Arumi menyergitkan dahi, dia terkejut saat sang ayah mengirimkan pesan tentang Daniel yang meminta kompensasi yang sangat mengejutkan atas batalnya pernikahan mereka. "Mas Daniel keterlaluan, bisa-bisanya dia memanfaatkan situasi seperti ini," geram Arumi tak terima dengan kedua tangan yang terkepal menahan emosi yang saat ini menyelimuti dirinya saat ini. Dewa yang baru saja membuka laptopnya, ia tak sengaja melihat ekspresi Arumi yang terlihat sangat marah membuatnya sedikit cemas dan khawatir mengingat Arumi saat ini sedang mengandung darah dagingnya. Meskipun ragu, Dewa melontarkan satu pertanyaan pada Arumi dengan nada dinginnya. "Arumi! ada apa? kenapa kamu malah bengong bukankah aku meminta mu untuk menyalin semua data-data baru," peringat Dewa dengan nada sindiran. Arumi terbuyar dari lamunannya, lalu melirik ke arah Dewa dengan perasaan tidak enak hati. Lalu spontan menjawab. "Ti-tidak ada apa-apa," jawab Arumi dengan nada lirih dengan kedua bola mata yang berkaca
Disebuah Bandara Kota M. Terlihat wanita yang berpenampilan seksi belahan dada rendah, dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Dia berjalan dengan sangat menggoda di iringi asisten pribadinya di belakang. "Nona Laura, apa tuan Dewa akan menjemput kita?" tanya Rini melihat sekitar bandara sembari menderet koper majikannya. "Tentu saja tidak, karena aku sengaja pulang lebih awal karena ingin memberi kejutan untuk pacar ku," jawab Laura tersenyum penuh semangat setelah kembali dari Paris. Rasanya Laura sudah tak sabar ingin menemui Dewa, kekasih yang sangat dia cintai. Berharap kepulangannya membuat Dewa senang dan tidak marah lagi padanya. Melihat jarum jam yang berjalan sangat cepat, kini Laura dan asistennya pun di jemput oleh supir pribadinya. Kepulangannya dari paris sengaja ia rahasiakan dari Dewa. Mengingat beberapa hari lagi adalah ulang tahun hubungannya dengan Dewa yang sudah genap tiga tahun ini. Laura memberikan perintah pada para asisten da
Dewa gelagapan saat Laura menghubunginya, melalui video call, lelaki tampan itu tampak bingung dengan sikapnya saat bertatapan dengan kekasih yang belum tahu tentang statusnya saat ini. "Mas Dewa! ko bengong? senang tidak aku banyak waktu luang menghubungi mu?" Laura tersenyum senang seraya melambaikan tangannya. Dewa berusaha tetap tenang, mungkin setelah nanti mereka bertemu secara langsung dia akan menceritakan semua yang telah terjadi padanya.. "Tentu saja aku senang, apa pekerjaan mu sudah selesai di sana?" sahut Dewa yang sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Jauh dalam lubuk hati Dewa terlihat sangat panik dan cemas. "Iya mas, semua pekerjaan ku sudah beres. Setelah ini aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama mu," Ungkap Laura dengan perasaan tak sabarnya ingin segera bertemu untuk melepas rindu yang selalu menyiksa diri beberapa bulan ini. Ketika mereka tengah asyik mengobrol tiba-tiba saja Dewa mendapatkan satu pesan masuk dari neneknya. Membuat ia terpaksa
