama kami, yang dikuasai suamimu." Wajah Freya seketika memerah mendengar ucapanku. 

"Apa maksudmu menuntut harta bersama?"

"Apa ucapanku kurang jelas? Aku akan menuntut harta bersama kami, alias harta gono-gini, paham?

Jadi mulai sekarang, mulai sekarang belajarlah hidup sederhana. Jadi kamu nggak kaget saat nanti harus kehilangan sebagian harta yang kalian akui itu," ucapku dengan sorot mata tajam, setajam silet yang siap mengoyak wajah Freya, yang sok cantik itu. 

"Oh ya? Kau pikir kami takut? Proses peradilan itu berbelit dan tidak mudah, juga butuh biaya tidak sedikit. Aku yakin orang kampung seperti kamu, tidak akan mampu," ejeknya. 

Kayaknya Freya butuh kaca yang besar, agar dia bisa bercermin. Dia sendiri berasal dari kampung, sok-sok an merendahkan aku dengan mengatai aku orang kampung. 

"Aku akan menyewa pengacara hebat, kamu kenal Potman Prancis, kan? Aku akan menyewa dia," tandasku. 

"Kamu mau menyewa dia? Duit dari mana? Dari Hongkong! Tarif Potman Prancis itu tinggi! 

" Probono, kamu tahu kan? Ah, kamu pasti tidak tahu, kamu tahunya hanya skincare, make up dan shoping. Yang jelas Potman Prancis pasti tertarik untuk menolongku, wanita yang teraniaya. Ditinggal suami selingkuh dan hartanya dikuasai," ucapku dengan nada merendahkan. 

"Dasar pembual! Kamu akan menyesal, karena kamu yang akan kehilangan semuanya! Kamu tidak bisa menuntut apa-apa, karena semuanya sudah menjadi milikku, atas namaku!" gertaknya. 

"Aku tidak sedang membual, kita lihat saja siapa yang akan menyesal nanti, aku atau kalian?" ancamku.

Sebenarnya kemarin aku hanya menggertak Bang Farhan saja. Aku males ribut-ribut di pengadilan, bikin stress dan menghabiskan uang. Tapi rupanya pasangan serakah itu belum puas, masih ingin menguasai semuanya. 

Baiklah, aku rasa menggugat pembagian harta gono gini, harus kulakukan. Untuk memberi pelajaran pada orang-orang serakah seperti mereka. 

Bersambung ... 

Note: Probono artinya bantuan hukum yang dilakukan tanpa dipungut biaya, bagi yang tidak mampu, atau kepentingan umum. 

Related chapters

  • Istri Serakah   Awal Jumpa

    "Papaaaa!" Terdengar suara lengkingan Freya, entah habis kesambet apa dia? Siang bolong gini sudah ngamuk nggak jelas. "Apaan sih, Ma. Teriak-teriak kayak di tengah hutan, ngomong baik-baik kenapa? Malu didengar orang, tuh pembeli lagi ramai," ucapku lembut, berharap bisa menurunkan nada suara Freya, yang selalu meletup-letup seperti cabai digoreng. "Huh! Benci aku sama mantan istrimu itu! Lagaknya itu sombong banget, sok intelek, padahal miskin," ucap Freya emosi. "Mama dari sana tadi? Mau minta rumah itu? Dan gagal?" tanyaku beruntun. "Iya, kok Papa tahu? Jangan-jangan Papa menjalin komunikasi dengan Frida, di belakangku ya?" tanya Frida penuh selidik. Selalu begitu dia, hatinya penuh prasangka, cemburu, dan iri dengki. Entah mengapa dulu aku bisa tergila-gila padanya? Dia memang cantik, gadis tercantik yang pernah kutemui, tapi setelah tahu sifat aslinya, aku hanya bisa menyesal, seandainya aku kuat iman waktu itu. "Farhan? Farhan Habib, kan? Anak RT 09 dekat mushola?" sapa F

