Hari kesembilan setelah aku menikah dengan Cedric. Seingatku hari ini, adalah hari ulang tahun Lucy. Aku ingin memberikan hadiah untuknya karena dia sudah bekerja sangat baik dalam dua hari ini. Tapi aku tidak memegang uang sepeser pun. Perhiasanku juga sangat terbatas.
"Yang Mulia, bolehkah saya masuk?" tanya Lucy dari luar. "Masuklah," jawabku. Lucy masuk dengan membawa troli berisi makanan. Dia menghidangkan makanan itu di meja seperti biasanya. "Lucy," panggilku sambil berjalan ke meja. "Apa kau pernah keluar istana?" tanyaku. "Tentu saja, Yang Mulia. Saya keluar istana sesekali ketika saya bosan berada di dalam istana ketika saya libur," jawabnya. "Ini hari ulang tahunmu kan?" tanyaku. Tiba-tiba dia menangis. Oh, ayolah. Dia terlalu emosional. Aku hanya menanyakan ulang tahunnya. "Tidak ada yang pernah mengingat ulang tahun saya selain ibu saya. Maaf Yang Mulia, saya merasa sangat terharu," kata Lucy sambil menghapus air matanya. "Oh, begitu ya. Ngomong-ngomong pergilah ke luar istana hari ini dan bersenang-senang lah. Aku akan memberimu libur hari ini," kataku. "Tapi siapa yang akan menjaga Anda, Yang Mulia?" tanyanya. "Aku bukan anak kecil yang harus diawasi setiap saat," kataku. "Tapi siapa yang akan menyiapkan keperluan Anda ketika saya pergi?" tanya Lucy dengan nada khawatir. "Aku akan baik-baik saja. Kau akan kembali sebelum makan malam kan? Aku baik-baik saja tanpamu selama beberapa jam," kataku meyakinkan. "Apa Anda yakin Anda akan baik-baik saja, Yang Mulia?" tanyanya lagi. Dia terligat seperti mengkhawatirkan anak kecil. Apa aku terlihat seperti anak kecil di matanya? "Aku baik-baik saja. Pergilah," kataku. "Kalau begitu saya akan kembali sebelum makan malam, Yang Mulia," katanya. "Iya, iya, baiklah. Pergilah," kataku. Dia membungkuk hormat kepadaku lalu berjalan keluar dari kamar ini. Akhirnya dia pergi. Kenapa dia begitu mengkhawatirkan aku? Apa aku setidak berguna itu tanpa dia? Aku mulai menyantap sarapanku. Ah, aku tidak sengaja menyenggol gelas dan membuat cairan yang di dalamnya mengenai gaun tidurku. Baiklah ini benar-benar basah. Aku akan mengganti pakaianku nanti. Aku tetap menyelesaikan sarapanku meski dengan pakaian yang basah. Setelah aku keyang, aku mulai mencari pakaian baru. Dimana Lucy menaruh pakaianku? Aku membuka lemari di kamarku. Tidak ada. Lemari ini hanya berisi selimut dan seprai. Aku membuka lemari lainnya. Tidak ada. Lemari ini hanya berisi sepatu dan beberapa perhiasanku. Aku membuka lemari terakhir. Tidak ada juga. Lemari ini hanya berisi maneken yang memakai gaun pengantinku. Dimana pakaianku yang lain? Kalau diingat-ingat, Lucy selalu membawa pakaian bersihku dari luar. Dimana dia menyimpannya? Haruskah aku memerintahkan pelayan lain untuk mengambilkan pakaianku? Tapi aku tidak yakin mereka juga tahu dimana Lucy meletakkan pakaianku. Tunggu apa itu? Ada tumpukan kain di rak paling bawah troli makanan. Aku mengambilnya dan merentangkannya. Baiklah, ini adalah gaun. Tapi ini gaun tidur untuk itu kan? Gaun ini sangat tipis dan terbuka. Jangan bilang, hari ini adalah jadwal Cedric untuk mengunjungiku. Tidak, tidak. Dia pasti tidak akan datang. Semoga. Tolong jangan datang. Mari kita tetap berpikir positif bahwa dia tidak akan datang. Haruskah aku mengganti pakaianku? Aku rasa harus. Pakaianku sekarang basah