âA-apa, Pak? Saya di-DO?âKalila sungguh kaget mendengar kabar yang mengejutkan ini. Sungguh, ini di luar dugaan. Padahal sebelumnya sang rektor memberinya waktu beberapa hari untuk membuktikan kalau video itu hanyalah rekayasa saja. Dia akan menggunakan Rido untuk membantunya, membersihkan nama baiknya.Namun apa ini? Kenapa semua serba mendadak dan malah membuatnya jadi seperti ini?âTunggu, Pak? Kenapa jadi seperti ini? Bukankah Bapak sendiri yang bilang kalau saya masih punya waktu beberapa hari lagi untuk membuktikan semuanya?âKalila tidak mau seperti ini. Kalau dia sampai di-DO, lalu untuk apa dirinya mencari uang ke sana kemari, apalagi dengan cara yang beda.Rektor itu tampak tenang menghadapi wanita di depannya ini. Berbeda jauh dengan Hana yang datang begitu tenang. Kalila malah terlihat emosional dan susah sekali mengendalikan diri.âIya, memang seperti itu. Tapi, saya tidak bisa menunda lagi karena ada saksi yang mengatakan kalau video itu memang benar, bukan rekayasa. Ka
âKakak ngomong apaan, sih? Aku nyakitin apa?âKalila merasa tidak bersalah dan malah membela diri sendiri.Hana juga muak mendengarnya. Wanita ini tidak akan mengaku sebelum Hana membeberkan bukti tentang perselingkuhan mereka. Dia akan membuka itu semua nanti di pengadilan.âSudahlah, sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku tidak mau berurusan dengan kamu. Apalagi kamu sudah berselingkuh dengan Rido. Keterlaluan kamu.âKalila terdiam. Dia sampai lupa kalau Hana juga melihat dirinya selingkuh dengan Rido. Tetapi, Kalila tidak mau membahas itu dulu.âItu urusanku!ââUrusanku karena menyangkut nama baik keluarga. Bagaimana kalau keluarga kita tahu, Kak?!âWalaupun mereka sudah tidak punya orang tua, tapi masih ada saudara dari kedua orang tua mereka. Entah bagaimana reaksi keluarga mereka jika tahu kalau Kalila berbuat serendah ini.âMemang aku pikirin? Terserah, Kak. Lagian, mereka tidak membiayai hidupku.ââTapi, aku membiayai hidupmu.âKalila terdiam. Dia memang numpang hidup di rumah Ha
Kalila keluar dari rumah Hana dengan perasaan kesal. Kalau benar kakaknya itu menuntut atas biaya hidup di masa lalu, entah berapa rupiah yang harus dia keluarkan.Wanita itu harus menemui Rido untuk meminta bantun. Namun sebelumnya sang wanita juga harus bertemu dengan Aji. Dia akan minta penjelasan sebab dirinya yang sudah dikeluarkan dari kampus.Beberapa kali sang wanita berusaha untuk menghubungi Aji, tapi tidak pernah diangkat. Sebenarnya, Aji sengaja silent ponselnya. Sebab hari ini dia mulai bekerja lagi di perusahaan Rido.âSial banget, sih! Aku gak mungkin diam saja. Pokoknya tidak mau sampai di-DO dari kampus. Bisa-bisa pamorku semakin hancur.âWanita itu pun memutuskan untuk kembali ke apartemen. Dia akan beristirahat dulu, baru akan menemui Aji lagi. Kalau misalkan Aji tidak bisa dihubungi, terpaksa dia akan menemui pria itu di rumah Hana, apa pun risikonya.Dengan lunglai wanita itu hendak masuk ke apartemen. Namun, kuncinya tidak bisa dibuka. Sang wanita kaget. Wajah ya
