Waktu sudah menunjuk angka dua belas malam.Ayuni dan Ryan masih duduk di balkon lantai dua setelah selesai makan malam bersama dengan Shakira yang kini sudah tidur di kamarnya.“Terima kasih, untuk makan malamnya. Masakan kamu enak.”Ayuni kemudian menoleh pelan lalu mengulas senyumnya. “Sama-sama. Selamat ulang tahun, Ryan. Semoga apa yang kamu inginkan, terkabulkan.”Ryan tersenyum sembari menggenggam tangan Ayuni. “Satu mimpi yang belum aku capai.”“Apa?” tanyanya dengan pelan.“Menikah denganmu.”Ayuni terkekeh pelan. “Itu pun jadi mimpi kamu, heum?”“Tentu saja, Ayuni. Aku ingin kamu jadi istriku. Tapi, sayang. Harus menunggu tiga bulan dulu untuk melamar kamu.”Ayuni menganggukkan kepalanya. “Ryan. Meskipun aku sudah operasi, tapi aku belum siap untuk hamil lagi. Aku nggak mau benci sama kamu lagi.”Ryan kemudian menarik tangan perempuan itu dan memeluknya dari samping. Matanya menatap ke atas lalu mengembuskan napas dengan panjang.“Kita sudah punya Shakira. Aku tidak ingin ka
“Ryan ….” Melinda menatap sang anak yang tengah berdiri tak jauh dari mereka bersama dengan Ayuni yang tengah menggenggam tangan lelaki itu mencoba menguatkan dirinya yang kini telah menitikan air matanya.Keduanya lantas melangkah menghampiri Rini dan Melinda. Ryan menatap Melinda dengan lekat kemudian tersenyum lirih.“Dan seandainya kalau aku tidak melamar Arumi, Mama akan memberi tahu kalau aku adalah anak kandung Mama?” tanya Ryan suara lirihnya.Masih belum percaya selama sembilan tahun menjadi menantu Melinda, rupanya dia telah bersama dengan ibu kandungnya selama sembilan tahun itu.Melinda kemudian beranjak dari duduknya dan memeluk Ryan dengan erat. Menumpahkan semua rasa bersalahnya karena telah menyembunyikan rahasia itu.“Maafkan Mama, Sayang. Mama bingung harus memulai dari mana. Arumi sudah membawa kamu pada Mama, menemukan anak kandung Mama yang sudah Mama titipkan di panti asuhan.”
Dua puluh lima tahun kemudian ….“Ar?”Arumi yang tengah mengusapi kepala patung di ruang lab kemudian menoleh kepada Ryan. “Heum? Kenapa? Mau ngasih cokelat batang lagi?”Ryan terkekeh pelan. “Bukan. Mama sama papa kamu ada di rumah?”Arumi mengedip-ngedipkan matanya. “Ada sih. Tapi, mau ngapain nanyain Mama sama Papa? Mau minta uang jajan?”Ryan lantas menggetok kening Arumi. “Aku udah jadi dokter di rumah sakit harapan. Udah diterima lewat jalur khusus.”“Anjir. Udah mau kerja aja. Baru juga lulus. Tungguin dulu kek.”Ryan menyunggingkan senyum. “Nggak, aah. Males. Kelamaan kalau nunggu kamu. Malesin.”Arumi kemudian mengerucutkan bibirnya. “Terus, mau ngapain nanya mereka? Tapi, kebetulan lagi ada di rumah sih.”Ryan kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Ar. Kayaknya pacaran doang nggak ada faedahnya, ya
Ayuni meregangkan otot-ototnya setelah delapan jam lamanya tertidur pulas di rumah barunya. Entah sampai kapan ia akan tinggal di sana. Mungkin sampai masa idahnya selesai setelah bercerai dengan Andreas.“Selamat pagi.”Ayuni terperanjat kaget mendengar suara lembut di sampingnya. “Ryan. Ngapain kamu di sini?”Ryan kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Kamu sendiri yang telah memberiku akses keluar masuk rumah baru kamu. Sejak lima belas menit yang lalu, aku sudah di sini. Bawa sarapan untuk kamu.”Ryan memberikan kotak makan berisi sandwich di dalamnya. “Mandi dulu. Setelah itu sarapan. Aku mau minta tolong sama kamu.”“Minta tolong apa?” tanyanya ingin tahu.“Cintai aku seperti dulu.”Ayuni mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ryan yang mendadak membahas masa lalunya.“Maksudnya? Kok tiba-tiba ngomong kayak gini?” Ayuni tampak bingung.Ryan kemudian memberikan diary milik Ayuni kepada si empunya.“Lho! Kok diary aku ada di kamu?” Ayuni terkejut sembari mengambil diary itu.
