Lea yang sempat terpuruk selama beberapa hari, setelah tahu fakta tentang kecelakaan yang menyebabkan dia buta dan sang ayah meninggal, kini mulai pulih.Perempuan itu hanya cuti dua hari, selebihnya Lea memaksakan diri bekerja. Katanya, pikirannya harus dialihkan, jika tidak dia hanya akan melulu memikirkan hari itu.Kemarin Zio sempat membawa Lea mengunjungi makan ayah dan ibunya yang jaraknya lumayan jauh. Dalam kesempatan itu, Zio memberi usul bagaimana jika makam dua orang tua disatukan, agar lebih mudah dikunjungi. Lea setuju saja dengan ide Zio, toh dia punya uang untuk melakukan hal itu.Selain ke makam orang tuanya, Lea juga diajak berkunjung ke makam ayah mertuanya sekaligus kuburan Nika.Hari ini pikiran Lea terasa lebih tenang. Dia sudah kembali bisa mengurusi Arch yang katanya beberapa hari manyun sebab yang meng-handlenya Zico.Bocah itu protes, "Kenapa harus si Om sih yang ngurusin aku!"Dan Zico dengan tengil menjawab, "Laki harus sama laki. Emang kamu mau biji melinj
Lea urung pergi kerja hari itu, dia memilih work from home setelah Irene mengirimkan semua file dari klien yang harus dia handle. Wanita itu mulai melakukan pembicaraan awal dengan klien, sebelum mereka memutuskan untuk bertatap muka. Saat sebagian klien sudah sepakat membuat janji temu dengannya. Pikiran Lea mulai dibayangi adegan Dani yang rela berlutut untuk memohon maaf demi anak dan menantunya. Pria itu baik, berhati lembut. Sejak dulu memang begitu. Hanya saja dia selalu kalah dengan dominasi Dita. Terus terang, Lea tak bisa mengabaikan permintaan Dani. Ayah Rian bahkan berujar dia rela melakukan apapun untuk menebus kesalahan Rian. Apapun. Helaan napas terdengar dari arah Lea. Awalnya dia kekeuh ingin mempertahankan watak antagonis yang tengah ia dalami, tapi ternyata sisi baik hatinya meronta tidak terima. "Pikirkan apa yang telah orang tua itu lakukan saat semua orang menyakitimu. Dia diam-diam datang padamu, menggenggam erat tanganmu seraya berucap, "Kamu harus kuat
Lea hanya tersenyum melihat Rina mengancamnya dengan sebilah pisau berada di lehernya. Dipandangnya paras Rina yang memerah menahan amarah. "Bunuh saja aku. Aku tidak takut mati!" Lea justru menantang Rina yang langsung menggertakkan gigi. "Kau pikir aku tidak berani melukai atau bahkan membunuhmu?" Rina kian kuat mencekal Lea, membuat ruang gerak istri Zio makin sulit. "Kalau kau siap dengan konsekuensinya," cibir Lea. Sikapnya sangat tenang menghadapi emosi Rina yang meluap-luap. Lea memejamkan mata tak berdaya ketika dinginnya ujung pisau tajam tersebut menekan kulitnya makin dalam. Rina benar-benar bisa melewati ambang kesabaran. "Dengar Nyonya Alkanders yang terhormat. Aku tidak takut masuk penjara. Aku akan sangat puas jika aku bisa dibui karena melenyapkanmu." "Dendammu besar sekali padaku. Padahal harusnya aku yang benci kau setengah mati." "Diam!" Lea meringis, saat perih menyayat lehernya bersamaan dengan teriakan dari arah belakang Rina, disusul kelegaan menyapa Lea.
