Elrick menatap pantulan dirinya di depan cermin besar kamarnya. Celana panjang dan kemeja yang serba longgar, serta jas yang baru sekali ini ia lihat mereknya, yang jelas bukan dari desainer ternama.
Belum lagi kacamata bulatnya, serta tompel buatan di pipi kanannya, “
Oh my God! Saya jadi terlihat nerd seperti ini, jangan sampai salah satu kolega saya melihat saya seperti ini!" gerutunya, lalu menghela napas kesal sebelum menambah lagi rentetan gerutuannya,
"Dan jas ini? Darimana kau mendapatkannya? Saya akan membakar pabriknya karena sudah membuat jas yang tidak berkualitas seperti ini!" geram Elrick kesal.
"Astaga, Tuan. Ini hanya sementara sampai kita mendapatkan kepastian tentang anak itu," timpal Jack sambil mendecakkan lidahnya.
Elrick langsung balik badan, dan memberikan tatapan tajam ke arah Jack, "Apa yang saya dengar barusan adalah gerutuanmu, Jack? Kalau kau sudah bosan bekerja dengan saya ... Ajukan segera surat pengunduran dirimu!" ancamya dengan nada dingin.
Jack langsung terlihat panik, "Tidak, Tuan. Saya tidak akan berani menggerutu pada anda. Tadi ada sisa makanan yang menyangkut di atas langit-langit mulut saya," elaknya.
"Baiklah, saya tidak akan menyuruhmu untuk mengundurkan diri. Tapi gajimu tetap akan saya potong!" tegas Jack, kemudian kembali menatap pantulan dirinya di cermin.
Sementara Jack, menghitung berapa kali bulan ini bossnya itu memotong gajinya, total potongannya hampir setengah dari gajinya.
"Kapan saya kayanya, Tuan? Kalau setiap bulan saya hanya menerima setengah dari gaji saya, karena setengahnya lagi habis anda potong tiap kali anda marah!" rutuk Jack lebih ke diri sendiri, tapi Elrick mendengarnya.
"Setengah gajimu saja sudah sebesar gaji CEO perusahaan lain, Jack! Jadi berhentilah menggerutu, atau saya akan benar-benar meminta surat pengunduran dirimu!" hardik Elrick, dan Jack langsung mengunci mulutnya rapat-rapat.
****
AS Group.
"Appa sudah menyeleksi calon asisten pribadi untukmu, Na. Sisanya Appa serahkan padamu untuk memilihnya, coba kamu cek emailmu!" seru Appa Alex, dan Aliana langsung membuka email-nya, terlihat lah tiga buah resume dari calon asisten pribadinya.
"Kenapa semuanya pria, Appa?" tanya Aliana.
"Itu karena selain mereka berpengalaman di bidangnya, mereka juga ahli beladiri, pemegang sabuk hitam lebih dari satu cabang beladiri. Jadi bisa sekalian menjagamu sayang," jawab Appa Alex.
"Aku sudah bisa karate. Eomma sendiri yang mengajarkanku," desah Aliana pelan, ia merasa Appanya terlalu mengkhawatirkannya.
"Bahkan Eommamu pemegang sabuk hitam karate, masih bisa di jebak pria hidung belang di kafe saat di Paris," ujar Appa Alex mengingatkan Aliana.
"Ya, Appa. Aku mengerti sekarang."
"Ya sudah, selamat bekerja. Jangan ragu bertanya pada Daddy kalau ada trouble."
"Baik."
Setelah memutus sambungan teleponnya, Aliana berdiri dari kursi kerjanya, lalu beranjak ke jendela besar yang memberikan pemandangan gedung-gedung pencakar langit, yang mendominasi area perkantoran ini.
"Pria ya? Aku masih trauma jika berhubungan dengan pria, selain keluargaku tentunya. Tapi wajar Daddy mengkhawatirkanku, mengingat apa yang pernah menimpaku tiga tahun lalu," gumam Aliana dalam hati.
Sejurus kemudian ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya, dari jumlah ketukannya, Aliana tahu sekretarisnya lah yang mengetuk pintu itu.
Pintu langsung terbuka, dan Cintya masuk dengan beberapa map di tangan kanannya."Ini data ketiga calon asisten pribadi anda, Bu Ana. Apa bisa kita mulai proses interview itu sekarang?" tanyanya.
