Hidung Ayuni kembang kempis mendengar ucapan dari Ryan barusan. Membuatnya jadi salah tingkah lalu membalikan tubuhnya tak ingin melihat lelaki itu.
“Bilang aja salting. Aku mau lamar kamu setelah kamu resmi bercerai, Ayuni. Lebih cepat lebih baik. Agar aku bisa jaga dan rawat kamu. Rumah baru untuk kita juga hampir seratus persen selesai.”
Ayuni lalu menolehkan kepalanya. “Kalau bisa, temani aku sidang pertama hari Rabu depan.”
Tidak ingin melakukan kesalahan yang membuat Ayuni semakin membencinya, Ryan memilih untuk mengirim pesan yang telah dia buat berjadwal. Meski hanya mengabarinya saja. Tidak peduli meski hanya dibaca saja oleh perempuan itu.
“Selamat malam, Pak Sutto. Keperluan medis untuk satu bulan ke depan sudah saya email dan sudah saya approve ya, Pak.”
Ryan menghubungi kepala purchasing sembari merapikan meja kerjanya karena waktu sudah menunjuk angka tujuh malam. Sabtu malam dan masih di rumah saki
Sidang pertama Ayuni dan Andreas akan dilaksanakan hari ini.“Saya ada keperluan sebentar.”“Mau ke mana, Pak? Ini ada meeting jam—““Jam dua, kan? Saya sudah tahu.” Ryan menyela ucapan Friska kemudian keluar dari ruangannya.“Saya harus tahu Anda ke mana, Pak Ryan. Kalau tidak, bagaimana saya menjawab pertanyaan bila ada yang bertanya Anda di mana.”Ryan menghela napas kasar. “Ke pengadilan,” jawabnya singkat kemudian melangkah dengan lebar menuju lift.“Kamu masih di rumah, kan? Aku jemput kamu, yaa.” Ryan menghubungi Ayuni sembari melangkah dengan lebar keluar dari area rumah sakit.“Ya.”Ayuni kemudian menutup panggilan itu karena sudah tidak tahan lagi ingin mengeluarkan cairan di mulutnya.“Sshht!” Ayuni meringis pelan seraya memegang perutnya. “Papa kamu memang mau tanggung jawab. Tapi, Mama rasanya nggak tahan banget, Nak. Maaf ya, Sayang. Tapi, Mama udah ngg—““Arrgghh!” Ayuni meringis lagi. Menekan perutnya yang tidak bisa ia tahan lagi. Air mata di pipinya bahkan sudah mene
Biru memijat-mijat keningnya. Masih mengingat permohonan bantuan Ryan tiga hari yang lalu. Ia lalu mengembungkan pipinya seraya menghela napas kasar.“Kenapa?” tanya Dokter Firman menghampiri sang keponakan.Biru menoleh kepada lelaki itu. “Nggak ada, Kak. Mual aja lihat darah.”Dokter Firman terkekeh pelan. “Operasi Bu Ayuni, lancar? Katanya sudah siuman. Sudah dipindahkan ke kamar rawat.”“Oh, yaa? Kenapa nggak bilang dari tadi!” Biru lantas beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Ayuni yang katanya sudah siuman.Tampak perempuan itu tengah menatap kosong setelah tahu bila calon bayinya sudah tidak ada.“Hei!” Biru mengulas senyumnya kepada perempuan itu.Ayuni membalasnya dengan senyum lemas. “Hei. Lagi nggak sibuk?” tanyanya pelan.“Nggak. Lagi kosong. Makanya ke sini.”Ayuni manggut-manggut dengan pelan. “Thanks, yaa. Udah bantu operasi.”“Yang paling banyak kerja itu laki elo, Ay. Gue sih cuma jadi asistennya aja. Dia nggak mau ada satu orang pun yang nyentuh elo. Nggak ma
Satu minggu berlalu ….Ayuni sudah bisa datang ke pengadilan setelah dua hari istirahat di rumah pasca keguguran satu minggu yang lalu.“Kalau memang nggak bisa datang, nggak usah dipaksain, Ryan. Aku udah jalan juga sama Vita. Aku nggak mau telat sampai ke sana.”Ayuni menerima panggilan dari Ryan yang tengah mengatur waktu agar bisa datang menemani Ayuni sidang.“Aku sudah di jalan. Kamu tunggu di pengadilan saja.”“Ya udah.” Ayuni kemudian menutup panggilan tersebut dan menyimpan ponselnya ke dalam tas.“Ryan bersikeras pengen nemenin gue sidang cerai. Semangat banget lihat gue cerai.”Vita tertawa pelan. “Namanya udah nggak sabar pengen halalin elo. Tapi, harus nunggu sampai tiga bulan dulu kalau mau nikah lagi.”Ayuni menganggukkan kepalanya dengan pelan. “Itu pun kalau Ryan nggak berubah pikiran.”“Kenapa berubahnya? Nggak ada alasan buat Ryan berubah, Ay. Dia udah sayang banget sama elo. Shakira juga nggak mau mama yang lain selain elo. Jangan gitu dong, Ay. Cuma karena si cabe