Agra tersentak ketika Vika mengatakan akan masuk ruang sidang. Pria itu baru menghubungi Ryu bertanya pasal Raisa yang tiba-tiba mengirim yang menurut Agra aneh. "Dua tahun, tidak akan pulang. Tidak mau dijenguk. Dia lagi mau hibernasi atau apa?" Gumam Agra seraya ikut berjalan masuk ke ruang sidang. Ryu sendiri mengatakan kalau Raisa ingin cepat lulus, jadi dia memadatkan program kuliahnya. Masuk akal sih. Tapi sampai tidak mau dijenguk. Agra merasa sang adik sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Dia tidak punya rahasia apapun, aku jamin itu. Bahkan kalau dia punya pacar aku pasti tahu. Tenang saja, Raisa aman selama berada di sini." Pesan balasan dari Ryu membuat Agra menarik napasnya dalam. Urusan Raisa sangat komplek, gadis itu masih belia, emosinya masih labil. Raisa perlu bimbingan dan dampingan dari sosok yang sangat bisa diandalkan. Andai bukan Ryu yang berada di sana, mungkin Agra tidak akan percaya. Hal yang berhubungan dengan Raisa sontak pudar dari kepala Agra, kal
"Dia pasti sengaja melakukannya. Dia mau cari simpati, cari dukungan. Dia mau semua orang menganggap dia itu seperti dewi, baik hati, lemah lembut.""Padahal aslinya manipulatif, tukang tipu. Dia bisa nipu banyak orang tapi tidak denganku. Aku tahu topeng dia yang sebenarnya."Dani memejamkan mata tanpa daya mendengar Rina dan Dita sejak tadi bersahutan memaki Lea. Bukannya bersyukur karena Lea sudi memberikan pengampunan pada Rian dan Vika.Dua orang itu ditambah Vika sejak sidang usai justru sibuk mengumpat istri Zio. "Kalian ini bukannya berterima kasih malah menjelek-jelekkan orang yang sudah menolong Rian dan Vika," Dani menengahi."Sebab dia tidak tulus dengaan sikapnya. Pasti ada udang dibalik batu, ada maksud tertentu," timpal Dita tidak terima disalahkan atas sikapnya.Dani menghela napas kasar. Akan susah meyakinkan orang yang sejak awal sudah tidak menyukai seseorang. Mau ditunjukkan bagaimana baiknya orang itu, mereka tetap tidak akan percaya.Negatif thinking saja yang a
Kehidupan kembali damai setelah Lea mampu mengatasi kebenciannya pada Rian dan Vika. Wanita itu juga secara nyata menuruti saran Zio untuk mengabaikan Dita dan Rina yang terang-terangan tidak menyukainya.Kata Zio, dua perempuan itu tidak akan mempengaruhi kehidupan Lea. Tidak ada gunanya eksistensi Dita dan Rina dalam perjalanan hidup Lea. Jadi abaikan saja.Lea sendiri sudah bertekad tidak akan berurusan lagi dengan keluarga Mahendra, kecuali Dani, mungkin. Mengingat lelaki paruh baya itu seringkali tak sengaja bertemu Lea.Istri Zio juga tak pernah ingin tahu bagaimana Rian dan Vika waktu di penjara. Bukan hal krusial.Yang paling penting adalah menjalani hidup ke depannya. Seperti yang selalu Lea katakan, dia bukan orang baik, hanya berusaha jadi lebih baik "Selamat pa ...."Ucapan selamat pagi Inez menggantung, tak terselesaikan, ketika dia melihat Zico gegas beranjak waktu melihatnya. Entah itu hanya perasaan Inez sendiri atau memang faktanya demikian, perempuan itu merasa putr
"Gak bisa lepas!""Coba putar, pasti lebih enak lepasnya."Suara itu membuat Lea mengerutkan dahi. Apa itu yang gak bisa lepas, terus diputar biar lebih enak. Otak dewasanya justru membayangkan part dua satu plus. Padahal pemilik dua suara itu masih di bawah dua satu."Malah makin kenceng, Co.""Kenceng gimana? Makin tegang gak sih?"Ha? Lea sempat mengetuk pintu tapi itu cuma formalitas, jemarinya sengaja tak diketukkan keras, hingga bunyi yang dihasilkan lemah.Sementara di dalam ruangan, ada Angel yang berlutut di antara dua kaki Zico yang terbuka. Wajah gadis itu menunduk. Cocok dengan apa yang Lea bayangkan saat perempuan itu membuka pintu tiba-tiba."Apa yang kalian lakukan?" Tanya Lea yang mendadak muncul.Zico dan Angel kompak mendongak, setelahnya suara dug, gubrak dan bruk terdengar beruntun. Hingga dua remaja beranjak dewasa itu berakhir saling tindih di lantai karpet ruangan Zico.Lea jelas melotot melihat adegan di depannya. Mana Angel jatuh pas di atas anunya Zico yang l
