Kedua bola mata Arumi terbelalak saat melihat isi video yang di kirimkan oleh Laura padanya, seketika wajah cantiknya memucat air matanya seolah tak mampu terbendung lagi saat melihat pemandangan pahit. "Mereka sudah berhubungan sejauh ini?" Arumi menyeka air mata yang terus mengalir di kedua pelupuk matanya. Hatinya sangat hancur saat melihat Dewa yang begitu dekat dengan Laura. Membuat dirinya menjadi ciut, dan terkadang pikiran-pikiran tentang status dirinya pun mulai menyeruak dalam hatinya. Apakah dirinya tidak ada tempat di hati Dewa meskipun hanya sedikit saja. "Arumi! cukup, jangan berpikiran yang macam-macam. Pernikahan ini berawal dari kesalahan jadi untuk apa kamu berharap banyak, apa lagi sampai berharap tuan Dewa memilih diri mu," batin Arumi yang mengerutu di sepanjang jalan. Satu jam telah berlalu, Arumi akhirnya sampai di rumah kediaman Wijaya. Oma Rima pun segera menghampiri saat melihat cucu menantunya yang sudah dia tunggu-tunggu dari tadi setelah melihat
Arumi sangat terkejut, saat melihat Dewa yang baru saja masuk ke kamar, wanita cantik itu pun segera menyeka air matanya yang dari tadi terus menetes. ''Arumi, kenapa kamu pulang tidak menunggu ku?'' Tanya Dewa menghampiri, namun dengan cepat Arumi segera menjaga jarak seolah engan untuk di dekati. ''Untuk apa saya menunggu? sedangkan anda sedang bersama dengan kekasih anda tuan?' jawab Arumi seraya tersenyum getir dan melontar balik pertanyaan pada Dewa. Dewa seketika mematung saat Arumi melontar balik pertanyaan padanya, namum tentu saja Dewa tidak suka di bantah. ''Aku tahu marah saat melihat Laura, tapi seharusnya tunggu aku, jangan membuat oma curiga, dan marah pada ku.'' Dewa marah. Arumi menghela nafas jengah saat Dewa seolah menyalahkan dirinya, dengan spontan wanita cantik itu pun memberanikan diri untuk memastikan satu hal. ''Tolong jawab aku tuan Dewa, kenapa anda tidak mengatakan jika anda sudah memiliki seorang pacar?'' Arumi menantikan jawab dengan perasaan pen
Marisa mengerutkan kening saat melihat asisten rumah tangganya, terlihat sudah menghubungi seseorang yang membuatnya penasaran lalu mencecar beberapa pertanyaan. "Bi, kamu ini nelepon siapa malam-malam seperti ini?" Tanya Marisa sembari menatap tajam dan berkacak pinggang. Bi Tini tersontak kaget, saat melihat majikannya yang tiba-tiba saja ada di belakangnya. "Nyonya, bibi pikir siapa tadi bibi hanya menelpon Hera menghampiri dan mencecar putra bibi saja di kampung," Jawab bi Tini berbohong karena dia tidak ingin majikan wanita yang jahat dan licik itu mengetahui jika dirinya sudah menghubungi putri dari pak Harun. Beruntung tadi Marisa tidak mendengar pembicaraan nya dan Arumi, dengan penuh emosi Marisa pun menyuruhnya untuk segera pergi untuk mengurus pak Harun. Wanita paruh baya itu pun mengangguk patuh. "Baik nyonya, bibi urus tuan dulu." Bi Ratih pergi ke arah kamar pak Harun yang saat ini sedang sakit struk ringan Marisa terlihat asik membawa seorang berondong ke dalam r
