Revan melirik arlojinya untuk kesekian kali. Sudah hampir satu jam ia menunggu, dan Elma masih terlihat sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Suasana kafe yang awalnya terasa mewah kini hanya membuatnya suntuk.
Ia berdiri perlahan, melirik ke arah meja Elma. Wanita itu tampak tidak memperhatikan dirinya sama sekali. "Bu Elma," panggilnya pelan saat mendekat. Elma menoleh dengan alis terangkat. "Ada apa, Revan?" "Saya izin jalan-jalan sebentar di sekitar sini, ya. Tidak jauh, hanya untuk menghirup udara segar," jawab Revan dengan sopan. Elma mengangguk ringan, jelas tidak terlalu peduli. Baik, tapi jangan terlalu lama." "Siap, Bu," jawab Revan sebelum melangkah keluar. Di luar, udara malam terasa segar. Revan memasukkan tangan ke saku celananya sambil berjalan santai di sepanjang trotoar. Ia melihat deretan butik dan toko-toko mewah di sepanjang jalan, tapi perhatiannya tertuju pada sesuatu yang berbeda. Di seberang jalan, sosok yang sangat familiar menarik pandangannya. Revan menyipitkan mata, memastikan ia tidak salah lihat. Klaim "Badru?" gumamnya. Benar saja, pria itu adalah Badru, sahabatnya. Namun, Badru tidak sendiri. Ia berjalan mesra dengan seorang wanita paruh baya yang mengenakan gaun mahal. Wanita itu menggandeng lengan Badru dengan erat, tertawa manja sambil sesekali menyentuh pipinya. Revan berhenti di tempat, terkejut melihat pemandangan itu. Wanita di samping Badru memang tidak muda lagi namun bentuk tubuhnya lumayan masih kencang dan menggiurkan. Namun kesan tante-tante girang jelas terlihat di wajahnya. "Apa-apaan si Badru ini?" bisiknya, setengah tidak percaya. Badru yang sedang asyik berbincang tiba-tiba menoleh ke arah Revan. Matanya membelalak sejenak, jelas kaget melihat temannya di tempat seperti ini. Namun, alih-alih menyapa, Badru pura-pura tidak mengenal Revan. Ia menarik tangan wanita di sampingnya dan bergegas pergi. "Badru! Tunggu!" Revan memanggil, tapi pria itu tidak menoleh sama sekali. Revan berdiri mematung di tempat, bingung sekaligus penasaran. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan Badru? Revan mengernyit saat Badru akhirnya mengajaknya bertemu di sebuah warung kopi kecil di dekat kampus. Badru terlihat santai, seperti tidak ada yang perlu dirisaukan, sementara Revan masih menyimpan rasa penasaran yang membuncah. "Gue nggak nyangka lu kayak gitu, Dru," ucap Revan langsung, tanpa basa-basi. Badru menyeringai kecil sambil menyeruput kopi. "Kayak apa? Jalan sama tante-tante?" Revan menatapnya tajam. "Lu serius? Lu jalan sama tante-tante?" Badru meletakkan gelasnya dengan pelan, kemudian menyandarkan tubuh ke kursi. "Ya, gue sekarang punya pekerjaan baru, Van. Bukan kerjaan kantoran atau kasar kayak dulu. Ini lebih... seru," ucapanya penuh semangat. "Seru?" Revan mengangkat alis, tidak percaya. "Lu serius bilang jalan sama tante-tante itu seru? Yang benar aja lu, mending tante-tantenya masih muda dan cantik. Lah ini, udah tua dan keriput. Lu gak ngerasa kayak jalan sama ibu lu?" Badru terkekeh. "Gini, Van. Gue tuh bukan cuma 'jalan'. Gue bisa dibilang, semacam 'simpanannya' mereka. Mereka bayar gue untuk jadi partner mereka. Kalau bosan, ya gue pindah ke yang lain. Gampang." Badru mengangkat bahunya. "Gila lu, Dru. Itu bukan pekerjaan. Lu nggak malu?" Mata Revan membulat. "Malu? Buat apa malu kalau