Waktu sudah menunjuk angka dua belas malam.Ayuni dan Ryan masih duduk di balkon lantai dua setelah selesai makan malam bersama dengan Shakira yang kini sudah tidur di kamarnya.“Terima kasih, untuk makan malamnya. Masakan kamu enak.”Ayuni kemudian menoleh pelan lalu mengulas senyumnya. “Sama-sama. Selamat ulang tahun, Ryan. Semoga apa yang kamu inginkan, terkabulkan.”Ryan tersenyum sembari menggenggam tangan Ayuni. “Satu mimpi yang belum aku capai.”“Apa?” tanyanya dengan pelan.“Menikah denganmu.”Ayuni terkekeh pelan. “Itu pun jadi mimpi kamu, heum?”“Tentu saja, Ayuni. Aku ingin kamu jadi istriku. Tapi, sayang. Harus menunggu tiga bulan dulu untuk melamar kamu.”Ayuni menganggukkan kepalanya. “Ryan. Meskipun aku sudah operasi, tapi aku belum siap untuk hamil lagi. Aku nggak mau benci sama kamu lagi.”Ryan kemudian menarik tangan perempuan itu dan memeluknya dari samping. Matanya menatap ke atas lalu mengembuskan napas dengan panjang.“Kita sudah punya Shakira. Aku tidak ingin ka
“Ryan ….” Melinda menatap sang anak yang tengah berdiri tak jauh dari mereka bersama dengan Ayuni yang tengah menggenggam tangan lelaki itu mencoba menguatkan dirinya yang kini telah menitikan air matanya.Keduanya lantas melangkah menghampiri Rini dan Melinda. Ryan menatap Melinda dengan lekat kemudian tersenyum lirih.“Dan seandainya kalau aku tidak melamar Arumi, Mama akan memberi tahu kalau aku adalah anak kandung Mama?” tanya Ryan suara lirihnya.Masih belum percaya selama sembilan tahun menjadi menantu Melinda, rupanya dia telah bersama dengan ibu kandungnya selama sembilan tahun itu.Melinda kemudian beranjak dari duduknya dan memeluk Ryan dengan erat. Menumpahkan semua rasa bersalahnya karena telah menyembunyikan rahasia itu.“Maafkan Mama, Sayang. Mama bingung harus memulai dari mana. Arumi sudah membawa kamu pada Mama, menemukan anak kandung Mama yang sudah Mama titipkan di panti asuhan.”
Dua puluh lima tahun kemudian ….“Ar?”Arumi yang tengah mengusapi kepala patung di ruang lab kemudian menoleh kepada Ryan. “Heum? Kenapa? Mau ngasih cokelat batang lagi?”Ryan terkekeh pelan. “Bukan. Mama sama papa kamu ada di rumah?”Arumi mengedip-ngedipkan matanya. “Ada sih. Tapi, mau ngapain nanyain Mama sama Papa? Mau minta uang jajan?”Ryan lantas menggetok kening Arumi. “Aku udah jadi dokter di rumah sakit harapan. Udah diterima lewat jalur khusus.”“Anjir. Udah mau kerja aja. Baru juga lulus. Tungguin dulu kek.”Ryan menyunggingkan senyum. “Nggak, aah. Males. Kelamaan kalau nunggu kamu. Malesin.”Arumi kemudian mengerucutkan bibirnya. “Terus, mau ngapain nanya mereka? Tapi, kebetulan lagi ada di rumah sih.”Ryan kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Ar. Kayaknya pacaran doang nggak ada faedahnya, ya
Ayuni meregangkan otot-ototnya setelah delapan jam lamanya tertidur pulas di rumah barunya. Entah sampai kapan ia akan tinggal di sana. Mungkin sampai masa idahnya selesai setelah bercerai dengan Andreas.“Selamat pagi.”Ayuni terperanjat kaget mendengar suara lembut di sampingnya. “Ryan. Ngapain kamu di sini?”Ryan kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Kamu sendiri yang telah memberiku akses keluar masuk rumah baru kamu. Sejak lima belas menit yang lalu, aku sudah di sini. Bawa sarapan untuk kamu.”Ryan memberikan kotak makan berisi sandwich di dalamnya. “Mandi dulu. Setelah itu sarapan. Aku mau minta tolong sama kamu.”“Minta tolong apa?” tanyanya ingin tahu.“Cintai aku seperti dulu.”Ayuni mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ryan yang mendadak membahas masa lalunya.“Maksudnya? Kok tiba-tiba ngomong kayak gini?” Ayuni tampak bingung.Ryan kemudian memberikan diary milik Ayuni kepada si empunya.“Lho! Kok diary aku ada di kamu?” Ayuni terkejut sembari mengambil diary itu.
