Nawang segera berlari menuju ruangan dokter tanpa menghiraukan lagi rasa perih di kakinya. Bahkan luka yang sudah setengah kering itu kembali meneteskan darah.
"Apa yang terjadi dengan anak saya, Dok?"
Nawang duduk dengan nafas terengah-engah. Dokter yang menangani keadaan putrinya sampai iba melihatnya. Terlihat sekali perempuan itu sudah berjuang habis-habisan.
"Keadaan anak ibu semakin kritis. Operasi harus segera dilakukan. Atau kalau tidak ..."
"Kalau tidak kenapa, Dok?"
"Dia tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi," ucap dokter itu dengan lemas. Sebenarnya dia tidak tega menyampaikannya. Namun mau tidak mau, perempuan itu harus tahu bagaimana keadaan anaknya.
"Tapi saya belum dapat uangnya, Dok," ucap Nawang dengan dada menahan sesak. Dia merasa gagal menjadi seorang ibu.
"Maaf, Bu, saya hanya sekedar menyampaikan saja."
Dengan lesu, Nawang duduk di lantai depan ruang PICU. Air mata mulai menganak sungai di kedua pipinya. Nawang merasa semua jalan telah buntu. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa untuk bisa menolong anaknya.
Adzan isya' mulai dikumandangkan. Nawang memilih pergi ke mushola rumah sakit untuk menunaikan sholat bersama keluarga pasien yang lain.
Tak bisa lagi dia menahan air mata kala doa-doa itu dia panjatkan. Nawang merasa hidupnya berada pada titik terendah. Maka segala kesedihan dan kebimbangan itu dia tumpahkan dalam sujudnya. Dia tak tahu lagi harus mengadu pada siapa selain kepada Tuhan. Bukan kah Dia Maha Penentu Segalanya?
Selesai sholat, Nawang tidak langsung pergi. Dia memilih bertahan sembari merapal dzikir. Kiranya dengan begitu dia sedikit bisa lebih tenang.
"Ya Allah, jika memang waktuku dengan anakku telah habis, aku ikhlaskan dia pergi. Namun jika masih ada jalan untuk aku memperjuangkannya, tolong tunjukkan. Karena dia adalah satu-satunya harta yang aku punya saat ini." Sebait doa itu terpanjat bersamaan dengan puluhan tetes air mata yang jatuh di atas sajadah.
Puas mencurahkan isi hati lewat doa, Nawang bangkit berdiri. Dia melepas mukena dan melipatnya kembali dengan rapi. Tak lupa dia mengembalikannya lagi ke lemari mushola.
Nawang keluar mushola, kembali memakai sendal yang sudah membuat kakinya terluka. Namun luka akibat goresan pecahan kaca itu tak seberapa sakitnya. Masih jauh lebih sakit menerima kenyataan buruk keadaan anaknya.
Dengan langkah gontai, Nawang kembali ke ruang PICU. Dia duduk di atas lantai yang dingin tanpa alas apapun. Dibukanya bungkusan nasi pemberian ibu warung tadi siang. Nawang mencium aroma kurang sedap.
"Nasi dan lauknya sudah hampir basi. Tapi hanya ini satu-satunya makanan yang aku punya."
Nawang terpaksa memakan makanan yang hampir basi itu. Tak apa, yang penting perutnya terisi.
Saat Nawang tengah memakan makanannya, Marsel berjalan melewatinya. Dia sedikit terkejut melihat keadaan Nawang yang memprihatinkan. Apalagi dia duduk dan makan seorang diri. Tanpa didampingi siapa pun.
"Ngapain Nawang ada disitu?" pikir Marsel dalam hati. Tapi dia enggan bertanya langsung pada Nawang. Dia terus berjalan menuju ruang NICU yang berada tepat di samping ruang PICU.
"Gimana keadaan anak saya, Sus?" tanya Marsel pada perawat yang bertugas di ruang tersebut.
"Stok ASI perah dari donor ASI yang kemarin sudah hampir habis, Pak. Sedangkan ketika pihak rumah sakit menghubungi dia lagi, dia meminta maaf karena sudah nggak bisa ngasih ASI-nya lagi. Dia kewalahan memberikan ASI untuk anaknya sendiri karena tiba-tiba saja keluarnya tidak sebanyak sebelumnya. Entah apa yang membuat ASI-nya seret."