dan lengket. Lebih baik aku membersihkan diriku dulu. Aku berjalan ke kamar mandi yang terhubung dengan kamar ini. Aku lihat air di bak mandi sudah terisi. Aku menyentuh airnya untuk mengecek suhu air ini. Suhu air ini benar-benar pas. Lucy sepertinya sudah menyiapkan semua keperluanku hari ini. Aku melepaskan semua pakaianku kemudian berendam di bak mandi. Ah, rasanya benar-benar nyaman. Setelah beberapa saat, aku keluar dari bak mandi kemudian mengeringkan tubuhku. Aku memakai gaun tidur yang disiapkan Lucy kemudian berjalan keluar kembali ke kamar tidur. "Akhirnya kau selesai juga." Aku terkejut mendengar suara Cedric. Aku langsung menoleh ke arahnya. Dia dengan santainya duduk di sofa sambil membaca beberapa lembar kertas. "Yang Mulia," kataku sambil membungkuk hormat kepada Cedric. "Oh? Ternyata kau masih bisa membukuk hormat kepadaku," sindirnya. "Apa itu sebuah sindiran?" tanyaku. "Tidak mungkin," jawabnya. "Saya hanyalah seorang wanita bangsawan biasa. Tentu saja saya harus hormat kepada pemimpin kekaisaran ini," kataku. "Lupakan formalitas itu. Kau juga istriku," kata Cedric. "Ah, benar. Anda adalah suami yang menelantarkan istrinya di bangunan yang hampir rubuh," kataku. "Apa itu sindirian?" tanyanya. "Tidak mungkin. Apa Anda merasa tersindir?" tanyaku balik. Aku bisa mendengar dia berdecak. Baiklah, mari berpikir bagaimana caranya agar dia pergi tanpa menyentuhku. Dia tidak akan menyentuhku kan? Dia terkenal sangat setia pada Alicia. Seharusnya dia tidak menyentuhku agar tidak menyakiti perasaan Alicia. "Hanya kau yang berani membuatku menunggu selama satu jam," kata Cedric. "Oh ya? Kenapa kau ada di sini?" tanyaku. "Kau benar-benar membuang formalitas di antara kita, hm?" tanyanya. "Kau yang minta," kataku. "Ya, ya, terserah. Aku ke sini untuk kunjungan rutin dan kau membuatku menunggu selama satu jam," katanya. "Kau tidak harus menunggu. Kau bisa pergi dan mengerjakan sesuatu yang lain," kataku sambil duduk di sofa yang ada di depannya. "Ya, aku sedang mengerjakannya," kata Cedric sambil menunjukkan kertas-kertas yang dia bawa. "Maksudku, kau tidak perlu buang-buang waktu di sini," kataku. "Apa kau mengusirku?" tanyanya. "Ya," jawabku dengan singkat, padat, dan jelas. "Tidak mungkin. Aku mengosongkan jadwalku hari ini hanya untuk menghabiskan waktu bersamamu," kata Cedric. "Haruskah aku berterimakasih untuk itu? Karena aku benar-benar tidak merasa senang kau ada di sini," kataku. "Ini pertama kalinya ada seseorang yang mengusirku secara blak-blakan," kata Cedric sambil tertawa. "Wow, aku sangat bangga dengan prestasi itu," kataku. Aku mengambil selembar kertas yang ia bawa dan membacanya. Dia tidak melarangku maka anggap saja dokumen ini bukan dokumen rahasia. "Apa kau penasaran?" tanyanya. "Ya, aku sangat penasaran apa yang sebenarnya apa yang dilakukan oleh sang kaisar," kataku. "Ya, ya, baca saja sesukamu," kata Cedric. "Itu hanya laporan bulanan dari berbagai daerah." Aku membacanya sedikit kemudian meletakkannya kembali karena tidak menarik. Aku melihat ke arahnya dan dia menatapku dengan tatapan aneh. Aku tidak yakin. Tapi dia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Aku baru ingat kalau aku memakai pakaian yang cukup terbuka. "Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanyaku. "Aku hanya menikmati pemandangan