ISTRI BARU MANTAN SUAMIKU (5)
Kepalaku makin berdenyut mendengar kata kata gadis di depanku ini. Meski dia mengatakannya sambil tersenyum, aku yakin ada maksud tersembunyi di balik sikap manisnya. Apalagi kata katanya barusan. Apa? Gegar otak. Coba tanya Mas Nabil, kepala Vivi itu batu."Meisya?"Mama berdiri di ambang pintu, sudah mengenakan pakaian rapi. Sepertinya Mama mau pergi. Aku menghela nafas dalam dalam, merasa terselamatkan oleh situasi yang menyebalkan ini."Iya Ma. Maaf aku gak langsung nemuin Mama. Ini lagi nengokin Mbak Vivian, katanya semalam jatuh.""Oh iya. Kebetulan kalau begitu. Mama mau keluar sebentar, ada janji sama teman Mama. Bisa gak Mama titip Vivian?"Astaga Mama. Ngapain sih pake dititipin segala."Gak. Gak usah Ma. Aku gak apa apa kok." Seruku cepat. Mama melotot."Gak apa apa gimana? Kamu dari tadi megangin kepala terus. Mama takut kamu pingsan lagi Vi."Aku sontak menurunkan tangan dari kepala. Uh, sesungguhnya aku terharu mendengar perhatian Mama. Tapi di rumah bersama Meisya itu bukan pilihan yang menyenangkan."Dengan senang hati Ma. Kebetulan aku bawa bahan masakan tadi. Kalau boleh, aku mau masak untuk makan malam." Ujar Meisya sambil berdiri dan tersenyum pada Mama."Wah, selain pintar bikin kue, apa kamu pintar masak juga Mei?"Aih, apa apaan sih Mama? Gak biasanya antusias begitu. Memang sih, aku selama ini gak pernah masak. Ya gimana, aku kan sibuk kerja. Mau makan enak tinggal pesan aja di resto. Selain itu, masakan Mama sudah yang paling the best."Gak juga Ma. Cuma belajar aja kok. Kata Mas Nabil, dia gak suka makanan dapat beli. Dia sukanya makanan rumahan, jadi aku belajar masak."Sekilas kulihat wajah Mama berbinar. Lalu seperti tersadar, Mama memasang wajah datar dan segera berpaling padaku."Ya udah Mama tinggal sebentar ya. Gak lama kok. Paling sebelum ashar sudah pulang."Ya ampun itu sih lama Ma, keluhku dalam hati. Sedikit menyesal kenapa aku izin kerja tadi sehingga harus serumah dengan perempuan ini. Ya walaupun setengah hari, aku yakin rasanya akan sama kayak setahun.Meisya lalu pamit padaku untuk mengantar Mama keluar sekaligus langsung ke dapur. Aih caper banget. Ini baru jam satu siang. Sudah mau masak makan malam. Atau jangan jangan kamu mau nyontek resep dulu ya.Aku kemudian memejamkan mata. Rasa lapar karena belum makan siang langsung lenyap mengingat rivalku kini menguasai dapur. Biasanya jam segini, Tiara juga sedang sibuk di kamarnya usai makan siang. Mengerjakan pe er, menggambar, lalu tidur siang sampai menjelang asar nanti. Biasanya, kalau sedang tak sibuk, Mas Nabil akan datang sebelum Maghrib, beberapa kali dalam seminggu untuk menengok Mama dan Tiara.Anganku melayang pada Mas Nabil, orang yang selama ini membuatku bertahan di rumah ini meski menuai banyak hujatan. Bukan hanya dari keluarga Mama, tapi juga dari tetangga sekitar. Aku tak peduli, karena selama ini Mama yang menjadi tameng untukku. Bukan salahku kalau Mama sayang padaku. Iya kan?"Vivi itu sudah saya anggap anak sendiri. Jangan ungkit ungkit dan tanya tanya lagi kenapa dia masih tinggal di rumah ini." Jelas Mama pada siapa saja yang bertanya."Tapi aku risih Ma setiap kali menengok Mama dan Tiara, harus bertemu dengannya." Keluh Mas Nabil suatu hari."Nabil, kesalahan Vivian tidaklah terlalu fatal, kenapa kamu tidak memaafkan dan rujuk saja? Mama tidak bisa melihatnya pergi, dia… mirip sekali dengan