  • Istri Serakah   Niat Jahat

    "Plak!" Flatshoes Freya mendarat sejenak di kepalaku, sebelum akhirnya jatuh ke lantai. "Auw!" Aku yang terkejut hanya bisa mengelus kepalaku, tanpa bisa berbuat apa-apa. Mau marah? Itu hanya akan memicu pertengkaran. Lihatlah! Bukannya merasa bersalah, Freya malah memelototkan matanya kepadaku. "Istri durhaka!" makiku dalam hati. Iya dalam hati saja. Sekurang ajar apa pun Freya padaku, aku tak pernah bisa marah. Dia yang salah dia yang marah, aku hanya bisa menerima saja. Entah lah, punya ilmu apa dia, hingga membuatku tak berdaya"Mama, kenapa sih? Nggak sopan banget, pakai lempar sepatu ke kepala, Papa!" hardikku pelan, gak terima Freya berlaku seenaknya padaku. "Salah Papa sendiri! Pakai bilang mau kembali pada Frida segala! Coba berani ngomong sekali lagi? Aku lempar kepalamu pakai tabung gas," ketus Freya. Tuh, kan. Padahal aku ngomongnya pelan, tapi Freya justru ngegas. Gimana kalau mencak-mencak tak terima? Bisa langsung dimutilasi aku. Sadis amat ya?Freya tidak akan mera

  • Istri Serakah   Mulai Bermasalah

    Sejak menjadi istriku, Freya selalu mengaturku dalam segala hal, termasuk urusan warung. Padahal dulu kupikir dia lebih suka menerima duit, dari pada ikut pusing mikir jualan. "Mas, harga sotomu terlalu murah. Masak sepuluh ribu porsinya banyak gitu? Padahal Soto di Pak Gendut aja dua belas ribu, porsinya kecil," protes Freya. "Itulah kenapa warung soto kita ramai, Ma. Porsinya besar, yang makan langsung kenyang. Kalau Pak Gendut harganya segitu ya biarin aja, setiap penjual punya strateginya masing-masing. Mungkin memang rejekinya Pak Gendut, jualannya mahal tapi tetap laku. Sementara kita memang rejekinya seperti ini. Kalau kita naikan harga takut pembelinya pada lari. Setiap penjual punya pembelinya sendiri," ucapku berusaha bersikap bijak. "Tapi keuntungan kan kita jadi sedikit, kalau nggak menaikkan harga. Cobalah porsinya dikurangi, kalau tomau menaikkan harga. Emang kamu nggak pengen untung besar, apa?""Bukan begitu. Kalau porsinya dikurangi, nanti pembelinya pada lari baga

  • Istri Serakah   Mak Lampir Melahirkan

    #Istri_Serakah 10Kepalaku berdenyut nyeri, mendengar penolakan dari Ibu. Wanita yang melahirkan aku tiga puluh lima tahun yang lalu itu, tidak terima waktu kuminta untuk mengurus Freya dan bayinya. "Kamu memang anak kurang ajar ya, Han! Masak orang tua sendiri kau jadikan babu, kau minta mengurus istrimu yang super manja itu," ketus Ibu. "Bukan begitu, Bu. Kalau pekerjaan lain sudah ada yang mengerjakan, hanya mengurus anak kami. Freya masih takut pegang bayi, Bu," sanggahku. "Gayanya kayak istri Sultan saja, si Freya itu. Padahal sudah beranak berkali-kali sok-sok an takut pegang bayi! Kayak yang baru melahirkan saja," ucap Ibu makin ketus. "Lagian, kenapa nggak kamu bayar orang saja untuk mengurus anak dan istrimu?" lanjut Ibu. "Duitku habis buat bayar biaya operasi, Bu," lirihku. "Ooh ... jadi kamu sudah bangkrut sekarang?" ejek Ibu. "Bukan bangkrut, Bu. Hanya saja akhir-akhir ini warung agak sepi," kilahku. "Itu namanya kamu kena azab, Han. Zolim sama anak istri, malah me

