Adrian dan Wandi pulang dengan pikiran masih tertinggal di tempat itu. Kepingan memori hari ini cukup membuat Adrian dan Wandi diam membisu sepanjang jalan. Pakaian yang tadinya basah, sudah mengering tertiup angin sepanjang perjalanan. Perjalanan yang memakan waktu satu jam cukup membuat mereka kelelahan, ditambah lagi belum makan siang.Hari sudah beranjak petang saat mereka tiba di rumah Wandi. Adrian mengantarkan Wandi, yang jarak rumahnya hanya beberapa ratus meter saja. Selalu sendiri saat mereka tiba di rumah masing-masing. Rutinitas yang dianggap membosankan, tanpa teman saat tiba di rumah.“Males kalo sepi kayak gini. Kenapa tadi nggak ngajak Wandi tidur sini aja ya? Pasti emak sama bapak pulang malam lagi nih. Toko lagi ramenya,” gumam Adrian sambil nonton televisi di ruang tengah.Sesaat hening, terdengar suara ketukan pintu. Tok ... tok ... tok ....“Siapa malam-malam gini bertamu. Jangan bilang Hesta ngikutin gue sampai kemari. Bisa berabe kalo Emak sama Bapak tahu nih,
Mereka bertiga bingung mendengar pernyataan Tina lewat telpon. Bagaimana juga ini sesuatu hal yang sangat aneh. Baru saja bertamu ke rumah, tiba-tiba menghilang dan sekarang menerima kenyataan berbeda.“Ini bagaimana Bang? Jangan sampai peristiwa kemarin terulang lagi pada anak kita.” Ucap Jamilah lirih supaya Adrian tidak mendengar.“Abang juga gak tahu nih. Bener kagak yang dibilang bocah itu.”Lirih Jumari sambil melirik ke arah anaknya yang masih bengong duduk di kursi. Suasana mendadak hening, tidak ada yang bicara. Hingga Adrian berdiri dan masuk ke adalm kamarnya untuk tidur. Demikian juga dengan kedua orang tuanya. Dari balik pintu dapur, terlihat sosok bayangan kucing hitang yang menyorot ke arah mereka. Perlahan kucing itu menghilang seiring dengan tertutupnya pintu kamar pemilik rumah.Keesokan harinya, Adrian terbangun dari tidur. Merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tangannya. Wandi sudah berdiri dengan berkacak pinggang di depan ranjang kebesarannya. Aneh, tidak biasan
Perjalanan pulang dari sekolah terasa sangat lama bagi Wandi. Sepanjang perjalanan Adrian hanya diam, pikirannya hanya terbayang wajah Hesta yang cantik yang sudah mengaduk-aduk perasaannya. Baru kali ini Wandi meresahkan hal yang aneh, dengan sikap temannya yang selalu jahil ini.“Lu kenapa sih? Nggak kayak biasanya. Jangan mikirin Hesta lagi, ingat dia bukan sebangsa kita,” ucap Wandi lirih agar tidak membuat temannya marah.Seketika Adrian berbalik menatap Wandi. Sorot mata kebencian nampak di matanya. Selama ini temannya tidak pernah ikut campur urusan pribadinya. Aneh jika tiba-tiba memperingatkannya hanya urusan cewek. Pikirannya sudah berburuk sangka tidak mungkin Wandi sampai berani melarang niatmya.“Lu tahu apa? Memang kenapa kalau gue suka ama dia. Lu syirik ya? Jangan bilang elu juga naksir ama dia! Gue ceburin empang baru tahu rasa.”“Ya elahh ... gue mana mau ama makhluk gitu-an. Mending gue jomblo seumur hidup, dari pada sama makhluk astral. Ingat Yan! Dia beda ama kite