almarhum adikmu."Kala itu, jantungku langsung berdetak kencang mendengar kata kata Mama. Jadi itu alasan Mama selama ini menahanku untuk tetap tinggal di rumahnya selain karena Tiara. Perlahan, rasa sayang tumbuh di hatiku. Padahal tadinya aku hanya bermaksud memanfaatkan Mama untuk bisa kembali pada Mas Nabil."Apa Mama fikir dia pernah minta Maaf? Tidak Ma. Vivian itu angkuh sekali. Meski langit runtuh di atas kepalanya, dia tidak akan minta maaf." Ujar mas Nabil kesal.Itu memang benar. Aku tak pernah meminta maaf padanya karena kupikir Mas Nabil terlalu berlebihan dalam bereaksi. "Mas, kamu sungguh sungguh akan menceraikan aku?" Tanyaku saat melihat dia membereskan pakaiannya ke dalam koper, malam hari usai mengucap talak."Iya tentu saja aku sungguh sungguh. Aku tak bisa hidup dengan perempuan yang tak bisa menghargai suaminya.""Ya ampun Mas, cuma omongan gitu doang. Kamu berlebihan sekali Mas."Mas Nabil menghentikan gerakan tangannya, menatapku tajam hingga aku salah tingkah."Mungkin bagimu aku berlebihan, tapi menyamakan suami dengan sampah, apa menurutmu itu tidak keterlaluan? Ah, tentu saja tidak. Bagimu yang terbiasa merendahkan orang lain, itu hal sepele saja.""Aku kan cuma berusaha membuka matamu Mas. Kalau pekerjaanmu itu gak punya prospek yang bagus. Ini demi kebaikanmu loh Mas."Mas Nabil mendengus. Dia mengangkat kopernya yang sudah penuh."Kamu boleh tinggal di sini. Aku akan kembali ke rumah Mama.""Mas, udah deh jangan gitu. Ayo duduk lagi.""VIVIAN!"Aku berjengit mendengar Mas Nabil membentakku."Ini peringatan bagimu agar bisa menghargai orang lain. Dan aku ingatkan, jangan coba coba memungut sampah yang sudah kau buang."Aku menahan nafas mendengar kata katanya. Hatiku luruh seketika, menyadari kesempatanku untuk mendapatkannya kembali telah musnah. Berbulan bulan kemudian aku masih menyesali diri atas kebodohan yang kubuat. Aku lupa, bahwa harga diri lelaki itu dijunjung di atas kepalanya.Kesempatan akhirnya datang ketika Mama memintaku tinggal di rumahnya. Meski Mas Nabil menolak dengan keras, Mama bergeming. Dengan alasan tak mau jauh dari Tiara, akhirnya aku pindah ke rumah Mama. Mas Nabil terpaksa mengalah dan mengontrak rumah lain karena tak mungkin lagi kami tinggal satu atap. Meski tidak terang terangan, aku tahu Mama mendukungku untuk rujuk dengan Mas Nabil. Tapi sayang, lelaki itu telah menutup hatinya rapat rapat.Lalu dia datang membawa Intan, mencoba memperkenalkannya pada Mama sebagai calon istri. Tak lama kudengar hubungan mereka putus. Lalu Mas Nabil kembali memperkenalkan Annisa. Tapi hasilnya sama saja. Kedua perempuan itu mundur teratur begitu tahu aku masih tinggal dengan Mama. Sampai akhirnya si pengacau itu datang.Meisya.Yang kini dapat kudengar suaranya sedang masak di dapur sambil mengobrol.Ngobrol?Dengan siapa? Mama kan lagi pergi.Menahan denyutan di kepala, aku berjingkat ke dapur, dengan langkah tanpa suara. Lalu berdiri di balik tirai pembatas. Hatiku mencelos melihat siapa yang tengah berbincang bincang dengan Meisya, sementara tangannya sibuk merajang sayur dan bumbu.Dia, gadis kecilku. Kulihat Tiara ikut mengupas bawang sambil bertanya ini dan itu. Sesekali mereka tertawa. Oh, sejak kapan Tiara akrab dengan Meisya?Dan bagaimana bisa Meisya mengambil hati anakku secepat itu?Tiba tiba saja, aku merasa sebatang kara.