"Terus gimana dong, Sus?"
"Ya kita harus cepat nyari ibu susu buat anak bapak."
Marsel hanya tertegun. Mendadak dia merasa bersalah karena telah menolak Nawang. Sebenarnya dia bisa saja menemui Nawang sekarang. Karena Nawang ternyata berada di rumah sakit ini juga. Tapi gengsi Marsel masih terlalu tinggi. Pantang dia menjilat ludahnya sendiri.
"Bagaimana, Pak? Apakah sudah ada yang menawarkan diri untuk menjadi ibu susu anak bapak?" tanya perawat itu lagi.
"Belum," jawabnya berbohong "Tapi saya akan usahakan dapat ibu susu secepatnya."
Marsel berjalan keluar ruangan. Dia mengusap wajah dengan kasar. Kenapa pilihan satu-satunya adalah Nawang? Perempuan yang pernah menolak lamarannya. Bertahun-tahun Marsel berusaha melupakan Nawang dengan keberadaan Sherly, istrinya.
Marsel memilih membuka hati karena merasa cintanya pada Nawang sudah tidak bisa diperjuangkan. Dia menerima perjodohan itu dengan lapang dada.
Sherly adalah istri yang baik. Jadi mudah saja untuk Marsel jatuh cinta kepadanya. Namun ketika benih cinta mulai tumbuh, Tuhan malah memanggilnya untuk pulang. Lalu takdir malah mempertemukan Marsel kembali pada cinta lamanya. Mengapa dunia harus serumit itu?
Nawang hanya memakan nasi itu tiga suap saja. Selain rasanya yang tidak enak, dia juga kehilangan selera makan tiap ingat penjelasan dari dokter.
"Berapa lama lagi anakku bisa bertahan?" batin Nawang sembari menatap tubuh anaknya dari balik kaca jendela. Bayi mungil itu sedang berperang dengan maut. Namun ibunya tak punya daya untuk menyelamatkan nyawanya.
Di tengah keadaan putus asa, Nawang sering membodoh-bodohkan dirinya sendiri. Andai dulu dia tidak menolak Marsel, mungkin dia tidak akan hidup dalam keadaan kekuarangan.
Nawang mengunyah nasi di hadapannya dengan berlinang air mata. Sungguh suatu keadaan yang menyakitkan. Andai dia masih memiliki uang, tentu dia akan membeli makanan yang layak makan. Bukan nasi basi yang bisa memberi efek buruk untuk tubuhnya.
"Dok, bayi yang menderita jantung bocor itu semakin sering mengalami sesak nafas. Bahkan beberapa kali badannya membiru." Samar-samar, Nawang mendengar pembicaraan perawat dan dokter yang berjalan keluar dari ruang NICU.
Nawang langsung berhenti mengunyah. Makanan itu terasa sulit dia telan. Dia kembali membungkus rapat kertas minyak yang menjadi alas dari makanan tersebut menggunakan karet gelang. Lalu dia abaikan begitu saja.
"Iya. Tapi mau gimana lagi? Ibunya belum dapat uang untuk biaya operasi," jawab sang dokter.
"Kasihan sekali ya, Dok. Ya maklum saja, Dok. Biaya operasinya memang mahal. Apalagi dengar-dengar dia baru saja ditinggal mati suaminya."
"Cobaan itu nggak kenal kasta. Nggak cuma ibu itu saja yang diuji sama Tuhan. Lihat saja Pak Marsel, direktur rumah sakit ini. Dia juga lagi diberi ujian kan sama Tuhan. Istrinya meninggal setelah melahirkan anaknya. Sekarang dia lagi bingung mencari ibu susu."
Nawang yang sedari tadi menyimak obrolan mereka lekas menoleh. Apalagi setelah Nawang mendengar nama Marsel disebut.
"Oiya .... Dok, bagaimana perkembangan soal pencarian ibu susu untuk anak Pak Marsel?"
Nawang terus memerhatikan mereka berdua. Entah mengapa, obrolan mereka begitu menarik perhatian Nawang. Dia juga penasaran, ingin tahu tentang keadaan anaknya Marsel.
"Apa Pak Marsel sudah mendapatkan ibu susu untuk anaknya, Dok?" Perawat itu bertanya lagi sambil menatap serius wajah dokter di hadapannya.