hasilnya gede? Lihat gue sekarang, Van. Gue bisa makan enak, pakai baju mahal, tinggal di tempat bagus. Semua itu karena 'pekerjaan' gue itu." Revan terdiam, masih mencoba mencerna ucapan Badru. "Tapi lu kan dulu kerja bener. Kenapa tiba-tiba mutusin buat jadi simpanan tante-tante?" "Kerja bener? Yang gaji kecil, capek, nggak ada waktu buat senang-senang? Ah, nggak lagi deh," jawab Badru santai. "Ini jauh lebih bebas. Gue tinggal menjaga penampilan, ngikutin maunya mereka, terus gue dapet uang. Selesai kontrak, pindah lagi. Easy money." Badru tersenyum bangga. Revan menggelengkan kepala, masih tidak percaya. "Lu kayak nggak ada harga diri, cuy." "Harga diri nggak bisa bayar kosan, Van. Gue tahu lu nggak setuju, tapi coba pikir. Lu tuh lebih cakep dari gue. Kalau gue bisa dapet banyak dari kerjaan ini, apalagi lu? Gue yakin lu bakal lebih laku." "Gue?" Revan menunjuk dirinya sendiri, terkejut. Lu ngajak gue buat ikut-ikutan kerja kayak gitu? Gila lu, Dru!" "Kenapa nggak? Lihat diri lu, Van. Lu masih muda, tinggi, badan bagus. Tante-tante itu bakal rebutan bayar mahal buat dapetin lu. Buat bisa tidur sama lo." Badru menyeringai tipis. Revan menghela napas berat, merasa risih sekaligus tergoda. "Gue nggak tahu, Dru. Kayaknya nggak deh." Revan teringat dengan kesepakatannya dengan Elma. Kayaknya mendingan jadi selingkuhan Elma daripada jadi simpanan emak-emak kayak Badru. "Pikirin aja dulu," ujar Badru, menepuk bahu Revan. "Lu kan tahu, uang di dunia ini nggak pernah gratis, apalagi kalau cuma ngandelin kerja keras. Tapi kalau lu punya sesuatu yang bisa dijual... kenapa nggak manfaatin?" Badru menepuk pelan punggung Revan agar memikirkan lagi tawarannya. "Eh, gimana kerjaan yang gue tawarin kemarin. Lo jadi ngelamar jadi sopir?" tanya Badru kemudian. "Jadi dan gue udah katerima kerja di sana." Revan mengangguk sambil memainkan sendok kecil di gelas tehnya. "Wah bagus dong. Gaji lu pasti besar." "Gajinya sih standar tapi majikan guenya yang di luar nurul." Revan membuat Badru mengernyitkan dahi. "Kenapa? Majikan lu galak?" "Bukan, majikan gue juga tante-tante." Revan terkekeh pelan. Badru terbahak. "Sopir pribadi tante-tante? Lu udah mulai ikut jejak gue, Van? Tapi gue yakin Tante lu nggak ada apa-apanya dibanding klien gue." Revan tersenyum tipis, memandang Badru penuh rasa percaya diri. "Tante gue beda, Dru. Kalau lu liat Tante ini, lu pasti langsung nyerah. Dia tuh... spec bidadari." Badru mengernyit, tak percaya. "Spec bidadari? Yaelah, Van, lu nge-boost dia banget sih. Tante-tante tetap aja tante-tante." Revan menyandarkan tubuhnya, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku. "Lu nggak percaya, kan? Nih, gue punya fotonya." Mendengar itu, Badru langsung membetulkan posisi duduknya, penasaran. "Foto? Lu beneran nyimpen foto tante lu? Wah, gue makin penasaran. Coba liat!" Revan membuka galeri ponselnya dan menunjukkan sebuah foto candid Elma yang ia ambil diam-diam saat wanita itu sedang berdiri di depan jendela, mengenakan blazer hitam elegan. Wajah Elma tampak serius, tapi kecantikannya benar-benar memukau. Badru melotot, nyaris menjatuhkan kopinya. "Anjrit! Ini tante lu?!" Revan tertawa kecil melihat ekspresi temannya. "Gimana? Gue nggak bohong, kan? Spec bidadari, kan?" Badru masih terpaku menatap layar ponsel milik Revan. "Gila... ini mah nggak kayak