***ISTRI BARU MANTAN SUAMIKU (6)"Mama?"Kepala mungil Tiara muncul dari balik pintu yang dibukanya sedikit. Aku menoleh dengan malas, mengingat tawa riangnya di dapur tadi pagi. Jujur saja, aku sangat cemburu. Tapi aku tak mungkin menyampaikannya di depan anakku yang polos ini."Ditunggu Nenek di meja makan. Mama belum makan dari siang loh." Ujarnya, masih berdiri di ambang pintu."Iya. Sebentar lagi Mama turun." "Apa kepala Mama masih sakit?""Gak kok. Udah sembuh." Aku memaksakan sebuah senyum.Tiara ikut tersenyum. Dia manis sekali, mirip dengan Mas Nabil. "Tiara duluan ya Ma." Pamitnya.Aku mengangguk. "Emm… Ra…" Apakah aku harus bertanya padanya? Aku ingin tahu apa Meisya masih di sini? Apakah Mas Nabil juga datang untuk makan malam? Kepala Tiara muncul lagi dari balik pintu yang hampir ditutupnya. Aku bangun dari posisiku."Kenapa Ma?"Ah, sebaiknya tak perlu
ISTRI BARU MANTAN SUAMIKU (7)Aku terbangun ketika adzan subuh baru saja selesai dikumandangkan. Kepalaku sudah tidak sakit lagi, tapi kurasakan mataku bengkak dan sulit dibuka. Oh, bodohnya aku, menangis semalaman hanya karena lelaki. Lima tahun aku berjuang untuk mendapatkan kembali cinta Mas Nabil, tapi sepertinya akan sia sia saja. Meisya ternyata telah menambat hatinya begitu erat. Usai sholat subuh, aku turun ke dapur, dan mendapati Mama sedang meracik makan pagi seperti biasanya. Beliau langsung tersenyum melihatku datang."Kepalamu masih sakit Vi?""Gak lagi Ma. Benjolnya juga sudah hilang kok." Jawabku sambil nyengir."Syukurlah. Mama takut kamu keterusan sakit kepalanya."Aku tersenyum, hatiku menghangat menyadari Mama benar benar tulus menyayangiku."Mama, sini biar Vi yang ngirisin tomat dan timunnya ya." Ujarku sambil mengambil alih timun dan tomat yang sudah dicuci Mama dan di
ISTRI BARU MANTAN SUAMIKU (8)Aku menahan nafas, kupaksakan diriku menatap langsung ke matanya. Aku bukan Vivian yang lemah, hanya karena cintalah aku rela merendahkan diriku seperti ini. Kulihat Mas Nabil menatapku dalam dalam. Dari jarak satu meter, aku dapat mencium aroma parfumnya, masih sama dengan aroma parfum yang dulu sering kubeli untuknya.Mas Nabil menoleh pada Tiara, memintanya masuk lebih dahulu ke dalam mobil. Tiara mengangguk patuh, lalu meninggalkan kami dalam suasana yang kaku. Tak pernah aku menyangka akan berhadapan seperti ini dengan-nya, dengan aku menundukkan kepala memohon maaf."Vi, aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Berkali kali aku bahkan berniat menemuimu untuk memperbaiki hubungan kita. Tapi setiap kali aku datang ke rumah, kau tak pernah ada. Kau bahkan tampak bahagia jauh dariku. Aku kerap memperhatikan setiap foto dan status yang kau bagikan di sosial media. Bagaimana kau begitu menikmati hidup bersama tema
ISTRI BARU MANTAN SUAMIKU 9Aku menatap mobil Pak Adrian yang berlalu keluar pagar. Masih kuingat matanya yang sedikit terkejut saat dia tahu aku tinggal bersama mantan mertuaku. Ah, sebetulnya, ada gak sih mantan mertua? Bagiku, Mama tetaplah Mama, aku menyayanginya sebagaimana beliau menyayangiku. Jika hanya karena tak ada hubungan darah dan ikatan pernikahan, maka aku harus menjauhinya, kurasa itu tidak adil."Ada lelaki menemuimu di sini, di rumah mantan mertua. Kamu memang hebat Mbak."Seperti biasa, Meisya mengucapkan kalimat itu dengan suara tenang, meski kata katanya pedas di telinga. Aku berbalik, menenteng dompet yang tadi diserahkan Pak Adrian. "Dan kamu juga hebat sekali Mei, bisa merebut hati anakku dengan mudah. Aku ingatkan ya, jika nanti jadi menikah dengan Mas Nabil, jangan pernah coba menyakiti anakku."Meisya tersenyum."Oh, tentu saja. Mbak gak usah khawatir. Kupastikan
