Beranda / Romansa / Godaan sang tante / Bab 2 Melakukan yang 3nak di kostan baru

Share

Bab 2 Melakukan yang 3nak di kostan baru

Penulis: TnaBook's
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-14 03:07:18

"Apa?" Revan tersentak kaget saat mendengar permintaan Elma.

Elma tersenyum tipis, lalu meraih sebuah tas tangan kecil yang ia simpan di atas meja. Ia mengeluarkan selembar cek berserta satu buah bolpoin. Lalu menuliskan angka 100 juta di atas cek tersebut.

"Apa masih kurang?" tanyanya sembari menyerahkan cek tersebut ke arah Revan.

"I-ini apa maksudnya Bu?" Revan masih belum paham dengan maksud Elma.

"Aku tahu umur kita berbeda. Kamu masih muda, baru 21 tahun. Sementara aku... sudah 30 tahun. Tapi aku bisa memberimu uang, Revan. Banyak uang, yang pasti bisa membantumu menyelesaikan masalah keuanganmu di Jakarta. Apa kamu tertarik?" Elma tersenyum dan tiba-tiba saja mendekat ke arah Revan yang gemetar panas dingin mendapatkan tawaran seperti itu.

Apalagi saat tangan Elma menarik kerah bajunya hingga kini tubuhnya semakin mendekat ke arah tubuh sek si Elma.

Revan bisa merasakan benda kenyal itu hampir saja menempel di dadanya. Membuata senjata nuklir miliknya semakin tegang.

"Bagaimana Revan? Apa kamu tertarik menerima tawaranku?" tanya Elma kali ini suaranya terdengar lebih merdu dan lembut.

Revan merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menatap angka yang tertera di dalam cek yang sekarang ia genggam.

"Jadi saya harus menjadi selingkuhan Ibu?" tanya

Revan memastikan.

"Benar, jangan khawatir ini hanya sekedar sandiwara.

Aku hanya ingin memberi pelajaran pada suamiku."

Elma kembali duduk dan menunggu jawaban dari Revan.

Revan menelan salivanya. Kalau perempuannya seperti Elma mah tidak perlu dibayar pun ia rela jadi selingkuhannya.

"Apa Anda serius, Bu Elma?" tanya Revan dengan suara gemetar.

"Aku serius Revan. Jika kamu berhasil membuat suamiku cemburu, bayaranmu akan aku tambah."

Revan menarik napas panjang. Wajahnya tampak

bingung, namun saat matanya kembali menatap angka seratus juta, jiwa matrenya kembali meronta.

Ia menundukkan kepalanya, kemudian mengangguk perlahan. "Baik, Bu. Saya bersedia."

Elma tersenyum tipis, seolah sudah mengira jawaban itu.

"Terima kasih, Revan. Kamu tidak akan menyesal," ucapnya tegas.

Revan baru saja keluar dari kelas terakhirnya ketika ia mendengar suara yang familiar memanggil namanya.

"Revan!" seru seorang gadis itu dengan nada ceria.

Revan menoleh dan mendapati Dinda berlari kecil menghampirinya. Gadis itu mengenakan dress floral sederhana yang memperlihatkan sisi anggunnya. Rambut panjangnya tergerai lembut, membuat beberapa mahasiswa lain melirik kagum.

"Hei, Din," sapa Revan sambil tersenyum tipis. "Ada apa nyamperin aku ke sini?"

Dinda meraih lengan Revan dengan ekspresi manja.

"Ya nggak apa-apa dong. Kan aku kangen," jawabnya sambil menatap Revan dengan tatapan berbinar.

Revan hanya terkekeh kecil, "Kangen sama aku atau kangen sama yang lainnya?" godanya.

Dinda mencubit pelan lengan Revan. "Ih, aku serius, tahu. Eh, ngomong-ngomong, gimana kostan barumu? Katanya lebih bagus dari yang dulu."

Revan terdiam sejenak. Ia tahu Dinda tidak akan berhenti bertanya jika ia tidak memberitahu. Akhirnya, ia mengangguk.

"Ya udah, nanti aku antar ke sana. Tapi jangan kaget kalau nggak sebagus yang kamu bayangin, ya."

"Beneran? Aku mau lihat sekarang!" Dinda terlihat antusias, menarik lengan Revan tanpa menunggu jawaban.

Revan menghela napas sambil tersenyum kecil. "Iya, iya. Sabar dikit, Din."