Arumi menelan saliva karena sedikit kaget, saat melihat Dewa yang sudah ada di depannya yang terus membidik dengan tatapan tajamnya. "A-Aku tadi sangat haus tuan, jadi ke dapur minum dulu. Kenapa anda malah bangun?" jawab Arumi terpaksa berbohong karena ia tidak mau berdebat dengan Dewa. Mendengar penjelasan Arumi, entah kenapa Dewa belum percaya sepenuhnya karena tidak biasanya sang istri keluar kamar malam-malam. "Kenapa tidak menyuruh pelayan untuk mengantarkannya," kata Dewa mengingatkan. Arumi sudah menduga, jika Dewa tidak akan mudah percaya. Tapi ia berusaha untuk tetap tenang agar tidak membuat lelaki yang ada di depannya curiga. "Para pelayan sudah tidur, kasian kalau harus di ganggu, lagi pula jalan-jalan ke dapur sebentar tidak papa kan." Arumi berusaha untuk meyakinkan. Dewa terdiam, dia sebenarnya tidak ingin berdebat lagi hanya karena hal sepele. Dengan raut wajah yang datar ia akhirnya menerima alasan Arumi. "Sudah, cepat tidurlah. Besok ada beberapa dokum
Kening nyonya Rima berkerut saat Dewa bertanya padanya, lalu dia mengiyakan jika semalam Arumi memang menemuinya dan meminta ijin untuk pulang menjenguk ayahnya lebih dulu, bahkan wanita berusia enam puluh tahunan itu juga yang menyuruh supir pribadi mereka untuk mengantarkan Arumi. Dewa menghela nafas kasar, dia tidak habis pikir kenapa istri kontraknya itu sudah mulai berani berbohong padanya. Padahal selama ini Arumi selalu ijin padanya. "Dewa! jawab oma dengan jujur, apa kamu masih berhubungan dengan mantan kekasih mu sepertinya semalam Arumi terlihat sangat sedih sekali," Oma Rima menatap penuh selidik. Wajah Dewa seketika berubah menjadi muram, hatinya pun menjadi ciut, lidahnya seolah terkunci saat akan menjawab. Melihat ekspresi Dewa yang malah mematung, memperkuat pemikiran Oma Rima sampai membuatnya sedikit kesal dan marah. "Oma sudah menduganya, sudah berapa kali di ingatkan sudah lupakan saja wanita itu dan fokus pada istri mu Dewa, Arumi jauh lebih baik dar
Setelah mengambil beberapa potret Arumi dan Adrian, Laura tanpa sungkan mengirimkannya pada Dewa. Dia begitu puas apa lagi saat mengambil fose Adrian yang menahan Arumi yang hampir jatuh. "Heh, Arumi rasakan kamu kamu pikir Dewa akan menyukai mu, jangan mimpi," Geram Laura lalu kembali masuk ke dalam mobil. Melihat sang majikan yang terlihat begitu senang, Rini sangat penasaran dengan apa yang sudah di lakukan oleh Laura. Dia pun tak pernah absen untuk mencari tahu. "Nona Laura, seperti anda sangat senang sekali?" Dengan penuh kesombongan Laura memperlihatkan beberapa hasil foto Arumi dan Adrian. Membuat kedua mata Rini membeliak saat mendengar hal yang menurutnya sangat menarik. "Bagus sekali nona Laura, aku yakin tuan Dewa pasti langsung membenci wanita ja-lang itu," kata Rini yang sengaja memprovokasi. "Tentu saja aku juga yakin, tinggal menunggu waktunya saja," Laura menyeringai penuh kesombongan. Dia berharap pernikahan kontrak mereka berdua cepat berakhir sebelum batas w
Sesampainya di rumah sang ayah, Arumi di sambut hangat oleh asisten rumahnya dengan sangat antusias. "Nona muda akhirnya nona ke sini juga," ujar Bi Tini terlihat senang saat membuka pintu. Arumi memancarkan senyum tipis, lalu dia bertanya tentang kondisi sang ayah, seraya mengedarkan pandanganya di semua ruangan. Tanpa membuang waktu lagi wanita paruh baya itu pun segera membukakan pintu lalu mempersilahkan putri dari majikannya untuk masuk. "Nona Arumi, ayo masuk. Ini rumah Nona sendiri jangan sungkan dan tuan sudah menunggu anda di dalam," ajak bi Tini yang memegang erat tangan Arumi agar segera masuk ke dalam. Arumi yang sudah tak sabar ingin memastikan kondisi sang ayah, kini ia pun berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Namun baru saja Arumi sampai lantai atas, terlihat ibu tirinya yang baru keluar kamar menatap tajam penuh ke kebencian padanya. "Arumi! untuk apa kamu ke sini?" tanya Marisa dengan nada meninggi sembari mengikat rambutnya. Membuat Arumi terkejut s