tante-tante. Ini model kelas atas! Gimana bisa lu jadi sopir dia? Lu nggak ngerasa minder apa jalan sama dia tiap hari?" Revan mengangkat bahu. "Awalnya iya, tapi lama-lama biasa aja. Yang penting kerjaan gue beres, dia juga nggak banyak komplain." "Tahu tantenya secakep ini mendingan kemarin gue yang ngelamar jadi sopir." Raut penyesalan tergambar di wajah Badru. "Sabar Bro, meski cantik tapi dia galak Bro." Revan menjelaskan. Badru menggeleng-gelengkan kepala, masih tak percaya. "Kalau gue jadi lu, sih, gue nggak bakal kuat. Bawa mobil sambil liatin dia tiap hari? Bisa-bisa gue lupa nyetir !" "Makanya gue bilang, Tante ini beda, Dru." Revan tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Dan dia juga royal sama duit asal gue mau ngikutin apa maunya dia." Revan semakin terlihat bahagia. Badru menatap Revan tajam, semakin penasaran. Maksud lu? Jangan bilang lu... ada apa-apa sama Tante ini?" Revan hanya menyeringai tanpa menjawab, meninggalkan Badru yang semakin dibuat penasaran. Revan duduk di kursi kemudi, mengamati mobil-mobil yang terparkir di area parkir kantor tempat Elma bekerja. Sambil mengetuk-ngetukkan jari di setir Revan menikmati aluna. musik dari audio mobil milik Elma. Udara siang itu panas sekali. Dia baru saja selesai kuliah dan langsung menuju kantor Elma untuk bersiap mengantar wanita itu nanti sore. Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berhenti di dengan jarak yang cukup dekat dengan mobil Revan. Pemuda itu mengangkat alis, matanya otomatis tertuju pada mobil itu. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria turun. Mata Revan menyipit, berusaha mengenali wajah itu. "Bukannya itu suaminya Tante Elma?" gumamnya pelan. Dia yakin. Wajah pria itu masih terekam jelas di ingatannya sejak pertengkaran Elma dan Aditya yang sempat didengarnya beberapa waktu lalu. Itu memang Aditya yang sengaja datang ke kantor Elma untuk membicarakan sesuatu dengannya. Tapi, sesuatu yang lain segera menarik perhatiannya. Seorang wanita muda dengan gaun merah elegan turun dari sisi lain mobil. Wanita itu cantik, sangat cantik, dengan rambut tergerai rapi dan sikap yang penuh percaya diri. Wanita itu memegang lengan Aditya, tertawa kecil, dan bersandar manja di bahunya. Revan menegang di tempatnya. Apa-apaan ini? Suaminya Tante Elma selingkuh? Dia terus memperhatikan, semakin tidak percaya ketika Aditya menunduk dan mengecup bibir wanita itu dengan santai, seolah tak peduli jika ada yang melihatnya. "Gila...," desis Revan, matanya tak lepas dari pasangan itu. Wanita itu tersenyum manis, menyelipkan lengannya di lengan Aditya, lalu mereka berjalan masuk ke gedung tanpa menoleh ke arah lain. Revan meremas setir dengan kesal. "Jadi begini kelakuan suami Tante Elma di belakangnya," gumamnya. Dia tidak tahu harus merasa apa, marah, kesal, atau kasihan pada Elma yang jelas-jelas tidak pantas diperlakukan seperti ini. Dia mencoba menenangkan dirinya. Ini bukan urusannya. Tapi bayangan ciuman Aditya dan wanita itu terus menghantui pikirannya. "Gue harus ngapain sekarang?" bisik Revan, merasa terjebak dalam dilema yang pelik.Elma sedang sibuk membaca dokumen di ruangannya ketika suara pintu yang terbuka tiba-tiba menarik perhatiannya. Dia mengangkat wajah, dan alisnya langsung bertaut saat melihat siapa yang masuk.Aditya melangkah masuk dengan santai, diikuti