Share

5. Kesempatan Kedua

Penulis: Devie Putri
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-27 14:19:47

"Perbanyak lagi usaha mencari ibu susu untuk anakku! Harus dapat hari ini juga!" Perintah Marsel pada dua anak buahnya. 

"Tapi, Pak, kita sudah berusaha semaksimal mungkin," jawab salah satu anak buahnya sembari menunduk takut. 

"Tinggikan lagi imbalannya. Masak masih nggak ada yang mau?" Marsel menghembuskan nafas kesal. Pikirannya mulai buntu. 

"Mau ditinggikan berapa lagi, Pak?"

"Berapa saja akan saya bayar," tegas Marsel sekali lagi. 

"Sebar pengumuman lebih banyak lagi di media. Datangi stasiun televisi dan radio-radio. Pokoknya bagaimana pun caranya hari ini anak saya harus cepat dapat ASI."

Marsel mulai gundah. Rasa khawatir pada anaknya menekan pikirannya dengan kuat. Sebenarnya ada setitik rasa sesal kenapa waktu itu dia menolak Nawang. Sekarang dia mulai kebingungan sendiri karena tak kunjung mendapatkan ibu susu untuk anaknya. Kadang rasa gengsi memang bisa menyesatkan diri sendiri. 

Dua laki-laki itu pergi dari hadapan Marsel untuk segera melaksanakan perintah. Sambil berjalan keluar rumah, mereka saling mendumel. 

"Enak ya jadi orang kaya. Butuh apa-apa tinggal merintah saja. Emangnya gampang apa nyari ibu susu buat anaknya?" ucap laki-laki bertubuh jangkung yang berjalan di sebelah kiri. 

"Dulu Pak Marsel nggak kayak gitu kok. Aku udah lama kerja sama dia. Mungkin sekarang emang pikirannya lagi sumpek saja. Maklum lah. Pertama kali punya anak, langsung keturutan dapat anak laki-laki, eh ... istrinya meninggal. Siapa yang nggak bingung coba?" sambung laki-laki satunya. 

"Tapi kemarin aku dengar dari pak satpam, sudah ada perempuan yang kesini buat melamar jadi ibu susu."

"Ah ... yang benar? Terus mana dia?"

"Nggak tahu. Coba deh tanya sama pak satpam?" 

Kedua laki-laki itu berhenti tepat di depan pos satpam. Melihat dua anak buah bos-nya celingukan, pak satpam langsung keluar dari ruangan kecil tempatnya bekerja itu. 

"Ada apa kalian celingukan?"

"Eh ... Pak, kita mau tanya. Apa benar kemarin sudah ada perempuan yang melamar jadi ibu susu kesini?" tanyanya langsung menjurus. 

"Iya benar. Tapi kan sudah dapat kata Pak Marsel."

Dua laki-laki itu tampak bingung. Mereka saling tatap dengan alis mengkerut.

"Dapat apanya? Ini kita disuruh nyari. Hari ini harus dapat. Terus kita harus nyari kemana?"

"Lah ... saya nggak tahu. Orang Pak Marsel bilang sendiri di depan mata saya kalau dia katanya sudah dapat ibu susu. Sumpah." Pak satpam mengangkat dua jarinya ke udara. 

"Emang aneh itu bos kita. Pas ada yang datang ngelamar, ditolak. Terus sekarang kita disuruh nyari lagi. Emang nyari ibu susu spek yang gimana sih?" gerutunya. 

"Yang kayak Ariel Tatum kali," canda teman di sampingnya. Mereka bertiga saling menggeleng-gelengkan kepala. 

Dua orang suruhannya pergi mengelilingi stasiun televisi dan radio di kota, membawa pengumuman lowongan untuk menjadi ibu susu tersebut. Mereka juga menambahkan, untuk masalah imbalan bisa dibicarakan jika sang pelamar meminta imbalan dalam jumlah tinggi. 

