Home / Romansa / Godaan sang tante / Bab 8 Menerima tawaran

Share

Bab 8 Menerima tawaran

Author: TnaBook's
last update Last Updated: 2025-02-15 09:14:56

"Sayang, kamu serius dipecat?" tanya Dinda tercengang saat tahu kalau Revan dipecat dari pekerjaannya. Padahal baru beberapa hari saja dia bekerja.

"Iya, Din." Revan mengangguk sambil menyeruput kopi hitamnya. Malam itu Revan mengajak Dinda untuk nongkrong di cafe untuk sekedar menghibur dirinya yang masih kesal akibat pemecatan yang Elma lakukan.

"Kok bisa? Memangnya kamu bikin kesalahan apa?" cecar Dinda penasaran.

"Aku juga nggak ngerti salahku dimana. Yang jelas aku ngerasa ini nggak adil." Revan bercerita tanpa menceritakan kalau dia dipecat karena berusaha memuaskan Tante Elma saat dia mabuk. Dia tidak mau membuat Dinda cemburu.

"Kasihan banget sih kamu Sayang." Dinda menyentuh tangan Revan yang berada di atas meja, berusaha memberinya semangat.

"Tetap semangat Yang. Aku yakin ada pekerjaan lain yang lebih baik lagi." Dinda coba menghibur.

"Ya, semoga saja." Revan menghela napas panjang, lalu menatap Dinda.

"Makasih ya Sayang, kamu memang yang terbaik." Revan tersenyum dan menge
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Godaan sang tante   Bab 9 Kesayangan Tante

    Semua mata tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke ruangan VIP klub malam tersebut. Dan orang itu telah membuat tubuh Revan seketika menegang."Elma...," gumamnya pelan.Itu memang Elma. Mantan majikan yang telah memecatnya tanpa alasan jelas. Wanita itu berjalan anggun memasuki ruangan dengan mengenakan dress warna merah elegan yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Aura percaya dirinya seolah membuat waktu berhenti sejenak.Badru yang duduk di sebelah Revan, menyadari perubahan ekspresi kawannya. Ia mengikuti arah pandangan Revan, kemudian menyikut lengannya dengan pelan."Eh, bukannya itu mantan bosmu?" tanya Badru sambil menyeringai tipis. Ia masih mengingat wajah Elma yang pernah dilihatnya lewat foto yang diberitahu Revan.Revan mengangguk pelan, berusaha tetap tenang meskipun hatinya bergejolak."Iya, itu dia," jawabnya singkat, dengan nada setengah berbisik."Wah, dunia ini sempit juga ya. Jadi sekarang dia juga jadi pelanggan di sini? Seru nih," katanya dengan nada be

    Last Updated : 2025-02-15
  • Godaan sang tante   Bab 10 Malam ini temani aku

    "Siapa kamu?"Revan berhenti sejenak, menatap sosok pria yang baru masuk ke rumah itu. Pria tersebut mengenakan setelan rapi, wajahnya memancarkan kelelahan, namun matanya tajam memindai sosok Revan.Revan langsung merasakan ketegangan. Ia melirik Elma yang berada dalam gendongannya. Wanita itu tampak sedikit kaget, tetapi dengan cepat memasang ekspresi datar."Revan, turunkan aku," bisiknya pelan.Revan menurut, ia menurunkan dari Elma dari gendongannya meskipun Elma tidak bisa berdiri dengan tegak dan harus berpegangan pada bahu Revan.Aditya berjalan mendekat dengan langkah pelan, pandangannya tajam tertuju pada Elma."Siapa dia dan kenapa kamu berani sekali membawa dia ke rumah ini?" tanyanya dingin sambil menatap langsung ke arah Elma dan Revan.Revan membuka mulut untuk menjawab, tetapi Elma mengangkat tangan, menghentikannya. Ia maju selangkah, berdiri di antara Revan dan Aditya."Ini bukan urusanmu, Aditya," jawab Elma dengan suara tenang namun penuh penekanan."Aku berhak tah

    Last Updated : 2025-02-15
  • Godaan sang tante   Bab 11 chek1n

    Tatapan Aditya terlihat kosong, di depannya komputer tengah menyala namun pandangan Aditya tidak mengarah ke sana.Pikirannya masih dipenuhi dengan bayangan Elma yang sudah berani mengajak lelaki lain ke rumah mereka. Ini seperti menjadi sebuah kejutan besar baginya karena selama ini Elma tidak pernah melakukan pemberontakan atau berani melawannya apalagi berselingkuh darinya."Sial!" Aditya melemparkan vas bunga yang ada di atas mejanya hingga pecah berantakan di atas lantai."Arrrgghh!" geramnya. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba saja ia merasa sangat marah dan tidak rela jika Elma berhubungan dengan pria lain di belakangnya.Pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka. Arumi yang bekerja sebagai sekretaris pribadinya tiba-tiba masuk dan terkejut saat mendapati ruang kerja Aditya yang berantakan."Sayang... ada apa ini? Apa kamu ada masalah?" tanya Arumi seraya mengunci pintu ruangan agar tidak ada karyawan lain yang melihat kekacauan ini.

