"Owh, sayang. Kau hebat sekali." Suara desahan Rania terdengar nyaring di dalam kamar hotel, saat Daniel tengah memandu permainan olah raga ranjang. "Kau juga luar biasa sayang," Balas Daniel yang sama mengeram, kedua insan itu terlihat tengah melepas rindu setelah sekian lama bersandiwara menjadi kedua orang asing di depan Arumi. Setelah mereka berdua mencapai puncak kenikmatan surga dunia, seketika tubuh Daniel ambruk tepat di samping Rania dengan nafas yang terengah-engah. Serta keringat yang bercucuran membasahi seluruh tubuhnya Seringai terpancar di wajah Rania, jemari lentiknya menggerayangi dada bidang Daniel dengan penuh kebanggaan "Akhir setelah lama aku kita berpura-pura mulai saat ini dan seterusnya kita tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi dengan hubungan kita ini mas," gumam Rania seraya menyandarkan wajah di dada bidangnya. Mendengar perkataan Rania, Daniel pun ikut senang dan bahagia karena dia sudah tidak perlu lagi bersandiwara menjadi pacar yang baik untuk Ar
Arumi sedikit tidak nyaman saat melihat Dewa menatap dirinya dengan tatapan tidak seperti biasanya. Dengan cepatnya ia memakan makanan yang sudah di pesan oleh Dewa tadi. "Aku akan memakannya, tuan tidak perlu menatap ku sampai segitunya," cicit Arumi yang perlahan menyapa makan yang ada di tangan Dewa. Dewa kembali fokus dari lamunannya, lalu menyangkal semua perkataan Arumi yang sebenarnya seperti itu. "Menatap mu? sangat kepedean sekali," Decih Dewa yang tak sengaja mengalihkan pandangannya. "Kalau gak berasa kenapa sewot, santai saja tuan," gumam Arumi sembari menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha untuk menutupi apa yang sudah dia ketahui tadi dari Rasti. Suara ponsel Dewa kembali berdering, membuat lelaki tampan itu segera mengusap layar ponsel dan membaca satu pesan yang membuatnya sangat terkejut. Bahkan wajah tampannya terlihat pucat. Tak hanya membaca pesan, satu panggilan pun kembali berdering membuat Dewa meminta Rudi untuk menghentikan mobilnya. Dan sebagai
Baru saja Arumi ingin membuka pintu, terlihat Dewa yang buru-buru kembali membuat Arumi tidak jadi untuk menyusulnya. Dan kembali duduk seperti semula. Suasana di dalam mobil terasa hening dan canggung saat Dewa menerima telepon dan pesan dari Laura. Tanpa ingin membuang waktu lagi, Dewa memberi perintah pada asistennya agar segera melajukan mobilnya lagi. Arumi tak sengaja melihat wajah Dewa di sudut matanya, terlihat pucat dan panik membuat dia semakin penasaran dengan apa terjadi pada suami kontraknya itu. Meskipun ragu ia memberanikan diri untuk bertanya. "Siapa yang menelpon mu tuan? kenapa terlihat panik dan tegang?" tanya Arumi yang sangat penasaran. Dewa berusaha untuk tetap tenang dan tidak berani membahas tentang Laura, karena dia tidak ingin Arumi sampai berlarut memikirkannya dengan Laura. "Hanya kolega bisnis saja," jawab Dewa dengan singkat dan sikap dinginnya "Owh, hanya kolega bisnis." Arumi tersenyum getir, lalu dia kembali mengambil posisi duduk yang m
