Setelah mendapatkan laporan dari para pengawalnya, nyonya Rima bernafas lega karena akhirnya cucunya berhasil membawa Arumi untuk pulang kembali ke kediaman Wijaya. Bagi wanita tua itu Arumi tidak cocok jika harus tinggal bersama ibu dan kakak tirinya, yang sewaktu-waktu bisa membahayakan calon pewaris yang sudah dia tunggu dan dia idamkan. "Bagus Dewa, oma bangga pada mu karena kamu paham dengan maksud Oma," gumamnya dengan penuh semangat. Nyonya Rima bahkan menyuruh para pelayan dan kokinya untuk segera menyiapkan beberapa menu makanan kesukaan Dewa dan juga Arumi, dengan sangat jeli dan teliti apa lagi cucu mantunya harus mendapatkan asupan gizi demi cicit yang sudah tidak sabar lagi dia tunggu kelahirannya. Baru saja nyonya Rima akan bergegas menyambut kepulangan Dewa dan Arumi, tiba-tiba saja dia menerima satu pesan Margaretha, wanita yang tak lain adalah ibu kandung Dewangga dan putri kandungnya sendiri. "Retha!" Nyonya Rima terkejut, dia tidak tahu harus sedih atau sen
"Sepertinya tuan Adrian sangat mengenal Arumi ya? sampai segitu ingat masa lalu kalian," sindir Laura menyeringai dia menjeda minumnya sejenak. Adrian yang sudah mulai sedikit mulai mabuk pun hanya menggelengkan kepala, dan mulai terpancing dengan sikap manis Laura."Itu hanya kebetulan ingat saja tidak di sangka, sekarang dia sudah menikah dengan rekan bisnis ku sendiri," balas Adrian tersenyum getir. Melihat sikap Adrian yang begitu bersemangat saat membahas tentang Arumi, membuat Laura semakin memiliki peluang untuk mengajak bekerja sama dengan lelaki yang ada di depannya itu. Tanpa ragu lagi, Laura mengatakan pada Adrian jika dia tidak perlu kecewa, bahkan Laura sengaja mengatakan jika pernikahan kekasihnya dan Arumi hanya karena terpaksa saja. Seketika Adrian tersedak, saat mendengar kabar yang cukup mengejutkan untuknya. "Nona Laura! Apa maksud anda? Kenapa bicara seperti itu? Apa anda tidak bisa menerima Dewa sudah menikah dengan Arumi?" Adrian tidak mengerti dengan maksud
Arumi terlihat sangat kesal, ketika dia tengah berendam air hangat di dalam bathub yang di bantu oleh beberapa pelayan. Ia tidak habis pikir dengan sikap Dewa yang terkadang sulit untuk di pahami. "Dasar pria tidak punya hati, bisa-bisanya dia memaksa ku pulang sementara ayah masih di rumah sakit," Umpat Arumi dalam hati. Ketika Arumi tengah larut dalam pemikirannya, tiba-tiba saja kepala pelayan memberitahukan jika tuannya akan segera masuk ke dalam, sontak Arumi mendengar Dewa yang akan datang membuat ia terkejut, sampai Ia bertanya-tanya ada apa lagi pria itu kembali datang menemuinya. Para pelayan pun segera berdiri dan menyambut tuannya dengan penuh hormat. Dengan raut wajah datar dan muram kini Dewangga pun meminta semua pelayan wanita yang ada di sana segera pergi meninggalkan mereka berdua. Suasana kamar mandi yang hening itu hanya di hiasi suara sahutan para pelayan mereka dengan sigap segera undur diri sesuai perintah. Perasaan Arumi saat ini tak karuan, dengan cep