  • Istri Serakah   Ketemu Pengacara Ganteng

    #Istri_Serakah 10Pov Frida. Ku bulatkan tekadku untuk menggugat pembagian harta bersama. Keenakan Bang Farhan, dia pergi dengan membawa semua harta kami, sedangkan aku dan anak-anak dibiarkan terlantar. Sebenarnya sudah aku tidak ingin berurusan dengan laki-laki tidak bertanggung jawab itu, bagiku lebih cepat move on, lebih baik.Tapi kedatangannya ke rumah dengan niat menjual tempat tinggalku itu, jelas membuatku meradang, tidak puaskah dia dengan semua yang dia kuasai? Ditambah lagi kedatangan istrinya yang seenak perutnya menghinaku, membuatku siap mengibarkan bendara perang?Tenang Bang Farhan, kali kau akan mendapatkan lawan yang sepadan. Jangan kau kira karena aku janda, jadi tak bisa berbuat apa-apa. Kau lupa, bapakku masih hidup, kakakku pun masih ada, aku bisa minta bantuan mereka untuk menumpasmu, tapi untuk sementara cukup hadapi aku dulu. Frida Fatmala kembang desa yang sudah menjanda. * * * * * * * *Potman Prancis and Partner's, kantor bantuan hukum. Itu yang tertu

  • Istri Serakah   Ibu Ngambek

    Aku pulang dengan hati ambyar, ya ambyar. Hasil kerja kerasku dirampok anak buahku sendiri. Andai aku tidak terlalu percaya pada mereka, andai aku lebih bisa mengontrol mereka, andai Freya nggak manja dan mau aku tinggal, pasti semua ini tidak terjadi. Rutukku dalam hati. "Pa, bagi duit dong," anak laki-laki usia tujuh belas tahun itu menadahkan tangannya padaku, dia adalah Fatir, anak Freya dengan suami pertamanya. "Kan, kemarin sudah Papa kasih, kok minta lagi?" tanyaku gusar, baru juga parkir mobil di garasi, sudah ditodong pemuda tanggung itu. "Yang kemarin sudah habis buat beli bensin, Pa. Sekarang aku mau jajan," ucapnya santai. kukeluarkan uang dua puluh ribuan, dia tidak langsung menerimanya, melainkan memandang uang itu dengan tatapan merendahkan. "Dua puluh ribu dapat apa, Pa? Cilor?" ejeknya. . Tak ambil pusing dengan sikap anak tiriku, aku pun memasukan uangku kembali ke saku celanaku. Sombong bener dia, merendahkan uang dua puluh ribu, kayak yang sudah pinter nyari

  • Istri Serakah   Kedatangan Ibu

    #Istri_Serakah 12Pov FridaHari ini aku ada janji dengan Pak Harsono Panji Kusumo SH, Mhum. Melengkapi semua data yang dibutuhkan, untuk mengajukan gugatan. Kami bertemu di depan parkiran Bank, agar tidak kelamaan. Pak Harsono ini selain cerdas, juga baik dan ramah. Beliau begitu telaten mendampingi aku ke Bank dan ke kantor BPN. Mengumpulkan semua bukti yang kami butuhkan, begitu mudah beliau dapatkan. Hanya dengan modal kata. "Sebagai bukti di pengadilan.""Terima kasih, Bapak sudah begitu baik mendampingi saya mengumpulkan semua bukti," ucapku setelah urusan kami selesai. "Itu memang tugas saya sebagai pengacara, Bu," ucap Pak Harsono merendah. "Tapi Bapak memang sangat baik, sabar, padahal saya bodoh masalah hukum.""Ha ... ha ... Anda ini aneh, jelas saya harus bersikap ramah, kalau saya galak, semua klien saya bisa kabur. Tersandung masalah hukum, sudah cukup membuat orang merasa stres, masa iya harus ditambah pengacara yang jutek. Dimana-mana, pengacara harus bisa membu

