Home / Romansa / Godaan sang tante / Bab 5 Terlanjur Bangun

Share

Bab 5 Terlanjur Bangun

Author: TnaBook's
last update Last Updated: 2025-02-14 03:31:48

Revan menghela napas panjang saat memarkir mobil di halaman vila mewah itu. Udara Puncak yang sejuk menusuk kulit, membawa aroma pinus dan dedaunan basah. Vila itu berdiri megah, dengan desain modern minimalis dan jendela besar yang mencerminkan cahaya sore.

Hari itu hari Sabtu dan Elma menelponnya pagi-pagi, memintanya untuk mengantarnya ke Puncak.

Ia melirik Elma yang masih diam di kursi penumpang, tatapannya kosong ke arah luar. Wanita itu tampak seperti patung porselen, cantik, tetapi dingin dan tak tersentuh.

"Revan, bawa kopernya ke dalam," perintah Elma tiba-tiba tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar, tanpa emosi.

"Baik, Bu," jawab Revan singkat, segera keluar dari mobil dan membuka bagasi.

Satu buah koper berukuran sedang terisi barang-barang Elma. Dan wanita cantik itu kini keluar dari dalam mobilnya. Berjalan dengan begitu anggun.

Jeans biru press body memperlihatkan bokong sin tal Elma yang bulat berisi. Revan menelan ludah melihatnya.

Ia berusaha mengusir bayangan-bayangan liar dari benaknya, tapi itu sangat sulit.

Dia lelaki normal dan sudah punya pengalaman bercinta dengan beberapa orang wanita. Meski bukan seorang playboy tapi Revan dikelilingi banyak wanita yang akan dengan sukarela meyerahkan dirinya.

"Selamat datang, Nyonya Elma," sapa Mang Darman, penjaga vila, dengan senyum ramah di depan pintu.

"Siang, Mang Darman," jawab Elma singkat sambil melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata cokelat yang tampak lelah.

"Siapkan kamar tamu untuk sopir saya."

perintahnya.

Revan hanya diam. Ia mengikuti di belakang Elma, masuk ke vila yang terasa terlalu besar untuk hanya dihuni oleh mereka bertiga.

Elma berjalan menuju ruang tamu dan langsung duduk di sofa besar sambil melepaskan sepatu hak tingginya. Tanpa bicara, ia membuka sebotol anggur dari meja di dekatnya, menuang segelas penuh, lalu menyesapnya perlahan.

Revan tertegun menatap wanita cantik yang menyimpan sejuta luka dari sorot matanya itu.

"Duduklah Revan." Elma memberi isyarat agar Revan duduk di sofa di dekatnya.

Revan pun duduk dengan canggung dan hanya tertunduk tak berani menatap wajah Elma.

"Kamu tahu kenapa aku mengajakmu ke sini?" tanya Elma kemudian.

Revan menggeleng.

"Ini adalah bagian dari tugasmu menjadi selingkuhanku," ungkap Elma dengan santai.

Revan terdiam, terkejut mendengar kalimat itu.

"Tugas? Tugas apa, Bu?" tanyanya dengan ragu.

"Kita akan lihat nanti malam. Buktikan saja kalau kamu mampu." Elma tersenyum tipis lalu pergi dari hadapan Revan yang masih terpaku.

Otak Revan masih nge-lag. Ia berusaha untuk mencerna maksud kata-kata Elma barusan.

"Buktikan nanti malam? Apa dia akan mengetes keperkasaan si Otong?" gumam Revan melirik ke arah senjata pusaka miliknya yang langsung tegang saat mendengar kata-kata Elma barusan.

Kalau memang begitu, ia akan dengan senang hati melakukannya. Siapa yang akan menolak ajakan dari Tante cantik seperti Elma.

Revan pun menyeringai puas membayangkan adegan mesra yang akan dia lakukan nanti malam bersama Elma.

Pukul tujuh malam selepas makan malam.

Revan mengikuti langkah Elma dengan sedikit ragu. Perempuan itu mengajak Revan pergi ke rooftop.

"Apa mungkin dia ingin melakukannya di rooftop? Ah, mungkin dia punya fantasi liar yang menyukai alam bebas." Batin Revan mulai membayangkan kalau ia akan menik mati tubuh mo lek Elma di atas sana. Sebuah tantangan yang membuatnya penasaran.