oleh seorang wanita yang sudah sangat dikenalnya."Apa maksudmu membawa dia ke sini?" suara Elma dingin, namun matanya penuh kemarahan yang tertahan.Aditya hanya tersenyum tipis, tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun."Kenapa? Ini kantormu, bukan rumah kita. Aku hanya mampir sebentar," jawabnya santai."Dan kamu pikir wajar membawa wanita ini?" Elma berdiri, menatap tajam ke arah Arumi yang berdiri dengan gaya angkuh."Aditya, aku sudah cukup bersabar dengan semua kelakuanmu. Tapi membawa selingkuhanmu ke kantorku, itu sudah sangat keterlaluan! Kamu benar-benar tidak tahu malu!" Elma membagi pandangannya pada dua orang di hadapannya itu.Wanita bernama Arumi itu tersenyum tipis penuh ejekan. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ked
Revan menghela napas panjang saat memarkir mobil di halaman vila mewah itu. Udara Puncak yang sejuk menusuk kulit, membawa aroma pinus dan dedaunan basah. Vila itu berdiri megah, dengan desain modern minimalis dan jendela besar yang mencerminkan cahaya sore.Hari itu hari Sabtu dan Elma menelponnya pagi-pagi, memintanya untuk mengantarnya ke Puncak.Ia melirik Elma yang masih diam di kursi penumpang, tatapannya kosong ke arah luar. Wanita itu tampak seperti patung porselen, cantik, tetapi dingin dan tak tersentuh."Revan, bawa kopernya ke dalam," perintah Elma tiba-tiba tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar, tanpa emosi."Baik, Bu," jawab Revan singkat, segera keluar dari mobil dan membuka bagasi.Satu buah koper berukuran sedang terisi barang-barang Elma. Dan wanita cantik itu kini keluar dari dalam mobilnya. Berjalan dengan begitu anggun.Jeans biru press body memperlihatkan bokong sin tal Elma yang bulat berisi. Revan menelan ludah melihatnya.Ia berusaha mengusir bayangan-bayang
"Oouuhhh... ssshh...!"Revan berhenti sejenak di depan pintu kamar Elma.Suara era Ngan itu semakin jelas dan menggelitik telinga Revan.Lelaki itu mendekat ke arah pintu untuk mendengarkan dengan seksama. Suara itu samar tapi cukup jelas baginya. Era ngan seorang wanita yang seolah tengah melakukan adegan percintaan dan sangat menikmatinya.Alisnya mengernyit. Tidak mungkin ada orang lain di dalam kamar Elma, pikirnya. Ia tidak melihat siapapun masuk ke dalam kamar itu selain Elma."Mama mungkin Mang Darman masuk ke kamar ini."Revan tidak percaya jika penjaga vila itu yang tengah memuaskan ElmaDibanding Mang Darman, dirinya merasa jauh lebih baik, lebih tampan dan lebih perkasa. Masa iya dirinya kalah sama Mang Darman.Rasa penasaran langsung menguasai dirinya. Dengan langkah hati-hati, Revan mendekatkan tubuhnya ke pintu. Ia menempelkan telinganya ke permukaan pintu kayu itu, mencoba memastikan apa yang baru saja didengarnya."Oouuh... yeeaahh..." Suara itu masih terdengar. Era ng
Pagi itu suasana di vila berubah mencekam. Matahari baru saja terbit, namun suara jeritan Elma terdengar memekakkan telinga.Elma berdiri dengan wajah merah padam, mengenakan selimut tebal yang ia lilitkan di tubuhnya.Napasnya memburu, matanya dipenuh amarah."REVAN!" serunya dengan suara keras, membuat Revan yang masih terlelap di lantai terkejut setengah mati.Revan langsung bangkit sambil mengucek matanya. Ada apa, Bu? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya dengan nada bingung."Ada sesuatu yang terjadi?" Elma mengulang pertanyaan itu dengan nada kesal."Kamu masih berani bertanya? Apa yang sudah kamu lakukan padaku semalam?" bentaknya dengan lantang.Pagi itu Elma begitu panik karena saat terbangun tubuhnya sudah dalam keadaan polos tanpa mengenakan sehelai benangpun. Ia menuduh Revan telah melakukan mele cehkannya. Namun wajah Revan juga malah terlihat bingung."Bu, tenang dulu saya bisa menjelaskannya." Revan tampak panik. Ia berusaha mendekat namun Elma melangkah mundur. "Ja