"Berani sekali kau berbicara seperti itu pada Arumi!" Dewa mengeram, ia meraih leher Daniel dan mencekiknya sampai wajah pria itu membiru. Arumi terkejut saat melihat sorot mata elang Dewa, yang seakan ingin membunuh. Mengingat nenek Rima yang begitu menjaga image cucunya membuat Arumi pun segera menghentikan. "Mas Dewa! hentikan, jangan kotori tangan mu untuk melukai dia," kata Arumi mengingatkan dan menahan lengan Dewa. Seketika Dewa melepaskan tangannya, Jika bukan karena Arumi dia begitu enggan. Daniel tersungkur ke bawah lantai. Sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah karena satu kepalan tangan yang di layangkan oleh Dewa. "Mas Daniel, apa kamu tidak apa-apa ?" Rania segera menghampiri dan membantu untuk membangunkan kekasihnya itu. "Sakit, tidak papa apanya," Daniel menatap tajam pada Dewa. Dan tanpa ragu Dewa mengingatkan pria itu agar tidak berbicara sembarang lagi pada Arumi. "Jika bukan Arumi yang meminta, aku tidak akan melepaskan mu! sekali lagi kau berani
Disebuah Elite Kafe. Laura berjalan ke arah meja VIP no 23, dia begitu antusias saat menemui sahabat kekasihnya. Radit yang sudah menunggu cukup lama di sana. Lelaki itu terlihat sedikit cemas dan tidak enak hati. Tapi karena Laura terus memohon agar dia membantu, membuat ia tidak bisa menolak. "Radit! apa aku sudah lama menunggu?" tanya Laura menghampiri lalu duduk di di depan sahabat baik Dewa. Pertanyaan Laura membuyarkan fokus Radit, lalu pria itu berusaha untuk tetap tenang dan segera menjawab. "Tid-aak terlalu juga, mungkin baru sekitar tiga puluh menitan," jawab Radit dengan nada yang terbata-bata. Laura bernafas lega, karena akhirnya dia hanya terlambat sebentar. Mereka berdua duduk saling berhadapan. Radit yang merasa tidak enak hati karena sampai janjian dengan Laura tanpa sepengetahuan Dewa. Tapi dia berusaha untuk tenang dan setelah mempersilahkan Laura duduk. Suasana di antara mereka cukup akrab, tapi membuat Laura sudah tidak sungkan lagi meminta bantuan pad
"Iya kau tidak usah sungkan katakan saja jika ada yang perlu di bantu." Dewa membenarkan semua perkataan Arumi. Arumi perlahan mengangkat wajahnya lalu menatap dalam kembali lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. "Sebelumnya aku ingin berterima kasih pada tuan Dewa atas tawarannya, tapi sampai saat ini aku masih memikirkan kesehatan ayah," Balas Arumi tersenyum getir, dengan jemarinya yang meremas erat dressnya. Hati Arumi terasa sedikit sesak saat mendengar perkataan Dewa yang hanya mengatakan sebagai balas budi, wanita cantik itu baru menyadari jika selama ini Dewa hanya memikirkan tanggung jawabnya pada calon bayi mereka. Tanpa memikirkan hati dan perasaan dirinya. "Arumi, kenapa kamu harus sedih. Bukankah dari awal pernikahan ini untuk meredam skandal dan image tuan Dewa apa yang kamu harapkan," batin Arumi merutuki diri sendiri. Ketika keduanya tengah berbicara serius, tiba-tiba saja Hera yang baru saja datang menghampiri Arumi. Wanita paruh baya itu pun selalu tak p
"Arumi kesal dengan ibu dan saudara tirinya," jawab Dewa dengan singkat. Mendengar jawaban cucunya, nyonya Rima terlihat sangat kecewa. Karena bagaimana bisa Dewa begitu enteng menjawabnya. Padahal dia sudah mewanti-wanti agar Arumi tidak terlalu banyak lagi bergaul dengan ibu dan saudari tirinya yang tidak baik. "Dewa, seharusnya masalah istri mu kamu selesaikan sendiri, dia sedang mengandung calon pewaris keluarga kita, nenek tidak ingin terjadi sesuatu padanya," tuntut Nyonya Rima dengan penuh penekanan. Dewa tidak ingin membuat neneknya nya marah, apa lagi jika serangan jantungnya kembali kambuh, hingga membuatnya terpaksa mengalah. "Baik nek, maafkan Aku, Ku akan melarang Arum," sesal Dewa lalu pamit lalu berjalan menaiki tangga menuju ke arah kamarnya yang berada di lantai dua. Nyonya Rima menggelengkan kepala, dia begitu berharap jika Dewa dan Arumi bisa saling mencintai satu sama lain layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Mendengar kabar Laura yang sudah ke