Sementara itu, Marsel mengendari mobil menuju rumah sakit dengan konsentrasi terpecah. Bagaimana kalau dia telat mendapat ibu susu? Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa dengan anaknya?

Marsel memukul-mukul setir dengan tangan kosong. Dia mendadak merasa seperti orang bodoh. Kenapa dia tidak berpikir panjang sewaktu menolak Nawang? Kenapa dia termakan gengsi dan tidak memprioritaskan kepentingan anaknya? Satu per satu sesal datang menghujani pikiran Marsel. 

"Haruskah darah orang yang sudah menyakitiku mengalir di dalam tubuh anakku?" Pikiran Marsel terus berperang. 

Mobil berbelok ke area rumah sakit. Marsel segera berjalan masuk setelah memarkirkan mobil di barisan parkir dokter. Dia berjalan tergesa-gesa menuju ruangan dimana anaknya dirawat. Namun langkahnya terhenti saat melihat Nawang sedang tertidur dengan raut wajah lelah. Beralaskan tikar seadanya tanpa bantal dan selimut. Nawang tidur meringkuk sambil menahan dinginnya lantai rumah sakit. 

Marsel berjalan pelan agar suara langkah kakinya tidak mengganggu istirahat Nawang. Tapi hatinya pelan-pelan mulai terketuk. Dia memanggil perawat yang sedang bertugas di dalam ruang NICU untuk bertanya beberapa hal. 

"Sus, anaknya ibu itu sakit apa ya?" Marsel akhirnya membulatkan tekat untuk bertanya hal tersebut. Sebelumnya memang dia abai, tak peduli dengan apa yang Nawang alami. Tapi lama kelamaan, hati nuraninya mulai berbicara agar dia mau menolong Nawang. 

"Jantung bocor, Dok. Sebenarnya dokter sudah menyuruh operasi. Tapi orang tuanya belum punya uang. Kenapa memangnya, Pak?"

Marsel meneguk ludah. Dia menoleh dan menatap wajah Nawang sekali lagi. Wajah itu tampak begitu lelah. Pakaian yang dia kenakan juga masih sama seperti hari-hari lalu. Jilbabnya lusuh. Mungkin dia tak terpikir lagi untuk mengganti pakaian. Semua pikirannya sudah habis untuk memikirkan kesembuhan anaknya. 

"Jadi itu alasan dia melamar sebagai ibu susu anakku?" pikir Marsel dalam hati. Ingin sekali dia mendekati Nawang. Namun dia tak ingin mengganggu tidurnya. Sepertinya dia tertidur juga karena sudah benar-benar lelah. 

Marsel berjalan pergi meninggalkan ruang PICU NICU. Dia menuju ruang kerjanya lalu menelepon anak buahnya. Menanyakan perkembangan dari usaha mereka. Apakah sudah membuahkan hasil atau belum? 

"Hallo, Pak! Ada apa?" tanya Rendy, salah satu anak buah Marsel. 

"Posisimu sekarang dimana?" 

"Saya lagi di radio Gema Suara, Pak."

"Gimana? Apa sudah ada perkembangan?"

"Maaf, Pak. Belum ada. Bahkan kontak saya sudah saya sebar. Barangkali ada yang mau bisa langsung menghubungi saya."

Marsel menarik nafas dalam. Lalu menghembuskannya dengan kasar. Dia harus cepat mendapatkan ibu susu untuk anaknya hari ini. Dan pilihan satu-satunya hanya Nawang. 

Setelah menimang beberapa kali, akhirnya dia mengambil keputusan final. Dia akan pergi menemui Nawang untuk menerimanya sebagai ibu susu. 

"Hentikan pencarian! Saya sudah mendapatkan ibu susu tersebut," perintah Marsel sekali lagi pada Rendy. 

"Ha? Bapak serius? Nemu dimana, Pak?" Rendy penasaran. 

"Sudah. Jangan banyak tanya! Lebih baik sekarang kamu cepat ke rumah sakit. Bawa surat perjanjian kontrak yang akan dia tanda tangani. Jangan lupa kasih materai!"

