Shen Jin terus saja mengoceh seraya menggerakkan kedua tangan ke atas ke bawah, seolah-olah mencoba menjelaskan sesuatu yang sangat penting. Pergerakannya semakin terbatas karena perutnya yang semakin membesar, menciptakan bayangan bulat yang bergerak mengikuti gerakan tubuhnya."Aku sungguh tidak mengerti, di saat aku sedang hamil besar seperti ini, Yua'er malah tidak ada di sampingku. Padahal kan aku butuh perhatiannya," celoteh Shen Jin dengan nada yang terdengar kesal. Suaranya menggaung pelan di ruangan yang sepi, menciptakan suasana hening yang aneh. Tiba-tiba, Shen Jin menghentikan gerakkannya, detik kemudian ia mengernyitkan dahi karena merasa hening dengan suasana sekelilingnya. "Yueyin, kenapa kau diam saja?" ucap Shen Jin, mencoba memecah kesunyian yang tiba-tiba itu. Saat hendak membalikkan badan, tiba-tiba seseorang sudah memakaikan mantel hangat ke tubuhnya. Shen Jin sedikit terkejut dan menolehkan kepalanya dengan cepat. Matanya membelalak, tidak percaya dengan apa ya
Di paviliun barat yang sunyi, diterangi hanya cahaya remang lampu minyak, Xiu Xianren berdiri tegak. Angin malam berbisik lembut di antara dedaunan bambu, membawanya aroma tanah basah dan bunga melati. Matanya, sehitam batu obsidian, tertuju pada langit malam. Ribuan bintang berkelap-kelip, seperti berlian yang tersebar di atas kain beludru hitam pekat. Bulan purnama, bulat sempurna, memancarkan cahaya keperakan yang menyelimuti halaman dengan aura mistis. Keheningan malam hanya diiringi oleh suara jangkrik yang bercicit nyaring.Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Zhang Wei, teman seperguruannya yang tampan dengan senyum ramah, muncul dari balik bayangan. Ia berjalan dengan tenang, jubah sutra biru tua berkibar lembut mengikuti langkahnya. Ia berdiri di samping Xiu Xianren, pandangannya turut tertuju pada langit yang dihiasi bintang-bintang. Keduanya terdiam sejenak, menikmati keindahan alam malam itu.Kemudian, Zhang Wei berseru, suaranya bercampur kekaguman
Pagi-pagi sekali, Zhang Wei dan Xiu Xianren sudah tiba di istana untuk menemui Kaisar Yuan. Mereka berjalan melalui lorong-lorong yang dihiasi lukisan-lukisan indah dan patung-patung megah, menuju ke ruang kerja Kaisar Yuan yang penuh wibawa dan keanggunan.Setelah menunggu sejenak, akhirnya mereka dipersilakan masuk. Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma teh harum, Kaisar Yuan duduk di balik meja besar dari kayu jati, sembari menyesap teh hangat dari cangkir porselen berwarna biru. Pandangannya yang tajam menatap Zhang Wei dan Xiu Xianren dengan penuh minat."Guru, Tuan Zhang, apa yang membuat kalian pagi-pagi sekali ingin bertemu denganku?" tanya Kaisar Yuan dengan suara lembut namun penuh wibawa, seraya menyesap teh hangatnya."Yang Mulia, aku dan kakak seperguruan ingin pergi ke suatu tempat," ujar Xiu Xianren dengan penuh hormat. Kaisar Yuan mengernyitkan dahi, kerutannya semakin dalam. Lalu, ia meletakkan cangkir teh dengan gerakan lembut, nyaris tanpa suara."Pergi ke suatu temp