Rasa malas Wandi melihat temannya sudah tidak mengindahkan perkataannya. Semua demi kebaikan Adrian, karena rasa balas budi Wandi sering ditolong olehnya. Tetapi dia tak berdaya melihat Adrian dengan amarah yang sudah memuncak terhadap dirinya. Langkah kaki Adrian terhenti saat akan mendekat ke pohon beringin. Suara serak yang pernah ia kenali beberapa kali. “Kakek?”“Heh, anak muda! Ngapain lu ke sini lagi? Udah bosan hidup lu rupanya?” Teriak sang kakek Hesta yang melangkah mendekati Adrian. Pemuda yang ada di depannya sontak sedikit mundur ke belakang, melihat tatapan kakek yang tidak ramah. “Lu dengar ya, jangan ganggu cucu gue lagi! Pergi lu dari sini!!” Tiba-tiba angin kencang datang dan merontokkan daun pohon beringin. Adrian terkejut, dan mengeratkan kedua tangannya. Bibirnya bergetar, suasana sekitar pohon beringin mulai terlihat mencekam. Sunyi ... padahal hari masih siang matahari nampak menghilang dari perduannya. Suasanya mendadak gelap sunyi. Adrian ketakutan, namun k
Dua anak berdebat mengenai Hesta dan kakek misterius, tiba-tiba suasana mendadak jadi mendung. Dan pohon beringin bergerak ranting dan daunnya perlahan. Dua anak tidak menyadari ada bahaya yang datang. Bayangan itu kemudian bergerak mendekati Adrian dan Wandi yang masih berdebat . Gerimis mulai datang, tidak mereka rasakan. Bahkan awan hitam sudah berkumpul di atas langit. Suasana mencekam di sekitar pohon beringin.“Sejak kapan seorang Adrian jatuh cinta? Waduhh ... bukan lu banget kayaknya. Gimana- gimana rasanya Brow? Wwwkkk ... gue ngakak seru nih.”“Lu ngledek gue? Awas saja! Gue sumpahin jadi bucin lu nanti.” Bentak Adrian dengan tangan mengepal.“Hahaha ... pengen ngrasain bucin. Makasih Brow, lu udah doain gue hahaha ....”“Kurang asem lu.”“Eh ... eh ... i-itu ada apa? Yan ... Yan ... tuh! A-ada di belakang lu!”“Apa an sih? Lu mulai lagi nih, gue sumpahin beneran lu jadi Kodok!”Wajah Wandi mendadak pucat, melihat sosok makhluk hitam berdiri tepat di belakang Adrian. Sedangk
Bulu kuduknya berdiri tetapi tidak bercerita kepada istrinya, karena takut istrinya pasti marah jika berkata bohong. Jumari yang penakut, tidak bercerita kepada Jamilah. Dilema, antara cerita dan tidak. Sebagai laki-laki egonya pasti yang di dahulukan. Gengsi jika dibilang pengecut, namun kenyataan memang seperti itu.“Abang kenapa cengar-cengir kayak gitu? Ada yang di sembunyikan dari istrimu?” Ucap Jamilah menatap tajam ke arah Jumari yang yang terlihat gugup.“Nggak pa-pa, udah yuk masuk kamar. Gue udah kangen nih, satu minggu nggak nengok.”“Ish ... apa-an sih Bang? Kayak pengantin baru aja. Memang masih palang merah kog, kayak gak pernah aja,” ucap Jamilah tersipu malu.“Tapi sekarang dah bisa dipakai kan?” Tangkis Jumari menggoda istrinya yang nampak masih segar dan muda. Meskipun tunggal di desa, Jamilah selalu rutin minum jamu dan perawatan alami.“Ih ... Abang suka gitu, jadi malu nih.” Jamilah menutup mukanya.Mereka akhirnya masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kam
Berulangkali Adrian mencoba mengusir kucing hitam dari tempatnya, namun sia-sia. Kucing itu tetap tidak bergeser dari tempatnya. Karena kesal, ia membiarkan kucing itu tetap duduk di sana dan kembali ke dalam kamarnya. Suasana mendadak panas, Adrian merasa ada seseorang membuntuti langkahnya dalam kegelapan. Terhenti sejenak, ia meraba dinding dan memastikan dirinya tidak tertabrak tembok. Merinding pasti merasa seperti ada orang yang lewat di sebelahnya.Lega, akhirnya sampai juga ia di dalam kamar. Melihat Wandi tidak ada, ia pikir ke kamar mandi. Merebahkan tubuhnya dan berharap lanjut ke dalam mimpi. Baru saja memejamkan mata, Adrian teringat kalau lampu dapur mati. Tidak mungkin Wandi masuk ke dapur. Batal acara tidurnya lantas kembali bangkit dan berjalan keluar, sambil tak lupa membawa ponselnya. Berjalan pelan menengok ke sekililing ruang tengah yang menuju dapur, tidak ia temukan Wandi di sana.“Ya ampun, kemana perginya si Kriwul ini? Nggak mungkin dia keluar rumah,” gumam