Wijaya Grup Arumi terkejut, karena mulai hari ini dia akan satu ruangan dengan Dewa. Membuat ia merasa tidak nyaman karena tidak memiliki privasi atau pun waktu untuk sendiri. Melihat Arumi yang masih mematung di depannya, membuat Dewa tak sungkan untuk menegurnya. "Arumi! kenapa kamu malah diam duduk dan aku ingin kamu menunjukkan kemampuan mu. Aku belum melihat jelas kinerja mu tunjukkan pada ku, apa kamu memang layak jadi seorang sekertaris?" Ledek Dewa yang sengaja ingin menguji. Seketika Arumi tersulut emosi, saat mendengar perkataan Dewa yang membuatnya kesal. Tapi tentu saja ia merasa lebih tertantang untuk menunjukan tentang kemampuan nya karena tidak ingin di remehkan. Dengan helaan nafas yang panjang, Arumi pun tentu berusaha menunjukkan kemampuannya. "Baiklah, memangnya tuan ingin aku melakukan apa?" tanya Arumi dengan penuh kepercayaan diri. Dewa melempar pelan, satu dokumen pendapatan dan pengeluaran keuangan perusahaan lalu meminta Arumi untuk memperbarui
Arumi menyergitkan dahi, dia terkejut saat sang ayah mengirimkan pesan tentang Daniel yang meminta kompensasi yang sangat mengejutkan atas batalnya pernikahan mereka. "Mas Daniel keterlaluan, bisa-bisanya dia memanfaatkan situasi seperti ini," geram Arumi tak terima dengan kedua tangan yang terkepal menahan emosi yang saat ini menyelimuti dirinya saat ini. Dewa yang baru saja membuka laptopnya, ia tak sengaja melihat ekspresi Arumi yang terlihat sangat marah membuatnya sedikit cemas dan khawatir mengingat Arumi saat ini sedang mengandung darah dagingnya. Meskipun ragu, Dewa melontarkan satu pertanyaan pada Arumi dengan nada dinginnya. "Arumi! ada apa? kenapa kamu malah bengong bukankah aku meminta mu untuk menyalin semua data-data baru," peringat Dewa dengan nada sindiran. Arumi terbuyar dari lamunannya, lalu melirik ke arah Dewa dengan perasaan tidak enak hati. Lalu spontan menjawab. "Ti-tidak ada apa-apa," jawab Arumi dengan nada lirih dengan kedua bola mata yang berkaca
Disebuah Bandara Kota M. Terlihat wanita yang berpenampilan seksi belahan dada rendah, dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Dia berjalan dengan sangat menggoda di iringi asisten pribadinya di belakang. "Nona Laura, apa tuan Dewa akan menjemput kita?" tanya Rini melihat sekitar bandara sembari menderet koper majikannya. "Tentu saja tidak, karena aku sengaja pulang lebih awal karena ingin memberi kejutan untuk pacar ku," jawab Laura tersenyum penuh semangat setelah kembali dari Paris. Rasanya Laura sudah tak sabar ingin menemui Dewa, kekasih yang sangat dia cintai. Berharap kepulangannya membuat Dewa senang dan tidak marah lagi padanya. Melihat jarum jam yang berjalan sangat cepat, kini Laura dan asistennya pun di jemput oleh supir pribadinya. Kepulangannya dari paris sengaja ia rahasiakan dari Dewa. Mengingat beberapa hari lagi adalah ulang tahun hubungannya dengan Dewa yang sudah genap tiga tahun ini. Laura memberikan perintah pada para asisten da
Dewa gelagapan saat Laura menghubunginya, melalui video call, lelaki tampan itu tampak bingung dengan sikapnya saat bertatapan dengan kekasih yang belum tahu tentang statusnya saat ini. "Mas Dewa! ko bengong? senang tidak aku banyak waktu luang menghubungi mu?" Laura tersenyum senang seraya melambaikan tangannya. Dewa berusaha tetap tenang, mungkin setelah nanti mereka bertemu secara langsung dia akan menceritakan semua yang telah terjadi padanya.. "Tentu saja aku senang, apa pekerjaan mu sudah selesai di sana?" sahut Dewa yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Jauh dalam lubuk hati Dewa terlihat sangat panik dan cemas. "Iya mas, semua pekerjaan ku sudah beres. Setelah ini aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mu," Ungkap Laura dengan perasaan tak sabarnya ingin segera bertemu untuk melepas rindu yang selalu menyiksa diri beberapa bulan ini. Ketika mereka tengah asyik mengobrol tiba-tiba saja Dewa mendapatkan satu pesan masuk dari neneknya. Membuat ia terpaksa
