Sesampainya di rumah sang ayah, Arumi di sambut hangat oleh asisten rumahnya dengan sangat antusias. "Nona muda akhirnya nona ke sini juga," ujar Bi Tini terlihat senang saat membuka pintu. Arumi memancarkan senyum tipis, lalu dia bertanya tentang kondisi sang ayah, seraya mengedarkan pandanganya di semua ruangan. Tanpa membuang waktu lagi wanita paruh baya itu pun segera membukakan pintu lalu mempersilahkan putri dari majikannya untuk masuk. "Nona Arumi, ayo masuk. Ini rumah Nona sendiri jangan sungkan dan tuan sudah menunggu anda di dalam," ajak bi Tini yang memegang erat tangan Arumi agar segera masuk ke dalam. Arumi yang sudah tak sabar ingin memastikan kondisi sang ayah, kini ia pun berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Namun baru saja Arumi sampai lantai atas, terlihat ibu tirinya yang baru keluar kamar menatap tajam penuh ke kebencian padanya. "Arumi! untuk apa kamu ke sini?" tanya Marisa dengan nada meninggi sembari mengikat rambutnya. Membuat Arumi terkejut s
Daniel dan Rania saling menatap, mereka tidak menyangka jika Arumi yang mereka kenal dulu, selalu patuh dan mengalah, kini seolah telah berubah. "Owh, sekarang kamu sudah berani meneriaki aku," Daniel meraih dan menyangkup kasar dagu lancip Arumi, sampai membuat Arumi sesak untuk bernafas. Bi Tini dan pak Harun tercengang, saat melihat Daniel yang begitu berani pada Arumi. Pria paruh baya itu berusaha berteriak tapi apalah daya bibirnya sulit untuk berkata. Sampai membuatnya terjatuh ke bawah lantai. Membuat semua orang di sana sangat panik, terutama Arumi. "Ayah!" Arumi menginjak keras kaki Daniel sampai membuat pria itu terhenyak dan kesakitan. "Ck, sial! kurang ajar kamu Arumi!" Hardik Daniel. Arumi dan bi Tini segera membantu ayahnya untuk berdiri dan bersandar kembali di atas tempat tidur. "Mas Daniel! kamu keterluan, membuatku hampir saja tidak bisa bernafas," Maki Arumi. Rania sangat tidak suka saat Arumi membentak Daniel yang sebentar lagi akan menjadi suamin
"Mas Kamu ngusir aku? aku ini wanita yang sudah memberi segalanya, apa kamu lupa hanya karena gadis cupu itu kamu rela membentak ku!" proses Laura tak terima. Dewa menghela nafas kasar, dia rasanya kehabisan energi untuk menjelaskan tentang keadaan dan situasi saat ini. "Bukan begitu, skandal aku dan Arumi sudah tersebar Jika aku tidak menikahinya, maka status dan image ku sebagai pimpinan akan jelek di mata semua orang, apa lagi oma dia pasti akan marah jika aku tidak bertanggung jawab," Dewa memberikan penjelasan berharap Laura mengerutu keadaannya. Tak ingin Dewa lebih jauh darinya, Laura pun berusaha untuk bersikap manis dan membujuknya agar memprioritaskan dirinya. "Baiklah mas, aku akan memberikan mu waktu setelah Bayi itu lahir kamu harus segera ceraikan dia, besok ada ada pesta perjamuan dan aku akan hadir, tapi aku belum mempunyai gaun yang cocok, bagaimana kalau mas antar aku ya?" Pinta Laura menatap nanar dengan penuh harap. Mengingat Laura pernah menjadi penyelamat