    Last Updated : 2025-02-16
  • Godaan sang tante   Bab 12 Gagal Menanam

    "Ke hotel?" Revan tersentak."Ya, ke hotel. Aku tidak mau pulang ke rumah. Aku butuh waktu untuk sendiri." Jawaban dari Elma membuyarkan pikiran me sum Revan yang sempat mengira kalau Elma akan mengajaknya ena-ena di sana."Baik." Revan mengangguk dan membawa mobilnya menuju ke sebuah hotel bintang lima yang diinginkan oleh Elma.Tiba di hotel yang dituju. Revan mengikuti langkah Elma saat mereka memasuki hotel yang mewah itu.Dari lantai dasar, mereka langsung diarahkan ke lift yang menuju lantai paling atas. Tanda di depan pintu lift menunjukkan bahwa mereka sedang menuju President Suite, kamar paling eksklusif yang hanya dipesan oleh tamu-tamu kelas atas.Revan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.Orang kaya seperti Elma sepertinya sudah terbiasa menghabiskan banyak uang untuk kesenangannya. Berbeda dengan dirinya yang paling banter nongkrong di warung kopi untuk mengusir kejenuhan."Kenapa kamu senyum-senyum be

    Last Updated : 2025-02-16
  • Godaan sang tante   bab 13 cari pelampiasan

    "Anjrit, nggak bisa gue kalau kayak gini." Revan berjalan mondar-mandir di dalam kamar kostnya.Akibat ulah Elma yang tidak bertanggung jawab kini otak Revan terasa ngeblank. Dia gelisah dengan wajah yang frustasi."Gue harus telepon Dinda." Revan meraih ponselnya dan segera menghubungi nomor kekasihnya itu. Meski malam telah menunjukkan pukul 10 tapi ia harap Dinda masih belum tidur."Kenapa Yang?" Suara Dinda terdengar di ujung ponsel."Din, boleh nggak aku ke kost-an kamu sekarang?" tanya Revan dengan nada mendesak."Sekarang? Udah malam Yang.""Please Sayang, nggak tahan nih." Revan memelas agar mendapat izin dari Dinda."Ya udah deh Yang ke sini aja." Dinda menutup telepon Revan.Pria tampan itupun tersenyum senang dan segera menyambar kunci motornya. Lalu bergegas ngebut menuju kost-an Dinda."Sialan! Gara-gara Elma gue jadi kayak gini." Revan lagi-lagi menggerutu karena hasratnya masih harus tertahan.Tak berapa lama motor bututnya berhenti di depan kost-an Dinda. Kost-an itu m

    Last Updated : 2025-02-17
  • Godaan sang tante   Bab 14 Mulai posesif

    Aditya melangkah keluar dari lift dengan ekspresi datar, tangannya memegang ponsel yang masih menyala dengan layar email terbuka. Pikirannya masih sibuk memikirkan percakapan panasnya dengan Elma di kantor barusan. Ia tak habis pikir bagaimana hubungan mereka bisa sejauh ini renggang, terlebih saat Elma mengisyaratkan bahwa ia tak lagi peduli pada apa pun yang dilakukan oleh Aditya.Saat tiba di lobi perusahaan, langkah Aditya terhenti. Di depan pintu kaca, ia melihat sosok Revan yang sedang berjalan masuk, mengenakan kemeja rapi dengan tangan membawa sebuah map. Keduanya saling bertatapan dengan pandangan tajam yang penuh ketegangan. Revan sedikit mengangguk sebagai bentuk sopan santun, tapi Aditya tak membalas.Dengan langkah cepat, Aditya menghampiri Revan.Tanpa basa-basi, ia meraih lengan Revan dan menariknya ke sisi koridor yang sepi. Revan mencoba melepaskan diri, tapi genggaman Aditya begitu kuat."Ada apa, Pak?" tanya Revan dingin, mencoba menjaga sopan santunnya meski hatiny