Dokter menggeleng pelan. "Sampai sekarang, Pak Marsel belum mendapatkan ibu susu untuk anaknya. Dan kabarnya stok ASI perah dari pendonor kemarin sudah mau habis."
Penjelasan dokter tersebut membuat Nawang terkejut. Bukannya Marsel sendiri yang bilang kalau dia sudah mendapatkan ibu susu untuk anaknya? Maka Marsel menolak lamaran Nawang waktu itu.
"Apakah Marsel berbohong?" pikir Nawang dalam hati.
***
"Perbanyak lagi usaha mencari ibu susu untuk anakku! Harus dapat hari ini juga!" Perintah Marsel pada dua anak buahnya. "Tapi, Pak, kita sudah berusaha semaksimal mungkin," jawab salah satu anak buahnya sembari menunduk takut. "Tinggikan lagi imbalannya. Masak masih nggak ada yang mau?" Marsel menghembuskan nafas kesal. Pikirannya mulai buntu. "Mau ditinggikan berapa lagi, Pak?""Berapa saja akan saya bayar," tegas Marsel sekali lagi. "Sebar pengumuman lebih banyak lagi di media. Datangi stasiun televisi dan radio-radio. Pokoknya bagaimana pun caranya hari ini anak saya harus cepat dapat ASI."Marsel mulai gundah. Rasa khawatir pada anaknya menekan pikirannya dengan kuat. Sebenarnya ada setitik rasa sesal kenapa waktu itu dia menolak Nawang. Sekarang dia mulai kebingungan sendiri karena tak kunjung mendapatkan ibu susu untuk anaknya. Kadang rasa gengsi memang bisa menyesatkan diri sendiri. Dua laki-laki itu pergi dari hadapan Marsel untuk segera melaksanakan perintah. Sambil berj
Nawang menatap mata itu dengan perasaan campur aduk. Dia lalu mengangguk, menerima tawaran pekerjaan sebagai ibu susu untuk anaknya Marsel."Iya. Aku mau."Dua orang pria, anak buah Marsel baru saja datang. Mereka membawa surat perjanjian yang harus Nawang tanda tangani. "Kalau gitu, tanda tangan disini!" Marsel meletakkan surat perjanjian tersebut ke atas meja. Nawang mulai membuka map berisi lembaran kertas yang menjelaskan perjanjian yang harus dia patuhi. "Baca semuanya! Jangan sampai ada yang terlewat. Aku nggak mau suatu hari nanti kamu protes. Pahami betul-betul apa isi dari semua perjanjian itu!" perintah Marsel lagi. Nawang menghela nafas sejenak. Sebenarnya dia sebal dengan sikap sombong dan angkuhnya Marsel, tapi dia tidak punya pilihan. Hanya dengan mengambil pekerjaan tersebut, anaknya bisa menjalani operasi. Mata Nawang mulai fokus menatap lembar demi lembar di hadapannya. Dibacanya satu per satu perjanjian yang Marsel buat. Diantaranya adalah semua gaji Nawang akan
"Operasinya gagal, Dok?" Tangis Nawang hampir saja pecah. Tapi dia masih berharap bahwa dokter menyampaikan informasi yang keliru. "Dokter nggak salah bicara kan? Dokter nggak lagi bercanda kan?" tanya Nawang dengan tubuh gemetar. Dia tidak bisa langsung menerima kenyataan bahwa harapannya ternyata kandas. Padahal dia terlalu menumpukan hadapan terlalu tinggi pada operasi tersebut. "Iya, Bu. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Saya dan teman-teman tenaga medis yang lain sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain."Nawang menggigit bibir kuat-kuat. Seketika kaki Nawang terasa lunglai. Seolah semua tenaga telah tersedot habis oleh duka. Dia mulai kehilangan keseimbangan. Pandangan matanya mulai menggelap, lalu kemudian dia ambruk ke atas lantai. Nawang kehilangan kesadarannya. Beberapa tenaga medis langsung memberikan pertolongan pada Nawang. Satu dua orang bahkan ikut menangis. Membayangkan betapa pedihnya berada di posisi Nawang. Apalagi sebagian be