Tidak masalah dimanapun tempatnya yang penting ia bisa menghabiskan waktunya bersama Elma.

Namun Revan tertegun saat mereka tiba di rooftop, pemandangan yang disajikan membuatnya takjub. Meja kecil dengan lampu-lampu temaram menyala lembut, menciptakan suasana yang begitu romantis. Angin malam yang sejuk menyapu lembut, menambah kesan hangat di tempat itu.

"Kapan Anda menyiapkan semua ini Bu?" Revan menatap dekorasi itu dengan heran.

Elma tersenyum tipis, lalu duduk di salah satu kursi,

tangannya dengan santai menunjuk kursi di seberangnya.

Menyuruh agar Revan duduk di sana.

"Aku punya banyak waktu untuk mempersiapkannya, Revan. Duduklah."

Revan menuruti perintah itu, meski matanya tak bisa lepas dari penampilan Elma. Gaun hitam simpel yang dikenakan wanita itu tampak membingkai tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan seksi tanpa usaha berlebih. Bahkan tanpa riasan tebal, aura memikat Elma tetap memancar kuat.

Di atas meja, sebotol wine merah sudah terbuka, dengan dua gelas anggur yang siap diisi. Elma

menuangkan wine ke dalam gelasnya, lalu ke gelas Revan.

"Kamu minum, kan?" tanyanya sambil menyodorkan gelas itu padanya.

"Jarang sekali. Tapi... mungkin untuk malam ini,

saya akan mencobanya," jawab Revan sambil mengambil gelas itu dengan hati-hati.

Elma memandang Revan dengan tatapan dingin,

seperti biasa, namun malam itu ada sesuatu yang berbeda.

Ada kesan lembut yang hampir tak terlihat di balik sikap dinginnya.

"Anggap ini sebagai perayaan, Revan. Aku ingin menikmati malam ini."

Revan mengangguk perlahan, menyeruput sedikit anggur dari gelasnya.

"Apakah ada hal baik yang sedang Ibu rayakan?"

tanya Revan masih dalam batas kesopanannya.

Elma mendesah, memutar gelas anggur di tangannya sambil menatap langit malam.

"Tidak selalu hal baik yang harus kita rayakan.

Kadang kegagalan juga perlu kita rayakan bukan?" Elma tersenyum getir.

Kata-kata itu membuat Revan terdiam. Ia menatap wajah cantik yang terlihat sendu itu. Ia tahu rasa sakit pasti tengah dirasakan oleh wanita itu. Namun Revan memutuskan untuk pura-pura tidak tahu saja.

"Orang bilang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Dari kegagalan ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Nikmati saja prosesnya dan jangan biarkan hal itu membuat hidup kita terpuruk. Bangkit dan buktikan kalau kita mampu bersinar terang." Revan

memberanikan diri menyampaikan prinsip yang selama ini ia anut.

Elma tersenyum mendengarnya. Kembali ia sesap wine di tangannya.

"Pintar berkata-kata juga kamu," sindirnya yang membuat Revan tersipu.

Elma meraih ponselnya dan memutar satu buah lagu klasik yang cukup enak untuk dipakai berdansa.

"Temani aku dansa Revan." Elma bangun dari duduknya dan mengulurkan tangannya pada Revan yang cukup kagum dengan tindakan Elma.

Tanpa pikir panjang lelaki tampan itu berdiri dan menggenggam tangan Elma lalu mengajaknya berdansa.

"Tapi Bu, saya tidak pandai berdansa."

Elma hanya mengangkat alis, sedikit tersenyum.

Aku juga tidak meminta tarian yang sempurna. Ikuti saja langkahku, Revan."

Jari-jari wanita itu terasa lembut namun tegas, membimbing Revan ke tengah area rooftop. Musik lembut dari ponsel Elma mulai terdengar, menambah suasana romantis yang semakin membuat Revan gugup.

Elma melingkarkan tangannya ke bahu Revan, sementara Revan dengan ragu-ragu meletakkan tangannya di pinggang Elma.

Tubuh wanita itu terasa hangat, aroma parfumnya yang lembut menyeruak, membuat jantung Revan berdetak lebih cepat. Dia mencoba menjaga fokus, tetapi sulit baginya untuk tidak mengabaikan pesona Elma yang begitu kuat.

