Arumi Sedikit tersinggung dengan perkataan Dewa yang seolah menyudutkan dirinya. Bagaimana bisa hanya karena bertemu dengan Kaka seniornya di salahkan. "Tuan, aku tidak berbuat apa-apa kenapa anda marah pada ku?" tanya Arumi kesal, padahal sudah susah payah dia berusaha membantu Dewa di rapat tadi, tapi yang dia dapat malah omelan. "Sudah aku tidak suka kamu terlalu akrab dengan teman sekampus mu itu sekarang lebih baik kembali kerjakan beberapa doku..." Belum sempat Dewa menyelesaikan perkataannya. Tiba-tiba saja satu panggilan telepon dari Radit masuk. Dewa pun segera meraih dan mengusap layar ponselnya, lalu mengangkat panggilan dari Radit. "Halo Radit ada apa?" Tanya Dewa memulai topik pembicaraan. "Dewa! nanti sore kamu bisa datang kan?" Radit memastikan. Dewa yang melihat Arumi masih berada di dekatnya dengan cepatnya ia mencari tempat yang cukup nyaman untuk berbicara penting dengan Radit. Meskipun pernikahan mereka hanya sebatas kontrak, tapi entah kenapa Arumi
Setelah berjalan menaiki tangga, Dewa akhirnya sampai di ruang VIP kafe yang berada di lantai atas. Dia merasa sedikit aneh karena untuk apa Radit mengajak bertemu di ruangan khusus. "Tuan, seseorang yang menunggu anda sudah ada di dalam. Saya undur diri dan jika ada yang anda butuhkan hubungi saja saya," ujar pelayan wanita itu. Dewa yang tidak suka banyak bicara, dia hanya berdehem sebagai jawaban jika dia sudah tahu, lalu perlahan membuka pintu ruangan makan VIP itu dan.. Pintu terbuka, terlihat ruangan itu temaram, hanya ada seorang wanita yang berdiri membelakangi dengan balutan dress di atas lutut yang terlihat begitu seksi dan menggoda. Membuat Dewa menyergitkan dahi penuh keheranan sembari bertanya siapa wanita yang ada di depannya itu, melihat bentuk tubuh wanita itu yang terlihat tidak asing baginya. "Radit! sepertinya kau mengerjai ku, benar benar-benar keterlaluan." Geram Dewa lalu ia memutar badan. Barus aja lelaki tampan itu berjalan beberapa langkah untuk kelu
"Memangnya kenapa mas Dewa? kita ini pacaran biasanya juga seperti ini kenapa sekarang tidak boleh?" protes Laura dengan bibir yang mengerucut. Dewa sangat dilema ketika dia ingin memberitahu kan tentang jati dirinya yang sebenarnya. Tetapi jika tidak segera di bicarakan nantinya masalah ini akan semakin besar. "Mas Dewa! kamu ini kenapa sih dari tadi cuma bengong aja? biasanya kamu sangat senang kalau kita ke sin Lihat ada beberapa kado lagi dari ku, kamu buka lagi ya," Bujuk Laura yang bersandar manja di bahu kekar Dewa. Dewa menghela nafas berat, dia sedikit bingung harus menjelaskan dari mana dulu pada Laura, meskipun dia ragu dan takut Laura marah. Tapi lelaki tampan itu pun berusaha keras untuk mencobanya. "Laura, aku sangat senang sekali menerima kado dari mu semua sangat bagus. Tapi aku sekarang tidak bisa lama-lama berada di luar dengan mu," Celetuk Dewa memulai topik pembicaraan. "Kenapa kamu bilang begitu mas? kita ini baru Bertemu ko terburu-buru pergi sih?"
