Sementara di tempat lain, dua bodyguardnya Daffa sudah menemukan rumah Alma, ia diberitahu oleh warga Sukabungah yang hendak melayat ke sebuah rumah warga. Namun betapa terkejutnya, mereka bahwa rumah yang akan dilayat nya adalah rumah Alma. Sontak saja mereka segera menghubungi bosnya dengan cepat.
Sementara Alma dan daffa setelah selesai makan siang, mereka menuju pusat perbelanjaan yang jaraknya tidak jauh dari area hotel Amaris. Mereka berdua masih dengan candaannya dan bahkan senyuman manis masih tersungging dalam bibir Alma. Bagaimana tidak, Daffa membelikan beberapa barang-barang yang begitu mahal dan bermerk, bahkan tanpa Alma minta pun Daffa membelikannya. Hal ini menjadi kesenangan bagi naluri wanita, jika sesuatu yang diinginkan ternyata dikabulkan oleh orang yang disayanginya.
"Ya ampun! Si Bos lagi ngapain sih! Di telepon gak diangkat-angkat!" gerutu Farhan sembari menggenggam ponselnya.
"Masih
Daffa benar-benar merasa bersalah, tidak seharusnya ia mengajak Alma menikah. Tapi apa mau dikata, ia sudah terlanjur cinta dan tidak mau melepaskan Alma yang sudah ada di dalam genggamannya."Pokoknya, aku tidak mau dalam pernikahanku ada kebohongan, yang akan membuat rumah tanggaku hancur. Kalau begitu, dari sekarang aku mesti jujur pada Alma, kalau aku masih ada ikatan pernikahan dengan perempuan lain. Aku pasti bisa!" kata Daffa dalam hatinya."Ya benar kata Bapak! Lebih cepat lebih baik, tapi saya masih menghargai kalian yang sedang berduka, jadi ... mungkin setelah selesai 40 harinya mendiang ibu Alma, saya bisa menikahi Alma, Pak," tutur Daffa dengan tegas."Nah kan! Apa bapak bilang, Nak Daffa pasti akan menikahi kamu, Nak!" ujar Pak Santoso sembari melirik ke arah Alma.Alma pun hanya bisa tersenyum manis, dan meras bahagia, walaupun rasa sedih masih menyelimuti hatinya, tapi hatinya tidak bi
BrakkSeketika itu pula, keduanya merasa kaget dan gelagapan. Daffa langsung tersungkur ke bawah ranjang saking begitu kagetnya. Sementara, Alma hampir saja ikut terjatuh."Adam!" teriak Daffa dan Alma dengan serempak."Ya elah Kakak! Ngapain kalian berduaan di kamar, kalian belummahramnya. Aku bilangin sama bapak loh!" kata Adam menyunggingkan bibirnya."Jangan dong, jadi adik gitu amat sih!" kata Alma kesal."Ya udah sana keluar! Ngapain coba malah diam di sini! Mau aku bilang ke bapak ya?" kata Adam menyeringai."Iya-iya aku keluar!
Bab 24. Kecupan ManisNyonya Cristin mengerutkan keningnya, ia heran, mengapa suaminya bisa berkata seperti itu, sedangkan untuk ganti istri saja mana mungkin bisa terlaksana jika pihak dari istri tidak mau dipisahkan."Memangnya Karin setuju kalau Daffa akan ganti istri?Feelingmama sih gak bakalan mau. Jangankan diganti istri, dimadu saja, dia gak bakalan rela!" kata Nyonya Cristin sembari mengambil cangkir yang berisikan teh hijau yang hangat."Ya, kalau tidak begitu, kapan kita punya cucunya? Jadi siap tidak siap, dia harus berkorban dong," kata Tuan Dimas dengan santainya."Iya juga sih, tapi mama tidak akan mendukung, kalau anak kita menyakiti perempuan, Pa. Biar bagaimana pun, mama juga seorang perempuan. Jadi sama lah perasaan perempuan kalau suaminya berpaling ke lain hati itu bagaimana! Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik saja buat Daffa dan kelu
Seseorang terus saja mengetuk pintu karena ia yakin Alma sudah ada di dalam kos-annya. Apalagi ditambah adanya mobil mewah yang terparkir tepat di depan kamar kos-annya, membuat orang itu semakin penasaran. Orang itu yang tak lain adalah Ririn, tetangganya sendiri.Dan ketika itu pula mereka berdua langsung menghentikan aksinya. Mereka berdua sangat gelagapan. Bahkan menjadi gugup entah apa yang harus mereka lakukan disaat sedang panas-panasnya."Alma!" sahut Ririn lagi."Aduh, bagaimana ini, Daff?" bisik Alma dengan panik.Daffa yang masih diatas tubuhnya Alma, hanya bisa menatap sorot matanya tanpa berkedip sama sekali. Bagi Daffa, ketika Alma sedang panik, ia terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Sehingga, ia enggan untuk beranjak dari posisinya yang sudah terlanjur diatas tubuhnya Alma."Sebentar, Sayang. Aksi kita belum tuntas," bisik Daffa ke telinga Alma."A-ap
