"Laura!" Dewa terdiam, dia segera pergi menjauh dari Arumi untuk mengangkat telpon. Karena tidak ingin pembicaraan mereka terdengar yang akan membuat masalah untuk kondisi kandungan Arumi. "Tuan Dewa menerima telepon dari siapa? kenapa akhir-akhir ini dia selalu sembunyi-sembunyi," Arumi bertanya-tanya dalam hati seraya meremas selimut dengan erat. Setelah sampai di balkon, Dewa terlihat cemas lalu dia mengangkat telepon dari kekasihnya Laura yang sebenarnya sulit untuk dia hadapi apa lagi dengan statusnya sekarang. "Mas Dewa!" Panggilan suara manja Laura terdengar nyaring di telinga Dewa. Seketika wajah Dewa memucat keringat dingin pun mulai membasahi wajahnya. Lalu berusaha untuk tetap tenang dan menjawab seolah tidak ada apa-apa. "Laura! kenapa malam-malam seperti ini ada waktu menelpon?' Dewa sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Kening Laura berkerut penuh keheranan, dia merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya. Meskipun ragu Laura ragu tanpa sungkan mengung
"Benarkah seperti itu?" Dewa meragukan, tapi dia berusaha mencoba untuk melakukan apa yang di sarankan. Meskipun Arumi sempat menolak. Tak ingin mengganggu mereka berdua, nyonya Rima sengaja memberikan waktu agar keduanya bisa bersama. "Pelayan, nanti antarkan segelas susu hangat dah vitamin untuk nona Arumi dan juga teh untuk tuan Dewa!" perintah nyonya Rima sebelum keluar dari kamar. Arumi berusaha menolak, karena dia tidak ingin merepotkan. Tapi nyonya Rima tidak suka di bantah. Membuat gadis cantik itu pun tak bisa berkata banyak lagi. Setelah semua orang keluar dan hanya ada mereka berdua. Suasana di dalam kamar itu terasa hening dan canggung, Arumi perlahan tidur lebih dulu membalik badan karena ia merasa sangat tidak nyaman saat Dewa berada dekat dengannya. "Kenapa? apa masih merasa mual?" tanya Dewa penasaran. "A-akh tidak tuan, rasa mual itu akan datang sesekali sekarang aku mau beristirahat dulu," Jawab Arumi yang tak berani menatap wajah lelaki yang bergelar
Keesokan harinya, Arumi bangun lebih awal dia sudah berpenampilan rapih dan cantik. Meskipun dia dalam keadaan hamil muda tidak menyurutkan semangatnya untuk bekerja. "Tu-tuan Dewa ini sudah pagi," Arumi memberanikan diri untuk membangunkan Dewa meskipun ia sedikit ragu takut pria itu akan marah. Dewa yang mendengar suara lembut Arumi perlahan ia membuka kedua pelupuk matanya, pandanganya yang buram perlahan kian menjadi jelas. "Kamu!" Dewa terkejut saat melihat Arumi yang sudah cantik dan rapi, lelaki itu bertanya apakah Arumi masih akan tetap bekerja di saat kondisi kehamilannya yang sudah cukup membuat lelah. Dengan senyuman tipis di wajah cantiknya, Arumi menegaskan jika dia masih ingin bekerja ke kantor karena hanya diam di rumah hanya akan membuatnya bosan saja. Dewa tak bisa melarang, dia mengingatkan jika Arumi harus tetap menjaga kehamilan sampai melahirkan pewaris Wijaya yang sudah dia dan sang nenek inginkan. Arumi mengangguk patuh, ketika Dewa beranjak dari atas