"Berani sekali kau berbicara seperti itu pada Arumi!" Dewa mengeram, ia meraih leher Daniel dan mencekiknya sampai wajah pria itu membiru. Arumi terkejut saat melihat sorot mata elang Dewa, yang seakan ingin membunuh. Mengingat nenek Rima yang begitu menjaga image cucunya membuat Arumi pun segera menghentikan. "Mas Dewa! hentikan, jangan kotori tangan mu untuk melukai dia," kata Arumi mengingatkan dan menahan lengan Dewa. Seketika Dewa melepaskan tangannya, Jika bukan karena Arumi dia begitu enggan. Daniel tersungkur ke bawah lantai. Sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah karena satu kepalan tangan yang di layangkan oleh Dewa. "Mas Daniel, apa kamu tidak apa-apa ?" Rania segera menghampiri dan membantu untuk membangunkan kekasihnya itu. "Sakit, tidak papa apanya," Daniel menatap tajam pada Dewa. Dan tanpa ragu Dewa mengingatkan pria itu agar tidak berbicara sembarang lagi pada Arumi. "Jika bukan Arumi yang meminta, aku tidak akan melepaskan mu! sekali lagi kau berani
Arumi terlihat sangat cemas saat ia mengetahui jika besok putranya akan ada di kota ini, rasa takut kehilangan dalam hatinya mulai menyeruak membuatnya gelisah dan tak tenang. Adrian yang baru selesai memperbaiki mobilnya, kini dia menghampiri Arumi dan memberitahukan jika sekarang mereka sudah bisa pergi lagi setelah tadi dia tidak jadi makan di kafe pertama. "Arumi! Mobilnya sudah aku perbaiki tadi ada kabel yang putus, sekarang ayo kita cari tempat makan di sekitaran sini," ajak Adrian yang terpaksa berbohong. "Syukurlah, kalau sudah bagus lagi. Tapi tidak pergi juga tidak apa-apa masih ada mie instan di dalam," Arumi menolak secara halus, mengingat dirinya yang tidak ingin membuat repot. Adrian tidak ingin melewatkan moment saat berdua, dia tidak ingin hanya karena tadi ada Dewa. Hal baiknya dengan Arumi sampai gagal. "Arumi! Jangan membuat aku merasa bersalah. Please ayo pergi, sekalian kamu melepas rindu di kota kelahiran," bujuk Adrian menatap dalam wanita yang sudah
"Maafkan kami nyonya besar, tuan sudah kami ingatkan hanya saja beliau..." Belum selesai Doni menjelaskan Nyonya Margaretha seolah tidak ingin mendengar, hingga membuat wanita paruh baya itu pun mengusir. "Aku tidak ingin ada lain kali Dewa seperti ini lagi, sekarang cepat pergi, suruh pelayan menyiapkan sup pereda mabuk," Tunjuk Nyonya Retha seraya mengarahkan jari telunjuk ke arah pintu. Doni tidak berani lagi menjawab atau membantah lagi, dengan penuh hormat lelaki berjas hitam itu pun segera undur diri melaksanakan perintah. "Arumi! tunggu kenapa kamu pergi?" Dewangga terus meracau dalam kondisinya yang mabuk berat. Nyonya Retha menggelengkan kepala dia menatap tajam ke arah putra sulungnya, membuatnya tak habis pikir karena sudah beberapa tahun lamanya masih mengingat sosok menantu yang tidak dia sukai. "Astaga Dewa! kamu masih memikirkan Arumi? wanita itu pasti sudah lari dengan pria lain, lebih baik kamu menikah dan memulai hidup baru dengan Laura," Omel Nyonya Re