Brak!Perempuan itu menarik napasnya dalam-dalam seraya menatap Biru dengan tatapan lekatnya. Sementara lelaki itu mengusapi dadanya karena terkejut.“Apa sih?” sentak Biru sembari menatap sengal wajah Dokter Mia yang bisa-bisanya masih pagi sudah membuat Biru terkejut.“Dokter Ryan ke mana? Saya habis dimaki-maki Bu Friska karena bawa laporan ini yang harusnya langsung dikasih ke Dokter Ryan.”Biru terdiam sejenak kemudian tertawa sembari mengusap wajahnya dengan pelan. “Dokter Ryan hari ini bolos. Lagi liburan sama ayangnya di Bandung. Nih!”Biru memperlihatkan postingan Ryan di medsos bersama dengan Ayuni di sebuah vila yang ada di Lembang.Dokter Mia mengangguk-anggukan kepalanya dengan pelan. “Pantesan asistennya ngamuk kayak gorilla. Ternyata tahu dari ini. Sengaja banget kayaknya diposting.”“Iya. Biar asisten ganjen itu berhenti goda Dokter Ryan. Dia udah bosen, risi dan pengen jambak itu perempuan. Dok? Nggak punya kenalan biar dia insyaf gitu?”Dokter Mia menggelengkan kepal
Ryan kemudian menutup panggilan tersebut dan menghela napasnya dengan panjang.“Kenapa, Ryan?” tanyanya kemudian.Ryan menoleh kepada Ayuni sembari mengulas senyumnya. “Sarapan dulu aja. Nanti kita ngobrol setelah makan.”“Harus pulang sekarang juga?”“Nggak kok. Hanya diminta untuk menemuinya. Tapi, aku udah bilang lagi di Bandung. Dia paham, dan minta aku besok menemuinya.”“Beneran? Mau ngapain? Jodohin kamu sama anak kesayangannya?”“Nggak, Sayang. Kalaupun iya, aku akan menolaknya.”“Dia tajir lho, Ryan. Pewaris rumah sakit terbesar seantero Jakarta. Bahkan udah bangun di berbagai kota-kota besar di Indonesia. Kalau nggak salah, lagi debut ke Singapur dan Thailand juga.”Ryan menggeleng dengan pelan. “Nggak tertarik. Karena yang lebih menarik itu janda kembang.”Ayuni lantas memukul lengan Ryan. “Aslinya aku takut, kamu digaet cabe-cabean itu.”“Aku juga takut, kamu lebih percaya omongan orang dibanding aku.”Ayuni kemudian menatap Ryan yang tengah memasak nasi goreng itu. “Andai
“Iyalah. Ngapain lagi gue ke sini? Mau ketemu sama elo? Dih. Gak ada gawe.”Biru menganga kemudian melirik ke arah Dokter Mia yang tengah berdiri di sampingnya yang baru saja memberikan dokumen jadwal operasi nanti malam.“Gue mau ke atas dulu.” Ayuni lantas meninggalkan Biru yang masih berdiri sembari menganga.“Tu—tunggu dulu, Ayuni.” Biru kemudian menarik tangan Ayuni yang hendak menekan tombol lift menuju lantai sepuluh.“Kenapa lagi sih?” tanya Ayuni kesal.“Ryan masih meeting sama Pak Rifky. Dia nggak ada di ruangannya. Mending elo tunggu di sini aja atau di kantin. Makan siang bareng gue.”Biru kemudian menarik napasnya lalu menerbitkan senyum kepada Ayuni.“Masih meeting? Lama banget.”“Yaa namanya juga meeting sama pemilik rumah sakit. Udah pasti lama.”“Sama cabe kriting juga?”Biru mengangguk pelan. “Ho’oh. Tapi, elo jangan nething dulu. Dua bulan lagi udahan jadi aspri-nya Ryan.”“Serius? Elo nggak bohong, kan?”“Kagak, Ayuni. Gue nggak pernah bohong sama elo. Ini makanan