yang tersaji di depanku," kata Cedric. "Kalau dilihat-lihat kau sedikit mirip dengan Alicia. Rambut pirang dan mata biru." "Ada banyak orang memiliki rambut pirang dan mata biru," kataku. "Ya, ya, aku tahu. Tapi wajahmu memang sedikit mirip dengannya," kata Cedric. "Secara teknis kami memang sepupu walaupun aku belum pernah bertemu dengannya secara langsung," kataku. "Sepupu?" tanyanya. "Mendiang ibu kandungku adalah adik ibunya," kataku. "Ah, jadi begitu," kata Cedric. "Kenapa kau masih di sini?" tanyaku. "Kau tahu kan, apa tujuanku ke sini. Aku yakin kau bukan tipe gadis bangsawan yang polos," kata Cedric dengan tatapan anehnya. ***"Kau tahu kan, apa tujuanku ke sini. Aku yakin kau bukan tipe gadis bangsawan yang polos," kata Cedric dengan tatapan anehnya. Sial! Apa yang harus aku lakukan?!"Aku tidak mengerti apa maksudmu," kataku. Untuk sekarang mari pura-pura bersikap polos."Aku tahu kau tidak polos. Kau bahkan tidak merasa malu menggunakan pakaian seperti itu di depanku. Jangan-jangan kau sudah terbiasa berpenampilan seperti itu di depan pria," katanya. Dia jelas-jelas sedang merendahkan aku."Apa maksudmu?" tanyaku sambil menahan emosi."Apa aku harus memperjelasnya? Aku hanya menebak bahwa kau sudah terbiasa 'bermain-main' dengan banyak pria karena kau sama sekali tidak malu berpakaian seperti itu di depanku," kata Cedric."Aku bukan wanita murahan seperti itu," kataku."Oh ya? Aku meragukannya," kata Cedric. Cedric bajingan!"Ya, anggap saja seperti itu kalau itu yang ingin kau percaya. Lagipula kau tidak akan pe
Hari kelima belas setelah aku menikah dengan Cedric. Dua hari lagi adalah hari pendirian kekaisaran. Semua orang di istana sibuk menyiapkan semua hal, kecuali aku. Bahkan Lucy juga ikut sibuk mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk hari itu.Aku melihat ke arah luar dari jendela kamarku. Ada banyak pelayan yang jalan ke sana ke mari sambil membawa barang-barang untuk keperluan perayaan hari pendirian kekaisaran. Mereka benar-benar sibuk akhir-akhir ini.Lagipula kenapa Cedric mengadakan pernikahan denganku sekitar tiga minggu sebelum hari pendirian kekaisaran? Mengadakan dua acara besar berturut-turut adalah hal yang melelahkan. Orang gila mana yang mengadakan dua acara dua acara besar berturut-turut? Itu hanya menguras uang dan tenaga. Walaupun pernikahanku hanya sederhana untuk ukuran kaisar, tapi itu tetap saja menguras uang dan tenaga.Aku tidak sengaja melihat permaisuri alias istri pertama Cedric saat melihat keluar melalui jendela. Aku belum pernah bert
Hari ketujuh belas setelah aku menikah dengan Cedric. Hari ini adalah hari peringatan pendirian kekaisaran. Aku harus bangun pagi-pagi sekali dan segera bersiap-siap untuk hari yang panjang.Aku beridiri di depan cermin besar. Aku melihat diriku sendiri dari pantulan cermin itu. Baiklah, aku terlihat seperti seorang ratu sekarang. Tapi aku memang seorang ratu.Aku menggunakan gaun berwarna merah dengan sedikit warna putih di bagian depan gaun ini. Tak lupa dengan perhiasan dan tiara yang dihiasi oleh berlian berwarna merah."Yang Mulia, sepatu Anda," kata Lucy. Lucy berjalan mendekatiku dengan membawa sepatu berhak sangat rendah. Lucy menaruh sepatu itu di depan kakiku lalu aku memakainya."Anda terlihat sempurna, Yang Mulia," kata Lucy."Terima kasih atas, pujiannya," kataku."Sudah saatnya Anda pergi ke aula makan. Saya akan mengantar Anda," kata Lucy."Baiklah."Aku berjalan keluar menyusuri lorong bersama Lucy. Di persimpan
