Home / Romansa / Ibu Susu untuk Sang Pewaris / 3. Bukan Pertolongan yang Tepat

Share

3. Bukan Pertolongan yang Tepat

Author: Devie Putri
last update Last Updated: 2025-01-27 14:12:39

Nawang tak langsung menjawab tawaran tersebut. Dia sibuk berpikir pekerjaan apa yang bisa mendapatkan uang semudah itu? 

"Kenapa? Kok diam? Em ... gini aja, mendingan kamu ikut aku sekarang. Aku tunjukin ke kamu kerjanya gimana aja. Yuk!" Tanpa banyak basa-basi lagi, perempuan itu langsung menggandeng tangan Nawang dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. 

Nawang tak bisa menolak. Dia hanya diam dan menurut. Jujur dia bingung. Di satu sisi, dia butuh uang secepatnya. Namun di sisi lain dia merasakan firasat yang buruk. Bisa jadi dia diarahkan pada suatu pekerjaan yang tidak halal. 

Mobil melaju kencang dengan tujuan yang Nawang sendiri tak bisa menebaknya. 

"Kalau boleh tahu anakmu sakit apa?" tanya perempuan yang duduk di sampingnya itu. 

"Jantung bocor, Mbak," jawab Nawang lalu kembali menundukkan kepala. 

"Wah ... butuh biaya banyak banget itu. Anaknya salah satu anak buahku ada yang pernah sakit jantung bocor juga. Biaya operasinya bisa sampai ratusan juta."

"Berapa pun akan aku usahakan demi kesembuhan anakku, Mbak," ucap Nawang lirih. Meski tak yakin dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu yang singkat, namun dia akan berusaha sampai titik darah penghabisan. 

"Aku paham. Setiap orang tua pasti akan mengupayakan yang terbaik untuk anaknya." Perempuan itu berkata sembari mengusap lembut pundak Nawang. Dia berusaha menunjukkan rasa peduli. Meski ada maksud terselubung dibalik kepeduliannya itu.

Mobil berbelok ke sebuah mall tengah kota. Perempuan dan dua laki-laki yang berada di dalam mobil itu bergegas turun. Tangan Nawang masih digandeng. Mereka juga meyakinkan Nawang kalau dia tak kan disakiti. 

"Jangan takut! Kita nggak ada maksud jahat. Kita hanya ingin membantumu," ucap perempuan itu sambil melengkungkan sebuah senyuman di bibirnya. 

Mereka lekas berjalan memasuki mall dan menuju ke lantai lima. Sebuah diskotik menyambut mereka. Nawang berjalan dengan kaki gemetar. 

"Tempat apa ini? Untuk apa kita kesini?" tanya Nawang pada perempuan yang mengajaknya. 

"Ini dia tempat kerja kita," jawabnya sambil tersenyum. Dia pikir Nawang akan menyukainya. Padahal Nawang mulai merasa risih dengan suara musik dj yang diputar terlalu keras. Dia tidak terbiasa mengunjungi tempat semacam ini. 

"Ayo masuk! Jangan takut! Aku akan terus ada di sampingmu. Tempat ini nggak menyeramkan kok. Justru disini bebanmu akan terasa ringan."

Nawang berdecak dalam hati. Bagaimana ceritanya beban bisa hilang di sebuah tempat yang terdengar begitu bising begini? Tak ada ketenangan. Yang ada mereka malah ditabrak beberapa kali oleh beberapa orang yang tengah mabuk berat. 

"Kita duduk di sana saja," tunjuk perempuan itu pada sebuah sofa berwarna merah di sudut ruangan. 

Nawang berjalan membuntuti. Tapi pikirannya ingin lari dari tempat ini. Dia hanya masih mencari celah yang tepat untuk pergi. 

"Nah ... mereka itu anak buahku. Tahu nggak kerjaan mereka apa?" 

