Arumi menatap sedih penuh kekecewaan saat melihat sikap kasar ibu tirinya, yang seolah membatasi untuk bertemu dengan sang ayah, namun ia tidak menyerah begitu saja. "Bu, aku ini juga putri ayah, dan berhak tahu keadaannya sekarang," Tegas Arumi terkekeh lalu mencoba masuk ke dalam ruang rawat. Namun Marisa dengan kasar menghalangi bahkan mendorong putri sambung yang sangat dia benci sampai akhirnya terjatuh ke bawah lantai. BRUUUKKK! "Aakkkh sakit," Arumi merintih saat tubuhnya tersungkur ke bawah lantai. Seketika Rania menahan tawa dengan menutup mulutnya, saat melihat Arumi jatuh kesakitan membuat wanita bertubuh sintal itu mencoba untuk mengingatkan ibunya. "Ya ampun, ka Arumi. Maafkan ibu mungkin ibu sedang marah," celetuk Rania dengan sikap manipulatif-nya. Arumi mengelengkan kepala saat ia di perlakukan kasar, lalu berusaha untuk berdiri kembali. Entah itu cuma perasaannya saja atau memang ini adalah sikap asli ibu sambungnya. Padahal sejak awal ayahnya meni
Siang berganti malam, setelah supir pribadi keluarga Wijaya membukakan pintu mobil untuk Arumi. Arumi berjalan dengan langkah pelan tubuhnya terasa melayang dan tatapan matanya pun terlihat sangat kosong. Mengingat hari ini banyak orang membuatnya sangat kecewa. Tidak di ijinkan bertemu dengan sang ayah, dan di pecat secara mendadak oleh bosnya membuat Arumi sangat terpukul dan sedih. Nyonya Rima yang sedang menyulam di atas sofa, wanita tua itu beranjak dari tempat duduknya lalu segera menyapa Arumi yang baru saja pulang dengan langkah yang lesu. "Arumi! kamu sudah pulang nak? di mana Dewa?" Satu pertanyaan dari nyonya Rima seraya mengedarkan pandangannya ke belakang Arumi, Arumi terbuyar dari lamunannya lalu gadis cantik itu spontan menjawab seraya menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. "I-iya nek, maaf kalau aku pulang terlalu malam," sesal Arumi dengan nada tergagap. Melihat wajah Arumi yang sembab kening nyonya Rima berkerut, dia sangat penasaran a
"Ssstt! diam, nenek sedang melihat kita jadi kau lakukan peran mu sebagai istri yang baik!" Arumi menelan saliva, saat mendengar dan merasakan nafas hangat Dewa yang mendarat tepat di leher jenjangnya. Seketika tatapan mereka saling bertemu dan terkunci sesaat. "Aku tahu, tapi tidak usah memeluk seperti ini," Arumi mendorong dada bidang Dewa. Sampai membuat lelaki tampan itu kembali terbaring di atas ranjang. Nyonya Rima masuk ke dalam dia tak lupa mengingatkan Arumi, agar mau bersabar menghadapi cucunya yang terkadang selalu bersikap angkuh. Arumi tidak berani membangkang ia hanya mengangguk patuh, dan mengiyakan semua perintah nyonya Rima.Tak ingin berdebat pagi nyonya Rima memiliki sebuah cara untuk membuat mereka agar lebih dekat lagi. "Arumi, nenek pusing sekali. Dan ingin beristirahat dulu kamu sekarang adalah istri Dewa, jadi tolong bantu dia untuk memenuhi semua permintaannya." Imbuh nyonya Rima yang sengaja mewanti-wanti. Arumi hanya mengangguk patuh, setelah