"Laura!" Dewa terdiam, dia segera pergi menjauh dari Arumi untuk mengangkat telpon. Karena tidak ingin pembicaraan mereka terdengar yang akan membuat masalah untuk kondisi kandungan Arumi. "Tuan Dewa menerima telepon dari siapa? kenapa akhir-akhir ini dia selalu sembunyi-sembunyi," Arumi bertanya-tanya dalam hati seraya meremas selimut dengan erat. Setelah sampai di balkon, Dewa terlihat cemas lalu dia mengangkat telepon dari kekasihnya Laura yang sebenarnya sulit untuk dia hadapi apa lagi dengan statusnya sekarang. "Mas Dewa!" Panggilan suara manja Laura terdengar nyaring di telinga Dewa. Seketika wajah Dewa memucat keringat dingin pun mulai membasahi wajahnya. Lalu berusaha untuk tetap tenang dan menjawab seolah tidak ada apa-apa. "Laura! kenapa malam-malam seperti ini ada waktu menelpon?' Dewa sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Kening Laura berkerut penuh keheranan, dia merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya. Meskipun ragu Laura ragu tanpa sungkan mengung
"Arumi! aku tahu kamu masih belum bisa melupakan Dewa, tapi lebih baik kamu mencoba untuk membuka hati bagi pria lain yang lebih menghargai mu, termasuk aku. Aku sudah lama menyukai mu jadi maukah kamu menerima cinta ku," Adrian mengungkapkan perasaannya untuk yang kesekian kalinya. Arumi menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkanya pelan. Sebenarnya dia merasa sangat risih setiap kali Adrian mengungkapkan perasaannya. Karena bagi Arumi kepercayaan bagi seorang pria untuk saat ini sangatlah sulit. "Arumi! bagaimana apakah kamu mau menjadi pacar ku. Aku tidak peduli jika kamu hanya memanfaatkan aku demi menghindari Dewa jika kalian bertemu suatu hari nanti," Celetuk Adrian yang berusaha meyakinkan Arumi agar mau menerima cintanya. Arumi terdiam merenung sejenak, saat mendengar Adrian yang terus memohon agar mau menerima ungkapan cintanya. "Kamu setuju kan?" Adrian memastikan lagi, Arumi merasa tidak enak hati padahal sudah beberapa kali dia menjelaskan jika dirinya tidak in
Disebuah kafe, Adrian mengajak Arumi masuk ke sana, setelah singgah ke restoran tempat favoritnya sudah tutup membuat mereka terpaksa memilih kafe yang masih buka di pusat kota. "Arumi, gimana kalau kita makan di sini saja apa tidak apa-apa?" tanya Adrian memastikan lebih dulu. Arumi yang masih mengedarkan pandangan di area luar kafe, dia merasa sedikit tidak enak hati berharap jika dirinya tidak akan bertemu Dengan orang-orang yang telah menjadi bagian dari masa lalunya. Melihat Arumi yang masih berdiri mematung seolah terlihat bimbang, membuat kedua alis Adrian terangkat penuh keheranan. Lalu memberanikan diri bertanya apa yang wanita cantik yang ada di depannya itu terlihat resah Arumi pun menyahut dan menyanggah pertanyaan Adrian. "Aku tidak apa hanya saja tempat ini amankan?" Arumi memastikan lagi. Adrian hanya menarik nafas dalam-dalam, lalu dia berusaha meyakinkan pada Arumi, jika dia tidak perlu sungkan lagi selama masih ada dirinya di samping. "Arumi! selama aku