Nawang menatap wajah perempuan itu dengan tanda tanya di kepala. Mana mungkin dia tahu apa pekerjaan mereka sedangkan Nawang saja tidak pernah menjejakkan kakinya di tempat semacam ini. 

"Mereka itu LC. LC itu pemandu karaoke. Cuma nemenin tamu disini karaoke saja. Kalau nyari uang sejuta dalam sehari sih gampang, Na," ucapnya sambil menjentikkan ujung jari. 

"Satu juta? Aku butuhnya lima ratus juta," gumam Nawang dalam hati. 

"Kalau mau dapat lebih banyak juga bisa. Tapi kerjanya dobel. Melayani mereka di ranjang." Perempuan itu berkata seraya mengedipkan sebelah matanya. 

"Astagfirullah." Nawang mengucap istighfar di dalam hati. 

"Badan kamu kan bagus. Tetap langsing meskipun sudah pernah melahirkan. Nggak melar kayak aku. Tinggal dipoles make up sedikit saja. Nanti aku pinjemin kamu baju yang bagus kayak punya mereka," lanjutnya. Nawang hanya membuang nafas pelan. 

Melihat mereka, anak buah perempuan itu, duduk di samping beberapa laki-laki dengan baju terbuka saja Nawang langsung begidik sendiri. Melihatnya saja sudah tidak nyaman apalagi harus menjalani. 

"Bagaimana, Na? Kamu berminat?" 

Nawang langsung menggeleng, "Maaf, Mbak, tapi saya sepertinya nggak bisa."

"Lho, kenapa? Bukannya kamu lagi butuh biaya buat anakmu?" 

"Iya tapi saya nggak bisa bekerja begini, Mbak. Maaf. Saya pamit dulu ya, Mbak. Saya harus kembali ke rumah sakit." Nawang gegas berdiri. Dia ingin cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Dia tak mau kehidupannya yang serba sulit membuatnya terjerumus ke jalan yang salah. 

"Nawang, tunggu dulu! Apa kamu punya nomor telepon yang bisa dihubungi?" tanya perempuan itu lagi. 

"Maaf, Mbak. Aku nggak punya HP." Nawang terpaksa berbohong. 

"Oh ... kalau gitu ini aku kasih kartu namaku ya. Barangkali sewaktu-waktu kamu berubah pikiran, kamu bisa mencariku."

Nawang tersenyum getir. Namun dia tetap menerima kartu nama itu sekedar untuk menghargai. Walau dalam hati dia berjanji tidak akan menghubungi nomor tersebut. 

Langit sudah berubah gelap. Dia melihat jam yang tertera di layar handphone miliknya. Ternyata sudah jam setengah tujuh. Dia melewatkan waktu sholat maghrib. 

"Astagfirullah ... gara-gara menuruti perempuan itu aku sampai nggak sholat maghrib," gerutu Nawang sendirian. 

Masih dengan langkah pincang, Nawang berjalan menuju ke rumah sakit. Dia mulai merasa haus. Namun tak ada uang untuk membeli air minum. 

Nawang berhenti di depan sebuah tong sampah. Dengan bantuan ranting kecil yang dia temukan di bawah pohon besar tak jauh dari tong sampah tersebut, Nawang mulai mengorek-orek isinya. Dia berharap bisa menemukan botol air mineral yang masih ada isinya. Sekedar membasahi tenggorokan yang kering. 

Tanpa Nawang sadari, seseorang memerhatikannya dari jauh. Dia mengira Nawang adalah seorang pemulung. Lekas pria itu berjalan menghampiri Nawang. 

"Mbak!" Pria itu menepuk pundak Nawang. Nawang sampai berjingkat. Dia lalu menoleh. 

"Ada apa, Mas?"

"Mbak lagi nyari apa? Kok ngorek-ngorek tempat sampah?"

"Em ... nggak apa-apa kok, Mas. Saya lagi nyari minum."

"Nyari minum kok di tempat sampah?"