Di kediaman keluarga Wijaya. Arumi masih menemani nyonya Rima di meja makan, wanita cantik yang tengah memakai baju piyama tidurnya itu terlihat tidak bersemangat saat mencoba beberapa menu makanan yang cukup banyak tersedia di meja. "Arumi! kenapa tidak di makan nak? ini sayuran dan beberapa lauk sangat bagus dan sehat untuk masa pertumbuhan janin mu nak," Perintah Nyonya Rima yang tidak ingin Jika sampai calon cicitnya kekurangan asupan gizi. Perkataan nyonya Rima membuat Arumi tersadar dari lamunannya, lalu ia segera menyahut. "I-iya nek, Arumi akan mencoba untuk mencicipinya." Melihat senyum terpaksa yang tersirat jelas di wajah cantik Arumi, menjadi pertanyaan besar bagi hati seorang nyonya Rima. Yang begitu mengharapkan seorang cicit. "Katakan pada nenek, kenapa dari tadi hanya bengong saja? apa karena Dewa belum pulang kamu jadi tidak semangat makan?" tanya nyonya Rima menatap penuh selidik. Arumi terkejut, dengan pertanyaan nyonya Rima, jauh dari lubuk hatinya y
"Tidak mudah gimana mas? jangan bilang kamu takut sama nenek mu, ini bukan jaman kuno nurut kalau di jodohin orang tua. Yang mau menikah itu kamu mas, seharusnya kamu yang nentuin siapa pasangan mu!" Bentak Laura yang sengaja memprovokasi Dewa. Dewa terdiam, saat mendengar perkataan Laura di sisi lain dia tidak bermaksud untuk menyakiti Laura, tapi dia juga tidak ingin membuat neneknya kecewa. "Aku tidak ingin berdebat Laura, beri aku waktu untuk membereskan semua. Sekarang aku harus pulang jaga dirimu baik-baik," Dewa pamit. Laura yang masih berdiri mematung pun terlihat sangat kesal dan marah, setelah Dewa pergi dari apartemennya. Tidak terima dengan status Revan yang sudah beristri wanita itu pun meraih beberapa barang yang ada di dekatnya lalu melemparkannya ke sembarang arah. "Aaakkh!" kurang ajar berani sekali dia mas Dewa mengkhianati aku, tidak aku tidak akan membiarkan ja-lang itu memiliki mas Dewa," teriak Laura membuat Rini yang sedang ada di dapur pun kaget. P
Rini akhirnya menemukan identitas Arumi sesuai keinginan Laura, setelah dia mencari beberapa album prewedding di akun media sosial Dewa. "Nona Laura, lihatlah aku sudah menemukan wanita itu," teriak Rini yang terlihat begitu antusias. Laura yang sedang duduk merias dirinya pun sejenak dia menghentikan aktifitasnya, setelah asisten pribadinya itu menemukan wanita yang sudah membuatnya marah dan kesal. "Bawa ke sini, aku ingin melihatnya!" perintah Laura. Rini beranjak dari sofa, lalu dia membawa laptop lalu memperlihatkan foto pernikahan Dewa dan Arumi yang menjadi trending topik beberapa waktu lalu. Laura menatap tajam penuh kebencian saat melihat Arumi yang berdiri di samping lelaki yang sangat dia cintai. "Dasar wanita penggoda, berani sekali dia mengambil posisi yang seharusnya menjadi milik ku," Geram Laura mengepalkan kedua tangan sembari menggertakkan gigi menahan emosi yang sudah membakar dirinya, rasanya ingin sekali dia menjambak rambut Arumi jika ada di depannya.