âYa, terus aku mau tinggal di mana? Kak Hana ngusir aku, dan apartemen juga tidak bisa kutinggali lagi. Barang-barangku juga masih ada di sana.ââKamu tinggal cari kontrakan yang sepi lingkungannya, agar aku juga aman dan tidak mengundang banyak mata.ââYa, gak semudah itu, Mas. Aku itu luntang-lantung, mana bisa nyari kontrakan dengan spek seperti itu dalam waktu 1 hari. Gila kamu!ââYa terus aku harus gimana?ââKasih aku uang, atau biarkan aku tinggal di hotel sementara waktu sampai mendapatkan tempat yang kamu sebutkan tadi.âRido berdecak keras. Wanita ini sangat ribet sekali. Berselingkuh dengannya itu tidak bisa seperti pria lain. Rido banyak sekali mengambil pertimbangan. Intinya, dia tidak mau meninggalkan jejak apa pun yang bisa dideteksi oleh istrinya.Termasuk bukti transfer dan apa pun yang ada bukti fisiknya. Makanya, dia tidak pernah memberikan Kalila barang atau transfer uang. Dia akan memberikan uang cash, nanti terserah Kalila akan dibelikan barang apa saja.Lalu, sek
Entah sudah berapa kali Kalila mencari tempat tinggal yang sesuai kriterianya. Tetapi sayangnya belum ketemu yang sreg. Sampai akhirnya dia memilih untuk menginap di hotel untuk malam ini.Sebelum itu, sang wanita harus bertemu dengan Aji. Dia harus mengambil barang-barang yang ada di apartemen itu.Kalila berusaha untuk menghubungi Aji, untunglah kali ini pria itu mau menerima panggilan darinya. Kalila ingin sekali marah-marah, tapi dia tidak punya banyak waktu. Langsung saja pada intinya.âKalau kamu mau mengusirku, biarkan aku mengambil barang-barangku dulu.âAji termenung mendengar perkataan Kalila. Dia pikir Kalila akan merengek dan meminta apartemennya dikembalikan. Ternyata semua di luar dugaan.Aji tampaknya mulai sadar kalau Kalila lebih mengandalkan Rido yang memang punya segalanya.âBaiklah. Sore nanti temui aku di depan apartemen.âSetelah itu Aji mengakhiri panggilan terlebih dahulu. Kalila mengamuk, pria ini benar-benar mengesalkan. Entah kenapa dia malah mau berhubungan
âOh, ini kerjaan kamu saat suami sedang kerja, hah?!âHana dan Kinara terkesiap mendengar suara itu. Hana menoleh dan mendapati Ibu mertuanya sedang berdiri di depan meja mereka. Rendi yang melihatnya pun kaget, sebelumnya tidak melihat kedatangan sang wanita.Kinara tampak bingung, Hana jadi merasa malu dan bersalah karena dinganggu oleh wanita julid itu.âMaaf, Tante ini siapa, ya?â tanya Kinara dengan berani.Bu Minarti melotot sembari berkacak pinggang. âKamu tanya sama wanita di depanmu iu.âKinara refleks melihat pada Hana, seolah mencari jawabannya.Dengan helaan napas panjang, Hana pun terpaksa menjawab pertanyaan Kinara.âDia mertuaku.âKinara terperangah sembari menutup mulutnya sendiri, lalu menatap Hana dan Bu Minarti bergantian.âKak, maaf sebelumnya kalau aku lancang. Kakak kan kalem, baik hati. Kenapa dapat mertua modelan Nenek lampir seperti ini?â bisik sang gadis, yang masih bisa didengar oleh Bu Minarti dan Rendi.âHeh, kamu! Kurang ajar! Saya ini orang tua, apa kamu
Ponsel Aji berdering saat jam istirahat. Kalau saja itu dari Kalila, sang pria tak akan mau mengangkatnya. Tetapi ternyata dari Hana, terntu saja pria itu akan langsung mengangkatnya.âHalo, Sayang,â ucap Aji saat menerima telepon dari sang istri.Namun, Hana merasa heran jika mendengar panggilan itu. Tetapi Hana tidak mau mempermasalahkan itu dulu. Sebaiknya dia bilang pada intinya terlebih dahulu.âMas, bisakah kamu bilang pada ibumu untuk menjaga sikap jika di depan umum?ââHah?âAji terperangah. Dia yang sedang makan siang pun langsung menghentikan aktivitasnya. Sebelumnya, dia sedang makan di kantin. Tetapi, tak ada yang berani mendekat.Mungkin dulu Aji banyak temannya, tapi sekarang dia tak punya teman sama sekali. Semua ini sebab video viral itu.Hanya saja, sang pria tidak memusingkan itu. Yang penting dia masih bisa menghasilkan uang agar tidak direndahkan lagi, terutama oleh Kalila.âIbumu itu malah membuat kegaduhan saat aku di kafe. Aku sedang bertemu dengan temanku, tapi