Aliana kembali duduk di meja kerjanya, dan membuka lembar demi lembar catatan pengalaman panjang para pelamar posisi asisten pribadinya itu.
Job desk Asisten Pribadi atau Personal Assistant tidak lah mudah. Dengan ruang lingkup yang lebih luas dari seorang sekretaris, dan harus mengurus keperluan pribadi bossnya, seperti membaca dan membalas surat dari klien, dan menghandle akun media sosial bossnya.
Dan seorang Asisten Pribadi harus mempunyai kualifikasi yang tidak boleh kalah jauh dari bossnya. Itu makanya Aliana harus memilih sendiri Asisten Pribadinya, karena ia akan menghabiskan banyak waktu dengan asprinya nanti.
"Panggil yang pertama datang terlebih dahulu." perintah Aliana.
"Baik, Bu," balas Cintya.
Tidak lama setelah Cintya keluar dari ruang kerjanya, pintunya kembali di ketuk,
"Masuk!" teriak Aliana.
Aliana paling tidak suka kalau harus berteriak, maka dari itu tiap karyawan yang berhubungan langsung dengannya, memiliki jumlah ketukan yang berbeda-beda, tadi Aliana sudah menginstruksikan secara langsung kepada mereka.
Sampai akhirnya masuklah pria ketiga, yang terlihat berbeda sekali dengan dua pria sebelumnya yang terlihat tampan dan gagah seperti Asisten Pribadi pada umumnya. Pria ketiga ini memang jauh lebih tinggi dari kedua pria tadi, hanya saja pria ini mengenakan kacamata, dengan gaya rambut belah pinggir macam pria jaman dulu, hingga terlihat seperti seorang kutu buku. Tapi pengalaman yang pria itu miliki jauh lebih banyak dari pelamar sebelumnya.
Dan kalau kedua pria tadi tidak dapat mengalihkan perhatiannya dari Aliana, pria ini justru asik mengamati ruang kerja Aliana, seperti team Appraisal saja.
"Aku akan memilih pria ini, memang terlihat nerd dan kurang menarik, tapi setidaknya matanya tidak jelalatan seperti kedua pria tadi. Justru pria seperti ini lah yang akan lebih fokus bila diberi pekerjaan. Dia juga cenderung pendiam, jadi tidak akan membuatku pusing dengan segala tuntutannya," gumam Aliana dalam hati.
“Baiklah umm … " Aliana kembali melihat data diri pria itu,
"Ricko Vandenberg! Apa kau ada keturunan Belanda?" tanya Aliana.
Pria itu membetulkan letak kacamatanya sebelum menjawab Aliana, "Ibu saya orang Indonesia dan Ayah saya Belanda," jawabnya singkat.
"Bagus, menjawab sesuai dengan yang aku tanyakan, tanpa berbelit-belit, berarti dia hanya mengerjakan apa yang aku perintah, tanpa harus banyak drama lagi," ujar Aliana dalam hatinya.
"Saya tidak akan meragukanmu dengan banyaknya pengalamanmu ini. Saya hanya akan bertanya, siapkah kau bekerja satu kali dua puluh empat jam? tujuh hari seminggu dan tidak mengenal tanggal merah? Karena kamu harus tetap standby Jika sewaktu-waktu saya memerlukanmu, Itupun hanya bersiap-siap saja, jika ada pekerjaan dadakan nantinya."
Pria itu mengangguk dengan penuh antusias, "Iya saya setuju."
"Baiklah kalau begitu, besok kamu sudah bisa mulai kerja, dan di sanalah letak meja kerjamu!" seru Aliana lalu menunjuk meja kerja yang akan di tempati pria itu.
"Baik, Nona."
Aliana merapikan map berisi data pria itu, lalu menyerahkannya padanya, "Serahkan data ini ke bagian HRD, dan kamu sudah boleh langsung pulang," perintah Aliana.
Sekilas Aliana mendengar desahan kesal pria itu, tapi saat melihat wajah pria itu yang sedang tertunduk sambil mengambil map yang Aliana berikan tadi, Aliana jadi merasa kalau pendengarannya lah yang bermasalah.
"Saya permisi dulu kalau begitu, Nona. Sampai jumpa besok. Dan bisa saya pastikan, anda tidak akan menyesal karena telah memilih saya sebagai Asisten Pribadi anda!" seru pria itu penuh semangat.
