Bai Jia memasuki aula pertemuan dan duduk di singgasananya. Saat ini di hadapannya sudah ada seorang utusan dari Wuxia.
“Siapa yang mengirimmu ke sini?” tanya Bai Jia.“Saya diperintah oleh putri mahkota untuk menemui Raja Gui Tian guna meminta pertolongan.”“Pertolongan?”—Bai Jia mengerutkan dahi—“pertolongan apa? apa yang terjadi?”“Raja, saat ini Wuxia tengah diserang oleh pasukan pangeran Ruong. Putri mahkota—”“Apa yang terjadi di Wuxia bukan lagi urusanku, aku sudah pernah mengatakannya pada putri mahkota,” sahut Bai Jia memotong ucapan si utusan.“Ta-tapi, Raja, ada indikasi bahwa pasukan timur mendapat bantuan dari iblis,” ungkap utusan tersebut, “maka dari itu putri mahkota meminta pertolongan Raja Gui Tian.”Bai Jia terkejut mendengarnya. Rasanya tidak mungkin masih ada kekuatan iblis jahat yang tertinggal. Seharusnya Bai Jia tahu jika memang ada kekuatan jahat dari bangsa iblis yang masih berkeliaran di luarBai Jia yang sempat terpaku pada Bao Yu karena kondisinya, kini kembali menatap ke arah Diyu. Dia mencari sosok wanita yang beberapa saat lalu memanggilnya. “Fei Yi ....”Bai Jia sudah tidak mendapati siapapun di seberang sana. Sudah tidak ada lagi Fei Yi yang menantinya. Bai Jia mematung, syok. Dia sudah terlambat. Dua dunia telah terpisah. Mata Bai Jia memanas. Dadanya terasa begitu sesak. “Raja!”Panggilan itu menyadarkan Bai Jia dari lamunannya. Bao Yu mencengkeram kuat lengannya, dia terlihat begitu kesakitan.Fokus Bai Jia dipaksa untuk kembali tertuju pada Bao Yu. Dia panik, bingung, tidak ada siapapun di sana yang bisa membantunya.Satu-satunya hal yang bisa Bai Jia pikirkan saat ini ialah Pagoda Sembilan Naga. Dia mengangkat Bao Yun dan membawanya dalam gendongan menuju Wuxia, menuju Pagoda Sembilan Naga.“Bertahanlah!” ucapnya singkat pada Bao Yu.Bai Jia meras
Walau kehadirannya dulu sempat mendapat penolakan dari banyak orang, setelah berhasil menyelamatkan dunia persilatan khususnya Wuxia dari ancaman iblis Houcun, kini Bai Jia telah sepenuhnya diterima oleh banyak pendekar dan juga rakyat Wuxia.Ketika Wei Qi mengumumkan Bai Jia sebagai calon pemilik tahta kaisar Wuxia, banyak orang langsung menyetujuinya. Pihak pangerang Ruong maupun putri Bao Yu pun tidak ada yang menolaknya secara terang, walaupun memang ada beberapa pribadi yang kurang setuju. Selain karena Bai Jia adalah pemilik pedang surga, sebelum ini dia juga merupakan pemimpin dari sebuah bangsa yang besar. Jadi, mereka yakin Bai Jia lebih dari sekedar mampu memimpin Wuxia. Berdasar pada hal itulah akhirnya diputuskan bahwa Bai Jia adalah orang yang akan menjadi kaisar menggantikan Mo Cheng.Beberapa saat sebelum pengukuhan dirinya sebagai raja, Bai Jia berdiam di tepi kolam istana kaisar. Dia menatap kosong permukaan air yang memantulkan
Setelah Bai Jia menjadi raja, dia mengatur Wuxia sedemikian rupa untuk meminimalisir terjadinya perdebatan dan pertumpahan darah di masa depan. Dia mematenkan beberapa undang-undang kerajaan yang mengatur beberapa hal, seperti salah satunya mengenai pendidikan para pangeran dan putri, serta siapa saja yang berhak tinggal di istana utama. Menurut Bai Jia, Wuxia bisa kuat jika dari dalam istananya memiliki ketahanan yang kuat. Dulu, Wuxia bisa begitu kuat di tangan Mo Cheng karena kaisar Mo yang dapat menata keluarga kerajaan dengan baik. Hal itu membuat internal istana yang menjadi pondasi kekaisaran menjadi tidak tersentuh. Tekni yang sangat bagus dan akan sia-sia jika tidak Bai Jia patenkan. Selain mengatur keluarga kerajaan, Bai Jia juga sebisa mungkin membuat aturan yang dapat menjaga putra mahkota dari doktrin-doktrin jahat dari luar. Pada masanya, salah satu cara yang Bai Jia lakukan adalah dengan membatasi interaksi putra mahkota dengan keluarga ibunya, Bao Yu. Seg