Dua brankar didorong masuk dengan cepat ke sebuah instalasi gawat darurat rumah sakit terdekat. Tubuh dua pasien tidak bergerak dengan darah membasahi bed tempat mereka dibaringkan.Di belakang brankar ada Arch, Sari dan Angel yang mengekor dengan wajah panik luar biasa. Serta air mata berlinang di wajah masing-masing.Ketiganya berhenti tepat di depan pintu ketika seorang perawat mencegah mereka ikut masuk."Mbak Sari, Mama ... Om Zico." Tangis Arch kembali tumpah. Kali ini dengan ledakan yang lebih kuat Sari sampai kewalahan membujuknya. Dia tidak bisa tenang waktu membujuk Arch. Bagaimana Sari bisa tenang waktu melihat dua majikannya dalam keadaan mengerikan seperti tadi."Mbak Angel tolong hubungi Tuan Alkanders. Cari saja kontaknya dengan nama itu."Angel ragu waktu menerima ponsel yang Sari ulurkan. Berhadapan dengan Zio membuat Angel gemetar duluan. Namun saat ini, mereka tidak punya pilihan. Zio harus tahu.Maka setengah jam kemudian, suasana yang sudah mencekam tambah parah.
"Diem lu biji melinjo! Anak gue itu!" Hardik Zico."Bodo amat! Livi mana! Tante! Livi mana?!" Balas Arch tak takut oleh bentakan sang om."Lihat Kak Celio."Jawab Raisa setelah Arch mencium tangan Raisa juga mencium pipi wanita yang memang sudah Arch kenal dari dulu.Bocah itu melesat mencari Livi. Dengan Raisa lekas memeluk Lea yang balik mendekapnya."Terima kasih sudah bertahan sendirian selama ini. Kenapa tidak hubungi Kakak?"Raisa terisak lirih. Dia tahu mengarah ke mana pembicaraan Lea."Takut, Kak. Waktu itu kakak dan kak Zio masih musuhan. Kalau aku kasih tahu, mereka bisa war lebih parah.""Keadaannya akan berbeda, Sa. Mereka musuhan tapi tidak bisa mengabaikan keadaanmu. Lihat sekarang, mereka bisa akur. Agra malah yang kasih tahu banyak soal kesukaanmu."Raisa menerima detail konsep akadnya."Kak, serius ini?""Serius. Dia yang minta. Dan kakakmu setuju. Akan lebih baik jika begitu. Dia sudah siapkan semuanya."Lea dan Raisa melihat ke arah Zico yang tangannya sibuk bermai
"Baru juga nyetak satu, sudah mau dipotong. Kejam amat kalian," balas Zico santai.Inez dan Anita saling pandang. "Ndak mempan, Ta.""Iya, ya," sahut Anita heran."Sudah gak mempan dramanya. Dah kenalin, ini calon istri, sama anakku."Zico menarik tangan Raisa yang tampak bingung. Inez dan Anita memindai tampilan Raisa. Dari atas ke bawah. Dari bawah balik lagi ke atas."Screening-nya sudah deh. Kalian nakutin dia. Zico jamin dia lolos sensor. Kan sudah ada buktinya."Raisa makin gugup melihat ekspresi dua perempuan yang dia tahu salah satunya mama Zico."Co, mereka gak suka aku ya?" Bisik Raisa panik."Suka kok. Mereka lagi main drama. Jadi mari kita ikutan."Raisa tidak mengerti dengan ucapan Zico. Tapi detik setelahnya dia dibuat menganga ketika Zico berlutut di hadapan Inez dan Anita."Heh? Ngapain kamu?" Inez bingung melihat kelakuan sang putra."Mau minta maaf. Zico tahu salah. Tapi Zico janji akan memperbaiki semua. Zico bakal tanggung jawab."Ucap Zico dengan wajah memelas pe
Agra tak habis pikir, Raisa bahkan membawa Livi ke pernikahan mereka. Tapi dia sama sekali tidak tahu. "Ini aku yang kebangetan atau dia yang terlalu pintar?" Agra bertanya ketika mereka sampai di apart Raisa. Sebuah tempat yang membuat dada Zio sesak. Bukan karena kurang mewah, atau kurang bagus. Namun di sini, dia bisa merasakan perjuangan seorang Raisa dalam merawat Livi.Dia kembali teringat bagaimana susahnya Lea hamil dan melahirkan. Beruntungnya Lea punya dirinya juga yang lain.Tapi Raisa, totally alone. Sendirian. Tidak terbayangkan bagaimana Raisa berlomba dengan waktu, kuliah, pekerjaan juga dirinya sendiri. Bisa tetap waras sampai sekarang saja sudah bagus."Biarkan dia makan sendiri." Suara galak Raisa terdengar ketika Zico coba menyuapi Livi."Dua-duanya. Kau bego dan adikmu terlampau smart," ceplos James yang sepertinya mulai akrab dengan Agra.Ingat, dua pria itu juga hampir adu tinju waktu itu."Sialan kau!" Agra menendang James, tapi pria itu berhasil menghindar."