Setelah menunggu sekitaran dua puluhan menitan, Adrian sangat terkejut saat Arumi mulai membuka pintu dan terlihat sudah siap untuk berangkat. "Mas Adrian! maafkan aku, pasti sudah menunggu lama ya?" Arumi merasa tidak enak hati. Tentu saja Adrian menjawab jika dia tidak keberatan sama sekali. Tak ingin rencananya gagal Adrian tanpa ragu segera mengajak Arumi pergi ke Resto yang sudah dia booking. "Sudah siap kan? sekarang lebih baik kita pergi keburu malam." "Iya, mas. Tapi aku tidak bisa lama-lama karena beberapa contoh desain untuk besok belum selesai," Arumi sengaja mewanti-wanti lebih dulu. Sebagai teman dan bos pun Adrian setuju, dan berjanji jika mereka tidak akan lama berada di luar. Setelah sepakat mereka berdua bergegas masuk ke dalam mobil saat supir pribadi Adrian membukakan pintu untuk sang tuan. "Tuan, nona silahkan," ujar sang supir sembari membungkukkan badan dengan penuh hormat. Adrian dan Arumi duduk di jok belakang. Suasana di antara mereka terlihat sa
Nyonya Retha menatap tajam Dewa, dia tidak pernah menyangka jika putranya begitu lancang melawan dirinya. Padahal selama ini selalu patuh dan selalu memprioritaskan dirinya. "Dewa! jangan membantah ibu, apa yang ibu pilihkan itu yang terbaik untuk mu," Bentaknya. Dewa yang saat ini tengah merasakan kekacauan di dalam hatinya, kini dia memilih untuk pergi keluar tanpa menghiraukan lagi perintah yang sudah membuatnya sangat muak. "Dewa! tunggu, ibu belum selesai berbicara," panggil nyonya Retha dengan nada tinggi dan menatap tajam pada putra sulungnya. Saat perkataan tidak di gubris. Nyonya Rima yang baru keluar dari kamarnya, wanita tua itu di dampingi kedua pelayan lalu menghampiri Margaretha dan menegurnya karena menurutnya sikapnya terlalu berlebihan. "Retha! lebih baik kamu jangan selalu menekan Dewa, bagaimana pun juga dia sudah dewasa dan tahu kebahagiaan untuk dirinya sendiri," Protes Nyonya Rima menatap kesal putrinya. Margaretha mendelik, dia merasa jika dirinya
Suster Rini mencoba untuk melihat sosok pria yang ada di dalam foto yang di pegang oleh Excel, terlihat sangat tampan dan gagah. "Pria ini kenapa terasa tidak asing ya?" gumam Suster Rini sembari memutar kedua bola matanya. Excel menatap suster Rini, lalu jagoan kecil itu bertanya karena penasaran. "Suster!" panggil Excel dengan nada gemasnya. Seketika suster Rini terbuyar dari lamunannya, lalu duduk dan jongkok. "Iya ada apa Excel?" sahut suster Rini sembari mengelus kepala jagoan kecil itu. "Suster kenal tidak sama om tampan ini? ko bisa ada di lemari mommy ya?" tanya Excel penasaran. Suster Rini tersenyum lalu dia menjawab, jika tidak mengenal pria itu akan tetapi wanita itu sedikit mulai menatap jelas foto sang pria dengan wajah Excel yang memiliki kemiripan. "Suster gak tahu anak manis, tapi nanti akan coba suster cari tahu ya, sekarang makan dulu biar cepat besar dan nanti bisa cari dady gimana?" bujuk suster Rini sembari menyodorkan makanan di atas sendok. Excel
"Cukup Laura! berhenti berteriak di depan ku!" Dewa menghardik Laura, di saat kekasih di masa kecilnya itu terus menuntut untuk menikah membuatnya semakin emosi sampai memegang kepala yang masih terasa sakit dan pusing karena pengaruh alkohol yang belum sepenuhnya hilang. Laura tergugu, baru kali ini dia melihat ekspresi Dewa yang sangat marah. Padahal selama mereka pacaran dulu tidak pernah membentak membuat wanita berprofesi sebagai model itu semakin tidak tenang. "Tidak bisa! jangan menyuruh aku untuk diam, kesabaran aku sudah habis mas. Aku kembali hanya untuk kami demi meneruskan impian masa depan kita," Ungkap Laura dengan keinginannya. Semakin di desak Dewa semakin emosi, apa lagi dia yang tidak suka di atur oleh seorang wanita membuatnya terpaksa mengucapkan peringatan untuk uang kedua kalinya di saat mereka berdua beradu argument. "Berhenti! atau aku tidak akan mengijinkan mu menemui ku di mana pun berada," Ancam Dewa terlihat serius. Seketika Laura terdiam dan
