Share

Cara Seorang Dev

Author: Komalasari
last update Last Updated: 2025-02-25 13:18:08

“Jangan pura-pura tidak tahu!” Kirei menatap tajam.

“Aku memang tidak tahu dan tidak mengerti dengan maksud pertanyaanmu tadi,” balas Dev tenang, seraya meletakkan buku di meja. Dia beranjak dari duduk, lalu mendekat ke hadapan Kirei. “Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyanya, diiringi tatapan penuh arti.

Namun, Kirei justru tak menyukai dengan cara Dev menatapnya. Dia langsung memalingkan wajah. 

“Hari-harimu akan jauh lebih tenang sekarang. Kupastikan tak ada yang berani mengganggumu lagi,” ucap Dev, pelan dan dalam. 

Kirei sontak menoleh, menatap tajam pria tampan di hadapannya. “Jadi, benar dugaanku? Kamu yang telah melenyapkan Natasha dan teman-temannya?”

“Lebih tepatnya adalah anak buahku. Aku hanya memberi perintah,” ujar Dev tenang. 

“Bagaimana kamu bisa mengetahui semua itu?” Kirei menatap penuh selidik. “Kamu mengawasiku?” 

“Sudah kukatakan bahwa ini akan jadi lebih mudah untukku,” balas Dev tetap tenang. 

“Dari mana? Siapa? Bagaimana caranya kamu mengawasiku, Dev?” 

“Aku tidak perlu menjabarkan secara detail padamu. Seharusnya, kamu berterima kasih karena gadis-gadis bodoh tidak berguna itu tak akan mengganggumu lagi. Hari-harimu akan jauh lebih tenang selama berada di kampus. Benar, kan?” 

“Ya! Tapi, tidak dengan cara seperti itu!” protes Kirei tak suka. 

“Lalu, harus dengan cara seperti apa?” Dev menatap lekat Kirei, yang perlahan mundur dan memberi jarak darinya. “Seperti itulah caraku dalam menyelesaikan masalah. Kamu harus tahu dan belajarlah untuk terbiasa karena ____”

“Aku tidak sudi ___”

Secepat kilat, Dev meraih wajah Kirei. Tangan kanannya mencengkram lembut pipi wanita muda itu. Meskipun terlihat agak menakutkan, tetapi Dev melakukannya dengan sangat hati-hati karena tak ingin menyakiti wanita yang telah dinikahinya tersebut.

“Kirei, Sayangku,” ucap Dev pelan dan dalam, seraya mendekatkan wajahnya. Kali ini, Kirei tak bisa menghindar. “Jangan banyak bicara, apalagi protes. Aku tidak akan menyakitimu karena kamu adalah barang titipan. Bagaimanapun juga, aku merupakan orang yang sangat profesional dalam berbisnis. Akan kujaga kamu dengan baik, sampai Sigit melunasi semua utang beserta bunganya.”

“Papa pasti tidak akan melakukan itu,” ucap Kirei pelan, tetapi penuh penekanan. 

“Kita lihat saja nanti. Lagi pula, andai Sigit tidak melunasi utang-utangnya, aku tak merasa terlalu dirugikan. Aku cukup terhibur dengan keberadaanmu di sini. Apalagi, jika kamu bisa bersikap lebih manis.” Dev melepaskan cengkramannya dari pipi Kirei. Namun, dia tak membiarkan wanita muda itu pergi begitu saja. 

“Berhubung kamu sudah ada di sini, tak ada salahnya untuk melayaniku sebentar saja.” Dev menarik pinggang Kirei hingga tubuh wanita muda itu merapat padanya. 

“Tidak! Aku tidak mau!” tolak Kirei, berusaha melepaskan diri. 

Namun, tenaga Kirei tak jauh lebih besar dibanding kekuatan Dev. Dengan sangat mudah, pria itu membawa Kirei ke tempat tidur, kemudian mendudukkannya di tepian kasur. 

“Sudah kukatakan, Sayang. Bekerjasamalah denganku,” ucap Dev, seraya membelai lembut pipi Kirei, yang mendongak menatapnya. 

“Aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik karena ….” Dev mengembuskan napas pelan dan dalam. Perlahan, dia menunduk hingga  mendekat ke wajah Kirei. Dilumatnya mesra bibir wanita muda berambut panjang tersebut. 