Dewa beranjak dari tempat duduknya, Laura yang baru saja keluar dari ruangan ganti kini dia pun menghampiri dan melontarkan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan pendapat pria idamannya. "Mas Dewa, lihatlah menurut mu bagaimana dengan gaun ini? cocok tudak dengan ku?" Tanya Laura seraya memutar tubuhnya dengan balutan gaun yang sangat seksi. Pikiran Dewa kalang kabut, dia pun perlahan melepaskan tangan Laura yang memegang erat lengannya. "Laura! aku harus pergi sekarang, Rudi nanti akan mengantar mu pulang," Kata Dewa yang bergegas pergi dari sana dengan langkah tergesa-gesa. "Mas Dewa! jangan pergi!" Laura marah dan tak terima, tapi Dewa yang seolah menuli dan terus melanjutkan langkahnya dengan perasaan yang sangat kecewa pada Arumi, karena menurutnya sangat ceroboh dalam menjaga dirinya. Laura melemparkan beberapa benda yang ada di sekitarnya. Ketika melihat Dewa untuk pertama kalinya malah pergi tanpa mengatakan alasan yang jelas untuknya. "Sial! ini pasti karena ja-l
Beberapa jam kemudian, ketika Arumi sedang menunggu di depan ruangan UGD, dia terlihat tengah duduk menunggu dengan perasaan cemas dan khawatiir yang saat ini tengah menyelimuti dirinya. Bi Tini yang ikut menunggu Arumi, dia berusaha menenangkan putri dari majikannya itu. "Nona muda, tenanglah. Tuan pasti akan baik-baik saja jangan sampai nona banyak pikiran apa lagi saat hamil seperti ini," imbuh bi Tini sembari memegang erat tangan Arumi. "Iya bi, tapi aku tak tahan dengan perlakukan ibu dan juga Rania yang begitu tega pada ayah. Padahal ayah sangat menyayangi mereka," Arumi kecewa bahkan sekarang dia sangat bingung dengan semua uang ayahnya sudah di pegang oleh Ibu dan adik tirinya membuat Arumi terlihat kebingungan. Namun meskipun Arumi ragu, mengingat Oma Rima yang sangat baik padanya. Membuat ia mencoba untuk meminta bantuan. Tapi baru saja Arumi akan menelpon Dewa yang baru saja tiba di rumah sakit membuat dia sangat kaget "Tuan Dewa!" pekik Arumi dengan kedua bola mata
Setelah mendapatkan laporan dari para pengawalnya, nyonya Rima bernafas lega karena akhirnya cucunya berhasil membawa Arumi untuk pulang kembali ke kediaman Wijaya. Bagi wanita tua itu Arumi tidak cocok jika harus tinggal bersama ibu dan kakak tirinya, yang sewaktu-waktu bisa membahayakan calon pewaris yang sudah dia tunggu dan dia idamkan. "Bagus Dewa, oma bangga pada mu karena kamu paham dengan maksud Oma," gumamnya dengan penuh semangat. Nyonya Rima bahkan menyuruh para pelayan dan kokinya untuk segera menyiapkan beberapa menu makanan kesukaan Dewa dan juga Arumi, dengan sangat jeli dan teliti apa lagi cucu mantunya harus mendapatkan asupan gizi demi cicit yang sudah tidak sabar lagi dia tunggu kelahirannya. Baru saja nyonya Rima akan bergegas menyambut kepulangan Dewa dan Arumi, tiba-tiba saja dia menerima satu pesan Margaretha, wanita yang tak lain adalah ibu kandung Dewangga dan putri kandungnya sendiri. "Retha!" Nyonya Rima terkejut, dia tidak tahu harus sedih atau sen
"Sepertinya tuan Adrian sangat mengenal Arumi ya? sampai segitu ingat masa lalu kalian," sindir Laura menyeringai dia menjeda minumnya sejenak. Adrian yang sudah mulai sedikit mulai mabuk pun hanya menggelengkan kepala, dan mulai terpancing dengan sikap manis Laura."Itu hanya kebetulan ingat saja tidak di sangka, sekarang dia sudah menikah dengan rekan bisnis ku sendiri," balas Adrian tersenyum getir. Melihat sikap Adrian yang begitu bersemangat saat membahas tentang Arumi, membuat Laura semakin memiliki peluang untuk mengajak bekerja sama dengan lelaki yang ada di depannya itu. Tanpa ragu lagi, Laura mengatakan pada Adrian jika dia tidak perlu kecewa, bahkan Laura sengaja mengatakan jika pernikahan kekasihnya dan Arumi hanya karena terpaksa saja. Seketika Adrian tersedak, saat mendengar kabar yang cukup mengejutkan untuknya. "Nona Laura! Apa maksud anda? Kenapa bicara seperti itu? Apa anda tidak bisa menerima Dewa sudah menikah dengan Arumi?" Adrian tidak mengerti dengan maksud