Hati Adrian bergejolak mengintip ke dalam kamar orang tuanya yang tidak terkunci. Matanya panas melihat kedua orang tuanya yang berada di atas ranjang bersama dengan kucing hitam yang ada di bawah kaki mereka. Kucing terlihat menjilat kaki Jumari yang terbuka tidak tertutup selimut, sedangkan pemiliknya tertidur dengan pulas. Mereka tidak menyadari jika ada makhluk asing yang sudah masuk ke kamarnya.“Astaga, bener yang gue lihat sekarang? Itu kucing yang tadi di dapur kayaknya.”Adrian berulangkali mengucek kedua matanya. Memastikan jika yang ia lihat itu adalah nyata. Kucing hitam tetap menjilat kaki dengan penuh semangat. Bahkan tidak menoleh ke arah pintu di mana Adrian berdiri saat ini. Suasana hati Adrian semakin tegang, saat kucing terlihat menggigit kaki Jumari. Jantungnya berpacu dengan kencang, melihat kedua orang tuanya terlihat tenang tak terusik sedikitpun.Bergemuruh hati Adrian, melihat pemandangan yang tidak biasa ini. Baru sekarang ini ada kucing berkeliaran di dalam
Perlahan-lahan Hesta menampakkan diri dengan wujud aslinya. Sontak kedua remaja tersebut berpelukan dan berteriak dengan keras. “HANTUUUUU ….” “HANTUUUUU ….” Semua penghuni rumah masuk ke kamar Adrian. Badrun yang baru sampai menyerobot lengan kedua orang tua Adrian yang berdiri di depan pintu. Mereka melongo melihat sosok Hesta yang menyeramkan dengan rambut terurai panjang. Tawa keras Hesta memenuhi kamar Adrian hingga orang -orang berlari keluar, tapi naas di depan pintu sudah ada kakek dan bapaknya Hesta yang menghadang mereka. Semua orang yang berada di dalam rumah berhenti dan saling berangkulan. Naluri Adrian merasa dekat dengan sosok menyeramkan yang ada di depannya. Indra penciuman yang tidak asing meski dengan penampakan yang berbeda. dengan hati berdebar, Adrian mendekati sosok yang tadi berada di kasur dan sudah mengikuti mereka hingga ke ruang tamu. “L-lo … lo Hesta bu-bu-kan?” tanya Adrian dengan gugup. “Ya Adrian, ternyata lo masih mengenali gue. Cinta memang inda
Kakek terus berusaha menenangkan Hesta yang gelisah melihat Adrian dan Wandi jatuh dari motor. Hesta terus meronta minta dilepaskan dari cengkeraman belenggu dunia lain dan tidak bisa keluar dari sana. Hingga kakek kewalahan dan memanggil penguasa alam ghaib untuk memberikan peringatan kepada Hesta. “Hesta, jika kamu tidak menurut apa kata kami. Maka dengan terpaksa kami akan mengeluarkan kamu dari dunia kita dan tidak bisa kembali lagi!” bentak penguasa alam ghaib yang sudah kesal dengan tingkah Hesta akhir-akhir ini. Hesta mengerutkan alisnya yang tebal dan hitam. Dia melihat ke arah kakek yang menatap tajam kepadanya. Hal yang tidak diinginkan ketika hati tidak sesuai dengan keadaan. Hesta terdiam tidak berani menatap penguasa alam dedemit yang tampak menyeramkan seolah ingin menghukumnya. Selama hidup di dunia dedemit baru kali ini Hesta membuat ulah dan merepotakan bangsanya sendiri. Dia hanya menuruti egonya untuk bisa bersatu dengan bangsa manusia yang sudah mencuri hatinya.