Brak!Perempuan itu menarik napasnya dalam-dalam seraya menatap Biru dengan tatapan lekatnya. Sementara lelaki itu mengusapi dadanya karena terkejut.“Apa sih?” sentak Biru sembari menatap sengal wajah Dokter Mia yang bisa-bisanya masih pagi sudah membuat Biru terkejut.“Dokter Ryan ke mana? Saya habis dimaki-maki Bu Friska karena bawa laporan ini yang harusnya langsung dikasih ke Dokter Ryan.”Biru terdiam sejenak kemudian tertawa sembari mengusap wajahnya dengan pelan. “Dokter Ryan hari ini bolos. Lagi liburan sama ayangnya di Bandung. Nih!”Biru memperlihatkan postingan Ryan di medsos bersama dengan Ayuni di sebuah vila yang ada di Lembang.Dokter Mia mengangguk-anggukan kepalanya dengan pelan. “Pantesan asistennya ngamuk kayak gorilla. Ternyata tahu dari ini. Sengaja banget kayaknya diposting.”“Iya. Biar asisten ganjen itu berhenti goda Dokter Ryan. Dia udah bosen, risi dan pengen jambak itu perempuan. Dok? Nggak punya kenalan biar dia insyaf gitu?”Dokter Mia menggelengkan kepal
Satu bulan berlalu ….Ryan dan Ayuni masih terpisah jarak yang cukup jauh. Hanya bertukar kabar melalui orang tua Ayuni sebab hingga kini perempuan itu masih enggan menghubungi lelaki itu.Di sebuah pantai yang cukup indah. Australia memang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Ayuni tengah duduk di pesisir pantai sembari memandang ombak yang menggulung dengan indahnya.“Kok kayak kenal,” gumam seseorang kala melihat Ayuni seorang diri di sana.“Ayuni?”Perempuan itu lantas menoleh dengan pelan. “Lho! Mas Andreas?” Ayuni menunjuk lelaki itu hingga Andreas ikut duduk di samping Ayuni.“Kamu lagi ngapain di sini? Liburan? Sendirian? Nggak sama Ryan? Atau lagi bulan madu?”Ayuni menghela napas kasar. “Nggak. Nikah aja belum.”“Kenapa?” tanyanya tak tahu.“Kamu ini gimana sih! Gara-gara kamu juga, menunda-nunda cerai. Ada masa idah yang mengharuskan aku untuk menunda pernikahan. Selama tiga bulan. Sisa sebulan lagi. Baru bisa menikah!” sengal Ayuni kesal.Andreas lantas tertawa. “Y
“Pak Damian! Dengarkan saya dulu. Saya sudah mencegahnya dan melarang dia untuk resign. Tapi, sudah dua minggu ini dia tidak pernah datang.”Rifky mencoba menjelaskan kepada Damian karena diamuk telah membiarkan Ryan mengundurkan diri di sana.“Ya sudah! Sekarang jelaskan kenapa Dokter Ryan mengundurkan diri? Kalau tidak ada alasan yang membuatnya mengundurkan diri, dia tidak akan melakukan itu!” pekik Damian lagi.“Pak Edrick di mana? Rasanya percuma, saya bicara dengan Anda!” Damian lantas mengambil ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya di sana.“Ke ruangan saya sekarang juga!” titahnya kemudian menutup panggilan tersebut.Tak lama setelahnya, Biru dan Dokter Firman masuk ke dalam ruangan Ryan. Menghampiri Damian untuk memberi tahu alasan mengapa Ryan mengundurkan diri.“Saya tahu, alasan Dokter Ryan mengundurkan diri, Pak Damian,” kata Dokter Firman kepada Damian.Rifky menolehkan kepalanya kepada Dokter Firman. “Tahu apa, Anda? Saya tahu, Anda sahabatnya Pak Ryan.”Dokter