"Syukurlah kalau kamu suka, nenek senang makan yang banyak, biar calon bayi kalian tumbuh dengan sehat," imbuh nyonya Rima seraya memancarkan senyum sumringahnya. Arumi mengangguk patuh, lalu melanjutkan kembali makannya sebelum pergi ke kantor bersama dengan Dewa, mengingat hari ini ada project pentung. Dan tidak ingin membuat Dewa kecewa dengan kinerjanya. Ketika Arumi dan nyonya Rima terlihat begitu Akrab. Dewa yang berjalan menuruni tangga dan di sambut hangat oleh Arumi dan juga neneknya. "Mas Dewa sudah siap, aku sudah menyiapkan sarapannya untuk mu," kata Arumi tersenyum sembari menyiapkan sarapan untuk suaminya, dia harus berusaha terlihat seperti seorang istri seutuhnya. Dewa memghampiri lalu dia duduk, dan tak lupa menghampiri dan juga bersikap manis seperti suami dan istri pada umumnya. "Makasih, kamu sangat perhatian sayang," ungkap Dewa lalu mengecup kening Arumi. Arumi terkejut, jantungnya berdegup sangat kencang dan tak menentu saat bibir Dewa mendarat tepat
Dewa sebenarnya sangat marah saat mitra bisnis barunya mengenal Arumi, tapi sebagai pimpinan perusahaan dia berusaha bersikap profesional apa lagi di sana banyak para pemegang saham. "Lama tidak bertemu Arumi," Andrian menyapa sembari mengulurkan tangannya. Namun Dewa yang tidak suka Arumi terlihat akrab dengan pria lain apa lagi di depan semua orang. Membuat dia pun mempersilahkan Adrian untuk duduk dan memulai meeting yang sudah di tunggu dari tadi, Arumi bernafas lega saat Dewa seolah menghalangi Adrian agar tidak berjabat tangan dengannya. "Untung saja tuan Dewa yang mengalihkan perhatian tuan Adrian, kalau tidak aku tidak enak juga jika harus menolak niat baiknya," gumam Arumi dalam hati. Tanpa membuang waktu lagi, Dewa memimpin rapat tentang perencanaan project barunya, yang akan segera launching akhir bulan nanti, semua perhatian para pria berdasi di sana tertuju dan menangkap dengan serius tentang keuntungan dan kelebihan dari Bisnis mereka. Tidak terkecuali dengan
Arumi Sedikit tersinggung dengan perkataan Dewa yang seolah menyudutkan dirinya. Bagaimana bisa hanya karena bertemu dengan Kaka seniornya di salahkan. "Tuan, aku tidak berbuat apa-apa kenapa anda marah pada ku?" tanya Arumi kesal, padahal sudah susah payah dia berusaha membantu Dewa di rapat tadi, tapi yang dia dapat malah omelan. "Sudah aku tidak suka kamu terlalu akrab dengan teman sekampus mu itu sekarang lebih baik kembali kerjakan beberapa doku..." Belum sempat Dewa menyelesaikan perkataannya. Tiba-tiba saja satu panggilan telepon dari Radit masuk. Dewa pun segera meraih dan mengusap layar ponselnya, lalu mengangkat panggilan dari Radit. "Halo Radit ada apa?" Tanya Dewa memulai topik pembicaraan. "Dewa! nanti sore kamu bisa datang kan?" Radit memastikan. Dewa yang melihat Arumi masih berada di dekatnya dengan cepatnya ia mencari tempat yang cukup nyaman untuk berbicara penting dengan Radit. Meskipun pernikahan mereka hanya sebatas kontrak, tapi entah kenapa Arumi
Setelah berjalan menaiki tangga, Dewa akhirnya sampai di ruang VIP kafe yang berada di lantai atas. Dia merasa sedikit aneh karena untuk apa Radit mengajak bertemu di ruangan khusus. "Tuan, seseorang yang menunggu anda sudah ada di dalam. Saya undur diri dan jika ada yang anda butuhkan hubungi saja saya," ujar pelayan wanita itu. Dewa yang tidak suka banyak bicara, dia hanya berdehem sebagai jawaban jika dia sudah tahu, lalu perlahan membuka pintu ruangan makan VIP itu dan.. Pintu terbuka, terlihat ruangan itu temaram, hanya ada seorang wanita yang berdiri membelakangi dengan balutan dress di atas lutut yang terlihat begitu seksi dan menggoda. Membuat Dewa menyergitkan dahi penuh keheranan sembari bertanya siapa wanita yang ada di depannya itu, melihat bentuk tubuh wanita itu yang terlihat tidak asing baginya. "Radit! sepertinya kau mengerjai ku, benar benar-benar keterlaluan." Geram Dewa lalu ia memutar badan. Barus aja lelaki tampan itu berjalan beberapa langkah untuk kelu