"Iya. Saya nggak punya uang buat beli minum. Jadi saya nyari botol yang dibuang barangkali isinya masih ada."

Pria itu terkejut mendengarnya, "Astaga, Mbak, mari ikut saya! Saya belikan minum di minimarket depan."

"Nggak usah, Mas. Terima kasih," tolak Nawang dengan halus. 

"Nggak apa-apa kok, Mbak. Cuma air minum saja." Pria itu terus memaksa Nawang untuk menerima bantuannya. Mereka pun berjalan ke minimarket seberang jalan untuk membeli air minum. 

"Mbak, mau kemana?" tanya pria itu sambil menyerahkan sebotol air mineral untuk Nawang. 

"Mau ke rumah sakit, Mas. Anakku dirawat di sana."

"Saya anterin ya. Rumah sakit masih cukup jauh dari sini. Masih sekitar tiga kilo."

Kali ini Nawang tidak menolak. Jujur dia sudah sangat lelah berjalan. Ditambah luka di kakinya yang masih terasa perih. 

Pria itu segera mengantar Nawang ke rumah sakit. Begitu sampai di depan pintu utama, seorang perawat berjalan terburu-buru mendekati Nawang. 

"Bu Nawang kemana saja? Dicariin sama dokter. Dokter mau berbicara dengan Bu Nawang tentang keadaan anak ibu yang semakin menurun."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   4. Kebohongan Marsel

    Nawang segera berlari menuju ruangan dokter tanpa menghiraukan lagi rasa perih di kakinya. Bahkan luka yang sudah setengah kering itu kembali meneteskan darah. "Apa yang terjadi dengan anak saya, Dok?" Nawang duduk dengan nafas terengah-engah. Dokter yang menangani keadaan putrinya sampai iba melihatnya. Terlihat sekali perempuan itu sudah berjuang habis-habisan. "Keadaan anak ibu semakin kritis. Operasi harus segera dilakukan. Atau kalau tidak ...""Kalau tidak kenapa, Dok?" "Dia tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi," ucap dokter itu dengan lemas. Sebenarnya dia tidak tega menyampaikannya. Namun mau tidak mau, perempuan itu harus tahu bagaimana keadaan anaknya. "Tapi saya belum dapat uangnya, Dok," ucap Nawang dengan dada menahan sesak. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu. "Maaf, Bu, saya hanya sekedar menyampaikan saja."Dengan lesu, Nawang duduk di lantai depan ruang PICU. Air mata mulai menganak sungai di kedua pipinya. Nawang merasa semua jalan telah buntu. Dia tak ta

    Last Updated : 2025-01-27
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   5. Kesempatan Kedua

    "Perbanyak lagi usaha mencari ibu susu untuk anakku! Harus dapat hari ini juga!" Perintah Marsel pada dua anak buahnya. "Tapi, Pak, kita sudah berusaha semaksimal mungkin," jawab salah satu anak buahnya sembari menunduk takut. "Tinggikan lagi imbalannya. Masak masih nggak ada yang mau?" Marsel menghembuskan nafas kesal. Pikirannya mulai buntu. "Mau ditinggikan berapa lagi, Pak?""Berapa saja akan saya bayar," tegas Marsel sekali lagi. "Sebar pengumuman lebih banyak lagi di media. Datangi stasiun televisi dan radio-radio. Pokoknya bagaimana pun caranya hari ini anak saya harus cepat dapat ASI."Marsel mulai gundah. Rasa khawatir pada anaknya menekan pikirannya dengan kuat. Sebenarnya ada setitik rasa sesal kenapa waktu itu dia menolak Nawang. Sekarang dia mulai kebingungan sendiri karena tak kunjung mendapatkan ibu susu untuk anaknya. Kadang rasa gengsi memang bisa menyesatkan diri sendiri. Dua laki-laki itu pergi dari hadapan Marsel untuk segera melaksanakan perintah. Sambil berj