Nawang tertegun sejenak. Dia tidak bermaksud kabur atau ingkar pada perjanjian tersebut. Tapi dia ingin mengundurkan diri dengan cara baik-baik. Tapi kembali lagi, Nawang berpikir panjang. Benar kata Marsel, dia telah menggelontorkan banyak uang untuk membantu dirinya. Maka tidak mungkin dia membatalkan pekerjaan tersebut. "Kok diam saja? Ayo jalan! Ikuti aku ke mobil!" perintah Marsel sekali lagi. Nawang hanya bisa meng-iya-kan semua ucapan Marsel. Karena kini Marsel adalah bos-nya. Nawang berjalan mengekor di belakang Marsel sambil menundukkan kepala. Seorang anak buah Marsel lalu membukakan pintu mobil agar Nawang bisa masuk. Dinginnya AC mobil langsung menyambut Nawang. Dia sampai merapatkan kedua tangannya memeluk dirinya sendiri. Nawang tidak pernah merasakan naik mobil semewah itu. "Kita langsung pulang, Pak?" tanya sopir pribadi Marsel yang telah siap di belakang kemudi. "Kita ke mall dulu. Beliin baju buat dia. Lihatlah! Bajunya sudah nggak layak pakai seperti itu," jawa
Nawang hanya mengangguk. Dia juga bukan orang bodoh yang akan membeberkan rahasia siapa mereka di masa lalu. Karena bagi Nawang, kisah itu sudah dia kubur dalam-dalam. Untuk apa lagi harus membuka kisah lama. Yang ada nanti dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Karena pasti orang-orang akan berpikir jika Nawang masih mengharapkan cintanya Marsel. "Tenang saja. Tanpa kamu beri tahu pun, aku nggak akan melakukannya," ucap Nawang sambil menatap lurus wajah Marsel. Dulu memandang wajah itu selalu bisa membuatnya merasa tenang. Tapi sekarang, Nawang ingin sekali meminimalkan berinteraksi dengan Marsel karena tak tahan dengan sikap angkuhnya. "Cepat makan! Habis makan kamu susui Axelle di kamarnya!" perintah Marsel. "Jadi namanya Axelle?" tanya Nawang dengan mata membola. Dia kaget mendengar nama bayi itu. Marsel diam sejenak sebelum akhirnya memberikan sebuah anggukan. Dia lalu memakan makanan di hadapannya tanpa suara. Sedangkan Nawang mengulas secuil kisah manis dalam ingata
Nawang urung beristirahat. Dia bergegas menuju kamar Axelle untuk mengecek keadaan bayi itu. "Badannya agak demam. Tolong ambilkan termometer!" pinta Nawang. Marsel pun bergegas menuju kotak P3K untuk mengambil termometer dan memberikannya pada Nawang. Setelah menempelkan termometer ke salah satu lekukan badan Axelle, Nawang membaca angka yang tertera. "Panasnya 38,5 derajat. Pantas saja dia rewel," ucap Nawang lalu dia mulai menggendong Axelle. "Terus bagaimana? Apa perlu kita bawa ke IGD?" tanya Marsel mulai panik. Ini adalah pengalaman pertama dia menjadi seorang ayah. Jadi wajar kalau dia kebingungan. "Tenang dulu. Panasnya belum terlalu tinggi. Insya Allah bisa turun jika rutin mengkonsumsi ASI. ASI adalah makanan dan obat terbaik untuk bayi." Penjelasan Nawang membuat Marsel sedikit bernafas lega. "Ijinkan aku membawa Axelle tidur di kamarku. Biar aku nggak harus bolak-balik ke kamar Axelle jika tiba waktu dia menyusu. Juga biar dia lebih nyenyak tidurnya karena nggak haru
"Sa ... saya ... nggak pernah ..." Nawang terbata. Dia ingin membela diri tapi lidahnya terasa kaku, bingung harus darimana menjelaskannya. "Aku nggak pernah selingkuh sama Nawang, Ma. Mama salah paham." Marsel menyelamatkannya. "Lalu kenapa dia ada di rumahmu?" Wajah perempuan itu memerah. Tangannya berkacak pinggang. Matanya melotot. Nawang sampai begidik melihatnya. "Dia adalah ibu susu untuk Axelle," terang Marsel. Mata ibunya kembali membola. Masih tak menyangka kalau Nawang yang akhirnya menjadi ibu susu untuk cucunya. "Kamu nggak bisa cari orang lain? Gimana kalau dia sampai mencelakai Axelle karena sakit hati nggak jadi nikah sama kamu?" Perempuan itu mulai mengada-ada. Nawang hanya menghela nafas dituduh demikian. Padahal dulu Nawang lah yang mundur dari hubungan. Kalau Nawang memang sepicik itu, sudah pasti dia lebih memilih nikah lari dengan Marsel. "Maaf, Bu, tapi saya nggak akan melakukan itu. Saya menyayangi Axelle seperti anak saya sendiri. Tadi malam dia demam. B
