Provinsi Grosseto, Tuscany, Italia.
Pertemuan dua kolega di sebuah rumah kecil namun nyaman yang terbuat dari kayu di daerah peternakan tampak sedikit berbeda dari biasanya.
Suasana yang seharusnya menenangkan karena embusan angin segar di sekitar yang di kelilingi pepohonan rindang dan tanah lapang yang luas berwarna hijau tak berlaku, sebab, ketegangan yang mengudara karena salah satu dari mereka mengubah perjanjian yang telah disepakati di pembicaraan pertama.
Bagi Leon, kesepakatan seperti itu tidaklah bermoral. Orang yang mudah ingkar janji berarti adalah orang yang bisa berkhianat kapan saja dan itu bukanlah orang yang menyenangkan untuk dihadapi.
Leon, pria dengan jas hitam dipadukan kemeja putih bermerek terkenal dan dasi berwarna merah maroon ini tampak tampan. Celana hitam yang agak kecil membuatnya semakin menarik. Dia menyugar rambutnya ke belakang dan tersenyum sinis.
Sementara Johan, pria dengan jas putih dengan dibalut kemeja putih motif bunga.
"Kau mengubah kesepakatan di menit terakhir. Itu bukan etiket yang baik saat berbisnis, Johan."
"Oh ayolah, Leon. Santai sedikit. Kenapa kau harus seserius ini? Itu bukan masalah besar, kesepakatan bisa berubah kapan saja bukan? Ini adalah bisnis," tutur Johan santai.
Leon diam. Tatapannya tertuju lurus ke depan seorang pria paruh baya yang sedang meminum wine di tangannya.
Pria berkebangsaan Amerika yang merupakan rekan kerja keluarga Benigno. Dari gelagatnya, Leon paham jika Johan adalah orang sombong yang merasa bisa melakukan apa saja. Orang semacam Johan selalu berhasil menguras tenaganya dan membuatnya muak.
"Hei, kubilang santai saja. Aku melakukannya karena melihat pasar tanah di daerah itu satu hari yang lalu baru saja berubah. Tentu saja aku harus bergerak cepat dan menambah kesepakatan yang dibutuhkan, jika tidak, akulah yang akan rugi." Johan menatap keluar jendela. "Lagipula ini hanya bertambah seribu dolar menjadi dua ribu dolar per-meter. Ini bukan harga yang besar untuk billionaire seperti kalian."
Billionaire? Bah, kata-kata bodoh macam apa itu? Leon menertawakan maksud Johan dalam hati.
Johan seketika terkekeh pelan untuk menyembunyikan kegugupannya sendiri kala melihat wajah Leon yang berubah menyeramkan. "Oh iya, kudengar penjualan sabu kalian sangat lancar dan sukses besar. Bukankah itu berarti kalian memiliki banyak uang di kantong kalian," ujarnya pelan seolah berniat memuji namun dia salah langkah.
Dia malah terdengar seperti sedang mengejeknya, sial!
Leon mengepalkan tangannya. Dadanya sesak karena emosi. Kepalanya juga ikut berdenyut dan otot-otot di rahangnya mengetat.
Johan sedang memancingnya tetapi Leon berhasil menenangkan dirinya karena jika dia hilang kendali maka orang ini akan langsung mati.
"Aku tidak bisa memberimu harga awal, Leon. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, ini adalah bisnisku dan aku harus merubahnya. Sebab, jika tidak kulakukan, maka aku akan rugi besar. Aku tidak boleh bermain-main dengan uang jutaan dolar seperti itu bukan?" papar Johan sambil tersenyum manis.
Dante yang berada di sisi Leon melirik pada tuannya. Dia melihat iris Leon yang sedikit membesar menandakan jika pria itu mulai marah.
Leon benci orang yang ingkar janji dan suka merubah kesepakatan di saat kata 'deal' sudah terucap. Dia tidak suka orang yang tidak konsisten. Orang-orang seperti itu hanya buang-buang waktu dan tidak pantas ada di hadapannya.