Revan mengendarai motor bututnya membawa Dinda menuju kostan barunya. Entah apa yang membuat Dinda tertarik padanya yang miskin ini. Padahal ia tahu banyak mahasiswa tajir melintir yang suka sama Dinda. Tapi Dinda kekeuh memilih dirinya untuk dijadikan kekasih.

Sebelum menuju kostan, Revan sengaja membeli banyak cemilan untuk mereka makan nanti. Upah yang diberikan Tante Elma untuk jadi selingkuhannya sudah ia cairkan, jadi ada banyak uang di rekening Revan sekarang.

Ia bahkan sudah mengirimkan sebagian uangnya untuk ibunya di kampung agar dipergunakan untuk keperluan sehari-hari juga untuk biaya sekolah Nadia, adiknya

"Rev, kenapa sih kamu nggak ganti motor aja? Aku lihat kamu sekarang kayaknya udah nggak sepelit dulu," goda Dinda sambil menyandarkan kepalanya di bahu Revan.

Revan terkekeh pelan. "Nggak semua uang harus dipakai buat gaya, Din. Ada hal yang lebih penting."

"Iya deh." Dinda mengalah. Meski begitu dia tetap cinta sama Revan.

Sepuluh menit kemudian mereka sampai di kostan sederhana Revan.

"Wah, lebih rapi dari kostanmu yang dulu," komentarnya sambil duduk di kasur.

"Tapi kenapa nggak ada fotoku, ya?"

"Nanti aku cetak, deh, terus aku pajang di sini. Puas?"

Dinda menatapnya dengan manja. "Harus, dong. Aku kan pacarmu."

Revan menggeleng dan menyerahkan sebotol air mineral pada Dinda. Namun Dinda tidak meminumnya dia menyingkir botol air itu dan malah mengalungkan tangannya pada leher Revan.

"Aku kangen kamu Van. Sudah lama kayaknya kita nggak..." Dinda tersenyum nakal dan menggigit bibirnya dengan gayanya yang sensual.

Tangannya kini bahkan menyelusup ke dalam kaos yang dipakai oleh Revan. Menelusuri tu buh atletis pria pujaannya itu.

Revan tersenyum karena mengerti maksud kekasihnya itu. Gadis bertubuh se mok itu memang selalu membuatnya on tiap kali bertemu. Dan mungkin sudah hampir dua minggu ini mereka tidak melakukan kegiatan bercocok tanam yang sudah biasa mereka lakukan selama ini.

"Kamu mau?" Revan menaik turunkan alisnya sebagai kode.

"Huum..." Dinda mengangguk dan langsung meraup bibir Revan dengan rakus. Gadis cantik itu tidak malu lagi untuk mengajak Revan bermain lebih dulu.

Bayangan sosis jumbo milik Revan kembali singgah di otaknya. Ia sudah sangat merindukan belaian dan juga keperkasaan pria tampan dengan tubuh atletis itu.

Revan tersenyum dan langsung mengungkung tu buh Dinda yang sudah pasrah itu. Bi bir ranum Dinda yang sedari tadi menarik perhatiannya langsung Revan lu mat dengan rakus.

Dinda dengan lihai mengimbangi permainan Revan yang memabukkan. Tangannya tak mau diam dengan perlahan membuka kaos yang dipakai oleh Revan.

Dinda dibuat merem melek oleh ulah nakal Revan.

Keringat sudah membanjiri tu buh mereka. Namun tak ada tanda-tanda permainan akan berakhir.

Body mon tok Dinda memang bikin candu. Dan pacaran sama Dinda merupakan pacaran paling lama buat Revan. Itu karena Dinda tidak banyak menuntut dan selalu asik jika diajak bermesraan seperti ini.

"Enak Sayang?" tanya Revan di tengah gerakannya yang kian brutal.

"Enak Sayang... uuuhhhh..." Tangan Dinda berpegang erat pada punggung Revan. Keduanya menyatu. Saling memiliki dan menikm4ti cinta sesaat ini.

Hampir satu jam Revan bercinta dengan Dinda di kamar kostnya yang baru ini. Dinda masih bergelung di dalam selimut sedangkan Revan bergegas mandi karena sebentar lagi ia harus pergi menjemput Elma di kantornya.

"Beb, aku harus pergi dulu."

"Kemana sih Sayang. Masih capek nih," rengek Dinda manja, masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur.

"Sorry Din, aku harus kerja." Revan kembali menghampiri Dinda yang masih enggan untuk bangun.

"Rapih banget, kamu kerja apa sih sekarang?" tanya Dinda penasaran.

"Aku jadi sopir pribadi di keluarga kaya. Gajinya lumayan lah buat makan dan biaya kuliah," jelas Revan.