"Bagus lah kalau begitu, jadi dia pengertian sama kamu. Kamu harus bersyukur karena dia tidak seperti mantan aku, pelitnya mengalahkan Nyi Endit, makanya aku minta putus," kata Ririn dengan santainya."Apa! Kamu sudah putus lagi?" kata Alma tercengang."Iya, kenapa? Ada masalah kah?""Tidak, cuma terkejut saja, soalnya baru kemarin pacaran, masa sudah putus lagi?" celetuk Alma."Biarin, soalnya dia pelit!""Masa karena hal itu kamu ngajak putus sih, Rin?" Alma semakin kaget mendengar ucapan dari Ririn."Sudah lah, tidak perlu dibahas. Malas aku kalau mendengar tentang dia. Oia Al, sering-sering lah minta belanja lagi seperti ini. Aku yakin, dia gak bakalan nolak, percaya deh sama aku!" celetuk Ririn yang terlihat sangat gembira karena dapat oleh-oleh dari Alma."Ish, buat apa? Memangnya aku ini cewek matre! Ini bukan tipe aku banget. Kalau diberi ya syuk
Daffa benar-benar penasaran siapa orang yang telah memberi tahu soal dirinya yang sedang berusaha mendekati perempuan. Ia bahkan tidak ingat kepada kedua bodyguardnya, yang selalu setia membantu dirinya."Ya ampun, Pa. Siapa sih orangnya bikin penasaran aja. Oh, jangan-jangan teman papa ya yang memberi tahunya kalau aku sedang bersama—"Seperti biasa, belum juga Daffa selesai bicara, Tuan Dimas langsung menyelangnya lagi, "Daribodyguardkamu lah! Sebelum kamu datang, mereka sudah datang terlebih dahulu, dan papa langsung mengintrogasi mereka.""Ya ampun! Ternyata mereka! Aku hampir saja lupa sama keduabodyguard kuitu,"ucap Daffa dalam hatinya."Dan apa kamu tahu? Papa dan Mamamu sudah membuat istrimu marah, dan itu sebelumbodyguardkamu memberitahuku, kalau ternyata kamu memang benar-benar
Sebagian para pekerja sedang sibuk membersihkan dan menata taman yang ada di depan rumah Daffa. Namun, begitu kagetnya mereka ketika melihat seseorang terjatuh dari atas balkon. Dan ternyata orang yang terjatuh itu adalah Karin. Mereka pun langsung menghampiri Karin yang sudah tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah yang terus mengalir tiada henti dari kepalanya."Ya ampun Nona Karin!" teriak salah satu pekerja yang ada di rumah Daffa.Mereka sangat terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memberi tahu majikannya, kalau Karin telah terjatuh dari atas balkon. Dan ketika itu pula Nyonya Cristin dan Tuan Dimas datang menghampirinya."Ya Tuhan! Karin! Kenapa ini bisa terjadi?" kata Nyonya Cristin. Matanya sudah berkaca-kaca karena melihat sang menantu sudah tidak sadarkan diri."Daffa! Karin, Daff!" teriak Nyonya Cristin memanggil anaknya.l Dan tidak lama kemudian, Daffa pun berlari untuk menghamp
Tidak lama kemudian, dokter yang menangani Karin segera menemui Daffa dan kedua orang tuanya yang masih setia menunggu hasil pemeriksaan dari dokter. Dan apa yang telah dokter katakan, sunguh sangat mencengangkan bagi Daffa dan kedua orangtuanya.Bagaimana tidak, apa yang telah dikatakan oleh dokter itu, membuat semua orang yang mendengarnya sangat syok. Sebab, dokter itu mengatakan bahwa, Karin mengalami patah di ruas-ruas tulang belakangnya dan hampir saja retak.Dan hal ini mengakibatkan kelumpuhan di seluruh anggota gerak lengan dan tungkai. Ditambah lagi, Karin hampir saja kehabisan darah. Namun, tim dokter telah menanganinya dengan baik. Sehingga kemungkinan Karin masih bisa hidup meskipun kondisinya sangat memprihatinkan. Karin pun segera di bawa ke ruang ICU untuk membutuhkan perawatan dan pengamatan secara intensif."Ya Tuhan, kenapa hal ini harus terjadi?" lirih Nyonya Cristin sembari matanya berkaca-kaca mena