"Memangnya kenapa mas Dewa? kita ini pacaran biasanya juga seperti ini kenapa sekarang tidak boleh?" protes Laura dengan bibir yang mengerucut. Dewa sangat dilema ketika dia ingin memberitahu kan tentang jati dirinya yang sebenarnya. Tetapi jika tidak segera di bicarakan nantinya masalah ini akan semakin besar. "Mas Dewa! kamu ini kenapa sih dari tadi cuma bengong aja? biasanya kamu sangat senang kalau kita ke sin Lihat ada beberapa kado lagi dari ku, kamu buka lagi ya," Bujuk Laura yang bersandar manja di bahu kekar Dewa. Dewa menghela nafas berat, dia sedikit bingung harus menjelaskan dari mana dulu pada Laura, meskipun dia ragu dan takut Laura marah. Tapi lelaki tampan itu pun berusaha keras untuk mencobanya. "Laura, aku sangat senang sekali menerima kado dari mu semua sangat bagus. Tapi aku sekarang tidak bisa lama-lama berada di luar dengan mu," Celetuk Dewa memulai topik pembicaraan. "Kenapa kamu bilang begitu mas? kita ini baru Bertemu ko terburu-buru pergi sih?"
"Arumi! aku tahu kamu masih belum bisa melupakan Dewa, tapi lebih baik kamu mencoba untuk membuka hati bagi pria lain yang lebih menghargai mu, termasuk aku. Aku sudah lama menyukai mu jadi maukah kamu menerima cinta ku," Adrian mengungkapkan perasaannya untuk yang kesekian kalinya. Arumi menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkanya pelan. Sebenarnya dia merasa sangat risih setiap kali Adrian mengungkapkan perasaannya. Karena bagi Arumi kepercayaan bagi seorang pria untuk saat ini sangatlah sulit. "Arumi! bagaimana apakah kamu mau menjadi pacar ku. Aku tidak peduli jika kamu hanya memanfaatkan aku demi menghindari Dewa jika kalian bertemu suatu hari nanti," Celetuk Adrian yang berusaha meyakinkan Arumi agar mau menerima cintanya. Arumi terdiam merenung sejenak, saat mendengar Adrian yang terus memohon agar mau menerima ungkapan cintanya. "Kamu setuju kan?" Adrian memastikan lagi, Arumi merasa tidak enak hati padahal sudah beberapa kali dia menjelaskan jika dirinya tidak in
Disebuah kafe, Adrian mengajak Arumi masuk ke sana, setelah singgah ke restoran tempat favoritnya sudah tutup membuat mereka terpaksa memilih kafe yang masih buka di pusat kota. "Arumi, gimana kalau kita makan di sini saja apa tidak apa-apa?" tanya Adrian memastikan lebih dulu. Arumi yang masih mengedarkan pandangan di area luar kafe, dia merasa sedikit tidak enak hati berharap jika dirinya tidak akan bertemu Dengan orang-orang yang telah menjadi bagian dari masa lalunya. Melihat Arumi yang masih berdiri mematung seolah terlihat bimbang, membuat kedua alis Adrian terangkat penuh keheranan. Lalu memberanikan diri bertanya apa yang wanita cantik yang ada di depannya itu terlihat resah Arumi pun menyahut dan menyanggah pertanyaan Adrian. "Aku tidak apa hanya saja tempat ini amankan?" Arumi memastikan lagi. Adrian hanya menarik nafas dalam-dalam, lalu dia berusaha meyakinkan pada Arumi, jika dia tidak perlu sungkan lagi selama masih ada dirinya di samping. "Arumi! selama aku