“Haah?” Biru membolakan matanya dengan tatapan pasrah kala melihat Ayuni yang sudah menggebu-gebu.Ia lalu menoleh cepat kepada Biru dan menarik kerah kemeja lelaki itu. “Dari tadi elo ngulur waktu gue karena sembunyiin sesuatu dari gue, kan? Jawab, Biru! Ryan bukan lagi meeting sama bapaknya, tapi lagi cek in sama anaknya! Iya?!”Suara teriakan Ayuni terdengar hingga keluar. Dokter Firman yang mendengarnya lantas segera masuk ke dalam ruangan keponakannya itu.“De—dengerin gue dulu, Ayuni. Gue nggak tahu menahu kalau soal cek ini itu. Sumpah, gue nggak tahu. Gue cuma diminta Ryan buat jangan kasih tahu elo kalau dia harus jemput tamu di hotel Livina sama Friska.”Dengan susah payah Biru menjelaskan kepada Ayuni. Sebab mengenai pembayaran kamar itu Biru tidak diberi tahu oleh lelaki itu.“Brengsek!” pekik Ayuni kemudian keluar dari ruangan tersebut. Melangkah dengan lebar dan masuk ke dalam lift.Hendak pergi ke hotel Livina di mana Ryan membayar bill cek ini kamar dan hanya satu kama
“Happy birthday, Sayang.” Ryan memakaikan kalung di leher Ayuni yang tengah melipat baju milik Melvin.Ia terkejut karena Ryan datang dengan tiba-tiba kemudian memberinya sebuah kalung di lehernya. “Mas!” Ayuni kemudian membalikan tubuhnya yang kini berhadapan dengan sang suami.“Selamat ulang tahun ya, Sayang. Di usia yang ketiga puluh tahun ini, kamu diberi hadiah yang luar biasa. Hadirnya Melvin di hidup kita, menjadi pelengkap sempurnanya rumah tangga kita. Menjadikan kita orang tua yang sempurna, dan menjadikan Shakira sebagai kakak.”Ryan lalu mengecup kening perempuan itu dan memeluknya. Senyum bahagia terukir di bibir perempuan itu. Bagaimana tidak, di malam ulang tahunnya itu ia diberi kejutan yang cukup membuatnya bahagia luar biasa.“Terima kasih, Mas. Terima kasih sudah menjadi pelengkap hidup aku. Terima kasih sudah menjaga aku sampai kita bisa melewati semuanya.”Ayuni kemudian mencium punggung tangan Ryan dan menatapnya lagi dengan senyum di bibir perempuan itu. “Ucapka
Anggota keluarga Ayuni dan juga Ryan tengah menyambut cucu kedua mereka. Usia kandungan Ayuni sudah memasuki tujuh bulan. Karena kondisi rahim Ayuni yang semakin parah, Dokter Mia memutuskan untuk melalukan operasi Caesar di hari ini.Ya. Ayuni harus melahirkan bayi secara premature. Sebab kondisi Ayuni yang sudah tidak tahan lagi menahan sakit itu. Ryan pun menyetujui hal itu. Daripada Ayuni mengalami hal yang tak diinginkan, sebaiknya bayi mungil itu segera dikeluarkan.Di ruang operasi. Yang mengambil alih bedah perut Ayuni adalah Dokter Firman ditemani oleh Dokter Mia. Sementara Ryan hanya menginteruksi apa saja yang mesti dilakukan.“Kamu masih kuat, Sayang? Sabar, yaa. Sebentar lagi bayinya akan keluar. Setelah itu, kamu tidak akan mengalami sakit luar biasa itu,” bisik Ryan yang terus mengajak Ayuni bicara. Jangan sampai perempuan itu tertidur dalam keadaan lemas seperti itu.Ayuni menggenggam tangan Ryan dengan erat. Tak bisa bicara karena kondisinya yang sudah tak karuan. Ker
Dua bulan kemudian.Ayuni terbangun karena mendengar suara percikan air di dalam kamar mandi juga Ryan yang tidak ada di kamar.“Baru jam enam dia udah mandi jam segini? Mau ke mana emang dia?” gumamnya kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.“Mas. Kamu lagi apa?” tanya Ayuni menghampiri Ryan yang tengah berdiri di depan wastafel.“Mau gosok gigi,” jawabnya singkat.Ayuni mengerutkan keningnya. “Gosok gigi? Kamu ada kerjaan di jam tujuh apa gimana? Ini baru jam enam, Mas. Tumben banget jam segini udah ada di kamar mandi. Biasanya jug—”Ayuni memegang perutnya karena nyeri. “Ssstth!” lirihnya sembari memegang perutnya.Ryan menoleh kemudian segera berkumur. “Kembali ke kamar, Sayang.” Ryan menuntun Ayuni lalu mendudukan perempuan itu di tepi tempat tidur.“Perut aku sakit, Mas. Nyeri.”Ryan menganggukkan kepalanya. Ia lalu merebahkan tubuh sang istri dan mengambil stetoskop di dalam laci. Hendak memeriksa kondisi Ayuni yang tiba-tiba saja nyeri.“Aku tadi ha