"Saya nggak ngasih apa-apa ke baju Axelle, Bu," jawab Nawang dengan bibir bergetar. Dia sedih kenapa ibunya Marsel selalu menuduhnya yang tidak-tidak. Padahal Nawang mana mungkin tega menyelakai bayi mungil itu. "Lihatlah! Badannya penuh ruam merah. Kamu pasti nggak bersih nyuci baju dia," tuduhnya lagi.Nawang lekas menggeleng, "Sa ... saya belum pernah nyuci baju Axelle, Bu. Semua baju-baju dia di lemari baru beli semua.""Nah ... itu salahmu!" ucap perempuan tua itu lagi "Harusnya baju baru itu dicuci dulu sebelum dipakaikan. Ini malah nggak dicuci sama sekali. Gimana sih kamu itu."Nawang hampir mencebik. Jujur dia lelah menghadapi ibunya Marsel yang selalu cari perkara dengannya. "Baik, Bu. Nanti akan saya cuci," jawab Nawang sambil menundukkan kepala. "Ada apa sih ini?" tanya Marsel yang baru saja datang. "Ini si Nawang teledor. Kulit Axelle sampai iritasi. Lihat! Sampai merah-merah begini," tunjuk perempuan itu pada Marsel. "Nawang, cuci semua baju Axelle sekarang juga!" p
"Gimana si pengasuh cucumu itu sudah pergi belum dari rumah anakmu?" tanya Maria saat tidak sengaja bertemu dengan Intan saat berbelanja di supermarket. "Belum. Aku juga bingung. Pusing mikirnya," jawab Intan sambil memegangi kepalanya. "Kurang kejam kali kamu.""Aku sudah ambil jatah makan dia. Aku tukar pakai tahu atau tempe mentah sepotong. Tapi dia nggak ngeluh apa-apa tuh.""Ngapain kamu tuker segala? Ambil aja nggak usah dituker. Ya dia nggak akan ngeluh. Orang masih ada makanan yang bisa dimakan. Tahu tempe kan udah makanan dia sehari-hari. Jadi dia nggak kaget lah. Gimana sih kamu ini."Intan berpikir sejenak. Mungkin iya, dia kurang keras memberi Nawang pelajaran. Sementara itu di rumah Marsel, Axelle terus menangis karena ASI Nawang semakin seret. Bagaimana tidak, sejak kelakuan Intan hari itu, Nawang jadi jarang makan. Kadang dia makan sehari sekali jika Marsel benar-benar sibuk dan pulang larut malam. Dia baru bisa makan dua kali jika Marsel pulang sore. "Kenapa Axelle
"Oh ... itu. Iya aku suka kok. Suka banget malahan. Dulu suamiku waktu masih hidup sering beliin aku itu," jawab Nawang santai. "Hah? Aku nggak salah dengar? Katanya miskin. Kok suaminya sering beliin dia caviar? Kerja apa suaminya?" batin Marsel sendiri. "Bagus lah. Jadi nggak buang-buang makanan," lanjut Marsel. "Aku nggak pernah buang-buang makanan. Makan apapun selalu aku syukuri. Walaupun sekedar caviar."Marsel kembali terperangah. "Dia bilang 'sekedar'? Ini sebenarnya dia lagi bercanda atau bicara jujur sih? Tapi kalau dari wajah dia, dia kayak lagi serius. Cuma ...""Kenapa? Kok malah bengong?" tanya Nawang."Enggak apa-apa kok," jawab Marsel gelagapan."Lagian aku juga bosen, Sel, makan daging melulu. Jadi sekali-kali makan caviar nggak apa-apa lah.""Emang kamu kira itu makanan harganya murah? Itu lebih mahal dari daging tau. Kalau kamu minta aku beliin caviar tiap hari ya bangkrut aku," gerutu Marsel dalam hati. Sebenarnya dia juga heran dengan Nawang. Biasanya jarang a