Daniel dan Rania saling menatap, mereka tidak menyangka jika Arumi yang mereka kenal dulu, selalu patuh dan mengalah, kini seolah telah berubah. "Owh, sekarang kamu sudah berani meneriaki aku," Daniel meraih dan menyangkup kasar dagu lancip Arumi, sampai membuat Arumi sesak untuk bernafas. Bi Tini dan pak Harun tercengang, saat melihat Daniel yang begitu berani pada Arumi. Pria paruh baya itu berusaha berteriak tapi apalah daya bibirnya sulit untuk berkata. Sampai membuatnya terjatuh ke bawah lantai. Membuat semua orang di sana sangat panik, terutama Arumi. "Ayah!" Arumi menginjak keras kaki Daniel sampai membuat pria itu terhenyak dan kesakitan. "Ck, sial! kurang ajar kamu Arumi!" Hardik Daniel. Arumi dan bi Tini segera membantu ayahnya untuk berdiri dan bersandar kembali di atas tempat tidur. "Mas Daniel! kamu keterluan, membuatku hampir saja tidak bisa bernafas," Maki Arumi. Rania sangat tidak suka saat Arumi membentak Daniel yang sebentar lagi akan menjadi suamin
Bibir Adrian terasa terkunci saat Arumi melontarkan pertanyaan padanya. Tapi dia tidak ingin jika sampai Dewa melihat keberadaannya saat ini. "Sudah ikut saja, ceritanya panjang nanti saja aku ceritakan," Adrian meraih dan memegang erat tangan Arumi dengan langkah yang tergesa menuju ke arah mobil. Dewangga yang tak sengaja melirik ke arah samping, lelaki tampan yang tengah mabuk itu terkejut saat melihat sosok wanita yang mirip sekali dengan istrinya. Hingga membuat dirinya beranjak dari tempat duduk dan berusaha untuk mengejarnya. "Arumi!" Panggil Dewangga, dengan pandangan buram dan kepala yang terasa pusing dan sakit karena pengaruh alkohol. Tommy dan Rian terkejut, mereka sedikit cemas saat melihat sahabatnya tiba-tiba saja berjalan ke arah pintu keluar sembari memanggil nama mantan istrinya. "Arumi! itu kamu kan? tolong jangan pergi," Teriak Dewangga sembari berjalan dengan langkah yang sempoyongan dan hampir terjatuh. Beruntung Tommy dan Rian segera menghampiri d
"Arumi! aku tahu kamu masih belum bisa melupakan Dewa, tapi lebih baik kamu mencoba untuk membuka hati bagi pria lain yang lebih menghargai mu, termasuk aku. Aku sudah lama menyukai mu jadi maukah kamu menerima cinta ku," Adrian mengungkapkan perasaannya untuk yang kesekian kalinya. Arumi menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkanya pelan. Sebenarnya dia merasa sangat risih setiap kali Adrian mengungkapkan perasaannya. Karena bagi Arumi kepercayaan bagi seorang pria untuk saat ini sangatlah sulit. "Arumi! bagaimana apakah kamu mau menjadi pacar ku. Aku tidak peduli jika kamu hanya memanfaatkan aku demi menghindari Dewa jika kalian bertemu suatu hari nanti," Celetuk Adrian yang berusaha meyakinkan Arumi agar mau menerima cintanya. Arumi terdiam merenung sejenak, saat mendengar Adrian yang terus memohon agar mau menerima ungkapan cintanya. "Kamu setuju kan?" Adrian memastikan lagi, Arumi merasa tidak enak hati padahal sudah beberapa kali dia menjelaskan jika dirinya tidak in