Masih di hari ketujuh belas setelah aku menikah dengan Cedric. Cedric, Alicia, dan aku berada di atas kereta kuda. Kereta kuda ini berjalan bersama dengan arak-arakan. Arak-arakan ini berjalan melewati kerumunan menuju alun-alun ibu kota.Aku tersenyum ke arah kerumunan dan melambaikan tanganku. Sementara itu, aku dapat mendengar Alicia mengomeli Cedric dengan lembut.Dari omelan Alicia, aku dapat menyimpulkan bahwa Alicia adalah tipe orang yang mengendalikan orang lain dengan rasa simpati dari lawan bicaranya. Bagaimana aku menjelaskannya ya? Kalau seseorang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya dia akan berlagak sedih. Dia sepertinya tipe yang polos dan lembut di luar tapi licik di dalam. Entah kenapa aku berpikir bahwa dugaanku benar karena dia berhasil bertahan di posisinya sebagai permaisuri selama bertahun-tahun.Alicia. Perempuan itu tipe yang menyebalkan. Jangan sampai aku terlibat masalah dengannya. Bisa-bisa kepalaku langsung terpisah
Masih hari ketujuh belas setelah aku menikah dengan Cedric. Acara hari ini belum selesai. Aku masih berada di aula pesta, dimana pesta dansa untuk perayaan hari pendirian kekaisaran diadakan. Aku baru saja dikejutkan oleh Ratu Janda Elena yang tiba-tiba menghampiriku."Ah, em...." Aku bingung harus memanggilnya apa. Elena tertawa kecil saat melihat kebingunganku."Kau imut sekali, Stella," kata Elena. Aku pun hanya tertawa gugup."Panggil saja aku ibu mertua," kata Elena. Ibu mertua katamu? Lucu sekali."Ah, iya. Ibu mertua," kataku dengan senyum terpaksa."Ah, anak baik. Sebenarnya ada yang aku bicarakan denganmu," kata Elena."Apa itu, Ibu?" tanyaku berlagak polos."Sebelumnya, ayo ke tempat sepi dulu," kata Elena.Aku mengikuti Elena untuk pergi ke salah satu balkon yang ada di sekitar aula pesta. Kami berada di balkon dan dia menutup pintu dengan rapat."Apa ada sesuatu yang serius, Ibu?" tanyaku.
Hari kesembilan belas setelah aku menikah dengan Cedric. Dua hari setelah hari yang melelahkan. Aku bangun di pagi hari seperti biasanya. Kemarin aku benar-benar tidur seharian karena rasanya sangat melelahkan.Makanan sudah tersaji di atas meja. Sepertinya aku bangun kesiangan karena Lucy sudah membawakan aku makanan.Aku duduk di kursi lalu memakan makananku. Isi kepalaku masih kosong karena aku baru saja bangun tidur.Tunggu dulu. Apa ini makanan? Apa Lucy meletakkan sesuatu di makanan ini? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Sial.Aku memuntahkan makananku kembali lalu membuangnya melalui jendela. Ah, aku harap tidak ada orang di bawah sana.Aku baru ingat. Bagaimana dengan makanan kemarin? Aku menelannya begitu saja karena aku benar-benar kelelahan kemarin. Apa aku akan mati dalam waktu dekat?“Yang Mulia,” panggil Lucy. Aku menoleh ke arahnya saat aku mendengar suaranya.“Apa?” tanyaku.“Apa mak