"Sayang, kamu serius dipecat?" tanya Dinda tercengang saat tahu kalau Revan dipecat dari pekerjaannya. Padahal baru beberapa hari saja dia bekerja."Iya, Din." Revan mengangguk sambil menyeruput kopi hitamnya. Malam itu Revan mengajak Dinda untuk nongkrong di cafe untuk sekedar menghibur dirinya yang masih kesal akibat pemecatan yang Elma lakukan."Kok bisa? Memangnya kamu bikin kesalahan apa?" cecar Dinda penasaran."Aku juga nggak ngerti salahku dimana. Yang jelas aku ngerasa ini nggak adil." Revan bercerita tanpa menceritakan kalau dia dipecat karena berusaha memuaskan Tante Elma saat dia mabuk. Dia tidak mau membuat Dinda cemburu."Kasihan banget sih kamu Sayang." Dinda menyentuh tangan Revan yang berada di atas meja, berusaha memberinya semangat."Tetap semangat Yang. Aku yakin ada pekerjaan lain yang lebih baik lagi." Dinda coba menghibur."Ya, semoga saja." Revan menghela napas panjang, lalu menatap Dinda."Makasih ya Sayang, kamu memang yang terbaik." Revan tersenyum dan menge
Semua mata tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke ruangan VIP klub malam tersebut. Dan orang itu telah membuat tubuh Revan seketika menegang."Elma...," gumamnya pelan.Itu memang Elma. Mantan majikan yang telah memecatnya tanpa alasan jelas. Wanita itu berjalan anggun memasuki ruangan dengan mengenakan dress warna merah elegan yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Aura percaya dirinya seolah membuat waktu berhenti sejenak.Badru yang duduk di sebelah Revan, menyadari perubahan ekspresi kawannya. Ia mengikuti arah pandangan Revan, kemudian menyikut lengannya dengan pelan."Eh, bukannya itu mantan bosmu?" tanya Badru sambil menyeringai tipis. Ia masih mengingat wajah Elma yang pernah dilihatnya lewat foto yang diberitahu Revan.Revan mengangguk pelan, berusaha tetap tenang meskipun hatinya bergejolak."Iya, itu dia," jawabnya singkat, dengan nada setengah berbisik."Wah, dunia ini sempit juga ya. Jadi sekarang dia juga jadi pelanggan di sini? Seru nih," katanya dengan nada be
"Siapa kamu?"Revan berhenti sejenak, menatap sosok pria yang baru masuk ke rumah itu. Pria tersebut mengenakan setelan rapi, wajahnya memancarkan kelelahan, namun matanya tajam memindai sosok Revan.Revan langsung merasakan ketegangan. Ia melirik Elma yang berada dalam gendongannya. Wanita itu tampak sedikit kaget, tetapi dengan cepat memasang ekspresi datar."Revan, turunkan aku," bisiknya pelan.Revan menurut, ia menurunkan dari Elma dari gendongannya meskipun Elma tidak bisa berdiri dengan tegak dan harus berpegangan pada bahu Revan.Aditya berjalan mendekat dengan langkah pelan, pandangannya tajam tertuju pada Elma."Siapa dia dan kenapa kamu berani sekali membawa dia ke rumah ini?" tanyanya dingin sambil menatap langsung ke arah Elma dan Revan.Revan membuka mulut untuk menjawab, tetapi Elma mengangkat tangan, menghentikannya. Ia maju selangkah, berdiri di antara Revan dan Aditya."Ini bukan urusanmu, Aditya," jawab Elma dengan suara tenang namun penuh penekanan."Aku berhak tah