ISTRI BARU MANTAN SUAMIKU 9BKamu gak apa apa kan Vi Mama tinggal sendirian?" Mama menatapku dengan cemas. perhatiannya itu kerap membuatku merasa memiliki seorang Ibu."Gak apa apa ya ditinggal sebentar sama Mama dan Tiara?"Ah, Mama selalu menganggapku seperti anak kecil. Aku tertawa."Mama, jangan begitu. Nanti ada yang cemburu."Mama justru tertawa. Beliau sudah berdandan rapi. Pagi Ini, Mama, Mas Nabil dan Tiara ditemani beberapa orang kerabat akan datang ke rumah Meisya untuk melamar. Sebelumnya Mama dan Tiara sudah diajak pula oleh Mas Nabil untuk berkenalan. Kudengar dari Mama, keluarga Meisya tak keberatan dengan status Mas Nabil yang duda. "Kebetulan Vivi mau nengokin minimarket. Sudah lama gak dilihat."Mama mengangguk. Aku tersenyum melihat Mama memakai gamis baru yang kubelikan Minggu lalu. Bahkan tas dan juga sendalnya, semua pemberianku. Kulihat gelang baru Mama mengintip dar
ISTRI BARU MANTAN SUAMIKU (10A)"Kita sungguh sungguh akan pindah Ma?"Tiara menatap koper koper yang sudah aku susun dengan tatapan tak rela. Bibir mungilnya mencebik."Iya sayang. Papa akan segera menikah. Mama tak mungkin tinggal di sini lagi.""Tapi nenek bilang kita akan tinggal di sini selamanya."Aku menghela nafas. Memberi Tiara pengertian biasanya sangat mudah. Dia bukan anak yang manja. Meski aku dan Mas Nabil bercerai Tiara nyaris tak mengenal artinya perpisahan karena kami masih sering bersama sama. "Atau Tiara mau tinggal di sini sama Nenek?"Tiara menggeleng."Tiara mau tinggal di rumah yang ada Mama."Aku memeluknya. Dia satu satunya kekuatanku saat ini. Aku tak akan membiarkan Meisya merebut Tiara dariku.Kugandeng tangan Tiara menuju kamar Mama. Mama yang sedang membaca buku dengan pintu kamar terbuka, sedikit terkejut melihat kami."Vivian?""Boleh
ISTRI BARU MANTAN SUAMIKU (10B)"Wah, sungguhkah Mbak Vivian akan pindah?"Meisya, lagi lagi kuman itu muncul pagi pagi sekali ketika aku baru saja selesai memasukkan koper terakhir ke dalam mobil. Kali ini dia datang sendiri dengan menyetir sebuah sedan berwarna hitam berkilat. Langkahnya anggun menghampiriku."Em, cuma segitu Mbak perjuanganmu?"Aku tertegun. Berusaha mencerna maksud perkataannya. Sejak pertama kali berinteraksi dengannya, aku tahu dia suka sekali menyindir dengan bahasa yang halus dan tutur kata lembut. Wajah cantik tanpa dosa yang suka menebar senyum membuat banyak orang terkecoh. Tapi tidak denganku."Aku tidak sedang memperjuangkan apa apa Mei. Asal kau tahu, aku pindah demi kesehatan mataku. Rasanya mataku lelah karena terlalu sering melihatmu." Ujarku sambil menatap matanya. Seperti biasa, dia akan tersenyum lebih dulu, memamerkan dekikan dalam di kedua pipinya. Dia benar-benar tahu bagaimana carany
ISTRI BARU MANTAN SUAMIKU (11A)"Alhamdulillah, jadi pindah juga Non Vivi." Ujar Mbak Anik yang selama ini mengurus rumahku. Dia keponakan Bik Rum. Aku tersenyum, masuk ke dalam rumah mungil yang sudah hampir lima tahun kutinggalkan. Rumah tampak bersih sekali, catnya baru diganti. Tiara yang turun dari mobil masih dengan wajah cemberut, langsung menghempaskan tas nya di atas karpet ruang tengah lalu berlari menuju kamar di lantai atas yang sudah kusiapkan untuknya. Tak lama dia muncul lagi dengan mata berbinar."Mama bikinin ranjang tingkat untuk aku?"Aku mengangguk?"Dengan lampu lampu bentuk bintang di langit langitnya juga? Wallpaper warna pink? Kok Mama tahu aku suka Shinbie house?"Pertanyaan Tiara bertubi tubi. Aku tertawa."Semuanya Mama yang rancang, mau tahu hobi kamu sih gampang. Yang bikin tetap tukang donk. Masa Mama? Bisa lecet semua kuku Mama nanti."Tiara tertawa. Dia sponta