Wandi menatap Adrian dengan tajam. Tidak percaya jika sahabatnya tetap berhubungan dengan makluk astral tersebut. Janjinya dengan orang tua Adrian tidak akan diingkari, dia akan tetap menjaga Adrian dari makhluk Astral yang selama ini menganggu hidupnya. Balapan motor tetap berlangsung. Sementara Kakek yang yang berada di belakang penonton tetap berdiri mengawasi Adrian dan Wandi yang berada bersebrangan. Remaja itu hanya diam, dia sudah salah tidak bisa menghindar dari Hesta. “Wan, kira-kira jika aku kembali bertemu dengan Hesta, Kakeknya marah tidak?” tanya Adrian. “Lo udah kedanan bener sama Demit itu. Susah ngomong ama, lo. Di mana-mana, bukan hanya kakeknya Demit itu yang marah, tapi orang tua lo juga pasti marah. Lo masih waras, nggak sih?” “Ya … mo gimana lagi … Hestanya yang nemui gue. Masak gue tolak. Adan lo tahu, hawa saat ketemu dia sangat ehem …” kata Adrian sembari memejamkan mata. Pletak “Udah kena guna-guna anak ini. Tidak bisa dibiarkan.” Wandi kemudian menyeret
Selagi Ardi berteriak dari atas tangga, Wandi yang ada di bawah terkejut. Tangan yang memegang tangga menyenggol dan mengakibatkan tangga oleng dan ambruk. Beruntung Ardi memegang tembok bagian atas. Dia tidak terjatuh tapi bergantung di dinding dan celana pendek yang melorot hingga terlihat pantat. “Woii!! Lu malah ketawa, buruan tangan gue udah pegel!” teriak Ardi melihat Wandi tidak segera menolongnya. Dengan menahan tawa, Wandi segera mengambil tangga besi dan menempatkan tepat di sebelah Ardi yang menggantung. Setelah kaki Ardi menginjak tangga, buru-buru memberitahu jika Adrian dalam keadaan seperti orang tidur. Tapi naas belum sempat Ardi melihat kondisi di dalam kamar mandi, pintu terbuka mengarah keluar an menghantam tangga. Otomatis tangga yang menjadi injakan Ardi ambruk lagi dan Adri menggantung di dinding. “Astagahh …! Wandi!! Kalian tega ama guee!!” teriaknya dari atas. Adrian yang baru keluar dari dalam, tidak menghiraukan kehadiran kedua temannya. Membuat Ardi dan W
Adrian membuka mata dan marah karena tubuhnya sudah basah. Dia menatap nanar ke arah Wandi yang berdiri tepat di sebelah kasurnya. Dengan cepat pemuda itu berdiri dan mencengkeram krah bajunya. Tapi belum sempat menarik baju Wandi, seseorang menariknya ke belakang. Jumari dengan cepat menarik tubuh anaknya menjauh dari Wandi.“Kamu ini apa-apa an? Mau berkelahi? Udah ditolongin masih masih tidak sadar,” kata Jumari dari samping anaknya dengan menahan tangan Adrian.“Bapak! Dia sudah menyiram aku dengan air. Kurang ajar benget, tidak sopan. Nih lihat, kasurku basah baju juga basah!” kata Adrian dengan dengan napas memburu.“Duduk!” perintah Jumari menarik Adrian duduk di tepi ranjang yang basah karena air. “Sekarang kamu liat, tuh jam berapa?” tangan Jumari menunjuk ke arah jam yang ada di meja.“Astagahh … itu bener jamnya?”Adrian melongo melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 11.00. Itu artinya dia sudah melewatkan waktu untuk bermain balap motor pagi itu. Padahal acara lomb