"Kamu terlihat tegang, Revan," komentar Elma sambil tersenyum kecil. "Santai saja."

Revan mengangguk, mencoba mengendalikan

dirinya.

"Maaf, Bu. Saya hanya belum terbiasa dengan situasi seperti ini." Revan nyengir, kenapa ia tiba-tiba tegang begini. Padahal selama ini para gadis yang mendekatinya yang selalu ia buat tegang.

Apalagi si Otong di bawah sana seperti tidak bisa di

ajak kompromi membuat celananya terasa semakin sesak.

Mereka berdansa dalam diam beberapa saat, sampai Elma memecah keheningan.

"Revan apa pacarmu tidak akan marah kalau melihat kamu jalan sama aku nantinya?"

Pertanyaan itu membuat Revan sedikit terkejut.

"Emm, saya tidak tahu Bu. Saya belum membicarakan hal ini dengannya," jawab Revan jujur.

"Nggak apa-apa aku hanya ingin tahu. Aku harap kamu bisa memberi pengertian pada pacarmu tentang pekerjaan dan kesepakatan kita. Aku tidak ingin dilabrak kekasihmu kalau dia lihat kamu jalan sama aku." Pesan Elma.

"Baik Bu," jawab Revan dengan suara pelan. Dia merasa sedikit bersalah karena berada di situasi seperti ini, sementara Dinda tidak tahu apa-apa.

Elma tersenyum tipis, menatap mata Revan dengan sorot yang sulit ditebak.

"Bagus. Aku tidak peduli kamu punya pacar atau tidak. Selama kamu bisa memberi pengertian kepada pacarmu tentang hubungan kita, aku tidak akan mempermasalahkannya."

Revan menelan ludah, bingung harus merespons bagaimana. "Maksudnya hubungan kita sebagai apa, Bu?"

Elma tertawa pelan, nada suaranya dingin namun menawan.

"Sebagai selingkuhanku. Kamu sudah tahu itu, kan?"

Revan tidak bisa berkata apa-apa. Di satu sisi, dia merasa terjebak, tapi di sisi lain, pesona Elma begitu kuat hingga sulit baginya untuk menolak.

Revan hanya mengangguk. Daya tarik Elma memang susah ditolak apalagi dengan gaun yang dia pakai sekarang semakin menunjukkan kalau Elma mempunyai nilai di atas rata-rata.

Revan menarik pinggang ramping Elma secara perlahan. Namun Elma tidak menolaknya. Kedua mata Revan tertuju pada bibir sen sual milik wanita cantik itu.

Menggemaskan. Ia ingin sekali me lu mat dan mencicipi rasanya. Namun tidak mungkin dia melakukannya tanpa izin dari yang punya. Bisa digo rok dia nanti.

"Kalau boleh saya tahu, kenapa Ibu berselingkuh?"

tanya Revan pura-pura tidak tahu.

"Jangan banyak tanya sesuatu yang bukan urusan kamu," bentak Elma dengan nada tegas.

Revan langsung mengatupkan bibirnya. Tak berani lagi untuk bertanya.

Namun beberapa saat kemudian, Elma tersenyum

lagi. Tangannya kini justru berkalung pada leher Revan.

"Sorry kalau aku membuat kamu kaget." Elma sedikit melunak. Wajar jika Revan menanyakan hal itu.

"Maaf Bu kalau saya lancang." Revan tertunduk tapi pandangannya justru bertumpu pada melon segar milik Elma yang begitu menantang. Ukurannya cukup besar dan pastinya terlihat masih kencang dan padat.

Jantung Revan berdebar, lama-lama bisa gila dia kalau terus menerus berada di situasi ini.

"Kamu kenapa Revan?" tanya Elma mengerutkan alisnya melihat tingkah aneh Revan yang memalingkan wajahnya ke arah lain.

"Nggak apa-apa Bu." Bohong Revan.

Elma tertegun sejenak dan menyadari kalau barusan Revan memperhatikan dadanya dan membuat pipi Bu wanita itu merona merah.

"Sudah malam, aku mau tidur." Elma mendadak melepaskan pelukannya dan berjalan mengambil ponselnya.

"Bu...!" Revan terbengong.

Yakin nih sampai di sini saja?

Pria itu melihat Elma turun dan kembali masuk ke dalam rumah.