  • Istri Serakah   Panggilan Sidang

    Istri Serakah 13Kepalaku terasa nyut-nyutan tiap harinya mendengar omelan Freya, dia selalu menyalahkan aku atas menurunnya omset warung. Padahal ini semua adalah salahnya sendiri, andai dia tidak ikut campur mengatur warung, mengurangi porsi dan menaikkan harga, pelanggannya pasti masih ramai seperti dulu."Ya, aku harus bagaimana? Harga sudah kukembalikan, bahkan sudah ku pasang baner harga kembali seperti semula, tetap saja pembelinya sepi, mungkin memang rejeki kita segitu," ucapku pelan, menghadapi Freya harus dengan suara lembut, kalau suara tinggi, maka Freya pun akan meninggikan suara. Dan pertengkaran pun tak terelakkan. "Papa, kurang lincah sih. Coba pasang iklan di medsos, perlihatkan foto yang memperlihatkan sajian soto kita terkini, aku yakin pembeli bakal tertarik," usul Freya. "Sebelum kamu ngomong, aku sudah melakukannya," sanggahku. "Terus gimana, dong? Penghasilan segitu jelas tidak cukup, untuk memenuhi kebutuhan hidup kita," keluh Freya. "Salah kamu, kenapa wa

Latest chapter

  • Istri Serakah   Ending

    Istri Serakah 37 Aku hampir tak percaya dengan apa yang kulihat, tubuh kurus kering hanya tulang berbungkus kulit, lemah terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Aku hampir tak mengenali siapa dia. Ini bukan manusia, tapi mayat. Kemana Freya si cantik dan seksi? Kemana wanita yang selalu tampil modis dan menggoda? Malangnya nasibmu, Freya. Hidup terlunta-lunta, digerogoti penyakit mematikan. Tinggal di kamar sempit dengan kasur lusuh, pula. "Bu Freya, ini ada Pak Farhan," ucap petugas Dinsos yang mendampingiku, dengan suara pelan. Wajah yang tadi menengadah ke atas, dengan tatapan kosong, kini beralih menatapku. Sumpah, benar-benar seperti tengkorak hidup. Mata cekung dengan tulang pipi yang menonjol dan gigi nampak geripis. Aku sampai ngeri. Kalau tidak didampingi petugas Dinsos, pasti aku sudah lari tunggang langgang. Benar-benar menakutkan Freya ini. "Farhan." Suara Freya terdengar parau, seperti suara nenek-nenek. Mengingatkanku pada tokoh jahat "Mak Lampir". "Pak Fa

  • Istri Serakah   Lima Tahun Kemudian

    Istri Serakah 35 Lima tahun berlalu, aku masih sendiri, belum bertemu wanita yang tepat. Aku putus komunikasi dengan, Freya. Bagiku perempuan itu sudah mati, gara-gara dia aku harus memulai semua dari nol. Kabar terakhir yang kudengar, dia menikah dengan pengusaha baru bara asal Kalimantan. Seperti keinginannya untuk menikahi pria kaya, agar hidup serba berkecukupan, tanpa harus bekerja keras. Entah seperti apa nasibnya sekarang. Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu. Kalau dia kaya, pasti sombongnya nggak ketulungan. Apalagi melihat hidupku yang seperti ini, bisa bersorak menang dia. Dengan Frida, aku masih menjalin komunikasi, tapi hanya sebatas masalah anak-anak, lain tidak. Frida sudah bahagia dengan suami barunya, tidak enak kalau aku masih menjalin komunikasi secara intens. Dari pernikahannya dengan Tomi, Frida dikaruniai anak laki-laki. Lengkap sudah kebahagiaan mereka. Hubunganku dengan anak-anakku sudah membaik, mereka tak lagi bersikap canggung padaku. Mereka juga tak per

  • Istri Serakah   Panti Sosial

    Pov Freya. "Kasihan ya? Badannya samapai kayak tengkorak hidup begitu." Sayup-sayup kudengar orang sedang bicara. "Sudah berapa lama dirawat di sini?" Terdengar suara lain menyahut. "Enam belas hari, Bu." Itu suara Suster Anisa. "Selama itu mereka hanya berdua? Nggak ada keluarganya sama sekali?""Pertama datang dalam keadaan pingsan, diantar seorang laki-laki, tapi setelah itu dia pergi dan tak pernah kembali. Sepertinya dia sengaja ditinggal, mungkin keluarganya tidak mau repot," jelas Suster Anisa. "Kok ada ya, orang setega itu? Menelantarkan keluarganya sendiri. Punya salah apa dia, sampai diperlakukan seperti itu?"Percakapan Suster Anisa, entah dengan siapa itu, membuat hatiku tercabik-cabik. Se-mengenaskan itu nasibku, sudah miskin, penyakitan, dibuang keluarga pula. Rasanya tak ada nasib yang lebih malang dari hidupku ini. Perlahan aku membuka mata, rasanya aku tak sanggup lagi mendengar mereka membicarakanku. "Bu Freya sudah bangun," sapa Suster Anisa Ramah. "Bapak da