Hari demi hari telah mereka lalui bersama dengan penuh suka cita. Apa lagi semakin hari, kehadiran Alma di keluarganya Daffa, semakin disukai banyak orang. Bahkan suasananya pun menjadi hangat dan damai. Sebelum acara syukuran tiba, Alma ingin meminta izin kepada Daffa untuk menemui Ririn, teman kosannya dulu. Teman yang selama ini sudah ia lupakan karena kelicikannya. Akan tetapi, Alma masih punya hati untuk menemuinya karena biar bagaimanapun juga, Ririn adalah sahabatnya yang pernah membantunya ketika dirinya sedang kesusahan. "Mas, hari ini kamu ada waktu tidak?" kata Alma manja. "Mas? Tumben, apa aku tidak salah dengar?" kata Daffa sembari duduk di dekatnya Alma. "Tidak, aku sengaja ingin memanggil kamu Mas, mungkin karena bawaan bayi kali," kata Alma dengan santainya. "Hem, begitu ya. Terus kamu nanyain waktu sama aku, untuk apa? Kamu mau kemana? Bukannya ke dokte
Semenjak Ririn disangka perebut suami orang oleh orang-orang disekitarnya, kini beritanya sudah tersebar luas sejagat maya. Hari-hari yang Ririn lalui begitu menjadi tidak berarti. Dan akibatnya, ia juga di usir oleh ibu kos yang dulu pernah mengusir Alma dari kos-kosannya. Bahkan, ibu kos itu sangat menyesal telah mengusir Alma tanpa tahu kebenarannya. Kini, Ririn hidup menjadi wanita yang tertutup dan pensiun dari kehidupan matrealistisnya. Ia bahkan mencari tempat yang jauh lebih sepi dari tempat sebelumnya. Mantan-mantan pacarnya pun hanya bisa tertawa sinis, melihat kabar dirinya dari media sosial dan sudah tidak sudi lagi berhubungan dengan Ririn, walaupun itu hanya sebatas teman. Dan kini Ririn memilih hidup menyendiri dari orang-orang yang sudah mengenalnya. Akan tetapi, meskipun Ririn sudah pindah ke tempat yang sepi dan jauh dari kata ramai, tetap saja Kania bisa menemukannya. Ia masih saja mendendam kepada Ririn
"A-apa? Istri?" kata Nyonya Cristin kaget."Jadi ini menantu baru kita?" tambah Tuan Dimas tersenyum lebar."Iya Ma, Pa, mulai sekarang dan selamanya, dia yang akan menjadi pendamping hidup aku," kata Daffa sembari melirik ke arah Alma dan tersenyum manis."Ya ampun! Ini benar-benar kejutan yang tidak terduga, ayo kita duduk dulu," ajak Nyonya Cristin yang masih belum percaya, jika anaknya sudah menikah lagi.Mereka pun duduk di ruang tamu dengan berbagai hiasan yang menarik. Dan disertai dengan desain yang membuat para tamu menjadi semakin nyaman. Tuan Dimas dan Nyonya Cristin saling menatap Alma yang terlihat menunduk dengan sopan. Kebetulan Nyonya Cristin duduk bersampingan dengan Alma sehingga wanita paruh baya itu bisa melihat jelas kecantikan Alma yang sederhana namun elegan."Ya ampun kamu cantik sekali, siapa namanya?" tanya Nyonya Cristin sembari tersenyum bahagia.
Kriing kring kringSuara ponsel milik Nyonya Cristin berdering, setelah melihat ponselnya, ternyata yang menelepon adalah anak semata wayangnya. Betapa bahagianya Nyonya Cristin saat itu, ia pun langsung mengangkatnya dengan begitu sumringah.Beberapa menit setelah Daffa meneleponnya, hati Nyonya Cristin semakin berbunga-bunga, karena anaknya memberitahukan jika masalahnya dengan Karin telah berakhir.Kini, ia berjanji akan membawa sebuah kejutan untuk dirinya. Entah apa yang akan diberikan Daffa, yang pasti hari ini Nyonya Cristin begitu gembira sekali."Pa!" teriak Nyonya Cristin sembari menghampiri suaminya di teras rumah."Ada apa? Kok kelihatannya senang begitu?" kata Tuan Dimas dengan santainya."Tentu saja Pa! Aku sangat senang sekali, soalnya anak kita mau pulang sekarang, dan apa kamu tahu? Dia akan membawa sebuah kejutan loh!" ucap Nyonya Cristin sumringah.