Orang bodoh yang bahkan tidak bisa memutuskan apa yang dia mau dengan keyakinan penuh dan mengubah keputusan hanya karena sesuatu adalah orang yang tidak Leon sukai.
"Johan, apa kau sedang bermain-main dengan kami?"
Leon mengambil rokok. Dia pun menyalakannya dan menyesapnya kemudian mengembuskan asapnya kuat-kuat hingga membumbung tinggi di udara. Rasa amarahnya sedikit berkurang. Kepalanya yang tadi berdenyut karena emosi pun mulai mereda. Dia sudah berhasil mengambil kontrol penuh akan dirinya.
"Kita sudah membuat kesepakatan itu dan kau menyetujuinya, bukankah aku juga sudah memberimu waktu dalam seminggu untuk mengubahnya? Tetapi kau tidak melakukannya. Namun, di saat kita akan menandatangani kontrak itu, lantas kau langsung mengubahnya? Itu adalah hal yang sangat kubenci, Johan." Leon menjabarkan semuanya dengan jelas.
Johan menghela napas dan tersenyum sok lugu. "Itu keputusanku, Leon. Jika kau tidak mau melakukannya maka aku bisa menjual tanah ini pada yang lain. Ada orang lain yang menungguku selain kau, Leon."
Leon tidak menyahut. Dia menatap Dante yang tampak mulai tak nyaman dan ingin mencegah Leon yang akan melakukan sesuatu.
"Dia bilang dia membutuhkan tanahnya. Dia tidak mengatakan bagaimana aku harus mendapatkan tanah itu bukan?" ujar Leon pada Dante yang tampak kaget karena sebenarnya dia tidak tahu apapun.
'Hah, sudah pasti dia melakukannya lagi.'
Dante mengeluh dalam hati.
Leon selalu melakukannya. Terlebih Leon mengatakannya sembari membuat raut wajah mengingat-ingat kembali perintah yang diberikan bos besar padanya. Itu terasa lebih meyakinkan.
"Aku butuh tanah di daerah peternakan terkenal di La Maremmana. Dapatkan itu dari Johan. Orang Amerika itu memiliki sekitar empat puluh lima persen dari luas tanah yang tidak dikuasai penduduk sekitar."
"Apa yang akan kau lakukan di sana, Sean?"
"Aku akan membuat peternakan lalu memproduksi keju khusus di sana. Itu akan sangat menyenangkan, Leon."
Dan, ya. Mau tidak mau Leon harus mengikuti rencana gila Sean. Untuk apa dia repot-repot membuat produksi keju sendiri? Ah, pikiran Sean dan kegilaannya membuat kepala Leon sakit.
"Leon," lirih Dante was-was. Mencegah amukan Leon jauh lebih sulit dari tugas apapun.
Leon menyeringai tipis. Dia menjentikkan ujung rokoknya ke dalam asbak hingga bagian puntung yang terbakar dan menghitam jatuh.
Tubuh Johan menegang. Dia melirik anak buahnya yang segera sadar jika sesuatu akan terjadi.
Suara mesin yang menderu diluar mengejutkan Johan dan juga para penjaganya. Dia menoleh dan menganga syok melihat mesin excavator sedang menggali tanah dan membuat keributan besar. Johan menatap Leon dan mendelik.
"Kau! Apa yang sudah kau lakukan tanpa izinku, hah?!" teriak Johan murka. Dia melihat bagaimana mesin besar itu mengeruk tanah dan menghancurkan kebun semangka eksklusif siap panen miliknya. "APA KAU SADAR DENGAN YANG KAU LAKUKAN?" sembur Johan lagi.
Melihat reaksi Leon yang biasa saja membuat emosi Johan semakin membumbung tinggi. Rahangnya mengetat dan pupil matanya sedikit membesar. Dia sangat marah. "Apa kau ingin mengajukan perang denganku?" tuding Johan garang.