Dua minggu berlalu ….Ayuni masih berada di Sidney, Australia. Bersama dengan orang tuanya yang masih berada di sana. Rini menyusul anaknya satu minggu setelah Shakira sudah diperbolehkan pulang.“Kondisi Shakira sudah membaik, Ma?” tanya Ayuni yang sebenarnya mengkhawatirkan anak itu.“Sudah, Ay. Dia sudah diperbolehkan pulang makanya Mama bisa ke sini menemui kamu dan papa kamu. Shakira masih mencari keberadaan kamu. Meskipun Mama sudah kasih tahu kamu selamat, tapi dia masih ingin bertemu sama kamu.”Ayuni menelan saliva dengan pelan seraya menatap foto Shakira di ponselnya. “Aku juga rindu. Udah dua minggu nggak pernah lihat dia. Yang penting sekarang dia udah sehat, Ma.”Rini mengangguk sembari mengulas senyumnya. “Iya, Nak. Shakira tinggal bersama Mama Melinda. Sampai kamu kembali, Shakira tidak mau bertemu dengan papanya. Dia sudah memutus hubungan dengan papanya. Dia bilang begitu. Ada lucunya dan juga sedihnya.”Ayuni menghela napasnya dengan panjang. “Gimana kabar dia, Ma?”
Shakira sudah sadarkan diri. Akan tetapi, anak kecil itu tidak mau bertemu dengan papanya lagi karena sudah membuatnya kehilangan Ayuni untuk selamanya.Ryan tidak diberi akses masuk ke dalam ruang rawat anaknya sendiri karena permintaan dari Shakira sendiri. Hati Ryan benar-benar hancur berkeping-keping karena telah dibenci dan tidak diterima kehadirannya oleh anaknya sendiri.Di kediaman Ryan ….Lelaki itu tengah mengenakan kemeja hitam dengan celana senada. Hendak pergi ke rumah sakit, menemui sang pemilik rumah sakit di mana ia bekerja.“Kamu mau ke mana?” tanya Melinda kepada sang anak yang tengah mengambil kunci mobilnya.“Mau ke rumah sakit, Ma. Mengundurkan diri dari jabatan itu dan tidak akan menjadi dokter di sana lagi,” jawabnya dengan pelan.Melinda menelan saliva dengan pelan. “Nak. Ayuni masih hidup. Dia gagal naik pesawat karena lupa bawa passpor. Rini baru saja memberi tahu Mama tadi pagi.”Ryan menoleh cepat kepada sang mama. “Mama tidak bercanda, kan?”“Tidak, Nak. M
Di bandara ….Perempuan itu tengah merenung memikirkan hal yang mengejutkan yang baru saja ia alami di hari ini. Selama ini dia selalu menutup telinga akan rumor itu. Namun, kini sudah tak perlu lagi menutupnya karena sudah melihat sendiri adegan mengejutkan itu.Suara pramugari memberi tahu keberangkatan menuju Australia sudah menggema. Ayuni kemudian beranjak dari duduknya dan menggeret koper, masuk ke bagian check in counter.“Mohon menunjukan passport-nya, Bu.”“Oh, iya tunggu sebentar.” Ayuni lupa mengeluarkan passport miliknya. Ia lantas membuka tasnya terlebih dahulu dan meminta yang lain dulu saja duluan.“Duh! Pake acara ketinggalan segala lagi,” gerutunya kemudian mengambil ponselnya karena passport miliknya tertinggal di rumah.“Halo, Vit. Elo lagi di mana? Gue mau minta tolong sama elo.” Ayuni menghubungi Vita.“Elaaah! Malam-malam gini elo mau minta tolong apaan lagi, Ayuni?”“Gue lupa bawa passport.” Ia lalu menoleh pada pesawat yang sudah terbang dan menghela napas pasr
Suasana tegang di kediaman Ryan membuat Melinda memijat pelipisnya setelah mendengar kabar dari Rini bila Ayuni sudah pergi dari Jakarta. Meninggalkan semua orang di sana termasuk Shakira.“Mel. Aku tidak tahu kalau Ryan yang ada di hotel itu. Karena tidak mungkin Ryan melakukan itu.” Irwan menjelaskan sekali lagi kepada Melinda yang tengah memijat-mijat keningnya.“Aku juga tidak percaya kalau Ryan melakukan itu. Aku tahu betul bagaimana sifat Ryan. Mana mungkin dia melakukan hal sebejad itu.” Melinda menghela napas kasar.“Mama Ayuni pergi bukan karena mau kerja ya, Oma?” Shakira menghampiri dan mendengar semua percakapan nenek dan kakeknya itu.Melinda menggeleng dengan pelan. “Bukan begitu, Sayan—““Papa udah menyakiti hati Mama Ayuni ya, Oma? Papa jahat! Papa udah janji nggak akan menyakiti hati Mama Ayuni! Huwaaaaa!”Shakira lantas menangis dengan sangat kencang. “Mama Ayuniiiiii!”Tangisan Shakira semakin menjadi sampai membuat Melinda sulit untuk menenangkan cucunya itu.“Ngga