Ryan hanya menggaruk pelipisnya mendengar pertanyaan Ayuni yang berhasil membuat bulu kuduknya merinding. Bukan Ayuni yang tegang, Ryan lah yang tegang kala mendengarnya.Ayuni melihat tingkah laku Ryan hanya tertawa kemudian geleng-geleng. “Mas bojo memang sangat alim. Digoda seperti itu saja langsung panas dingin. Padahal memang benar, kalau sudah main pasti akan panas.”Ryan menghela napas pelan. “Kamu jangan macam-macam. Minta berapa ronde kayak yang iya. Sekali main langsung tidur, aku pukul bokong kamu.”Ayuni lantas tertawa. “Oh, yaa? Memangnya kamu berani, pukul aku? Mau aku laporin ke Komnas HAM?”“Nggak ada hubungannya, Sayang. Kalau kamu mau laporin aku ke Komnas HAM hanya karena memukul bokong, setiap kita main juga aku sering mukul. Harus ada bukti juga dan memangnya kamu mau kasih bukti saat kita lagi main?”Ayuni kalah telak. Ia kemudian mengibaskan tangannya karena tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang suami.Ryan yang melihatnya hanya terkekeh lalu geleng-geleng. S
Tiga bulan setelah Ayuni mengalami koma selama satu tahun. Kondisinya sudah dibilang membaik setelah beberapa kali melakukan perawatan dengan sangat telaten dan Ayuni pun selalu menuruti perintah dari sang suami.“Mama. Kemarin aku ketemu sama Kak Cakra. Itu pun nggak sengaja ketemu.” Shakira menghampiri sang mama yang tengah merapikan bajunya di dalam kamar.“Oh, ya? Terus, dia ngomong apa aja ke kamu? Sudah lama sekali sepertinya kalian tidak bertemu.”Shakira mengangguk. “Iya. Dia nanya kabar Mama. Dia senang karena Mama udah sembuh. Tadinya mau aku ajak ke rumah buat ketemu Mama. Tapi, katanya dia lagi ada urusan. Mau ketemu sama kakeknya.”Ayuni manggut-manggut dengan pelan. “Ya sudah biarkan saja. Yang penting Cakra masih ingat sama kamu. Lagian kalian ini pada kecil. Belum waktunya untuk saling dekat. Biar saja dulu masing-masing. Kamu menikmati masa kecil kamu dan Cakra fokus sama pendidikannya.”Ayuni mengusapi rambut Shakira dengan lembut seraya menasihatinya agar anaknya pa
Satu minggu setelah Ayuni sadarkan diri, ia akhirnya sudah bisa pulang dan dirawat di rumah saja. Ayuni sudah jenuh dan bosan bila harus dirawat di rumah sakit. Sudah terlalu lama bahkan satu tahun lebih dia ada di sana.“Apa yang masih kamu rasa sakit, Sayang?” tanya Ryan setelah membawa Ayuni duduk di tempat tidur.“Ini.” Ayuni menunjuk kepalanya. “Terus ini.” Kemudian menunjuk kening, pipi hingga bibir. “Dan terakhir ini.”Ryan lantas geleng-geleng. “Baru juga sembuh udah mikir yang jorok. Nanti kita bulan madu lagi.”Ayuni menghela napas kasar. “Aku masih harus menunggu dua tahun lagi buat punya anak, Mas. Jadi, nggak usah ada bulan madu lagi.”Ryan kemudian memberikan secarik kertas hasil pemeriksaan terakhir kondisi rahim Ayuni. “Kamu sudah bisa hamil, Sayang.”Ayuni menganga kemudian menutup mulutnya. “Beneran, Mas? I—ini, ini nggak bohong, kan?”Ryan terkekeh pelan. “Nggak dong, Sayang. Rahim kamu sudah siap menampung bayi meski harus tetap dijaga dan dirawat sampai sembilan b