Keesokan harinya, Hera sangat terkejut saat mendengar perkataan sang Dokter setelah mengetahui hasil medis yang lebih baru jika pak Harun terserang struk ringan juga membuat wanita paruh baya itu kecewa. "Dok! sampai kapan suami saya mengalami struk seperti ini?" Hera memastikan, karena ia sangat lelah saat membayangkan bagaimana mengurusnya juga. "Kami tidak bisa memastikan kapan pasien bisa sembuh total, dan sangat disarankan sekali harus sering cek up, dan di bantu dengan dukungan keluarga juga agar pasien memiliki semangat yang tinggi untuk membantu rasa ingin sembuhnya," imbuh sang Dokter. Hera mengerucutkan bibirnya, dia sangat kesal karena harus banyak menghabiskan banyak waktu dan banyak uang yang harus di keluarka Meskipun ragu, Hera memberanikan diri untuk bertanya apakah pak Harun sudah bisa di bawa pulang. Tentu saja Dokter tidak setuju dan perlu beberapa hari lagi untuk pak Harun di rawat. . "Baiklah Dokter, saya akan mendiskusikan dulu dengan anak-anak saya
Hera terkejut, saat melihat ada beberapa pria berjas hitam tengah berada ruang resepsionis, dia begitu penasaran hingga perlahan menghampiri. Baru saja akan bertanya, salah satu dari pria berjas hitam itu menghampirinya, lalu menjelaskan jika bos mereka telah membayar lunas semua biaya pengobatan. Membuatnya sangat kecewa karena tidak bisa mencurangi-nya. "Nyonya, biaya pengobatan pak Harun sudah di lunasi tuan Dewa berpesan agar anda tidak lagi menelpon dan mengirim pesan pada nona Arumi, jika ada hal lain lagi anda bisa menghubungi kami," peringat salah satu dari ke empat pengawal Dewa. Hera menggangguk dan mengiyakan semua perintah pria itu, bahkan dia juga mengucapkan terima kasihnya pada pria kepercayaan Dewa. Setelah perintah sang tuan di laksanakan, para pengawal itu pergi. Hera yang masih mematung terlihat sangat kecewa karena tidak bisa menyelipkan uang biaya rumah sakitnya. "Sial, kenapa tidak Arumi yang datang ke sini, setidaknya aku bisa berbohong dan meminta
"Arumi! aku tahu kamu masih belum bisa melupakan Dewa, tapi lebih baik kamu mencoba untuk membuka hati bagi pria lain yang lebih menghargai mu, termasuk aku. Aku sudah lama menyukai mu jadi maukah kamu menerima cinta ku," Adrian mengungkapkan perasaannya untuk yang kesekian kalinya. Arumi menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkanya pelan. Sebenarnya dia merasa sangat risih setiap kali Adrian mengungkapkan perasaannya. Karena bagi Arumi kepercayaan bagi seorang pria untuk saat ini sangatlah sulit. "Arumi! bagaimana apakah kamu mau menjadi pacar ku. Aku tidak peduli jika kamu hanya memanfaatkan aku demi menghindari Dewa jika kalian bertemu suatu hari nanti," Celetuk Adrian yang berusaha meyakinkan Arumi agar mau menerima cintanya. Arumi terdiam merenung sejenak, saat mendengar Adrian yang terus memohon agar mau menerima ungkapan cintanya. "Kamu setuju kan?" Adrian memastikan lagi, Arumi merasa tidak enak hati padahal sudah beberapa kali dia menjelaskan jika dirinya tidak in
Disebuah kafe, Adrian mengajak Arumi masuk ke sana, setelah singgah ke restoran tempat favoritnya sudah tutup membuat mereka terpaksa memilih kafe yang masih buka di pusat kota. "Arumi, gimana kalau kita makan di sini saja apa tidak apa-apa?" tanya Adrian memastikan lebih dulu. Arumi yang masih mengedarkan pandangan di area luar kafe, dia merasa sedikit tidak enak hati berharap jika dirinya tidak akan bertemu Dengan orang-orang yang telah menjadi bagian dari masa lalunya. Melihat Arumi yang masih berdiri mematung seolah terlihat bimbang, membuat kedua alis Adrian terangkat penuh keheranan. Lalu memberanikan diri bertanya apa yang wanita cantik yang ada di depannya itu terlihat resah Arumi pun menyahut dan menyanggah pertanyaan Adrian. "Aku tidak apa hanya saja tempat ini amankan?" Arumi memastikan lagi. Adrian hanya menarik nafas dalam-dalam, lalu dia berusaha meyakinkan pada Arumi, jika dia tidak perlu sungkan lagi selama masih ada dirinya di samping. "Arumi! selama aku