Hari kedua puluh setelah aku menikah dengan Cedric. Aku bisa melakukan kontak dengan adikku, Albert. Dia datang mengunjungiku karena hari itu dia memang ada urusan di istana. Aku minta tolong padanya untuk menyelidiki obat yang Alicia berikan pada Lucy untuk dicampurkan ke dalam makananku.Hari kedua puluh dua, Albert kembali mengunjungiku. Albert melaporkan hasil penyelidikannya padaku. Obat itu memang obat yang bisa mencegah kehamilan. Namun, keberhasilan efek obat itu tidak mencapai seratus persen. Obat itu juga tidak berbahaya apabila terus dikonsumsi.Baiklah mari kita lompat ke hari kedelapan puluh setelah aku menikah dengan Cedric. Apa? Dari hari kedua puluh dua sampai dengan hari kedelapan puluh itu sangat jauh? Ya, memang jauh. Karena tidak ada yang bisa aku ceritakan selama dua bulan ini. Alicia juga tenang-tenang saja. Atau mungkin dia terlalu sibuk dengan urusan lain?Rutinitas selama dua bulan ini hanya makan dan tidur. Di pagi hari aku
Hari kedelapan puluh lima setelah aku menikah dengan Cedric. Cedric datang ke kamarku pagi-pagi sekali. Aku langsung bangun ketika dia membuka pintu kamarku.Dia berjalan ke arah tempat tidurku lalu menarikku dengan lembut agar aku duduk. Aku menatapnya malas dengan mataku yang masih mengantuk."Bangunlah," kata Cedric sambil menepuk pipiku."Aku sudah bangun," protesku. Aku menyingkirkan tangannya dariku."Matamu belum terbuka," kata Cedric. Aku pun memelotot ke arah Cedric. Cedric tertawa melihat wajahku."Ganti bajumu," kata Cedric sambil meletakkan pakaian di atas pahaku."Apa ini?" tanyaku."Pakaian berkuda," kata Cedric."Ini masih sangat pagi," kataku malas. "Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit.""Ganti bajumu sekarang atau aku yang akan melakukannya," kata Cedric. Aku berdecak kesal. Aku bangun dan berdiri dari tempat tidur kemudian mengambil baju yang dia bawakan.Aku berbalik membelakanginya kemudian
Hari ke-1150 setelah aku menikah dengan Cedric. Pagi ini, keadaan Arion sangat membaik dari pada hari sebelumnya. Dokter tidak melarang kami untuk membawa Arion ke kastil.Saat ini Arion, Brandon, Cedric, dan aku berkumpul di taman kastil. Kami akan merayakan ulang tahun Arion walaupun sudah terlambat beberapa hari.Kami berada di sebuah gazebo. Kami duduk sambil menikmati makanan kami dengan tenang.Hari ini semuanya terasa begitu damai. Aku bisa mengistirahatkan pikiranku sejenak karena Arion sudah lebih baik saat ini.Arion duduk di pangkuanku sambil memelukku erat. Dia benar-benar tidak mau lepas dariku dari tadi. Tapi aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini.Sementara itu, Brandon berada di pangkuan Cedric. Kalau dilihat-lihat, tampang dan tingkah mereka sangat mirip. Terlebih lagi saat mereka sedang makan. Gerakan mereka saat mengunyah sangat mirip."Arion, apa kau tidak merindukan Ayah?" tany
Hari ke-1147 setelah aku menikah dengan Cedric. Aku terbangun di kamar lamaku yang ada di kastil Gilmond. Ternyata aku sudah sampai di sini. Ingatan terakhirku sebelum aku tidur adalah Cedric, Arion, dan aku sedang dalam perjalanan menuju ke Gilmond untuk mendapatkan pengobatan untuk Arion. Aku duduk di tempat tidurku. Aku meraih segelas air yang ada di nakas lalu aku meminumnya sampai habis.Pintu kamarku terbuka lalu Cedric Cedric masuk ke dalam sambil menggendong Brandon. Sudah lama aku tidak melihat Brandon. Ternyata dia tumbuh dengan cepat. "Akhirnya kau bangun juga. Kau sudah tidur selama dua hari," kata Cedric sambil berjalan mendekat. "Aku benar-benar kelelahan karena Alicia terus memaksaku untuk bekerja," kataku. Aku menghela napas panjang. "Kau juga terlihat lebih kurus," kata Cedric. "Lalu, bagaimana dengan Arion?" tanyaku. "Arion berada di rumah sakit," kata Cedric. "Apa dia baik-baik saja?" tanyaku. "Aku tidak bisa mengatakan bahwa dia baik-baik saja untuk sekaran