Tepat pukul 5 sore, Kalila bertemu dengan Aji di apartemen. Saat dibukakan pintu, Kalila tampak cuek dan malah berjalan masuk ke kamar.Wanita itu membereskan pakaian dan barang-barang yang sebelumnya dibawa olehnya. Aji yang melihat itu merasa kesal.âApakah ini sifat aslimu, hah?!â tanya Aji tiba-tiba dengan nada kesal.Kalila yang sudah selesai membereskan semuanya pun tak menghiraukan pertanyaan Aji. Wanita itu memilih untuk berbaik dan akan mempertanyakan perihal dirinya yang di-DO dari kampus.âSimpan dulu pertanyaanmu. Aku ingin bicara serius. Apa kamu yang mengadukanku pada rektor tentang video syur itu sampai aku di-DO dari kampus?ââApa?!âWajah yang semula diselimuti kekesalan sekarang berubah menjadi kaget.âKamu di-DO?âKalila memutar bola mata, gemas. âJangan berpura-pura deh, Mas. Kalau bukan kamu yang malakukannya, siapa lagi?âAji mendelik. âKenapa kamu pikir aku yang melakukan itu semua?ââYa, karena kamu kesal sebab aku selingkuh. Jadi, kamu melakukan ini semua.âAj
Kalila terdiam. Dia menggigit bibir bawahnya dengan mata berkaca-kaca. Untuk saat ini Hana benar-benar tidak bisa memberikan hati lagi kepada adiknya ini. Dia sudah terlanjur sakit dengan apa yang dilakukan oleh Kalila. Walaupun memang dirinya sudah tahu semua, tetapi ternyata tetap saja ada rasa sakit yang menggerogoti. Meskipun mereka satu darah, tetapi pengkhianatan tidak bisa ditoleransi lagi."Kenapa kamu diam saja? Cepat kemasi barangmu! Kamu sudah terbukti salah, serahkan apa yang kamu punya tentang Mas Aji kepadaku. Maka hukumanmu pasti akan berkurang." Mendengar itu Kalila mendongak sembari menggelengkan kepala. "Kak, aku mohon jangan usir aku dari sini. Berikan aku waktu. Kalau aku keluar, bagaimana kalau Mas Aji mengincar nyawaku? Jika aku mati, apakah Kakak mau?"Seketika Hana diam, tetapi tiba-tiba saja wanita itu menyeringai. "Lebih baik kehilangan kamu daripada aku harus melihatmu dalam kesakitan seumur hidupku. Jika melihatmu pasti akan ada bayangan pengkhianatan ka
Hana tak bertanya atau walaupun menimpali ucapan wanita itu, tetapi lebih meneliti bagaimana wajah Kalila saat ini. Mungkin saja wanita itu sedang berbohong kepadanya. Dia benar-benar harus berhati-hati kepada Kalila. Wajahnya saja yang terlihat lugu, tapi ternyata hatinya busuk dan kelakuannya di luar batas. Bahkan dia tidak menyangka kalau Adik yang selama ini disayangi dan juga dilindungi malah menusuknya dari belakang. "Aku benar-benar serius mengatakan itu. Kalau misalkan Kakak tidak percaya, aku bisa memberikan buktinya. Aku sudah mengumpulkan banyak bukti tentang kejahatan Mas Aji kepada Kakak," ujar Kalila. Dia tidak mau sampai diserang oleh Hana atau malah sendirian menghadapi Aji. "Kamu punya bukti-buktinya? Kenapa kamu melakukan itu? Berarti benar kamu mengakui kalau kamu itu sudah jahat kepadaku?" tanya Hana sembari melipat tangan di depan dada. Dia ingin sekali melakukan ini dari dulu, menginterogasi atau bahkan memaki-maki adiknya sendiri. Tak masalah, karena memang