"Baik, Pak. Siap. Laksanakan!"

Setelah mematikan telepon, dia segera meminta salah satu perawat untuk memberitahu Nawang agar menemui Marsel di ruangannya. Keduanya sedang dalam keadaan terhimpit. Mungkin ini saatnya keduanya saling membantu. 

Lima menit kemudian, Nawang mengetuk pintu ruangan Marsel. Marsel pun menyuruhnya untuk masuk. 

"Ba ... bapak manggil saya?" tanya Nawang tergagap. Dia masih tidak menyangka, Marsel tiba-tiba memanggilnya. 

"Iya. Duduklah! Ada yang mau saya bicarakan."

Nawang duduk dengan hati-hati. Badannya mulai panas dingin. Bahkan dia mengeratkan kedua tangannya memeluk tubuhnya sendiri. 

"Saya kemarin tanya ke perawat tentang penyakit anakmu. Kata dokter, dia harus segera dioperasi. Benar begitu?" tanya Marsel sedikit berbasa-basi. 

Nawang mengangguk, "Iya, Pak. Tapi saya nggak punya uang buat bayar biaya operasinya."

Marsel mengangguk. Dan tanpa dijelaskan pun, Marsel paham mengapa Nawang melakukannya. 

Marsel menatap lurus kedua mata Nawang. "Jadi sekarang apa kamu masih mau menjadi ibu susu untuk anakku?"

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   6. Surat Perjanjian Kerja

    Nawang menatap mata itu dengan perasaan campur aduk. Dia lalu mengangguk, menerima tawaran pekerjaan sebagai ibu susu untuk anaknya Marsel."Iya. Aku mau."Dua orang pria, anak buah Marsel baru saja datang. Mereka membawa surat perjanjian yang harus Nawang tanda tangani. "Kalau gitu, tanda tangan disini!" Marsel meletakkan surat perjanjian tersebut ke atas meja. Nawang mulai membuka map berisi lembaran kertas yang menjelaskan perjanjian yang harus dia patuhi. "Baca semuanya! Jangan sampai ada yang terlewat. Aku nggak mau suatu hari nanti kamu protes. Pahami betul-betul apa isi dari semua perjanjian itu!" perintah Marsel lagi. Nawang menghela nafas sejenak. Sebenarnya dia sebal dengan sikap sombong dan angkuhnya Marsel, tapi dia tidak punya pilihan. Hanya dengan mengambil pekerjaan tersebut, anaknya bisa menjalani operasi. Mata Nawang mulai fokus menatap lembar demi lembar di hadapannya. Dibacanya satu per satu perjanjian yang Marsel buat. Diantaranya adalah semua gaji Nawang akan

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-04
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   7. Pantang Membatalkan Kontrak

    "Operasinya gagal, Dok?" Tangis Nawang hampir saja pecah. Tapi dia masih berharap bahwa dokter menyampaikan informasi yang keliru. "Dokter nggak salah bicara kan? Dokter nggak lagi bercanda kan?" tanya Nawang dengan tubuh gemetar. Dia tidak bisa langsung menerima kenyataan bahwa harapannya ternyata kandas. Padahal dia terlalu menumpukan hadapan terlalu tinggi pada operasi tersebut. "Iya, Bu. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya dan teman-teman tenaga medis yang lain sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain."Nawang menggigit bibir kuat-kuat. Seketika kaki Nawang terasa lunglai. Seolah semua tenaga telah tersedot habis oleh duka. Dia mulai kehilangan keseimbangan. Pandangan matanya mulai menggelap, lalu kemudian dia ambruk ke atas lantai. Nawang kehilangan kesadarannya. Beberapa tenaga medis langsung memberikan pertolongan pada Nawang. Satu dua orang bahkan ikut menangis. Membayangkan betapa pedihnya berada di posisi Nawang. Apalagi sebagian be