    Last Updated : 2025-01-27
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   6. Surat Perjanjian Kerja

    Nawang menatap mata itu dengan perasaan campur aduk. Dia lalu mengangguk, menerima tawaran pekerjaan sebagai ibu susu untuk anaknya Marsel."Iya. Aku mau."Dua orang pria, anak buah Marsel baru saja datang. Mereka membawa surat perjanjian yang harus Nawang tanda tangani. "Kalau gitu, tanda tangan disini!" Marsel meletakkan surat perjanjian tersebut ke atas meja. Nawang mulai membuka map berisi lembaran kertas yang menjelaskan perjanjian yang harus dia patuhi. "Baca semuanya! Jangan sampai ada yang terlewat. Aku nggak mau suatu hari nanti kamu protes. Pahami betul-betul apa isi dari semua perjanjian itu!" perintah Marsel lagi. Nawang menghela nafas sejenak. Sebenarnya dia sebal dengan sikap sombong dan angkuhnya Marsel, tapi dia tidak punya pilihan. Hanya dengan mengambil pekerjaan tersebut, anaknya bisa menjalani operasi. Mata Nawang mulai fokus menatap lembar demi lembar di hadapannya. Dibacanya satu per satu perjanjian yang Marsel buat. Diantaranya adalah semua gaji Nawang akan

    Last Updated : 2025-03-04
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   7. Pantang Membatalkan Kontrak

    "Operasinya gagal, Dok?" Tangis Nawang hampir saja pecah. Tapi dia masih berharap bahwa dokter menyampaikan informasi yang keliru. "Dokter nggak salah bicara kan? Dokter nggak lagi bercanda kan?" tanya Nawang dengan tubuh gemetar. Dia tidak bisa langsung menerima kenyataan bahwa harapannya ternyata kandas. Padahal dia terlalu menumpukan hadapan terlalu tinggi pada operasi tersebut. "Iya, Bu. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya dan teman-teman tenaga medis yang lain sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain."Nawang menggigit bibir kuat-kuat. Seketika kaki Nawang terasa lunglai. Seolah semua tenaga telah tersedot habis oleh duka. Dia mulai kehilangan keseimbangan. Pandangan matanya mulai menggelap, lalu kemudian dia ambruk ke atas lantai. Nawang kehilangan kesadarannya. Beberapa tenaga medis langsung memberikan pertolongan pada Nawang. Satu dua orang bahkan ikut menangis. Membayangkan betapa pedihnya berada di posisi Nawang. Apalagi sebagian be

    Last Updated : 2025-03-05
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   8. Hidup Berkecukupan

    Nawang tertegun sejenak. Dia tidak bermaksud kabur atau ingkar pada perjanjian tersebut. Tapi dia ingin mengundurkan diri dengan cara baik-baik. Tapi kembali lagi, Nawang berpikir panjang. Benar kata Marsel, dia telah menggelontorkan banyak uang untuk membantu dirinya. Maka tidak mungkin dia membatalkan pekerjaan tersebut. "Kok diam saja? Ayo jalan! Ikuti aku ke mobil!" perintah Marsel sekali lagi. Nawang hanya bisa meng-iya-kan semua ucapan Marsel. Karena kini Marsel adalah bos-nya. Nawang berjalan mengekor di belakang Marsel sambil menundukkan kepala. Seorang anak buah Marsel lalu membukakan pintu mobil agar Nawang bisa masuk. Dinginnya AC mobil langsung menyambut Nawang. Dia sampai merapatkan kedua tangannya memeluk dirinya sendiri. Nawang tidak pernah merasakan naik mobil semewah itu. "Kita langsung pulang, Pak?" tanya sopir pribadi Marsel yang telah siap di belakang kemudi. "Kita ke mall dulu. Beliin baju buat dia. Lihatlah! Bajunya sudah nggak layak pakai seperti itu," jawa

    Last Updated : 2025-03-06
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   9. Cinta Tulus dari Sang Ibu Susu