Dengan langkah gontai, Revan pun kembali masuk ke dalam rumah mengikuti Elma yang menghilang di balik pintu kamarnya.

"Anjrit mana udah terlanjur on lagi." Revan mengarahkan pandangannya ke arah bawah. Celananya terasa sesak dan mau tidak mau dia harus pergi ke kamar mandi untuk menuntaskan has ratnya.

Revan berjalan melewati kamar Elma menuju kamar tamu yang sekarang menjadi kamarnya.

Namun saat melewati kamar Elma dia mendengar sebuah suara yang mencurigakan.

"Aaaahhh... Ssshh...!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Godaan sang tante   Bab 6 kissme

    "Oouuhhh... ssshh...!"Revan berhenti sejenak di depan pintu kamar Elma.Suara era Ngan itu semakin jelas dan menggelitik telinga Revan.Lelaki itu mendekat ke arah pintu untuk mendengarkan dengan seksama. Suara itu samar tapi cukup jelas baginya. Era ngan seorang wanita yang seolah tengah melakukan adegan percintaan dan sangat menikmatinya.Alisnya mengernyit. Tidak mungkin ada orang lain di dalam kamar Elma, pikirnya. Ia tidak melihat siapapun masuk ke dalam kamar itu selain Elma."Mama mungkin Mang Darman masuk ke kamar ini."Revan tidak percaya jika penjaga vila itu yang tengah memuaskan ElmaDibanding Mang Darman, dirinya merasa jauh lebih baik, lebih tampan dan lebih perkasa. Masa iya dirinya kalah sama Mang Darman.Rasa penasaran langsung menguasai dirinya. Dengan langkah hati-hati, Revan mendekatkan tubuhnya ke pintu. Ia menempelkan telinganya ke permukaan pintu kayu itu, mencoba memastikan apa yang baru saja didengarnya."Oouuh... yeeaahh..." Suara itu masih terdengar. Era ng

    Last Updated : 2025-02-15
  • Godaan sang tante   Bab 7 aku akan memuaskan

    Pagi itu suasana di vila berubah mencekam. Matahari baru saja terbit, namun suara jeritan Elma terdengar memekakkan telinga.Elma berdiri dengan wajah merah padam, mengenakan selimut tebal yang ia lilitkan di tubuhnya.Napasnya memburu, matanya dipenuh amarah."REVAN!" serunya dengan suara keras, membuat Revan yang masih terlelap di lantai terkejut setengah mati.Revan langsung bangkit sambil mengucek matanya. Ada apa, Bu? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya dengan nada bingung."Ada sesuatu yang terjadi?" Elma mengulang pertanyaan itu dengan nada kesal."Kamu masih berani bertanya? Apa yang sudah kamu lakukan padaku semalam?" bentaknya dengan lantang.Pagi itu Elma begitu panik karena saat terbangun tubuhnya sudah dalam keadaan polos tanpa mengenakan sehelai benangpun. Ia menuduh Revan telah melakukan mele cehkannya. Namun wajah Revan juga malah terlihat bingung."Bu, tenang dulu saya bisa menjelaskannya." Revan tampak panik. Ia berusaha mendekat namun Elma melangkah mundur. "Ja

    Last Updated : 2025-02-15
  • Godaan sang tante   Bab 8 Menerima tawaran

    "Sayang, kamu serius dipecat?" tanya Dinda tercengang saat tahu kalau Revan dipecat dari pekerjaannya. Padahal baru beberapa hari saja dia bekerja."Iya, Din." Revan mengangguk sambil menyeruput kopi hitamnya. Malam itu Revan mengajak Dinda untuk nongkrong di cafe untuk sekedar menghibur dirinya yang masih kesal akibat pemecatan yang Elma lakukan."Kok bisa? Memangnya kamu bikin kesalahan apa?" cecar Dinda penasaran."Aku juga nggak ngerti salahku dimana. Yang jelas aku ngerasa ini nggak adil." Revan bercerita tanpa menceritakan kalau dia dipecat karena berusaha memuaskan Tante Elma saat dia mabuk. Dia tidak mau membuat Dinda cemburu."Kasihan banget sih kamu Sayang." Dinda menyentuh tangan Revan yang berada di atas meja, berusaha memberinya semangat."Tetap semangat Yang. Aku yakin ada pekerjaan lain yang lebih baik lagi." Dinda coba menghibur."Ya, semoga saja." Revan menghela napas panjang, lalu menatap Dinda."Makasih ya Sayang, kamu memang yang terbaik." Revan tersenyum dan menge