Disebuah kafe, Adrian mengajak Arumi masuk ke sana, setelah singgah ke restoran tempat favoritnya sudah tutup membuat mereka terpaksa memilih kafe yang masih buka di pusat kota. "Arumi, gimana kalau kita makan di sini saja apa tidak apa-apa?" tanya Adrian memastikan lebih dulu. Arumi yang masih mengedarkan pandangan di area luar kafe, dia merasa sedikit tidak enak hati berharap jika dirinya tidak akan bertemu Dengan orang-orang yang telah menjadi bagian dari masa lalunya. Melihat Arumi yang masih berdiri mematung seolah terlihat bimbang, membuat kedua alis Adrian terangkat penuh keheranan. Lalu memberanikan diri bertanya apa yang wanita cantik yang ada di depannya itu terlihat resah Arumi pun menyahut dan menyanggah pertanyaan Adrian. "Aku tidak apa hanya saja tempat ini amankan?" Arumi memastikan lagi. Adrian hanya menarik nafas dalam-dalam, lalu dia berusaha meyakinkan pada Arumi, jika dia tidak perlu sungkan lagi selama masih ada dirinya di samping. "Arumi! selama aku
Setelah menunggu sekitaran dua puluhan menitan, Adrian sangat terkejut saat Arumi mulai membuka pintu dan terlihat sudah siap untuk berangkat. "Mas Adrian! maafkan aku, pasti sudah menunggu lama ya?" Arumi merasa tidak enak hati. Tentu saja Adrian menjawab jika dia tidak keberatan sama sekali. Tak ingin rencananya gagal Adrian tanpa ragu segera mengajak Arumi pergi ke Resto yang sudah dia booking. "Sudah siap kan? sekarang lebih baik kita pergi keburu malam." "Iya, mas. Tapi aku tidak bisa lama-lama karena beberapa contoh desain untuk besok belum selesai," Arumi sengaja mewanti-wanti lebih dulu. Sebagai teman dan bos pun Adrian setuju, dan berjanji jika mereka tidak akan lama berada di luar. Setelah sepakat mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil saat supir pribadi Adrian membukakan pintu untuk sang tuan. "Tuan, nona silahkan," ujar sang supir sembari membungkukkan badan dengan penuh hormat. Adrian dan Arumi duduk di jok belakang. Suasana di antara mereka terlihat sa
Nyonya Retha menatap tajam Dewa, dia tidak pernah menyangka jika putranya begitu lancang melawan dirinya. Padahal selama ini selalu patuh dan selalu memprioritaskan dirinya. "Dewa! jangan membantah ibu, apa yang ibu pilihkan itu yang terbaik untuk mu," Bentaknya. Dewa yang saat ini tengah merasakan kekacauan di dalam hatinya, kini dia memilih untuk pergi keluar tanpa menghiraukan lagi perintah yang sudah membuatnya sangat muak. "Dewa! tunggu, ibu belum selesai berbicara," panggil nyonya Retha dengan nada tinggi dan menatap tajam pada putra sulungnya. Saat perkataan tidak di gubris. Nyonya Rima yang baru keluar dari kamarnya, wanita tua itu di dampingi kedua pelayan lalu menghampiri Margaretha dan menegurnya karena menurutnya sikapnya terlalu berlebihan. "Retha! lebih baik kamu jangan selalu menekan Dewa, bagaimana pun juga dia sudah dewasa dan tahu kebahagiaan untuk dirinya sendiri," Protes Nyonya Rima menatap kesal putrinya. Margaretha mendelik, dia merasa jika dirinya
Suster Rini mencoba untuk melihat sosok pria yang ada di dalam foto yang di pegang oleh Excel, terlihat sangat tampan dan gagah. "Pria ini kenapa terasa tidak asing ya?" gumam Suster Rini sembari memutar kedua bola matanya. Excel menatap suster Rini, lalu jagoan kecil itu bertanya karena penasaran. "Suster!" panggil Excel dengan nada gemasnya. Seketika suster Rini terbuyar dari lamunannya, lalu duduk dan jongkok. "Iya ada apa Excel?" sahut suster Rini sembari mengelus kepala jagoan kecil itu. "Suster kenal tidak sama om tampan ini? ko bisa ada di lemari mommy ya?" tanya Excel penasaran. Suster Rini tersenyum lalu dia menjawab, jika tidak mengenal pria itu akan tetapi wanita itu sedikit mulai menatap jelas foto sang pria dengan wajah Excel yang memiliki kemiripan. "Suster gak tahu anak manis, tapi nanti akan coba suster cari tahu ya, sekarang makan dulu biar cepat besar dan nanti bisa cari dady gimana?" bujuk suster Rini sembari menyodorkan makanan di atas sendok. Excel