    Nawang hanya mengangguk. Dia juga bukan orang bodoh yang akan membeberkan rahasia siapa mereka di masa lalu. Karena bagi Nawang, kisah itu sudah dia kubur dalam-dalam. Untuk apa lagi harus membuka kisah lama. Yang ada nanti dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Karena pasti orang-orang akan berpikir jika Nawang masih mengharapkan cintanya Marsel. "Tenang saja. Tanpa kamu beri tahu pun, aku nggak akan melakukannya," ucap Nawang sambil menatap lurus wajah Marsel. Dulu memandang wajah itu selalu bisa membuatnya merasa tenang. Tapi sekarang, Nawang ingin sekali meminimalkan berinteraksi dengan Marsel karena tak tahan dengan sikap angkuhnya. "Cepat makan! Habis makan kamu susui Axelle di kamarnya!" perintah Marsel. "Jadi namanya Axelle?" tanya Nawang dengan mata membola. Dia kaget mendengar nama bayi itu. Marsel diam sejenak sebelum akhirnya memberikan sebuah anggukan. Dia lalu memakan makanan di hadapannya tanpa suara. Sedangkan Nawang mengulas secuil kisah manis dalam ingata

    Last Updated : 2025-03-07
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   10. Dituduh Jadi Selingkuhan Marsel

    Nawang urung beristirahat. Dia bergegas menuju kamar Axelle untuk mengecek keadaan bayi itu. "Badannya agak demam. Tolong ambilkan termometer!" pinta Nawang. Marsel pun bergegas menuju kotak P3K untuk mengambil termometer dan memberikannya pada Nawang. Setelah menempelkan termometer ke salah satu lekukan badan Axelle, Nawang membaca angka yang tertera. "Panasnya 38,5 derajat. Pantas saja dia rewel," ucap Nawang lalu dia mulai menggendong Axelle. "Terus bagaimana? Apa perlu kita bawa ke IGD?" tanya Marsel mulai panik. Ini adalah pengalaman pertama dia menjadi seorang ayah. Jadi wajar kalau dia kebingungan. "Tenang dulu. Panasnya belum terlalu tinggi. Insya Allah bisa turun jika rutin mengkonsumsi ASI. ASI adalah makanan dan obat terbaik untuk bayi." Penjelasan Nawang membuat Marsel sedikit bernafas lega. "Ijinkan aku membawa Axelle tidur di kamarku. Biar aku nggak harus bolak-balik ke kamar Axelle jika tiba waktu dia menyusu. Juga biar dia lebih nyenyak tidurnya karena nggak haru

    Last Updated : 2025-03-08
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   11. Tuduhan Kejam

    "Sa ... saya ... nggak pernah ..." Nawang terbata. Dia ingin membela diri tapi lidahnya terasa kaku, bingung harus darimana menjelaskannya. "Aku nggak pernah selingkuh sama Nawang, Ma. Mama salah paham." Marsel menyelamatkannya. "Lalu kenapa dia ada di rumahmu?" Wajah perempuan itu memerah. Tangannya berkacak pinggang. Matanya melotot. Nawang sampai begidik melihatnya. "Dia adalah ibu susu untuk Axelle," terang Marsel. Mata ibunya kembali membola. Masih tak menyangka kalau Nawang yang akhirnya menjadi ibu susu untuk cucunya. "Kamu nggak bisa cari orang lain? Gimana kalau dia sampai mencelakai Axelle karena sakit hati nggak jadi nikah sama kamu?" Perempuan itu mulai mengada-ada. Nawang hanya menghela nafas dituduh demikian. Padahal dulu Nawang lah yang mundur dari hubungan. Kalau Nawang memang sepicik itu, sudah pasti dia lebih memilih nikah lari dengan Marsel. "Maaf, Bu, tapi saya nggak akan melakukan itu. Saya menyayangi Axelle seperti anak saya sendiri. Tadi malam dia demam. B