Aliana mengibaskan tangannya dengan tidak sabar, "Iya, segera kasih berkas data itu ke HRD, atau kamu tidak akan bisa menerima gaji," kata Aliana dengan nada setengah mengusir.
Pria itu langsung balik badan, dan baru saja mengayunkan kakinya dua langkah ketika Aliana kembali memanggilnya.
“Ricko … "
pria itu balik badan ke arah Aliana, "Ya, Nona."
"Ketuk pintu dua satu dua tiap kali kamu mau masuk ke ruangan ini, supaya saya tahu kalau itu adalah kamu!" tegas Alaiana.
"Dua satu dua?" tanya pria itu dengan kening berkerut bingung.
"Ketuk pintu dua kali, jeda sebentar lalu ketuk satu kali, jeda sebentar lagi baru ketuk dua kali lagi."
"Oh I See, Saya akan selalu mengingat kode saya itu, Nona," sahut pria itu, kemudian melanjutkan lagi langkah kakinya hingga keluar dari ruangan kerja Aliana.
‘Kenapa aku melihat pria itu sepertinya orang yang angkuh ya? Ada kesan berkuasa di dalam dirinya, tapi mana mungkin pria itu berkuasa? Kalau iya, kenapa pria itu melamar pekerjaan untuk menjadi menjadi Asisten Pribadi alih-alih pria itu lah yang seharusnya memiliki Asisten Pribadi. Dan, Ya Tuhan, pria itu bahkan tidak mengucapkan terima kasih sedikit pun saat di terima bekerja di sini!’ gumam Aliana dalam hatinya dengan rasa dongkol.
Elrick membanting pintu Penthousenya hingga membentur dinding, dan menyebabkan suara benturan keras yang menggelegar sampai ke balkon samping kolam renang, tempat Jack sedang bersantai sambil menyesap secangkir Americanonya.Dengan tergopoh-gopoh Jack langsung menghampiri Elrick, dan mengambil tas kerjanya dari tangannya, "Bagaimana interviewnya, Tuan?" tanya Jack."Bagus yaa kau bisa duduk santai, sementara saya harus bekerja!" geram Elrick sambil membanting jasnya ke lantai.Jack memilih untuk diam, kemudian menunduk untuk mengambil jas itu dari lantai dan memindahkannya ke rak baju kotor, karena dalam keadaan bossnya yang seperti ini, mau beralasan apapun Jack akan tetap salah, dan ujung-ujungnya gajinya akan di potong lagi."Ambilkan aku champagne!" seru Elrick sambil menggulung lengan kemejanya, dan menjatuhkan dirinya di atas sofa."Tapi anda belum makan, Tuan." "Ambilkan saja cepat! Atau...""Baik, Tuan," sela Jack sebelum Elrick mengatakan akan memotong gajinya lagi, dan Ja
Kepribadian Introvert, pribadi yang fokus kepada pemikiran, perasaan, dan suasa hati yang berasal dari diri sendiri. Introvert bisa jadi karena faktor keturunan atau karena pernah trauma terhadap suatu. Dalam hal Aliana, Elrick belum tahu apa yang menyebabkan kecenderungan Aliana menjadi pribadi yang introvert. Dan sekarang sudah lebih dari dua jam wanita itu duduk di balik meja kerjanya, ia bekerja dalam keheningan, bahkan lalat terbang pun pasti akan terdengar dengan jelas.Elrick jadi sangsi, kalau Aliana adalah wanita yang sama dengan wanita yang menggairahkan itu, perbedaannya di antara keduanya sangat singnifikan.Tapi Elrick harus tetap membiarkan Aliana seperti itu, karena menurut yang ia baca, orang dengan kepribadian Introvert, normalnya mendapatkan ketenangan dan semangat dengan cara menghabiskan waktu sendirian.Lalu tiba-tiba suara nada dering handphone memecah keheningan itu. Aliana masih nampak acuh, Elrick pun mengabaikannya karena suara itu bukanlah Bunyi dering dari