Arumi menghentikan langkah kakinya, saat mendengar pertanyaan Dewa. Wanita cantik yang tengah memakai gaun tidur berbahan satin itu pun perlahan memutar badan. Tatapan mereka berdua saling bertemu, dengan suasana yang hening dan canggung. Lalu Arumi membalas perkataan Dewa. "Kenapa tuan baru berkata seperti itu sekarang? bukankah dulu anda berpikir jika aku yang menjebak mu? Sekarang semua itu sudah tidak ada artinya, karena tetap masa depan ku sudah hancur," Arumi meluapkan semua kekesalan dalam hati lalu dia pergi berjalan melewati Dewa. Dewa masih bergeming dengan kedua tangan terkepal, karena baru kali ini ada seorang wanita yang begitu berani mengabaikan perkataannya. "Ck, lihat saja nanti dia sendiri yang akan memohon bantuan ku," Geram Dewa. Arumi yang mengelengkan kepala, rasanya sangat lelah jika harus berbicara dengan pria seperti Dewa yang selalu merasa benar sendiri dan angkuh. "Dari pertama aku sudah bilang begitu, dia baru tahu." Baru saja Arumi akan masuk k
"Rania!" Arumi terkejut, saat melihat adik tiri yang sedang bersama dengan mantan kekasihnya dalam satu mobil yang sama. Bahkan ia juga tak sengaja melihat sebuah cincin berlian yang dulu pernah ia pilihan sendiri sebagai kado ulang tahunnya dari Daniel. Namun kado indah yang seharusnya Arumi terima, kini seolah Daniel melupakan itu semua membuat ia benar-benar sedih. "Aku tidak menyangka jika cincin itu mas Daniel berikan pada Rania," lirih Arumi dalam hati, dengan tatapan yang tak lepas pada jemari Rania. Melihat wajah dan kedua bola mata Arumi berkaca-kaca, membuat Rania menyeringai penuh kemenangan bahkan sengaja untuk memanasi-manasi. "Astaga! ka Arumi kamu ngapain berjalan di tempat macem seperti ini. Jadinya kan gak sengaja kena tumpahan air buangan ku," Cibir Rania seraya menatap ke arah Daniel. "Untuk apa kamu menyapa wanita murahan seperti dia Rania. Sungguh tidak penting sekali," sambung Daniel menatap penuh kebencian pada Arumi. Hati Arumi seperti tertusuk r
Pertanyaan yang di lontarkan Arumi membuat pak Anton, terdiam sejenak dia sedikit bingung harus menjawab apa. Karena sesuai perintah atasnya tidak boleh memberitahu alasan yang sebenarnya kenapa Arumi di terima tanpa mempertimbangkan wawancara atau dari hal apa pun. "Nona Arumi, sebenarnya nona butuh pekerjaan tidak, kalau tidak kesempatan ini akan saya berikan pada calon karyawan yang lain," Ujar Pak Anton yang sedikit mengancam. Arumi yang sudah terbiasa bekerja sendiri, membuat ia tidak ingin kehilangan kesempatan bagus yang ada di depan mata. "Tunggu pak, aku akan mengambil kesempatan ini," Arumi setuju. Pak Anton bernafas lega, karena akhirnya Arumi mau menerima tawarannya. Tanpa membuang waktu lagi dia menyuruh Arumi untuk mengikutinya ke ruangan untuk menjelaskan beberapa hal yang harus di lakukan oleh Arumi sebelum ia mulai bekerja. Arumi berjalan menyusuri lobi, melihat perusahaan yang besar dan megah membuat ia menatap takjub dan berharap suasana tempat kerja baru
"Ck, untuk apa aku memikirkan hal itu dia juga salah karena berada di club, apa yang aku putuskan sudah tepat dan benar," tegas Dewangga dalam hati. Yang kembali menutup laptop. Di sepanjang jalan Dewangga berusaha menepis rasa bersalah dalam hati, yang terkadang terus datang karena dia yakin Arumi sama seperti wanita yang sering dia temui rela melakukan segala cara untuk mendekati pria seperti dia. Yang memiliki semuanya. Doni yang baru saja mendapatkan satu pesan dari rekannya, dia yang masih fokus menyetir berusaha memberanikan diri untuk menyampaikan hal penting pada sang bos. "Tu-tuan," ucap Doni ragu dengan nada terbata-bata. Seketika Dewa tersadar dari lamunannya, lalu menyuruh asisten pribadinya itu untuk mengatakan hal apa yang ingin di sampaikan. Doni pun mengatakan ada satu paket hadiah untuk bosnya pengiriman dari London, sontak raut wajah Dewa pun berubah menjadi muram dan kesal. Lalu dia memberikan perintah untuk menolak kiriman hadiah untuknya itu. "Tuan y