Sementara di tempat lain, Adrian dan kedua temannya yang kesal akibat ulah Wandi segera pergi dari stan penjual martabak. Mereka menuju ke arah parkiran yang jaraknya agak jauh dari tempat asal berteduh. Niat mereka bertiga hendak meninggalkan Wandi dan Tina, yang sudah curang dan tidak lagi memikirkan teman. Setelah mendapatkan motor dari tukang parrkir, ketiganya bergegas melajukan kendaraan menuju desa tempat tinggal mereka. Sepanjang jalan, baik Adrian dan kedua temannya memaki Wandi yang tidak setia kawan ucapan kotor. Tidak sadar, jika dari arah belakang ada bayangan hitam mengikutinya. Bayangan perempuan dengan rambut panjang menyeringai menatap Adrian dan kedua teman yang melajukan sepeda motor dengan kencang. Hujan gerimis di tengah malam tidak mereka perdulikan, hingga laju kotor berhenti di perbatasan desa. “Yan, gue kog merasa ada yang membuntuti kita,” kata Ardi sambil bersedekap. “Kagak usah mikir yang aneh-aneh. Gue bingung, entar gimana ngomong sama Emaknya Wandi dan
Tiang Stan martabak yang terbuat dari besi, seketika bergoyang. Dua muda-mudi mendadak panik dan saling memeluk. Hidung Tina merasakan bau tidak enak dari Wandi, matanya menunduk melihat celana Wandi yang basah. Seketika Tina mendorong pemuda itu hingga jatuh ke tanah yang basah akibat terkena air hujan. Wandi bersungut, mau marah tidak mungkin dengan ceweknya. Memang dia merasa pantas untuk didorong karena sudah membuat Tina jijik dengannya. Bibir tebal Wandi mengurai senyum sambil meringis menahan ngilu di pantat. Dengan menarahn berat badan dia berusaha berdiri dan mendekat ke Tina yang gemetar melihat sosok di di depan yang menyeramkan. “Sabar, Tin! Gue pasti akan lindungi, Elo. Sory, i-ini celana ….” “U-udah, Wan! Buruan, kita pergi dari sini! Kayaknya emang ….” Wandi segera menarik tangan Tina untuk diajak keluar dari stan penjual martabak. Suasana di luar terlihat sepi, bahkan tidak ada orang yang lalu lalang seperti saat masuk ke stan martabak. Bulu kuduk Wandi dan Tina seke
Adrian yang keluar dari warung soto, merasakan hal yang terasa aneh di sekitarnya. Suasana malam yang ramai terasa sunyi bagi Adrian. Hujan rintik mulai turun membuat ketiga pemuda itu berteduh di bawah stan penjual martabak, yang ada di dekat parkir sepeda motor. Mereka mulai bosan karena Wandi dan Tina tidak juga muncul sementara waktu malam semakin bergulir hingga lebih dari pukul 22.00. Bukan bertambah sepi alun-alun kota, tetapi semaki ramai karena besuk adalah Minggu. Hal ini tentu tidak seperti yang dirasakan ketiga pemuda yang sekarang mulai menghisap rokok untuk menghilangkan kantuk dan jenuh menunggu Wandi yang tidak juga muncul. Sesekali tertawa dengan celoteh murahan gaya anak muda. “Yan, Lo kalau punya cewek lagi tipenya kayak apa?” tanya Ardi menepuk bahu Andrian. Dia ingat betul, jika temannya ini dulu alergi sekali dengan yang namanya cewek, apalagi yang manja seperti Tina. “Lo seperti kagak ngerti gue aja. Lo sendiri mau tipe kayak siapa? Pasti sama kalian berdua,
“Wandi, lo kagak apel ke rumah Tina?” ucap Adrian sambil mengunyah roti jawa rasa singkong di teras rumah.Semenjak kejadian hilangnya Adrian, Wandi semakin dekat dengan Tina. Gadis yang awalnya menyukai Adrian kini berbalik arah, nengok ke temannya karean merasa diabaikan oleh Adrian. Meskipun wajah Wandi pas-pasan, tetapi Tina nyaman jalan bersama dengan Wandi. Keduanya sangat kompak dan sering jalan bersama, hingga melupakan Adrian yang belum punya pasangan.“Lo tadi kayaknya bilang mo pergi ama Emak. Emang mau ke mana? Udah punya gebetan baru, kayaknya?” tanya Wandi mengunyah roti yang rasa singkong dengan lahap.“Suntuk di rumah, apa-apa diawasin terus. Udah kayak satpam 24 jam tuh Emak sama Bapak. Yuk kita ke mana gitu? Ada pasar malem kagak? Mumpung malam minggu, sepi di rumah. Emak ama Bapak, lagi sibuk di kamar.”Wandi tertawa,”Lo makanya cari cewek! Jangan inget demit itu lagi. Yuk, cabut!”Sementara di rumah Adrian terlihat sangat tenang. Kedua orang tuanya membiarkan anak