Jika ingin melihat seorang introvert menjadi seorang ekstrovert, cobalah mengajaknya berbicara terlebih dahulu! Mereka akan lebih terbuka jika lawan bicaranya membuka pembicaraan terlebih dahulu, apalagi pertanyaan yang berbobot dan dikuasai seorang introvert itu.'Baiklah, aku akan mencoba peruntunganku,' gumam Elrick dalam hati, sebelum beranjak mendekati Aliana yang sedang sibuk mencari maianan untuk anaknya, putra mereka."Apa Leon menyukai Thomas dalam bentuk kereta? Atau apapun yang ada gambar Thomasnya?" tanya Elrick dengan suara lembut, itupun sudah membuat Aliana sedikit tersentak kaget, karena tiba-tiba ada yang mengajaknya bicara."Iya," jawab Aliana sekenanya."Iya apa? Dalam bentuk kereta atau apa?" Elrick kembali bertanya sambil terkekeh pelan. Sekilas Aliana menatap Elrick, sebelum akhirnya mengalihkan lagi perhatiannya ke rak mainan itu, "Keduanya," jawab Aliana lagi dengan sama singkatnya seperti tadi.'Ah, belum berhasil!' desah Elrick dalam hatinya."Rick, tolong a
Tidak sedikit perusahaan yang memilih pemimpin dengan karakteristik ekstrovert sebagai pilihan utama, termasuk perusahaan Elrick, karena interpersonalnya yang cenderung lebih baik, kemampuan networking yang luas dan selalu tampil energik.Tapi hari ini Aliana telah membuka matanya dengan pengetahuan baru, bahwa seorang introvert juga tidak kalah baiknya dalam hal memimpin perusahaan dan memimpin rapat seperti hari ini.Aliana memiliki tendensi untuk membangun komunikasi yang lebih berkualitas dengan konsep one on one. Aliana tahu kapan harus diam untuk mendengarkan saran dan pandangan lain, membuat bawahannya merasa lebih di dengar dan di hargai, yang belum tentu bisa dilakukan seorang ekstrovert.Sifatnya yang cenderung pendiam, membuat Aliana tidak berkoar-koar untuk meninggikan kemampuannya sendiri, dan enggan menyombongkan diri hanya untuk mendapat perhatian orang-orang di sekitarnya. Padahal lebih dari sekali Elrick melihat kesempatan Aliana untuk membanggakan dirinya, tapi itu
Sebulan Kemudian.Menjadi Personal Assisten ternyata lebih sibuk dari bossnya, tidak mengenal tanggal merah pula dalam hidupnya. Jam kerja tidak delapan jam seperti karyawan biasa, tapi mengikuti jam kerja boss. Lembur sudah menjadi makanan Elrick sehari-hari sekarang.Tapi malam ini, Elrick benar-benar lelah. Ia yang biasanya memberi perintah, sekarang harus menerima perintah. Ia yang biasanya tinggal bertanya jadwal schedulenya, sekarang justru ia yang menjadi time keeper, yang mengatur jadwal kegiatan Aliana dengan detail."Hah, seperti mengurus pasangan saja! Antar jemput, menyemangatinya, memberi solusi dikala Aliana buntu, memberitahu kapan Aliana harus makan, kapan ia harus istirahat sejenak. Sayangnya urusan ranjang tidak termasuk di dalamnya. Padahal wanita itu sudah menghabiskan banyak waktu saya satu bulan ini! Sekarang saya baru bisa tidur jam 12 malam dan jam lima pagi sudah harus bangun!" keluh Elrick sambil merebahkan diri di atas sofa panjangnya."Yah! Seperti itulah C
"Oh, aku mengerti sekarang! Apa kamu sudah memiliki anak, Rick? Kamu tahu benar tentang anak-anak," tanya Aliana, dan Elrick tidak tahu harus menjawab apa.Yang Elrick tahu dan yakini sekarang adalah, Leon benar-benar anaknya, darah dagingnya. Elrick yakin itu, karena matanya tidak dapat membohonginya, dan Elrick langsung merasakan ikatan batin dengan anak itu ketika ia menggendongnya tadi."Di mana orang tua anda?" tanya Elrick mengalihkan pertanyaan Aliana tadi."Oh, mereka sedang di Seoul sekarang. Dirumah kakakku," jawab Aliana sambil menyelimuti Leon sampai batas bawah dagunya."Bukankah rumah yang di sebelah itu rumah Om anda, Nona?' "Iya, tapi mereka semua sedang di Seoul juga. Itu makanya aku meminta bantuanmu, Rick.""Apa anda tidak memiliki baby sitter?" tanya Elrick dengan kening yang mengerut. Karena tidak mungkin sekelas Adipramana tidak mampu membayar baby sitter kan?"Suster Rina sedang sakit, jadi aku memintanya untuk istirahat dulu sampai kondisinya prima lagi, aku t