Setelah pertempuran berakhir, Zhang Wei dan Xiu Xianren berterima kasih kepada A Zhu atas bantuannya. "Terima kasih, Tuan Pendekar. Tanpa bantuanmu, kami mungkin sudah terluka parah atau lebih buruk," ujar Xiu Xianren dengan tulus.A Zhu hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Tanpa mengatakan apapun, ia kembali pergi dengan cara terbang dan menghilang di balik pohon-pohon yang lebat. Keduanya bergeming sejenak, sampai akhirnya Xiu Xianren sadar dan menghampiri Zhang Wei. "Kakak, kau tidak apa-apa?" tanya Xiu Xianren mengamati ribu Zhang Wei. Zhang Wei menggelengkan kepala sebagai jawaban, jika dirinya baik-baik saja. Zhang Wei dan Xiu Xianren, melanjutkan perjalanan mereka dengan lebih berhati-hati. Mereka kini telah mencapai kaki Gunung Tianwu, yang menjulang tinggi di hadapan mereka dengan puncaknya yang diselimuti salju abadi. Suara angin yang menderu dan suhu yang semakin dingin membuat perjalanan mereka semakin menantang.Mereka mendaki lereng gunung yang curam, melewati ju
Di sebuah desa terpencil yang terletak di ujung dunia, tempat yang seolah terlupakan oleh peradaban modern, dan bahkan lebih tepat disebut sebagai tempat pengasingan bagi mereka yang dianggap bersalah. Saat matahari pagi menyentuh perkampungan, terlihatlah sekumpulan orang dengan pakaian yang sangat lusuh, berkumpul di sekitar area kerja. Baik laki-laki maupun perempuan, mereka semua mengenakan pakaian yang serupa, seperti seragam tak berwarna yang mengaburkan identitas mereka.Di tempat yang suram ini, mereka menjalani kerja paksa setiap harinya. Para laki-laki tampak berjuang dengan pekerjaan berat, seperti menempa batu-batu keras menjadi kepingan kecil, mengangkut pasir dalam jumlah yang tak terkira, serta melakukan pekerjaan kasar lainnya yang menguras tenaga. Di sisi lain, para wanita terlihat sibuk dengan aktivitas yang tak kalah melelahkan. Mereka mengangkut air dari sumur yang jaraknya cukup jauh, mencuci pakaian di tepi sungai yang dingin, dan melakukan pekerjaan rumah tangga
"Sebaiknya, malam ini juga aku harus segera melarikan diri," ucapnya dengan tegas penuh penekanan. Suaranya bergetar dengan campuran tekad dan ketakutan. Mata Lie Hua menatap tajam ke sembarang arah, bayangan wajah Shen Jin yang begitu dibencinya terlintas di benaknya, menyulut api kemarahan dalam dirinya."Tunggu saja pembalasanku !"Malam itu, ketika cahaya bulan perlahan-lahan merangkak naik di langit gelap, Lie Hua bersiap-siap untuk melarikan diri. Dengan hati-hati, dia menggulung peta tersebut dan menyembunyikannya di balik pakaiannya. Ia memastikan tidak ada yang melihat saat dia melangkah keluar dari rumah kayunya yang sederhana.Udara malam begitu dingin, menusuk hingga ke tulang. Lie Hua merapatkan pakaiannya, berusaha mengusir rasa dingin yang menyergap. Suara langkah kakinya hampir tak terdengar saat ia menyusuri jalanan desa yang sepi. Para prajurit berjaga di pos-pos mereka, beberapa di antaranya tampak mengantuk dan tak waspada.Lie Hua berjalan dengan langkah cepat nam
"Yueyin! Yueyin!" teriak Shen Jin dengan suara yang penuh kekhawatiran. Ia duduk di kursi sambil memegang perutnya yang besar, jelas terlihat betapa sulitnya bagi dia untuk bangun dari tempat duduknya. "Mendekati usia kehamilan tua sungguh membuatku kewalahan. Apakah aku mengandung anak kembar?" gumamnya dengan nada cemas sambil mengusap perutnya yang bulat. Shen Jin lalu memeriksa denyut nadinya sendiri, mencoba merasakan tanda-tanda kehidupan di dalam tubuhnya. Namun, ia hanya merasakan denyut nadi yang stabil dan satu detak jantung yang berdenyut lembut. Tidak ada tanda-tanda detak jantung kedua. "Hanya ada satu detak jantung, yang lainnya adalah detak jantungku sendiri," ujarnya pelan, sambil menghela napas karena merasa sedikit sesak. Kekhawatiran meliputinya, membuat jantungnya berdegup lebih cepat. "Dimana Yueyin? Sangat jarang sekali dia tidak muncul saat dipanggil seperti ini," gumamnya dengan nada penuh kekhawatiran yang semakin mendalam. Shen Jin mencoba bangun dari