“Aku ingin bercinta denganmu sekarang,” ucap Dev, setelah puas mencium Kirei. “Namun, aku baru ingat masih punya urusan yang harus diselesaikan.” 

Dev menatap lekat Kirei, sambil terus memegangi pipi wanita muda itu. “Aku menyukai ini,” ucapnya, seraya mengusap perlahan bibir sang istri menggunakan ibu jari. “Selama kamu berada dalam pengawasanku, tak kuizinkan ada satu pria pun yang mendekatimu.”

“Aku tidak suka dikekang. Lagi pula, aku tidak mengerti dengan hubungan kita sekarang. Ini bukan pernikahan.”

“Lalu, kamu sebut apa?” 

“Pemaksaan kehendak.”

Dev tersenyum samar, kemudian menyingkirkan tangannya dari wajah Kirei. “Katakan itu pada ayahmu. Kenapa dia tidak segera melunasi utang-utangnya padaku.” 

Kirei malas menanggapi ucapan Dev, jika sudah membahas masalah utang sang ayah, berhubung tahu bahwa Sigit tak akan pernah melunasinya. 

“Sigit masih beruntung karena aku tidak langsung menghabisinya. Tak seperti yang kulakukan terhadap orang lain,” ucap Dev cukup datar. 

“Beruntung? Kenyataannya, akulah yang dirugikan dalam hal ini.” Kirei memalingkan muka karena kesal. “Apa yang bisa kulakukan? Astaga. Bodoh sekali.” Wanita muda itu menggeleng tak mengerti.

“Jangan terlalu berlebihan, Kirei. Aku memperlakukanmu dengan baik. Bukankah begitu?” 

“Kamu sangat menakutkan.” Kirei beranjak dari duduk, bermaksud keluar dari kamar Dev. 

Namun, Dev segera meraih pergelangan tangan Kirei, lalu menariknya hingga kembali duduk di ujung tempat tidur. “Aku belum mengizinkanmu keluar dari kamar ini.”

“Apakah aku harus menuruti perintahmu, seperti orang-orang suruhan yang melakukan pembunuhan terhadap Natasha dan yang lainnya?” 

Dev hanya tersenyum kecil, menanggapi ucapan bernada protes yang dilayangkan Kirei. 

“Berikan kebebasanku. Aku akan bekerja dan mengumpulkan uang, lalu melunasi semua utang papa,” ucap Kirei yakin. Padahal, dia tahu nominal yang harus dilunasi bukanlah dalam jumlah sedikit. 

“Kepada siapa kamu akan menjual diri, untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu cepat?”

“Dev!” sergah Kirei. Dia langsung berdiri, seraya mengangkat tangan hendak menampar pria di hadapannya.

Namun, gerakan Dev selalu lebih cepat. Pria itu menangkap pergelangan tangan Kirei, menahannya hingga beberapa saat tanpa mengatakan apa pun. 

Dev menatap dengan sorot tak dapat diartikan. Sesaat kemudian, pengusaha tampan berusia 38 tahun itu mengecup tangan Kirei. "Kamu harus membayar untuk sikap lancang ini," ucapnya penuh penekanan.

Related chapters

  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Anak Haram

    Kirei terdiam. Namun, dia tak mau ambil pusing dan bergegas ke pintu. “Temani aku malam ini,” ucap Dev, bersamaan dengan Kirei yang hendak memutar gagang pintu. Kirei langsung menoleh. “Ke mana?” tanyanya pelan.“Nanti juga kamu akan tahu,” jawab Dev singkat. Dari nada bicara serta bahasa tubuhnya, tampak jelas bahwa dia tak berniat melanjutkan perbincangan. Apalagi, Dev kembali pada buku yang sedang dibacanya tadi. Melihat itu, Kirei juga tak ingin banyak bertanya. Dia bergegas keluar kamar. Kirei melangkah tergesa-gesa, membawa kemarahan yang tak dapat dilampiaskan sepenuhnya. Kirei masuk ke kamar dan langsung menutup pintu. Dia bersandar beberapa saat sambil memejamkan mata. Dadanya terasa begitu sesak, mengingat nasib sial yang harus dijalani saat ini. “Mama … kenapa? Kenapa harus aku yang menanggung semua kesalahanmu?” Kirei membuka mata, menatap sekeliling kamar yang ditempatinya. Penyesalan Kirei tak pernah habis, meskipun selalu berusaha menerima semua yang terjadi. Sesu