    Last Updated : 2025-03-09

Latest chapter

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   25. Ancaman dari Intan

    "Gimana si pengasuh cucumu itu sudah pergi belum dari rumah anakmu?" tanya Maria saat tidak sengaja bertemu dengan Intan saat berbelanja di supermarket. "Belum. Aku juga bingung. Pusing mikirnya," jawab Intan sambil memegangi kepalanya. "Kurang kejam kali kamu.""Aku sudah ambil jatah makan dia. Aku tukar pakai tahu atau tempe mentah sepotong. Tapi dia nggak ngeluh apa-apa tuh.""Ngapain kamu tuker segala? Ambil aja nggak usah dituker. Ya dia nggak akan ngeluh. Orang masih ada makanan yang bisa dimakan. Tahu tempe kan udah makanan dia sehari-hari. Jadi dia nggak kaget lah. Gimana sih kamu ini."Intan berpikir sejenak. Mungkin iya, dia kurang keras memberi Nawang pelajaran. Sementara itu di rumah Marsel, Axelle terus menangis karena ASI Nawang semakin seret. Bagaimana tidak, sejak kelakuan Intan hari itu, Nawang jadi jarang makan. Kadang dia makan sehari sekali jika Marsel benar-benar sibuk dan pulang larut malam. Dia baru bisa makan dua kali jika Marsel pulang sore. "Kenapa Axelle

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   24. Daging Wagyu

    "Oh ... itu. Iya aku suka kok. Suka banget malahan. Dulu suamiku waktu masih hidup sering beliin aku itu," jawab Nawang santai. "Hah? Aku nggak salah dengar? Katanya miskin. Kok suaminya sering beliin dia caviar? Kerja apa suaminya?" batin Marsel sendiri. "Bagus lah. Jadi nggak buang-buang makanan," lanjut Marsel. "Aku nggak pernah buang-buang makanan. Makan apapun selalu aku syukuri. Walaupun sekedar caviar."Marsel kembali terperangah. "Dia bilang 'sekedar'? Ini sebenarnya dia lagi bercanda atau bicara jujur sih? Tapi kalau dari wajah dia, dia kayak lagi serius. Cuma ...""Kenapa? Kok malah bengong?" tanya Nawang."Enggak apa-apa kok," jawab Marsel gelagapan."Lagian aku juga bosen, Sel, makan daging melulu. Jadi sekali-kali makan caviar nggak apa-apa lah.""Emang kamu kira itu makanan harganya murah? Itu lebih mahal dari daging tau. Kalau kamu minta aku beliin caviar tiap hari ya bangkrut aku," gerutu Marsel dalam hati. Sebenarnya dia juga heran dengan Nawang. Biasanya jarang a

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   23. Salah Paham

    "Apa kamu bilang? Rakus? Eh ... denger ya. Aku memang miskin, Sel. Tapi aku nggak mungkin jadi seperti yang kamu tuduhkan." Nawang membela diri sambil berkacak pinggang. "Terus siapa yang ngabisin buah di sini kalau bukan kamu?" tuduh Marsel sambil menunjukkan kulkas yang telah kosong. Nawang mengangkat bahu. "Ya mana aku tahu," jawabnya.Sejenak Nawang berpikir apa mungkin ibunya Marsel yang mengambil semua buah di dalam kulkas? Tapi untuk apa? Bukannya dia bisa beli sendiri. Bahkan beli se-penjualnya sekali pun dia mampu. Untuk apa susah-susah mencuri buah di rumah anaknya?"Apa ada orang yang masuk ke rumah ini?" tanya Marsel lagi. Dia tampak berpikir keras. "Ada," sahut Nawang dengan cepat. "Siapa?" Marsel mengeryit. "Mamamu. Siapa lagi kalau bukan dia," jawab Nawang. Marsel diam sejenak. Dia memikirkan hal yang sama dengan Nawang. Apa mungkin mamanya yang mengambil semua buah itu? Apa mamanya sedang kedatangan tamu mendadak sehingga dia tidak sempat pergi ke supermarket?"A