Disebuah Bar. Cahaya lampu kerlap-kerlip dan music disco menusuk telinga, membuat Laura masih setia menunggu Dewa yang masih dalam perjalanan menuju ke tempat mereka janjian. "Mas Dewa tumben sekali belum datang juga, padahal biasanya dia datang lebih awal," Laura kembali meneguk anggur merah yang sudah dia habiskan beberapa gelas. Baru saja wanita berpakaian sexy itu pun kembali berdiri untuk menari kembali bersama teman-temannya. Namun langkahnya seketika terhenti saat melihat Dewa yang sudah datang. "Mas Dewa, akhirnya kamu datang juga," Laura berlari kecil lalu memeluk Dewa dengan sangat erat. Dewa menghela nafas kasar, lalu perlahan ia melepaskan kedua tangan Laura, lalu memastikan apa yang ingin dia ketahui. "Jawab aku dengan jujur, apakah kamu yang mengirimkan semua foto Arumi dan Adrian?" Tekan Dewa menatap tajam kekasih lamanya itu. Laura memutar kedua bola mata malasnya, saat mendengarkan Dewa yang selalu saja membuat Arumi di depannya. "Iya mas, aku yang men
Beberapa jam kemudian, Oma Rima bernafas lega karena akhirnya Dokter mengatakan jika kondisi kandungan Arumi baik-baik saja. Begitu juga dengan Arumi rasanya ia sangat bersyukur karena dari tadi rasa takut dan cemas terus menyelimuti dirinya mengingat Dewa yang terus memaksanya. "Kondisi kandungan nona Arumi baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di cemaskan, hanya perlu menambah vitamin dan di jaga pola makanya yang terpenting jangan banyak pikiran karena itu bisa mempengaruhi kesehatan ibu dan calon baby-nya," imbuh sang Dokter lalu memberikan beberapa resep Vitamin. Nyonya Rima menyuruh pengawal pribadinya untuk segera ke apotik mengambil beberapa vitamin untuk Arumi, wanita tua itu tak lupa juga untuk mengingatkan Arumi untuk menerapkan semua saran Dokter. Malam semakin larut, nyonya Rima menyuruh cucu menantu kesayangannya itu untuk kembali beristirahat, Arumi mengangguk patuh ia membaringkan diri di atas ranjang setelah oma Rima dan Dokter Desy pergi. Pikiran Arumi
Keesokan harinya, pagi hari yang cerah. Arumi bersiap ke kantor seperti biasanya dengan penampilan yang modis dengan dress yang terlihat sangat anggun mengingat usia kandungannya menuju ke empat bulan. Dewa yang baru saja keluar kamar mandi dia terkejut, saat melihat Arumi yang masih saja nekad pergi kerja membuatnya tak habis pikir. "Arumi! kamu mau ke mana pagi-pagi sudah rapih?" cecar Dewa menatap penuh selidik. Arumi sejenak menghentikan aktifitasnya menyisir rambut panjangnya lalu menjawab. "Tentu saja pergi bekerja tuan, kenapa anda malah bertanya?" jawab Arumi berbalik tanya. Tak ingin melihat Adrian yang terus mencoba mendekati Arumi, Dewa menegur Arumi agar berhenti dari pekerjaannya. Sontak hal itu membuat wanita cantik itu kaget karena secara tiba-tiba. "Berhenti! maksud tuan Dewa apa? aku tidak bisa berhenti bekerja sekarang selain Jenuh harus di rumah terus aku juga masih membutuhkan uang untuk biaya perawatan Ayah," Tegas Arumi dengan bibir yang mengerucut.