Dalam ketenangan pagi itu, Shen Jin merasa hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan. Perlahan, dia mulai bercerita tentang impian-impian yang telah lama tersimpan dalam hatinya. Suara burung-burung yang berkicau lembut di sekitar mereka memberikan irama latar yang harmonis, seakan turut menyambut kisah-kisah mereka. Kaisar Yuan mengangguk dengan penuh pemahaman dan empati. "Aku ingin membangun dunia di mana anak kita dapat tumbuh dengan bebas dan damai, tanpa rasa takut atau kekurangan," katanya sambil memandang jauh ke depan. Shen Jin merasakan getaran semangat dan ketulusan dalam kata-kata suaminya, membuatnya semakin jatuh cinta pada pria itu. Matahari semakin tinggi di langit, memancarkan sinarnya yang hangat. Mereka melanjutkan percakapan dengan penuh gairah, berbagi mimpi-mimpi besar yang ingin mereka wujudkan bersama. Angin yang berhembus perlahan membawa harum bunga yang mekar di sekitar mereka, seakan memberikan keajaiban tambahan pada momen tersebut. Setelah beberapa saat
Di bawah rembulan pucat yang menggantung rendah di atas cakrawala kota yang gemerlap namun terasa dingin, Shen Jin dan Kaisar Yuan bertukar pandang. Kilatan samar lampu-lampu lentera memantul di mata mereka, seolah merefleksikan percakapan sunyi yang baru saja terjadi. Detik kemudian, sebelum tatapan mereka kembali terarah pada Jin Yu. Putra mereka berdiri di tengah ruangan yang mewah namun terasa hampa, raut gelisah masih terpahat jelas di wajahnya yang biasanya angkuh.Shen Jin, dengan gaun sutra berwarna gelap yang tampak berkilauan tertimpa cahaya kristal dari lampu gantung di atas mereka, membuka suara. Nada bicaranya tenang namun mengandung ketegasan seorang wanita yang terbiasa mengatur. "Sepertinya, gejolak dalam hatimu, apa yang menjadi keinginan terdalam seorang ibu, telah bersemi dan kini tersirat jelas dalam benakmu. Sungguh sebuah kebetulan yang tak disangka, ayahmu, Kaisar Yuan, telah secara resmi mengajukan lamaran pernikahan ke kerajaan Dayue untukmu. Tampaknya, tak
Sebelum Jin Yu sempat menyelesaikan ucapannya, selir Lin melangkah maju. Langkahnya mantap, tatapan penuh otoritas. Dengan suara yang memecah keheningan aula, ia memberi perintah yang tegas."Bawa mereka ke dalam penjara!" serunya. Suaranya tajam, menusuk udara yang sebelumnya tenang.Jin Yu maju selangkah, niatnya untuk menghentikan tindakan itu terlihat jelas. Namun, sebelum ia sempat bergerak lebih jauh, tangan Shen Zhibai sudah meraih pundaknya. Sentuhan itu cukup kuat untuk menahan Jin Yu di tempatnya. Shen Zhibai menggeleng pelan, dan dengan suara rendah, ia berbicara, nyaris seperti bisikan."Jin Yu, tahan dirimu. Bukan sekarang waktunya," ucapnya penuh ketenangan, namun menyiratkan sesuatu yang lebih dalam.Jin Yu mengerutkan dahi, tatapannya tetap terarah pada Xiu Juan dan Rouyue yang kini sedang digiring oleh prajurit. "Aku tidak bisa hanya berdiri diam, Shen Zhibai. Mereka tidak bersalah!"Shen Zhibai menghela napas, suaranya terdengar lebih tegas kali ini. "Jika kau bertin