    Last Updated : 2025-02-15
  • Godaan sang tante   Bab 9 Kesayangan Tante

    Semua mata tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke ruangan VIP klub malam tersebut. Dan orang itu telah membuat tubuh Revan seketika menegang."Elma...," gumamnya pelan.Itu memang Elma. Mantan majikan yang telah memecatnya tanpa alasan jelas. Wanita itu berjalan anggun memasuki ruangan dengan mengenakan dress warna merah elegan yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Aura percaya dirinya seolah membuat waktu berhenti sejenak.Badru yang duduk di sebelah Revan, menyadari perubahan ekspresi kawannya. Ia mengikuti arah pandangan Revan, kemudian menyikut lengannya dengan pelan."Eh, bukannya itu mantan bosmu?" tanya Badru sambil menyeringai tipis. Ia masih mengingat wajah Elma yang pernah dilihatnya lewat foto yang diberitahu Revan.Revan mengangguk pelan, berusaha tetap tenang meskipun hatinya bergejolak."Iya, itu dia," jawabnya singkat, dengan nada setengah berbisik."Wah, dunia ini sempit juga ya. Jadi sekarang dia juga jadi pelanggan di sini? Seru nih," katanya dengan nada be

    Last Updated : 2025-02-15
  • Godaan sang tante   Bab 10 Malam ini temani aku

    "Siapa kamu?"Revan berhenti sejenak, menatap sosok pria yang baru masuk ke rumah itu. Pria tersebut mengenakan setelan rapi, wajahnya memancarkan kelelahan, namun matanya tajam memindai sosok Revan.Revan langsung merasakan ketegangan. Ia melirik Elma yang berada dalam gendongannya. Wanita itu tampak sedikit kaget, tetapi dengan cepat memasang ekspresi datar."Revan, turunkan aku," bisiknya pelan.Revan menurut, ia menurunkan dari Elma dari gendongannya meskipun Elma tidak bisa berdiri dengan tegak dan harus berpegangan pada bahu Revan.Aditya berjalan mendekat dengan langkah pelan, pandangannya tajam tertuju pada Elma."Siapa dia dan kenapa kamu berani sekali membawa dia ke rumah ini?" tanyanya dingin sambil menatap langsung ke arah Elma dan Revan.Revan membuka mulut untuk menjawab, tetapi Elma mengangkat tangan, menghentikannya. Ia maju selangkah, berdiri di antara Revan dan Aditya."Ini bukan urusanmu, Aditya," jawab Elma dengan suara tenang namun penuh penekanan."Aku berhak tah

    Last Updated : 2025-02-15
  • Godaan sang tante   Bab 11 chek1n

    Tatapan Aditya terlihat kosong, di depannya komputer tengah menyala namun pandangan Aditya tidak mengarah ke sana.Pikirannya masih dipenuhi dengan bayangan Elma yang sudah berani mengajak lelaki lain ke rumah mereka. Ini seperti menjadi sebuah kejutan besar baginya karena selama ini Elma tidak pernah melakukan pemberontakan atau berani melawannya apalagi berselingkuh darinya."Sial!" Aditya melemparkan vas bunga yang ada di atas mejanya hingga pecah berantakan di atas lantai."Arrrgghh!" geramnya. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba saja ia merasa sangat marah dan tidak rela jika Elma berhubungan dengan pria lain di belakangnya.Pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka. Arumi yang bekerja sebagai sekretaris pribadinya tiba-tiba masuk dan terkejut saat mendapati ruang kerja Aditya yang berantakan."Sayang... ada apa ini? Apa kamu ada masalah?" tanya Arumi seraya mengunci pintu ruangan agar tidak ada karyawan lain yang melihat kekacauan ini.