"Oh gitu, ya udah deh aku pulang sekarang." Dinda terpaksa bangun dan memakai bajunya lagi. Dia diantar Revan untuk naik taksi dan pulang ke rumahnya.

Waktu sudah hampir pukul tiga sore, Revan harus sampai di kantor Elma sebelum pukul empat.

Revan memarkir mobil mewah itu di depan gedung tinggi berlapis kaca. Tepat pukul lima sore, pintu lobi terbuka, dan Elma melangkah keluar dengan anggun.

Wanita itu mengenakan blazer krem dengan rok pensil senada, dipadukan dengan sepatu hak tinggi yang menambah aura kharismatiknya. Rambutnya yang tergerai rapi melengkapi penampilannya yang memukau.

Revan yang duduk di balik kemudi hanya bisa menelan ludah. "Tante-tante" cantik ini selalu berhasil membuatnya terpesona, meski ia harus tahu batasannya.

"Selamat sore Bu," sapanya sopan sembari membuka pintu mobil untuk Elma.

Elma hanya melirik singkat, lalu masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata pun. Aroma parfum mahalnya memenuhi kabin, membuat Revan merasa sedikit gugup.

Revan kembali ke kursi kemudi, menyalakan mesin, dan mulai mengemudi. Suasana di dalam mobil terasa dingin, seperti biasanya. Elma hanya menatap layar ponselnya, seolah tidak ada orang lain di sana.

"Mau langsung pulang, atau ada tempat lain yang perlu kita singgahi?" tanyanya lagi setelah beberapa menit hening.

"Bawa aku ke La Lumiere Café," ucap Elma tanpa menoleh dari layar ponselnya.

Revan menoleh sekilas ke arah kaca spion, memastikan ia mendengar dengan benar. "Ke kafe, Bu?"

Elma akhirnya menatapnya, ekspresinya tetap dingin seperti biasa.

"Apa aku harus mengulanginya, Revan?"

Revan segera mengangguk.

"Tidak, Bu. Baik, kita ke sana sekarang." Ia

membelokkan mobil dan mengarahkan kendaraannya ke kafe terkenal yang terletak di kawasan elit Jakarta.

La Lumiere Café adalah tempat yang hanya didatangi orang-orang berkelas. Begitu Revan memarkir mobil, ia dapat melihat interiornya yang mewah dari luar jendela besar. Lampu-lampu gantung kristal menciptakan suasana elegan yang kontras dengan kebisingan jalanan di luar.

Elma turun dari mobil, langkahnya ringan namun penuh kepercayaan diri.

"Kamu ikut aku ke dalam," katanya tiba-tiba.

Revan menatapnya dengan kaget. "Ikut?"

Elma menoleh sekilas, raut wajahnya tak menunjukkan kompromi.

"Aku tidak mau teman-temanku bertanya kenapa aku datang sendiri."

Revan hanya bisa mengangguk, meski perutnya terasa sedikit mual. Berada di lingkungan seperti itu dengan statusnya sebagai seorang mahasiswa sekaligus sopir rasanya sedikit tidak nyaman. Tapi, ia tidak punya pilihan.

"Baik, Nyonya."

Begitu mereka masuk, tatapan beberapa orang langsung tertuju pada Elma. Wanita itu memang mencuri perhatian, baik karena kecantikannya maupun auranya yang kharismatik. Revan berjalan setengah langkah di belakangnya, mencoba tidak terlihat mencolok.

"Elma!" seru seorang wanita dengan suara riang. Seorang wanita muda dengan gaun mahal dan rambut yang ditata sempurna melambaikan tangan dari salah satu meja di tengah ruangan.

Elma membalas dengan senyum tipis dan berjalan mendekat. Ia berhenti di samping meja, lalu menoleh ke Revan. "Tunggu di sana," katanya sambil menunjuk salah satu sudut ruangan.

Revan mengangguk, tapi matanya sempat menangkap tatapan penasaran dari salah satu pria di meja itu. Mungkin mereka heran, karena Elma membawa serta seorang pria.

Elma duduk di meja itu, langsung terlibat dalam percakapan dengan teman-temannya. Revan mengambil tempat di sudut yang agak tersembunyi, tapi pandangannya tetap tertuju pada Elma. Wanita itu terlihat berbeda di sini-lebih santai, meski tetap memancarkan kesan dingin.

"El, siapa pria itu?" tanya seorang wanita berambut pendek dengan tawa menggoda. Namanya Karina, salah satu teman dekat Elma yang terkenal blak-blakan.

"Jangan bilang dia sopir mu. Wajahnya terlalu tampan untuk itu."