Setelah menunggu sekitaran dua puluhan menitan, Adrian sangat terkejut saat Arumi mulai membuka pintu dan terlihat sudah siap untuk berangkat. "Mas Adrian! maafkan aku, pasti sudah menunggu lama ya?" Arumi merasa tidak enak hati. Tentu saja Adrian menjawab jika dia tidak keberatan sama sekali. Tak ingin rencananya gagal Adrian tanpa ragu segera mengajak Arumi pergi ke Resto yang sudah dia booking. "Sudah siap kan? sekarang lebih baik kita pergi keburu malam." "Iya, mas. Tapi aku tidak bisa lama-lama karena beberapa contoh desain untuk besok belum selesai," Arumi sengaja mewanti-wanti lebih dulu. Sebagai teman dan bos pun Adrian setuju, dan berjanji jika mereka tidak akan lama berada di luar. Setelah sepakat mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil saat supir pribadi Adrian membukakan pintu untuk sang tuan. "Tuan, nona silahkan," ujar sang supir sembari membungkukkan badan dengan penuh hormat. Adrian dan Arumi duduk di jok belakang. Suasana di antara mereka terlihat sa
Nyonya Retha menatap tajam Dewa, dia tidak pernah menyangka jika putranya begitu lancang melawan dirinya. Padahal selama ini selalu patuh dan selalu memprioritaskan dirinya. "Dewa! jangan membantah ibu, apa yang ibu pilihkan itu yang terbaik untuk mu," Bentaknya. Dewa yang saat ini tengah merasakan kekacauan di dalam hatinya, kini dia memilih untuk pergi keluar tanpa menghiraukan lagi perintah yang sudah membuatnya sangat muak. "Dewa! tunggu, ibu belum selesai berbicara," panggil nyonya Retha dengan nada tinggi dan menatap tajam pada putra sulungnya. Saat perkataan tidak di gubris. Nyonya Rima yang baru keluar dari kamarnya, wanita tua itu di dampingi kedua pelayan lalu menghampiri Margaretha dan menegurnya karena menurutnya sikapnya terlalu berlebihan. "Retha! lebih baik kamu jangan selalu menekan Dewa, bagaimana pun juga dia sudah dewasa dan tahu kebahagiaan untuk dirinya sendiri," Protes Nyonya Rima menatap kesal putrinya. Margaretha mendelik, dia merasa jika dirinya
Suster Rini mencoba untuk melihat sosok pria yang ada di dalam foto yang di pegang oleh Excel, terlihat sangat tampan dan gagah. "Pria ini kenapa terasa tidak asing ya?" gumam Suster Rini sembari memutar kedua bola matanya. Excel menatap suster Rini, lalu jagoan kecil itu bertanya karena penasaran. "Suster!" panggil Excel dengan nada gemasnya. Seketika suster Rini terbuyar dari lamunannya, lalu duduk dan jongkok. "Iya ada apa Excel?" sahut suster Rini sembari mengelus kepala jagoan kecil itu. "Suster kenal tidak sama om tampan ini? ko bisa ada di lemari mommy ya?" tanya Excel penasaran. Suster Rini tersenyum lalu dia menjawab, jika tidak mengenal pria itu akan tetapi wanita itu sedikit mulai menatap jelas foto sang pria dengan wajah Excel yang memiliki kemiripan. "Suster gak tahu anak manis, tapi nanti akan coba suster cari tahu ya, sekarang makan dulu biar cepat besar dan nanti bisa cari dady gimana?" bujuk suster Rini sembari menyodorkan makanan di atas sendok. Excel
"Cukup Laura! berhenti berteriak di depan ku!" Dewa menghardik Laura, di saat kekasih di masa kecilnya itu terus menuntut untuk menikah membuatnya semakin emosi sampai memegang kepala yang masih terasa sakit dan pusing karena pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Laura tergugu, baru kali ini dia melihat ekspresi Dewa yang sangat marah. Padahal selama mereka pacaran dulu tidak pernah membentak membuat wanita berprofesi sebagai model itu semakin tidak tenang. "Tidak bisa! jangan menyuruh aku untuk diam, kesabaran aku sudah habis mas. Aku kembali hanya untuk kami demi meneruskan impian masa depan kita," Ungkap Laura dengan keinginannya. Semakin di desak Dewa semakin emosi, apa lagi dia yang tidak suka di atur oleh seorang wanita membuatnya terpaksa mengucapkan peringatan untuk uang kedua kalinya di saat mereka berdua beradu argument. "Berhenti! atau aku tidak akan mengijinkan mu menemui ku di mana pun berada," Ancam Dewa terlihat serius. Seketika Laura terdiam dan