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   22. Dibilang Rakus

    Intan membuka bungkus makanan tersebut. Bibirnya mengerucut melihat caviar bersanding dengan roti, telur dan kentang. Marsel juga menyiapkan buah di dalam kulkas seperti kiwi dan anggur ruby. Intan membawa semuanya tanpa menyisakannya untuk Nawang. "Marsel sudah gila. Pembantu saja dikasih makan seenak ini." Intan mendumel sendiri "Kenapa nggak dibeliin nasi pecel saja sih. Orang miskin kok dikasih makanan semahal ini. Emang ususnya nggak kaget apa?"Intan menutup kembali makanan tersebut dan menyimpannya di lemari makan. Kemudian buah-buahan hasil curiannya juga dia masukkan ke dalam kulkas. "Tapi lumayan lah. Aku jadi nggak perlu masak dan punya banyak stok buah di dalam kulkas. Ide teman-temanku brilian juga." Intan tersenyum puas sembari membayangkan wajah Nawang yang pasti kaget melihat jatah makanannya hilang tak tahu kemana. Sementara itu, di rumah Marsel, Nawang terkejut melihat lemari makan yang biasa penuh oleh makanan tiba-tiba kosong. Hanya ada sepotong tempe mentah dis

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   21. Mencuri Makanan Nawang

    Pagi ini, Intan sudah berpakaian bagus, mengenakan set perhiasan yang biasanya hanya dia simpan di dalam lemari dan bau parfum yang menguar dari tubuhnya serasa menusuk hidung. Hal itu sontak mengundang pertanyaan di kepala suaminya. "Tumben udah dandan cantik. Nggak sidak ke rumah Marsel hari ini? Atau masih ngambek sama Marsel gara-gara kemarin?" tanya suaminya sambil duduk di meja makan sambil menikmati segelas susu hangat. "Nggak. Hari ini aku nggak ke sana. Aku ada acara sama teman-teman sosialitaku," jawabnya sambil menyambar roti tawar dan mengoleskan selai kacang di atasnya. "Pantesan itu perhiasan setoko dipakai semua," seru suaminya lagi."Iya lah. Sayang punya berlian kalau cuma disimpan.""Jadi kalian mau kumpul-kumpul apa mau saling pamer perhiasan?""Apa sih. Udah diam saja. Kamu nggak akan ngerti soal beginian. Aku pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Intan. "Waalaikumsalam."Intan mempercepat langkah menuju mobil sambil sesekali melirik jam tangan mahal di pergelan

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   20. Sumpah Intan

    "Pak Marsel, sepertinya anak Anda ini mengalami alergi susu sapi. Apa dia habis diberi susu formula?" tanya dokter. Marsel lalu menatap mamanya. "Iya, Dok. Pengasuhnya yang ngasih susu formula ke cucu saya," jawab Intan langsung. "Bohong, Dok. Bukan saya yang ngasih Axelle susu formula. Tapi neneknya sendiri." Nawang membela diri. Dia tidak terima difitnah di depan Marsel dan dokter. "Halah ... ngaku aja, Nawang. Kamu pasti punya niat jelek kan ke cucu saya," desak Intan. "Pak Marsel, Anda harus percaya dengan saya. Saya nggak mungkin ngasih susu formula ke Axelle. Memangnya bagaimana caranya saya beli susu formula? Pakai daun? Uang satu rupiah saja saya nggak punya." Nawang berbicara apa adanya. "Sudah ... sudah. Saya nggak mau tahu juga siapa yang ngasih. Nanti kalian selesaikan sendiri di rumah. Sekarang susunya di stop ya. Kasihan ini bayinya juga diare lho," terang dokter. Kedua perempuan itu mengangguk bersamaan. "Ini sudah saya resepkan obat untuk ditebus di apotek ya. Se