Elma tersenyum kecil, mengaduk kopinya dengan tenang. "Dia memang sopirku."

"Ah, jangan bercanda," sahut wanita lain di meja itu.

Nita, salah satu rekan bisnis Elma.

"Serius, Elma," Karina melanjutkan. "Suamimu, Aditya, bahkan nggak setampan itu. Kamu punya selera bagus."

Elma mengangkat alisnya, berpura-pura tidak terganggu dengan pembicaraan itu. Namun, dalam hatinya, ia sedikit senang.

Fakta bahwa teman-temannya lebih terkesan dengan Revan adalah sesuatu yang memuaskan baginya.

Elma meneguk kopinya perlahan sebelum menjawab.

"Kalian terlalu berlebihan. Dia hanya sopir."

"Tapi lihat caranya memandangmu, kayaknya dia bukan cuma sopir, deh," sela Nita.

Elma tertawa kecil, tapi tidak memberikan konfirmasi. Biarkan saja mereka berpikir apa yang mereka mau, pikirnya.

Elma akhirnya menoleh sekilas ke arah Revan, matanya dingin namun penuh perhitungan. Dalam hatinya, ia merasa puas. Jika teman-temannya saja sudah terkesan dengan Revan, maka Aditya juga harus tahu bagaimana rasanya diabaikan dan direndahkan.

"Aku rasa aku harus membawa dia ke lebih banyak acara," gumam Elma, nyaris tak terdengar oleh teman-temannya.

"Kenapa tidak?" sahut Karina dengan tawa kecil. Dia aset yang bagus, Elma. Suamimu harus tahu bahwa dia tidak bisa semena-mena padamu. Bangkit dan balas perbuatan dia padamu."

Elma hanya tersenyum. Ia menatap Nita dan Karina dengan pandangan penuh rahasia, sementara pikirannya berputar dengan rencana yang semakin matang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Godaan sang tante   Bab 3 mereka Simpanan Tante

    Revan melirik arlojinya untuk kesekian kali. Sudah hampir satu jam ia menunggu, dan Elma masih terlihat sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Suasana kafe yang awalnya terasa mewah kini hanya membuatnya suntuk.Ia berdiri perlahan, melirik ke arah meja Elma.Wanita itu tampak tidak memperhatikan dirinya sama sekali."Bu Elma," panggilnya pelan saat mendekat.Elma menoleh dengan alis terangkat. "Ada apa, Revan?""Saya izin jalan-jalan sebentar di sekitar sini, ya.Tidak jauh, hanya untuk menghirup udara segar," jawab Revan dengan sopan.Elma mengangguk ringan, jelas tidak terlalu peduli. Baik, tapi jangan terlalu lama.""Siap, Bu," jawab Revan sebelum melangkah keluar.Di luar, udara malam terasa segar. Revan memasukkan tangan ke saku celananya sambil berjalan santai di sepanjang trotoar. Ia melihat deretan butik dan toko-toko mewah di sepanjang jalan, tapi perhatiannya tertuju pada sesuatu yang berbeda.Di seberang jalan, sosok yang sangat familiar menarik pandangannya. Revan menyipi

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Godaan sang tante   Bab 4 Tante Yang Malang

    Elma sedang sibuk membaca dokumen di ruangannya ketika suara pintu yang terbuka tiba-tiba menarik perhatiannya. Dia mengangkat wajah, dan alisnya langsung bertaut saat melihat siapa yang masuk.Aditya melangkah masuk dengan santai, diikuti oleh seorang wanita yang sudah sangat dikenalnya."Apa maksudmu membawa dia ke sini?" suara Elma dingin, namun matanya penuh kemarahan yang tertahan.Aditya hanya tersenyum tipis, tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun."Kenapa? Ini kantormu, bukan rumah kita. Aku hanya mampir sebentar," jawabnya santai."Dan kamu pikir wajar membawa wanita ini?" Elma berdiri, menatap tajam ke arah Arumi yang berdiri dengan gaya angkuh."Aditya, aku sudah cukup bersabar dengan semua kelakuanmu. Tapi membawa selingkuhanmu ke kantorku, itu sudah sangat keterlaluan! Kamu benar-benar tidak tahu malu!" Elma membagi pandangannya pada dua orang di hadapannya itu.Wanita bernama Arumi itu tersenyum tipis penuh ejekan. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ked

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Godaan sang tante   Bab 5 Terlanjur Bangun