    Last Updated : 2025-02-16
  • Godaan sang tante   Bab 12 Gagal Menanam

    "Ke hotel?" Revan tersentak."Ya, ke hotel. Aku tidak mau pulang ke rumah. Aku butuh waktu untuk sendiri." Jawaban dari Elma membuyarkan pikiran me sum Revan yang sempat mengira kalau Elma akan mengajaknya ena-ena di sana."Baik." Revan mengangguk dan membawa mobilnya menuju ke sebuah hotel bintang lima yang diinginkan oleh Elma.Tiba di hotel yang dituju. Revan mengikuti langkah Elma saat mereka memasuki hotel yang mewah itu.Dari lantai dasar, mereka langsung diarahkan ke lift yang menuju lantai paling atas. Tanda di depan pintu lift menunjukkan bahwa mereka sedang menuju President Suite, kamar paling eksklusif yang hanya dipesan oleh tamu-tamu kelas atas.Revan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.Orang kaya seperti Elma sepertinya sudah terbiasa menghabiskan banyak uang untuk kesenangannya. Berbeda dengan dirinya yang paling banter nongkrong di warung kopi untuk mengusir kejenuhan."Kenapa kamu senyum-senyum be

    Last Updated : 2025-02-16
  • Godaan sang tante   bab 13 cari pelampiasan

    "Anjrit, nggak bisa gue kalau kayak gini." Revan berjalan mondar-mandir di dalam kamar kostnya.Akibat ulah Elma yang tidak bertanggung jawab kini otak Revan terasa ngeblank. Dia gelisah dengan wajah yang frustasi."Gue harus telepon Dinda." Revan meraih ponselnya dan segera menghubungi nomor kekasihnya itu. Meski malam telah menunjukkan pukul 10 tapi ia harap Dinda masih belum tidur."Kenapa Yang?" Suara Dinda terdengar di ujung ponsel."Din, boleh nggak aku ke kost-an kamu sekarang?" tanya Revan dengan nada mendesak."Sekarang? Udah malam Yang.""Please Sayang, nggak tahan nih." Revan memelas agar mendapat izin dari Dinda."Ya udah deh Yang ke sini aja." Dinda menutup telepon Revan.Pria tampan itupun tersenyum senang dan segera menyambar kunci motornya. Lalu bergegas ngebut menuju kost-an Dinda."Sialan! Gara-gara Elma gue jadi kayak gini." Revan lagi-lagi menggerutu karena hasratnya masih harus tertahan.Tak berapa lama motor bututnya berhenti di depan kost-an Dinda. Kost-an itu m

    Last Updated : 2025-02-17

Latest chapter

  • Godaan sang tante   Bab 51

    "Kalian semua bodoh! Bagaimana seseorang bisa menghilang begitu saja?!" Aditya menggebrak mejanya dengan keras. Beberapa anak buah Aditya tersentak kaget tapi apa mau dikata, wanita bernama Clara itu memang tidak bisa mereka temukan di manapun. Entahlah dimana wanita itu bersembunyi. Yang jelas seperti ada seseorang yang kuat yang melindunginya. "Maafkan kami Pak. Kami sudah berusaha tapi semuanya benar-benar gelap. Bahkan informasi tentang wanita itupun sudah dihapus. Kami benar-benar kesulitan untuk menemukannya." Salah satu anak buah Aditya menjelaskan situasi yang sedang mereka hadapi. "Brengsek kalian semua!" Aditya meradang dengan wajah yang merah padam menahan amarah. "Pergi kalian semua dari sini!" Aditya menguasir semua anak buahnya dari ruang kerjanya. "Bagaimana bisa dia menghilang begitu saja?" gumam Aditya dengan nada frustrasi. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, memijat pelipis dengan keras. Segala upaya yang ia lakukan untuk menemukan perempuan itu tidak membawa

  • Godaan sang tante   Bab 50

    Pagi itu, dunia Aditya hancur berantakan. Berita tentang dirinya viral di media sosial, memperlihatkan rekaman video asusilanya dengan Clara. Berita tersebut menyebar seperti api, menghiasi tajuk utama di berbagai portal berita dan menjadi topik pembicaraan di mana-mana. Aditya duduk di ruang kerjanya dengan wajah tegang. Ponselnya terus berdering, pesan masuk dari klien, mitra bisnis, hingga keluarganya. Ia tidak berani membuka satu pun pesan itu. "Bagaimana ini bisa terjadi?" geramnya sambil membanting ponsel ke meja. Beberapa anak buahnya berdiri dengan wajah cemas. Mereka telah menerima perintah dari Aditya untuk menghapus video tersebut secara permanen. Namun, upaya mereka gagal karena video itu sudah terlanjur diunduh oleh banyak orang. "Maaf, Pak Aditya. Kami sudah mencoba segalanya, tapi video itu terlalu cepat menyebar," ucap salah satu anak buahnya dengan suara gemetar. Aditya memejamkan mata, menahan amarah yang membara di dadanya. Aditya terdiam, tidak mampu menjawa