Walau ditinggal oleh Bai Jia, nyatanya darah keluarga Xing tetap menjadi penguasa Diyu dan masih bertahan hingga ratusan tahun kemudian. Hanya saja, roda kehidupan yang berputar akan tetap membawanya pada kejadian yang seolah mengulang masa lalu. Setelah ratusan tahun berlalu, Diyu kembali dihadapkan pada konflik keluarga kerajaannya. Diyu yang saat ini dipimpin oleh seorang raja bernama Xing Gou Yu tengah berusaha menghabisi keluarga kakaknya, Xing Gou Feng. Sebelumnya, Gou Feng yang merupakan mantan putra mahkota Diyu, dia berhasil disingkirkan dari istana dengan cara difitnah hingga akhirnya diasingkan ke selatan. Jauh dari basis utama Diyu, yakni utara dan barat yang sepenuhnya dikuasai keluarga kerajaan. Pada awalnya Gou Yu berpikir dengan menyingkirkan kakaknya ke pengasingan sudah lebih dari cukup. Namun, rupanyanya dia salah karena ternyata di tempat pengasingan Gou Feng diam-diam membangun basisnya sendiri. Merasa terancam, Gou Yu pun berusaha menghabisi semua keluarga
Mini Story—Generasi BaruRatusan tahun setelah ditinggal Bai Jia, banyak sudah hal yang terjadi di dunia timur. Kehidupan yang terus berjalan, manusia yang silih berganti, dan zaman yang terus digeser oleh zaman baru. Keadaan tersebut lambat laun telah menenggelamkan nama Wuxia.Di dunia yang sudah sangat modern ini, sudah tidak banyak lagi dinasti berdiri. Sudah tidak banyak lagi orang yang memanggil pemimpin mereka dengan sebutan raja atau kaisar. Mereka lebih sering memanggil pemimpin mereka dengan sebutan presiden.Masa kejayaan Wuxia kini hanya menjadi sejarah yang disampaikan di sekolah-sekolah dan juga museum. Mengenai para pendekar dan anak keturunan para bangsawan, hal seperti itu sudah tidak ada dan bukan lagi menjadi sesuatu yang penting. Manusia di zaman modern hanyalah orang biasa, yang ketika tidak memiliki harta, jabatan, karya, atau nama yang tenar, mereka bukanlah apa-apa.“Berhenti kau di sana, Huang Li Jun!”“
“Kau! ... siapa?”“Apanya? tanya yang benar!” perintah Li Jun ‘nyolot’.Wen Lai berdecak kesal. “Namamu siapa?” tanyanya lagi sambil menahan emosi.“Maafnya, mana?”“Ha?”“Maaf, kau belum meminta maaf padaku karena sudah menuduhku sebagai pencuri. Jadi, sebelum bertanya namaku, minta maaf lebih dulu!”Kepala Wen Lai pusing, dia tidak begitu memahami bahasa Li Jun. Namun, satu poin yang bisa dia tangkap ialah Li Jun ingin dirinya minta maaf.“Ah, baiklah, aku paham.” Wen Lai menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum akhirnya mengucap, “Maaf! ... maaf sudah menuduhmu sebagai pencuri! “Aku tidak tahu ternyata cincinmu sangat mirip dengan cincinku,”—Wen Lai menunjukkan cincin giok miliknya pada Li Jun—“dan tadi, kulihat cincinmu meresponku, jadi aku semakin yakin kalau itu cincinku.”Li Jun mengamati cincin giok hijau milik Wen Lai dan kemudian membandingkannya dengan miliknya. Setela
Li Jun dan Wen Lai menghabiskan waktu mereka sehari ini di taman dekat waduk. Mereka mencari cara agar portal kedua dunia terbuka dan Wen Lai bisa kembali ke Diyu. Mulai dari sengaja menenggelamkan diri hingga mencoba yang lebih ekstrim dengan mengulang adegan saat Wen Lai dikejar pembunuh. Hanya saja, bedanya kali ini bukan pembunuh bayaran yang mengejar, melainkan anjing liar.“Apa kita harus mencoba menggunakan pembunuh sungguhan?” tanya Li Jun.“Diamlah!” perintah Wen Lai tegas. Dia masih kesal perkara dikejar anjing. “Sebaiknya kau berhenti memberiku ide-ide gila, Li Jun!”Li Jun memanyunkan bibirnya. “Aku, ‘kan, hanya ingin membantu.”“Diam!” perintah Wen Lai lagi.Kini Li Jun benar-benar tidak lagi bersuara. Pada akhirnya, mereka berdua hanya duduk-duduk diam di rerumputan sembari menatap langit sore. Wen Lai baru pertama kali melihat warna langit seindah itu. Selama ini di Diyu hanya ada tiga warn
Wen Lai melihat ke samping dan mendapati Li Jun sudah tertidur. Setelah menggerakkan tangannya di depan wajah Li Jun beberapa kali, Wen Lai akhirnya bangkit dan berjalan keluar kamar. Dia berjalan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara berisik yang bisa membangunkan Li Jun. Namun, hal itu percuma karena di langkah pertamanya menjauh dari kasur, pemuda itu sebenarnya sudah terbangun dari tidurnya. Wen Lai kini sudah berada di luar kamar dan sudah pula menutup pintu kaca kamar Li Jun. Bersamaan dengan itu, sang pemilik kamar pun membuka mata. Li Jun penasaran dengan gerak-gerik Wen Lai yang mengendap-endap. Dia bangkit dan mengintip dari balik pintu. Dia hanya ingin memastikan bahwa Wen Lai tidak sedang merencanakan sesuatu yang jahat. Li Jun memperhatikan Wen Lai yang saat ini duduk bersila di atas dipan dan mulai berkonsentrasi. Tidak lama kemudian, terlihat Wen Lai mengulurkan tangan dengan telapaknya yang diarahkan k