    Revan menghela napas panjang saat memarkir mobil di halaman vila mewah itu. Udara Puncak yang sejuk menusuk kulit, membawa aroma pinus dan dedaunan basah. Vila itu berdiri megah, dengan desain modern minimalis dan jendela besar yang mencerminkan cahaya sore.Hari itu hari Sabtu dan Elma menelponnya pagi-pagi, memintanya untuk mengantarnya ke Puncak.Ia melirik Elma yang masih diam di kursi penumpang, tatapannya kosong ke arah luar. Wanita itu tampak seperti patung porselen, cantik, tetapi dingin dan tak tersentuh."Revan, bawa kopernya ke dalam," perintah Elma tiba-tiba tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar, tanpa emosi."Baik, Bu," jawab Revan singkat, segera keluar dari mobil dan membuka bagasi.Satu buah koper berukuran sedang terisi barang-barang Elma. Dan wanita cantik itu kini keluar dari dalam mobilnya. Berjalan dengan begitu anggun.Jeans biru press body memperlihatkan bokong sin tal Elma yang bulat berisi. Revan menelan ludah melihatnya.Ia berusaha mengusir bayangan-bayang

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Godaan sang tante   Bab 6 kissme

    "Oouuhhh... ssshh...!"Revan berhenti sejenak di depan pintu kamar Elma.Suara era Ngan itu semakin jelas dan menggelitik telinga Revan.Lelaki itu mendekat ke arah pintu untuk mendengarkan dengan seksama. Suara itu samar tapi cukup jelas baginya. Era ngan seorang wanita yang seolah tengah melakukan adegan percintaan dan sangat menikmatinya.Alisnya mengernyit. Tidak mungkin ada orang lain di dalam kamar Elma, pikirnya. Ia tidak melihat siapapun masuk ke dalam kamar itu selain Elma."Mama mungkin Mang Darman masuk ke kamar ini."Revan tidak percaya jika penjaga vila itu yang tengah memuaskan ElmaDibanding Mang Darman, dirinya merasa jauh lebih baik, lebih tampan dan lebih perkasa. Masa iya dirinya kalah sama Mang Darman.Rasa penasaran langsung menguasai dirinya. Dengan langkah hati-hati, Revan mendekatkan tubuhnya ke pintu. Ia menempelkan telinganya ke permukaan pintu kayu itu, mencoba memastikan apa yang baru saja didengarnya."Oouuh... yeeaahh..." Suara itu masih terdengar. Era ng

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-15
  • Godaan sang tante   Bab 7 aku akan memuaskan

    Pagi itu suasana di vila berubah mencekam. Matahari baru saja terbit, namun suara jeritan Elma terdengar memekakkan telinga.Elma berdiri dengan wajah merah padam, mengenakan selimut tebal yang ia lilitkan di tubuhnya.Napasnya memburu, matanya dipenuh amarah."REVAN!" serunya dengan suara keras, membuat Revan yang masih terlelap di lantai terkejut setengah mati.Revan langsung bangkit sambil mengucek matanya. Ada apa, Bu? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya dengan nada bingung."Ada sesuatu yang terjadi?" Elma mengulang pertanyaan itu dengan nada kesal."Kamu masih berani bertanya? Apa yang sudah kamu lakukan padaku semalam?" bentaknya dengan lantang.Pagi itu Elma begitu panik karena saat terbangun tubuhnya sudah dalam keadaan polos tanpa mengenakan sehelai benangpun. Ia menuduh Revan telah melakukan mele cehkannya. Namun wajah Revan juga malah terlihat bingung."Bu, tenang dulu saya bisa menjelaskannya." Revan tampak panik. Ia berusaha mendekat namun Elma melangkah mundur. "Ja

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-15
  • Godaan sang tante   Bab 8 Menerima tawaran

    "Sayang, kamu serius dipecat?" tanya Dinda tercengang saat tahu kalau Revan dipecat dari pekerjaannya. Padahal baru beberapa hari saja dia bekerja."Iya, Din." Revan mengangguk sambil menyeruput kopi hitamnya. Malam itu Revan mengajak Dinda untuk nongkrong di cafe untuk sekedar menghibur dirinya yang masih kesal akibat pemecatan yang Elma lakukan."Kok bisa? Memangnya kamu bikin kesalahan apa?" cecar Dinda penasaran."Aku juga nggak ngerti salahku dimana. Yang jelas aku ngerasa ini nggak adil." Revan bercerita tanpa menceritakan kalau dia dipecat karena berusaha memuaskan Tante Elma saat dia mabuk. Dia tidak mau membuat Dinda cemburu."Kasihan banget sih kamu Sayang." Dinda menyentuh tangan Revan yang berada di atas meja, berusaha memberinya semangat."Tetap semangat Yang. Aku yakin ada pekerjaan lain yang lebih baik lagi." Dinda coba menghibur."Ya, semoga saja." Revan menghela napas panjang, lalu menatap Dinda."Makasih ya Sayang, kamu memang yang terbaik." Revan tersenyum dan menge