Hari ke-1144 setelah aku menikah dengan Cedric. Sudah dua bulan Alicia terus mengendalikan aku. Dia terus memaksaku untuk melakukan ini dan itu. Aku merasa sudah menjadi budaknya saja. Stress? Tentu saja aku sangat stress dan kelelahan. Aku tidak sempat untuk memikirkan hal lain selain apa yang harus aku lakukan pada saat itu juga. Aku bahkan melewatkan hari ulang tahun Arion tiga hari yang lalu. Maafkan ibumu ini, Arion. Pagi ini, aku baru saja bangun dan para kesatria sudah menjemputku untuk pergi ke Istana Anggrek. Mau tidak mau aku harus segera pergi ke sana untuk menyusui Caelan. Kepalaku rasanya seperti akan pecah. Telingaku bahkan berdenging. Rasanya aku ingin hibernasi selama beberapa hari tapi aku tidak bisa.Aku masuk ke kamar Caelan. Aku melihat Alicia sedang menggendong Cealan di dalam. Sepertinya Caelan sudah mulai terbiasa dengan Alicia. Aku duduk di sofa lalu Alicia memberikan Caelan padaku. Aku segera mulai untuk menyusui Caelan. Namun, tak lama kemudian, Caelan l
Hari ke-1084 setelah aku menikah dengan Cedric. Taylor sudah kembali ke sini setelah mengantar Brandon ke Gilmond. Aku menyuruhnya untuk tidak memperlihatkan diri pada para kesatria kaisar yang lainnya.Aku tidak tahu apa yang dilakukan Lucy pada Mina setelah kekacauan tadi malam. Yang jelas, hari ini Mina sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Aku terlalu kesal untuk bertanya pada Lucy di mana Mina berada.Aku baru saja selesai sarapan lalu tiba-tiba para kesatria masuk ke dalam kamarku secara paksa. Ada apa lagi ini?"Beraninya kalian masuk ke sini tanpa permisi," kata Lucy pada mereka."Maafkan kami, Yang Muna. Akan tetapi, Yang Mulia Permaisuri memerintahkan kami untuk membawa Anda ke hadapan Yang Mulia Permaisuri sekarang juga," kata salah satu kesatria."Ini belum saatnya untuk mulai mengerjakan dokumen-dokumen itu," kataku dengan nada datar sambil menyeruput tehku."Yang Mulia, sebaiknya Anda ikut kami se
Hari ke-1083 setelah aku menikah dengan Cedric. Sudah tiga hari ini Alicia terus mengendalikan aku seenak jidatnya. Aku sudah mulai muak dengan semua ini. Aku harus segera mencari cara untuk mengambil Arion dari genggamannya. Tapi bagaimana?!Saat ini hari sudah menjelang malam dan aku masih terjebak di dalam ruang kerja permaisuri. Aku masih harus mengerjakan tumpukan kertas-kertas yang tidak ada habisnya ini.Aku melirik ke arah Alicia. Dia masih fokus pada kertas-kertasnya. Mau sampai kapan dia akan terus menahanku di sini?Para pelayan masuk ke dalam mulai menyalakan lentera. Seorang pelayan meletakkan sebuah cangkir berisi teh di atas mejaku. Aku hanya menatap cangkir itu tanpa menyentuhnya."Minumlah, aku yakin kau haus," kata Alica."Apa ini?" tanyaku."Itu hanya teh," kata Alicia."Aku tidak percaya kalau itu hanya sekedar teh biasa," kataku."Aku sudah mencari bahan untuk membuat teh