Tatapan Aditya terlihat kosong, di depannya komputer tengah menyala namun pandangan Aditya tidak mengarah ke sana.Pikirannya masih dipenuhi dengan bayangan Elma yang sudah berani mengajak lelaki lain ke rumah mereka. Ini seperti menjadi sebuah kejutan besar baginya karena selama ini Elma tidak pernah melakukan pemberontakan atau berani melawannya apalagi berselingkuh darinya."Sial!" Aditya melemparkan vas bunga yang ada di atas mejanya hingga pecah berantakan di atas lantai."Arrrgghh!" geramnya. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba saja ia merasa sangat marah dan tidak rela jika Elma berhubungan dengan pria lain di belakangnya.Pintu ruang kerjanya tiba-tiba terbuka. Arumi yang bekerja sebagai sekretaris pribadinya tiba-tiba masuk dan terkejut saat mendapati ruang kerja Aditya yang berantakan."Sayang... ada apa ini? Apa kamu ada masalah?" tanya Arumi seraya mengunci pintu ruangan agar tidak ada karyawan lain yang melihat kekacauan ini.
"Kalian semua bodoh! Bagaimana seseorang bisa menghilang begitu saja?!" Aditya menggebrak mejanya dengan keras. Beberapa anak buah Aditya tersentak kaget tapi apa mau dikata, wanita bernama Clara itu memang tidak bisa mereka temukan di manapun. Entahlah dimana wanita itu bersembunyi. Yang jelas seperti ada seseorang yang kuat yang melindunginya. "Maafkan kami Pak. Kami sudah berusaha tapi semuanya benar-benar gelap. Bahkan informasi tentang wanita itupun sudah dihapus. Kami benar-benar kesulitan untuk menemukannya." Salah satu anak buah Aditya menjelaskan situasi yang sedang mereka hadapi. "Brengsek kalian semua!" Aditya meradang dengan wajah yang merah padam menahan amarah. "Pergi kalian semua dari sini!" Aditya menguasir semua anak buahnya dari ruang kerjanya. "Bagaimana bisa dia menghilang begitu saja?" gumam Aditya dengan nada frustrasi. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, memijat pelipis dengan keras. Segala upaya yang ia lakukan untuk menemukan perempuan itu tidak membawa
Pagi itu, dunia Aditya hancur berantakan. Berita tentang dirinya viral di media sosial, memperlihatkan rekaman video asusilanya dengan Clara. Berita tersebut menyebar seperti api, menghiasi tajuk utama di berbagai portal berita dan menjadi topik pembicaraan di mana-mana. Aditya duduk di ruang kerjanya dengan wajah tegang. Ponselnya terus berdering, pesan masuk dari klien, mitra bisnis, hingga keluarganya. Ia tidak berani membuka satu pun pesan itu. "Bagaimana ini bisa terjadi?" geramnya sambil membanting ponsel ke meja. Beberapa anak buahnya berdiri dengan wajah cemas. Mereka telah menerima perintah dari Aditya untuk menghapus video tersebut secara permanen. Namun, upaya mereka gagal karena video itu sudah terlanjur diunduh oleh banyak orang. "Maaf, Pak Aditya. Kami sudah mencoba segalanya, tapi video itu terlalu cepat menyebar," ucap salah satu anak buahnya dengan suara gemetar. Aditya memejamkan mata, menahan amarah yang membara di dadanya. Aditya terdiam, tidak mampu menjawa