Arumi sangat penasaran dengan sosok pemilik tempatnya bekerja, baru saja ia mengangkat sedikit wajahnya, tiba-tiba saja karyawan wanita yang di sebelah tak sengaja menginjak kakinya. Sampai membuatnya meringis kesakitan. "Aw sakit," Arumi mengigit bibir atasnya sampai spontan berjongkok memegang kakinya yang sedikit lebam karena terinjak heels karyawan wanita di sampingnya. Sampai Dewangga yang sedang berjalan melewatinya, tidak dia lihat sama sekali. Begitu juga dengan Dewa perhatiannya teralihkan saat pak Anton menjelaskan beberapa hal keadaan perusahaan dalam dua hari terakhir ini. Setelah Dewa memasuki lift yang terhubung di ruangan kebesaran, semua karyawan pun mulai bubar dan kembali bekerja ke ruangan masing-masing hanya tinggal Arumi yang masih berjongkok mengelus tumit kakinya yang masih terasa sakit. Sampai ada salah satu karyawan pria yang melihat dan menghampiri Arumi. Dan mencecarnya beberapa pertanyaan. "Hey, nona. Apa kau adalah karyawan baru?" tanya Pria itu
Ketika Oma Rima tengah menegur Dewa, Arumi yang perlahan mulai siuman wanita cantik yang masih terbaring lemas dengan seragam pasiennya sejenak ia termenung. Memikirkan kondisi kandungannya yang semakin hari terasa semakin tidak nyaman saat berada di antara Dewa dan Laura. "Calon baby mommy, kamu tumbuh kembang yang baik ya nak. Jika Dady mu sibuk dengan urusannya lebih baik kita pergi saja, mommy hanya ingin melahirkan mu dengan tenang," Lirih Arumi dalam hati seraya mengelus lembut perutnya yang sudah mulai terlihat, dan sengaja mengajak komunikasi dengan calon baby-nya Ketika Arumi tengah larut dalam pikirannya, tiba-tiba aja pintu terbuka Oma Rima masuk dan menghampiri ingin memastikan jika keadaan cucu mantu dan calon cicitnya baik-baik saja. "Oma!" Pekik Arumi segera menyeka air matanya. Melihat Arumi yang seperti sedih dan menyembunyikan sesuatu darinya membuat Oma Rima semakin yakin, jika Dewa dan Laura yah sudah membuatnya sedih. "Arumi! Oma baru pulang dari rumah
Kedua bola mata Dewa berapi-api saat mendengar permintaan Arumi yang begitu berani padanya. "Ingin mengakhiri kontrak pernikahan yang telah kita sepakati? Arumi jangan pernah bermimpi!" Dewa menegaskan jika dirinya yang lebih berhak menentukan kapan mereka pernikahan kontrak mereka akan berakhir. Dewa yang kembali tersulut emosi karena mengingat Ardian yang tadi sudah sengaja terang-terangan mengantar Arumi ke rumah membuat ia kehilangan emosi lagi. "Jangan bilang ingin segera mengakhiri kontrak pernikahanan dengan ku, kamu sudah tidak sabar ingin segera menjalin hubungan dengan Kaka senior mu itu kan?" Geram Dewa yang semakin marah. Arumi menelan saliva, sungguh rasanya dia sudah tak tahan lagi saat berada dekat dan Dewa hingga memberanikan diri untuk memberontak. "Cukup tuan! jangan menuduh ku sembarang, jangan libatkan permintaan ku dengan tuan Adrian, dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita?" sanggah Arumi. Yang berusaha pergi menghindari Dewa. Namun Arumi yang b