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-05
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   8. Hidup Berkecukupan

    Nawang tertegun sejenak. Dia tidak bermaksud kabur atau ingkar pada perjanjian tersebut. Tapi dia ingin mengundurkan diri dengan cara baik-baik. Tapi kembali lagi, Nawang berpikir panjang. Benar kata Marsel, dia telah menggelontorkan banyak uang untuk membantu dirinya. Maka tidak mungkin dia membatalkan pekerjaan tersebut. "Kok diam saja? Ayo jalan! Ikuti aku ke mobil!" perintah Marsel sekali lagi. Nawang hanya bisa meng-iya-kan semua ucapan Marsel. Karena kini Marsel adalah bos-nya. Nawang berjalan mengekor di belakang Marsel sambil menundukkan kepala. Seorang anak buah Marsel lalu membukakan pintu mobil agar Nawang bisa masuk. Dinginnya AC mobil langsung menyambut Nawang. Dia sampai merapatkan kedua tangannya memeluk dirinya sendiri. Nawang tidak pernah merasakan naik mobil semewah itu. "Kita langsung pulang, Pak?" tanya sopir pribadi Marsel yang telah siap di belakang kemudi. "Kita ke mall dulu. Beliin baju buat dia. Lihatlah! Bajunya sudah nggak layak pakai seperti itu," jawa

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-06
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   9. Cinta Tulus dari Sang Ibu Susu

    Nawang hanya mengangguk. Dia juga bukan orang bodoh yang akan membeberkan rahasia siapa mereka di masa lalu. Karena bagi Nawang, kisah itu sudah dia kubur dalam-dalam. Untuk apa lagi harus membuka kisah lama. Yang ada nanti dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Karena pasti orang-orang akan berpikir jika Nawang masih mengharapkan cintanya Marsel. "Tenang saja. Tanpa kamu beri tahu pun, aku nggak akan melakukannya," ucap Nawang sambil menatap lurus wajah Marsel. Dulu memandang wajah itu selalu bisa membuatnya merasa tenang. Tapi sekarang, Nawang ingin sekali meminimalkan berinteraksi dengan Marsel karena tak tahan dengan sikap angkuhnya. "Cepat makan! Habis makan kamu susui Axelle di kamarnya!" perintah Marsel. "Jadi namanya Axelle?" tanya Nawang dengan mata membola. Dia kaget mendengar nama bayi itu. Marsel diam sejenak sebelum akhirnya memberikan sebuah anggukan. Dia lalu memakan makanan di hadapannya tanpa suara. Sedangkan Nawang mengulas secuil kisah manis dalam ingata

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-07
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   10. Dituduh Jadi Selingkuhan Marsel

    Nawang urung beristirahat. Dia bergegas menuju kamar Axelle untuk mengecek keadaan bayi itu. "Badannya agak demam. Tolong ambilkan termometer!" pinta Nawang. Marsel pun bergegas menuju kotak P3K untuk mengambil termometer dan memberikannya pada Nawang. Setelah menempelkan termometer ke salah satu lekukan badan Axelle, Nawang membaca angka yang tertera. "Panasnya 38,5 derajat. Pantas saja dia rewel," ucap Nawang lalu dia mulai menggendong Axelle. "Terus bagaimana? Apa perlu kita bawa ke IGD?" tanya Marsel mulai panik. Ini adalah pengalaman pertama dia menjadi seorang ayah. Jadi wajar kalau dia kebingungan. "Tenang dulu. Panasnya belum terlalu tinggi. Insya Allah bisa turun jika rutin mengkonsumsi ASI. ASI adalah makanan dan obat terbaik untuk bayi." Penjelasan Nawang membuat Marsel sedikit bernafas lega. "Ijinkan aku membawa Axelle tidur di kamarku. Biar aku nggak harus bolak-balik ke kamar Axelle jika tiba waktu dia menyusu. Juga biar dia lebih nyenyak tidurnya karena nggak haru