    Last Updated : 2025-02-18
  • Godaan sang tante   Bab 15 Terjebak

    Malam itu, Revan baru saja selesai membereskan apartemennya ketika pintu diketuk. Ia segera menuju pintu dan membukanya."Elma?" Revan terkejut melihat Elma berdiri di sana, membawa beberapa tas besar yang tampak mewah.Elma tersenyum kecil. "Boleh masuk?""Tentu, silakan," jawab Revan sambil mempersilakannya masuk.Elma meletakkan tas-tas itu di sofa dan duduk dengan santai. "Aku membawakan sesuatu untukmu."Revan mendekat, menatap tas-tas itu dengan rasa penasaran. "Apa ini?""Coba buka saja," jawab Elma singkat.Revan membuka salah satu tas itu dan terkejut melihat isinya, setelan jas lengkap dari merek-merek terkenal. Bahannya terlihat mahal, dengan potongan yang jelas dirancang untuk tubuhnya."Untuk apa semua ini, Bu?" tanya Revan sambil memandangi jas-jas itu dengan bingung."Kamu sekarang adalah asisten pribadiku, Revan. Kamu tidak bisa terus berpakaian seadanya seperti waktu kamu jadi sopir. Penampilanmu harus lebih profesional dan rapi." Elma menatapnya dengan tajam, tapi de

    Last Updated : 2025-02-18
  • Godaan sang tante   Bab 16 ********

    "Hahhh..." Elma terengah saat berada di dalam lift menuju lantai apartemen Revan.Beberapa pasang mata sempat melihat ke arah mereka. Namun gaya hidup yang individualis apa kehidupan kota membuat mereka cuek dan tidak peduli dengan apapun yang dilakukan oleh orang lain selama tidak mengusik kehidupan mereka.Apalagi di kota besar seperti Jakarta, pemandangan seperti itu sudah sangat lumrah terjadi.Revan memapah tubuh lemah itu karena kalau tidak ditahan sudah dipastikan Elma kan terjatuh. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya pintu lift terbuka dan Revan pun segera membawa Elma masuk ke dalamnya.Tadinya Revan ingin menggendong Elma, tetapiwanita itu dengan cepat menolaknya. Alhasil Elma kini berada dalam rengkuhan tangan Revan dan menjatuhkan kepalanya di dad4 bidang pria itu."Panas sekali...!" Elma mulai meracau lagi. Wajah perempuan cantik itu semakin memerah dan terus saja memejamkan matanya.Ting!Pintu lift terbuka dan Revan pun segera memapah Elma menuju unit apartemennya.

    Last Updated : 2025-02-18

Latest chapter

  • Godaan sang tante   Bab 51

    "Kalian semua bodoh! Bagaimana seseorang bisa menghilang begitu saja?!" Aditya menggebrak mejanya dengan keras. Beberapa anak buah Aditya tersentak kaget tapi apa mau dikata, wanita bernama Clara itu memang tidak bisa mereka temukan di manapun. Entahlah dimana wanita itu bersembunyi. Yang jelas seperti ada seseorang yang kuat yang melindunginya. "Maafkan kami Pak. Kami sudah berusaha tapi semuanya benar-benar gelap. Bahkan informasi tentang wanita itupun sudah dihapus. Kami benar-benar kesulitan untuk menemukannya." Salah satu anak buah Aditya menjelaskan situasi yang sedang mereka hadapi. "Brengsek kalian semua!" Aditya meradang dengan wajah yang merah padam menahan amarah. "Pergi kalian semua dari sini!" Aditya menguasir semua anak buahnya dari ruang kerjanya. "Bagaimana bisa dia menghilang begitu saja?" gumam Aditya dengan nada frustrasi. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, memijat pelipis dengan keras. Segala upaya yang ia lakukan untuk menemukan perempuan itu tidak membawa

  • Godaan sang tante   Bab 50

    Pagi itu, dunia Aditya hancur berantakan. Berita tentang dirinya viral di media sosial, memperlihatkan rekaman video asusilanya dengan Clara. Berita tersebut menyebar seperti api, menghiasi tajuk utama di berbagai portal berita dan menjadi topik pembicaraan di mana-mana. Aditya duduk di ruang kerjanya dengan wajah tegang. Ponselnya terus berdering, pesan masuk dari klien, mitra bisnis, hingga keluarganya. Ia tidak berani membuka satu pun pesan itu. "Bagaimana ini bisa terjadi?" geramnya sambil membanting ponsel ke meja. Beberapa anak buahnya berdiri dengan wajah cemas. Mereka telah menerima perintah dari Aditya untuk menghapus video tersebut secara permanen. Namun, upaya mereka gagal karena video itu sudah terlanjur diunduh oleh banyak orang. "Maaf, Pak Aditya. Kami sudah mencoba segalanya, tapi video itu terlalu cepat menyebar," ucap salah satu anak buahnya dengan suara gemetar. Aditya memejamkan mata, menahan amarah yang membara di dadanya. Aditya terdiam, tidak mampu menjawa