"Iya benar Oma apa yang di katakan oleh mas Dewa, kami tadi hanya sedang berdiskusi saja," sanggah Arumi yang berusaha mengikuti perintah suami kontraknya itu. Nyonya Rima menghela nafas kasar sembari menggelengkan kepala. Tak ingin memperdebatkan pemikiran negatif yang melintas di kepalanya. Wanita berusia enam puluh tahunan lebih itu pun kini segera mengajak cucu dan cucu mantu kesayangan agar segera sarapan bersama. Dia terlihat sangat bersemangat setelah menyiapkan beberapa menu untuk wanita hami. Arumi tidak tega saat melihat oma Rima yang begitu mengharapkan kehadiran cicitnya, dia berusaha bersikap seolah tidak ada apa-apa terhadap Dewa, padahal jauh dari lubuk hatinya dia merasa tidak nyaman. Tanpa membuang waktu lagi, Dewa mengenggam tangan Arumi dan mengajaknya ke meja makan bersama. Jantung Arumi berdegup sangat kencang saat merasakan tangan besar lelaki yang bergelar suaminya itu yang terasa sangat hangat. Sekilas Arumi sempat terpikat oleh ketampanan Dewa, akan
Beberapa jam kemudian, Laura telah sampai lebih dulu di tempat parkiran perusahan Dewa. Dia sengaja menunggu untuk memastikan kedatangan Arumi, yang sudah membuatnya sangat kesal. "Kemana dia kenapa belum kelihatan batang hidungnya juga," Laura sudah tak sabar, baru saja dia ingin mencoba mengirim chat pada Dewa untuk mengetahui keberadaan mereka. Tiba-tiba saja terlihat sebuah mobil Bentley mewah yang berwarna hitam terparkir tepat di depannya, membuat Laura pun mengurungkan niatnya untuk mengirim pesan, lalu memastikan lebih dulu apakah itu mobil pria yang sangat dia cintai. Dan benar saja, terlihat sang asisten yang baru turun dari mobil lalu segera membukakan pintu mobil untuk Arumi. "Nona muda silahkan," Ujar Rudi sembari membungkukkan badannya sebagai rasa hormatnya. Arumi pun segera menginjakkan kaki lalu segera keluar, dia tak lupa mengucapkan terima kasih pada Rudi, tapi Rudi pun mengingatkan pada istri bosnya agar tidak sungkan padanya. Dewa yang masih duduk d
"Arumi! aku tahu kamu masih belum bisa melupakan Dewa, tapi lebih baik kamu mencoba untuk membuka hati bagi pria lain yang lebih menghargai mu, termasuk aku. Aku sudah lama menyukai mu jadi maukah kamu menerima cinta ku," Adrian mengungkapkan perasaannya untuk yang kesekian kalinya. Arumi menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkanya pelan. Sebenarnya dia merasa sangat risih setiap kali Adrian mengungkapkan perasaannya. Karena bagi Arumi kepercayaan bagi seorang pria untuk saat ini sangatlah sulit. "Arumi! bagaimana apakah kamu mau menjadi pacar ku. Aku tidak peduli jika kamu hanya memanfaatkan aku demi menghindari Dewa jika kalian bertemu suatu hari nanti," Celetuk Adrian yang berusaha meyakinkan Arumi agar mau menerima cintanya. Arumi terdiam merenung sejenak, saat mendengar Adrian yang terus memohon agar mau menerima ungkapan cintanya. "Kamu setuju kan?" Adrian memastikan lagi, Arumi merasa tidak enak hati padahal sudah beberapa kali dia menjelaskan jika dirinya tidak in
Disebuah kafe, Adrian mengajak Arumi masuk ke sana, setelah singgah ke restoran tempat favoritnya sudah tutup membuat mereka terpaksa memilih kafe yang masih buka di pusat kota. "Arumi, gimana kalau kita makan di sini saja apa tidak apa-apa?" tanya Adrian memastikan lebih dulu. Arumi yang masih mengedarkan pandangan di area luar kafe, dia merasa sedikit tidak enak hati berharap jika dirinya tidak akan bertemu Dengan orang-orang yang telah menjadi bagian dari masa lalunya. Melihat Arumi yang masih berdiri mematung seolah terlihat bimbang, membuat kedua alis Adrian terangkat penuh keheranan. Lalu memberanikan diri bertanya apa yang wanita cantik yang ada di depannya itu terlihat resah Arumi pun menyahut dan menyanggah pertanyaan Adrian. "Aku tidak apa hanya saja tempat ini amankan?" Arumi memastikan lagi. Adrian hanya menarik nafas dalam-dalam, lalu dia berusaha meyakinkan pada Arumi, jika dia tidak perlu sungkan lagi selama masih ada dirinya di samping. "Arumi! selama aku