Sudah satu tahun berlalu. Ayuni masih enggan untuk membuka matanya. Masih betah tidur dengan alat bantu medis yang mengelilingi tubuhnya.“Ayuni sudah melewati masa pengobatannya, Ryan. Dan dia masih belum ingin membuka matanya. Ayuni pasti kesiksa karena alat-alat ini.”Biru menghampiri Ryan yang tengah memeriksa kondisi Ayuni. Ia lalu menoleh dan melepas stetoskop di telinganya.“Jantungnya masih berdetak normal, Biru. Aku sudah melepas beberapa alat yang ada di tubuh Ayuni. Dia hanya masih lemas saja. Belum bisa buka matanya.” Ryan menatap wajah Ayuni dengan wajah sendunya.Biru kemudian mengusapi bahu lelaki itu. “Kalau dia udah nggak kuat, jangan dipaksa. Kasihan Ayuni. Harus kesiksa karena alat-alat ini.”Ryan menelan salivanya. “Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, Biru. Ayuni sudah jadi yang terakhir untukku. Aku akan usahakan untuk menyembuhkan dia apa pun akan aku lakukan.”Biru menganggukkan kepalanya kemudian menolehkan matanya kepada Ayuni. Mulutnya menganga se
Delapan bulan kemudian.“Happy anniversary, Sayang. Hari ini adalah hari pernikahan kita ke satu tahun. Aku punya hadiah buat kamu.”Ryan mengusapi pucuk kepala Ayuni dengan lembut sembari menyimpan hadiah di atas nakas berupa kotak musik sebagai hadiah satu tahun pernikahan mereka. Dan Ayuni masih terbaring di atas bangsal, di ruang ICU.“Aku ada sedikit cerita. Shakira dan Cakra harus berpisah karena Cakra sudah masuk SMP. Dia sering ke sini jengukin kamu, nemenin Shakira ngobrol dan dia sedikit terhibur karena ada Cakra. Tapi, sekarang Cakra udah menghilang. Dia masih belum ingin memberi tahu di mana dia sekolah. Kasihan Shakira, harus LDR dulu sama Cakra.”Ryan kemudian terkekeh pelan seraya mengusap air matanya. Ia yang selalu bercerita semua kejadian yang dia lewati selama Ayuni koma. Agar Ayuni tahu, apa saja yang dia lewati selama delapan bulan itu.Tok tok tok!Ryan menoleh ke arah pintu. Andreas tengah berdiri di sana dan akhirnya ia harus bangun dari duduknya menghampiri le
Dua belas tahun yang lalu ….“Ayuni?”Perempuan yang tengah makan choki-choki itu kemudian menoleh. “Ryan? Lagi ngapain di sini?” tanyanya sembari menyodorkan choki-choki itu kepada Ryan.“Makasih. Kamu sendiri lagi ngapain di sini?” tanyanya kemudian duduk di samping perempuan itu.“Lagi bete sama dosen kampret satu itu. Cuma salah satu doang, tetep aja dihukum. Killer-nya minta ampun memang.”Ryan terkekeh pelan. “Daripada bete begitu, mending ikut aku, yuk! Aku nemu tempat bagus banget. Mau lihat?”“Di mana?”“Dekat panti. Ada danau buatan di sana, tapi bagus banget meski hanya buatan.”“Oh, yaa? Boleh deh! Tapi, memangnya kamu nggak ada jam kuliah?”Ryan menggeleng pelan. “Nggak ada. Dosennya lagi rapat. Mata kuliah terakhir juga. Setelah itu nggak ada lagi.”“Oh! Ayolah kalau begitu.” Ayuni kemudian menerbitkan cengiran kepada lelaki itu.Keduanya pergi dari kampus menuju danau buatan yang disebutkan Ryan tadi. Mengenakan sepeda milik lelaki itu yang sering ia pakai untuk pergi k