"Maaf nona Laura, karena tadi begitu cepat dia pergi," sesal Rini dengan wajah yang tertunduk tak berani menatap majikannya. Laura menatap gemas, kedua bola mata berapi-api menahan rasa marah yang semakin menggebu dalam hatinya. Laura menegaskan jika dia tidak mau tahu dan menekan Rini harus mencari cara agar bisa meracuni kandungan Arumi. Tak ingin kena marah majikannya, Rini pun berusaha menenangkan dan berjanji akan mengatur rencana baru untuk melakukan rencana besar mereka. "Nona tenang saja, saya janji anak di dalam kandung Arumi akan lenyap," tegasnya. Laura menghela nafas panjang, dia berusaha meyakin dengan ucapan Rini. Dan meminta Rini untuk membuktikannya. Tentu saja Rini dengan penuh keyakinan menyanggupinya. Sesampainya di kediaman Wijaya, Arumi meminta Adrian untuk menghentikan mobilnya sebelum di depan gerbang. Karena dia tidak ingin ada security atau pun pengawal yang melihat dirinya di antar oleh pria lain selain suaminya. "Sudah sampai di sini saja tuan
Ketika Arumi dan Adrian sudah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja Clarisa mencari alasan untuk membuat mereka pergi hanya berdua saja. Hal itu membuat Arumi sangat terkejut karena ia merasa tidak nyaman jika hanya pergi berdua. "Clarisa! ayo masuklah, aku akan mengantar kalian pulang biarkan saja nanti orang bengkel yang mengatasi mobil mu," ajak Adrian yang sudah mulai menyalakan mesin mobil mewahnya. "Astaga! aku baru ingat punya janji dengan teman ku. Tuan Adrian bisa tolong antar Arumi pulang? Arumi kamu pulang dulu saja aku baru ingat punya janji tidak papa kan?" jelas Clarisa yang sengaja menolak. Arumi menghela nafas berat, dia merasa jika Clarisa memang sengaja menghindar agar tidak ikut dengan mereka. Adrian yang terlihat begitu antusias dia sama sekali tidak menolak malah ia terlihat lebih bersemangat. "Aku akan mengantar Arumi pulang, kamu tidak usah khawatir nona Clarisa," kata Adrian menyahut. "Tuan benar, anda pasti akan menjaga Arumi dengan baik. Kalau be
Dewa menelan saliva beberapa kali, saat mendengar perkataan Laura yang sudah tak sabar ingin menikah dengannya. Membuat dia semakin bimbang. Di sisi lain dia melihat sang nenek yang terlihat bahagia saat Arumi menjadi cucu mantunya, tapi dia juga sudah terikat janji pada dirinya sendiri jika ia akan menikahi Laura karena bagaimana pun juga Laura pernah menyelamatkan dirinya. Kening Laura berkerut saat melihat wajah datar pria yang sangat dia cintai, Hingga membuatnya memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa mas Dewa hanya diam? mas tidak mungkin mengingkari janji mas kan?" Sindir Laura dengan penuh penekanan. Dewangga tersadar dari lamunannya lalu menyahut dan berusaha menenangkan. "Tidak akan Laura, tapi pernikahan ku dengan Arumi tidak bisa di akhiri begitu saja jadi aku .." Belum sempat Dewa menuntaskan perkatannya, Laura tetap menuntut untuk segera di nikahi apa lagi hubungan mereka sudah lebih dari sekedar pacaran. Bahkan Laura menegaskan dan mengancam jika dia akan m
Arumi dan Clarisa memberanikan diri membuka pintu ruang UGD, Laura yang sudah di beritahu oleh asistennya kini ia sengaja terlihat seolah takut oleh Arumi. "Nona Laura! bagaimana keadaan mu?" Arumi memberanikan diri membuka pintu untuk melihat kondisi dan ia juga ingin menjelaskan pada Dewa tentang kesalahan pahaman di antara mereka. Melihat Arumi yang datang, Laura bersandiwara dengan cepatnya ia merengek dan mengadu pada Dewa. "Mas Dewa! aku sangat takut pada dia, dia hampir saja membunuh ku," ujar Laura menatap tajam dengan penuh kebencian. Arumi tercengang saat mendengar perkataan Laura, yang seolah ingin menjatuhkan dirinya di depan Dewa. "Nona Laura! apa yang kamu katakan? aku tidak pernah mempunyai niat buruk sedikit pun pada mu, jadi tolong jangan asal berbicara," jelas Arumi yang berusaha membela diri. "Iya benar Laura, kamu jangan berharap ngawur deh. Arumi bukan orang seperti itu. Jadi jangan mengada-ngada," sambung Clarisa yang membela Arumi. Dewa terlihat