Arumi terlihat sangat kesal, ketika dia tengah berendam air hangat di dalam bathub yang di bantu oleh beberapa pelayan. Ia tidak habis pikir dengan sikap Dewa yang terkadang sulit untuk di pahami. "Dasar pria tidak punya hati, bisa-bisanya dia memaksa ku pulang sementara ayah masih di rumah sakit," Umpat Arumi dalam hati. Ketika Arumi tengah larut dalam pemikirannya, tiba-tiba saja kepala pelayan memberitahukan jika tuannya akan segera masuk ke dalam, sontak Arumi mendengar Dewa yang akan datang membuat ia terkejut, sampai Ia bertanya-tanya ada apa lagi pria itu kembali datang menemuinya. Para pelayan pun segera berdiri dan menyambut tuannya dengan penuh hormat. Dengan raut wajah datar dan muram kini Dewangga pun meminta semua pelayan wanita yang ada di sana segera pergi meninggalkan mereka berdua. Suasana kamar mandi yang hening itu hanya di hiasi suara sahutan para pelayan mereka dengan sigap segera undur diri sesuai perintah. Perasaan Arumi saat ini tak karuan, dengan cep
Bibir Adrian terasa terkunci saat Arumi melontarkan pertanyaan padanya. Tapi dia tidak ingin jika sampai Dewa melihat keberadaannya saat ini. "Sudah ikut saja, ceritanya panjang nanti saja aku ceritakan," Adrian meraih dan memegang erat tangan Arumi dengan langkah yang tergesa menuju ke arah mobil. Dewangga yang tak sengaja melirik ke arah samping, lelaki tampan yang tengah mabuk itu terkejut saat melihat sosok wanita yang mirip sekali dengan istrinya. Hingga membuat dirinya beranjak dari tempat duduk dan berusaha untuk mengejarnya. "Arumi!" Panggil Dewangga, dengan pandangan buram dan kepala yang terasa pusing dan sakit karena pengaruh alkohol. Tommy dan Rian terkejut, mereka sedikit cemas saat melihat sahabatnya tiba-tiba saja berjalan ke arah pintu keluar sembari memanggil nama mantan istrinya. "Arumi! itu kamu kan? tolong jangan pergi," Teriak Dewangga sembari berjalan dengan langkah yang sempoyongan dan hampir terjatuh. Beruntung Tommy dan Rian segera menghampiri d
"Arumi! aku tahu kamu masih belum bisa melupakan Dewa, tapi lebih baik kamu mencoba untuk membuka hati bagi pria lain yang lebih menghargai mu, termasuk aku. Aku sudah lama menyukai mu jadi maukah kamu menerima cinta ku," Adrian mengungkapkan perasaannya untuk yang kesekian kalinya. Arumi menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkanya pelan. Sebenarnya dia merasa sangat risih setiap kali Adrian mengungkapkan perasaannya. Karena bagi Arumi kepercayaan bagi seorang pria untuk saat ini sangatlah sulit. "Arumi! bagaimana apakah kamu mau menjadi pacar ku. Aku tidak peduli jika kamu hanya memanfaatkan aku demi menghindari Dewa jika kalian bertemu suatu hari nanti," Celetuk Adrian yang berusaha meyakinkan Arumi agar mau menerima cintanya. Arumi terdiam merenung sejenak, saat mendengar Adrian yang terus memohon agar mau menerima ungkapan cintanya. "Kamu setuju kan?" Adrian memastikan lagi, Arumi merasa tidak enak hati padahal sudah beberapa kali dia menjelaskan jika dirinya tidak in