Aliana terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, dan ia langsung bergegas turun dari tempat tidurnya. Karena seingatnya Aliana tidur jam satu, itu berarti ia sudah tidur selama enam jam penuh tanpa terbangun karena suara tangis Leon, baru kali ini ia tidur sepulas ini sejak hadirnya Leon.Takut terjadi sesuatu pada Leon, dengan langkah cepat Aliana menuju ke pintu penghubung, dan langsung diam terpaku saat melihat pemandangan di depannya. Nampak di atas tempat tidur, Elrick sedang tertidur pulas sambil memeluk Leon yang juga masih tertidur pulas. Aliana langsung menghela napas lega, karena tidak terjadi sesuatu pada Leon seperti yang ia khawatirkan tadi.Baru saja Aliana balik badan untuk kembali lagi ke kamarnya, tapi kakinya menginjak bebek karet teman mandi Leon, hingga mengeluarkan bunyi seperti bunyi bebek pada umumnya."Mommy ... " panggil Leon.Aliana langsung balik badan dan mendapati dua pasang mata yang sedang menatapnya, sebelum Elrick bergerak turun dari temp
Entah Aliana harus senang atau iri saat melihat kedekatan Leon dengan Elrick. Leon tidak mau lepas dari Elrick, anak itu hanya mau lepas saat Elrick sedang menyetir saja. Tapi ketika mobil sudah di Serahkan ke petugas valet parking, Leon kembali minta gendong sama Elrick.Entah apa yang dibisikkan Elrick di telinga Leon hingga anak itu mau jalan sendiri, meski tangannya masih terus memegang tangan Elrick.Dan saat mereka melewati tempat bermain anak, Leon menarik tangan Elrick, mengajaknya masuk ke dalam area bermain itu, "Ada Comas, Om!" serunya sambil menunjuk kereta mini dengan desain bentuk Thomas."Sebentar ya, Leon. Om beli kartunya dulu," kekeh Elrick, tapi dengan sigap salah satu pengawal Aliana yang bernama Ekram sudah terlebih dahulu membelikannya untuk Leon."Kartunya, Pak Ricko!" serunya sambil menyerahkan kartu itu ke Elrick."Terima kasih, Ram!" ucap Elrick lalu kembali memberikan perhatiannya pada Leon."Leon mau naik kereta Thomas itu?" tanyanya dan Leon mengangguk."K
"Maaf, tadi aku tidak membawa ponselku," ujar Leia pada Guzmân setelah melihat lebih dari sepuluh panggilan tidak terjawab dari pria itu, dan ia langsung menelepon balik. "memangnya kamu darimana? Kamar mandi?" tanya Guzmân. "Aku dari rumah sakit," jawab Leia. "Kamu sakit apa? Kenapa tidak mengabariku, ah maaf aku lupa kalau ponselmu tidak terbawa. Apa aku perlu ke Apartmentmu? Kamu mau aku bawakan apa" "Hanya kelelahan saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kamu tenang saja." "Mana bisa aku tenang, kalau sahabatku sedang sakit. Besok kita batalkan saja rencana ke taman hiburannya yaa," saran Guzmân. "Ya, maaf. Karena aku ke taaman hiburannya jadi batal," desah Leia. "Kesehatanmu jauh lebih penting, Leia ... Boleh aku ke Apartmentmu?" "Malam ini aku tidur bersama dengan keluargaku di Penthouse Om Keanu. Karena aku
"Kalian lihat? Leuis sangat mengkhawatirkan Leia. Dia bahkan lupa ada kita di sini," ujar mommy Aliana sambil menggelangkan kepalanya."Bukankah Leuis memang seperti itu sejak dulu?" tanya Leon. Ia heran kenapa mommynya bersikap seolah itu adalah hal yang baru untuk Leuis. Padahal sejak dulu, kalau Leon dan Leia sama-sama terjatuh, maka Leia lah yang akan mendapatkan perhatian Leuis, bukan dirinya apalagi yang lain.Kedua pasang orang tua itu, juga Aurora memutuskan untuk tidak memberitahu terlebih dahulu rencana mereka itu pada yang lainnya. Demi lancarnya semua rencana yang telah mereka susun dengan rapi itu."Anak-anak, sebaiknya kalian berangkat lebih dulu ke rumah sakit, ada yang harus kami para orang tua bahas!" seru daddy Keanu. Mereka pun dengan patuh melangkah ke arah lift untuk menuju parkiran mobil."Masih mau lanjut atau tidak?" tanya mommy Cornelia."Sebaiknya lanjut saja, Leuis masih belum berani mengakui perasaannya secara