Melihat situasi yang mulai memanas, sang kakek pun langsung buka suara. "Maaf kalau saya memotong pembicaraan kalian. Saya ingin menjelaskan duduk permasalahannya, agar tidak ada salah paham, ya," ucap Kakek itu yang membuat mereka bertiga menoleh. Kebetulan di sana juga sudah ada Rendi. "Maaf, Kakek ini siapa, ya?" tanya Hana, dia tidak bisa mudah percaya begitu saja. Mengingat kalau Kalila itu mungkin licik dan menyewa Kakek ini untuk pura-pura menjadi saksi. Walaupun memang saat ini keadaan Kalila begitu kacau, tapi entah kenapa rasa percaya terhadap adiknya itu sudah hilang begitu saja. Harus punya bukti yang kuat, baru benar-benar bisa paham dengan situasi yang terjadi. "Saya Tono. Saya orang yang tinggal di sekitaran perkebunan itu." Pria tua itu pun menceritakan kronologis saat ia menemukan Kalila di sebuah lubang. Hana hanya terdiam. Dia melihat tidak ada kebohongan di sorot mata Kakek ini. Tampak benar-benar tulus dan juga jujur. "Seperti itu, Nak. Saya datang ke sini h
Saat ini Hana sedang berada di mobil menuju perjalanan pulan. Dia terus saja memikirkan perkataan Sabrina kepadanya. Wanita itu hampir saja tergoda untuk ikut kerjasama dengan Sabrina perihal Kalila, tetapi Hana sadar kalau yang dihadapinya adalah Rido dan orang kaya yang mungkin saja bisa melakukan segala cara dengan uang atau bisa saja dia dimanfaatkan oleh Sabrina demi kepentingan tertentu. Lalu, ujungnya Hana juga yang menjadi tersangka atau kambing hitam mereka. "Aku tidak mau berurusan dengan orang-orang kaya seperti itu. Mereka terlihat baik, padahal di belakangnya busuk. Untuk masalah Kalila, biarlah aku sendiri akan berpikir sesuai dengan rencanaku sebelumnya," gumam Hana saat masih di dalam mobil.Dia benar-benar tidak mau berurusan lagi dengan Rido atau istrinya, berharap semuanya akan segera berakhir dan bisa memulai hidup baru dengan baik. Suara ponsel berdering, di sana tertera nama Rendi. Wanita itu menautkan kedua alisnya. Biasanya Rendi akan menelepon Hana jika mema
âAku ingin mengajakmu kerja sama.âHana masih tampak kebingungan, terlihat dari wajahnya serta alis yang saling bertautan.âUntuk?âSabrina tersenyum, lalu menghela napas panjang. wanita itu begitu santai. Tetapi, wajahnya kali ini tampak serius.âAku tahu, suamimu selingkuh dengan adikmu.âLagi-lagi tubuh Hana menegang. Satu pertanyaan muncul di benak, bagaimana wanita itu bisa tahu?Seolah paham dengan mimik wajah Hana, Sabrina kembali melanjutkan ucapannya yang malah membuat Hana tidak bisa berkata-kata.âAku mengikuti kegiatan dan gerak-gerik Kalila.âHana menghela napas berat. Adiknya itu memang sangat memalukan. Dia malah merebut seorang suami yang sudah beristri.Namun, sekarang bukan itu point masalahnya. Kenapa Sabrina harus mengajaknya kerja sama? Dia sama sekali tidak butuh patner untuk memberikan adiknya hukuman.âKamu bisa memakai uangmu untuk membereskan Kalila. Dia memang adikku, tapi perlakuan dan tindakannya bukan tanggung jawabku.âSabrina takjub dengan keteguhan dan
âKalau itu saya kurang tahu, Non. Tapi, sedari pagi Tuan memang sudah berangkat.âKalila masih khawatir. Jadi, dia hanya bisa berharap kalau Aji tidak dulu pulang dan Hana segara kembali.Sementara itu di sebuah kafe, Hana sedang bertemu dengan wanita yang kemarin meneleponnya. Pada akhirnya, sang wanita tidak punya pilihan lain.Rasa penasaran membuatnya mengambil keputusan ini. Apalagi, mungkin ini bisa dijadikan bahan bukti penangkapan Adik dan suaminya.Namun, yang membuat Hana kaget adalah wanita itu dikenal olehnya. Dia adalah Sabrina, istri dari Rido.Wanita cantik dan elegan itu tersenyum simpul pada Hana. Entah kenapa, kesan pertama yang dilihat bukanlah takut atau risi, melainkan merasa terpukau.âPasti kamu kenal aku, kan?â tanya Sabrina dengan ramah.Hana ikut tersenyum sembari mengangguk. âIya, aku mengenalmu.ââSama, aku juga kenal kamu. Termasuk hubunganmu dengan suamiku.âKali ini Hana mengernyit bingung. âMaksudmu? Maaf, aku tidak punya hubungan apa pun dengan Rido.â