Disebuah kafe, Adrian mengajak Arumi masuk ke sana, setelah singgah ke restoran tempat favoritnya sudah tutup membuat mereka terpaksa memilih kafe yang masih buka di pusat kota. "Arumi, gimana kalau kita makan di sini saja apa tidak apa-apa?" tanya Adrian memastikan lebih dulu. Arumi yang masih mengedarkan pandangan di area luar kafe, dia merasa sedikit tidak enak hati berharap jika dirinya tidak akan bertemu Dengan orang-orang yang telah menjadi bagian dari masa lalunya. Melihat Arumi yang masih berdiri mematung seolah terlihat bimbang, membuat kedua alis Adrian terangkat penuh keheranan. Lalu memberanikan diri bertanya apa yang wanita cantik yang ada di depannya itu terlihat resah Arumi pun menyahut dan menyanggah pertanyaan Adrian. "Aku tidak apa hanya saja tempat ini amankan?" Arumi memastikan lagi. Adrian hanya menarik nafas dalam-dalam, lalu dia berusaha meyakinkan pada Arumi, jika dia tidak perlu sungkan lagi selama masih ada dirinya di samping. "Arumi! selama aku
Setelah menunggu sekitaran dua puluhan menitan, Adrian sangat terkejut saat Arumi mulai membuka pintu dan terlihat sudah siap untuk berangkat. "Mas Adrian! maafkan aku, pasti sudah menunggu lama ya?" Arumi merasa tidak enak hati. Tentu saja Adrian menjawab jika dia tidak keberatan sama sekali. Tak ingin rencananya gagal Adrian tanpa ragu segera mengajak Arumi pergi ke Resto yang sudah dia booking. "Sudah siap kan? sekarang lebih baik kita pergi keburu malam." "Iya, mas. Tapi aku tidak bisa lama-lama karena beberapa contoh desain untuk besok belum selesai," Arumi sengaja mewanti-wanti lebih dulu. Sebagai teman dan bos pun Adrian setuju, dan berjanji jika mereka tidak akan lama berada di luar. Setelah sepakat mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil saat supir pribadi Adrian membukakan pintu untuk sang tuan. "Tuan, nona silahkan," ujar sang supir sembari membungkukkan badan dengan penuh hormat. Adrian dan Arumi duduk di jok belakang. Suasana di antara mereka terlihat sa
Nyonya Retha menatap tajam Dewa, dia tidak pernah menyangka jika putranya begitu lancang melawan dirinya. Padahal selama ini selalu patuh dan selalu memprioritaskan dirinya. "Dewa! jangan membantah ibu, apa yang ibu pilihkan itu yang terbaik untuk mu," Bentaknya. Dewa yang saat ini tengah merasakan kekacauan di dalam hatinya, kini dia memilih untuk pergi keluar tanpa menghiraukan lagi perintah yang sudah membuatnya sangat muak. "Dewa! tunggu, ibu belum selesai berbicara," panggil nyonya Retha dengan nada tinggi dan menatap tajam pada putra sulungnya. Saat perkataan tidak di gubris. Nyonya Rima yang baru keluar dari kamarnya, wanita tua itu di dampingi kedua pelayan lalu menghampiri Margaretha dan menegurnya karena menurutnya sikapnya terlalu berlebihan. "Retha! lebih baik kamu jangan selalu menekan Dewa, bagaimana pun juga dia sudah dewasa dan tahu kebahagiaan untuk dirinya sendiri," Protes Nyonya Rima menatap kesal putrinya. Margaretha mendelik, dia merasa jika dirinya
Suster Rini mencoba untuk melihat sosok pria yang ada di dalam foto yang di pegang oleh Excel, terlihat sangat tampan dan gagah. "Pria ini kenapa terasa tidak asing ya?" gumam Suster Rini sembari memutar kedua bola matanya. Excel menatap suster Rini, lalu jagoan kecil itu bertanya karena penasaran. "Suster!" panggil Excel dengan nada gemasnya. Seketika suster Rini terbuyar dari lamunannya, lalu duduk dan jongkok. "Iya ada apa Excel?" sahut suster Rini sembari mengelus kepala jagoan kecil itu. "Suster kenal tidak sama om tampan ini? ko bisa ada di lemari mommy ya?" tanya Excel penasaran. Suster Rini tersenyum lalu dia menjawab, jika tidak mengenal pria itu akan tetapi wanita itu sedikit mulai menatap jelas foto sang pria dengan wajah Excel yang memiliki kemiripan. "Suster gak tahu anak manis, tapi nanti akan coba suster cari tahu ya, sekarang makan dulu biar cepat besar dan nanti bisa cari dady gimana?" bujuk suster Rini sembari menyodorkan makanan di atas sendok. Excel