Arumi tercengang, saat melihat dan mendengar pertanyaan cinta Adrian yang membuatnya tak habis pikir dan sulit untuk di percaya, karena selama ini sosok lelaki yang ada di depannya itu telah ia anggap sebagai Kaka senior tidak lebih dari itu. "Arumi! apa kamu mendengar ku?" Adrian memegang erat tangan Arumi, sembari menatap dalam tanpa berkedip sedikit pun. Keduanya saling menatap satu sama lain, terutama Adrian, seolah tak ingin melepaskan pandanganya walaupun sebentar saja. Berbeda hal dengan Arumi. Wanita cantik itu berusaha memalingkan wajah ke samping. Rasanya begitu berat untuk menjawab tapi ia memberanikan diri walaupun tidak tahu jawabannya akan di terima atau tidak oleh Adrian. Setelah menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya pelan, Arumi memberikan sebuah jawaban. "Mas Adrian! kamu adalah pria baik, rasanya sangat cocok jika mencari seorang gadis di luar sana yang masih single, tidak seperti aku." Lirih Arumi yang merasa sangat insecure. Namun yang jelas dalam
Adrian tidak yakin saat mendengar perkataan Arumi, yang sudah tidak peduli lagi pada Dewa. Karena terdengar dari nada suaranya yang penuh dengan keterpaksaan. "Benarkah seperti itu? apa kamu tidak marah melihat berita skandal tentang mereka?" Adrian memastikan kembali. Arumi rasanya sangat sesak setiap kali ada orang yang membahas tentang Dewa, yang sudah pelan dia lupakan meskipun ada luka hati yang sangat sulit untuk dia sembuhkan. "Cukup tuan, tolong jangan bahas tentang mereka lagi," Pinta Arumi dengan nada sedikit tinggi. Untuk yang pertama kalinya, Adrian sangat terkejut saat melihat Arumi sampai marah dan terlihat sangat serius. "Baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan membahas tentang dia lagi," Sesal Adrian. Arumi tidak banyak bicara lagi, satu panggilan dari baby sisternya membuat dia begitu antusias, karena pasti jagoan kecilnya yang ingin menelpon. Setelah menjaga jarak di saat mengangkat telepon dari Excel, Arumi terlihat sangat senang mengingat beberapa jam y
Dewa menghela nafas jengah, saat Laura terus menuntut agar segera menikahinya. Tak ingin banyak bicara lelaki tampan itu pun keluar dari kamar tanpa bicara lagi. "Mas Dewa! tunggu," Laura tidak terima di tinggal begitu saja. Dia berjalan mengikuti Dewangga. Hingga terlihat beberapa kelompok paparazi yang sudah sigap mencari bahan berita terutama seorang Dewa, selain di kenal sebagai CEO muda yang tengah jadi perbincangan hangat di khalayak umum. Terutama sejak berita sang istri pergi. Dewa terkejut, saat melihat para wartawan itu menghadang dirinya dengan beberapa bidik kamera, dan mereka juga melontarkan beberapa pertanyaan padanya. "Tuan Dewa! kenapa anda dan nona keluar dari ruangan kamar yang sama? jangan bilang kalian berdua sudah merajut tali kasih kembali?" celetuk salah satu wartawan tanpa ragu. "Iya benar, apa kalian sudah bersama lagi? lalu bagaimana dengan nona Arumi?" sambung karyawan lainnya. Dewa semakin kesal saat melihat dan mendengar pertanyaan para war