DIA BUKAN IBUKU 30 (ENDING)Aku menatap tubuh beku Om Gilang untuk terakhir kalinya sebelum dibawa dengan ambulans. Nenek memutuskan memakamkan Om Gilang di tanah makam keluarga. Bagaimanapun dia telah dianggap anak oleh Nenek. Sungguh miris, sementara makan Mama Meisya berada jauh di pemakaman umum."Kita akan memindahkan makam Mamamu kesini." Ujar Nenek setelah pemakaman Om Gilang selesai. Tak ada yang hadir, hanya kami, pelayan dan satpam yang mengenal Om Gilang. Baru kali inilah aku menyaksikan pemakaman tanpa air mata dan sedu sedan.Aku menggeleng."Tidak Nek, jangan. Makam Mama dan Papa berdampingan. Mereka sudah bahagia di alam sana, biarkan saja seperti itu. Aku telah meminta penjaga untuk merawat makam Mama dan Papa secara khusus."Nenek mengangguk sambil memegang tanganku."Baiklah jika itu keinginanmu Naura. Nenek akan mengikuti semua saranmu. Kau telah dewasa. Zaman Nenek tinggal dan dibesarkan tentu jauh berbeda dengan zaman ini."Aku tersenyum dan menuntun Nenek meningg
DIA BUKAN IBUKU 29PoV GILANG"Gi, apa kau sudah gila? Naura itu anakku!"Wajah Meisya terlihat sedih. Aku tercenung menatapnya. Dia tampak tak bahagia mengetahui semua yang kulakukan untuknya."Tapi dia mengkhianatimu Mei. Dia hidup bersama musuhmu, Vivian. Dia bahkan terlihat sangat mencintai perempuan itu."Meisya menggeleng."Kau tak mengerti Gi. Aku memang menitipkan Naura pada Vivian. Hanya Vivian yang mau dan bisa merawat Naura, mencintainya dengan tulus seperti anaknya sendiri.""Aku tak percaya itu keinginanmu.""Gi, tolong terima saja kenyataan, bahwa kita sudah berpisah. Bukan hanya jarak, tapi juga ruang dan waktu. Hati kita bahkan telah terpisah lama. Lupakan aku dan hiduplah dengan baik."Aku menggeleng. "Aku ingin bersamamu Mei."Meisya tersenyum. Dua dekikan dalam di pipinya terlihat dengan jelas dan aku tak pernah tak terpesona melihatnya."Aku menyayangimu sebagai sahabat dan saudara. Tak lebih. Kuharap kau berhenti menyakiti Naura dan juga Mama."Meisya berbalik, k
DIA BUKAN IBUKU 28Ibu Ismi, Ibunya Lisa akhirnya dibawa ke rumah sakit setelah diberi pertolongan pertama. Nenek berpesan kepada dokter Inka untuk melakukan apa saja yang sekiranya bisa menyelamatkan nyawa tanpa perlu memikirkan biaya. Arsen dan Adit yang mengantar ke rumah sakit sekaligus menyelesaikan administrasi. Mama melarangku ikut ke rumah sakit. Saat ini keselamatanku adalah prioritas bagi semua orang."Jenazah Lisa baru selesai diotopsi. Dia jelas mati karena cekikan sehingga tak ada oksigen yang masuk." Jelas Om Alfian. Aku terdiam, membiarkan Mama menggenggam tanganku yang terasa dingin. Mengapa setelah bertemu Nenek hidupku berubah bak sinetron? Kulihat Nenek terpekur di kursinya. Beliau sudah pulih dan mulai bisa berjalan meski masih terlihat sulit. Menurut dokter, Nenek selama bertahun-tahun minum obat yang melemahkan syaraf dan otot kakinya. Obat itu diberikan oleh Lisa atas perintah Om Gilang agar mudah mengendalikan Nenek. Sungguh, mereka benar-benar manusia biad*b.