  • Godaan sang tante   Bab 49

    lanjutan dari bab sebelumnya ** tender dari berbagai klien. Ia mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi, pandangannya kosong menatap layar laptop yang menampilkan email-email penolakan dari mitra bisnis. "Arumi, di mana kamu sebenarnya?" gumam Aditya dengan nada penuh keputusasaan. Sudah berminggu-minggu ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Arumi, namun hasilnya nihil. Tidak ada petunjuk, tidak ada jejak, bahkan kabar samar sekalipun. Satu per satu anak buahnya yang tidak mampu memberikan hasil langsung dipecat tanpa ampun. Kini ia merasa sendirian, tenggelam dalam masalah yang semakin menumpuk. Tidak hanya Arumi yang menjadi beban pikirannya. Sidang perdananya semakin dekat, dan itu membuatnya tertekan. Kasus gugatan perceraian Elma membuat reputasi bisnisnya memburuk. Para klien mulai kehilangan kepercayaan, proyek besar yang seharusnya menjadi tulang punggung perusahaan kini terancam batal. "Aku bisa gila kalau terus begini," desisnya sambil menenda

  • Godaan sang tante   Bab 48

    Elma duduk di ruang praktik Karina, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang tidak biasa, sementara Karina memandang sahabatnya itu dengan penuh perhatian. "Elma, apa saja yang kamu rasakan sekarang?" tanya Karina lembut sambil menyentuh tangan Elma. Elma menghela napas panjang sebelum menjawab. Aku tidak tahu, Karin. Akhir-akhir ini aku merasa aneh. Kadang aku mual tanpa alasan, aku jadi terlalu sensitif terhadap bau, dan... rasanya tubuhku jadi mudah lelah." Karina tersenyum tipis, tetapi sorot matanya menunjukkan keyakinan. "Elma, aku bukan mau menakutimu, tapi dari apa yang kamu ceritakan, aku rasa . kamu sedang hamil." "Benarkah?" Elma membelalakan matanya. Karina tersenyum merekah. "Aku memang belum pernah merasakan rasanya hamil tapi setiap pasienku yang hamil keluhannya rata-rata seperti itu. Kenapa tidak coba kita periksa aja?" Karina tampak antusias. "Apa mungkin aku hamil?" Elma masih tidak percaya.

  • Godaan sang tante   Bab 47

    Agus, anak buah terpercaya Aditya, menjalankan perintah majikannya dengan penuh kehati-hatian.Setelah memastikan suasana di sekitar apartemen Karina sepi, dia segera bergerak. Dengan keahliannya dalam membuka kunci otomatis, pintu apartemen itu terbuka tanpa menimbulkan suara sedikit pun.Namun, saat Agus menyelinap masuk, ia mendapati apartemen itu dalam keadaan kosong. Tak ada tanda-tanda aktivitas, tak ada suara, dan tak ada siapa pun di dalam.Lampu di ruang tamu menyala redup, dan aroma ruangan terasa netral, seperti baru saja dibersihkan. Agus memperhatikan sekeliling dengan cermat. Rak buku rapi, sofa tampak tidak tersentuh, dan meja makan kosong tanpa peralatan apa pun. Dia mengerutkan kening, merasa ada yang aneh."Ke mana mereka?" pikir Agus.Agus mulai memeriksa ruangan satu per satu. Ia masuk ke kamar utama, membuka lemari, bahkan memeriksa bawah tempat tidur. Namun, tak ada satu pun barang yang memberi petunjuk tentang keberadaan Karina atau Arumi.Di dapur, Agus menemuk