Ayuni tersenyum miris sembari menahan air matanya yang hendak keluar dari pelupuk matantya.Dengan sekuat tenaganya, Ryan menyingkirkan tubuh Friska hingga perempuan itu terjungkal di bawah.“Awww!” pekiknya mengaduh.Ryan tak peduli. Ia memilih menghampiri Ayuni yang masih berdiri di ambang pintu kamar hotel itu.“Ayuni! Ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa menjelaskan semu—“Plak!Dengan sangat kencang, perempuan itu menampar pipi Ryan hingga wajah itu berpaling karena tamparan yang cukup keras itu.Ryan menelan saliva dengan pelan kemudian menatap Ayuni dengan tatapan sayunya.“Silakan tampar aku sepuas kamu asalkan setelah ini kamu dengarkan penjelasan aku. Silakan, tampar lagi. Aku akan menerimanya.”“Bohong! Dia yang sudah menggoda saya dan meminta saya untuk memesan kamar hotel,” seru Friska membuat masalah itu semakin runyam.“Friska!” pekik Ryan tak terima dengan ucapan perempuan itu tadi. “Saya tidak pernah meminta kamu untuk memesan hotel!”“Buktinya, bukti
“Haah?” Biru membolakan matanya dengan tatapan pasrah kala melihat Ayuni yang sudah menggebu-gebu.Ia lalu menoleh cepat kepada Biru dan menarik kerah kemeja lelaki itu. “Dari tadi elo ngulur waktu gue karena sembunyiin sesuatu dari gue, kan? Jawab, Biru! Ryan bukan lagi meeting sama bapaknya, tapi lagi cek in sama anaknya! Iya?!”Suara teriakan Ayuni terdengar hingga keluar. Dokter Firman yang mendengarnya lantas segera masuk ke dalam ruangan keponakannya itu.“De—dengerin gue dulu, Ayuni. Gue nggak tahu menahu kalau soal cek ini itu. Sumpah, gue nggak tahu. Gue cuma diminta Ryan buat jangan kasih tahu elo kalau dia harus jemput tamu di hotel Livina sama Friska.”Dengan susah payah Biru menjelaskan kepada Ayuni. Sebab mengenai pembayaran kamar itu Biru tidak diberi tahu oleh lelaki itu.“Brengsek!” pekik Ayuni kemudian keluar dari ruangan tersebut. Melangkah dengan lebar dan masuk ke dalam lift.Hendak pergi ke hotel Livina di mana Ryan membayar bill cek ini kamar dan hanya satu kama
“Iyalah. Ngapain lagi gue ke sini? Mau ketemu sama elo? Dih. Gak ada gawe.”Biru menganga kemudian melirik ke arah Dokter Mia yang tengah berdiri di sampingnya yang baru saja memberikan dokumen jadwal operasi nanti malam.“Gue mau ke atas dulu.” Ayuni lantas meninggalkan Biru yang masih berdiri sembari menganga.“Tu—tunggu dulu, Ayuni.” Biru kemudian menarik tangan Ayuni yang hendak menekan tombol lift menuju lantai sepuluh.“Kenapa lagi sih?” tanya Ayuni kesal.“Ryan masih meeting sama Pak Rifky. Dia nggak ada di ruangannya. Mending elo tunggu di sini aja atau di kantin. Makan siang bareng gue.”Biru kemudian menarik napasnya lalu menerbitkan senyum kepada Ayuni.“Masih meeting? Lama banget.”“Yaa namanya juga meeting sama pemilik rumah sakit. Udah pasti lama.”“Sama cabe kriting juga?”Biru mengangguk pelan. “Ho’oh. Tapi, elo jangan nething dulu. Dua bulan lagi udahan jadi aspri-nya Ryan.”“Serius? Elo nggak bohong, kan?”“Kagak, Ayuni. Gue nggak pernah bohong sama elo. Ini makanan