Setelah menunggu sekitaran dua puluhan menitan, Adrian sangat terkejut saat Arumi mulai membuka pintu dan terlihat sudah siap untuk berangkat. "Mas Adrian! maafkan aku, pasti sudah menunggu lama ya?" Arumi merasa tidak enak hati. Tentu saja Adrian menjawab jika dia tidak keberatan sama sekali. Tak ingin rencananya gagal Adrian tanpa ragu segera mengajak Arumi pergi ke Resto yang sudah dia booking. "Sudah siap kan? sekarang lebih baik kita pergi keburu malam." "Iya, mas. Tapi aku tidak bisa lama-lama karena beberapa contoh desain untuk besok belum selesai," Arumi sengaja mewanti-wanti lebih dulu. Sebagai teman dan bos pun Adrian setuju, dan berjanji jika mereka tidak akan lama berada di luar. Setelah sepakat mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil saat supir pribadi Adrian membukakan pintu untuk sang tuan. "Tuan, nona silahkan," ujar sang supir sembari membungkukkan badan dengan penuh hormat. Adrian dan Arumi duduk di jok belakang. Suasana di antara mereka terlihat sa
Nyonya Retha menatap tajam Dewa, dia tidak pernah menyangka jika putranya begitu lancang melawan dirinya. Padahal selama ini selalu patuh dan selalu memprioritaskan dirinya. "Dewa! jangan membantah ibu, apa yang ibu pilihkan itu yang terbaik untuk mu," Bentaknya. Dewa yang saat ini tengah merasakan kekacauan di dalam hatinya, kini dia memilih untuk pergi keluar tanpa menghiraukan lagi perintah yang sudah membuatnya sangat muak. "Dewa! tunggu, ibu belum selesai berbicara," panggil nyonya Retha dengan nada tinggi dan menatap tajam pada putra sulungnya. Saat perkataan tidak di gubris. Nyonya Rima yang baru keluar dari kamarnya, wanita tua itu di dampingi kedua pelayan lalu menghampiri Margaretha dan menegurnya karena menurutnya sikapnya terlalu berlebihan. "Retha! lebih baik kamu jangan selalu menekan Dewa, bagaimana pun juga dia sudah dewasa dan tahu kebahagiaan untuk dirinya sendiri," Protes Nyonya Rima menatap kesal putrinya. Margaretha mendelik, dia merasa jika dirinya
Suster Rini mencoba untuk melihat sosok pria yang ada di dalam foto yang di pegang oleh Excel, terlihat sangat tampan dan gagah. "Pria ini kenapa terasa tidak asing ya?" gumam Suster Rini sembari memutar kedua bola matanya. Excel menatap suster Rini, lalu jagoan kecil itu bertanya karena penasaran. "Suster!" panggil Excel dengan nada gemasnya. Seketika suster Rini terbuyar dari lamunannya, lalu duduk dan jongkok. "Iya ada apa Excel?" sahut suster Rini sembari mengelus kepala jagoan kecil itu. "Suster kenal tidak sama om tampan ini? ko bisa ada di lemari mommy ya?" tanya Excel penasaran. Suster Rini tersenyum lalu dia menjawab, jika tidak mengenal pria itu akan tetapi wanita itu sedikit mulai menatap jelas foto sang pria dengan wajah Excel yang memiliki kemiripan. "Suster gak tahu anak manis, tapi nanti akan coba suster cari tahu ya, sekarang makan dulu biar cepat besar dan nanti bisa cari dady gimana?" bujuk suster Rini sembari menyodorkan makanan di atas sendok. Excel