  • Istri Serakah   Pov Freya

    Pov Freya. Aku terbangun di atas brangkar rumah sakit, tapi aku yakin ini bukan rumah sakit yang sama. Ruangan di sini lebih kecil dibanding ruangan sebelumnya. Aku menoleh ke samping, ada beberapa pasien yang sedang terbaring. Rupanya aku dipindah ke bangsal, ruangan yang ditempati beberapa orang. Rupanya Julian tak ingin mengeluarkan banyak uang, untuk membayar perawatan ku. Padahal dia meraup banyak untung dari menjual tubuhku. Dasar laki-laki tak punya hati! rutukku dalam hati. Tapi aku tetap bersyukur, setidaknya aku mendapat perawatan. Daripada dibuang di jalan. Laki-laki itu kejamnya luar biasa, dia bisa melakukan tindakan diluar nalar. "Mama! Mama! Mama sudah bangun?" tangan mungil milik Fadil menggoyang tanganku. "Eh iya Nak," ucapku terharu. Melihat Fadil di sisiku. Kupikir Julian membuktikan ancamannya akan menjual Fadil. "Ibu tidurnya lama, nggak bangun-bangun. Aku di sini nggak ada temannya," ucap bocah lima tahun itu dengan polosnya. "Om Julian mana," tanyaku

  • Istri Serakah   Dijual

    Akhirnya aku terpaksa melayani nafsu be jat laki-laki bernama Rudi ini. Meski tua bangka ternyata dia tangguh juga, berkali-kali aku dibuatnya tak berdaya. "Terimakasih pelayanannya cantik, kamu memang hebat. Baru kali ini aku merasa puas, tak rugi aku membayar mahal pada Julian," ucap Rudi seraya mengenakan pakaiannya. "Sama-sama, mana tip yang kamu janjikan? Kamu bilang kalau aku bisa memuaskanmu," ucapku menagih janji. "Tentu saja aku tidak lupa, ini!" Rudi mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dari dompetnya, lalu meletakkannya di pangkuanku. Tangan yang mulai keriput itu membelai wajahku, bibir hitamnya mengecup bibirku. Aku hanya bergeming, jujur aku merasa jijik disentuh pria tua itu. Meski demi uang, aku tetap pilih-pilih pelanggan, tidak sembarangan seperti ini. "Kalau aku tidak takut istriku, sudah pasti aku akan membawamu pulang ke rumahku. Kamu benar-benar membuatku mabuk kepayang, tapi aku harus kerja. Besok aku akan datang lagi, tunggu ya?" ucap Rudi seraya

  • Istri Serakah   Calon Suami

    Pov Freya"Frey, itu laki-laki yang katanya pengen kenalan sama kamu," ucap Andrea. Dia menunjuk seorang laki-laki berpenampilan dandy yang sedang berjalan dari arah pintu. "Dia itu tajir melintir, pengusaha batu bara. Lagi cari istri katanya, kamu mau aja. Orang ganteng gitu, sayang kalau ditolak," ucap Andrea lagi. "Iya sih dia ganteng dan kaya, tapi apa dia mau sama aku? Sudah hampir kepala empat ini," sanggahku. "Ya nggak pa-pa, kan? Biar sudah berumur kamu masih terlihat cantik dan seksi, kok?" ucap Andrea menyemangatiku. "Aku cuma nggak PD aja, laki-laki tampan dan mapan kayak dia bisa cari perempuan model apa saja. Bahkan gadis perawan bisa dia dapatkan, sekarang itu yang penting kan uang. Masa iya dia mau sama aku, yang sudah mau expired ini? Tentu saja aku tidak percaya begitu saja omongan Andrea. Mau secantik apapun aku, tetap lebih lebih menarik gadis muda. Lebih sekel, lebih ranum. Mana aku sudah punya buntut lagi. Rasanya kok nggak masuk akal. "Dia sendiri yang mint