Leon mengetuk-etukkan jarinya di atas meja dan membuat raut wajah berpikir. "Perang?" beo Leon dengan suara pelan. "Orang mati tidak bisa melakukannya," imbuhnya dingin.
Dia menendang Johan hingga tubuh pria itu terpelanting ke samping. Dante juga segera beraksi mengeluarkan pistol di sakunya.
Dor!
Suara tembakan menggema kuat di ruangan itu. Peluru dari revolver yang tadi dilontarkan melaju mengenai tepat di ulu hati salah satu penjaga. Dia ambruk dengan mata melotot. Sementara yang lain segera mendekat, memberi perlindungan pada tuannya. "Kau gila, Leon!" sentak Dante sambil melempar pistol lain di sakunya pada pria itu. "Kau selalu saja seperti ini. Apa kau mau aku mati mendadak, hah?" Leon menerima pistol hasil lemparan Dante dan menatapnya datar. "Kau tidak akan mati semudah itu. Tekad bertahan hidupmu jauh lebih besar dariku," balas Leon santai. Mendengar jawaban dari Leon membuat Dante meradang.Sialan! Pria ini sedang menghinanya. Keduanya lantas kembali fokus menembak musuh yang tersisa. Ada sekitar enam orang tersisa sekalian Johan. Salah satu dari mereka berhasil mendekat dan menghantamkan meja kecil pada Leon. Pria itu dengan gagah menangkis serangan darinya menggunakan kursi yang ada di sisinya. "Woah, kau nyaris mati!" celetuk Dante sambil melilit leher seora
Hari kedua di mansion Leon. Leon, pria sinting. Elena semakin memahami makna kata itu. Ratapan kesedihan dan juga permohonan ampun dari korbannya adalah kesukaan Leon. Leon selalu marah saat dia bungkam. Seperti yang terjadi tadi malam. "Kenapa kau tidak memohon padaku, berengsek?! Cepat memohonlah! Kau harus meminta untuk dilepaskan! Jangan terus memintaku untuk membunuhmu, sialan! Kau memuakkan! Akh, dasar jalang kecil yang menjengkelkan!" Usai berteriak seperti itu, Leon menamparnya dengan kuat hingga membuat kepala Elena pusing. Elena yang tak kuasa melawan akhirnya diam dan menutup matanya. Dia memilih untuk tidur dengan tubuh penuh luka ketimbang melihat Leon yang sinting. Sebelum benar-benar terlelap, dia bisa mendengar Leon memakinya berulang kali.Kemudian, dipagi cerah seperti ini, Leon sudah bersiap menyiksanya kembali. Dia membangunkannya secara paksa. "Bangun! Apa kau tuli? Kubilang bangun, sial!" Leon melakukannya dengan kasar. Dia menarik tubuh ringkih Elena dari
Pria itu membawanya menuruni tangga belakang mansion menuju lapangan terbuka. Elena reflek mengangkat tangannya untuk menutupi matanya karena silau, sudah dua hari ini dia tidak melihatnya. Elena mengedipkan matanya dan berjalan dengan terseok-seok menahan rasa sakit karena Leon menyeretnya dengan tidak berperasaan. Yah, memang sejak kapan Pak Tua itu punya hati? Bukankah dia itu manusia tanpa hati yang melakukan apapun demi kepuasan dirinya sendiri? Elena menganga melihat pagar besi yang besar terpasang melingkar dengan diameter yang lebar, mungkin sekitar empat puluh lima meter atau lebih. Didalamnya tumbuh pohon-pohon besar dan dibawah ada beberapa batang pohon tergeletak sementara bagian depan ada sungai dengan jembatan kecil sebagai penghubung. Tempat itu juga dipasang atap, mirip seperti kurungan super besar. Perasaan Elena tidak enak.Dia melirik Leon yang tersenyum. “Aku ingin memperkenalkanmu pada dua temanku, Nona.” Leon membuka kandang itu dan mendesak Elena untuk mas