"Cukup Laura! berhenti berteriak di depan ku!" Dewa menghardik Laura, di saat kekasih di masa kecilnya itu terus menuntut untuk menikah membuatnya semakin emosi sampai memegang kepala yang masih terasa sakit dan pusing karena pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Laura tergugu, baru kali ini dia melihat ekspresi Dewa yang sangat marah. Padahal selama mereka pacaran dulu tidak pernah membentak membuat wanita berprofesi sebagai model itu semakin tidak tenang. "Tidak bisa! jangan menyuruh aku untuk diam, kesabaran aku sudah habis mas. Aku kembali hanya untuk kami demi meneruskan impian masa depan kita," Ungkap Laura dengan keinginannya. Semakin di desak Dewa semakin emosi, apa lagi dia yang tidak suka di atur oleh seorang wanita membuatnya terpaksa mengucapkan peringatan untuk uang kedua kalinya di saat mereka berdua beradu argument. "Berhenti! atau aku tidak akan mengijinkan mu menemui ku di mana pun berada," Ancam Dewa terlihat serius. Seketika Laura terdiam dan
Arumi tercengang, saat melihat dan mendengar pertanyaan cinta Adrian yang membuatnya tak habis pikir dan sulit untuk di percaya, karena selama ini sosok lelaki yang ada di depannya itu telah ia anggap sebagai Kaka senior tidak lebih dari itu. "Arumi! apa kamu mendengar ku?" Adrian memegang erat tangan Arumi, sembari menatap dalam tanpa berkedip sedikit pun. Keduanya saling menatap satu sama lain, terutama Adrian, seolah tak ingin melepaskan pandanganya walaupun sebentar saja. Berbeda hal dengan Arumi. Wanita cantik itu berusaha memalingkan wajah ke samping. Rasanya begitu berat untuk menjawab tapi ia memberanikan diri walaupun tidak tahu jawabannya akan di terima atau tidak oleh Adrian. Setelah menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan, Arumi memberikan sebuah jawaban. "Mas Adrian! kamu adalah pria baik, rasanya sangat cocok jika mencari seorang gadis di luar sana yang masih single, tidak seperti aku." Lirih Arumi yang merasa sangat insecure. Namun yang jelas dalam
Adrian tidak yakin saat mendengar perkataan Arumi, yang sudah tidak peduli lagi pada Dewa. Karena terdengar dari nada suaranya yang penuh dengan keterpaksaan. "Benarkah seperti itu? apa kamu tidak marah melihat berita skandal tentang mereka?" Adrian memastikan kembali. Arumi rasanya sangat sesak setiap kali ada orang yang membahas tentang Dewa, yang sudah pelan dia lupakan meskipun ada luka hati yang sangat sulit untuk dia sembuhkan. "Cukup tuan, tolong jangan bahas tentang mereka lagi," Pinta Arumi dengan nada sedikit tinggi. Untuk yang pertama kalinya, Adrian sangat terkejut saat melihat Arumi sampai marah dan terlihat sangat serius. "Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan membahas tentang dia lagi," Sesal Adrian. Arumi tidak banyak bicara lagi, satu panggilan dari baby sisternya membuat dia begitu antusias, karena pasti jagoan kecilnya yang ingin menelpon. Setelah menjaga jarak di saat mengangkat telepon dari Excel, Arumi terlihat sangat senang mengingat beberapa jam y