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-15
  • Godaan sang tante   Bab 9 Kesayangan Tante

    Semua mata tertuju pada seseorang yang baru saja masuk ke ruangan VIP klub malam tersebut. Dan orang itu telah membuat tubuh Revan seketika menegang."Elma...," gumamnya pelan.Itu memang Elma. Mantan majikan yang telah memecatnya tanpa alasan jelas. Wanita itu berjalan anggun memasuki ruangan dengan mengenakan dress warna merah elegan yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Aura percaya dirinya seolah membuat waktu berhenti sejenak.Badru yang duduk di sebelah Revan, menyadari perubahan ekspresi kawannya. Ia mengikuti arah pandangan Revan, kemudian menyikut lengannya dengan pelan."Eh, bukannya itu mantan bosmu?" tanya Badru sambil menyeringai tipis. Ia masih mengingat wajah Elma yang pernah dilihatnya lewat foto yang diberitahu Revan.Revan mengangguk pelan, berusaha tetap tenang meskipun hatinya bergejolak."Iya, itu dia," jawabnya singkat, dengan nada setengah berbisik."Wah, dunia ini sempit juga ya. Jadi sekarang dia juga jadi pelanggan di sini? Seru nih," katanya dengan nada be

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-15
  • Godaan sang tante   Bab 10 Malam ini temani aku

    "Siapa kamu?"Revan berhenti sejenak, menatap sosok pria yang baru masuk ke rumah itu. Pria tersebut mengenakan setelan rapi, wajahnya memancarkan kelelahan, namun matanya tajam memindai sosok Revan.Revan langsung merasakan ketegangan. Ia melirik Elma yang berada dalam gendongannya. Wanita itu tampak sedikit kaget, tetapi dengan cepat memasang ekspresi datar."Revan, turunkan aku," bisiknya pelan.Revan menurut, ia menurunkan dari Elma dari gendongannya meskipun Elma tidak bisa berdiri dengan tegak dan harus berpegangan pada bahu Revan.Aditya berjalan mendekat dengan langkah pelan, pandangannya tajam tertuju pada Elma."Siapa dia dan kenapa kamu berani sekali membawa dia ke rumah ini?" tanyanya dingin sambil menatap langsung ke arah Elma dan Revan.Revan membuka mulut untuk menjawab, tetapi Elma mengangkat tangan, menghentikannya. Ia maju selangkah, berdiri di antara Revan dan Aditya."Ini bukan urusanmu, Aditya," jawab Elma dengan suara tenang namun penuh penekanan."Aku berhak tah

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-15

Bab terbaru

  • Godaan sang tante   Bab 51

    "Kalian semua bodoh! Bagaimana seseorang bisa menghilang begitu saja?!" Aditya menggebrak mejanya dengan keras. Beberapa anak buah Aditya tersentak kaget tapi apa mau dikata, wanita bernama Clara itu memang tidak bisa mereka temukan di manapun. Entahlah dimana wanita itu bersembunyi. Yang jelas seperti ada seseorang yang kuat yang melindunginya. "Maafkan kami Pak. Kami sudah berusaha tapi semuanya benar-benar gelap. Bahkan informasi tentang wanita itupun sudah dihapus. Kami benar-benar kesulitan untuk menemukannya." Salah satu anak buah Aditya menjelaskan situasi yang sedang mereka hadapi. "Brengsek kalian semua!" Aditya meradang dengan wajah yang merah padam menahan amarah. "Pergi kalian semua dari sini!" Aditya menguasir semua anak buahnya dari ruang kerjanya. "Bagaimana bisa dia menghilang begitu saja?" gumam Aditya dengan nada frustrasi. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi, memijat pelipis dengan keras. Segala upaya yang ia lakukan untuk menemukan perempuan itu tidak membawa