Mimpi, sebuah angan atau gambaran visual yang tercipta di saat kita sedang tertidur. Sulit di jelaskan makna sebenarnya apa itu mimpi. Namun, yang pasti selain dari imajinasi yang kita miliki, mimpi juga bisa tercipta akibat kenangan di masa lalu. Mimpi yang berasal dari ikatan kenangan justru lebih mengerikan dari semua mimpi yang di miliki. Baik itu buruk ataupun baik. Mimpi baik akan membuat suasana hati menjadi membuncah dan terkadang lupa jika itu terjadi dulu hingga tak bisa terulang kembali. Kemudian saat mimpi itu buruk maka efeknya akan timbul secara berlebihan dan cukup merepotkan. Sama seperti yang kini di alami Leon. Pria itu baru menutup matanya beberapa menit namun kilasan menyakitkan yang terjadi padanya dulu timbul begitu saja. Hal ini membuatnya merasakan sakit kepala dan juga kelelahan akibat napasnya yang terengah sebab melakukan respirasi terlalu cepat. Jantungnya berdebar dengan kecepatan tidak normal dan berhasil menyakitinya. Dia mengusap kasar wajahnya d
Elena tersenyum, dia tertawa, dan tak lama kemudian berteriak. Dia melotot ke arah para pengemis yang melihatnya dengan pandangan kasihan. Oh, ayolah! Keadaannya jauh lebih mengenaskan dari mereka.Jika mereka hanya berpakaian kusam dan kumal. Elena jauh dari itu. Selain pakaiannya yang kotor, wajah yang berantakan, kedua tangannya juga terikat dengan tali yang cukup kuat.Kakinya dirantai. Walaupun dia bisa berjalan dengan baik, tetapi, dia tak jauh berbeda dari pasien yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa."Berengsek, Pak Tua sialan! Aku akan membunuhnya! Akan kupukul wajahnya sampai cacat dan dia tidak akan bisa lagi disebut pria tampan! Dia hanya bajingan yang harus dimusnahkan!"Elena menggeram pelan. Dia menyugar rambutnya dengan kesulitan dan mengembuskan napas kesal.Ingatannya terlempar ke beberapa saat yang lalu. Saat pert
Ada dua hal yang tidak pernah Elena lepaskan jika sudah dia miliki. Pertama adalah uang, yang kedua adalah makanan. Dia tidak akan membiarkan siapapun merebut miliknya. Tetapi, sekarang. Segerombol pria tidak berotak sedang mengerubunginya dan ingin merebut keduanya dari dia. Hah! Enak saja! Elena tidak akan menyerahkannya begitu saja, sial. Dia sudah menderita begitu banyak sebelumnya dan sekarang dengan seenak jidat mereka mau mengambil miliknya? Wah, mereka memang mencari mati. "Pergi! Kalian tidak akan mendapat apapun di sini!" usirnya sambil memasukkan sepotong pizza besar ke mulutnya. "Tidak ada uang atau makanan yang bisa kalian dapatkan di sini. Aku miskin!" teriaknya lantang. "Ci stai sfidando?!" (Apa kamu menantang kami?!) "Hah? Can't you speak English? I don't understand!" sela Elena tidak mengerti. "Ci ha deriso tutti. Prendiamolo da