  • Godaan sang tante   Bab 49

    lanjutan dari bab sebelumnya ** tender dari berbagai klien. Ia mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi, pandangannya kosong menatap layar laptop yang menampilkan email-email penolakan dari mitra bisnis. "Arumi, di mana kamu sebenarnya?" gumam Aditya dengan nada penuh keputusasaan. Sudah berminggu-minggu ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Arumi, namun hasilnya nihil. Tidak ada petunjuk, tidak ada jejak, bahkan kabar samar sekalipun. Satu per satu anak buahnya yang tidak mampu memberikan hasil langsung dipecat tanpa ampun. Kini ia merasa sendirian, tenggelam dalam masalah yang semakin menumpuk. Tidak hanya Arumi yang menjadi beban pikirannya. Sidang perdananya semakin dekat, dan itu membuatnya tertekan. Kasus gugatan perceraian Elma membuat reputasi bisnisnya memburuk. Para klien mulai kehilangan kepercayaan, proyek besar yang seharusnya menjadi tulang punggung perusahaan kini terancam batal. "Aku bisa gila kalau terus begini," desisnya sambil menenda

  • Godaan sang tante   Bab 48

    Elma duduk di ruang praktik Karina, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang tidak biasa, sementara Karina memandang sahabatnya itu dengan penuh perhatian. "Elma, apa saja yang kamu rasakan sekarang?" tanya Karina lembut sambil menyentuh tangan Elma. Elma menghela napas panjang sebelum menjawab. Aku tidak tahu, Karin. Akhir-akhir ini aku merasa aneh. Kadang aku mual tanpa alasan, aku jadi terlalu sensitif terhadap bau, dan... rasanya tubuhku jadi mudah lelah." Karina tersenyum tipis, tetapi sorot matanya menunjukkan keyakinan. "Elma, aku bukan mau menakutimu, tapi dari apa yang kamu ceritakan, aku rasa . kamu sedang hamil." "Benarkah?" Elma membelalakan matanya. Karina tersenyum merekah. "Aku memang belum pernah merasakan rasanya hamil tapi setiap pasienku yang hamil keluhannya rata-rata seperti itu. Kenapa tidak coba kita periksa aja?" Karina tampak antusias. "Apa mungkin aku hamil?" Elma masih tidak percaya.

  • Godaan sang tante   Bab 47

    Agus, anak buah terpercaya Aditya, menjalankan perintah majikannya dengan penuh kehati-hatian.Setelah memastikan suasana di sekitar apartemen Karina sepi, dia segera bergerak. Dengan keahliannya dalam membuka kunci otomatis, pintu apartemen itu terbuka tanpa menimbulkan suara sedikit pun.Namun, saat Agus menyelinap masuk, ia mendapati apartemen itu dalam keadaan kosong. Tak ada tanda-tanda aktivitas, tak ada suara, dan tak ada siapa pun di dalam.Lampu di ruang tamu menyala redup, dan aroma ruangan terasa netral, seperti baru saja dibersihkan. Agus memperhatikan sekeliling dengan cermat. Rak buku rapi, sofa tampak tidak tersentuh, dan meja makan kosong tanpa peralatan apa pun. Dia mengerutkan kening, merasa ada yang aneh."Ke mana mereka?" pikir Agus.Agus mulai memeriksa ruangan satu per satu. Ia masuk ke kamar utama, membuka lemari, bahkan memeriksa bawah tempat tidur. Namun, tak ada satu pun barang yang memberi petunjuk tentang keberadaan Karina atau Arumi.Di dapur, Agus menemuk