    Last Updated : 2025-02-25
  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Di Jalan Sepi

    Tampaknya, Dev keberatan memenuhi keinginan Xander untuk berkenalan dengan Kirei. Dia punya alasan tersendiri bersikap begitu. Dev juga tidak merasa bersalah atau sekadar tak enak hati.“Bukankah kamu mengundangku untuk makan malam?” Nada pertanyaan Dev bagai sindiran halus, berhubung belum ada satu menu pun yang dihidangkan.“Oh, astaga. Aku terlalu fokus pada pembahasan tanah,” ujar Xander, yang segera menekan tombol merah di kaki meja.Tak berselang lama, tiga pelayan masuk ke ruangan itu. Masing-masing dari mereka membawa satu menu. Sesaat kemudian, muncul seorang lagi membawa troli dengan botol minuman keluaran brand luar negeri.“Aku sengaja hanya memsan sedikit makanan. Kamu jarang makan banyak jika kutraktir,” ucap

    Last Updated : 2025-02-28
  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Dua Hal yang Mengejutkan

    Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30, ketika Kirei baru pulang dari tempat kerjanya. Meskipun sebagai anak pengusaha, tetapi Kirei harus bekerja demi uang saku lebih, berhubung tak pernah mendapat perlakuan istimewa dari Sigit, sang ayah. Malam itu, Kirei sengaja mengambil jalan pintas dengan tujuan ingin lebih cepat tiba di rumah. Namun, sialnya ada perbaikan di jalur yang akan dilewati. Kirei terpaksa harus memutar ke arah lain. “Ya, ampun. Seharusnya, aku lewat jalan utama saja,” keluh Kirei, seraya terus menjalankan sepeda motor. Harus diakui, dia mulai takut melewati jalan sepi, dengan deretan pabrik yang dibatasi benteng tinggi. Tepat saat akan melintas di depan salah satu pabrik paling ujung yang terbengkalai karena kebakaran, Kirei melihat dua pria menyeret kasar sesosok tubuh dari dalam pabrik tersebut, tanpa ada perlawanan. Sepertinya, orang yang diseret itu dalam kondisi pingsan, atau mungkin tidak bernyawa. Tak berselang lama, muncul pria lain melangkah gagah dari dalam

    Last Updated : 2025-02-06
  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Sang Pemilik Suara

    “Ya. Menikah.” Sigit menegaskan.“Ta-tapi, bagaimana bisa?” protes Kirei.“Apanya yang ‘bagaimana bisa?’ Menikah, ya menikah. Persiapkan dirimu dari sekarang.” “Tidak, Pa. Jangan bercanda.” Kirei mendekat ke meja kerja Sigit, berdiri di depannya dengan sorot tak mengerti.Sigit yang awalnya bicara sambil memeriksa beberapa berkas, mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Kirei. “Apa Papa pernah bercanda denganmu?” Nada serta tatapan pria paruh baya itu terdengar kurang bersahabat. Kirei menggeleng kencang, menolak tegas keputusan Sigit. “Papa tidak bisa mengambil keputusan sepihak! Ini tentang masa depanku, Pa!” protesnya cukup tegas. “Masa depanmu adalah menikah nanti malam! Keputusan sudah diambil dan tidak ada kata protes! Apalagi penolakan.” tegas Sigit. Kirei kembali menggeleng kencang. “Aku bahkan tidak tahu akan menikah dengan siapa.”“Jangan khawatir. Kamu tidak Papa nikahkan dengan pria sembarangan,” ucap Sigit. “Calon suamimu adalah pengusaha ternama, yang tentunya bisa m

    Last Updated : 2025-02-06
  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Mini Slip Dress