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-08
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   11. Tuduhan Kejam

    "Sa ... saya ... nggak pernah ..." Nawang terbata. Dia ingin membela diri tapi lidahnya terasa kaku, bingung harus darimana menjelaskannya. "Aku nggak pernah selingkuh sama Nawang, Ma. Mama salah paham." Marsel menyelamatkannya. "Lalu kenapa dia ada di rumahmu?" Wajah perempuan itu memerah. Tangannya berkacak pinggang. Matanya melotot. Nawang sampai begidik melihatnya. "Dia adalah ibu susu untuk Axelle," terang Marsel. Mata ibunya kembali membola. Masih tak menyangka kalau Nawang yang akhirnya menjadi ibu susu untuk cucunya. "Kamu nggak bisa cari orang lain? Gimana kalau dia sampai mencelakai Axelle karena sakit hati nggak jadi nikah sama kamu?" Perempuan itu mulai mengada-ada. Nawang hanya menghela nafas dituduh demikian. Padahal dulu Nawang lah yang mundur dari hubungan. Kalau Nawang memang sepicik itu, sudah pasti dia lebih memilih nikah lari dengan Marsel. "Maaf, Bu, tapi saya nggak akan melakukan itu. Saya menyayangi Axelle seperti anak saya sendiri. Tadi malam dia demam. B

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   12. Termakan Mitos

    "Saya nggak ngasih apa-apa ke baju Axelle, Bu," jawab Nawang dengan bibir bergetar. Dia sedih kenapa ibunya Marsel selalu menuduhnya yang tidak-tidak. Padahal Nawang mana mungkin tega menyelakai bayi mungil itu. "Lihatlah! Badannya penuh ruam merah. Kamu pasti nggak bersih nyuci baju dia," tuduhnya lagi.Nawang lekas menggeleng, "Sa ... saya belum pernah nyuci baju Axelle, Bu. Semua baju-baju dia di lemari baru beli semua.""Nah ... itu salahmu!" ucap perempuan tua itu lagi "Harusnya baju baru itu dicuci dulu sebelum dipakaikan. Ini malah nggak dicuci sama sekali. Gimana sih kamu itu."Nawang hampir mencebik. Jujur dia lelah menghadapi ibunya Marsel yang selalu cari perkara dengannya. "Baik, Bu. Nanti akan saya cuci," jawab Nawang sambil menundukkan kepala. "Ada apa sih ini?" tanya Marsel yang baru saja datang. "Ini si Nawang teledor. Kulit Axelle sampai iritasi. Lihat! Sampai merah-merah begini," tunjuk perempuan itu pada Marsel. "Nawang, cuci semua baju Axelle sekarang juga!" p

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-10
  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   13. Dilema Nawang

    Teriakan Nawang yang spontan menyebut nama Marsel membuat security terkejut. Mulutnya melongo serta matanya membundar. "Berani-beraninya dia manggil tuan rumah tanpa sebutan 'Pak'? Bisa dikunyah hidup-hidup entar dia," ucapnya dalam hati. Nawang menepuk jidat, Marsel memberikan dia tatapan tajam. Dia kemudian berdehem, memberi Nawang kode. "Ehem ...""Eh ... Pak Marsel, maaf. Tadi saya panik. Itu si Axelle ... badannya merah-merah lagi. Padahal semua bajunya sudah saya cuci dan saya pastikan bersih. Kayaknya dia bukan karena iritasi baju baru deh, Pak. Kenapa lagi ya dia?" jelas Nawang bercampur rasa takut dan gugup. "Baik. Akan saya hubungi dokter Dani."Marsel merogoh ponsel dalam saku celananya lalu menelepon dokter Dani, dokter anak yang praktek di rumah sakit miliknya. "Hallo selamat sore, Dok! Saya mau tanya nih, Dok. Anak saya badannya muncul ruam merah. Itu kenapa ya, Dok?" tanya Marsel setelah telepon tersambung. "Munculnya ruam merah pada kulit bayi bisa disebabkan ole