Bibir Adrian terasa terkunci saat Arumi melontarkan pertanyaan padanya. Tapi dia tidak ingin jika sampai Dewa melihat keberadaannya saat ini. "Sudah ikut saja, ceritanya panjang nanti saja aku ceritakan," Adrian meraih dan memegang erat tangan Arumi dengan langkah yang tergesa menuju ke arah mobil. Dewangga yang tak sengaja melirik ke arah samping, lelaki tampan yang tengah mabuk itu terkejut saat melihat sosok wanita yang mirip sekali dengan istrinya. Hingga membuat dirinya beranjak dari tempat duduk dan berusaha untuk mengejarnya. "Arumi!" Panggil Dewangga, dengan pandangan buram dan kepala yang terasa pusing dan sakit karena pengaruh alkohol. Tommy dan Rian terkejut, mereka sedikit cemas saat melihat sahabatnya tiba-tiba saja berjalan ke arah pintu keluar sembari memanggil nama mantan istrinya. "Arumi! itu kamu kan? tolong jangan pergi," Teriak Dewangga sembari berjalan dengan langkah yang sempoyongan dan hampir terjatuh. Beruntung Tommy dan Rian segera menghampiri d
"Arumi! aku tahu kamu masih belum bisa melupakan Dewa, tapi lebih baik kamu mencoba untuk membuka hati bagi pria lain yang lebih menghargai mu, termasuk aku. Aku sudah lama menyukai mu jadi maukah kamu menerima cinta ku," Adrian mengungkapkan perasaannya untuk yang kesekian kalinya. Arumi menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkanya pelan. Sebenarnya dia merasa sangat risih setiap kali Adrian mengungkapkan perasaannya. Karena bagi Arumi kepercayaan bagi seorang pria untuk saat ini sangatlah sulit. "Arumi! bagaimana apakah kamu mau menjadi pacar ku. Aku tidak peduli jika kamu hanya memanfaatkan aku demi menghindari Dewa jika kalian bertemu suatu hari nanti," Celetuk Adrian yang berusaha meyakinkan Arumi agar mau menerima cintanya. Arumi terdiam merenung sejenak, saat mendengar Adrian yang terus memohon agar mau menerima ungkapan cintanya. "Kamu setuju kan?" Adrian memastikan lagi, Arumi merasa tidak enak hati padahal sudah beberapa kali dia menjelaskan jika dirinya tidak in
Disebuah kafe, Adrian mengajak Arumi masuk ke sana, setelah singgah ke restoran tempat favoritnya sudah tutup membuat mereka terpaksa memilih kafe yang masih buka di pusat kota. "Arumi, gimana kalau kita makan di sini saja apa tidak apa-apa?" tanya Adrian memastikan lebih dulu. Arumi yang masih mengedarkan pandangan di area luar kafe, dia merasa sedikit tidak enak hati berharap jika dirinya tidak akan bertemu Dengan orang-orang yang telah menjadi bagian dari masa lalunya. Melihat Arumi yang masih berdiri mematung seolah terlihat bimbang, membuat kedua alis Adrian terangkat penuh keheranan. Lalu memberanikan diri bertanya apa yang wanita cantik yang ada di depannya itu terlihat resah Arumi pun menyahut dan menyanggah pertanyaan Adrian. "Aku tidak apa hanya saja tempat ini amankan?" Arumi memastikan lagi. Adrian hanya menarik nafas dalam-dalam, lalu dia berusaha meyakinkan pada Arumi, jika dia tidak perlu sungkan lagi selama masih ada dirinya di samping. "Arumi! selama aku
Setelah menunggu sekitaran dua puluhan menitan, Adrian sangat terkejut saat Arumi mulai membuka pintu dan terlihat sudah siap untuk berangkat. "Mas Adrian! maafkan aku, pasti sudah menunggu lama ya?" Arumi merasa tidak enak hati. Tentu saja Adrian menjawab jika dia tidak keberatan sama sekali. Tak ingin rencananya gagal Adrian tanpa ragu segera mengajak Arumi pergi ke Resto yang sudah dia booking. "Sudah siap kan? sekarang lebih baik kita pergi keburu malam." "Iya, mas. Tapi aku tidak bisa lama-lama karena beberapa contoh desain untuk besok belum selesai," Arumi sengaja mewanti-wanti lebih dulu. Sebagai teman dan bos pun Adrian setuju, dan berjanji jika mereka tidak akan lama berada di luar. Setelah sepakat mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil saat supir pribadi Adrian membukakan pintu untuk sang tuan. "Tuan, nona silahkan," ujar sang supir sembari membungkukkan badan dengan penuh hormat. Adrian dan Arumi duduk di jok belakang. Suasana di antara mereka terlihat sa