  • Godaan sang tante   Bab 50

    Pagi itu, dunia Aditya hancur berantakan. Berita tentang dirinya viral di media sosial, memperlihatkan rekaman video asusilanya dengan Clara. Berita tersebut menyebar seperti api, menghiasi tajuk utama di berbagai portal berita dan menjadi topik pembicaraan di mana-mana. Aditya duduk di ruang kerjanya dengan wajah tegang. Ponselnya terus berdering, pesan masuk dari klien, mitra bisnis, hingga keluarganya. Ia tidak berani membuka satu pun pesan itu. "Bagaimana ini bisa terjadi?" geramnya sambil membanting ponsel ke meja. Beberapa anak buahnya berdiri dengan wajah cemas. Mereka telah menerima perintah dari Aditya untuk menghapus video tersebut secara permanen. Namun, upaya mereka gagal karena video itu sudah terlanjur diunduh oleh banyak orang. "Maaf, Pak Aditya. Kami sudah mencoba segalanya, tapi video itu terlalu cepat menyebar," ucap salah satu anak buahnya dengan suara gemetar. Aditya memejamkan mata, menahan amarah yang membara di dadanya. Aditya terdiam, tidak mampu menjawa

  • Godaan sang tante   Bab 49

    lanjutan dari bab sebelumnya ** tender dari berbagai klien. Ia mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi, pandangannya kosong menatap layar laptop yang menampilkan email-email penolakan dari mitra bisnis. "Arumi, di mana kamu sebenarnya?" gumam Aditya dengan nada penuh keputusasaan. Sudah berminggu-minggu ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Arumi, namun hasilnya nihil. Tidak ada petunjuk, tidak ada jejak, bahkan kabar samar sekalipun. Satu per satu anak buahnya yang tidak mampu memberikan hasil langsung dipecat tanpa ampun. Kini ia merasa sendirian, tenggelam dalam masalah yang semakin menumpuk. Tidak hanya Arumi yang menjadi beban pikirannya. Sidang perdananya semakin dekat, dan itu membuatnya tertekan. Kasus gugatan perceraian Elma membuat reputasi bisnisnya memburuk. Para klien mulai kehilangan kepercayaan, proyek besar yang seharusnya menjadi tulang punggung perusahaan kini terancam batal. "Aku bisa gila kalau terus begini," desisnya sambil menenda

  • Godaan sang tante   Bab 48

    Elma duduk di ruang praktik Karina, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang tidak biasa, sementara Karina memandang sahabatnya itu dengan penuh perhatian. "Elma, apa saja yang kamu rasakan sekarang?" tanya Karina lembut sambil menyentuh tangan Elma. Elma menghela napas panjang sebelum menjawab. Aku tidak tahu, Karin. Akhir-akhir ini aku merasa aneh. Kadang aku mual tanpa alasan, aku jadi terlalu sensitif terhadap bau, dan... rasanya tubuhku jadi mudah lelah." Karina tersenyum tipis, tetapi sorot matanya menunjukkan keyakinan. "Elma, aku bukan mau menakutimu, tapi dari apa yang kamu ceritakan, aku rasa . kamu sedang hamil." "Benarkah?" Elma membelalakan matanya. Karina tersenyum merekah. "Aku memang belum pernah merasakan rasanya hamil tapi setiap pasienku yang hamil keluhannya rata-rata seperti itu. Kenapa tidak coba kita periksa aja?" Karina tampak antusias. "Apa mungkin aku hamil?" Elma masih tidak percaya.

  • Godaan sang tante   Bab 47

    Agus, anak buah terpercaya Aditya, menjalankan perintah majikannya dengan penuh kehati-hatian.Setelah memastikan suasana di sekitar apartemen Karina sepi, dia segera bergerak. Dengan keahliannya dalam membuka kunci otomatis, pintu apartemen itu terbuka tanpa menimbulkan suara sedikit pun.Namun, saat Agus menyelinap masuk, ia mendapati apartemen itu dalam keadaan kosong. Tak ada tanda-tanda aktivitas, tak ada suara, dan tak ada siapa pun di dalam.Lampu di ruang tamu menyala redup, dan aroma ruangan terasa netral, seperti baru saja dibersihkan. Agus memperhatikan sekeliling dengan cermat. Rak buku rapi, sofa tampak tidak tersentuh, dan meja makan kosong tanpa peralatan apa pun. Dia mengerutkan kening, merasa ada yang aneh."Ke mana mereka?" pikir Agus.Agus mulai memeriksa ruangan satu per satu. Ia masuk ke kamar utama, membuka lemari, bahkan memeriksa bawah tempat tidur. Namun, tak ada satu pun barang yang memberi petunjuk tentang keberadaan Karina atau Arumi.Di dapur, Agus menemuk