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-11

Bab terbaru

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   25. Ancaman dari Intan

    "Gimana si pengasuh cucumu itu sudah pergi belum dari rumah anakmu?" tanya Maria saat tidak sengaja bertemu dengan Intan saat berbelanja di supermarket. "Belum. Aku juga bingung. Pusing mikirnya," jawab Intan sambil memegangi kepalanya. "Kurang kejam kali kamu.""Aku sudah ambil jatah makan dia. Aku tukar pakai tahu atau tempe mentah sepotong. Tapi dia nggak ngeluh apa-apa tuh.""Ngapain kamu tuker segala? Ambil aja nggak usah dituker. Ya dia nggak akan ngeluh. Orang masih ada makanan yang bisa dimakan. Tahu tempe kan udah makanan dia sehari-hari. Jadi dia nggak kaget lah. Gimana sih kamu ini."Intan berpikir sejenak. Mungkin iya, dia kurang keras memberi Nawang pelajaran. Sementara itu di rumah Marsel, Axelle terus menangis karena ASI Nawang semakin seret. Bagaimana tidak, sejak kelakuan Intan hari itu, Nawang jadi jarang makan. Kadang dia makan sehari sekali jika Marsel benar-benar sibuk dan pulang larut malam. Dia baru bisa makan dua kali jika Marsel pulang sore. "Kenapa Axelle

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   24. Daging Wagyu

    "Oh ... itu. Iya aku suka kok. Suka banget malahan. Dulu suamiku waktu masih hidup sering beliin aku itu," jawab Nawang santai. "Hah? Aku nggak salah dengar? Katanya miskin. Kok suaminya sering beliin dia caviar? Kerja apa suaminya?" batin Marsel sendiri. "Bagus lah. Jadi nggak buang-buang makanan," lanjut Marsel. "Aku nggak pernah buang-buang makanan. Makan apapun selalu aku syukuri. Walaupun sekedar caviar."Marsel kembali terperangah. "Dia bilang 'sekedar'? Ini sebenarnya dia lagi bercanda atau bicara jujur sih? Tapi kalau dari wajah dia, dia kayak lagi serius. Cuma ...""Kenapa? Kok malah bengong?" tanya Nawang."Enggak apa-apa kok," jawab Marsel gelagapan."Lagian aku juga bosen, Sel, makan daging melulu. Jadi sekali-kali makan caviar nggak apa-apa lah.""Emang kamu kira itu makanan harganya murah? Itu lebih mahal dari daging tau. Kalau kamu minta aku beliin caviar tiap hari ya bangkrut aku," gerutu Marsel dalam hati. Sebenarnya dia juga heran dengan Nawang. Biasanya jarang a

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   23. Salah Paham

    "Apa kamu bilang? Rakus? Eh ... denger ya. Aku memang miskin, Sel. Tapi aku nggak mungkin jadi seperti yang kamu tuduhkan." Nawang membela diri sambil berkacak pinggang. "Terus siapa yang ngabisin buah di sini kalau bukan kamu?" tuduh Marsel sambil menunjukkan kulkas yang telah kosong. Nawang mengangkat bahu. "Ya mana aku tahu," jawabnya.Sejenak Nawang berpikir apa mungkin ibunya Marsel yang mengambil semua buah di dalam kulkas? Tapi untuk apa? Bukannya dia bisa beli sendiri. Bahkan beli se-penjualnya sekali pun dia mampu. Untuk apa susah-susah mencuri buah di rumah anaknya?"Apa ada orang yang masuk ke rumah ini?" tanya Marsel lagi. Dia tampak berpikir keras. "Ada," sahut Nawang dengan cepat. "Siapa?" Marsel mengeryit. "Mamamu. Siapa lagi kalau bukan dia," jawab Nawang. Marsel diam sejenak. Dia memikirkan hal yang sama dengan Nawang. Apa mungkin mamanya yang mengambil semua buah itu? Apa mamanya sedang kedatangan tamu mendadak sehingga dia tidak sempat pergi ke supermarket?"A