Nyonya Retha menatap tajam Dewa, dia tidak pernah menyangka jika putranya begitu lancang melawan dirinya. Padahal selama ini selalu patuh dan selalu memprioritaskan dirinya. "Dewa! jangan membantah ibu, apa yang ibu pilihkan itu yang terbaik untuk mu," Bentaknya. Dewa yang saat ini tengah merasakan kekacauan di dalam hatinya, kini dia memilih untuk pergi keluar tanpa menghiraukan lagi perintah yang sudah membuatnya sangat muak. "Dewa! tunggu, ibu belum selesai berbicara," panggil nyonya Retha dengan nada tinggi dan menatap tajam pada putra sulungnya. Saat perkataan tidak di gubris. Nyonya Rima yang baru keluar dari kamarnya, wanita tua itu di dampingi kedua pelayan lalu menghampiri Margaretha dan menegurnya karena menurutnya sikapnya terlalu berlebihan. "Retha! lebih baik kamu jangan selalu menekan Dewa, bagaimana pun juga dia sudah dewasa dan tahu kebahagiaan untuk dirinya sendiri," Protes Nyonya Rima menatap kesal putrinya. Margaretha mendelik, dia merasa jika dirinya
Suster Rini mencoba untuk melihat sosok pria yang ada di dalam foto yang di pegang oleh Excel, terlihat sangat tampan dan gagah. "Pria ini kenapa terasa tidak asing ya?" gumam Suster Rini sembari memutar kedua bola matanya. Excel menatap suster Rini, lalu jagoan kecil itu bertanya karena penasaran. "Suster!" panggil Excel dengan nada gemasnya. Seketika suster Rini terbuyar dari lamunannya, lalu duduk dan jongkok. "Iya ada apa Excel?" sahut suster Rini sembari mengelus kepala jagoan kecil itu. "Suster kenal tidak sama om tampan ini? ko bisa ada di lemari mommy ya?" tanya Excel penasaran. Suster Rini tersenyum lalu dia menjawab, jika tidak mengenal pria itu akan tetapi wanita itu sedikit mulai menatap jelas foto sang pria dengan wajah Excel yang memiliki kemiripan. "Suster gak tahu anak manis, tapi nanti akan coba suster cari tahu ya, sekarang makan dulu biar cepat besar dan nanti bisa cari dady gimana?" bujuk suster Rini sembari menyodorkan makanan di atas sendok. Excel
"Cukup Laura! berhenti berteriak di depan ku!" Dewa menghardik Laura, di saat kekasih di masa kecilnya itu terus menuntut untuk menikah membuatnya semakin emosi sampai memegang kepala yang masih terasa sakit dan pusing karena pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Laura tergugu, baru kali ini dia melihat ekspresi Dewa yang sangat marah. Padahal selama mereka pacaran dulu tidak pernah membentak membuat wanita berprofesi sebagai model itu semakin tidak tenang. "Tidak bisa! jangan menyuruh aku untuk diam, kesabaran aku sudah habis mas. Aku kembali hanya untuk kami demi meneruskan impian masa depan kita," Ungkap Laura dengan keinginannya. Semakin di desak Dewa semakin emosi, apa lagi dia yang tidak suka di atur oleh seorang wanita membuatnya terpaksa mengucapkan peringatan untuk uang kedua kalinya di saat mereka berdua beradu argument. "Berhenti! atau aku tidak akan mengijinkan mu menemui ku di mana pun berada," Ancam Dewa terlihat serius. Seketika Laura terdiam dan