  • Godaan sang tante   Bab 46

    "Surat apa ini, Aditya?" suara Tuan Wirya menggema, dingin namun penuh amarah. "Apa Elma akan menceraikanmu?"Aditya tertegun. Kata-kata itu seperti petir yang menghantam dadanya. Dia menatap amplop di tangan ayahnya dengan perasaan bercampur aduk, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.Namun sebelum dia sempat menjawab, Tuan Wirya melempar surat itu ke meja di depannya. "Lihat sendiri apa yang telah kamu lakukan, Aditya!" bentak Tuan Wirya dengan suara yang semakin meninggi.Aditya, dengan tangan sedikit gemetar, meraih surat itu. Matanya mulai membaca, dan wajahnya perlahan berubah pucat. Isi surat itu adalah surat pengajuan gugatan perceraian yang dilakukan oleh Elma terhadapnya. Berikut jadwal sidang perdana yang harus ia hadiri.Aditya menatap nanar kertas di tangannya dengan tangan gemetar. Ia tidak menyangka kalau Elma akan secepat ini mengajukan gugatan perceraian terhadapnya."Kamu lihat hasil perbuatanmu itu Aditya? Kamu sudah merusak

  • Godaan sang tante   Bab 45

    Dinda berjalan melewati koridor kampus dengan langkah gontai. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi kesedihan. Beberapa teman menyapanya, tapi ia hanya membalas dengan senyum tipis, untuk menutupi kesedihannya.Dari atas balkon kampus, mata Badru mengawasi tajam gadis itu."Ini pasti gara-gara Revan." Badru membuang napas kasar ke udara. Melihat wajah sedih Dinda entah kenapa hatinya juga jadi ikutan sedih.Dan biasanya kalau Dinda datang ke kampus ini adalah untuk mencari Revan. Tapi entahlah maksud Dinda datang hari ini setelah hubungannya dengan Revan kandas. Mungkin gadis itu hanya ingin mengenang Revan saja.Pria berkulit sawo matang itu berjalan turun untuk menyapa Dinda. Sekedar ingin menemani wanita cantik itu agar tidak terlalu kesepian. Mudah-mudahan saja Dinda masih mau menerimanya."Dinda?" panggilnya dari arah belakang saat ia sudah dekat dengan posisi Dinda sekarang.Dinda menoleh, menemukan Badru berdiri di sana. Untuk sesaat Dinda memandang Badru yang berjalan me

  • Godaan sang tante   Bab 44

    Revan kembali ke apartemen setelah selesai bertemu dengan beberapa rekan bisnisnya. Untuk sementara, Elma menunjuk Revan sebagai wakilnya selama dia dalam masa berkabung.Ini juga dimanfaatkan oleh Elma untuk mengasah kemampuan Revan dalam menjalankan bisnis milik keluarganya. Dan tanpa disangka kalau pemuda yang belum selesai kuliah itu mempunyai insting bisnis yang kuat."Cape ya Sayang?" tanya Elma setelah Revan duduk beristirahat di sofa."Lumayan, ternyata lebih enak jadi sopir pribadimu Sayang. Nggak perlu mikir selera ini." Revan memijat pelipisnya yang terasa pusing.Elma tersenyum dan memijat pelan tengkuk Revan."Wajar, nanti juga kalau sudah terbiasa nggak akan terasa terlalu berat. Rileks Sayang, jangan terlalu serius," ucap Elma.Dia pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk Revan. Tak berapa lama kemudian wanita itu kembali dengan membawa secangkir teh hangat manis untuk pria itu.perusahaan itu padaku? Kamu yakin aku mampu"Elma, apa kamu yakin akan mempercayakan menjal

  • Godaan sang tante   Bab 43

    Aditya berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya dengan wajah memerah, suaranya memenuhi ruangan saat ia memarahi anak buahnya yang berjejer di hadapannya."Sudah dua hari! Apa susahnya mencari seorang perempuan? Arumi tidak mungkin pergi jauh tanpa meninggalkan jejak! Kalian semua ini becus bekerja atau tidak?!" bentaknya, wajahnya semakin gelap oleh kemarahan.Seorang anak buahnya dengan suara gemetar mencoba menjelaskan, "Kami sudah memeriksa apartemennya dan mencari di beberapa tempat yang sering dia kunjungi, Pak. Tapi sejauh ini belum ada petunjuk."Aditya menggebrak meja, membuat pena dan kertas di atasnya bergetar."Aku tidak peduli alasan kalian! Aku mau dia ditemukan! Cari ke mana pun dia pergi, hubungi orang-orang terdekatnya, apa pun caranya! Jangan kembali padaku sampai kalian mendapat hasil!" teriak Aditya penuh emosi. Tatapannya nyalang tertuju pada setiap wajah anak buahnya yang tertunduk ketakutan."Baik Pak, kami akan ber

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status