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   22. Dibilang Rakus

    Intan membuka bungkus makanan tersebut. Bibirnya mengerucut melihat caviar bersanding dengan roti, telur dan kentang. Marsel juga menyiapkan buah di dalam kulkas seperti kiwi dan anggur ruby. Intan membawa semuanya tanpa menyisakannya untuk Nawang. "Marsel sudah gila. Pembantu saja dikasih makan seenak ini." Intan mendumel sendiri "Kenapa nggak dibeliin nasi pecel saja sih. Orang miskin kok dikasih makanan semahal ini. Emang ususnya nggak kaget apa?"Intan menutup kembali makanan tersebut dan menyimpannya di lemari makan. Kemudian buah-buahan hasil curiannya juga dia masukkan ke dalam kulkas. "Tapi lumayan lah. Aku jadi nggak perlu masak dan punya banyak stok buah di dalam kulkas. Ide teman-temanku brilian juga." Intan tersenyum puas sembari membayangkan wajah Nawang yang pasti kaget melihat jatah makanannya hilang tak tahu kemana. Sementara itu, di rumah Marsel, Nawang terkejut melihat lemari makan yang biasa penuh oleh makanan tiba-tiba kosong. Hanya ada sepotong tempe mentah dis

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   21. Mencuri Makanan Nawang

    Pagi ini, Intan sudah berpakaian bagus, mengenakan set perhiasan yang biasanya hanya dia simpan di dalam lemari dan bau parfum yang menguar dari tubuhnya serasa menusuk hidung. Hal itu sontak mengundang pertanyaan di kepala suaminya. "Tumben udah dandan cantik. Nggak sidak ke rumah Marsel hari ini? Atau masih ngambek sama Marsel gara-gara kemarin?" tanya suaminya sambil duduk di meja makan sambil menikmati segelas susu hangat. "Nggak. Hari ini aku nggak ke sana. Aku ada acara sama teman-teman sosialitaku," jawabnya sambil menyambar roti tawar dan mengoleskan selai kacang di atasnya. "Pantesan itu perhiasan setoko dipakai semua," seru suaminya lagi."Iya lah. Sayang punya berlian kalau cuma disimpan.""Jadi kalian mau kumpul-kumpul apa mau saling pamer perhiasan?""Apa sih. Udah diam saja. Kamu nggak akan ngerti soal beginian. Aku pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Intan. "Waalaikumsalam."Intan mempercepat langkah menuju mobil sambil sesekali melirik jam tangan mahal di pergelan

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   20. Sumpah Intan

    "Pak Marsel, sepertinya anak Anda ini mengalami alergi susu sapi. Apa dia habis diberi susu formula?" tanya dokter. Marsel lalu menatap mamanya. "Iya, Dok. Pengasuhnya yang ngasih susu formula ke cucu saya," jawab Intan langsung. "Bohong, Dok. Bukan saya yang ngasih Axelle susu formula. Tapi neneknya sendiri." Nawang membela diri. Dia tidak terima difitnah di depan Marsel dan dokter. "Halah ... ngaku aja, Nawang. Kamu pasti punya niat jelek kan ke cucu saya," desak Intan. "Pak Marsel, Anda harus percaya dengan saya. Saya nggak mungkin ngasih susu formula ke Axelle. Memangnya bagaimana caranya saya beli susu formula? Pakai daun? Uang satu rupiah saja saya nggak punya." Nawang berbicara apa adanya. "Sudah ... sudah. Saya nggak mau tahu juga siapa yang ngasih. Nanti kalian selesaikan sendiri di rumah. Sekarang susunya di stop ya. Kasihan ini bayinya juga diare lho," terang dokter. Kedua perempuan itu mengangguk bersamaan. "Ini sudah saya resepkan obat untuk ditebus di apotek ya. Se