"Apa kamu serius dengan putri om dan akan menikahinya?" tanya daddy Keanu pada Leuis saat keluarga mereka tengah berkumpul di ruang keluarga di Penthouse opa Hardhan yang kini sudah beralih menjadi milik daddy Keanu itu."Dad ... Kenapa bertanya seperti itu?" keluh Aurora sebelum melirik sekilas Leia yang tengah fokus dengan makanannya."Kenapa? Daddy hanya memastikan saja karena kamu adalah anak Daddy satu-satunya. Tidak ada satupun yang boleh menyakitimu termasuk Leuis!"Daddy Keanu kembali menatap tajam Leuis, "Ayo jawab!" serunya dengan tidak sabar."Saya tidak bisa menjanjikan apapun pada Om, karena saya tidak dapat menebak kedepannya akan seperti apa. Tapi satu hal yang pasti, saya tidak akan pernah menyakiti Aurora," jawab Leuis."Lagipula aku belum mau menikah, Dad! Aku masih mau mengembangkan karir modelku," sambung Aurora."Mau kamu kembangi lagi hingga tahap mana, Aurora? Kamu sudah berada di puncak karirmu saat ini, d
"Siang sekali kau datangnya, dari mana saja?" cecar Leuis ketika pintu kantornya mengayun terbuka, menampakkan sosok Guzmân yang melangkah masuk mendekatinya.Alih-alih merespon Leuis, Guzmân malah mendudukkan dirinya di kursi depan meja kerja Leuis,"Aaahh hari yang membahagiakan ... " desahnya penuh kemenangan.Leuis menyipitkan kedua matanya ke arah Guzmân saat bertanya, "Dan apa tepatnya yang membuatmu bahagia?" Mengingat sahabatnya itu baru saja bertemu dengan Leia, membuat Leuis menduga kalau ini pasti ada hubungannya dengan Leia. Jangan bilang kalau mereka ..."Kami sudah resmi pacaran sekarang," jawab Guzmân dengan nada bangga.Seketika bahu Leuis merosot di kursinya, seolah ada beban berat yang menimpa bahunya itu. Ia menatap Guzmân lekat-lekat mencari jejak kebohongan di sana, tapi sialnya kedua mata pria itu mengatakan yang sebaliknya."Well ... Congratulations, to both of you!" serunya meski tidak terdengar
"Pria itu selalu mendekatiku, Dad! Dan aku sudah kehabisan cara untuk membuatnya menjauh dariku!" keluh Aurora pada daddy Keanu, saat mereka tengah menghadiri pesta cocktail di salah satu rumah klien daddy Keanu yang juga dihadiri daddy Elrick dan mommy Aliana itu.Daddy Keanu melirik pria yang dimaksud putri semata wayangnya itu, pria yang saat ini terus menatap Aurora tanpa berkedip sedikitpun,"Pria seperti itu hanyalah para pria pemburu harta," gumam daddy Elrick yang langsung diamini daddy Keanu,"Ya, aku juga menduganya seperti itu. Dan kamu sudah bertindak benar dengan memilih untuk menjauhkannya, Aurora.""Ya tapi pria itu terus saja mendatangiku, Dad. Dia bahkan mengetahui jadwal pemotretanku dengan tepat. Dia selalu mengetahui lokasiku berada.""Apa kamu mau Daddy menghabisinya?" tanya daddy Keanu.Aurora meringis sebelum menjawab, "Tidak, Demi Tuhan jangan, Dad! Aku hanya ingin menghindarinya bukan menghilangkan nyawa