lanjutan dari bab sebelumnya ** tender dari berbagai klien. Ia mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi, pandangannya kosong menatap layar laptop yang menampilkan email-email penolakan dari mitra bisnis. "Arumi, di mana kamu sebenarnya?" gumam Aditya dengan nada penuh keputusasaan. Sudah berminggu-minggu ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Arumi, namun hasilnya nihil. Tidak ada petunjuk, tidak ada jejak, bahkan kabar samar sekalipun. Satu per satu anak buahnya yang tidak mampu memberikan hasil langsung dipecat tanpa ampun. Kini ia merasa sendirian, tenggelam dalam masalah yang semakin menumpuk. Tidak hanya Arumi yang menjadi beban pikirannya. Sidang perdananya semakin dekat, dan itu membuatnya tertekan. Kasus gugatan perceraian Elma membuat reputasi bisnisnya memburuk. Para klien mulai kehilangan kepercayaan, proyek besar yang seharusnya menjadi tulang punggung perusahaan kini terancam batal. "Aku bisa gila kalau terus begini," desisnya sambil menenda
Elma duduk di ruang praktik Karina, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang tidak biasa, sementara Karina memandang sahabatnya itu dengan penuh perhatian. "Elma, apa saja yang kamu rasakan sekarang?" tanya Karina lembut sambil menyentuh tangan Elma. Elma menghela napas panjang sebelum menjawab. Aku tidak tahu, Karin. Akhir-akhir ini aku merasa aneh. Kadang aku mual tanpa alasan, aku jadi terlalu sensitif terhadap bau, dan... rasanya tubuhku jadi mudah lelah." Karina tersenyum tipis, tetapi sorot matanya menunjukkan keyakinan. "Elma, aku bukan mau menakutimu, tapi dari apa yang kamu ceritakan, aku rasa . kamu sedang hamil." "Benarkah?" Elma membelalakan matanya. Karina tersenyum merekah. "Aku memang belum pernah merasakan rasanya hamil tapi setiap pasienku yang hamil keluhannya rata-rata seperti itu. Kenapa tidak coba kita periksa aja?" Karina tampak antusias. "Apa mungkin aku hamil?" Elma masih tidak percaya.
Agus, anak buah terpercaya Aditya, menjalankan perintah majikannya dengan penuh kehati-hatian.Setelah memastikan suasana di sekitar apartemen Karina sepi, dia segera bergerak. Dengan keahliannya dalam membuka kunci otomatis, pintu apartemen itu terbuka tanpa menimbulkan suara sedikit pun.Namun, saat Agus menyelinap masuk, ia mendapati apartemen itu dalam keadaan kosong. Tak ada tanda-tanda aktivitas, tak ada suara, dan tak ada siapa pun di dalam.Lampu di ruang tamu menyala redup, dan aroma ruangan terasa netral, seperti baru saja dibersihkan. Agus memperhatikan sekeliling dengan cermat. Rak buku rapi, sofa tampak tidak tersentuh, dan meja makan kosong tanpa peralatan apa pun. Dia mengerutkan kening, merasa ada yang aneh."Ke mana mereka?" pikir Agus.Agus mulai memeriksa ruangan satu per satu. Ia masuk ke kamar utama, membuka lemari, bahkan memeriksa bawah tempat tidur. Namun, tak ada satu pun barang yang memberi petunjuk tentang keberadaan Karina atau Arumi.Di dapur, Agus menemuk
"Surat apa ini, Aditya?" suara Tuan Wirya menggema, dingin namun penuh amarah. "Apa Elma akan menceraikanmu?"Aditya tertegun. Kata-kata itu seperti petir yang menghantam dadanya. Dia menatap amplop di tangan ayahnya dengan perasaan bercampur aduk, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.Namun sebelum dia sempat menjawab, Tuan Wirya melempar surat itu ke meja di depannya. "Lihat sendiri apa yang telah kamu lakukan, Aditya!" bentak Tuan Wirya dengan suara yang semakin meninggi.Aditya, dengan tangan sedikit gemetar, meraih surat itu. Matanya mulai membaca, dan wajahnya perlahan berubah pucat. Isi surat itu adalah surat pengajuan gugatan perceraian yang dilakukan oleh Elma terhadapnya. Berikut jadwal sidang perdana yang harus ia hadiri.Aditya menatap nanar kertas di tangannya dengan tangan gemetar. Ia tidak menyangka kalau Elma akan secepat ini mengajukan gugatan perceraian terhadapnya."Kamu lihat hasil perbuatanmu itu Aditya? Kamu sudah merusak