    Kirei hendak mundur. Namun, di belakangnya ada Sigit yang menghalangi. Alhasil, dia tidak bisa ke mana-mana.“Duduk,” suruh Sigit pelan, tapi bernada penuh intimidasi. Mau tak mau, Kirei menurut. Dia duduk di sebelah Dev, yang terlihat sangat tenang. “Bisa dimulai sekarang?” tanya petugas yang akan menikahkan Kirei dan Dev.Dev mengangguk penuh wibawa. Namun, tidak dengan Kirei. Dia justru sangat tegang. Prosesi pernikahan dimulai. Tak seperti upacara sakral biasa, Dev dan Kirei hanya diminta menandatangani beberapa lembar dokumen, yang entah apa isinya. Kirei tak sempat membaca seluruh isi yang tertera dalam dokumen itu. Dia langsung membubuhkan tanda tangannya. Wanita muda itu tidak tahu apa yang akan terjadi setelah diperistri Dev. Beberapa saat berlalu. Petugas yang tadi menikahkan Dev dan Kirei telah pergi. “Kirei akan kubawa sekarang juga,” ucap Dev datar.“Dia sudah menjadi milik Anda,” balas Sigit tanpa beban.“Papa!” sergah Kirei, melayangkan tatapan protes terhadap Si

    Last Updated : 2025-02-06
  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Pelayanan Pertama

    Kirei langsung memasukkan kembali baju tidur seksi itu ke paper bag. “Kenapa?” Dev berdiri di hadapan Kirei. “Aku tidak mau,” tolak Kirei, seraya berbalik membelakangi. Dev menggumam pelan, kemudian menyentuh lengan Kirei. “Ganti bajumu,” ucapnya, setengah berbisik. “Kamu sudah jadi milikku. Itu artinya, aku bebas melakukan apa pun terhadapmu.”“Aku tidak mau,” tolak Kirei segera. “Aku tidak sudi bercinta dengan seorang penjahat!"Dev kembali menggumam pelan. “Penjahat? Memangnya, apa yang kamu ketahui tentangku?” “Jangan kira aku tidak mengenali suaramu, Pak Dev. Semua masih terekam jelas dalam ingatanku.”“Jangan mempersulit dirimu, Sayang," ucap Dev pelan. Kirei berbalik, lalu mundur perlahan. Memberi jarak antara dirinya dengan Dev. “Siapa kamu sebenarnya Dev Aydin Bahran?” Kirei menatap tajam pria tampan berperawakan tinggi tegap itu. “Aku? Silakan cari tahu sendiri.” Dev begitu tenang menghadapi Kirei, yang justru memperlihatkan sikap tak bersahabat. Dev mengalihkan perha

    Last Updated : 2025-02-06
  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Pria Arogan Menyebalkan

    Kirei terbangun dan mendapati Dev sudah tidak ada di sebelahnya. “Ya, Tuhan,” desah wanita muda itu pelan, seraya menyentuh area kewanitaannya yang terasa tak nyaman. Kirei bangkit perlahan, lalu turun dari tempat tidur. Dia mengambil mini slip dress dari lantai, lalu kimono dari dalam paper bag. Tenggorokan Kirei terasa begitu kering setelah bercinta. Dia beranjak keluar kamar, bermaksud pergi ke dapur. Padahal, Kirei belum mengetahui seluk-beluk tempat itu. Cahaya temaram menerangi sepanjang koridor. Kirei terus melangkah dalam kesunyian. Dia tak tahu harus ke mana. Kirei hanya mengikuti insting. Sesaat kemudian, Kirei akhirnya menemukan dapur. Dia segera mengisi gelas hingga penuh, lalu meneguk sampai hanya tersisa setengahnya. Ketika Kirei akan menghabiskan sisa air putih itu, sayup-sayup terdengar seorang pria merintih pelan. Suaranya agak parau, bagai sedang kesakitan. “Siapa itu?” gumam Kirei, dengan wajah mulai tegang. Kembali terbayang dalam ingatan, kejadian kemarin mal

    Last Updated : 2025-02-06
  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Lemparan Jeruk