"A - apa! Menemui orang tuamu!" jawab Alma kaget. "Iya Sayang, meskipun kamu tidak mau, tetap saja kamu pasti akan menemui mereka dikemudian hari. Jadi apa bedanya bertemu sekarang sama bertemu nanti? Toh sama saja bukan?" kata Daffa dengan santainya "I - iya sih! Tapi aku belum siap karena istrimu—" Belum juga selesai bicara, Alma sudah diselang oleh Daffa, "Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, kamu kan istri sahnya aku, dia udah aku ceraikan, udah kutalak tiga malah, jadi stop! Jangan bilang dia masih istriku, karena istriku yang sekarang sudah ada di depan mataku." "Tapi, tetap saja ini salah, Daff! Harusnya kamu sebelum menikahiku, urusan antara kamu dengan istrimu itu harusnya sudah beres. Biar aku tidak minder, karena aku merasa posisiku ini terkesan seperti per
Setelah beberapa bulan lamanya menjalani kehidupan baru menjadi Nyonya Di apartemennya Daffa, kehidupan Alma berubah drastis. Ia menjadi seorang istri yangmatre. Akan tetapi, meskipun Alma menjadi seorang istri yangmatre, ia tidak pernah absen untuk mengirim bantuan kepada anak yatim, para jompo, dan orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuannya. Hal ini lah yang membuat Daffa semakin menyukainya karena berbeda dengan perempuan mana pun. Jalinan asmara mereka berdua pun semakin lengket. Sampai-sampai suami-istri ini tambah begitu mesra bagaikan seluruh dunianya serasa milik berdua. Di sisi lain, perkataannya Ririn yang dulu terus saja terngiang di telinganya Alma, bahwa, agar dirinya menjadi wanita yang matre. Walaupun keduanya sudah renggang dan belum pernah bertemu lagi, tapi kata-kata itu sudah menempel dalam benaknya Alma. Setiap melakukan senggama, ia pasti meminta D
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, di mana Alma dan Daffa sedang membereskan segala peralatan yang ada di dapur. Maklum, apartemen itu jarang di tempati, sehingga barang-barang yang ada di sekitar dapur terlihat kotor dan berdebu. Bahkan, rencananya mereka akan bersih-bersih ke setiap ruangan agar suasananya kembali bersih lagi.Ketika sedang sibuk-sibuknya bersih-bersih, tiba-tiba saja kedua orangbodyguardnya Daffa datang mengetuk pintu. Alma yang mengetahui hal itu, menjadi ketakutan karena takut jika ada salah seorang keluarga dari Daffa maupun Karin datang ke apartemen itu. Dan sudah pasti urusannya akan semakin besar."Daff, aku harus sembunyi di mana ini?" tanya Alma panik."Tenang dulu, jangan panik, aku akan melihatnya," kata Daffa sembari melangkah menuju ke arah pintu."Ah, tetap saja aku takut. Aku ke kamar saja lah," kata Alma sembari berlari k
Alma pun tercengang atas perkataan dari Daffa yang ingin menikahinya. Ia pun membalikkan tubuhnya, sehingga mereka berdua saling bertatapan satu sama lainnya. "Apa kamu serius?" tanya Alma dengan sungguh-sungguh. "Kenapa tidak?" kata Daffa dengan singkat. "Besok aku akan mengurus semuanya. Kamu tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang harus aku lakukan nanti." "Kenapa rasanya senang sekali saat dia mengajakku untuk menikah, padahal semua ini sangat salah. Ya benar, ini salah. Aku mana mungkin tega menghancurkan rumah tangga orang, Daff. Tapi aku tidak mungkir, karena aku juga ingin memiliki dirimu, Daff," kata Alma dalam hatinya. "Kenapa kamu diam terus? Apa perasaanmu saat ini masih tidak menentu?" tanya Daffa sembari membelai rambutnya dengan lembut. Alma pun hanya menundukkan kepalanya, perasaannya sudah tidak sinkron lagi, dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hatin
Daffa sungguh tidak menyangka jika Alma masih dalam pengaruh obat perangsang itu. Entah apa yang harus ia lakukan, karena selama ini ia tidak pernah melakukan hubungan intim dengan menggunakan obat perangsang, walaupun itu dengan istrinya sendiri."Bantu aku, Daff. Ini benar-benar membuat aku tersiksa," lirih Alma."Oke-oke, kamu tenang saja, aku akan panggilkan dokter pribadiku ke sini," kata Daffa yang terlihat seperti cemas dan panik. Ia pun segera mengambil ponselnya di atas meja, untuk menghubungi temannya yang berprofesi sebagai dokter. Akan tetapi, Alma malah melarangnya dengan cepat."Daff, tunggu! Kemarilah!" teriak Alma dengan keras.Daffa pun menoleh ke arah belakang dan berkata, "Kenapa? Apa ada sesuatu?""Kemarilah, aku ingin bicara dulu sama kamu," kata Alma dengan manjanya.Tanpa berpikir panjang lagi, Daffa pun segera menghampiri Alma lagi. "Kenapa? Aku mau menel