Dinda berjalan melewati koridor kampus dengan langkah gontai. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi kesedihan. Beberapa teman menyapanya, tapi ia hanya membalas dengan senyum tipis, untuk menutupi kesedihannya.Dari atas balkon kampus, mata Badru mengawasi tajam gadis itu."Ini pasti gara-gara Revan." Badru membuang napas kasar ke udara. Melihat wajah sedih Dinda entah kenapa hatinya juga jadi ikutan sedih.Dan biasanya kalau Dinda datang ke kampus ini adalah untuk mencari Revan. Tapi entahlah maksud Dinda datang hari ini setelah hubungannya dengan Revan kandas. Mungkin gadis itu hanya ingin mengenang Revan saja.Pria berkulit sawo matang itu berjalan turun untuk menyapa Dinda. Sekedar ingin menemani wanita cantik itu agar tidak terlalu kesepian. Mudah-mudahan saja Dinda masih mau menerimanya."Dinda?" panggilnya dari arah belakang saat ia sudah dekat dengan posisi Dinda sekarang.Dinda menoleh, menemukan Badru berdiri di sana. Untuk sesaat Dinda memandang Badru yang berjalan me
Revan kembali ke apartemen setelah selesai bertemu dengan beberapa rekan bisnisnya. Untuk sementara, Elma menunjuk Revan sebagai wakilnya selama dia dalam masa berkabung.Ini juga dimanfaatkan oleh Elma untuk mengasah kemampuan Revan dalam menjalankan bisnis milik keluarganya. Dan tanpa disangka kalau pemuda yang belum selesai kuliah itu mempunyai insting bisnis yang kuat."Cape ya Sayang?" tanya Elma setelah Revan duduk beristirahat di sofa."Lumayan, ternyata lebih enak jadi sopir pribadimu Sayang. Nggak perlu mikir selera ini." Revan memijat pelipisnya yang terasa pusing.Elma tersenyum dan memijat pelan tengkuk Revan."Wajar, nanti juga kalau sudah terbiasa nggak akan terasa terlalu berat. Rileks Sayang, jangan terlalu serius," ucap Elma.Dia pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk Revan. Tak berapa lama kemudian wanita itu kembali dengan membawa secangkir teh hangat manis untuk pria itu.perusahaan itu padaku? Kamu yakin aku mampu"Elma, apa kamu yakin akan mempercayakan menjal
Aditya berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya dengan wajah memerah, suaranya memenuhi ruangan saat ia memarahi anak buahnya yang berjejer di hadapannya."Sudah dua hari! Apa susahnya mencari seorang perempuan? Arumi tidak mungkin pergi jauh tanpa meninggalkan jejak! Kalian semua ini becus bekerja atau tidak?!" bentaknya, wajahnya semakin gelap oleh kemarahan.Seorang anak buahnya dengan suara gemetar mencoba menjelaskan, "Kami sudah memeriksa apartemennya dan mencari di beberapa tempat yang sering dia kunjungi, Pak. Tapi sejauh ini belum ada petunjuk."Aditya menggebrak meja, membuat pena dan kertas di atasnya bergetar."Aku tidak peduli alasan kalian! Aku mau dia ditemukan! Cari ke mana pun dia pergi, hubungi orang-orang terdekatnya, apa pun caranya! Jangan kembali padaku sampai kalian mendapat hasil!" teriak Aditya penuh emosi. Tatapannya nyalang tertuju pada setiap wajah anak buahnya yang tertunduk ketakutan."Baik Pak, kami akan ber