"Cukup Laura! berhenti berteriak di depan ku!" Dewa menghardik Laura, di saat kekasih di masa kecilnya itu terus menuntut untuk menikah membuatnya semakin emosi sampai memegang kepala yang masih terasa sakit dan pusing karena pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Laura tergugu, baru kali ini dia melihat ekspresi Dewa yang sangat marah. Padahal selama mereka pacaran dulu tidak pernah membentak membuat wanita berprofesi sebagai model itu semakin tidak tenang. "Tidak bisa! jangan menyuruh aku untuk diam, kesabaran aku sudah habis mas. Aku kembali hanya untuk kami demi meneruskan impian masa depan kita," Ungkap Laura dengan keinginannya. Semakin di desak Dewa semakin emosi, apa lagi dia yang tidak suka di atur oleh seorang wanita membuatnya terpaksa mengucapkan peringatan untuk uang kedua kalinya di saat mereka berdua beradu argument. "Berhenti! atau aku tidak akan mengijinkan mu menemui ku di mana pun berada," Ancam Dewa terlihat serius. Seketika Laura terdiam dan
Arumi tercengang, saat melihat dan mendengar pertanyaan cinta Adrian yang membuatnya tak habis pikir dan sulit untuk di percaya, karena selama ini sosok lelaki yang ada di depannya itu telah ia anggap sebagai Kaka senior tidak lebih dari itu. "Arumi! apa kamu mendengar ku?" Adrian memegang erat tangan Arumi, sembari menatap dalam tanpa berkedip sedikit pun. Keduanya saling menatap satu sama lain, terutama Adrian, seolah tak ingin melepaskan pandanganya walaupun sebentar saja. Berbeda hal dengan Arumi. Wanita cantik itu berusaha memalingkan wajah ke samping. Rasanya begitu berat untuk menjawab tapi ia memberanikan diri walaupun tidak tahu jawabannya akan di terima atau tidak oleh Adrian. Setelah menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan, Arumi memberikan sebuah jawaban. "Mas Adrian! kamu adalah pria baik, rasanya sangat cocok jika mencari seorang gadis di luar sana yang masih single, tidak seperti aku." Lirih Arumi yang merasa sangat insecure. Namun yang jelas dalam
Adrian tidak yakin saat mendengar perkataan Arumi, yang sudah tidak peduli lagi pada Dewa. Karena terdengar dari nada suaranya yang penuh dengan keterpaksaan. "Benarkah seperti itu? apa kamu tidak marah melihat berita skandal tentang mereka?" Adrian memastikan kembali. Arumi rasanya sangat sesak setiap kali ada orang yang membahas tentang Dewa, yang sudah pelan dia lupakan meskipun ada luka hati yang sangat sulit untuk dia sembuhkan. "Cukup tuan, tolong jangan bahas tentang mereka lagi," Pinta Arumi dengan nada sedikit tinggi. Untuk yang pertama kalinya, Adrian sangat terkejut saat melihat Arumi sampai marah dan terlihat sangat serius. "Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan membahas tentang dia lagi," Sesal Adrian. Arumi tidak banyak bicara lagi, satu panggilan dari baby sisternya membuat dia begitu antusias, karena pasti jagoan kecilnya yang ingin menelpon. Setelah menjaga jarak di saat mengangkat telepon dari Excel, Arumi terlihat sangat senang mengingat beberapa jam y
Dewa menghela nafas jengah, saat Laura terus menuntut agar segera menikahinya. Tak ingin banyak bicara lelaki tampan itu pun keluar dari kamar tanpa bicara lagi. "Mas Dewa! tunggu," Laura tidak terima di tinggal begitu saja. Dia berjalan mengikuti Dewangga. Hingga terlihat beberapa kelompok paparazi yang sudah sigap mencari bahan berita terutama seorang Dewa, selain di kenal sebagai CEO muda yang tengah jadi perbincangan hangat di khalayak umum. Terutama sejak berita sang istri pergi. Dewa terkejut, saat melihat para wartawan itu menghadang dirinya dengan beberapa bidik kamera, dan mereka juga melontarkan beberapa pertanyaan padanya. "Tuan Dewa! kenapa anda dan nona keluar dari ruangan kamar yang sama? jangan bilang kalian berdua sudah merajut tali kasih kembali?" celetuk salah satu wartawan tanpa ragu. "Iya benar, apa kalian sudah bersama lagi? lalu bagaimana dengan nona Arumi?" sambung karyawan lainnya. Dewa semakin kesal saat melihat dan mendengar pertanyaan para war