Arumi tercengang, saat melihat dan mendengar pertanyaan cinta Adrian yang membuatnya tak habis pikir dan sulit untuk di percaya, karena selama ini sosok lelaki yang ada di depannya itu telah ia anggap sebagai Kaka senior tidak lebih dari itu. "Arumi! apa kamu mendengar ku?" Adrian memegang erat tangan Arumi, sembari menatap dalam tanpa berkedip sedikit pun. Keduanya saling menatap satu sama lain, terutama Adrian, seolah tak ingin melepaskan pandanganya walaupun sebentar saja. Berbeda hal dengan Arumi. Wanita cantik itu berusaha memalingkan wajah ke samping. Rasanya begitu berat untuk menjawab tapi ia memberanikan diri walaupun tidak tahu jawabannya akan di terima atau tidak oleh Adrian. Setelah menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan, Arumi memberikan sebuah jawaban. "Mas Adrian! kamu adalah pria baik, rasanya sangat cocok jika mencari seorang gadis di luar sana yang masih single, tidak seperti aku." Lirih Arumi yang merasa sangat insecure. Namun yang jelas dalam
Adrian tidak yakin saat mendengar perkataan Arumi, yang sudah tidak peduli lagi pada Dewa. Karena terdengar dari nada suaranya yang penuh dengan keterpaksaan. "Benarkah seperti itu? apa kamu tidak marah melihat berita skandal tentang mereka?" Adrian memastikan kembali. Arumi rasanya sangat sesak setiap kali ada orang yang membahas tentang Dewa, yang sudah pelan dia lupakan meskipun ada luka hati yang sangat sulit untuk dia sembuhkan. "Cukup tuan, tolong jangan bahas tentang mereka lagi," Pinta Arumi dengan nada sedikit tinggi. Untuk yang pertama kalinya, Adrian sangat terkejut saat melihat Arumi sampai marah dan terlihat sangat serius. "Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan membahas tentang dia lagi," Sesal Adrian. Arumi tidak banyak bicara lagi, satu panggilan dari baby sisternya membuat dia begitu antusias, karena pasti jagoan kecilnya yang ingin menelpon. Setelah menjaga jarak di saat mengangkat telepon dari Excel, Arumi terlihat sangat senang mengingat beberapa jam y
Dewa menghela nafas jengah, saat Laura terus menuntut agar segera menikahinya. Tak ingin banyak bicara lelaki tampan itu pun keluar dari kamar tanpa bicara lagi. "Mas Dewa! tunggu," Laura tidak terima di tinggal begitu saja. Dia berjalan mengikuti Dewangga. Hingga terlihat beberapa kelompok paparazi yang sudah sigap mencari bahan berita terutama seorang Dewa, selain di kenal sebagai CEO muda yang tengah jadi perbincangan hangat di khalayak umum. Terutama sejak berita sang istri pergi. Dewa terkejut, saat melihat para wartawan itu menghadang dirinya dengan beberapa bidik kamera, dan mereka juga melontarkan beberapa pertanyaan padanya. "Tuan Dewa! kenapa anda dan nona keluar dari ruangan kamar yang sama? jangan bilang kalian berdua sudah merajut tali kasih kembali?" celetuk salah satu wartawan tanpa ragu. "Iya benar, apa kalian sudah bersama lagi? lalu bagaimana dengan nona Arumi?" sambung karyawan lainnya. Dewa semakin kesal saat melihat dan mendengar pertanyaan para war