"Arumi kamu yang sabar ya, perkataan Dewa tidak usah kamu masukin hati," Clarisa berusaha menghibur Arumi. Dia sangat sedih dan ikut sedih saat melihat sikap Dewa yang sangat keterlauan lebih mementingkan Laura di bandingkan istrinya sendiri. Arumi menarik nafas dalam-dalam dia tidak suka orang lain melihat dirinya lemah, sampai berusaha keras terlihat tegar. "Clarisa! terima kasih karena kamu sudah menghibur ku, tapi seperti aku sedikit pusing dan ingin cepat pulang," keluh Arumi seraya memijat kening. Clarisa yang sangat cemas, kini ia menawarkan diri untuk mengantar Arumi. Awalnya Arumi menolak tapi karena ingin tahu lebih jauh tentang masa lalu Dewa dan Laura membuatnya menerima tawaran wanita itu lalu memberi perintah pada supirnya pribadi Dewa agar tidak menunggunya. Sebagai seorang karyawan pak Hendra hanya bisa mematuhi perintah istri tuanya, Arumi dan Clarisa pun segera bergegas pergi dari pesta mengingat Dewa yang pergi begitu saja tanpa bicara apa pun. Suasana di
Disaat Arumi tengah larut dalam pemikirannya, Dewa yang masih banyak mendiskusikan beberapa project baru bersama rekannya, dia mengingatkan Arumi agar menunggunya sebentar. Arumi tertunduk patuh, bahkan Dewa juga tak lupa mengingatkan agar tidak meminum wine Mengingat kondisi wanita yang bergelar istrinya itu tengah hamil muda. Setelah mengingatkan, Dewa yang di ikuti asistennya kini mulai bergabung dengan beberapa rekannya termasuk Adrian yang juga ikut dalam project itu. Melihat beberapa menu makanan yang tersedia di meja dengan berbagai jenis menu membuat Arumi menelan saliva beberapa kali karena membuatnya tergoda. "Wah makanan di sini sepertinya sangat enak-enak aku jadi ingin mencicipinya," Gumam Arumi yang perlahan mencoba mencicipi beberapa cake mini buah-buahan. Laura yang melihat Arumi sendirian membuatnya segera menghampiri, lalu sengaja memulai topik pembicaraan untuk membuat Arumi sadar akan posisinya di hati Dewa. "Hmm, sepertinya ada orang kampung yang baru
Beberapa jam kemudian di sebuah gedung hotel bintang lima, beberapa tamu sudah berlalu lalang mulai memasuki gedung mewah dan besar itu dengan penampilan mereka yang terlihat modis, membuat Arumi yang baru pertama kali ikut mendampingi Dewangga tertegun sampai membuat langkah kakinya terhenti. Kedua alis tebal Dewa terangkat, saat melihat Arumi yang malah mematung sembari menatap kagum ke arah pintu utama hotel termewah di kota itu. "Arumi! kenapa malah bengong? ayo cepat masuk, ingat jaga sikap mu jangan membuat ku malu di dalam nanti, karena banyak tamu-tamu penting," tegur Dewa dengan mode wajah datar yang serius. Arumi tersadar dari lamunannya, lalu kembali fokus menyahut Dewa jika dia akan mematuhi perintahnya. Dewa yang sudah di tunggu oleh beberapa rekan bisnisnya kini dia kembali menyodorkan lengannya dan menatap Arumi, Arumi yang sudah mengerti tatapan sebagai kode. Setelah Arumi melingkarkan tangan di lengan Dewa, mereka berdua kembali melanjutkan langkahnya lagi