    “Berhenti di sini,” pinta Kirei pada Rudi, sopir yang ditugaskan mengantarnya ke kampus. “Pak Dev memerintahkan saya untuk ____”“Dia tidak ada di sini. Jangan khawatir. Aku tidak akan melarikan diri,” sela Kirei meyakinkan.“Maaf, Mbak. Tapi ….” Rudi terdengar ragu. Dia terlihat serba salah. “Aku janji.” Kirei mengangkat dua jari, sebagai penegas ucapannya tadi. “Aku tidak mau jadi pusat perhatian. Itu saja,” kilahnya.Rudi tidak punya pilihan lain. Akhirnya, dia setuju menurunkan Kirei beberapa meter dari pintu gerbang universitas, tempat wanita muda itu menimba ilmu. Setelah Kirei turun dari kendaraan, Rudi segera menghubungi seseorang. “Tugasku selesai,” ucapnya, langsung menutup sambungan tanpa basa-basi lagi. Dia harus segera kembali ke kediaman Dev. Sementara itu, Kirei berjalan kaki menuju pintu gerbang. Tepat sebelum memasuki halaman kampus, sebuah jeruk melayang dan mendarat tepat di pelipisnya. Kirei langsung tertegun. Dia bisa menebak siapa pelaku dari tindakan tidak t

    Last Updated : 2025-02-06

Latest chapter

  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Di Jalan Sepi

    Tampaknya, Dev keberatan memenuhi keinginan Xander untuk berkenalan dengan Kirei. Dia punya alasan tersendiri bersikap begitu. Dev juga tidak merasa bersalah atau sekadar tak enak hati.“Bukankah kamu mengundangku untuk makan malam?” Nada pertanyaan Dev bagai sindiran halus, berhubung belum ada satu menu pun yang dihidangkan.“Oh, astaga. Aku terlalu fokus pada pembahasan tanah,” ujar Xander, yang segera menekan tombol merah di kaki meja.Tak berselang lama, tiga pelayan masuk ke ruangan itu. Masing-masing dari mereka membawa satu menu. Sesaat kemudian, muncul seorang lagi membawa troli dengan botol minuman keluaran brand luar negeri.“Aku sengaja hanya memsan sedikit makanan. Kamu jarang makan banyak jika kutraktir,” ucap

  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Anak Haram

    Kirei terdiam. Namun, dia tak mau ambil pusing dan bergegas ke pintu. “Temani aku malam ini,” ucap Dev, bersamaan dengan Kirei yang hendak memutar gagang pintu. Kirei langsung menoleh. “Ke mana?” tanyanya pelan.“Nanti juga kamu akan tahu,” jawab Dev singkat. Dari nada bicara serta bahasa tubuhnya, tampak jelas bahwa dia tak berniat melanjutkan perbincangan. Apalagi, Dev kembali pada buku yang sedang dibacanya tadi. Melihat itu, Kirei juga tak ingin banyak bertanya. Dia bergegas keluar kamar. Kirei melangkah tergesa-gesa, membawa kemarahan yang tak dapat dilampiaskan sepenuhnya. Kirei masuk ke kamar dan langsung menutup pintu. Dia bersandar beberapa saat sambil memejamkan mata. Dadanya terasa begitu sesak, mengingat nasib sial yang harus dijalani saat ini. “Mama … kenapa? Kenapa harus aku yang menanggung semua kesalahanmu?” Kirei membuka mata, menatap sekeliling kamar yang ditempatinya. Penyesalan Kirei tak pernah habis, meskipun selalu berusaha menerima semua yang terjadi. Sesu

  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Cara Seorang Dev

    “Jangan pura-pura tidak tahu!” Kirei menatap tajam.“Aku memang tidak tahu dan tidak mengerti dengan maksud pertanyaanmu tadi,” balas Dev tenang, seraya meletakkan buku di meja. Dia beranjak dari duduk, lalu mendekat ke hadapan Kirei. “Bagaimana kabarmu hari ini?” tanyanya, diiringi tatapan penuh arti.Namun, Kirei justru tak menyukai dengan cara Dev menatapnya. Dia langsung memalingkan wajah. “Hari-harimu akan jauh lebih tenang sekarang. Kupastikan tak ada yang berani mengganggumu lagi,” ucap Dev, pelan dan dalam. Kirei sontak menoleh, menatap tajam pria tampan di hadapannya. “Jadi, benar dugaanku? Kamu yang telah melenyapkan Natasha dan teman-temannya?”“Lebih tepatnya adalah anak buahku. Aku hanya memberi perintah,” ujar Dev tenang. “Bagaimana kamu bisa mengetahui semua itu?” Kirei menatap penuh selidik. “Kamu mengawasiku?” “Sudah kukatakan bahwa ini akan jadi lebih mudah untukku,” balas Dev tetap tenang. “Dari mana? Siapa? Bagaimana caranya kamu mengawasiku, Dev?” “Aku tidak