Hari ke-1081 setelah aku menikah dengan Cedric. Alicia mengambil Arion dariku kemarin. Dan aku sangat marah pada diriku sendiri karena aku tidak berdaya saat Arion diambil dariku. Aku hanya bisa berharap Arion baik-baik saja di sana.Pagi ini, aku sedang menyusui Brandon di atas tempat tidurku. Aku terus menatap wajah Brandon dan mencoba untuk tetap tenang.Tapi bagaimana aku bisa tenang dengan suara tangisan Caelan yang tidak ada hentinya itu? Tidak bisakah mereka membuatnya diam sebentar saja?Kalau anaknya sendiri dibiarkan begitu saja, bagaimana dengan Arion? Aku benar-benar tidak bisa mengkhawatirkan keadaan Arion yang berada di sana.Sepertinya tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Arion selain menculiknya dari sana. Tapi aku yakin Alicia menempatkan banyak penjaga di sana."Taylor, apa kau di sana?" panggilku.Pintu yang terhubung dengan balkon kamarku terbuka. Taylor masuk ke dalam lalu membungku
Masih di hari ke-1080 setelah aku menikah dengan Cedric. Aku baru saja menyadari bahwa ada sesuatu yang berbahaya di mainan yang diberikan oleh Alicia pada Arion. Aku langsung menyuruh Mina untuk bersiap pergi ke Gilmond."Mau ke mana kau buru-buru seperti itu?"Aku menoleh ke arah pintu dan aku melihat Alicia beridir di sana. Mau apa lagi dia?"Apa yang kau lakukan pada Arion?" tanyaku sambil menahan amarahku."Tidak ada," kata Alicia sambil tersenyum.Aku bisa tahu bahwa itu adalah senyuman palsunya. Dia pasti memiliki niat yang tidak baik padaku."Apa kau mau menyingkirkan kami?" tanyaku."Oh, akhirnya kau sadar juga," kata Alicia."Alicia, kita tidak boleh berselisih seperti ini," kataku."Sepertinya kau salah paham. Kita menjadi teman karena kita menghadapi musuh yang sama. Karena musuh kita sudah tiada, tidak ada alasan lagi untuk kita berteman," kata Alicia.A
Hari ke-1080 setelah aku menikah dengan Cedric. Sesuai dengan perkataan Alicia, hari ini ibunya datang lagi ke sini untuk mengurus Caelan.Pagi ini, aku baru saja selesai menyuapi Brandon. Lalu tiba-tiba, aku mendapatkan kabar bahwa Eva datang ke istanaku. Aku pun langsung berganti pakaian dan berdandan sebelum bertemu dengan Eva.Setelah aku selesai bersiap, aku berjalan keluar dari kamarku menuju ke ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, aku melihat Eva sudah duduk dengan manis di salah satu sofa. Aku segera masuk dan duduk di sofa yang berhadapan dengannya."Anda datang pagi sekali, Bibi," kataku sambil tersenyum."Oh, tentu saja aku sangat bersemangat untuk bertemu cucuku untuk pertama kalinya," kata Eva."Begitukah? Kenapa Anda tidak berkunjung saat Caelan baru saja lahir?" tanyaku tanpa menghilangkan senyumanku."Aku bahkan tidak mendapatkan kabar bahwa putriku sudah melahirkan. Kalian bahkan tidak m
Hari ke-1078 setelah aku menikah dengan Cedric. Pangeran Caelan sudah berusia satu bulan setengah. Caelan lebih sering menghabiskan waktu denganku dari pada dengan Alicia. Entah kenapa Caelan selalu menangis saat Alicia mencoba untuk menggendongnya.Alicia sudah kembali melakukan pekerjaannya sebagai permaisuri. Terlebih lagi, dia harus menggantikan pekerjaan Cedric karena Cedric sedang berperang di perbatasan.Saat ini, aku berada di ruang bermain Arion seperti biasanya. Aku mengawasi Arion dan Brandon yang mengacak-acak mainan mereka. Aku harus mengawasi Arion dan Brandon dengan pengawasan ekstra agar mereka tidak saling memukul satu sama menggunakan mainan mereka.Tiba-tiba pintu ruangan ini terbuka. Siapakah itu? Oh, ternyata itu Alicia. Alicia masuk lalu berjalan ke arah ayunan bayi, tempat di mana Caelan tertidur."Apa dia rewel pagi ini?" tanya Alicia."Tidak. Dari tadi dia hanya tidur," jawabku."T