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   19. Aksinya Ketahuan

    "Ibu kasih Axelle apa?" hardik Nawang. Dia takut jika Marsel memarahinya dan mengira ini adalah ulah dirinya. Padahal apa yang terjadi pada anaknya adalah akibat dari ulah ibunya. Jika ditanya kenapa Nawang sampai berani membentak ibunya Marsel, itu karena dia sudah hampir kehabisan kesabaran menghadapi perempuan itu. Ada saja ulahnya yang membuat Nawang meradang. "Eng ... enggak kasih apa-apa," jawab Intan gelagapan sambil berusaha menyembunyikan botol susu di belakang punggungnya. "Terus itu apa? Apa yang ibu sembunyikan di balik punggung itu?" tunjuk Nawang. Spontan, Intan langsung menjatuhkan botol itu ke atas lantai. "Nggak apa-apa kok," elaknya lagi. Tapi Nawang bergegas mengambil botol susu tersebut. Dia mengambilnya lalu mengangkat botol itu, mengarahkan ke depan wajah Intan. "Ini apa, Bu? Ini botol susu kan? Kenapa ibu kasih Axelle susu diam-diam?" Nawang mulai geram. Bukan karena dia tidak menghormati Intan sebagai nenek dari Axelle. Tapi di sini, semua tentang Axelle a

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   18. Petaka Susu Formula

    "Aku nggak akan kasih dia susu formula," jawab Marsel dengan tegas. "Kamu ini papa yang pelit banget sama anak. Kasihan sekali anakmu. Hanya minum ASI yang nggak berkualitas dari si Nawang," ucapnya sambil menatap Nawang dengan bengis. "Maaf, Bu, tapi setahu saya nggak ada yang namanya ASI yang nggak berkualitas. Semua ASI itu bagus," jawab Nawang. Dia ikut geram dengan kalimat-kalimat yang ibunya Marsel lontarkan. "Tahu apa kamu soal anak? Punya anak satu aja mati. Sok-sokan ngajari aku soal tumbuh kembang anak."Nawang tersentak. Perasaannya hancur seketika bagai dihantam benda keras. Tapi Nawang berusaha menahan air matanya agar tidak turun. Dia pantang terlihat menangis di depan perempuan itu. Perempuan yang tidak punya empati. "Mama!" hardik Marsel. Intan langsung diam. Matanya beralih menatap ke arah lain. Tapi hatinya mendendam hebat. Sekarang Marsel bahkan sudah berani membentaknya demi membela Nawang. "Kalau mama nggak ada keperluan di sini, lebih baik mama pulang. Kita

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   17. Tak Boleh Jatuh Cinta Lagi

    "Nggak. Aku nggak boleh jatuh cinta lagi sama Marsel. Kita ini beda kasta. Bisa kesurupan nanti mamanya kalau kita balikan," batin Nawang. Namun matanya tidak lepas menatap Marsel yang duduk di depannya. Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh. Tapi Nawang tidak mau menanggapi terlalu jauh. Lelaki itu tetap bersikap sedingin kulkas. Dia memang mengajak Nawang pergi makan berdua, namun mereka tidak banyak mengobrol. Marsel lebih banyak diam dan sibuk dengan handphonenya sendiri. Sedikit-sedikit angkat telepon. Persis seperti akting orang penting dalam sinetron. Entah apa saja yang sedang di urus. Nawang sendiri kurang paham dengan pekerjaannya. Setelah mengakhiri sebuah panggilan, Marsel lekas duduk dan menyantap makanannya. Sedangkan Nawang masih sibuk menenangkan Axelle yang rewel. "Kamu nggak makan?" tanya Marsel pada Nawang. "Kamu nggak lihat anakmu lagi rewel?" balas Nawang geram. Baginya pertanyaan Marsel terdengar konyol. Mana mungkin dia bisa makan sementara bayi itu sedang re

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status