  • Istri Serakah   Menikah Lagi

    Pov Frida"Bapak seneng, Da. Kamu mengambil keputusan yang tepat. Tomi selain baik hatinya, baik juga perilakunya, sopan sama orang tua, perhatian sama anak-anak. Bapak tidak pandang harta, bagi Bapak asal dia setia dan bertanggung jawab padamu dan anak-anak, Bapak setuju. Lagi pula, menurut pengakuan Tomi, dia tidak kunjung menikah, karena mencari sosok wanita sepertimu, tapi tidak pernah ketemu," jelas Bapak usai acara lamaran konyol itu. "Bapak menerima Mas Tomi, karena disogok sama makanan tiap hari, ya?" tuduhku. "Idih! Murah banget? Emangnya Bapak cowok apaan?" sergah Bapak tidak terima. "Ha ... ha ... ha ..." Aku tak bisa menahan tawa mendengar jawaban Bapak. "Habisnya, Bapak kalau ngobrol sama Mas Tomi betah banget. Sampai aku ini nggak dianggep," selorohku. "Tomi itu teman ngobrol yang asik, kami mengenang kembali masa-masa di kampung. Rasanya menyenangkan punya menantu seperti dia. Bapak jadi tenang, bila nanti harus kembali ke kampung, Da. Nggak khawatir lagi, di sini k

  • Istri Serakah   Setelah Bercerai

    Pov FarhanLima bulan berlalu, aku dan Freya sudah resmi bercerai. Sekarang aku tinggal di belakang warung sotoku. Freya memenuhi janjinya untuk menjadikan aku gembel. Sekarang aku hanya bisa menyesali semuanya, bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada wanita licik seperti, Freya? Wanita ular itu benar-benar telah memiskinkanku. Rumah dia kuasai, bahkan sepeda motor yang biasa aku pakai pun, dia akui juga. Karena semua kubeli sebelum kami menikah, dan semua atas nama dia, jadi aku tidak bisa menuntut apapun. Dalam hukum statusnya harta pribadi, bukan harta gono gini. Bodohnya aku, tak jadi menjual perhiasan Freya untuk membayar biaya rumah sakit, karena tidak mau repot. Tapi malah menggunakan uangku, yang ku kumpulkan secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Freya, sebagai gantinya. Dan hasilnya, aku benar-benar tidak punya uang sepeserpun setelah dicampakkan, Freya. Untungnya, uang modal jualan soto, dipegang Sandro, karena dia yang biasa belanja untuk kebutuhan warung. B

  • Istri Serakah   Dilamar Mantan

    Pov FridaAkhirnya Bapak memutuskan tinggal di rumahku, untuk sementara waktu. Menemani dan menjaga aku dan anak-anakku kata beliau. "Ini kota besar Da, Bapak nggak tega lihat kalian sendiri di rumah, nggak ada laki-laki. Meskipun Bapak sudah tua, paling tidak kalau ada sosok laki-laki, kamu tidak direndahkan oleh orang lain, kalau ada yang mau macem-macem, pasti akan mikir dulu. Bagaimana pun juga kamu itu janda, sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Istri Farhan itu, tidak akan berani melabrak ke sini, kalau tahu ada aku," tegas Bapak. Aku memang sudah cerita pada Bapak, tentang kelakuan Freya yang pernah melabrak ku, aku juga cerita tentang Bang Farhan yang sempat ingin menguasai seluruh hartaku. "Bapak tega ninggal sawah? Tega ninggal kebon? Nanti bilangnya kangen kampung?" sindirku."Semuanya sudah diurus masmu, Bapak di kampung juga dilarang kerja lagi sama dia. Bapak bosen, lebih baik di sini saja, kan Bapak bisa kalau hanya jaga toko, ngangkat-ngangkat barang begi

DMCA.com Protection Status