'Tidak! Kumohon jangan! Jangan lakukan apapun padaku. Tidak! Tuhan, tolong aku!'Elena terus menjerit dalam hati dan menutup matanya rapat-rapat setiap kali mereka mengelus tubuhnya dan mengamatinya sembari memegang kemaluan mereka sendiri."Cantik, cantik, dia cantik sekali.""Kulitnya juga lembut dan juga wangi.""Oh, aku ingin merasakan tubuh indahnya, berengsek.""Ah ... Sial, sial, sial! Aku keluar ... Ah!"Mereka mengeluarkan cairan tubuh mereka secara bersamaan ke tubuh atas Elena sembari mengerang senang.Mereka tentu saja sedang terburu-buru ingin menyicipi Elena tetapi, mereka harus tetap mempertahankan kewarasannya agar mereka bisa menikmatinya dengan puas. Sudah lama sekali mereka tidak melakukan ini dan sekarang, kesempatan itu hadir kembali.Mereka menemukan berlian yang dibuang oleh pemili
Terlalu banyak menangis membuat Elena kelelahan. Matanya terlihat sembab. Fisik dan mentalnya sangat letih juga berantakan membuatnya kehilangan kesadarannya dalam pelukan Leon.Elena sangat pulas, dia bahkan tidak terlihat terganggu ketika Leon dengan lembut mengusapkan air ke tubuhnya.Leon memandikan Elena! Wow, dia bahkan melakukannya dengan hati-hati!Luar biasa. Bagi laki-laki sehat seperti Leon, ini adalah tantangan terbesarnya. Tetapi, dia baik-baik saja dan tidak terlihat ingin menuntaskan imajinasi liarnya pada gadis itu. Bahkan, dia terlihat menikmati memandikan Elena yang seperti bayi besar.Tangan besar Leon menyusuri leher, tengkuk, hingga kemudian jatuh ke bagian dada Elena. Dia mengusapnya pelan dan membuat Elena melenguh pelan.Leon menatap Elena dengan sebal. "Jangan mengerang berengsek. Kau masih kotor!" desis Leon tidak suka.&
Pesta yang dia hadiri kali ini jauh berbeda dari kebanyakan pesta anak-anak muda yang dia datangi. Semua orang di tempat ini memakai pakaian formal dengan tema gelap dan tidak menonjol. Tidak ada satupun orang yang memakai aksesoris mencolok seperti berwarna pink atau kuning cerah. Nyaris semua memakai serba hitam dan merah maroon, atu ada juga biru gelap dan abu-abu.Elena tanpa sadar menaikkan sudut bibirnya sinis. Orang-orang ini sama sekali tidak ada yang menikmati pesta, begitu yang dia simpulkan.Mereka semua berbicara serius, dengan suasana yang menegangkan, dan tidak ada hiburan sama sekali.Musik pestanya pun terlalu pelan, hanya ada dansa-dansa kecil yang dilakukan di lantai dansa."Hoam ... Ini membosankan," komentar Elena di samping Leon.Ketiga pria yang sedang berbincang dengan Leon melirik Elena. Gadis itu tersenyum tipis dan mengangka
Satu minggu.Kebebasan itu terasa sangat singkat dan juga cepat. Elena menikmati hidupnya di pedesaan yang terletak di pinggir Kota entah di mana ini.Saat ini dia tinggal di sebuah rumah kecil yang dihuni oleh sepasang suami istri. Begitu dia menyebutkan nama Leon, entah mengapa mereka sedikit takut padanya. Tapi, mereka tetap berbuat baik padanya. Elena tidak menyangka jika pamor Leon sampai di tempat terpencil ini. Tapi tentu saja bukan pamor yang baik. Dia tak lebih dari berandal sinting yang menyebalkan. Mungkin, itu yang akan orang-orang katakan jika mereka berani. "Kuharap dia cepat mati," bisik Elena sambil mengangkat segelas kopi susu hangat di tangannya. Tatapannya tertuju pada pemandangan sore hari yang indah. Waktu-waktu menyenangkan yang sudah lama tak dia nikmati karena penculikan sialan ini. "Sepertinya harapanmu tidak akan terwujud dalam waktu dekat."Elena tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja bersuara. Dia sangat mengenali nada rendah dan serak yang