âTas?âRendi bergegas melihat isi tas itu, tentu saja menggunakan sarung tangan. Ini akan jadi bukti untuk diperlihatkan pada Hana. Isinya masih aman, kecuali HP. Sudah dipastikan kalau Aji menculik Kalila.Pria itu mencoba mencari apalagi yang bisa dijadikan bukti, sampai Rendi melihat ada jaket milik Aji yang tertinggal di sana. Rendi pun langsung mengambilnya. Ini akan semakin memperkuat kesalahan Aji.Setelah itu sang pria pun langsung pergi dari sana. Dia akan mencari jejak Kalila sepanjang pulang dari sini. Mungkin saja wanita itu masih ada di sekitaran sini.Sementara itu, tepat pukul 9 Kalila bisa menaiki mobil sayur. Dia diantar oleh kakek itu untuk ke kantor polisi.Selama perjalanan, Kalila terus berdoa, semoga dia tidak bertemu dengan Aji. Kalau tidak, bukan hanya dirinya yang ada dalam masalah, tapi sang Kakek juga.Kalila menutupi kepalanya dengan kain jarik yang diberikan Nenek. Ini digunakan agar Kalila aman dan tidak ada yang mengenali.Hingga satu jam kemudian, akhir
âIni, Nak. Minumlah.âKakek tua itu menyerahkan teh hangat pada Kalila yang sedang duduk di dipan sebuah rumah sederhana berdinding anyaman bambu.Dengan tangan gemetar, wanita itu menerimanya dan langsung meminumnya.âPelan-pelan, Nak. Itu masih panas.âKalila tahu, teh itu masih agak panas. Tetapi, semalaman dia tidak makan maupun minum. Entah bagaimana kalau dirinya sampai tak tertolong, mungkin kejahatan Aji tidak akan pernah bisa terbongkar.âKamu sudah tenang?âTanya seorang nenek yang keluar dari arah dapur. Sepasang sepuh itu tinggal dengan cucunya. Mereka ada di ujung perkambungan, dan hanya rumah ini yang ada di sepanjang jalan setapak. Terbilang hidup sangat sederhana.Nenek itu duduk di pinggir dipan dan mengusap pundak Kalila dengan pelan.âYa Allah, Nak. Badanmu sampai gemetar seperti ini. Dia pasti sangat ketakutan,â ucap Nenek itu pada sang Kakek.Pria sepuh mengangguk setuju. âIya, Bu. Kalau saja kita tidak menemukannya, dia pasti sudah tertangkap lagi oleh penculik i
Kalila menangis dengan suara parau. Dia benar-benar mulai putus asa. Kalau tidak ada yang menolongnya, maka kemungkinan besar dirinya akan ketangkap oleh Aji.Dia menggelengkan kepala. Membayangkannya saja sudah membuat dirinya merasa takut.Ternyata Aji punya sisi jahat yang mengerikan. Mungkin saja, Kalila akan habis di tangan pria itu kalau tidak kabur. Tetapi, masalahnya dia tidak tahu cara keluar dari sini.Wanita itu menangis sembari berusaha berpikir, bagaimana caranya agar bisa keluar dari sini. Tak ada jalan selain terus menyerukan permintaan tolong dan berdoa pada Tuhan.âYa Tuhan, aku benar-benar menyesal. Tidak mau berurusan dengan Mas Aji lagi. Kalau aku keluar dari sini, aku akan membuka kebusukan pria itu. Aku janji.âKalila menangis sesenggukan, sampai tiba-tiba ....âTernyata orang!â seru seorang anak remaja dengan pakaian kaos dan celana panjang. Ada topi bambu yang menempel di kepalanya.Kalila langsung mendongak dan menghapus jejak air mata. Wanita itu merasa senan