  • Godaan sang tante   Bab 46

    "Surat apa ini, Aditya?" suara Tuan Wirya menggema, dingin namun penuh amarah. "Apa Elma akan menceraikanmu?"Aditya tertegun. Kata-kata itu seperti petir yang menghantam dadanya. Dia menatap amplop di tangan ayahnya dengan perasaan bercampur aduk, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.Namun sebelum dia sempat menjawab, Tuan Wirya melempar surat itu ke meja di depannya. "Lihat sendiri apa yang telah kamu lakukan, Aditya!" bentak Tuan Wirya dengan suara yang semakin meninggi.Aditya, dengan tangan sedikit gemetar, meraih surat itu. Matanya mulai membaca, dan wajahnya perlahan berubah pucat. Isi surat itu adalah surat pengajuan gugatan perceraian yang dilakukan oleh Elma terhadapnya. Berikut jadwal sidang perdana yang harus ia hadiri.Aditya menatap nanar kertas di tangannya dengan tangan gemetar. Ia tidak menyangka kalau Elma akan secepat ini mengajukan gugatan perceraian terhadapnya."Kamu lihat hasil perbuatanmu itu Aditya? Kamu sudah merusak

  • Godaan sang tante   Bab 45

    Dinda berjalan melewati koridor kampus dengan langkah gontai. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi kesedihan. Beberapa teman menyapanya, tapi ia hanya membalas dengan senyum tipis, untuk menutupi kesedihannya.Dari atas balkon kampus, mata Badru mengawasi tajam gadis itu."Ini pasti gara-gara Revan." Badru membuang napas kasar ke udara. Melihat wajah sedih Dinda entah kenapa hatinya juga jadi ikutan sedih.Dan biasanya kalau Dinda datang ke kampus ini adalah untuk mencari Revan. Tapi entahlah maksud Dinda datang hari ini setelah hubungannya dengan Revan kandas. Mungkin gadis itu hanya ingin mengenang Revan saja.Pria berkulit sawo matang itu berjalan turun untuk menyapa Dinda. Sekedar ingin menemani wanita cantik itu agar tidak terlalu kesepian. Mudah-mudahan saja Dinda masih mau menerimanya."Dinda?" panggilnya dari arah belakang saat ia sudah dekat dengan posisi Dinda sekarang.Dinda menoleh, menemukan Badru berdiri di sana. Untuk sesaat Dinda memandang Badru yang berjalan me

  • Godaan sang tante   Bab 44

    Revan kembali ke apartemen setelah selesai bertemu dengan beberapa rekan bisnisnya. Untuk sementara, Elma menunjuk Revan sebagai wakilnya selama dia dalam masa berkabung.Ini juga dimanfaatkan oleh Elma untuk mengasah kemampuan Revan dalam menjalankan bisnis milik keluarganya. Dan tanpa disangka kalau pemuda yang belum selesai kuliah itu mempunyai insting bisnis yang kuat."Cape ya Sayang?" tanya Elma setelah Revan duduk beristirahat di sofa."Lumayan, ternyata lebih enak jadi sopir pribadimu Sayang. Nggak perlu mikir selera ini." Revan memijat pelipisnya yang terasa pusing.Elma tersenyum dan memijat pelan tengkuk Revan."Wajar, nanti juga kalau sudah terbiasa nggak akan terasa terlalu berat. Rileks Sayang, jangan terlalu serius," ucap Elma.Dia pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk Revan. Tak berapa lama kemudian wanita itu kembali dengan membawa secangkir teh hangat manis untuk pria itu.perusahaan itu padaku? Kamu yakin aku mampu"Elma, apa kamu yakin akan mempercayakan menjal

  • Godaan sang tante   Bab 43

    Aditya berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya dengan wajah memerah, suaranya memenuhi ruangan saat ia memarahi anak buahnya yang berjejer di hadapannya."Sudah dua hari! Apa susahnya mencari seorang perempuan? Arumi tidak mungkin pergi jauh tanpa meninggalkan jejak! Kalian semua ini becus bekerja atau tidak?!" bentaknya, wajahnya semakin gelap oleh kemarahan.Seorang anak buahnya dengan suara gemetar mencoba menjelaskan, "Kami sudah memeriksa apartemennya dan mencari di beberapa tempat yang sering dia kunjungi, Pak. Tapi sejauh ini belum ada petunjuk."Aditya menggebrak meja, membuat pena dan kertas di atasnya bergetar."Aku tidak peduli alasan kalian! Aku mau dia ditemukan! Cari ke mana pun dia pergi, hubungi orang-orang terdekatnya, apa pun caranya! Jangan kembali padaku sampai kalian mendapat hasil!" teriak Aditya penuh emosi. Tatapannya nyalang tertuju pada setiap wajah anak buahnya yang tertunduk ketakutan."Baik Pak, kami akan ber

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status