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   19. Aksinya Ketahuan

    "Ibu kasih Axelle apa?" hardik Nawang. Dia takut jika Marsel memarahinya dan mengira ini adalah ulah dirinya. Padahal apa yang terjadi pada anaknya adalah akibat dari ulah ibunya. Jika ditanya kenapa Nawang sampai berani membentak ibunya Marsel, itu karena dia sudah hampir kehabisan kesabaran menghadapi perempuan itu. Ada saja ulahnya yang membuat Nawang meradang. "Eng ... enggak kasih apa-apa," jawab Intan gelagapan sambil berusaha menyembunyikan botol susu di belakang punggungnya. "Terus itu apa? Apa yang ibu sembunyikan di balik punggung itu?" tunjuk Nawang. Spontan, Intan langsung menjatuhkan botol itu ke atas lantai. "Nggak apa-apa kok," elaknya lagi. Tapi Nawang bergegas mengambil botol susu tersebut. Dia mengambilnya lalu mengangkat botol itu, mengarahkan ke depan wajah Intan. "Ini apa, Bu? Ini botol susu kan? Kenapa ibu kasih Axelle susu diam-diam?" Nawang mulai geram. Bukan karena dia tidak menghormati Intan sebagai nenek dari Axelle. Tapi di sini, semua tentang Axelle a

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   18. Petaka Susu Formula

    "Aku nggak akan kasih dia susu formula," jawab Marsel dengan tegas. "Kamu ini papa yang pelit banget sama anak. Kasihan sekali anakmu. Hanya minum ASI yang nggak berkualitas dari si Nawang," ucapnya sambil menatap Nawang dengan bengis. "Maaf, Bu, tapi setahu saya nggak ada yang namanya ASI yang nggak berkualitas. Semua ASI itu bagus," jawab Nawang. Dia ikut geram dengan kalimat-kalimat yang ibunya Marsel lontarkan. "Tahu apa kamu soal anak? Punya anak satu aja mati. Sok-sokan ngajari aku soal tumbuh kembang anak."Nawang tersentak. Perasaannya hancur seketika bagai dihantam benda keras. Tapi Nawang berusaha menahan air matanya agar tidak turun. Dia pantang terlihat menangis di depan perempuan itu. Perempuan yang tidak punya empati. "Mama!" hardik Marsel. Intan langsung diam. Matanya beralih menatap ke arah lain. Tapi hatinya mendendam hebat. Sekarang Marsel bahkan sudah berani membentaknya demi membela Nawang. "Kalau mama nggak ada keperluan di sini, lebih baik mama pulang. Kita

  • Ibu Susu untuk Sang Pewaris   17. Tak Boleh Jatuh Cinta Lagi

    "Nggak. Aku nggak boleh jatuh cinta lagi sama Marsel. Kita ini beda kasta. Bisa kesurupan nanti mamanya kalau kita balikan," batin Nawang. Namun matanya tidak lepas menatap Marsel yang duduk di depannya. Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh. Tapi Nawang tidak mau menanggapi terlalu jauh. Lelaki itu tetap bersikap sedingin kulkas. Dia memang mengajak Nawang pergi makan berdua, namun mereka tidak banyak mengobrol. Marsel lebih banyak diam dan sibuk dengan handphonenya sendiri. Sedikit-sedikit angkat telepon. Persis seperti akting orang penting dalam sinetron. Entah apa saja yang sedang di urus. Nawang sendiri kurang paham dengan pekerjaannya. Setelah mengakhiri sebuah panggilan, Marsel lekas duduk dan menyantap makanannya. Sedangkan Nawang masih sibuk menenangkan Axelle yang rewel. "Kamu nggak makan?" tanya Marsel pada Nawang. "Kamu nggak lihat anakmu lagi rewel?" balas Nawang geram. Baginya pertanyaan Marsel terdengar konyol. Mana mungkin dia bisa makan sementara bayi itu sedang re

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status