"Aku bukan Diana.""Apa? Apa yang kau katakan, sayang?""Aku bukan Diana!" ulang Elena sekali lagi dengan penuh penekanan."Tidak, tidak, itu tidak mungkin. Kau adalah Diana. Kekasihku, cintaku, dan calon ibu dari anak-anakku! Kau ... Kau milikku!" seru pria itu posesif.Elena menggeram pelan. Dia membiarkan Leon menggerayangi tubuhnya dengan bibirnya yang panas, kemudian melemas dan memeluknya dengan erat setelah beberapa saat.Ah, kesempatan. Gadis itu mendorong Leon kemudian menampar pipinya dengan kuat.Plak! Elena menampar pria itu hingga menjauh ke belakang."Hah ... Apa?" Dia kaget, tapi tidak sadar juga. Dia terlihat bodoh.Elena berhasil mengatasi rasa takutnya. Kebencian yang mendalam membuatnya berani untuk melawan. Pria ini. Orang sialan ini yang membawanya ke tempat ini. Dia menculiknya, menyiksanya, melecehkannya, dan membuatnya tak berdaya. "Sayang ... Diana. Kenapa kau ...."Leon sepertinya memang mabuk berat karena pria itu langsung ambruk begitu saja di lantai se
Karen Valentine Parvez. Seorang perempuan paruh baya yang memiliki tatanan terkuat di keluarga Parvez setelah ibu mertuanya meninggal. Dia mewarisi gelar sebagai menantu dan ibu terbaik di kalangan masyarakat kelas atas. Dia adalah sosok yang dipuja dan juga menjadi panutan.Sayangnya, hal itu jauh dari kebenaran yang ada. Dia tak lebih dari sekedar seorang perempuan tua yang gila harta dan juga kehormatan. Dia ingin semua orang memandangnya dengan hormat dan tidak berani meremehkannya.Seorang ibu yang kejam dan juga tega dengan darah dagingnya sendiri. Dia orang yang berhati dingin dan sanggup menghancurkan anaknya dengan membunuh orang yang dicintainya tepat dihadapannya."Kudengar anda memanggil saya." Leon yang baru saja tiba duduk di hadapan ibunya dengan tenang. Dia membuka dua kancing atasnya dan melampirkan jasnya. Duduk dengan menyandarkan punggungnya dan terlihat berusaha mencari tempat nyaman untuk menghilangkan rasa amarah yang sedari tadi membara semenjak menginjakkan ka
"Kita cari jalan alternatif lain. Pasar Rusia harus kita tembus apapun yang terjadi." "Tapi, Tuan Dante. Kami memiliki masalah dengan perbatasan. Mereka sangat sulit diajak untuk berbicara.""Lakukan saja seperti apa yang kukatakan. Kenapa kau selalu saja berbicara omong kosong?! Jika mereka tidak mau bicara, kau culik dan bunuh saja serangga yang mengganggu, berengsek! Berhenti membuatku sakit kepala!" Dante berteriak marah. Dia melempar gelas yang dipegangnya ke lantai dengan emosi. "Sialan. Kenapa mereka semua bodoh sekali? Apa mereka hanya akan bekerja jika aku memukul dan menendang pantat mereka?""Terlebih lagi aku harus mengurus Leon yang temperamental! Sialan, aku benci pekerjaanku!"Dante mengambil rokok dari balik jas hitamnya dan mematiknya, meniup asap tipis hingga membumbung tebal di udara. "Kali ini dia mau berbuat apa?" Lirihnya sambil menatap keluar jendela dengan malas. "Aku sedang malas membersihkan kegilaannya malam ini."Sementara Leon yang dibicarakan sedang du