Setelah menunggu sekitaran dua puluhan menitan, Adrian sangat terkejut saat Arumi mulai membuka pintu dan terlihat sudah siap untuk berangkat. "Mas Adrian! maafkan aku, pasti sudah menunggu lama ya?" Arumi merasa tidak enak hati. Tentu saja Adrian menjawab jika dia tidak keberatan sama sekali. Tak ingin rencananya gagal Adrian tanpa ragu segera mengajak Arumi pergi ke Resto yang sudah dia booking. "Sudah siap kan? sekarang lebih baik kita pergi keburu malam." "Iya, mas. Tapi aku tidak bisa lama-lama karena beberapa contoh desain untuk besok belum selesai," Arumi sengaja mewanti-wanti lebih dulu. Sebagai teman dan bos pun Adrian setuju, dan berjanji jika mereka tidak akan lama berada di luar. Setelah sepakat mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil saat supir pribadi Adrian membukakan pintu untuk sang tuan. "Tuan, nona silahkan," ujar sang supir sembari membungkukkan badan dengan penuh hormat. Adrian dan Arumi duduk di jok belakang. Suasana di antara mereka terlihat sa
Nyonya Retha menatap tajam Dewa, dia tidak pernah menyangka jika putranya begitu lancang melawan dirinya. Padahal selama ini selalu patuh dan selalu memprioritaskan dirinya. "Dewa! jangan membantah ibu, apa yang ibu pilihkan itu yang terbaik untuk mu," Bentaknya. Dewa yang saat ini tengah merasakan kekacauan di dalam hatinya, kini dia memilih untuk pergi keluar tanpa menghiraukan lagi perintah yang sudah membuatnya sangat muak. "Dewa! tunggu, ibu belum selesai berbicara," panggil nyonya Retha dengan nada tinggi dan menatap tajam pada putra sulungnya. Saat perkataan tidak di gubris. Nyonya Rima yang baru keluar dari kamarnya, wanita tua itu di dampingi kedua pelayan lalu menghampiri Margaretha dan menegurnya karena menurutnya sikapnya terlalu berlebihan. "Retha! lebih baik kamu jangan selalu menekan Dewa, bagaimana pun juga dia sudah dewasa dan tahu kebahagiaan untuk dirinya sendiri," Protes Nyonya Rima menatap kesal putrinya. Margaretha mendelik, dia merasa jika dirinya
Suster Rini mencoba untuk melihat sosok pria yang ada di dalam foto yang di pegang oleh Excel, terlihat sangat tampan dan gagah. "Pria ini kenapa terasa tidak asing ya?" gumam Suster Rini sembari memutar kedua bola matanya. Excel menatap suster Rini, lalu jagoan kecil itu bertanya karena penasaran. "Suster!" panggil Excel dengan nada gemasnya. Seketika suster Rini terbuyar dari lamunannya, lalu duduk dan jongkok. "Iya ada apa Excel?" sahut suster Rini sembari mengelus kepala jagoan kecil itu. "Suster kenal tidak sama om tampan ini? ko bisa ada di lemari mommy ya?" tanya Excel penasaran. Suster Rini tersenyum lalu dia menjawab, jika tidak mengenal pria itu akan tetapi wanita itu sedikit mulai menatap jelas foto sang pria dengan wajah Excel yang memiliki kemiripan. "Suster gak tahu anak manis, tapi nanti akan coba suster cari tahu ya, sekarang makan dulu biar cepat besar dan nanti bisa cari dady gimana?" bujuk suster Rini sembari menyodorkan makanan di atas sendok. Excel