  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Kawanan yang Menghilang

    “Ini hanya kecelakaan kecil karena aku kurang hati-hati,” jawab Kirei. Lagi-lagi, dia berbohong. Kirei takut Dev marah dan melakukan sesuatu yang di luar batas. “Kecelakaan kecil katamu?” Dev menatap dengan sorot tajam. Rasa tak percaya tersirat jelas dari sepasang mata cokelat pria tampan itu. Kirei mengangguk pelan. “Jangan berbohong di hadapanku.” Nada bicara Dev terdengar aneh dan teramat menakutkan.“Ti-tidak. Bagaimana mungkin aku be-berani berbohong padamu.” Nyali Kirei selalu menciut ketika berhadapan langsung dengan Dev. Entah mengapa, aura pria berdarah Meksiko tersebut begitu menakutkan. “Kalau begitu, katakan siapa yang berani melakukan ini padamu?”“Sudah kukatakan tadi. Tidak ada!” tegas Kirei, seraya menepiskan tangan Dev dari wajahnya. “Sebaiknya, jangan ikut campur dengan urusan pribadiku!" Setelah berkata demikian, Kirei langsung berbalik. Tak ingin diinterogasi lebih jauh oleh Dev, wanita muda itu memilih berlari menuju kamar. Anehnya, Dev tidak mengejar untuk

  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Lemparan Jeruk

    “Berhenti di sini,” pinta Kirei pada Rudi, sopir yang ditugaskan mengantarnya ke kampus. “Pak Dev memerintahkan saya untuk ____”“Dia tidak ada di sini. Jangan khawatir. Aku tidak akan melarikan diri,” sela Kirei meyakinkan.“Maaf, Mbak. Tapi ….” Rudi terdengar ragu. Dia terlihat serba salah. “Aku janji.” Kirei mengangkat dua jari, sebagai penegas ucapannya tadi. “Aku tidak mau jadi pusat perhatian. Itu saja,” kilahnya.Rudi tidak punya pilihan lain. Akhirnya, dia setuju menurunkan Kirei beberapa meter dari pintu gerbang universitas, tempat wanita muda itu menimba ilmu. Setelah Kirei turun dari kendaraan, Rudi segera menghubungi seseorang. “Tugasku selesai,” ucapnya, langsung menutup sambungan tanpa basa-basi lagi. Dia harus segera kembali ke kediaman Dev. Sementara itu, Kirei berjalan kaki menuju pintu gerbang. Tepat sebelum memasuki halaman kampus, sebuah jeruk melayang dan mendarat tepat di pelipisnya. Kirei langsung tertegun. Dia bisa menebak siapa pelaku dari tindakan tidak t

  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Pria Arogan Menyebalkan

    Kirei terbangun dan mendapati Dev sudah tidak ada di sebelahnya. “Ya, Tuhan,” desah wanita muda itu pelan, seraya menyentuh area kewanitaannya yang terasa tak nyaman. Kirei bangkit perlahan, lalu turun dari tempat tidur. Dia mengambil mini slip dress dari lantai, lalu kimono dari dalam paper bag. Tenggorokan Kirei terasa begitu kering setelah bercinta. Dia beranjak keluar kamar, bermaksud pergi ke dapur. Padahal, Kirei belum mengetahui seluk-beluk tempat itu. Cahaya temaram menerangi sepanjang koridor. Kirei terus melangkah dalam kesunyian. Dia tak tahu harus ke mana. Kirei hanya mengikuti insting. Sesaat kemudian, Kirei akhirnya menemukan dapur. Dia segera mengisi gelas hingga penuh, lalu meneguk sampai hanya tersisa setengahnya. Ketika Kirei akan menghabiskan sisa air putih itu, sayup-sayup terdengar seorang pria merintih pelan. Suaranya agak parau, bagai sedang kesakitan. “Siapa itu?” gumam Kirei, dengan wajah mulai tegang. Kembali terbayang dalam ingatan, kejadian kemarin mal