Terlalu banyak menangis membuat Elena kelelahan. Matanya terlihat sembab. Fisik dan mentalnya sangat letih juga berantakan membuatnya kehilangan kesadarannya dalam pelukan Leon.Elena sangat pulas, dia bahkan tidak terlihat terganggu ketika Leon dengan lembut mengusapkan air ke tubuhnya.Leon memandikan Elena! Wow, dia bahkan melakukannya dengan hati-hati!Luar biasa. Bagi laki-laki sehat seperti Leon, ini adalah tantangan terbesarnya. Tetapi, dia baik-baik saja dan tidak terlihat ingin menuntaskan imajinasi liarnya pada gadis itu. Bahkan, dia terlihat menikmati memandikan Elena yang seperti bayi besar.Tangan besar Leon menyusuri leher, tengkuk, hingga kemudian jatuh ke bagian dada Elena. Dia mengusapnya pelan dan membuat Elena melenguh pelan.Leon menatap Elena dengan sebal. "Jangan mengerang berengsek. Kau masih kotor!" desis Leon tidak suka.&
'Tidak! Kumohon jangan! Jangan lakukan apapun padaku. Tidak! Tuhan, tolong aku!'Elena terus menjerit dalam hati dan menutup matanya rapat-rapat setiap kali mereka mengelus tubuhnya dan mengamatinya sembari memegang kemaluan mereka sendiri."Cantik, cantik, dia cantik sekali.""Kulitnya juga lembut dan juga wangi.""Oh, aku ingin merasakan tubuh indahnya, berengsek.""Ah ... Sial, sial, sial! Aku keluar ... Ah!"Mereka mengeluarkan cairan tubuh mereka secara bersamaan ke tubuh atas Elena sembari mengerang senang.Mereka tentu saja sedang terburu-buru ingin menyicipi Elena tetapi, mereka harus tetap mempertahankan kewarasannya agar mereka bisa menikmatinya dengan puas. Sudah lama sekali mereka tidak melakukan ini dan sekarang, kesempatan itu hadir kembali.Mereka menemukan berlian yang dibuang oleh pemili
Ada dua hal yang tidak pernah Elena lepaskan jika sudah dia miliki. Pertama adalah uang, yang kedua adalah makanan. Dia tidak akan membiarkan siapapun merebut miliknya. Tetapi, sekarang. Segerombol pria tidak berotak sedang mengerubunginya dan ingin merebut keduanya dari dia. Hah! Enak saja! Elena tidak akan menyerahkannya begitu saja, sial. Dia sudah menderita begitu banyak sebelumnya dan sekarang dengan seenak jidat mereka mau mengambil miliknya? Wah, mereka memang mencari mati. "Pergi! Kalian tidak akan mendapat apapun di sini!" usirnya sambil memasukkan sepotong pizza besar ke mulutnya. "Tidak ada uang atau makanan yang bisa kalian dapatkan di sini. Aku miskin!" teriaknya lantang. "Ci stai sfidando?!" (Apa kamu menantang kami?!) "Hah? Can't you speak English? I don't understand!" sela Elena tidak mengerti. "Ci ha deriso tutti. Prendiamolo da
Elena tersenyum, dia tertawa, dan tak lama kemudian berteriak. Dia melotot ke arah para pengemis yang melihatnya dengan pandangan kasihan. Oh, ayolah! Keadaannya jauh lebih mengenaskan dari mereka.Jika mereka hanya berpakaian kusam dan kumal. Elena jauh dari itu. Selain pakaiannya yang kotor, wajah yang berantakan, kedua tangannya juga terikat dengan tali yang cukup kuat.Kakinya dirantai. Walaupun dia bisa berjalan dengan baik, tetapi, dia tak jauh berbeda dari pasien yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa."Berengsek, Pak Tua sialan! Aku akan membunuhnya! Akan kupukul wajahnya sampai cacat dan dia tidak akan bisa lagi disebut pria tampan! Dia hanya bajingan yang harus dimusnahkan!"Elena menggeram pelan. Dia menyugar rambutnya dengan kesulitan dan mengembuskan napas kesal.Ingatannya terlempar ke beberapa saat yang lalu. Saat pert