"Cukup Laura! berhenti berteriak di depan ku!" Dewa menghardik Laura, di saat kekasih di masa kecilnya itu terus menuntut untuk menikah membuatnya semakin emosi sampai memegang kepala yang masih terasa sakit dan pusing karena pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Laura tergugu, baru kali ini dia melihat ekspresi Dewa yang sangat marah. Padahal selama mereka pacaran dulu tidak pernah membentak membuat wanita berprofesi sebagai model itu semakin tidak tenang. "Tidak bisa! jangan menyuruh aku untuk diam, kesabaran aku sudah habis mas. Aku kembali hanya untuk kami demi meneruskan impian masa depan kita," Ungkap Laura dengan keinginannya. Semakin di desak Dewa semakin emosi, apa lagi dia yang tidak suka di atur oleh seorang wanita membuatnya terpaksa mengucapkan peringatan untuk uang kedua kalinya di saat mereka berdua beradu argument. "Berhenti! atau aku tidak akan mengijinkan mu menemui ku di mana pun berada," Ancam Dewa terlihat serius. Seketika Laura terdiam dan
Arumi tercengang, saat melihat dan mendengar pertanyaan cinta Adrian yang membuatnya tak habis pikir dan sulit untuk di percaya, karena selama ini sosok lelaki yang ada di depannya itu telah ia anggap sebagai Kaka senior tidak lebih dari itu. "Arumi! apa kamu mendengar ku?" Adrian memegang erat tangan Arumi, sembari menatap dalam tanpa berkedip sedikit pun. Keduanya saling menatap satu sama lain, terutama Adrian, seolah tak ingin melepaskan pandanganya walaupun sebentar saja. Berbeda hal dengan Arumi. Wanita cantik itu berusaha memalingkan wajah ke samping. Rasanya begitu berat untuk menjawab tapi ia memberanikan diri walaupun tidak tahu jawabannya akan di terima atau tidak oleh Adrian. Setelah menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan, Arumi memberikan sebuah jawaban. "Mas Adrian! kamu adalah pria baik, rasanya sangat cocok jika mencari seorang gadis di luar sana yang masih single, tidak seperti aku." Lirih Arumi yang merasa sangat insecure. Namun yang jelas dalam
Adrian tidak yakin saat mendengar perkataan Arumi, yang sudah tidak peduli lagi pada Dewa. Karena terdengar dari nada suaranya yang penuh dengan keterpaksaan. "Benarkah seperti itu? apa kamu tidak marah melihat berita skandal tentang mereka?" Adrian memastikan kembali. Arumi rasanya sangat sesak setiap kali ada orang yang membahas tentang Dewa, yang sudah pelan dia lupakan meskipun ada luka hati yang sangat sulit untuk dia sembuhkan. "Cukup tuan, tolong jangan bahas tentang mereka lagi," Pinta Arumi dengan nada sedikit tinggi. Untuk yang pertama kalinya, Adrian sangat terkejut saat melihat Arumi sampai marah dan terlihat sangat serius. "Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan membahas tentang dia lagi," Sesal Adrian. Arumi tidak banyak bicara lagi, satu panggilan dari baby sisternya membuat dia begitu antusias, karena pasti jagoan kecilnya yang ingin menelpon. Setelah menjaga jarak di saat mengangkat telepon dari Excel, Arumi terlihat sangat senang mengingat beberapa jam y
Dewa menghela nafas jengah, saat Laura terus menuntut agar segera menikahinya. Tak ingin banyak bicara lelaki tampan itu pun keluar dari kamar tanpa bicara lagi. "Mas Dewa! tunggu," Laura tidak terima di tinggal begitu saja. Dia berjalan mengikuti Dewangga. Hingga terlihat beberapa kelompok paparazi yang sudah sigap mencari bahan berita terutama seorang Dewa, selain di kenal sebagai CEO muda yang tengah jadi perbincangan hangat di khalayak umum. Terutama sejak berita sang istri pergi. Dewa terkejut, saat melihat para wartawan itu menghadang dirinya dengan beberapa bidik kamera, dan mereka juga melontarkan beberapa pertanyaan padanya. "Tuan Dewa! kenapa anda dan nona keluar dari ruangan kamar yang sama? jangan bilang kalian berdua sudah merajut tali kasih kembali?" celetuk salah satu wartawan tanpa ragu. "Iya benar, apa kalian sudah bersama lagi? lalu bagaimana dengan nona Arumi?" sambung karyawan lainnya. Dewa semakin kesal saat melihat dan mendengar pertanyaan para war