"Apa kamu bilang? Rakus? Eh ... denger ya. Aku memang miskin, Sel. Tapi aku nggak mungkin jadi seperti yang kamu tuduhkan." Nawang membela diri sambil berkacak pinggang. "Terus siapa yang ngabisin buah di sini kalau bukan kamu?" tuduh Marsel sambil menunjukkan kulkas yang telah kosong. Nawang mengangkat bahu. "Ya mana aku tahu," jawabnya.Sejenak Nawang berpikir apa mungkin ibunya Marsel yang mengambil semua buah di dalam kulkas? Tapi untuk apa? Bukannya dia bisa beli sendiri. Bahkan beli se-penjualnya sekali pun dia mampu. Untuk apa susah-susah mencuri buah di rumah anaknya?"Apa ada orang yang masuk ke rumah ini?" tanya Marsel lagi. Dia tampak berpikir keras. "Ada," sahut Nawang dengan cepat. "Siapa?" Marsel mengeryit. "Mamamu. Siapa lagi kalau bukan dia," jawab Nawang. Marsel diam sejenak. Dia memikirkan hal yang sama dengan Nawang. Apa mungkin mamanya yang mengambil semua buah itu? Apa mamanya sedang kedatangan tamu mendadak sehingga dia tidak sempat pergi ke supermarket?"A
Intan membuka bungkus makanan tersebut. Bibirnya mengerucut melihat caviar bersanding dengan roti, telur dan kentang. Marsel juga menyiapkan buah di dalam kulkas seperti kiwi dan anggur ruby. Intan membawa semuanya tanpa menyisakannya untuk Nawang. "Marsel sudah gila. Pembantu saja dikasih makan seenak ini." Intan mendumel sendiri "Kenapa nggak dibeliin nasi pecel saja sih. Orang miskin kok dikasih makanan semahal ini. Emang ususnya nggak kaget apa?"Intan menutup kembali makanan tersebut dan menyimpannya di lemari makan. Kemudian buah-buahan hasil curiannya juga dia masukkan ke dalam kulkas. "Tapi lumayan lah. Aku jadi nggak perlu masak dan punya banyak stok buah di dalam kulkas. Ide teman-temanku brilian juga." Intan tersenyum puas sembari membayangkan wajah Nawang yang pasti kaget melihat jatah makanannya hilang tak tahu kemana. Sementara itu, di rumah Marsel, Nawang terkejut melihat lemari makan yang biasa penuh oleh makanan tiba-tiba kosong. Hanya ada sepotong tempe mentah dis
Pagi ini, Intan sudah berpakaian bagus, mengenakan set perhiasan yang biasanya hanya dia simpan di dalam lemari dan bau parfum yang menguar dari tubuhnya serasa menusuk hidung. Hal itu sontak mengundang pertanyaan di kepala suaminya. "Tumben udah dandan cantik. Nggak sidak ke rumah Marsel hari ini? Atau masih ngambek sama Marsel gara-gara kemarin?" tanya suaminya sambil duduk di meja makan sambil menikmati segelas susu hangat. "Nggak. Hari ini aku nggak ke sana. Aku ada acara sama teman-teman sosialitaku," jawabnya sambil menyambar roti tawar dan mengoleskan selai kacang di atasnya. "Pantesan itu perhiasan setoko dipakai semua," seru suaminya lagi."Iya lah. Sayang punya berlian kalau cuma disimpan.""Jadi kalian mau kumpul-kumpul apa mau saling pamer perhiasan?""Apa sih. Udah diam saja. Kamu nggak akan ngerti soal beginian. Aku pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Intan. "Waalaikumsalam."Intan mempercepat langkah menuju mobil sambil sesekali melirik jam tangan mahal di pergelan
"Pak Marsel, sepertinya anak Anda ini mengalami alergi susu sapi. Apa dia habis diberi susu formula?" tanya dokter. Marsel lalu menatap mamanya. "Iya, Dok. Pengasuhnya yang ngasih susu formula ke cucu saya," jawab Intan langsung. "Bohong, Dok. Bukan saya yang ngasih Axelle susu formula. Tapi neneknya sendiri." Nawang membela diri. Dia tidak terima difitnah di depan Marsel dan dokter. "Halah ... ngaku aja, Nawang. Kamu pasti punya niat jelek kan ke cucu saya," desak Intan. "Pak Marsel, Anda harus percaya dengan saya. Saya nggak mungkin ngasih susu formula ke Axelle. Memangnya bagaimana caranya saya beli susu formula? Pakai daun? Uang satu rupiah saja saya nggak punya." Nawang berbicara apa adanya. "Sudah ... sudah. Saya nggak mau tahu juga siapa yang ngasih. Nanti kalian selesaikan sendiri di rumah. Sekarang susunya di stop ya. Kasihan ini bayinya juga diare lho," terang dokter. Kedua perempuan itu mengangguk bersamaan. "Ini sudah saya resepkan obat untuk ditebus di apotek ya. Se