  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Pelayanan Pertama

    Kirei langsung memasukkan kembali baju tidur seksi itu ke paper bag. “Kenapa?” Dev berdiri di hadapan Kirei. “Aku tidak mau,” tolak Kirei, seraya berbalik membelakangi. Dev menggumam pelan, kemudian menyentuh lengan Kirei. “Ganti bajumu,” ucapnya, setengah berbisik. “Kamu sudah jadi milikku. Itu artinya, aku bebas melakukan apa pun terhadapmu.”“Aku tidak mau,” tolak Kirei segera. “Aku tidak sudi bercinta dengan seorang penjahat!"Dev kembali menggumam pelan. “Penjahat? Memangnya, apa yang kamu ketahui tentangku?” “Jangan kira aku tidak mengenali suaramu, Pak Dev. Semua masih terekam jelas dalam ingatanku.”“Jangan mempersulit dirimu, Sayang," ucap Dev pelan. Kirei berbalik, lalu mundur perlahan. Memberi jarak antara dirinya dengan Dev. “Siapa kamu sebenarnya Dev Aydin Bahran?” Kirei menatap tajam pria tampan berperawakan tinggi tegap itu. “Aku? Silakan cari tahu sendiri.” Dev begitu tenang menghadapi Kirei, yang justru memperlihatkan sikap tak bersahabat. Dev mengalihkan perha

  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Mini Slip Dress

    Kirei hendak mundur. Namun, di belakangnya ada Sigit yang menghalangi. Alhasil, dia tidak bisa ke mana-mana.“Duduk,” suruh Sigit pelan, tapi bernada penuh intimidasi. Mau tak mau, Kirei menurut. Dia duduk di sebelah Dev, yang terlihat sangat tenang. “Bisa dimulai sekarang?” tanya petugas yang akan menikahkan Kirei dan Dev.Dev mengangguk penuh wibawa. Namun, tidak dengan Kirei. Dia justru sangat tegang. Prosesi pernikahan dimulai. Tak seperti upacara sakral biasa, Dev dan Kirei hanya diminta menandatangani beberapa lembar dokumen, yang entah apa isinya. Kirei tak sempat membaca seluruh isi yang tertera dalam dokumen itu. Dia langsung membubuhkan tanda tangannya. Wanita muda itu tidak tahu apa yang akan terjadi setelah diperistri Dev. Beberapa saat berlalu. Petugas yang tadi menikahkan Dev dan Kirei telah pergi. “Kirei akan kubawa sekarang juga,” ucap Dev datar.“Dia sudah menjadi milik Anda,” balas Sigit tanpa beban.“Papa!” sergah Kirei, melayangkan tatapan protes terhadap Si

  • Istri Cantik Penguasa Dingin   Sang Pemilik Suara

    “Ya. Menikah.” Sigit menegaskan.“Ta-tapi, bagaimana bisa?” protes Kirei.“Apanya yang ‘bagaimana bisa?’ Menikah, ya menikah. Persiapkan dirimu dari sekarang.” “Tidak, Pa. Jangan bercanda.” Kirei mendekat ke meja kerja Sigit, berdiri di depannya dengan sorot tak mengerti.Sigit yang awalnya bicara sambil memeriksa beberapa berkas, mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Kirei. “Apa Papa pernah bercanda denganmu?” Nada serta tatapan pria paruh baya itu terdengar kurang bersahabat. Kirei menggeleng kencang, menolak tegas keputusan Sigit. “Papa tidak bisa mengambil keputusan sepihak! Ini tentang masa depanku, Pa!” protesnya cukup tegas. “Masa depanmu adalah menikah nanti malam! Keputusan sudah diambil dan tidak ada kata protes! Apalagi penolakan.” tegas Sigit. Kirei kembali menggeleng kencang. “Aku bahkan tidak tahu akan menikah dengan siapa.”“Jangan khawatir. Kamu tidak Papa nikahkan dengan pria sembarangan,” ucap Sigit. “Calon suamimu adalah pengusaha ternama, yang tentunya bisa m

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status