Tujuh jam kemudian.Zio dengan didampingi James mendarat di bandara internasional Haneda. Mereka langsung menuju rumah sakit tempat Zico dirawat.Awalnya mereka kemari untuk mengurusi Zico, tapi siapa sangka yang mereka temui justru melebihi ekspektasi mereka.James sengaja ikut, sebab dia sudah diberi bisikan oleh Miguel. Mengenai garis besar persoalan Zico."Apa yang terjadi sebenarnya?" Itu yang Zio tanyakan begitu dia berhadapan dengan Agra."Duduk dulu. Kita bicara." Zio mengikuti permintaan Agra. Dua pria itu terlibat pembicaraan serius. Sangat serius sampai Zio memejamkan mata, coba menahan diri.Di tempat Raisa, perempuan itu hanya bisa diam, tertunduk tanpa berani melihat ke arah Zio. Sejak dulu, aura Zio sangat menakutkan bagi Raisa."Apa aku harus percaya begitu saja? Maaf bukan meragukanmu. Tapi Zico itu brengsek."Zio berujar sambil menatap Raisa."Soal Livi, apa kalian punya bukti otentik kalau dia anak Zico. Tes DNA contohnya." Agra bertanya pada sang adik."Zico punya
Setelah semalam merenung, menimang juga mempertimbangkan semua hal dari segala sisi. Pada akhirnya Agra memutuskan untuk menyerahkan permasalahan sang adik pada yang bersangkutan.Agra tidak ingin mendoktrin, apalagi memaksa Raisa soal apapun. Pun dengan Zico, Agra secara khusus minta bertemu. Dan Zico dengan segera menyanggupi.Dengan membawa Livi, Agra kembali dibuat yakin dengan keputusannya. Dia pasti Zico bisa lebih baik darinya. "Aku izinkan kau berjuang. Tapi dengan satu catatan. Jika dia menolak kau harus enyah dari hadapannya juga Livi."Zico menelan ludah. Ditolak Raisa dia bisa terima. Tapi berjauhan dengan Livi, Zico tidak akan sanggup. Tidak, setelah dia menjalani dua puluh empat jam full bersama sang putri. Zico tidak akan bisa berpisah dengan Livi. Tidak, sesudah dia menyadari betapa berharganya Livi baginya.Maka siang itu dengan harapan setinggi langit, Zico nekat melamar Raisa. Dia yakin lamarannya akan diterima."Sa, mari menikah."Suara Zio membuat Raisa kembali
"Apapa," sebut Livi dengan bibir bertekuk menahan tangis."Ndak apa-apa, Sayang. Apapa nakal jadi pantas dipukul. Tapi kamu gak boleh asal pukul orang."Livi melayangkan tatapan tajam penuh permusuhan pada Agra."He, bukan Om yang salah. Dia yang jahat."Livi menangis dengan tangan sibuk melempar apa saja yang ada di meja. Agra maju tidak terima dengan aksi sang ponakan. Sementara Zico dengan cepat mendekap Livi yang bibir mungilnya terus menyebut om jahat."Kau! Kau jangan mimpi bisa dapatin Raisa," ancam Agra."Agra, berhenti gak!" Pria itu kicep begitu sang istri bicara. Irene mendekati Raisa yang cuma duduk sambil memijat pelipisnya yang berdenyut. Dalam sekejap, Livi sudah jadi perisai hidup untuk ayahnya. Dipandangnya wajah Zico yang memar di beberapa tempat. Saat ini pria itu masih menenangkan Livi yang masih menebar aura permusuhan pada omnya."Ren ....""Jangan tanya, Mbak. Pusing aku." Irene mundur ketika Raisa angkat tanganAgra mendesah frustrasi. Pria itu berdiam diri d