"Ibu kasih Axelle apa?" hardik Nawang. Dia takut jika Marsel memarahinya dan mengira ini adalah ulah dirinya. Padahal apa yang terjadi pada anaknya adalah akibat dari ulah ibunya. Jika ditanya kenapa Nawang sampai berani membentak ibunya Marsel, itu karena dia sudah hampir kehabisan kesabaran menghadapi perempuan itu. Ada saja ulahnya yang membuat Nawang meradang. "Eng ... enggak kasih apa-apa," jawab Intan gelagapan sambil berusaha menyembunyikan botol susu di belakang punggungnya. "Terus itu apa? Apa yang ibu sembunyikan di balik punggung itu?" tunjuk Nawang. Spontan, Intan langsung menjatuhkan botol itu ke atas lantai. "Nggak apa-apa kok," elaknya lagi. Tapi Nawang bergegas mengambil botol susu tersebut. Dia mengambilnya lalu mengangkat botol itu, mengarahkan ke depan wajah Intan. "Ini apa, Bu? Ini botol susu kan? Kenapa ibu kasih Axelle susu diam-diam?" Nawang mulai geram. Bukan karena dia tidak menghormati Intan sebagai nenek dari Axelle. Tapi di sini, semua tentang Axelle a
"Aku nggak akan kasih dia susu formula," jawab Marsel dengan tegas. "Kamu ini papa yang pelit banget sama anak. Kasihan sekali anakmu. Hanya minum ASI yang nggak berkualitas dari si Nawang," ucapnya sambil menatap Nawang dengan bengis. "Maaf, Bu, tapi setahu saya nggak ada yang namanya ASI yang nggak berkualitas. Semua ASI itu bagus," jawab Nawang. Dia ikut geram dengan kalimat-kalimat yang ibunya Marsel lontarkan. "Tahu apa kamu soal anak? Punya anak satu aja mati. Sok-sokan ngajari aku soal tumbuh kembang anak."Nawang tersentak. Perasaannya hancur seketika bagai dihantam benda keras. Tapi Nawang berusaha menahan air matanya agar tidak turun. Dia pantang terlihat menangis di depan perempuan itu. Perempuan yang tidak punya empati. "Mama!" hardik Marsel. Intan langsung diam. Matanya beralih menatap ke arah lain. Tapi hatinya mendendam hebat. Sekarang Marsel bahkan sudah berani membentaknya demi membela Nawang. "Kalau mama nggak ada keperluan di sini, lebih baik mama pulang. Kita
"Nggak. Aku nggak boleh jatuh cinta lagi sama Marsel. Kita ini beda kasta. Bisa kesurupan nanti mamanya kalau kita balikan," batin Nawang. Namun matanya tidak lepas menatap Marsel yang duduk di depannya. Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh. Tapi Nawang tidak mau menanggapi terlalu jauh. Lelaki itu tetap bersikap sedingin kulkas. Dia memang mengajak Nawang pergi makan berdua, namun mereka tidak banyak mengobrol. Marsel lebih banyak diam dan sibuk dengan handphonenya sendiri. Sedikit-sedikit angkat telepon. Persis seperti akting orang penting dalam sinetron. Entah apa saja yang sedang di urus. Nawang sendiri kurang paham dengan pekerjaannya. Setelah mengakhiri sebuah panggilan, Marsel lekas duduk dan menyantap makanannya. Sedangkan Nawang masih sibuk menenangkan Axelle yang rewel. "Kamu nggak makan?" tanya Marsel pada Nawang. "Kamu nggak lihat anakmu lagi rewel?" balas Nawang geram. Baginya pertanyaan Marsel terdengar konyol. Mana mungkin dia bisa makan sementara bayi itu sedang re