DIA BUKAN IBUKU 27POV GILANGLisa terjatuh kembali ke atas kasur akibat kerasnya tamparanku. Ada darah mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Suaranya yang merengek dan berisik itu sungguh-sungguh membuatku kesal."Tuan, anda jahat sekali." Ujarnya sambil menyeka bibirnya. "Berhenti bicara jika kusuruh berhenti. Suaramu membuatku tak bisa berpikir.""Aku hanya mengkhawatirkan Ibuku.""Naura tidak mungkin mencelakainya. Dia anak yang baik.""Jangan terlalu yakin Tuan. Bukankah dia anak Meisya? Dia punya sifat kejam yang sama dengan Meisya. Aku yakin."Aku terkejut mendengar kata-katanya. Di satu sisi, aku mengakui bahwa apa yang Lisa katakan benar. Tapi di sisi lain, ada rasa tak terima mendengar orang lain mengatakan hal buruk tentang orang yang kucintai."Meisya, si jal*ng itu, yang suka mengobral tubuhnya pada lelaki lain hingga tertular HIV. Bukankah dia terlibat banyak kejahatan sebelum mati? Dia juga tega melaporkan Sofyan ke…"PLAK!"Jangan lancang Lisa! Berhenti mengatakan
DIA BUKAN IBUKU 26Kamarku tak berubah, tetap rapi dan bersih seperti biasa saat aku masih tinggal di sini. Puluhan buku koleksiku berjajar rapi di rak kecil yang terbuat dari kayu dan menempel di dinding. Itu adalah buku-buku favorite yang kujaga sepenuh hati sementara buku lainnya bergabung di perpustakaan keluarga yang berada di sudut lantai atas ini. Aku merebahkan diri di atas kasur, memandang seisi kamar. Seandainya tidak ingat bahwa Om Gilang dan Lisa sedang mengincarku, tentu aku akan merasakan hidupku kembali normal disini. Tapi kenyataan itu pupus begitu aku ingat, Nenek dan Ibu Lisa berada di kamar lain, menanti kepastian untuk kembali.Aku mendesah, rasanya nyaman sekali tidur bergelung di kamarku sendiri. Kamar yang sudah kutempati selama lebih dari dua puluh tahun. Aku ingin terus berada disini. "Naura?"Mama melongokkan kepala dari celah pintu yang sedikit terbuka. Aku menoleh, dan bangun dari kasur. Mama, di usianya yang sudah melewati lima puluh tahun, tetap energik
DIA BUKAN IBUKU 25Aku tiba di rumah sakit dan terkejut mendapati banyak orang berkumpul di ruang rawat Nenek. Mama, Tante Ria, si kembar Adit dan Arsen, juga Alesha. Langkah kakiku terhenti melihat mereka semua menatapku. Yang pertama kali berlari menghampiriku adalah Alesha, yang langsung menubruk tubuhku sambil menangis."Kakak…"Aku tertegun, mataku langsung terasa panas menatap orang-orang terkasih yang selama ini kurindukan setengah mati. Padahal belum sebulan aku berada di rumah Nenek, rasanya sudah seabad lamanya aku tak bertemu dengan mereka.Perlahan, kuangkat tanganku, balas memeluk adik bungsuku yang mungil itu. Isaknya makin keras. Dipeluknya aku erat-erat."Maafkan aku Kak. Tolong maafkan aku."Aku mengusap kepalanya yang tertutup jilbab merah muda. Bagaimana mungkin aku tak memaafkannya? Setelah agak lama, isakannya terhenti. Kuurai pelukan Alesha, menatap mata bening yang terlihat sembab itu."Jangan minta maaf terus. Kau tidak salah apa-apa."Alesha justru terisak lag