"Apa kamu bilang? Zico ke Tokyo?" Lea mengutip ucapan Zio barusan."Lah kan aku sudah bilang kemarin. Abian kasih tahu kalau Zico ke Tokyo. Katanya kerjaannya berantakan, jadi mereka suruh Zico buat healing lagi."Zio berkata sambil mendekati Lea yang sedang menyusui Celio. Zio seketika jadi cemburu. Benda itu bertambah menggiurkan, tapi sekarang bukan lagi miliknya. Ada Celio yang memonopoli tempat favorit Zio."Dia ke Tokyo bukan healing tapi cari perkara. Lihat saja yang ada di sana. Bukannya Zico selalu sakit kepala kalau coba mengingat Raisa," Lea membetulkan posisi Celio supaya lebih nyaman."Kan beda kalau ketemu orangnya langsung. Boy, gantian napa. Dikit aja."Lea menepis tangan Zio yang selalu ingin mengganggu Celio. Bayi lelaki itu sudah bertambah montok dengan pipi seperti bakpao. Tingkahnya juga bikin satu rumah tertawa senang."Memangnya kau setuju kalau Zico dengan Raisa?""Enggak! Jauh-jauh dari yang namanya Agra," balas Zio cepat.Lea seketika memutar bola matanya je
Livi menangis dengan tubuh Raisa turut gemetar, melihat bagaimana Zico menggelepar menahan sakit di kepala. "Tolong, Dok. Sakit!" Teriak Zico berulang kali.Dia pegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Pria itu meringis, mendesis sementara tim medis sedang mencoba mengurangi kesakitan yang Zico rasa.Raisa susah payah berhasil membawa Zico ke klinik terdekat. Tubuh Zico yang tumbuh besar dan tinggi membuat Raisa kesulitan memapah. Ditambah dia sedang menggendong Livi yang sejak itu mulai menangis.Beruntungnya dia bertemu dua orang yang membantu Zico berjalan ke klinik. "Apapa!" Sebut Livi berulang kali. Balita tersebut tampak ketakutan, tapi juga menampilkan ekspresi sedih."Apa yang terjadi padanya?" Seorang dokter bertanya setelah Zico berhasil ditenangkan. Raisa melirik Zico yang mulai tenang, meski sesekali masih meringis kesakitan."Dia bilang pernah kecelakaan, lalu hilang ingatan. Tapi saya tidak tahu detail-nya.""Oke, kami paham. Kami akan memeriksanya lebih lanjut. Takut
Venue pernikahan sudah ramai orang. Agaknya prosesi pernikahan akan segera dimulai. Zico panik, dia tidak menemukan Raisa di mana pun. Mungkin perempuan itu sedang di touch up make up-nya. Tapi ruangannya di sebelah mana.Saat kecemasan Zico memuncak, dia mendengar musik pengiring pernikahan mengalun. Dia menerobos barisan tamu undangan untuk melihat lebih dekat. Raisa dan Livi muncul di pintu. Zico reflek berteriak, "Sa! Sa! Kamu gak boleh nikah sama dia!"Detik setelahnya Zico menarik Raisa pergi dari sana. Membawanya berlari setelah sempat menggendong Livi. Semua tamu melongo, melihat kejadian yang baru saja berlaku.Pun dengan Agra dan Irene. Dua orang itu jelas bingung ketika Zico mendadak muncul di Tokyo, lantas membawa pergi Raisa juga Livi.Namun hal itu tidak berlaku bagi Ryu dan Hana, sepasang pengantin itu justru saling melempar senyum."Itu tadi papanya Livi?" Tanya Hana seraya berjalan ke altar pernikahan dengan tangan melingkari lengan Ryu.Gaun putih sederhana senada d