"Cukup Laura! berhenti berteriak di depan ku!" Dewa menghardik Laura, di saat kekasih di masa kecilnya itu terus menuntut untuk menikah membuatnya semakin emosi sampai memegang kepala yang masih terasa sakit dan pusing karena pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Laura tergugu, baru kali ini dia melihat ekspresi Dewa yang sangat marah. Padahal selama mereka pacaran dulu tidak pernah membentak membuat wanita berprofesi sebagai model itu semakin tidak tenang. "Tidak bisa! jangan menyuruh aku untuk diam, kesabaran aku sudah habis mas. Aku kembali hanya untuk kami demi meneruskan impian masa depan kita," Ungkap Laura dengan keinginannya. Semakin di desak Dewa semakin emosi, apa lagi dia yang tidak suka di atur oleh seorang wanita membuatnya terpaksa mengucapkan peringatan untuk uang kedua kalinya di saat mereka berdua beradu argument. "Berhenti! atau aku tidak akan mengijinkan mu menemui ku di mana pun berada," Ancam Dewa terlihat serius. Seketika Laura terdiam dan
Arumi tercengang, saat melihat dan mendengar pertanyaan cinta Adrian yang membuatnya tak habis pikir dan sulit untuk di percaya, karena selama ini sosok lelaki yang ada di depannya itu telah ia anggap sebagai Kaka senior tidak lebih dari itu. "Arumi! apa kamu mendengar ku?" Adrian memegang erat tangan Arumi, sembari menatap dalam tanpa berkedip sedikit pun. Keduanya saling menatap satu sama lain, terutama Adrian, seolah tak ingin melepaskan pandanganya walaupun sebentar saja. Berbeda hal dengan Arumi. Wanita cantik itu berusaha memalingkan wajah ke samping. Rasanya begitu berat untuk menjawab tapi ia memberanikan diri walaupun tidak tahu jawabannya akan di terima atau tidak oleh Adrian. Setelah menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan, Arumi memberikan sebuah jawaban. "Mas Adrian! kamu adalah pria baik, rasanya sangat cocok jika mencari seorang gadis di luar sana yang masih single, tidak seperti aku." Lirih Arumi yang merasa sangat insecure. Namun yang jelas dalam
Adrian tidak yakin saat mendengar perkataan Arumi, yang sudah tidak peduli lagi pada Dewa. Karena terdengar dari nada suaranya yang penuh dengan keterpaksaan. "Benarkah seperti itu? apa kamu tidak marah melihat berita skandal tentang mereka?" Adrian memastikan kembali. Arumi rasanya sangat sesak setiap kali ada orang yang membahas tentang Dewa, yang sudah pelan dia lupakan meskipun ada luka hati yang sangat sulit untuk dia sembuhkan. "Cukup tuan, tolong jangan bahas tentang mereka lagi," Pinta Arumi dengan nada sedikit tinggi. Untuk yang pertama kalinya, Adrian sangat terkejut saat melihat Arumi sampai marah dan terlihat sangat serius. "Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan membahas tentang dia lagi," Sesal Adrian. Arumi tidak banyak bicara lagi, satu panggilan dari baby sisternya membuat dia begitu antusias, karena pasti jagoan kecilnya yang ingin menelpon. Setelah menjaga jarak di saat mengangkat telepon dari Excel, Arumi terlihat sangat senang mengingat beberapa jam y