Kabut tipis menyelimuti gerbang megah Istana Dayue, seolah menyembunyikan rahasia kuno di baliknya. Jin Yu dan rombongannya tiba di hadapan gerbang itu, keheningan menyelimuti mereka. Xiu Juan dan Rouyue, dua gadis anggun dengan aura misterius, menghentikan langkah mereka, menarik napas dalam-dalam seolah merasakan energi spiritual yang bergejolak di sekitar istana."Terima kasih atas perlindungan kalian, Tuan Jin Yu, Tuan He, dan Tuan Zhibai," ucap Xiu Juan dengan suara lembut namun mengandung kekuatan tersembunyi. "Perjalanan kita sampai di sini."Jin Yu, pemuda dengan sorot mata tajam dan aura seorang pendekar, maju mendekati Xiu Juan. "Bolehkah aku bertemu dengan kedua orang tuamu?" tanyanya, suaranya mengandung nada yang sulit diartikan.Xiu Juan mengangkat wajahnya, tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya, sebuah perasaan yang bercampur antara kekaguman dan kebingungan. "Mengapa... mengapa Tuan ingin bertemu dengan mereka?"Jin Yu menatapnya dengan t
Fajar menyingsing dengan lembut, memercikkan warna emas pucat ke langit yang masih membayang abu-abu. Kabut tipis menggantung di atas tanah, seperti selendang gaib yang enggan dilepas oleh malam. Di tengah hutan yang sunyi, pepohonan kuno berdiri tegak, setiap helai daun mereka tampak menyala karena cahaya pertama matahari.Angin pagi membawa aroma tanah basah dan bunga liar yang baru mekar, bercampur dengan desau lembut sungai kristal yang mengalir di kejauhan. Di atasnya, burung-burung kecil dengan sayap berkilauan seperti permata beterbangan, menciptakan harmoni dari kicauan mereka.Dari balik bayangan pepohonan, seekor rusa bertanduk perak melangkah perlahan, matanya bersinar lembut seperti bulan. Jejak kakinya meninggalkan cahaya redup di atas rerumputan yang berkilauan. Tak jauh darinya, sepasang peri kecil dengan sayap serupa kelopak mawar saling berkejaran, tertawa lembut seperti lonceng angin.Di atas bukit, sebuah desa kecil terbangun perlahan. Pondok-pondok dengan atap jera
Kabut pagi yang menyelimuti penginapan di kedai teh Senja perlahan tersibak, memperlihatkan siluet lima sosok yang bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Jin Yu, dengan jubah putihnya yang berkibar tertiup angin, memeriksa pedang pusakanya, . Di sampingnya, Shen Zhibai, sang tabib muda dengan aura tenang, menata ulang ramuan-ramuan di dalam tas kainnya. He Shen, sang pendekar berbadan tegap, mengencangkan sabuk pedangnya, matanya yang tajam mengawasi sekeliling, merasakan riak-riak energi spiritual yang samar.Di belakang mereka, Xiu Juan dan Rouyue, dua gadis muda dengan wajah yang masih menyimpan sisa-sisa ketakutan, berdiri berdampingan. Perjalanan ini, yang semula hanya misi pengawalan biasa, telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Sebelum ketiga pria itu terjun ke dalam pusaran intrik dan rahasia yang mengancam dunia persilatan, mereka harus memastikan keselamatan kedua gadis itu dengan mengantarkan mereka ke Kerajaan Dayue."Kita harus segera berangkat," ucap Jin
#warning 21+#Di kerajaan istana Bai Li Yuan, keheningan terasa begitu pekat, hanya dipecah oleh suara ketukan pena yang ritmis di atas meja marmer. Shen Jin, dengan tatapan menerawang, duduk termenung di balik meja kerjanya yang dipenuhi gulungan perkamen. Di seberangnya, di balik tumpukan dokumen kerajaan yang menggunung, Kaisar Yuan terbenam dalam kesibukan. "Kenapa wajahnya tidak asing?" gumam Shen Jin, suaranya nyaris tak terdengar, seperti bisikan angin malam.Kaisar Yuan, tanpa mengangkat kepala, menyahut dengan suara bariton yang tegas, "Wajah siapa yang membuatmu penasaran, Shen Jin?" Suara itu bergema di ruangan luas itu.Shen Jin menghela napas panjang, matanya menerawang jauh, seolah mencoba menangkap bayangan masa lalu. "Putri Ling Xian," jawabnya, suaranya kini lebih jelas, "gadis yang dipermalukan oleh Putri Yuqing di depan umum. Wajahnya... seperti seseorang yang pernah kulihat, tapi di mana?"Kaisar Yuan akhirnya mengangkat kepalanya, sorot matanya tajam menembus k