DIA BUKAN IBUKU 24"Nauraaaa!"Jantungku langsung terasa merosot ke dasar perut. Aku nyaris berlari menuruni tangga, lalu teringat bahwa di bawah ada Lisa yang bisa melakukan apa saja untuk mencelakaiku. Rasanya aku tak bisa lagi membiarkan dua ular ini untuk tinggal di sini lebih lama. Aku akan cepat kena serangan jantung karena mereka. Jadi aku menuruni tangga dengan hati-hati meski rasanya tak sabar untuk segera tiba di kamar nenek."Hati-hati Naura." Janeeta berjalan lebih cepat mendahuluiku. Dia tiba di kamar Nenek lebih dulu, dan ketika tiba disana, aku terkejut melihat pemandangan itu. Nenek jatuh telentang di atas lantai, kepala bagian belakangnya sepertinya membentur lantai dengan keras. Sementara itu, kamar Nenek seperti habis terkena badai. Lemari dan laci laci terbuka dan isinya berhamburan di lantai."Ya Allah Nenek!"Aku memburu tubuh Nenek dan mencoba mengangkatnya. "Jangan Naura. Biarkan dulu. Aku khawatir Nenek kena stroke. Kita tak boleh merubah posisinya sampai per
DIA BUKAN IBUKU#23Aku menerima surat alih adopsi itu dengan hati perih. Terbayang Mama menangis sambil menandatanganinya. Tentu mereka akan menilaiku sebagai anak yang tak tahu diri. Aku tumbuh sehat hingga sebesar ini berkat air susu Mama. Dan betapa rajinnya Mama membawaku check up, memastikan aku minum obat dan vitamin setiap hari. Aku mendesah. Biarlah, suatu saat, mereka akan tahu bahwa aku melakukan ini semua untuk mereka. Jika aku masih tinggal bersama mereka, Om Gilang akan melakukan berbagai cara agar aku datang dengan sukarela. Tidak. Itu tak boleh terjadi. Cukup Papa saja yang hingga kini belum sepenuhnya pulih."Mamamu berpesan, meski secara hukum kau bukan lagi anaknya, kau tetap anak dan keluarga yang mereka kasihi. Kau bisa pulang kapan saja Naura."Aku mengangkat kepalaku yang sejak tadi tertunduk, menyembunyikan air mata yang nyaris meluncur dari Om Alfian."Terimakasih Om. Aku titip Papa, Mama dan adik adikku." Aku tak dapat menahan suaraku yang bergetar.Om Alfian
DIA BUKAN IBUKU 22"Pagi Nona Naura."Sapa Janeeta di meja makan. Aku tersenyum, menarik kursi makan di depanku. Pagi ini aku mengumpulkan pelayan di rumah Nenek di ruang makan merangkap dapur yang amat luas ini. Sementara Nenek ditemani Om Gilang dan seorang sopir serta pelayan sedang check up ke rumah sakit. Nenek melarangku ikut karena katanya tak boleh meninggalkan rumah tanpa seorangpun pemilik rumah. Agak aneh sebetulnya mengingat selama ini Nenek sendirian, hanya dikelilingi orang-orang asing yang tak punya hubungan dengannya."Pagi Jani, pagi semuanya."Mereka menyahut serempak. Dari sudut mata kulihat Janeeta mengedip mendengarku memanggilnya Jani."Saya hendak menyampaikan apa yang telah disepakati oleh saya dan Nenek. Karena Nenek sakit dan saya adalah satu satunya ahli waris, mulai hari ini, saya yang akan memegang kendali atas rumah ini."Gumaman terdengar dari mulut mereka. Aku menatap Lisa melalui sudut mata, mendapati wajahnya yang tampak tak enak dipandang."Pertama,