Karena Guzmân yang terus mendesaknya, pada akhirnya Leia menceritakan semua masalahnya dengan Leuis. Mulai dari c1uman tak terduga mereka di atas jembatan harapan, lanjut ke c1uman Leuis yang lainnya, hingga ke masalah Aurora.Leia tidak lagi dapat menyembunyikan semua kenyataan itu dari Guzmân. Pria itu telah lama curiga kalau ada sesuatu di antara Leia dan Leuis, dan dengan gigihnya selalu mengorek masalah itu dari Leia.Bahkan Leia mengakui kalau sebenarnya ia sangat menyukai Leuis, hanya karena tidak ingin menjadi orang ketiga di dalam hubungan pria itu dengan Aurora, itu makanya ia memilih untuk menjauh.Meski demikian ia tetap merahasiakan kalau Leuis adalah kakak angkatnya, dan Leia adalah putri dari miliarder ternama, Mr. Rick."Jadi, Leuis memintamu untuk turut serta ke Venice?" tanya Guzmân."Yaa ... " jawab Leia sambil memberengut dan menyandarkan punggungnya ke kursinya."Kenapa terlihat kesal seperti itu? Bukankah it
"Hari ini Leia tidak masuk!" seru Leon sambil duduk santai dengan kedua kaki yang ia naikkan ke atas meja.Dari balik meja kerjanya, Leuis menatap kedua kaki yang saling menopang itu tanpa ada keinginan untuk menegurnya untuk menurunkan kakinya, ia tidak mau membuang kata-katanya dengan percuma, adiknya itu tidak akan mau mendengarkan.Sejak Leon kerja di perusahaannya, Leia memang selalu berangkat bareng kakaknya itu. Dan Leia tidak pernah lagi mendatangi unitnya. Wanita itu selalu pulang malam dan beralasan makan di tempat Aletta pada Leon dan sepupu-sepupunya. Dan paginya selalu beralasan Aletta sudah membawakan sarapan pagi untuknya.Apa benar dengan yang dikatakan Alexa tempo hari, kalau Leia menghindarinya hanya karena tidak mau menjadi orang ketiga di dalam hubungannya dengan Aurora? Apa wanita itu benar-benar cemburu pada Aurora?Haruskah Leuis menceritakan yang sebenarnya pada Leia kalau ia dan Aurora hanya tengah berpura-pura p
"Harus banget yaa kamu pindah, Leia?" tanya Alexa pada sepupunya yang tengah packing baju-bajunya untuk di pindahkan ke Apartmentnya yang baru."Apartmentku yang baru lebih dekat jaraknya dari kantor Leuis, Lexa. Bisa dicapai dengan hanya berjalan kaki," jawab Leia."Aku tahu bukan itu kan alasan utamamu untuk segera pindah dari sini?" tebak Alexa.Leia menutup kopernya yang sudah penuh, setelah menguncinya dengan rapat baru ia mengalihkan perhatiannya pada Alexa, "Apa maksudmu?" tanyanya."Leuis, karena dia sekarang telah menjalin hubungan dengan Aurora kan?"Leia tertawa getir, "Astaga ... Darimana pikiran anehmu itu datang, Lexa? Apa hubungannya kepindahanku dengan Leuis dan Aurora? Mereka mau menikah sekalipun aku tidak peduli, aku sudah memiliki Guzmân, apa kamu lupa dengan apa yang daddyku bilang kemarin malam? Kami akan dijodohkan.""Kamu hanya tinggal menyangkalnya saja, Leia. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar sepert
"Kamu menyukai Leia kita, ya kan?" tebak Alexa.Mereka tengah menikmati malam hari yang tidak kalah ramainya dengan siang hari di jalanan terindah di kota Paris itu, seperti biasanya Leuis selalu memilih untuk jalan di belakang mereka. Dan Alexa menyamakan langkahnya dengan pria itu saat yang lainnya sudah berada sedikit lebih jauh darinya dan Leuis."Aku memang menyukainya, dia adikku," jawab Leuis dengan santai, dan Alexa memutar kedua bola matanya,"Kamu tahu betul apa maksud dari pertanyaanku tadi, Leuis."Sambil memasukkan sebelah tangannya ke saku celananya, Leuis menatap punggung wanita yang Alexa maksud, yang tengah bergandengan tangan dengan Aletta. Sesekali jari telunjuk wanita itu menunjuk ke salah satu kafe atau apapun selama percakapannya dengan sahabatnya itu.Ya, ia tahu apa maksud dari pertanyaan Alexa tadi, dan ia enggan untuk menjawabnya. Bukan karena ia tidak percaya pada Alexa, tapi karena mengatakan yang sebenarnya pu