Perjalanan ke selatan membawa rombongan Jin Yu menyusuri jalur pegunungan yang berliku. Kabut tebal menyelimuti lembah, menyembunyikan pemandangan di sekitarnya. Suara gemerisik dedaunan dan desiran angin menciptakan suasana sunyi namun mencekam.Jin Yu, dengan indra kultivator nya yang tajam, merasakan sesuatu yang aneh. "Berhenti," perintahnya, suaranya menggema di antara tebing-tebing batu.Rombongan itu berhenti, kuda-kuda mereka meringkik gelisah. Shen Zhibai dan He Shen mengeluarkan pedang mereka, bersiap menghadapi kemungkinan bahaya. Rouyue dan Xiu Juan menatap sekeliling dengan cemas."Ada jejak energi pedang di sini," kata Jin Yu, matanya menelusuri kabut. "Pertempuran terjadi belum lama ini."Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, mengikuti jejak energi pedang yang samar. Semakin jauh mereka masuk ke dalam lembah, semakin jelas tanda-tanda pertempuran. Pohon-pohon tumbang, batu-batu hancur, dan tanah dipenuhi bekas luka tebasan pedang.Tiba-tiba, mereka menemukan s
Setelah beberapa hari perjalanan mereka tertunda, melihat kondisi Xiu Juan yang sudah semakin membaik, mereka pun memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan yang tertunda karena sebuah insiden. Rute yang mereka ambil kali ini lebih memilih yang strategis, karena tidak mau insiden sebelumnya kembali terjadi."Sebaiknya kita ambil jalan ke selatan saja," ucap Jin Yu dengan tegas, matanya memandang ke arah peta yang terbentang di atas meja. "Meskipun jaraknya sedikit jauh, tapi sekiranya perjalanan kita aman dari bahaya."He Shen menggelengkan kepala. "Bukankah perjalanan kita akan lebih jauh? Kenapa kita tidak mengambil jalur timur saja? Jika kita lewat jalur sana, kita hanya membutuhkan satu hari perjalanan menuju kerajaan Dayue."Shen Zhibai memandang He Shen dengan mata yang tajam. "Sepertinya, kau memang belum jera mendapat pelajaran disana? Apakah kali ini kau akan sukarela mengantarkan nyawa?" Jin Yu dan Shen Zhibai menatap dingin He Shen seraya berpangku tangan di dada.He S
"Rouyue, Shen Zhibai, He Shen, jangan ganggu aku," ucapnya singkat namun tegas. Ruangan itu menjadi hening, hanya terdengar suara angin yang berbisik lembut melalui celah-celah jendela tua.Mata Jin Yu tertutup rapat. Ia merasakan tarikan lembut, seperti jaring tak terlihat yang membawanya ke dimensi lain—ke dalam dunia bawah sadar Xiu Juan. Cahaya putih yang menyilaukan menyambutnya, lalu seketika berubah menjadi bayangan kelabu. Di hadapannya terbentang hamparan padang tanpa batas, kosong dan sunyi. Angin di tempat itu membawa rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang.“Xiu Juan!” serunya, suaranya menggema di padang luas itu. Tidak ada jawaban. Jin Yu terus berjalan, kakinya seperti tenggelam dalam kabut tipis yang menggulung-gulung di tanah. Ia tahu, di tempat yang sunyi dan dingin ini, Xiu Juan terjebak. Di kejauhan, ia melihat sosok perempuan duduk dengan kepala tertunduk. Rambut panjangnya menutupi wajahnya, dan tubuhnya terlihat rapuh, hampir transparan seperti bayangan. Jin