  • Godaan sang tante   Bab 46

    "Surat apa ini, Aditya?" suara Tuan Wirya menggema, dingin namun penuh amarah. "Apa Elma akan menceraikanmu?"Aditya tertegun. Kata-kata itu seperti petir yang menghantam dadanya. Dia menatap amplop di tangan ayahnya dengan perasaan bercampur aduk, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.Namun sebelum dia sempat menjawab, Tuan Wirya melempar surat itu ke meja di depannya. "Lihat sendiri apa yang telah kamu lakukan, Aditya!" bentak Tuan Wirya dengan suara yang semakin meninggi.Aditya, dengan tangan sedikit gemetar, meraih surat itu. Matanya mulai membaca, dan wajahnya perlahan berubah pucat. Isi surat itu adalah surat pengajuan gugatan perceraian yang dilakukan oleh Elma terhadapnya. Berikut jadwal sidang perdana yang harus ia hadiri.Aditya menatap nanar kertas di tangannya dengan tangan gemetar. Ia tidak menyangka kalau Elma akan secepat ini mengajukan gugatan perceraian terhadapnya."Kamu lihat hasil perbuatanmu itu Aditya? Kamu sudah merusak

  • Godaan sang tante   Bab 45

    Dinda berjalan melewati koridor kampus dengan langkah gontai. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi kesedihan. Beberapa teman menyapanya, tapi ia hanya membalas dengan senyum tipis, untuk menutupi kesedihannya.Dari atas balkon kampus, mata Badru mengawasi tajam gadis itu."Ini pasti gara-gara Revan." Badru membuang napas kasar ke udara. Melihat wajah sedih Dinda entah kenapa hatinya juga jadi ikutan sedih.Dan biasanya kalau Dinda datang ke kampus ini adalah untuk mencari Revan. Tapi entahlah maksud Dinda datang hari ini setelah hubungannya dengan Revan kandas. Mungkin gadis itu hanya ingin mengenang Revan saja.Pria berkulit sawo matang itu berjalan turun untuk menyapa Dinda. Sekedar ingin menemani wanita cantik itu agar tidak terlalu kesepian. Mudah-mudahan saja Dinda masih mau menerimanya."Dinda?" panggilnya dari arah belakang saat ia sudah dekat dengan posisi Dinda sekarang.Dinda menoleh, menemukan Badru berdiri di sana. Untuk sesaat Dinda memandang Badru yang berjalan me

  • Godaan sang tante   Bab 44

    Revan kembali ke apartemen setelah selesai bertemu dengan beberapa rekan bisnisnya. Untuk sementara, Elma menunjuk Revan sebagai wakilnya selama dia dalam masa berkabung.Ini juga dimanfaatkan oleh Elma untuk mengasah kemampuan Revan dalam menjalankan bisnis milik keluarganya. Dan tanpa disangka kalau pemuda yang belum selesai kuliah itu mempunyai insting bisnis yang kuat."Cape ya Sayang?" tanya Elma setelah Revan duduk beristirahat di sofa."Lumayan, ternyata lebih enak jadi sopir pribadimu Sayang. Nggak perlu mikir selera ini." Revan memijat pelipisnya yang terasa pusing.Elma tersenyum dan memijat pelan tengkuk Revan."Wajar, nanti juga kalau sudah terbiasa nggak akan terasa terlalu berat. Rileks Sayang, jangan terlalu serius," ucap Elma.Dia pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk Revan. Tak berapa lama kemudian wanita itu kembali dengan membawa secangkir teh hangat manis untuk pria itu.perusahaan itu padaku? Kamu yakin aku mampu"Elma, apa kamu yakin akan mempercayakan menjal

  • Godaan sang tante   Bab 43

    Aditya berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya dengan wajah memerah, suaranya memenuhi ruangan saat ia memarahi anak buahnya yang berjejer di hadapannya."Sudah dua hari! Apa susahnya mencari seorang perempuan? Arumi tidak mungkin pergi jauh tanpa meninggalkan jejak! Kalian semua ini becus bekerja atau tidak?!" bentaknya, wajahnya semakin gelap oleh kemarahan.Seorang anak buahnya dengan suara gemetar mencoba menjelaskan, "Kami sudah memeriksa apartemennya dan mencari di beberapa tempat yang sering dia kunjungi, Pak. Tapi sejauh ini belum ada petunjuk."Aditya menggebrak meja, membuat pena dan kertas di atasnya bergetar."Aku tidak peduli alasan kalian! Aku mau dia ditemukan! Cari ke mana pun dia pergi, hubungi orang-orang terdekatnya, apa pun caranya! Jangan kembali padaku sampai kalian mendapat hasil!" teriak Aditya penuh emosi. Tatapannya nyalang tertuju pada setiap wajah anak buahnya yang tertunduk ketakutan."Baik Pak, kami akan ber

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status